Akuarium

Browse By

Universitas Kristen Satya Wacana itu unik. Mahasiswanya belas ribuan, dari banyak daerah pula. Maklum, punya nama besar. Terkenal!

Terkenal, pasti punya sejarah. UKSW pernah begini begitu. Sejarah ungkapkan fakta dan data, disimak di hari ini. Sejarah berbuah cerita. Berfungsi refleksi, identitas, prestis, bahkan promosi.

Nama besar dan terkenal, dampaknya positif. Lulusan sekolah menengah atas atau sederajat, berduyun-duyun mereken UKSW sebagai pilihan. Laris manis. Salatiga banjir mahasiswa.

Walau universitas di kota mini, siapa tak kenal? Tak henti sanjungan dibombastiskan. UKSW termasuk lima puluh universitas Indonesia yang dipromosikan di luar negeri. Wow?

Pada suatu kesempatan di Cisarua, Bogor, saya berbincang dengan pengurus sebuah organisasi kewartawanan Indonesia. Tahu saya dari UKSW, ia cukup antusias. Ngobrol-ngobrol seputar keharuman UKSW, yang di masa lalu. Maaf, bukan yang sekarang, 2008.

Nama tokoh yang tersembul dalam obrolan berkisar Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan George Junus Aditjondro. Tak bisa dipungkiri, tak sedikit kontribusi tiga nama di atas terhadap jagat intelektualitas bahkan demokrasi. Ada ahli sosialisme, bahasa, dan media. Terlepas dari nama-nama itu pun, berdasar kisah yang beredar, dulu (era 60-an hingga 90-an) UKSW itu “tempat pendidikan banget.” Asoy geboy pokoknya.

Tapi, itu dulu. Sekali lagi, dulu!

Kisah harum prestasi, digdaya, dan kepal tangan berasal dari semprotan wewangian cerita lampau. UKSW beruntung punya sejarah hebat.

Yang jadi pertanyaan, apakah UKSW sekarang laku dan diminati karena sandaran romantika? Hanya berjubah nama besar ciptaan sejarah? UKSW “hebat” adalah dulu, bukan sekarang?

Bila ya, berarti kasihan. Banyak mahasiswa UKSW tertipu. Salah pilih perguruan tinggi. Termasuk saya, dan mungkin, Anda. Kalaupun benar pilih, mungkin dirundung kecewa, gelisah, dan tak sesuai harapan.

“Kampus kok kayak begini ya? Katanya berkualitas, kok matakuliah rebutan? Katanya fasilitas lengkap, kok internet antre? Kampusnya teduh, tapi kok sumpek?”

Terperangkap gombal tutur kisah kampus “Indonesia Mini.” Berakibat semuanya berkhayal manis-manis, harapkan UKSW berikan yang tak mungkin. Macam khayal dan harap komunisme boleh diperjuangkan di Pemilu 2009 layaknya Pemilu 1955. Hei, jauh panggang dari api!

Sadar tak sadar, calon mahasiswa memilih kampus untuk “masa depan,” terutama diri sendiri. Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!”

Tujuan kuliah adalah agar individu diolah oleh ahli olah. Bila ahli olah tak pintar mengolah, tandanya tak berkualitas. Hasil olahan jadi runyam.

Apakah itu artinya UKSW menjauh dari intelektualitas?

Misal, di media massa, goresan Satya Wacana tertulis bila “mahasiswa juara kompetisi olahraga.” Tak masalah dan tak lucu. Tapi olahraga hanyalah ekstrakurikuler, bukan intrakurikuler. Tak ada fakultas olahraga di UKSW. Tingkah ini dikuatkan sebuah fakultas yang tak malu usung basket sebagai alat promosi, bukan akademiknya. Yang dibanggakan, jarang berupa penelitian, penemuan, atau setidaknya tulisan singkat di koran!

Seorang dosen yang pernah berkoar agar mahasiswa menulis di koran, sampai detik ini tak pernah saya lihat pemikiran beserta namanya tercetak di koran.

Dosen kencing berdiri, mahasiswa kencing berlari.

Mbludak!
Semasa SMA, kerap saya dengar UKSW didengung masyarakat sebagai universitas link and match amboi. Wawasan pragmatisnya: kuliah, mudah raih pekerjaan. Juga (katanya) sarjana UKSW diincar tempat kerja tersohor. Begitu?

Gampang dapat kerja, apalagi bergaji besar, bukan rejeki nomplok mendadak dari langit. Ada proses. Perlu timba ilmu tak sedikit saat kuliah. Analoginya, sebelum terjun di medan perang (dunia kerja), siapkan senjata (kuliah) dahulu.

Siap senjata, perlu matang pikir. Prediksi, andai musuh (lulusan universitas lain) punya pisau, melawannya siapkan yang lebih mematikan. Siapkan pistol. Pistol diisi peluru mesiu. Mesiunya, ilmu.

Ilmu di kampus, jelas utama didapat melalui kuliah. Mahasiswa berhak ikut kuliah, karena penuhi kewajiban bayar SPP dan SKS. Logikanya, terjalin “simbiosis mutualisme” kampus-mahasiswa. Tapi apa nyana?

Mahasiswa rebutan matakuliah. Mahasiswa tak dapat kelas. Gaftar alir runtutan matakuliah tak terpatuhi.

Ini gamblang terjadi di “fakultas ganas” macam Fakultas Ekonomi atau Fakultas Teknologi Informasi. Di lembaga pendidikan setenar UKSW, tampaknya berlaku pola “siapa cepat, dapat matakuliah.” Yang dapat senang, yang tak dapat? Kuliah sama-sama membayar, namun jibaku rebutan matakuliah.

Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40. Dosen mengajar paralel. Sumber daya dosen minim, diperah kampus untuk layani mahasiswa yang tak sedikit.

Dosen tidak lagi memperkaya ilmu, tetapi lelah karena harus mengajar banyak kelas. Ini belum termasuk mengerjakan “proyek” lain di luar perguruan tinggi. (Nurudin, 2007)

Korbannya, ya mahasiswa dan dosen. Bukan pengurus yayasan. Masih mengharap kualitas pendidikan “yahud” dari universitas swasta terbaik nomor sembilan se-Indonesia ini (versi Globe Asia, 2007)? Jangan-jangan, bila majalah lain bikin jajak pendapat, UKSW tak masuk 100 besar?

Saking banyaknya mahasiswa, mungkin dosen bingung beri nilai. Hingga indeks prestasi (IP) dapat dipertanyakan subtansinya. IP cerminkan mahasiswa? IP tinggi berarti cerdas? IP rendah sama dengan tak pintar? Ponten “A” pada matakuliah filsafat menandakan mahasiswanya paham filsafat? Belum tentu.

Cek saja. Tanyakan materalisme, dialektika, historis Karl Marx atau cogito ergo sum Rene Descartes pada pemilik nilai A di matakuliah filsafat. Sangsi, dari 100 mahasiswa, kurang dari 10 yang paham. Jangan-jangan, pemilik nilai C atau D yang lebih mudeng.

Atmosfer kompetitif nihil. Persaingan didukung kejujuran yang dapat melecut gairah belajar tak terbangun. Artinya, mahasiswa terjebak dalam kesemuan: mendapat IP tanpa standarisasi jelas. Inilah universitas bernama besar.

Mungkin, agenda kampus raih mahasiswa sebanyak-banyaknya harus tercapai. Urusan matakuliah dan terbatasnya staf pengajar, apa peduli?

Akar masalah: jumlah mahasiswa yang mbludak!

Mahasiswa berhak
Tanya: Apa bedanya manusia belajar di hutan liar dan di kampus?

Jawab: Di hutan, manusia belajar tanpa diarahkan. Tak ada kurikulum atau silabus, apalagi biaya. Di kampus, ada lembaga yang dibayar untuk atur, urus, ayomi, layani, dan bimbing mahasiswa. Dan mahasiswa bayar untuk itu! Bukan dilepas macam anak monyet yang mencari pisang di hutan.

Lain cerita tempat belajar berbasis kebutuhan seperti sekolah alternatif Qaryah Thayyibah di daerah Kalibening, Salatiga. Ceritanya, seorang individu bebas pilih disiplin ilmu yang disukai atau dirasa butuh oleh subjek didik.

UKSW adalah lembaga pendidikan formal berbasis disiplin ilmu. UKSW sudah dibayar, mengapa mahasiswa tak “dibayar” balik? Dimana mutualismenya?

Mahasiswa berhak menuntut, bukan begitu? Atau harus diam, nurut, pura-pura tak tahu, cengar-cengir, tundukkan kepala, dan silangkan tangan di belakang?

Jangan biarkan mahasiswa pontang-panting urus tetek bengek yang (mestinya) bukan urusannya. Rebutan matakuliah dan pusing fasilitas. Biarkan mahasiswa tenang berkuliah serta aksesorisnya: baca buku, organisasi, diskusi, belajar, dan menulis.

Nikmat bercinta dengan ilmu. Das sein yang bukan utopis.

Selamat datang
Hidup bermahasiswa tak lagi seindah bayangan. UKSW yang indah, visualisasi penuh bebungaan dan cuplikan kliping berita koran tentang hebatnya UKSW di brosur promosi, lahirkan kesemuan.

UKSW ibarat akuarium berkapasitas maksimal 100 ikan kecil, tapi diisi 300 ikan besar. Ikan-ikan berebut makanan dan megap-megap bernapas. Kondisi jadi gelagapan. Segalanya ruwet. Kacau.

Bagaimana bila sistematika penerimaan mahasiswa baru dirubah? Kurangi mahasiswa. Sistem sortir. Lewati seleksi yang bukan pantas-pantas belaka. Standarisasi pendidikan, mutu akademik, dan formalisme fungsional jelas nan tegas harus ditegakkan.

Kasihan mahasiswa dan dosen. Daripada dahsyat kuantitas, loyo kualitas? Seorang dosen senior UKSW yang pemikirannya kerap hiasi media, pernah berujar, “Small is beautiful.” Saya mengamini, kecil itu indah!

Mungkinkah, wahai Para Petinggi Satya Wacana yang Terhormat?

Jelang tahun akademik 2008/2009, ikan-ikan baru, segar dari “penangkaran” (SMA/sederajat), siap ceburkan diri ke akuarium. Tambah sesak, padat, dan bersiap hanyut dalam keruh akuarium. Hati-hati, atur nafas.

Selamat datang, mahasiswa baru angkatan 2008!

Yodie Hardiyan, mahasiswa Fakultas Ekonomi

53 thoughts on “Akuarium”

  1. ricky says:

    @ yodie… kita semua yang di UKSW punya andil…jangan terus terjebak romantisme masa lalu…tapi melangkah ke depan dengan Prestasi…Tuhan pasti menyertai UKSW

  2. Opha says:

    Baik untuk direnungkan bersama oleh seluruh civitas akademika UKSW. Kini sudah tepatkah eksistensi (bicara fungsi dan peranannya) sebuah perguruan tinggi menghadirkan dirinya secara utuh ditengah masyarakat? Bacaan di atas (meski menurut saya sangat di dominasi emosional penulis) baik untuk menjadi perenungan. Namun sekali lagi, perlu kehati-hatian dalam mentrjemahkan kualitas pendidikan, karena Proses sebuah sistem dalam perguruan tinggi relatif kompleks.

    Mahasiswa dapat memandang proses yang terjadi amatlah menyedihkan, tetapi perlu diingat mahasiswa/peserta didik bukanlah objek dalam sistem pendidikan tingkat tinggi. Takutnya ketika terlalu sibuk untuk minta dilayani haknya, lupa kewajibannya. Begitu pula untuk stakeholder lainnya. Intinya ini persoalan bersama kluarga besar UKSW. Entah ada yang merasa atau tidak?>

  3. DN says:

    @ all
    penulis opini mengatakan kegelisahan dan fakta yang dia alami (scientiarum bisa bikin poolling tentang ini)

    @ ricky
    “kita semua yang di UKSW punya andil” betul, dan Yodhie sdh lakukan andilnya dengan menulis opini ini

    jadi bagaimana ini para pengambil keputusan…
    Andil kita sebagai pecinta UKSW ya menggalang kekuatan dan kesadaran semua mahasiswa

  4. Yodie Hardiyan says:

    @Opha: Saya setuju dalam proses didik-mendidik mahasiswa bukan hanya objek, tapi juga subyek.

    Untuk emosi dalam tulisan, saya pikir itu sah-sah saja. Apalagi opini. Emosi bukan berarti 100% ditafsirkan sebagai “marah-marah”, karena emosi setiap individu berbeda. Ada juga emosi yang diungkapkan dengan “mellow”. Setiap orang menulis, punya gaya masing-masing.
    Emosi dalam menulis opini, bak cabe dalam meracik sambal. Semakin kuat dan berimbang dengan bumbu lainnya, rasa sambalnya akan semakin mantap. Kalau kelebihan, ya kepedesen. Kalau kekurangan, ya rasanya ndak “nendang”.

