Akuarium

Oleh Yodie Hardiyan | 9 August 2008 | Opini

Universitas Kristen Satya Wacana itu unik. Mahasiswanya belas ribuan, dari banyak daerah pula. Maklum, punya nama besar. Terkenal!

Terkenal, pasti punya sejarah. UKSW pernah begini begitu. Sejarah ungkapkan fakta dan data, disimak di hari ini. Sejarah berbuah cerita. Berfungsi refleksi, identitas, prestis, bahkan promosi.

Nama besar dan terkenal, dampaknya positif. Lulusan sekolah menengah atas atau sederajat, berduyun-duyun mereken UKSW sebagai pilihan. Laris manis. Salatiga banjir mahasiswa.

Walau universitas di kota mini, siapa tak kenal? Tak henti sanjungan dibombastiskan. UKSW termasuk lima puluh universitas Indonesia yang dipromosikan di luar negeri. Wow?

Pada suatu kesempatan di Cisarua, Bogor, saya berbincang dengan pengurus sebuah organisasi kewartawanan Indonesia. Tahu saya dari UKSW, ia cukup antusias. Ngobrol-ngobrol seputar keharuman UKSW, yang di masa lalu. Maaf, bukan yang sekarang, 2008.

Nama tokoh yang tersembul dalam obrolan berkisar Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan George Junus Aditjondro. Tak bisa dipungkiri, tak sedikit kontribusi tiga nama di atas terhadap jagat intelektualitas bahkan demokrasi. Ada ahli sosialisme, bahasa, dan media. Terlepas dari nama-nama itu pun, berdasar kisah yang beredar, dulu (era 60-an hingga 90-an) UKSW itu “tempat pendidikan banget.” Asoy geboy pokoknya.

Tapi, itu dulu. Sekali lagi, dulu!

Kisah harum prestasi, digdaya, dan kepal tangan berasal dari semprotan wewangian cerita lampau. UKSW beruntung punya sejarah hebat.

Yang jadi pertanyaan, apakah UKSW sekarang laku dan diminati karena sandaran romantika? Hanya berjubah nama besar ciptaan sejarah? UKSW “hebat” adalah dulu, bukan sekarang?

Bila ya, berarti kasihan. Banyak mahasiswa UKSW tertipu. Salah pilih perguruan tinggi. Termasuk saya, dan mungkin, Anda. Kalaupun benar pilih, mungkin dirundung kecewa, gelisah, dan tak sesuai harapan.

“Kampus kok kayak begini ya? Katanya berkualitas, kok matakuliah rebutan? Katanya fasilitas lengkap, kok internet antre? Kampusnya teduh, tapi kok sumpek?”

Terperangkap gombal tutur kisah kampus “Indonesia Mini.” Berakibat semuanya berkhayal manis-manis, harapkan UKSW berikan yang tak mungkin. Macam khayal dan harap komunisme boleh diperjuangkan di Pemilu 2009 layaknya Pemilu 1955. Hei, jauh panggang dari api!

Sadar tak sadar, calon mahasiswa memilih kampus untuk “masa depan,” terutama diri sendiri. Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!”

Tujuan kuliah adalah agar individu diolah oleh ahli olah. Bila ahli olah tak pintar mengolah, tandanya tak berkualitas. Hasil olahan jadi runyam.

Apakah itu artinya UKSW menjauh dari intelektualitas?

Misal, di media massa, goresan Satya Wacana tertulis bila “mahasiswa juara kompetisi olahraga.” Tak masalah dan tak lucu. Tapi olahraga hanyalah ekstrakurikuler, bukan intrakurikuler. Tak ada fakultas olahraga di UKSW. Tingkah ini dikuatkan sebuah fakultas yang tak malu usung basket sebagai alat promosi, bukan akademiknya. Yang dibanggakan, jarang berupa penelitian, penemuan, atau setidaknya tulisan singkat di koran!

Seorang dosen yang pernah berkoar agar mahasiswa menulis di koran, sampai detik ini tak pernah saya lihat pemikiran beserta namanya tercetak di koran.

Dosen kencing berdiri, mahasiswa kencing berlari.

Mbludak!
Semasa SMA, kerap saya dengar UKSW didengung masyarakat sebagai universitas link and match amboi. Wawasan pragmatisnya: kuliah, mudah raih pekerjaan. Juga (katanya) sarjana UKSW diincar tempat kerja tersohor. Begitu?