  5. dian ade permana says:

    membludak? bukankah itu bagian dari eksistensi UKSW..dengan banyaknya mahasiswa, maka akan semakin banyak pula pendapatn yang diperoleh UKSW..bukan begitu?

    mengenai kualitas..kurasa,,itu tergantung dari diri kita sendiri..mau seberapa kualitas diri kita? mau seberapa aplikatif diri kita terhadap ilmu dan pengetahuna yang kita miliki…tergantung kita..
    tidak usahlah bicara materalisme, dialektika, historis Karl Marx atau cogito ergo sum Rene Descartes pada pemilik nilai A di matakuliah filsafat…setiap dari kita memiliki kemampuan dan minta yang berbeda,,,
    pengetahuan dari semua itu,,tergantung minat..
    mari berintropeksi..untuk membuat UKSW seperti pada masa lampau yang saya,anda,dan kita banggakan…

    tidak perlu memperdebatkan mau belajar dimana, kita sebagai makhluk pembelajar,,bisa belajar dimana saja,,,bukankan setiap tempat itu sekolah dan setiap orang itu guru,,,

    masih banyak Arif Budiman, Ariel Heryanto, George Junus lain yang dimiliki oleh UKSW, meski dalam wujud yang berbeda…bukankan setiap dari kita memiliki peran yang berbeda..

    JANGAN TERBELENGGU MASA LAMPAU KAWAN!!!
    terus berjuang untuk hidup yang lebih baik……………

  6. Saam Fredy says:

    Kesadaran sudah ada, namun sayang belum ada yang berani untuk bergerak. Bukan sekarang, mungkin nanti. Menunggu sang matahari reba di ufuk barat …

    Salam,
    Saam Fredy
    (berjuang dengan cara sendiri)

  7. cepero says:

    To writer,
    cobalah banyak belajar dari Mas Ade, dia salah satu contoh yang lolos dari sistem-sistem di UKSW yang selama ini anda keluhkan, saya tahu masa mudanya juga hampir sama seperti anda dimana menjadi “mahasiswa politikus”, tapi sekian lama mengeluh tetap dijalani dan lulus dengan penuh keringat dan air mata, bahkan kalau mengetik skripsi selalu berebut komputer dengan saya, tapi sekarang dia udah belajar dari kepahitan dan pengalaman hidup,..
    jadi maksud saya, keluhan anda itu sudah lama diperjuangkan dari jaman Mas Ade dan tidak pernah ada kejelasan dari Rektorat mengenai jawabannya…
    Intinya….. Silahkan berjuang terus sampai napas anda habis….
    yang penting… KULIAH ANDA JALAN TERUSSSSS, tapi kalau anda sampai tidak kuliah karena memperjuangkan hal-hal yang tidak jelas, berarti anda adalah mahasiswa yang menyerah pada keadaan….tapi bagus juga kalau anda sampai keluar karena sesuai dengan perjuangan anda yang ingin membentuk UKSW agar tidak seperti aquarium, jadi seperti seleksi alam dimana yang berkualitas dan yang unggul yang tinggal dan hasil akhirnya seperti yang diharapkan kita semua dimana UKSW menjadi seperti dulu, HEBAT dan INTELEKTUAL…

    Salam Damai

  8. tons says:

    Yang jaman dulu juga ngalami lho berjubel ngantri dan gak dapat matakuliah tunggu beberapa semester lagi itupun kalau gak ada perubahan kurikulum dalam masa penantian untuk ambil matakuliah. Tapi apa semua itu kesalahan universitas yang terlanjur terkenal? Dulu untuk memperoleh kepastian matakuliah yang didaftarkan oleh mahasiswa diterima dan tidaknya dalam satu kelas perlu menunggu paling cepat 2 minggu bahkan kalau kerja administrator lagi bertumpuk bisa satu bulan bahkan lebih. Itu juga jamannya tokoh-tokoh legendaris yang disebutkan.

    Perlu diingat bahwa universitas ini juga memiliki andil yang besar dalam membesarkan nama-nama mereka. Karena UKSW yang memiliki mahasiswa dari semua penjuru tanah air, dan jaringan luar negeri yang baik mereka dapat menyalurkan aspirasinya yang memang memiliki bobot/kwalitas melalui jaringan UKSW yang ada.

    Kayaknya Fakultas/Progi perlu melakukan estimasi yang baik agar semua mahasiswanya dapat tertampung dalam setiap pembukaan kelas, sehingga perebutan matakuliah tidak terjadi. Namun perlu diingat bahwa ada parameter tertentu juga harus dipenuhi, yang antara lain bahwa kelas dapat dibuka dengan jumlah pendaftar tertentu yang memenuhi aspek efektif dan efisien.

    Untuk teman-teman mahasiswa apakah kita akan menjadi terkenal karena telah salah pilih “akuarium”, atau kita telah survive dalam suatu “akuarium” pilihan kita.

    Sebagai Catatan : Fakultas Ekonomi – Program studi Manajemen pada masa lalu dalam satu angkatan bisa mencapai 500 mahasiswa, nilai kompetisi berebutnya lebih berat !

  9. Neil Rupidara says:

    Kata Yodie: “Ceritanya, seorang individu bebas pilih disiplin ilmu yang disukai atau dirasa butuh oleh subjek didik.”

    Kata Neil: Jangan salah! Di UKSW maupun perguruan tinggi manapun, Anda dan mahasiswa lainnya sudah pilih disiplin ilmu yang disukainya sebagai ekspresi kebutuhan masa depan Anda. Jika Anda adalah mahasiswa Ekonomi, maka Anda sudah pilih disiplin atau rumpun keilmuan anda: Ekonomi dan selanjutnya Anda jugalah yang pilih Progdi-nya serta nantinya konsentrasi studinya. Jadi, jangan mudah bandingkan dengan apa yang terjadi Qaryah Thayyibah (di mana semua siswa harusnya belajar A sampai Z). Bagi saya, kelebihannya QT adalah justru ketika anak-anak itu sudah pilih apa yang ingin mereka pelajari, mereka demikian antusias, mereka mengejar ilmunya ke mana-mana, termasuk bergerilya di internet dan tanya sana tanya sini termasuk pada ahlinya lewat email misalnya. Mereka ekspresikan dengan benar bahwa mereka mau dan bisa kuasai apa yang mereka pelajari, karena itu minatnya. Memang, saya hargai keberanian pedagogis mereka.. hal mana masih tidak mudah dipraktikkan di UKSW.

    Pertanyaan Neil: Haruskah kita bergaya Amerika Serikat? Di AS, mahasiswa lazimnya masuk sebagai mahasiswa Universitas/College dan baru tahun ke-3 memilih major apa yang mau ditekuninya (kecuali dia memilih sekolah kejuruan/teknik). Namun, jelas gagasan atau model ini tidak mudah diadopsi. Ntar di-klaim lagi sebagai impor barang orang lain, tidak cocok dengan budaya lah etc. Ingat kasus Trimester yang ‘ditendang’ dengan alasan seperti itu?. Kurikulum gaya ‘fleksibel’ (di-klaim begitu) di IE pun dituding sebagai bukan produk negeri sendiri kan? Saya hadir dalam forum penjelasannya dan ada yang mengomentari begitu. Mau dibuat supaya mahasiswa yang lebih ‘berkuasa’ menentukan wilayahnya malah dituding produk asing etc..

    Kata Yodie: UKSW sudah dibayar, mengapa mahasiswa tak “dibayar” balik? Dimana mutualismenya?

    Kata Neil: Tuntut itu terus… Jika tulisan ini adalah suara tuntutan Anda.. sekarang kita butuh wakil2 resmi mahasiswa (LK) untuk terus suarakan ini… Sebagai bandingan: Tahun 1991, SEMA FE UKSW mengadakan survei PBM untuk semua dosen di semua mata kuliah. Mahasiswa menilai kinerja para dosennya. Ada dosen yang dapat nilai D, E. Hasil itu dipresentasi SEMA di salah satu rapat FE. Dosen muka merah, marah.. Itulah suara riil dan formal mahasiswa, “kami mau PBM yang bermutu”. Sejalan dengan itu, di tahun itu juga SM – UKSW membuat workshop PBM dan menuntut model PBM yang demokratis, konsekuensinya SM – UKSW tahun 1992 – 1993 terus mengusung gagasan kebebasan mimbar akademik bagi mahasiswa. Mahasiswa adalah intelektual yang punya suara, bukan cuma dengar dosennya. Cuma, dalam posisi sebagai intelektual, mahasiswa juga harus deeply engage dalam bidang pengetahuan yang ditekuninya.

    Karena itu, saya suka sekali: “Biarkan mahasiswa tenang berkuliah serta aksesorisnya: baca buku, organisasi, diskusi, belajar, dan menulis. Nikmat bercinta dengan ilmu. Das sein yang bukan utopis.” Ini dia yang harusnya terjadi.. Cuma, itu harus termasuk ilmu yang sudah Anda pilih, bukan cuma ilmu yang Anda sukai saja. Ambil contoh, ambil Ekonomi, tapi sukanya Teologi. Ini kan berabe. Mana bisa dosen ekonomi disuruh dialog Teologi secara ilmiah? Ini cuma contoh… Harus empirik, supaya tidak utopis? Karena itu, harus research-based… belajar sambil melihat apa yang terjadi di lapangan.. Benarkah ini yang mahasiswa inginkan?

    Jika demikian, saya setuju sekali.. lebih jauh… setuju juga jika mahasiswa belajar Filsafat, maka tentu nama dan teori/perspektif yang disebut-sebut mas Yodie, mestinya dikenal oleh mahasiswa. Itulah keintiman ilmiah yang harus terjadi. Tentu tidak perlu hafal luar kepala segala lah.. yang penting adalah sadar tentang pikiran2 ada dan paham itu.. Lebih jauh, kritis terhadapnya… kita lebih butuh.. apa komentar Anda setelah baca Marx.. apa dari pandangan Marx yang masih bisa kita pakai dalam melakukan perubahan sosial saat ini… Apa titik lemah dari dalam Marxisme.. etc etc critical thinking… itulah yang Anda sebut, bercinta dengan ilmu. Sebagai bandingan… kadang ketika mahasiswa ditanya apa komentar Anda tentang teori X: jawaban yang muncul, kalau tidak tulis kembali sepersis-persisnya teori itu, ya sebagian orang klaim sebagai “ah, cuma disuruh mengarang indah”… hmmm… sama-sama tidak cukup menghargai kemampuan intelektual sendiri… otak yang brilian ini kan sayang kalau cuma menghafal dan masa’ berpikir kritis dan mengekspresikannya disebut mengarang indah?

    Sekali lagi.. jika yang mahasiswa mau adalah yang seperti Anda katakan… tuntut dan minta itu agar dihadirkan.. Tentu, mahasiswa seperti Anda perlu punya kesabaran.. katanya “orang sabar disayang Tuhan”.. berjuang terus.. jika tidak hari ini, semoga besok.. jika belum juga besok, masih ada lusa.. batu karangpun bisa terkikis oleh konsistensi air yang menabraknya siang dan malam..

    Soal ketokohan.. jangan cuma yang di dunia tertentu dong! Coba cek di kalangan pemikir Relasi Agama dan Negara di Indonesia.. (bahkan meng-dunia kok di bidangnya).. nama John Titaley mestinya akan tersebut.. Ia pernah menerima penghargaan Alumn of the Year dari almamater-nya karena prestasi keilmuannya sebagai lulusan universitasnya… Kalau mau bicara ethnic entrepreneurship dalam bidang ekonomi regional di Indonesia, saya kira kok nama Marthen Ndoen juga harus juga dirujuk.. Kalau mau tentang Usaha Mikro Kecil, maka nama seperti Sri Sulandjari, Rooskities, Konta Damanik, Bayu Wijayanto juga bisa disebut-sebut di komunitas ini.. Tanya saja orang2 di bidang tersebut…

    Ini belum yang lain lagi lho.. di bidang2 yang tidak saya kuasai atau ya tidak bisa saya sebut satu per satu.. Jelas, tidak semua nama populer di kalangan jurnalistik, yang Anda refer… Jadi, reference group-nya apa? Kini saat-nya agar akademisi UKSW harus membangun nama-nya di lingkaran akademik masing-masing.. Namun, tentu adalah plus poin lagi jika bisa ngetop juga di media massa.. dan masyarakat umum… perlu strategi kelembagaan untuk ini rasanya..

  10. dian ade permana says:

    to cepero:
    cobalah banyak belajar dari Mas Ade, dia salah satu contoh yang lolos dari sistem-sistem di UKSW yang selama ini anda keluhkan, saya tahu masa mudanya juga hampir sama seperti anda dimana menjadi “mahasiswa politikus”, tapi sekian lama mengeluh tetap dijalani dan lulus dengan penuh keringat dan air mata, bahkan kalau mengetik skripsi selalu berebut komputer dengan saya, tapi sekarang dia udah belajar dari kepahitan dan pengalaman hidup,..
    jadi maksud saya, keluhan anda itu sudah lama diperjuangkan dari jaman Mas Ade dan tidak pernah ada kejelasan dari Rektorat mengenai jawabannya…

    Apakah ade yang anda maksud itu adalah saya?
    terima kasih mas…anda masih mengenang saya…emang hidup itu pahit ya mas?
    hehehehheeheee…

  11. Yodie Hardiyan says:

    Untuk Cepero:

    cobalah banyak belajar dari Mas Ade, dia salah satu contoh yang lolos dari sistem-sistem di UKSW yang selama ini anda keluhkan, saya tahu masa mudanya juga hampir sama seperti anda dimana menjadi “mahasiswa politikus”, tapi sekian lama mengeluh tetap dijalani dan lulus dengan penuh keringat dan air mata, bahkan kalau mengetik skripsi selalu berebut komputer dengan saya, tapi sekarang dia udah belajar dari kepahitan dan pengalaman hidup,..

    Oke. Silahkan Anda tulis pengalaman hidup Mas Ade yang anda sebut itu. Saya tak tahu siapa Ade yang anda maksud itu. Kirimkan ke Scientiarum (misal) dengan judul “Contoh Mahasiswa Teladan” atau bila tulisan anda ditolak, kirim ke e-mail saya di love24buzz@yahoo.co.id. Saya akan belajar darinya, sesuai saran mas. Kita bisa tukar pikiran.

    Saya mahasiswa politikus? Maaf, saya bukan mahasiswa politikus. Saya juga tak sok berpolitik, apalagi ikut organisasi ekstra universiter. Saya mahasiswa ekonomi. Atau lebih tepatnya, saya mahasiswa biasa.

    Intinya….. Silahkan berjuang terus sampai napas anda habis….
    yang penting… KULIAH ANDA JALAN TERUSSSSS, tapi kalau anda sampai tidak kuliah karena memperjuangkan hal-hal yang tidak jelas, berarti anda adalah mahasiswa yang menyerah pada keadaan….tapi bagus juga kalau anda sampai keluar karena sesuai dengan perjuangan anda yang ingin membentuk UKSW agar tidak seperti aquarium, jadi seperti seleksi alam dimana yang berkualitas dan yang unggul yang tinggal dan hasil akhirnya seperti yang diharapkan kita semua dimana UKSW menjadi seperti dulu, HEBAT dan INTELEKTUAL…

    Alhamdulillah, kuliah saya jalan terus. Bukan jalan, lari malah. Lari terbirit-birit, ketakutan mungkin. Terima kasih, bila kalimat “KULIAH ANDA JALAN TERUSSSSS” anda beri sebagai dukungan kepada saya.

    Untuk Dian Ade Permana:
    membludak? bukankah itu bagian dari eksistensi UKSW..dengan banyaknya mahasiswa, maka akan semakin banyak pula pendapatn yang diperoleh UKSW..bukan begitu?

    Begitu! Pendapatan banyak! Kaya raya! Posnet antri! Huh!

    mengenai kualitas..kurasa,,itu tergantung dari diri kita sendiri..mau seberapa kualitas diri kita? mau seberapa aplikatif diri kita terhadap ilmu dan pengetahuna yang kita miliki…tergantung kita..
    tidak usahlah bicara materalisme, dialektika, historis Karl Marx atau cogito ergo sum Rene Descartes pada pemilik nilai A di matakuliah filsafat…setiap dari kita memiliki kemampuan dan minta yang berbeda,,,
    pengetahuan dari semua itu,,tergantung minat..

    Saya hanya memberi contoh dalam tulisan saya, apakah pemilik nilai A mencerminkan sejauh mana pemahaman. Mencerminkan tidak? Saya rasa tidak. Dan saya ambil contoh matakuliah filsafat. Kalau tidak usah bicara soal MDH Karl Marx atau Descartes, ya ndak apa-apa. Berarti setiap apa yang telah diajarkan tak perlu dievaluasi? Atau bila bicara soal minat, kenapa tidak dihapus saja matakuliah filsafat? Kan banyak yang tidak minat? Kenapa mahasiswa dipaksa ambil itu? Berarti rugi donk bayar SKS? Kita bicara minat disini.

    Untuk Tons:

    Sebagai Catatan : Fakultas Ekonomi – Program studi Manajemen pada masa lalu dalam satu angkatan bisa mencapai 500 mahasiswa, nilai kompetisi berebutnya lebih berat !

    Terima kasih catatannya, bisa saya pakai sebagai bahan telisik dan kajian di waktu mendatang.

    Untuk Neil. R
    Kata Neil: Jangan salah! Di UKSW maupun perguruan tinggi manapun, Anda dan mahasiswa lainnya sudah pilih disiplin ilmu yang disukainya sebagai ekspresi kebutuhan masa depan Anda. Jika Anda adalah mahasiswa Ekonomi, maka Anda sudah pilih disiplin atau rumpun keilmuan anda: Ekonomi dan selanjutnya Anda jugalah yang pilih Progdi-nya serta nantinya konsentrasi studinya. Jadi, jangan mudah bandingkan dengan apa yang terjadi Qaryah Thayyibah (di mana semua siswa harusnya belajar A sampai Z). Bagi saya, kelebihannya QT adalah justru ketika anak-anak itu sudah pilih apa yang ingin mereka pelajari, mereka demikian antusias, mereka mengejar ilmunya ke mana-mana, termasuk bergerilya di internet dan tanya sana tanya sini termasuk pada ahlinya lewat email misalnya. Mereka ekspresikan dengan benar bahwa mereka mau dan bisa kuasai apa yang mereka pelajari, karena itu minatnya. Memang, saya hargai keberanian pedagogis mereka.. hal mana masih tidak mudah dipraktikkan di UKSW.

    Ya, di tulisan saya, memang terksesan terlalu menyederhanakan masalah. Komparatifnya tanpa dukungan analisis atau data yang lebih akurat. Terima kasih masukannya, bisa dipakai sebagai pertimbangan dalam analisis lebih rapi dan dalam bila saya menulis (lagi) soal UKSW.

    Karena itu, saya suka sekali: “Biarkan mahasiswa tenang berkuliah serta aksesorisnya: baca buku, organisasi, diskusi, belajar, dan menulis. Nikmat bercinta dengan ilmu. Das sein yang bukan utopis.” Ini dia yang harusnya terjadi.. Cuma, itu harus termasuk ilmu yang sudah Anda pilih, bukan cuma ilmu yang Anda sukai saja. Ambil contoh, ambil Ekonomi, tapi sukanya Teologi. Ini kan berabe. Mana bisa dosen ekonomi disuruh dialog Teologi secara ilmiah? Ini cuma contoh… Harus empirik, supaya tidak utopis? Karena itu, harus research-based… belajar sambil melihat apa yang terjadi di lapangan.. Benarkah ini yang mahasiswa inginkan?

    Mas Neil Rupidara, awalnya saya tidak begitu menyukai Ilmu Ekonomi, saya juga menyesal kenapa harus masuk FE. Saya merasa pilihan saya di FE telah salah. Seorang dosen senior (bukan wali studi) pernah saya “curhati” tentang hal ini, beliau berkata bahwa saya mismatch dan menyarankan saya harus mengambil keputusan: LANJUT atau KELUAR. Mungkin disinilah pentingnya wali studi, dimana mahasiswa bisa “curhat” tentang gejolak batin yang wajar dialami mahasiswa (kalau tidak mengalami gejolak, bukan mahasiswa ya?). Tapi saya melihat wali studi perannya tidak begitu signifikan.

    Belakangan ini saya pelan-pelan juga belajar mencintanyai Ilmu Ekonomi (Halah!!!). Tapi beneran, “Ekonomi” itu luas banget ternyata. Semoga saya menemukan Das Sein dalam hidup saya, merajut rapi semua Das Sollen yang telah hadir. Semoga saya bisa bercinta dengannya.

    Soal ketokohan.. jangan cuma yang di dunia tertentu dong! Coba cek di kalangan pemikir Relasi Agama dan Negara di Indonesia.. (bahkan meng-dunia kok di bidangnya).. nama John Titaley mestinya akan tersebut.. Ia pernah menerima penghargaan Alumn of the Year dari almamater-nya karena prestasi keilmuannya sebagai lulusan universitasnya… Kalau mau bicara ethnic entrepreneurship dalam bidang ekonomi regional di Indonesia, saya kira kok nama Marthen Ndoen juga harus juga dirujuk.. Kalau mau tentang Usaha Mikro Kecil, maka nama seperti Sri Sulandjari, Rooskities, Konta Damanik, Bayu Wijayanto juga bisa disebut-sebut di komunitas ini.. Tanya saja orang2 di bidang tersebut…

    Di tulisan saya, saya kaitkan dengan pengalaman pribadi saya dan tiga nama diatas yang tersembul. Saya mengakui bahwa pemikiran dosen UKSW banyak yang “galak”. Tapi berdasar pengalaman pribadi saya, hanya nama tiga orang diatas yang paling sering disebut. Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Sragen dan kota lain, bila tahu saya dari UKSW, yaa paling2 tiga nama diatas yang orang tanyakan kepada saya. Mungkin beberapa tahun mendatang saya akan menyebut “Neil Rupidara”. Hehehe…Mungkin.

  12. Marapiu says:

    Apresiasi positif perlu diberikan kepada Yodie atas kemauannya untuk menuliskan pandangan pribadinya mengenai kampus UKSW.
    Tapi mas Yodie, langit belumlah runtuh. Kalau anda menyediakan kemauan barang sejumput untuk masuk mencari berbagai hal menarik di UKSW, maka anda akan menemukannya.
    Dan seperti yang sudah dikatakan mas Neil, di UKSW masih terdapat banyak “mutiara” yang mendunia di luar kampusnya namun (dipaksa) mengecil di dalam kampusnya (tanya mengapa?). Bertemu dan mengenal mereka, adalah kegembiraan besar melebihi pengenalan kepada tokoh2 lawas seperti AB, AH, GJA (kawan saya) , dll.
    Perlu mas Yodie perhatikan secara kritis, bahwa setelah UKSW dan AB “bercerai”. Bukan hanya UKSW yang meredup, tapi sang tokoh juga ikut meredup.
    Maklum mengapa? karena tokoh tidak bisa eksis tanpa lembaga jika menyandarkan diri pada lembaga dan sebaliknya.
    UKSW tidak boleh bersandar pada tokoh, tapi harus membesarkan tokoh dan tidak mematikan tokoh. harus belajar dari sejarah.

  13. andi-dobleh says:

    Salut buat penulis.. atas tulisannya.. asumsi saya, penulis peduli dengan FE UKSW maka dia mau menulis tulisan di atas.

    @penulis
    – saya setuju dengan penulis bahwa penerimaan mahasiswa baru sangat perlu mengutamakan kualitas bukan kuantitas. walaupun mengalami masalah pendanaan pun, tidak sepantasnya kualitas ditrade off dengan sesuatu yang ‘semu’ seperti duit. Kampus UKSW dengan sederetan gelar di nama2 pejabatnya pasti bisa mencari sumber pendanaan alternatif selain uang kuliah mahasiswa (kalau niat sih…. )

    – “Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40. Dosen mengajar paralel. Sumber daya dosen minim, diperah kampus untuk layani mahasiswa yang tak sedikit.” perlu diteliti lebih lanjut apakah rasio dosen:mahasiswa di tiap fakultas memang tidak seimbang. Karena saya lihat, beberapa dosen masih sempat melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan di luar profesi dosennya kok!(misal jadi trainer …)

    @Marapiu
    semoga saja penulis tidak dimatikan oleh institusi yang dikritiknya

  14. Win says:

    To Yodie and all
    Nunut urun-urun rembug:
    ……………………………siap ceburkan diri ke akuarium. Tambah sesak, padat, dan bersiap hanyut dalam keruh akuarium.
    Seberapa besar sih akuariumnya? sudah seberapa keruhkah air akuarium itu? Kalau pun sudah sampai keruh, sangat “kemproh” sekali yang empunya, sampai-sampai tidak mengganti air itu.
    Terus berjuang.
    Salah satu kuis cepat tepat pada salah satu alumni FE UKSW yang ber-IPK Magna Cumlaude mengenai cogito ergo sum dengan ringan menjawab “Opo Kuwi? (bahasa Indonesia: Apa itu?).
    Ada juga yang mau survei kecil-kecilan di Kampus kita ini?hehehehe

  15. Neil Rupidara says:

    @Yodie: Syukur-lah jika mulai dan semakin merasa in. Saya yakin ada banyak aspek dalam ilmu ekonomi dan bisnis yang bisa mendorong rasa suka, sejauh yang menekuni mau giat. Karena ilmu ekonomi dan bisnis memiliki akar keilmuan yang luas, seperti pengakuanmu. Mau yang “sangat keras”, maka mainlah dengan logika matematika di wilayah ekonometrika, termasuk terapannya baik di ekonomi maupun bisnis. Ada juga aspek sejarah, psikologis, sosiologis, antropologis, filsafat dan bahkan ilmu2 eksakta seperti fisika dan biologi dalam ragam teori dan persoalan ekonomi dan bisnis yang tidak atau belum tergali sungguh-sungguh. Jadi range of choices-nya luas.. toh ilmu ekonomi juga soal choice kan?