Gampang dapat kerja, apalagi bergaji besar, bukan rejeki nomplok mendadak dari langit. Ada proses. Perlu timba ilmu tak sedikit saat kuliah. Analoginya, sebelum terjun di medan perang (dunia kerja), siapkan senjata (kuliah) dahulu.

Siap senjata, perlu matang pikir. Prediksi, andai musuh (lulusan universitas lain) punya pisau, melawannya siapkan yang lebih mematikan. Siapkan pistol. Pistol diisi peluru mesiu. Mesiunya, ilmu.

Ilmu di kampus, jelas utama didapat melalui kuliah. Mahasiswa berhak ikut kuliah, karena penuhi kewajiban bayar SPP dan SKS. Logikanya, terjalin “simbiosis mutualisme” kampus-mahasiswa. Tapi apa nyana?

Mahasiswa rebutan matakuliah. Mahasiswa tak dapat kelas. Gaftar alir runtutan matakuliah tak terpatuhi.

Ini gamblang terjadi di “fakultas ganas” macam Fakultas Ekonomi atau Fakultas Teknologi Informasi. Di lembaga pendidikan setenar UKSW, tampaknya berlaku pola “siapa cepat, dapat matakuliah.” Yang dapat senang, yang tak dapat? Kuliah sama-sama membayar, namun jibaku rebutan matakuliah.

Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40. Dosen mengajar paralel. Sumber daya dosen minim, diperah kampus untuk layani mahasiswa yang tak sedikit.

Dosen tidak lagi memperkaya ilmu, tetapi lelah karena harus mengajar banyak kelas. Ini belum termasuk mengerjakan “proyek” lain di luar perguruan tinggi. (Nurudin, 2007)

Korbannya, ya mahasiswa dan dosen. Bukan pengurus yayasan. Masih mengharap kualitas pendidikan “yahud” dari universitas swasta terbaik nomor sembilan se-Indonesia ini (versi Globe Asia, 2007)? Jangan-jangan, bila majalah lain bikin jajak pendapat, UKSW tak masuk 100 besar?

Saking banyaknya mahasiswa, mungkin dosen bingung beri nilai. Hingga indeks prestasi (IP) dapat dipertanyakan subtansinya. IP cerminkan mahasiswa? IP tinggi berarti cerdas? IP rendah sama dengan tak pintar? Ponten “A” pada matakuliah filsafat menandakan mahasiswanya paham filsafat? Belum tentu.

Cek saja. Tanyakan materalisme, dialektika, historis Karl Marx atau cogito ergo sum Rene Descartes pada pemilik nilai A di matakuliah filsafat. Sangsi, dari 100 mahasiswa, kurang dari 10 yang paham. Jangan-jangan, pemilik nilai C atau D yang lebih mudeng.

Atmosfer kompetitif nihil. Persaingan didukung kejujuran yang dapat melecut gairah belajar tak terbangun. Artinya, mahasiswa terjebak dalam kesemuan: mendapat IP tanpa standarisasi jelas. Inilah universitas bernama besar.

Mungkin, agenda kampus raih mahasiswa sebanyak-banyaknya harus tercapai. Urusan matakuliah dan terbatasnya staf pengajar, apa peduli?

Akar masalah: jumlah mahasiswa yang mbludak!

Mahasiswa berhak
Tanya: Apa bedanya manusia belajar di hutan liar dan di kampus?

Jawab: Di hutan, manusia belajar tanpa diarahkan. Tak ada kurikulum atau silabus, apalagi biaya. Di kampus, ada lembaga yang dibayar untuk atur, urus, ayomi, layani, dan bimbing mahasiswa. Dan mahasiswa bayar untuk itu! Bukan dilepas macam anak monyet yang mencari pisang di hutan.

Lain cerita tempat belajar berbasis kebutuhan seperti sekolah alternatif Qaryah Thayyibah di daerah Kalibening, Salatiga. Ceritanya, seorang individu bebas pilih disiplin ilmu yang disukai atau dirasa butuh oleh subjek didik.

UKSW adalah lembaga pendidikan formal berbasis disiplin ilmu. UKSW sudah dibayar, mengapa mahasiswa tak “dibayar” balik? Dimana mutualismenya?

Mahasiswa berhak menuntut, bukan begitu? Atau harus diam, nurut, pura-pura tak tahu, cengar-cengir, tundukkan kepala, dan silangkan tangan di belakang?

Jangan biarkan mahasiswa pontang-panting urus tetek bengek yang (mestinya) bukan urusannya. Rebutan matakuliah dan pusing fasilitas. Biarkan mahasiswa tenang berkuliah serta aksesorisnya: baca buku, organisasi, diskusi, belajar, dan menulis.