    Cuma, seringkali mahasiswa (bahkan kami para dosen) tidak mampu melihat kaitan2 keilmuan secara fundamental. Misalnya dengan mata kuliah filsafat dan ilmu sosial politik yang suka disimpulkan tidak penting bagi mereka yang belajar tentang ekonomi dan bisnis. Padahal, misalnya, perdebatan filsafat dalam teori ekonomi dan bisnis pun tidak kurang sengitnya. Dan, filsafat pun sering terlalu dipandang/dibuat rumit, padahal setiap hari apa yang kita lakukan dalam hidup kita mencerminkan atau menjadi perwujudan filsafat/pandangan hidup kita. Dan, universitas mestinya mendidik seseorang agar menjadi terpelajar dan belajar filsafat adalah akarnya untuk itu.

    Soal wali studi, harusnya bisa cukup membantu dalam banyak hal. Tetapi, kadang kita memersepsi urusan perwalian cuma sebatas persetujuan atas mata kuliah yang mau diregistrasi. Ini pandangan yang telah mereduksi konsep perwalian yang dipahami di UKSW. Perwalian adalah soal konseling akademik. Namun, tidak sedikit aspek akademik, termasuk masalah-masalahnya, justru terkait dengan aspek2 non-akademik. Karena itu, perwalian harus juga terbuka terhadap hal-hal tambahan itu. Karena itu, manfaatkan keberadaan wali studi untuk hal yang bisa membantu kamu dalam studi. Wali studi tidak akan tahu apa dalam benakmu jika tidak diungkapkan. Tapi, kalau ada wali studi tidak mau bantu soal-soal begituan, ya mohon maaf. Namun, itu perlu dibicarakan saya kira.

    Soal ketokohan, bagi saya, UKSW harus punya ‘mesin’ promosi kepakaran yang dimiliki sehingga di samping mengangkat para pakar itu ke permukaan dan dikenal publik, ya UKSW sendiri dapat nama. Saya ambil contoh dengan Ibu Shinta Limantara dulu. Jangan di Indonesia, di kelas dunia saja namanya cukup kesohor di bidang ilmunya. Sempat dipromosikan oleh pimpinan UKSW waktu itu dan bahkan UKSW pun tidak takut berbicara perburuan Nobel jika orang macam bu Shinta, pak Ferry Karwur yang bidang ilmu-nya menjanjikan temuan2 brilian itu disupport habis2an untuk terus meneliti dan memublikasikan karya-karyanya. Cuma saya, bu Shinta sudah bukan warga UKSW lagi.

    Bung Marapiu benar. Ada relasi mutualistik antara aktor dan lembaganya. Dalam konteks pak Arief, coba tengok tulisan Andreas Harsono di blog-nya. Arief pilih datang ke UKSW karena menilai ‘ada sesuatu’ di UKSW. UKSW adalah tempat yang baik. Ibarat ladang yang subur, bertumbuhlah ia di UKSW di samping dengan begitu ia pun ikut membesarkan UKSW.

    Kalau untuk saya mah.. biar waktu saja yang berbicara.. mudah2an bisa jadi orang juga.. bukan untuk apa-apa, tetapi dengan begitu kita bisa memenuhi panggilan dan pengutusan pelayanan dengan lebih baik.. hidup kan ibarat numpang minum.. punya batasan.. jadi, jika bisa menjadi dan memberi yang terbaik, alangkah senangnya…

    Jangan lupa untuk menjadikan dirimu salah satu yang suatu waktu perlu dicontoh yang lain. Begitu? Salam dan sukses!

  16. cepero says:

    @ Yodie Hardiyan (komentar ke-11):

    Ternyata……
    Kayak iklan Sampoerna AMild

    Talk Much or Do Less…or maybe both of them….
    he…he….

  17. Yodie Hardiyan says:

    Untuk Marapiu:

    Tapi mas Yodie, langit belumlah runtuh. Kalau anda menyediakan kemauan barang sejumput untuk masuk mencari berbagai hal menarik di UKSW, maka anda akan menemukannya.

    Saya menemukannya. Di UKSW banyak hal untuk dikuti, dinikmati, diserap, atau sekedar dilihat. Di dunia ini tak ada tempat yang mencapai titik sempurna, begitu pula UKSW. UKSW tidak sempurna keburukannya. Keburukannya tidak amat sangat. Ada banyak hal di UKSW yang patut dan pantas untuk disayangi. Namun, pintu untuk mengkritik dan mencibir UKSW, bukan berarti tidak boleh dibuka. Langit belum runtuh, seperti kata Anda.

    Perlu mas Yodie perhatikan secara kritis, bahwa setelah UKSW dan AB “bercerai”. Bukan hanya UKSW yang meredup, tapi sang tokoh juga ikut meredup.
    Maklum mengapa? karena tokoh tidak bisa eksis tanpa lembaga jika menyandarkan diri pada lembaga dan sebaliknya.

    Yup. Terima kasih. Anda kritis sekali. AB di tahun 2003

    Untuk Neil R

    Soal ketokohan, bagi saya, UKSW harus punya ‘mesin’ promosi kepakaran yang dimiliki sehingga di samping mengangkat para pakar itu ke permukaan dan dikenal publik, ya UKSW sendiri dapat nama. Saya ambil contoh dengan Ibu Shinta Limantara dulu. Jangan di Indonesia, di kelas dunia saja namanya cukup kesohor di bidang ilmunya. Sempat dipromosikan oleh pimpinan UKSW waktu itu dan bahkan UKSW pun tidak takut berbicara perburuan Nobel jika orang macam bu Shinta, pak Ferry Karwur yang bidang ilmu-nya menjanjikan temuan2 brilian itu disupport habis2an untuk terus meneliti dan memublikasikan karya-karyanya. Cuma saya, bu Shinta sudah bukan warga UKSW lagi.

    Untuk perihal tokoh, saya pikir tak perlu dipromosikan dengan mesin promosi segala. Saya belum mendapat pemahaman “mesin promosi” yang gamblang dari komentar Anda, jadi saya masih agak linglung. Saya pikir ketokohan bukan sesuatu yang harus diada-adakan, tapi timbul alamiah karena faktor atau perbuatan yang mencuat dari dirinya. Faktornya apa? Misal, tulisan. Orang lain yang menilai dan mengapresiasi sehebat mana ketokohannya itu dari faktor tesebut. Saya bisa bilang begini, karena saya punya pengalaman pribadi.

    Berikut pengalaman saya. Ini hanya contoh simpel tentang tokoh di UKSW.

    Jujur, dulu, saya tak tahu siapa itu Liek Wilardjo. Sama sekali tak tahu. Di kampus, saya lebih sering mendengar nama rektor, wakil rektor, atau dosen lain, bukan Liek Wilardjo. Tapi sekarang saya tahu. Bagaimana saya bisa tahu? Bukan hanya dari mulut seeglintir mahasiswa, tapi karena saya membaca tulisannya di Kompas. Saya kaget. Saya terkesima. Saya senang. Ada dosen UKSW yang menulis di Kompas (dulu bacaan media saya seringnya berkutat pada Kompas dan saya pikir tak salah memakai Kompas sebagai parameter dalam diri saya dalam menilai dosen menulis artikel populer). Di dalam hati saya, dialah tokoh. Dialah yang memberi inspirasi. Dialah yang membuat dirinya sebagai tokoh (entah sadar atau tidak sadar) bagi orang-orang lain, atau setidaknya saya, tanpa perlu hadir “mesin promosi” segala. Karena apa? Karena tulisannya di koran. Orang lain menilai “kadar” ketokohan dari tulisannya. Dan bila saya tak salah, hanya beliau dosen UKSW dalam kurun waktu 2006-2008 yang tulisannya masuk Kompas. Ada sih lainnya, tapi sudah berstatus “mantan dosen UKSW”. Ups!

    Tulisanlah yang sadar tak sadar membuat beliau menjadi tokoh. Lama kelamaan, “ketokohan” itu semakin kuat terceminkan (setidaknya bagi saya!), kala saya membaca tulisannya yang (ternyata) tidak hanya di Kompas, namun di berbagai jurnal, seperti Desiderata atau majalah Basis. Apakah memakai mesin promosi tokoh? Saya rasa tidak. Saya pun mengetahui lebih dalam seorang Neil Rupidara tidak dari mesin promosi tokoh, tapi dari komentar Anda di banyak tulisan SA, yang rata-rata puanjanggg banget, dan banyak memakai bumbu-bumbu landasan pemikiran atau teori, bukan hanya komentar asbun saja. Bukan tak mungkin, Anda menjadi dosen “yahud”.

    Untuk cepero

    Ternyata……
    Kayak iklan Sampoerna AMild

    Talk Much or Do Less…or maybe both of them….
    he…he….

    Hehehe juga. Hehehe lagi. Banyak jalan menuju Roma, Bung! Setiap orang punya cara berbeda. Atau harus diseragamkan? Seram sekali kedengarannya.

    Untuk Andi Dobleh

    Saya suka dengan ketawa renyahmu dan pemahaman tentang ekonomimu. Hehehe. Koe ketoe pantes ganteni KID ngajar Makro…hehehe….

  18. Neil Rupidara says:

    @Yodie: kamu benar tentang pak Liek. Ia menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi UKSW. Seorang ilmuwan yang sangat mumpuni di bidangnya, banyak menulis di line keilmuannya, tetapi juga lihay menulis di media massa. Ia terkesan ‘menyendiri’ dengan dunianya, tetapi sesungguhnya berbunyi ‘cling’. Sangat kritis dan bersuara etis.

    Namun, tidak semua orang seperti itu. Karunia tiap orang kan macam-macam. Dalam tanggapan saya sebelumya, saya mencontohkan bu Shinta (Leenawaty) Limantara. Ini satu contoh hebat lainnya, tetapi belum sempat meluas pengenalan publik atasnya, sebagaimana pak Liek. Di bidang ilmu dan aplikasi keilmuannya, siapa tak kenal bu Shinta? Tetapi apa Yodie kenal? Apakah masyarakat umum di Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia kenal? Pasti ada, tetap saya khawatir tidak begitu dikenal luas, walaupun namanya sempat terangkat (diliput media massa) seputar penemuan klorofil sebagai obat anti-kanker. Karena temua itu jugalah, beliau mendapat sejumlah penghargaan nasinal dan internasional. Apakah bu Shinta kurang menulis? Jangan salah, silahkan cek sejumlah publikasinya yang masuk ke jurnal-jurnal internasional.

    Lalu, kenapa UKSW yang juga punya orang sekaliber beliau tidak berhasil memromosikan asset yang luar biasa itu? Ya karena tidak ada ‘mesin promosi’nya. Barangkali, kita berpikir, “Biar sajalah di urus dirinya sendiri.” Barangkali ada juga yang bahkan iri karena keterkenalan beliau? Akhirnya, apa yang didapat? Nihil. Pengenalan publik atas orang seperti bu Shinta belum memuncak. Asosiasi UKSW bermutu karena ada pakar seperti bu Shinta belum benar-benar nglotok. Eehh.. sekarang terlanjur bu Shinta bukan UKSW lagi. Mutualisme aktor dan institusi gagal dalam kasus bu Shinta.

    Jadi, contoh saya ini adalah ekstrim untuk menunjuk bahwa dikenal di bidang keilmuan belum tentu dikenal luas di masyarakat umum (saya khawatir dengan pak Liek pun sama, asosiasi Liek Wilardjo = UKSW pun tidak secara optimal dibangun dan dimanfaatkan). Sebuah intan berlian yang sangat mengkilap terkesan kurang mengkilap dalam perspektif promosi si aktor dan sekaligus promosi institusi. Sekali lagi, jangan tanya nama bu Shinta di lingkaran akademik-nya. Para pakar nasional dan dunia tahu siapa dia. Kita ngomong pada khalayak ramai, sehingga orang langsung bisa mengatakan wah siapa gak kenal UKSW kan ada si X, Y, Z di sana.

    Jadi, ‘mesin promosi’ adalah upaya sistematis sebuah institusi untuk memublikkan atau me-market-kan pakar yang dimilikinya (termasuk prestasi dan relevansi kepakarannya pada isu/kepentingan publik). Sudah tidak cukup lagi langkah2 ‘diam-diam saja’ dilakukan. Pimpinan UKSW yang lalu setahu saya sudah mulai mengupayakan itu, tetapi saya nilai itu tidak berlanjut (kini hanya karena ada program dosen teladan baru tokoh baru muncul, pak Ferdy Rondonuwu. kalau tidak ada?). Akibatnya benar kan anda sendiri gak pernah tahu bahwa UKSW pernah punya orang seperti bu Shinta kan? Anda juga tidak tahu dan karenanya tidak menyayangkan orang seperti bu Shinta lalu sekarang bukan staff tetap UKSW lagi kan?

    Namun, dalam memromosikan pakar, saya tidak bicara bentuk2 promosi inkompetensi. Tahu prinsip Peter dalam ilmu manajemen kan? Bukan, bukan promosi inkompetensi alias “pamer-pamer barang rongsokan” yang mau dilakukan. Bukan juga model karbitan. Sudah saatnya dosen2 UKSW didorong untuk rajin meneliti dan memublikasikan karya ilmiah di jurnal2 bidang keilmuannya. Kalau perlu dibantu agar publikasinya bisa masuk ke jurnal2 terbaik di level internasional. UKSW harus bantu semampu mungkin, misalnya dana dan fasilitas penelitian, untuk penerjemahan ke bahasa Inggris yang benar-benar baik, bantu dana agar bisa dikirim ke jurnal internasional, bantu kurangi beban mengajar jika sedang meneliti sesuatu proyek yang berkelas, tantu sediakan forum2 ilmiah, dorong dan fasilitasi supaya dosen seperti ini bisa pergi ke berbagai konferensi keilmuan apalagi yang berskala internasional, arrange diskusi dengan media massa, dan seribu satu macam jalan yang bisa ditempuh. Dengan semua itu, kita ingin menunjukkan bahwa kita memang bisa dan kita memang bermutu. Kita ingin promosikan prestasi dan orang yang berprestasi. Itulah ‘mesin promosi’ kita. Pakar kita jadi dikenal karena punya karya-karya bermutu, institusi pun ikut dikenal.

    Bagaimana tanggapanmu jika begitu, mas Yodie? Salam!

  19. Cepero says:

    @ yodie:
    Jujur, dulu, saya tak tahu siapa itu Liek Wilardjo. Sama sekali tak tahu. Di kampus, saya lebih sering mendengar nama rektor, wakil rektor, atau dosen lain, bukan Liek Wilardjo. Tapi sekarang saya tahu. Bagaimana saya bisa tahu? Bukan hanya dari mulut seeglintir mahasiswa, tapi karena saya membaca tulisannya di Kompas. Saya kaget. Saya terkesima. Saya senang. Ada dosen UKSW yang menulis di Kompas (dulu bacaan media saya seringnya berkutat pada Kompas dan saya pikir tak salah memakai Kompas sebagai parameter dalam diri saya dalam menilai dosen menulis artikel populer). Di dalam hati saya, dialah tokoh. Dialah yang memberi inspirasi. Dialah yang membuat dirinya sebagai tokoh (entah sadar atau tidak sadar) bagi orang-orang lain, atau setidaknya saya, tanpa perlu hadir “mesin promosi” segala. Karena apa? Karena tulisannya di koran. Orang lain menilai “kadar” ketokohan dari tulisannya. Dan bila saya tak salah, hanya beliau dosen UKSW dalam kurun waktu 2006-2008 yang tulisannya masuk Kompas. Ada sih lainnya, tapi sudah berstatus “mantan dosen UKSW”. Ups!

    Mas yodie,.. maksud sy ngomong kaya iklan Sampoerna tuh kaya diatas contohnya…
    jadi kalau mau nulis comment tuh kalau bisa ada research dulu apa DO SOMETHING sehingga dapat bahan untuk NGOMONG….
    kalau baca comment mas Yodie diatas saya ulang tulisan saya di POINT, APATISME, KEGIATAN, comment ke-5…yang isinya MATA ANDA KURANG TERBUKA MAS…
    jangan hanya baca di Kompas mas, lihat di TV, baca di jurnal-jurnal ekonomi, di Majalah-majalah ekonomi juga banyak mas yang menampilkan pemikiran-pemikiran dosen-dosen FE kita…

    jangan-jangan anda tahu tentang pak Liek masuk kompas hanya karena anda sering kongkow dengan anak2 elektro mas, he..he..(mereka mencintai fakultasnya)

    cobalah mencintai FE dengan segala kelebihan maupun kekurangannya

  20. Pingback: Akuarium « Yodie Hardiyan dan Celoteh
  21. Trackback: Akuarium « Yodie Hardiyan dan Celoteh
  22. Cepero says:

    @ Yodie:
    tuh di Mimbar Bebas, Bung Opha udah kasih link-nya…
    tiap orang memang bebas memilih caranya tapi tidak ASBUN bung….

  23. Yodie Hardiyan says:

    Untuk cepero

    Mas yodie,.. maksud sy ngomong kaya iklan Sampoerna tuh kaya diatas contohnya…
    jadi kalau mau nulis comment tuh kalau bisa ada research dulu apa DO SOMETHING sehingga dapat bahan untuk NGOMONG….
    kalau baca comment mas Yodie diatas saya ulang tulisan saya di POINT, APATISME, KEGIATAN, comment ke-5…yang isinya MATA ANDA KURANG TERBUKA MAS…
    jangan hanya baca di Kompas mas, lihat di TV, baca di jurnal-jurnal ekonomi, di Majalah-majalah ekonomi juga banyak mas yang menampilkan pemikiran-pemikiran dosen-dosen FE kita…

    jangan-jangan anda tahu tentang pak Liek masuk kompas hanya karena anda sering kongkow dengan anak2 elektro mas, he..he..(mereka mencintai fakultasnya)

    cobalah mencintai FE dengan segala kelebihan maupun kekurangannya.

    HEHEHEHEHE. Anda lucu sekali.Oke, anda tanya saya berkait “Do Something”.

    Saya jawab: saya melakukan observasi pada kawan-kawan saya. Dan saya menuliskannya untuk mengungkapkan pendapat saya. Pencarian fakta, bisa berawal dari observasi, sebelum dimantapkan. Di komentar itu saya juga bicara terkait dimensi ruang dan waktu, bukan timeless dan dari titik awal-akhir. Itu gunanya kritik, menjadi bintang pemandu mencapai proses pematangan. Mata saya kurang terbuka? Mau saya bukakan lebih lebar mas? Tenang, ada waktunya!

    HEHEHEHE. Komentar Anda oto-kritik sekali, bagi diri Anda sendiri.
    Ini maksudnya: Anda suruh saya baca jurnal ekonomi. Padahal di komentar saya mengenai pak LW, mengenai artikel populer, yang memang segmentasinya di media massa. Mas, mahasiswa yang baik itu bisa bedakan antara populer, ilmiah atau populer-cum-ilmiah. Mas pernah menjadi mahasiwa kan? Nah, mas bisa membedakan jurnal ekonomi (ilmiah) dengan media massa? Atau bingung? Saya beri solusi, baca link di bawah ini, sisanya Anda ambil sendiri kesimpulannya.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa

    Anda juga bilang: jadi kalau mau nulis comment tuh kalau bisa adaresearch dulu apa DO SOMETHING sehingga dapat bahan untuk NGOMONG…., dan Anda juga bilang jangan hanya baca di Kompas mas, lihat di TV, baca di jurnal-jurnal ekonomi, di Majalah-majalah ekonomi juga banyak mas yang menampilkan pemikiran-pemikiran dosen-dosen FE kita… (asumsinya dari perkataan Anda, saya dianggap tak pernah atau jarang baca itu dan hanya baca Kompas), wow?

    Darimana Anda tahu saya tak pernah baca jurnal ekonomi? Anda sudah research, atau setidaknya Do Something like an observation, brur? Anda sudah mengenal saya dengan begitu baik hingga tahu bacaan saya? Apakah Anda tanya kawan saya? Anda pernah main ke rumah saya? Anda sarankan saya “do something” sebelum menulis comment? Halo? Apa kabar? Sudahkah anda “do something” sesuai ajaran Anda bagi diri Anda sendiri? Anda sudah “do something” di comment Anda? Kalau asumsi saya salah, dibenerin donk. Soalnya di ekonomi, banyak belajar menggunakan asumsi (ingat ceteris paribus, kan)? Nah, do something yak mas cepero yang terhormat!

    Di tulisan akuarium, apakah saya juga mengatakan dosen FE UKSW jarang publikasikan pemikiran? Tidak sama sekali. Saya tak eksplisit menuliskan perihal dosen FE UKSW. Di komentar, saya bahkan memuji Neil R, beliau dosen FE yang bagi saya cukup “yahud”. Ia dosen yang mau bergabung di forum menarik seperti ini. Atau Anda yang malah meragukan dosen UKSW?

    Oh ya, mas bilang suruh baca majalah ekonomi yang ada pemikiran dosen FE UKSW. Bisa sebutkan judul, edisi, terbitannya? Saya bukan menantang Anda, saya mau belajar ekonomi dari majalah tersebut dan mengkoleksinya, lumayan punya ikatan yang kuat, isinya tulisan dosen sendiri! Saya lagi berusaha mencintai ekonomi sekarang. Tapi seandainya bila mas jawab: “aduh, saya lupa”, hehehe…, saran saya: “do something” yak.

    Untuk Neil R:

    mengenai UKSW mendorong dosen untuk rajin meneliti, saya jawab satu kata: SETUJUUUUUU.

  24. ryan says:

    @yodie:
    sepertinya bener kata cepero….
    peribahasanya,
    seperti batu gunung yang akan selalu ada di gunung
    TALK TO MUCHHHH

  25. Opha says:

    Mengagetkan juga, ternyata forum diskusi yang terbangun menarik juga untuk diikuti. Hal yang positif untuk dipetik, ternyata masih ada terbersit kepedulian buat alamamater yang kita cintai (utamanya FE UKSW). Kegilasahan yang dirasakan oleh penulis dan tanggapan-tanggapan yang masuk terhadap kegelisahan tersebut, menandakan ada ciri-ciri tertentu dari cara memandang dan merespon sesuatu hal.

    Namun ada yang saya takutkan. Jika mau diamati diskusi ini makin lama makin menunjukan “ke-aku-an” masing-masing. Yup, sah-sah saja kita menggelontorkan beberapa ide / gagasan dalam berbagai bentuk seperti yang kita inginkan. Itu adalah hak yang memang otonom. Tetapi perlu diingat, dibalik itu setiap orang tanpa terkecuali pula punya hak dan kebebasan yang otonom untuk melakukan “penilaian”. So… jangan terlalu menggebu-gebu…memungkinkan kita terpeleset dengan karena menggebu-gebunya kita.

    Harusnya jika memang kita benar-benar berisi, saatnya kepala kita tertunduk untuk menaruh respek terhadap orang lain.

  26. dian ade permana says:

    Kirimkan ke Scientiarum (misal) dengan judul “Contoh Mahasiswa Teladan“…..wkwkwkwkwkwk…..Teladan= TELat mAngan eDAN!!!!

    seperti batu gunung yang akan selalu ada di gunung=tidak akan pernah “melihat” kebawah..selalu merasa jumawa diatas…

    Harusnya jika memang kita benar-benar berisi, saatnya kepala kita tertunduk untuk menaruh respek terhadap orang lain=….hehehehheee..siapa yang kamu maksud pha?

    tapi sayangnya…kita semua tidak akan pernah benar-benar berisi…karena isi kita tidak akan pernah benar selama kita bagai batu gunung yang ada di gunung….

    Pha..gak sah takut…biarkan semua lahir,,hidup..berkembang..dan mati dengan sendirinya…hehehehehehe…

  27. Cepero says:

    he..he..
    Mas yodie maaf ya, tapi “cerpen” diatas kan merupakan opini dan asumsi mas yodie tentang UKSW, maka saya anggap boleh-boleh saja soalnya kan itu opini pribadi mas yodie,… jadi opini dan asumsi saya diatas juga merupakan pendapat pribadi saya tentang mas yodie….jadi boleh kan….??

    Soal asumsi-asumsi yang ada di perkuliahan FE, memang keliatannya saya pernah mendapatkan kuliah itu dan biasanya asumsi-asumsi tersebut dicompare-kan dengan fakta/realitanya..ya nggak ya ??(kalau salah mohon dibetulkan ya mas)

    soal permintaan anda mengenai judul, edisi, terbitannya majalah ekonomi yang memuat dosen kita, hmm….anda tidak menantang saya kan…??? , Tapi itu saya anggap sebagai tantangan mas,… dan saya nggak berani mas,soalnya…
    “cerpen” diatas itu seumpama asap yang dibuat mas yodie, masak saya yang buat apinya, meskipun saya tahu cara buatnya…
    “cerpen” diatas itu seumpama Skripsi Bab II tentang konsep dan Nalar konsep yang disusun mas yodie, masak saya yang nyusun daftar pustakanya, meskipun saya tahu teorinya….

    kalau ada kata-kata yang menyinggung mohon dimaafkan ya mas, soalnya saya dulu bukan mahasiswa yang baik…

    salam

  28. dn says:

    berdasar pengalaman selalu ada dua kutub ketika ada yang berani menyatakan kebenaran, dan mereka yang menyangkal kebenaran belum tentu akan selalu kalah, dan belum tentu selalu menang juga. Sejarah telah mencatat…
    Mereka yang tegas memperjuangkan kebenaran selalu menang minimal untuk dirinya sendiri /melawan kegelisahan yang menyesaki dada..