Nikmat bercinta dengan ilmu. Das sein yang bukan utopis.

Selamat datang
Hidup bermahasiswa tak lagi seindah bayangan. UKSW yang indah, visualisasi penuh bebungaan dan cuplikan kliping berita koran tentang hebatnya UKSW di brosur promosi, lahirkan kesemuan.

UKSW ibarat akuarium berkapasitas maksimal 100 ikan kecil, tapi diisi 300 ikan besar. Ikan-ikan berebut makanan dan megap-megap bernapas. Kondisi jadi gelagapan. Segalanya ruwet. Kacau.

Bagaimana bila sistematika penerimaan mahasiswa baru dirubah? Kurangi mahasiswa. Sistem sortir. Lewati seleksi yang bukan pantas-pantas belaka. Standarisasi pendidikan, mutu akademik, dan formalisme fungsional jelas nan tegas harus ditegakkan.

Kasihan mahasiswa dan dosen. Daripada dahsyat kuantitas, loyo kualitas? Seorang dosen senior UKSW yang pemikirannya kerap hiasi media, pernah berujar, “Small is beautiful.” Saya mengamini, kecil itu indah!

Mungkinkah, wahai Para Petinggi Satya Wacana yang Terhormat?

Jelang tahun akademik 2008/2009, ikan-ikan baru, segar dari “penangkaran” (SMA/sederajat), siap ceburkan diri ke akuarium. Tambah sesak, padat, dan bersiap hanyut dalam keruh akuarium. Hati-hati, atur nafas.

Selamat datang, mahasiswa baru angkatan 2008!

YODIE HARDIYAN
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW


53 Komentar

  1. edo

    akan bagus sekali bila dilaksanakan seleksi terlebih dahulu untuk menyaring mahasiswa baru, bisa semakin jelas mutu universitasnya, karena yang masuk bukan orang-orang sembarangan (yang hanya punya duit). tapi bagaimana persaingan dengan UMPTN?
    ya kalo mnurut saya si paling2 ya kalah ma UMPTN.

    satu lagi, hand out yang diberikan oleh dosen terlalu memanjakan mahasiswa. jadi mahasiswa gak biasa dengan yang namanya membaca dan analisis buku. termasuk saya juga si.

  2. ayuning@

    yup dari pengalaman hanya tiga nama diataslah yang sering dipakai sebagai Paswordnya UKSW, dan yang paling sering sering adalah Arif Budiman, kelg Arif Budiman sekarang sering ke sala3 untuk fak psikologi kenapa tidak menawari ibu Laila Budiman untuk menjadi dosen psikologi UKSW ( supaya jumlah pengajar yang profesional beertambah )mungkin penulis perlu menambahkan kejadian 1995 itu juga pasword UKSW…..:).saya juga ingin bertanya kepada UKSW kenapa dosen2 ekonomi yang expert2 banyak yang pergi ke kampus lain?

    yang pasti semua pemegang kebijakan UKSW dan mahasiswa UKSW harus tetap berusaha maju trusss mengisi hari-harinya dengan perkembangan kampus didunia, jangan terlena dengan buaian masa lalu…bagaimanapun juga performance kampus dilihat dari output lulusan saat para alumni bekerja………semangat UKSW….miliki UKSW..maka kita akan terus menjaganya…jadikan Takut akan Tuhan benar-benars sebagai dasar UKSW…
    Go Go Go UKSW

  3. Black Cat Miauuuww

    Saya rasa kita semua telah memilih kampus ini sebagai ajang percaturan hidup kita dengan berbagai macam alasan. Tapi alasan yang nyata bagi seorang mahasiswa adalah belajar, dan maybe belajar tidak hanya di kelas tapi di sekitar kampus kita juga dapat belajar. Seluruhnya di kampus adalah tempat belajar dan mengajar. Memang terkadang kuliah itu sangat “membosankan” kita, sepertinya kita hanya dituntut untuk mengejar titel saja tanpa memaknai titel itu, kelak kita akan tahu bahwa inilah realitas kehidupan berkuliah di UKSW yang arogansinya terlalu memaksakan mahasiswa seperti SD, point card lah contohnya, sangat kapitalis. Huahaahaaha…..
    Sudahlah Yodie, walau bagaimanapun kita sudah memilih UKSW, dan setidaknya kita juga harus menghargai pilihan diri kita sendiri, tanpa sesal. hiks… hiks….

Kami Menerima Pandangan Anda

© 2009 Scientiarum. Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Situs ini menggunakan mesin WordPress bertema Advanced Newspaper.