  29. obed says:

    ya… ya…
    selalu akan muncul.. bener sekali kalo seperti batu di atas gunung… hehehe…….
    tiap orang disini akan membawa ukuran masing-masing…
    bahkan uksw sendiri sebagai sasaran kritik juga punya ukuran sendiri…
    mungkin pihak kampus, atau fakultas yang ‘rebutan’ juga punya ukuran sendiri, bahkan dia bisa bilang kita sudah bagus… maybe…
    kita perlu dialektika bersama untuk mengukur suatu ukuran yang sama…
    yang mungkin kita juga perlu menanyakan pihak terkritik tentang ukurannya… sehingga akan terjadi dialektika yang baik…
    soal mahasiswa membludak mungkin kalau dilihat dari sudut pandang mahasiswa akan menjadi kerugian…
    misalnya: kita jajan di warung makan, karena terkenal warung itu ramai sekali dikunjungi, seringkali salah satu pembeli akan bersungut-sungut karena mungkin merasa warungnya terlalu rame…
    tapi di pihak pengelola atau pemilik warung akan bahagia karena warung rame sekali, ramenya pembeli menunjukan ada prestasi dari pemillik warung makan tersebut….
    dan kalau si pembeli protes pada pemilik warung “hey warungmu rame sekali sih, mbok tolong dikurangi pengunjungnya”… saya pikir pemilik warung akan menjawab “maap mas silahkan cari warung yang sepi”
    hehehhe……..

  30. dumme_mann says:

    Sebelumnya saya minta maaf dan mungkin Anda menganggap saya orang yang tidak punya pendirian, namun saya hanya mencoba untuk tidak memihak. Saya hanya ingin mencoba melihat daerah abu-abu.

    Saya setuju dengan tidak adanya simbiosis mutualisme antara dosean, mahasiswa, dan jajaran rektorat. bukan hanya di Fakultas Ekonomi dan FTI saja yang mengalami hal tersebut, di fakultas saya yang nota bene fakultas kecil saja terjadi perebutan kelas. Selain itu kadang dosen menerapkan standar nilai yang tinggi tetapi dalam PBM-nya ia tidak bisa membuat mahasiswanya untuk meraih standar nilai yang diterapkannya. apalagi ditambah dengan faktor dekat dengan dosen atau pernah mengikuti kegiatan yang diadakan oleh dosen (dan hal itu terjadi pada saya). Keterbatasan sumber, fasilitas, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan sarana dan prasarana kadang memang membuat ruang gerak kita menjadi terbatas.

    Akan tetapi perlu diingat juga bahwa di universitas bukan lagi pendidikan yang pegagogic, namun pendidikan yang androgogi. Ada kalanya kita perlu merefleksi diri kita sendiri. Apakah kita sudah benar-benar berusaha? Apakah kita berjalan di arah yang seharusnya?
    Saya melihat kadang mahasiswa tidak memakai apa yang ada dengan segala keterbatasannya dengan sebak-baiknya. Mahasiswa tidak mengikutu kegiatan perkuliahan melebihi batas yang sudah ditentukan, tugas dikumpulkan terlambat dengan seribu satu alasan, lalu mahasiswa datang 30 menit bahkan kadang satu jam setelah perkuliahan dimulai. berarti kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak universitas, namun bukan berarti karena kita sudah membayar kemudian kita menjadi setengah-setengah. dalam dunia kerja nanti tidak dicari orang yang sangat cerdas, namun orang yang mau bekerja keras.

    Seseorang yang saya kenal pernah berkata orang yang tahu “bagaimana” pasti akan mendapatkan pekerjaan, namun orang yang tahu “mengapa” akan menjadi bos bagi orang-orang yang tahu “bagaimana”. Jika kita menginginkan pelayanan yang baik, marilah kita juga melakukan hal yang baik pula. Marilah kita berpikir secara positif karena seperti isi dari buku “The Secret” jika kita berpikir secara positif, maka kita akan menarik energi yang ada di sekeliling kita ke arah kita.

    -makasih-

  31. Opha says:

    @dn : saya ingin berkomentar berangkat dari statement anda,
    “berdasar pengalaman selalu ada dua kutub ketika ada yang berani menyatakan kebenaran, dan mereka yang menyangkal kebenaran belum tentu akan selalu kalah, dan belum tentu selalu menang juga. Sejarah telah mencatat…”

    Bicara masalah kebenaran, saya sepakat dengan Hegel (seorang filosof Barat) mengungkapkan konsep dialektika, dimana pemaknan terhadap fenomena akan berproses dari konradiksi yang terjadi. Kontradiksi/pertentangan (tesis dan antitesis) yang terjadi akan “didamaikan” dalam sebuah kesatuan kontradiksi (sintesis). Namun tidak hanya sampai disitu, memunkinkan sintesis akan menghasilkan sebuah kontradiksi baru, yang kemudian akan didamaikan kembali. Kondisi ini akan terus bergulir, dalam kerangka untuk menghasilkan konsep yang lebih ideal. Dengan demikian, Kontradiksi / pertentangan menjadi mesin penggerak dialektika untuk menggapai kebenaran.

    Akan tetapi, perlu dicatat selama proses dialektika berlangsung, kita berada pada konteks “pembenaran” terhadap suatu fenomena (termasuk hal-perihal),sehingga tampaknya kita keliru mengatakan itu adalah kebenaran. Bagi sebagian orang mungkin ya…, tapi belum tentu dari sebagian yang lain.
    Ketika kita bicara pada tataran “materi” “Dimuka bumi ini, tidak ada kebenaran, yang ada hanyalah pembenaran-pembenaran”.

    Selain itu, Pada kontradiksi/pertentangan yang berlangsung, tidak selalu diukur dari menang atau kalah, karena kontradiksi ini bukannya proses untuk mengabaikan/meniadakan satu sisi. Akan tetapi, melihat secara objektif fenomena yang terjadi, berdasarkan dua atau lebih kontradiksi yang terbangun (saling mengevaluasi).

  32. Yulius says:

    Salut banget dengan tulisan saudara Yodie…ringkas, padat, jelas dan membumi…

  33. DN says:

    @ -30 ” Akan tetapi, perlu dicatat selama proses dialektika berlangsung, kita berada pada konteks “pembenaran” terhadap suatu fenomena (termasuk hal-perihal),sehingga tampaknya kita keliru mengatakan itu adalah kebenaran. #Bagi sebagian orang mungkin ya#…, tapi belum tentu dari sebagian yang lain ”

    karena dari awal saya se-opini dng penulis jadi saya mendukung dan meyakini opini penulis sebagai kebenaran. Bukankah sekarang semakin jelas Akuarium ini bertambah 2500 lebih ikan baru.

    Kalau anda melawan orang yang memang fair dan obyektif terhadap fakta dan pendapat orang lain maka dialektika memang akan berjalan tanpa kalah dan menang. Tapi kalau anda melawan penguasa maka dialektika selamanya tidak akan terbangun…wong Putusan PTUN yang menyatakan bersalah saja bisa dilompati … orang yang tidak bersalah saja dijatuhkan dan dilanggar haknya…. hanya karena beliaunya selalu ingin ada “dialektika”

  34. Opha says:

    @DN : “Kalau anda melawan orang yang memang fair dan obyektif terhadap fakta dan pendapat orang lain maka dialektika memang akan berjalan tanpa kalah dan menang. Tapi kalau anda melawan penguasa maka dialektika selamanya tidak akan terbangun…”

    Mungkin ada perbedaan persepsi tentang “dialektika”. Anda mengatakan “kalau kita melakukan perlawanan terhadap penguasa, maka dialektika selamanya tidak akan terbangun”. Menurut saya, pada saat itulah memungkinkan terjadi kontradiksi (motor penggerak dialektika). Karena dalam dialektika yang ditekankan adalah pada bernalar pada kontradiksi yang terjadi untuk menggapai yang lebih ideal. Bukan pada tataran dialog secara fisik yang terbangun.

    Selanjutnya, yup…secara fisik itu memang keadaan yang terjadi. Tapi untuk masalah “fair” dan “objektif”nya kita perlu kaji terlebih dahulu. “Fair” menurut siapa dan dengan ukuran yang mana. Kita memandang sebuah cangkir, bisa saja menggambarkan gelas itu pegangannya ada di sebelah kiri atau sebaliknya. Semua bergantung dengan cara pandang kita meski cara pandang kita adalah hak otonom kita. Artinya, kita hidup pada arena yang penuh dengan “relatifitas”. Hati-hati, objektif menurut sebagian mahasiswa yang “kritis”, bagi “pengelola kampus” adalah sebuah kewajaran mengingat kondisi-situasi tertentu.

    Tapi sedikit banyak saya mengerti arah pemikiran yang dituju. Tips : Tapi jangan terlalu yakin dengan opini-opini, meskipun itu hak anda, karena apapun tidak akan pernah menjamin apapun.

  35. dian ade permana says:

    pro Opha : terong mentah berfatwa :
    …………………..tidak akan ada pernah benar yang benar-benar benar…………………………….
    ketika setiap dari kita selalu menyuarakan versi kita..dengan cara kita…dengan kebenaran sesuai yang kita pahami…maka yang ada hanya “kebenaran versi”….
    kebenaran hanya ada satu..tidak pernah ada kebenaran dua….jika masih ada dua kebenaran,,,maka itu belum benar..
    dimana letak kebenaran,,,bagaimana menggapai kebenaran,,,atau kebenaran macam apa yang hakiki…atau macam apa kebenaran yang benar itu…saya rasa tidak perlu diperdebatkan,,karena mengandung unsur subversif….hehehehheheee….just kidink dink..

  36. DN says:

    sekali ini bukan opini tapi pertanyaan …
    silakan dijawab kalau ada yang punya jawaban..
    1. apa di UKSW ada saringan mahasiswa masuk atau semua pendaftar, berapapun banyaknya diterima???
    2. apa ada penambahan fasilitas yang berimbang dengan penerimaan mahasiswa masuk???
    3. apa kuliah masih sampai jam malam-malam krn rebutan kelas dan jumlah dosen yang sangat kecil??
    4. apa pengurus Yayasan dan Rektorat peduli dengan pertanyaan saya 1-3? dan 4 ini…
    sekali lagi benar-salah, pembenaran, kalah-menang tidak saya perlukan, saya sangat perlukan jawaban pertanyaan-pertanyaan saya..

  37. Neil Rupidara says:

    @DN: mungkin itu lebih tepat domain administrator khususnya di program studi dan fakultas, walaupun mereka di level rektorat dan yayasan juga perlu punya concern atas isu-isu itu… berkaca dari level bawah itu dan khususnya pakai kasus FE jelas hal-hal itu telah menjadi concern khususnya belakangan ini…

    dulu FE mengalami pembengkakan ukuran yang aujubilah… banyak rasio ditabrak… misal, rasio dosen – mahasiswa… rasio buku – mahasiswa … rasio komputer – mahasiswa… namun, secara ‘natural’ FE mengalami penurunan student intake sejak tahun 2000 dan implikasinya, mengalami penyesuaian sejumlah rasio tadi, di samping ada policies internal untuk meningkatkan ketersediaan internal resources-nya.. ambil contoh, di awal 2000an FE menambah jumlah dosen secara signifikan.. Progdi Manajemen misalnya menambah kalau tidak salah 10 orang dosen… ini untuk menutup gap lebar rasio dosen – mahasiswa di paruh kedua 90an hingga awal 2000an… rasio itu makin membaik ketika jumlah mahasiswa yang masuk turun khususnya jelang paruh kedua 2000an, walau itu berada di bawah angka ideal (diperkirakan 125 – 150 mahasiswa per angkatan)… itu kasus progdi manajemen soal rasio dosen mahasiswa… kini rasio di FE, apalagi manajemen, tidak seperti kesimpulan mas Yodie 1: 40… itu mah angka yang berlebihan… mas Yodie perlu hitung2 dengan lebih baik… bagi progdi manajemen dan apalagi ilmu ekonomi, sekarang rasio-nya lagi ideal bahkan ada kelebihan kapasitas… akuntansi yang mungkin perlu dicermati untuk urusan ini, walau they are doing good things… tapi, secara umum size di FE makin manageable…

    soal kelas terbatas… coba cek bagian yang menangani penggunaan ruang di campus management… ruang2 di uksw belum dipakai sesuai kapasitas optimumnya… kaget? itulah kenyataan… soal kuliah malam hari, pengalaman saya di St Olaf College AS dan Macquarie University Australia kok gak masalah ya mas DN… saya pernah ikut hadir (observer) pada beberapa mata kuliah yang diselenggarakan jam 7 – 10 malam di St Olaf… pada waktu winter lagi.. dan Minnesota adalah salah satu daerah dengan salju parah… di Macquarie juga setahu saya ada tuh mahasiswa yang baru datang jam 6 sore untuk kuliah… kampus masih cukup ramai di tempat2 tertentu hingga jam 10 malam, perpustakaan misalnya dan ruang2 tertentu yang ada kuliah malam… di St Olaf, perpustakaan malah buka sampai tengah malam atau malah hingga pagi pada waktu2 tertentu… dan, ada tuh yang masih di sana… asal berani aja he he he…

    UKSW zaman awal 90an dan sebelumnya juga begitu kok… kuliah sampai jam 8 malam biasa tuh… perpus juga buka sampai jam 10 malam untuk ruang baca.. sirkulasi sampai jam 8 kalau tidak salah.. jadi, jangan salahkan jumlah mahasiswa untuk hal ini, karena dulu yang jumlahnya jauh lebih kecil malah justru lebih ‘hebat’ (maksud saya lebih malam) dari sekarang… sekarang, kuliah di FE kebanyakan berakhir jam 6 sore… kuliah yang jam 4-6 pun kayaknya jarang kok.. apalagi hari jumat, mana ada mahasiswa yang mau…

    kalau di atas saya katakan size di FE justru makin manageable sekarang, lalu kenapa mas Yodie masih teriak mahasiswa tidak kebagian kelas, misalnya? dalam hal ini, saya pernah jadi pembantu dekan yang mengoordinasi bidang akademik dan kemahasiswaan di FE.. dan satu di antaranya tugas saya adalah mengoordinasi teman-teman kaprogdi di FE untuk perencanaan penyajian mata kuliah dan jumlah kelas setiap semester/trimester… kami seringkali justru bingung membaca perilaku mahasiswa FE, mungkin ini efek size yang over di masa lalu … begini… dalam soal perencanaan penyajian perkuliahan, kami kan punya statistik mahasiswa yang registrasi setiap angkatan setiap semester… itu artinya keseluruhan FE sehingga kami bisa baca kebutuhan penyajian kelas dari situ dengan acuan gaftar alir… jadi, kami juga punya desain mata kuliah apa saja yang harus disajikan tiap semester… kami juga punya data penyajian dan riil pengambilan mata kuliah setiap semester di semester2 sebelumnya, untuk membaca trend lampau, tentu harus dikondisikan pada konteks waktu sekarang (jumlah mahasiswa dan taksiran kegagalan menempuh mata kuliah)… jenis dan banyak kelas setiap mata kuliah yang disajikan selalu dianalisis berdasarkan hal-hal seperti itu… secara agregat, jumlah kelas yang disajikan sepanjang tahun, mestinya telah memenuhi jumlah mahasiswa yang membutuhkan (sesuai kebutuhan, bukan yang mengambil menurut maunya)… ini termasuk sudah mengantisipasi mereka yang gagal (tidak lulus atau nilai jelek)… jadi alokasi jenis mata kuliah dan berapa kelas pada semester ini, itu, dst punya dasar2 perhitungan yang cukup baik… di luar itu, kami juga memberi kesempatan bagi mahasiswa melalaui mekanisme untuk penyesuaian, misalnya menambah kelas yang permintaan-nya tinggi (ada list atau sering diminta laporan dari ruang komputer tempat RMK)… tapi, seperti saya katakan kami tidak jarang bingung dengan perilaku mahasiswa… sulit menemukan pattern yang baik… karena ketika dibuat pattern berdasarkan trend masa lalu (dengan antisipasi kekinian)… demand riil pada semester berjalan bisa dan ada yang ternyata melebihi perhitungan itu… sudah ditambah kelas sesuai permintaan pun kadang tidak menjawab masalah dan jelas ini membuat pemolaan malah terganggu… akhirnya tiap semester sulit diperkirakan dengan pasti… coba tanya para kaprogdi…. kadang karena sudah tambah kelas di semester sebelumnya pun, pada semester di mana mahasiswa yang seharusnya mengambil sudah berkurang permintaannya pun ternyata kesimpulan begituan salah besar… ini menunjukkan bahwa ternyata tidak terjadi penyesuaian pola secara otomatik: ada yang di-naik-kan pada waktu tertentu, maka ada yang akan menurun pada waktu lain (dalam perhitungan pada skala mahasiswa yang sudah tertentu)…

    di sisi lain, ada mata kuliah yang seharusnya diambil mahasiswa angkatan tertentu sesuai alur yang ada, ehh tidak diambil sesuai itu… jadi jumlah kelas yang ditawarkan jadinya berlebihan… satu contoh yang paling sulit dimengerti misalnya adalah mata kuliah bahasa inggris.. benar, paling sulit dimengerti… mahasiswa tertentu sukanya justru menghindari untuk tidak mengambil menurut ‘jatah waktunya’… cukup banyak menunda (takut mengambil dan gagal? aneh, tapi itulah jawaban mahasiswa dan itulah yang terjadi, sebagian orang tertunda lulus karena tertunda di mata kuliah2 beginian)… lalu suatu waktu ‘tiba-tiba’ permintaan membengkak… karena terdesak harus ngambil dan sudah tidak punya pilihan lagi untuk menghindar…? jadi, dari sisi administrator, sulit bagi kami di zaman kami untuk membaca dengan tepat pola2 pengambilan… padahal, perencanaan sampai pada tingkatan tertentu kan soal membaca trend.. walau sekali lagi ada mekanisme penyesuaian… dan itu benar ada pada ‘kamus’ kami…

    cerita lain… untuk ikut dipertimbangkan membaca keanehan di tas… saya pernah mendampingi mahasiswa dalam proses registrasi mata kuliah (RMK) saat FE menguji coba SIASAT pertama kali di UKSW… setiap hari2 RMK di setiap semester, saya ada di lab komputer untuk pantau dan termasuk ikut ambil keputusan2 kritis karena soal perwalian adalah tanggung jawab saya saat jadi PD3 di zaman itu atau ditunjuk jadi anggota tim SIASAT juga di awal 2000an ketika jadi kaprogdi…

    dari pengalaman lapangan, sejumlah mahasiswa komplain tidak kebagian kelas… lalu saya pernah cek form RMK mahasiswa2 itu untuk cek pola perencanaan mata kuliahnya… dan akhirnya berkesimpulan… hmm, ini soal teknik perencanaan… lalu saya sempat tanyakan “kamu maunya (ingat, mau bukan apa yang dibutuhkan) cuma mengambil sesuai mata kuliah dan kelas yang seperti kamu tulis atau bersedia untuk mengubah perencanaan dengan mengambil kelas yang lain atau mata kuliah alternatif, kalau bisa?” mengapa bertanya begitu? karena ketika saya coba utak2 rencana RMK mahasiswa2 itu, perhitungan saya mestinya dia masih bisa dapat sebagian mata kuliah seperti yang dia inginkan (kelas beda) dan/atau mengganti dengan mata kuliah tertentu dengan mata kuliah lain pada semester terdekat yang bisa diambilnya karena dalam jangkauan semester studinya… dan benar, ketika dia jawab mau lalu kita ‘bongkar’ rencananya… eh, kok gak ada masalah lagi tuh… dia tetap dapat jumlah mata kuliah dan sks seperti hak-nya… ada yang tetap sama mata kuliah tetapi lain kelas, ada yang memang harus ganti mata kuliah, tetapi sekali lagi masih pada kumpulan mata kuliah yang menjadi kebutuhannya (bukan permintaan atau kemauan pribadi saja)…

    dari pengalaman2 itu, bagi saya kepanikan itulah yang menjadi driver utama kekacauan… kok bisa? karena 1) hitung2an teknis kebutuhan mata kuliah dan kelas telah masuk dalam perencanaan administrator atau telah sesuai jumlah mahasiswa dan jatah penyajian sesuai gaftar alir… bahkan, dengan peluang penambahan kalau memang real demand sesuai kebutuhan memang besar… 2) kepanikan ini bermula dari penerapan SIASAT, di mana mahasiswa langsung berhadapan dengan ‘kenyataan pasar’… mereka langsung tahu kelas penuh, kosong… dulu zaman kami ya ajukan saja secara tertulis, kalau penuh ya langsung ditolak dan berburu lagi… ini menunjukkan ketidaksiapan berhadapan dengan kenyataan… tahu penuh, panik, bingung… kepanikan justru mendorong lahirnya keputusan2 ‘kacau’… misalnya, ambil mata kuliah yang bukan jatahnya… data ini ada… ada sejumlah mahasiswa yang terlalu dini ambil mata kuliah tertentu… sebaliknya ada mahasiswa yang sulit lewat jatahnya dijumpai berstatus baru untuk mata kuliah aras rendahan (dibanding angkatannya)… 3) ini menunjukkan, ternyata kita belum jadi perencana yang baik.. kalau mahasiswa adalah perencana yang baik (matang mengidentifikasi kebutuhannya, dan brilian untuk menemukan alternatif solusi terhadap persoalan yang dihadapi… dan tidak membebani sistem itu sendiri (sistem perencanaan yang terintervensi kepanikan)..

    ternyata berhadapan dengan pasar yang chaotic (kelas penuh, misalnya) telah berubah menjadi seperti bola liar di kalangan mahasiswa yang justru makin mendorong periaku berebutan tanpa kendali akan sehatnya dengan baik… betul kata Yodie, siapa cepat dia dapat… bukan, apa saya butuh ambil itu sekarang atau tidak… perilaku begini berulang dan berulang… dan saya katakan tadi, saya dapat sejak pengalaman pertama menjalankan siasat… ini yang membuat para administrator bingung membaca pola data secara tepat dan setia dengan pola, kecuali sangat terpaksa… yang terjadi, supaya bisa melayani mahasiswa, maka kepanikan mahasiswa cenderung dijawab dengan membuka kelas baru… walau ini merusak pola dan pola rusak ini pun rusak terus dari semester ke semester… kalau mau cek datanya soal rencana dan realisasi jumlah mata kuliah dan kelas bisa cek sama bu wahyu di FE… mudah2an masih tersimpan… beliau suka mengingatkan kami soal itu…

    jadi, pasar RMK adalah pasar panik, semua berlomba-lomba siapa cepat dia dapat… pasar ini bukan pasar rasional… irasionalitasnya menabrak rasionalitas perencanaan banyak pihak, termasuk para administrator yang mencoba untuk ‘baik’ pada mahasiswa melalui keputusan2 taktis berdasarkan kondisi lapangan… nah, kalau kita dikendalikan oleh wants macam begitu, bukan kebutuhannya… ya sampai kapanpun akan tetap sulit dimengerti karena wants sulit diprediksi.. dan akhirnya cuma merugikan mahasiswa sendiri (mahasiswa lainnya yang merasa bahwa jatahnya telah diserobot mahasiswa lain)…

    kalau mau sangat fleksibel menampung wants… saya khawatir pasar RMK (akademik) bukan seperti pasar produk2 yang memang mengeksploitasi wants, bukan needs… misalnya, soal kematangan pengetahuan dan pemahaman dalam strategi pengambilan mata kuliah… jadi, pasar itu telah jadi pasar yang distortif… dan saya khawatir suara mas Yodie terpolusi oleh yang sudah distortif itu..

    jadi, sekali lagi, fakta di sisi para perencana di FE adalah harus merespon kepanikan2 sesaat yang terus berulang seperti itu… jelas ada upaya to make everything back in order… tapi, it takes some time… saya kira dan yakin bahwa masalah seperti itu akan berhasil diatasi setelah masalah seperti kuliah lewat batas waktu normal telah pelan2 teratasi di FE (kalaupun masih ada penyimpangan, tetapi proporsinya makin kecil).. jumlah itu kini makin mengecil… silahkan cek juga data produktivitas kelulusan di FE (khususnya progdi manajemen) yang sangat rendah performance-nya… efek jumlah besar di masa lampau dan kualitas input yang dipertanyakan…

    sayangnya, masalah lain kita, mahasiswa misalnya tidak kembali ngomong ke wali studinya bahwa dia akhirnya cuma kebagian jumlah sks di bawah hak pengambilannya… data ini padahal perlu untuk melihat penyimpangan2 pasar untuk perencanaan2 berikutnya… contoh nyata saya dalam hal ini adalah pada mahasiswa walian saya (ada juga mahasiswa lain yang harus berhadapan dengan saya selaku pembantu dekan ketika kami tangani masalah ancaman drop out)… di form RMK beberapa orang dari mereka yang saya tandatangani tercatat sekian sks… tapi, ketika mereka panik di ruang komputer dan akhirnya cuma kebagian sks yang kecil, mereka tidak pernah balik ngomong ke saya atau wali studinya agar bisa dibawa ke ruang rapat para perencana… celakanya, yang kadang mengalami masalah begituan adalah yang juga ber-IPK berbahaya… dia akhirnya makin dikejar status kemahasiswaan yang menuntut jumlah sks tertentu harus dipenuhi dan pada saat bersamaan nilai2 harus telah diperbaiki agar IPK juga oke… akibatnya.. pada waktu2 tertentu terpaksa ‘akrobat’ dilakukan agar mereka yang macam beginian masih bisa menyelesaikan masalah akademiknya… di saat2 kritis… ambil contoh, jumlah mahasiswa dalam satu kelas dipaksa di atas batas normal, hanya untuk menampung yang bermasalah… jumlah sks si mahasiswa bermasalah dipaksa banyak karena kalau tidak jelas tidak mungkin memenuhi tuntutan masa studi… keputusan2 sulit, tetapi pengambil keputusan harus taking risks..

    jad, soal lain adalah soal komunikasi yang tidak lancar… mahasiswa ke wali studi dan juga sebaliknya… akhirnya ya komunikasi menyeluruh kita semua…

    saya kira dari segi size FE sekarang adalah FE yang manageable… lalu kenapa kok masih ada masalah? apakah administrator tidak peduli? saya khawatir kesimpulan begini salah total… juga ungkapan mas Yodie dengan istilah fakultas ganas… senyatanya FE di akhir 90an dan di awal 2000an jauh lebih ganas… saking ganasnya, ada mahasiswa yang tidak lulus-lulus 7 hingga 10 tahun… silahkan cek data, kalau perlu… hal mana baru dapat ditangani secara sistematik sejak 2004… hal ini juga menyumbang masalah yang didiskusikan di atas… sulit membaca pattern karena ada cukup banyak orang yang kuliah lebih dari 7 tahun… tetapi, sejak ditangani serius persoalan ini pelan-pelan makin teratasi dan karenya saya yakin sejauh tidak ada keanehan lagi, mudah2an banyak hal bisa back in order…

    cuma harus diingat bahwa tentu tetap saja ada satu dua kasus sulit yang harus dihadapi, baik si mahasiswa, maupun para administrator dan wali studi… tapi, kita semua adalah pengambil keputusan… dan pengambil keputusan selalu diperhadapkan resiko… dan karenanya harus menjadi seorang risk taker… sayangnya tidak banyak orang menjadi risk taker yang baik… bagi anda para mahasiswa ekonomi yang the nature of knowledge yang dipelajari-nya adalah soal choice kan sayang sekali jika tidak belajar jadi risk manager yang baik untuk kasus seperti itu… atau sudah benar2 jadi risk taker yang sayangnya menyodorkan masalah ke bagian2 lain… tetapi sekali lagi, please give some times to see everything is back in order..

    dalam hal2 beginian, tentu kita tidak perlu cari kebenaran mutlak dan objektivitas… karena terhadap angka yang eksak pun tidak jarang interpretasinya bisa macam2… jadi, kasus kami di FE paling tidak di periode 2004 – 2007 … masaah kita adalah lebih ke soal masuk akal tidaknya sebuah fenomena dan keputusan2 kita…

    namun, dengan mengatakan begitu, saya juga harus acknowledge bahwa tidak semua sudah baik atau ideal adanya… masih ada banyak masalah dan kesulitan yang sulit ditabrak… termasuk soal rasio2 dan ukuran2 kinerja akademik kita… kalau saya disuruh memilih, misalnya dalam hal jumlah dosen, saya tetap pikir FE perlu tambah dosen… tapi, hal seperti itu tidak semudah saya atau kita ngomong kan… kalkulasi-nya tidak mudah karena kita berhadapan dengan banyak uncertainties di masa depan dan daya dukung resources kekinian untuk merealisasikan pengadaan resources dan capabilities yang kita butuhkan.. tapi, sekali lagi, itu kalau disuruh memilih… dan, saya pribadi memilih apa yang secara ideal saya anggap akan lebih baik dampaknya bagi kinerja akademik… termasuk soa trimester versus semester, sikap saya sangat jelas bagi FE… tentu dengan mengambil pilihan2 tertentu, kita perlu lakukan penyesuaian2 pada aspek2 yang lain yang mungkin kini masih dipandang sulit diupayakan…

    ini pada akhirnya lebih merupakan masalah rasionalitas dalam paradigma atau mindset yang kita pakai… kalau sudah stop pada paradigma tertentu, maka dunia lain di luar paradigma itu adalah irrational, salah total, etc.. tapi, bagaimana kalau paradigmanya diganti? mungkin lain ya…

    akhirnya, kembali, komunikasi atau dialog penting… supaya masing-masing pihak melihat kebenaran versi pihak lainnya… jadi tesis versus antitesis bisa membuka munculnya peluang jalan ketiga atau sistesis..

  38. Saam Fredy says:

    Mas/Mbak DN yang baik,

    Pertanyaan-pertanyaan ada sangat baik sekali, memang cukup sulit menjawabnya karena dengan idealisme yang masih tertanam di pikiran DN, maka akan sulit memberikan jawaban2 alternatif yang lebih dalam lagi.

    Saya hanya ingin membawa DN untuk melintas dari sekedar akal, tapi lebih dalam lagi, yaitu ke budi. Kadang, apa yang dilakukan oleh akal tidak bisa, budi mengatakan “bisa”. Alangkah baiknya jika akal tidak berjalan sendiri, ataupun sebaliknya kepada budi. Biarkan akal dan budi-mu berjalan bersama.

    Salam,
    saam fredy

  39. DN says:

    @36
    komentar anda sudah saya baca dan dapat saya cerna dengan baik
    – seandainya jumlah mahasiswa masuk dibatasi dan dilakukan seleksi dengan test dll maka:

    “uncertainties di masa depan dan daya dukung resources kekinian untuk merealisasikan pengadaan
    resources dan capabilities yang kita butuhkan”

    diatas minimal bisa diminimalisasi

    ” saking ganasnya, ada mahasiswa yang tidak lulus-lulus 7 hingga 10 tahun

    diatas juga bisa diminimalisasi
    kecuali seperti di tempat saya dimana mahasiswa memilih out dulu sebelum di drop out (ngrumangsani tdk mampu)

    Atau mungkin pemasukkan yang banyak memang sangat dibutuhkan sekarang dan seterusnya, yang penting masuk dulu, bayar dulu. Lain-lain dipikir belakangan mumpung universitas ini laku.

  40. Yodie Hardiyan says:

    “Kebenaran?”

    Kebenaran itu pembenaran, benar. Tapi pembenaran juga kebenaran, setuju? Ayo kita “bermain-main” dengan pandangan. Contohnya, Anda bilang Tuhan itu tiada. Pembenaran bagi Anda dan menjadi kebenaran, juga bagi Anda. Tentu sah dan Anda tidak salah. Tapi, boleh kan orang lain bilang Tuhan itu ada? Pembenaran bagi non-Ateis, yang juga kebenaran baginya. Nah pembenaran adalah kebenaran, subyek yang memberi pandangan. Sekarang saya beri pertanyaan (berdasar pemikiran Marx), Tuhan yang menciptakan manusia atau manusia yang menciptakan Tuhan?

    Akan ada banyak jawaban, dan saling serang pembenaran masing-masing( yang menjadi kebenaran sepihak, tentunya). Nah, klise, kesimpulannya: bagaimana kita memandang. Tan Malaka, bila tidak salah, dalam Madilog berujar dalam hubungan sebab-akibat antara alam-Tuhan, tak bisa terlalu jauh diperdebatkan. Lho? Kenapa? Karena kepercayaan. Anda percaya kan dengan adanya Tuhan? Ya kan? Atau tidak? Bila ya, bukankah itu pembenaran sekaligus kebenaran bagi Anda? Bila tidakpun, setali tiga uang.

    Konsep kebenaran sendiri memang sering dipertanyakan dan diuji. Tapi ingat, ada kebenaran fungsional. Misal, Anda membunuh. Anda merasa itu kebenaran bagi Anda: “membunuh adalah benar”. Tapi kebenaran fungsional akan menemui Anda dan bilang “membunuh adalah salah”. Kebenaran fungsional, yang tentunya hasil kesepakatan universal. Atau bila contoh saya masih abstrak, mungkin ini bisa membantu: Anda menggunakan software bajakan itu sah, namun kebenaran fungsional bilang itu tidak sah. See?

    Di Akuarium, ada pembenaran dan kebenaran. Lihat contoh pembenaran:

    Lain cerita tempat belajar berbasis kebutuhan seperti sekolah alternatif Qaryah Thayyibah di daerah Kalibening, Salatiga. Ceritanya, seorang individu bebas pilih disiplin ilmu yang disukai atau dirasa butuh oleh subjek didik.

    UKSW adalah lembaga pendidikan formal berbasis disiplin ilmu. UKSW sudah dibayar, mengapa mahasiswa tak “dibayar” balik? Dimana mutualismenya?

    Petikan tulisan saya di atas, jelas pembenaran, bagi saya. Padahal saya salah. Saya terlalu sederhanakan masalah. Pak Neil R, pernah mengkritiknya, dan saya terima, karena pembenaran saya bertabrakan dengan kebenaran fungsional (perhatikan tulisan bahkan rangkaian kata saya dengan baik). Terima kasih untuk itu bung Neil atas koreksinya. Iwan Piliang ketua umum PWI-R pernah memberi petuah kepada saya, sebagai penulis harus jaga kerendahatian. Bila salah, jangan ragu minta maaf.

    Namun, saya boleh membela kebenaran. Apa? Lihat:

    Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40.

    Saya mengalaminya. Itu pembenaran bagi saya? Iya dan itu juga kebenaran! Contoh: matakuliah Mikro Ekonomi yang diampu Henci Latunussa di trimester 2 tahun 2006/2007. Berapa rasio: dosen mahasiswa? Hahaha, lebih dari 1:40. Seingat saya pula, rasio di mata kuliah lain, ada juga bombastis

    Itu kebenaran. Dan itu menyesakkan. Makanya boleh ditafsirkan pada Akuarium: bahwa rasio dosen mahasiswa yang berlebihan itu tidak baik. Lho kok tidak baik? Lihat:

    MATRIKS PENILAIAN PORTOFOLIO AKREDITASI INSTITUSI milik Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi: Rasio dosen tetap dan mahasiswa berbanding antara 1: 30 berarti KURANG. Yang baik berapa? Max 1:15. Atau UKSW -sebagai universitas bernama besar hebat, keren, mewah- punya standar sendiri?

    Untuk Neil R

    Pak Neil, ingat komentar Anda ini:

    Kata Neil: Jangan salah! Di UKSW maupun perguruan tinggi manapun, Anda dan mahasiswa lainnya sudah pilih disiplin ilmu yang disukainya sebagai ekspresi kebutuhan masa depan Anda. Jika Anda adalah mahasiswa Ekonomi, maka Anda sudah pilih disiplin atau rumpun keilmuan anda: Ekonomi dan selanjutnya Anda jugalah yang pilih Progdi-nya serta nantinya konsentrasi studinya. Jadi, jangan mudah bandingkan dengan apa yang terjadi Qaryah Thayyibah (di mana semua siswa harusnya belajar A sampai Z). Bagi saya, kelebihannya QT adalah justru ketika anak-anak itu sudah pilih apa yang ingin mereka pelajari, mereka demikian antusias, mereka mengejar ilmunya ke mana-mana, termasuk bergerilya di internet dan tanya sana tanya sini termasuk pada ahlinya lewat email misalnya. Mereka ekspresikan dengan benar bahwa mereka mau dan bisa kuasai apa yang mereka pelajari, karena itu minatnya. Memang, saya hargai keberanian pedagogis mereka.. hal mana masih tidak mudah dipraktikkan di UKSW

    Coba benangmerahkan dengan komentar Anda ini:

    kalau mau sangat fleksibel menampung wants… saya khawatir pasar RMK (akademik) bukan seperti pasar produk2 yang memang mengeksploitasi wants, bukan needs… misalnya, soal kematangan pengetahuan dan pemahaman dalam strategi pengambilan mata kuliah… jadi, pasar itu telah jadi pasar yang distortif… dan saya khawatir suara mas Yodie terpolusi oleh yang sudah distortif itu..

    Anda, telah bicara soal masuk di UKSW adalah karena “kebutuhan” (komentar Anda sebagai koreksi dikotomi saya pada konsep institusi disiplin ilmu dan berbasis kebutuhan). Halo? Realita bicara tidak seperti itu Pak. Kalau benar adanya karena kebutuhan, cerita UKSW lebih manis dibanding QT.

    UKSW adalah lembaga pendidikan yang formal-basis disiplin ilmu-dibayar, walaupun argumentatif ideal menjawab “karena kebutuhan subyek demi masa depan kok”. . Mahasiswa itu butuh diarahkan, karena sudah membayar. Membayar karena butuh diarahkan.

    Yuk, saya ajak berabstraksi dalam pikiran: Mahasiswa adalah turis. UKSW adalah organisasi pemandu wisata. Dosen adalah guide-nya dari organisasi tersebut. Saya batasi pada tiga pilar, asumsi lain anggaplah konstan.

    Di suatu obyek wisata, yang sangat asing bagi si turis, guide berfungsi mengarahkan turis: “ini lho tempat yang eksotik dan bla bla bla”. Guide mengarahkan, menerjemahkan bahasa dan tetek bengeknya.

    Bayangkan: turis di sebuah tempat yang tak dikenalnya, tak diketahui tata bahasanya, disuruh berjalan-jalan sendiri. Ya, kesasar!

    Mahasiswa UKSW? Ya, kesasar juga. Karena semuanya tidak jelas. Tak tahu apa-apa, kelar dari SMA, eh disuruh berhadapan dengan suasana merdeka ala UKSW. Merdeka? Disuruh rebutan matakuliah, dengan dasar “needs” mahasiswa. Needs? Tak ada konsep ideal “needs” mahasiswa di UKSW. Ada sekalipun, juga jarang.

    Bila, Anda anggap sebagai pasar, oh…Smith sekali.

    Mengapa tak Keynes? Dimana ada intervensi dari pemerintah. Siapa? UKSW. Fungsi regulator penetapan dan pembatasan berjalan. Ini antitesis dari kebebasan.

    Jangan lepas mahasiswa! Adakan PAKET MEKANISME PENGAMBILAN MATAKULIAH! Dengan apa? Penuhi hak-hak mahasiswa mendapat kelas. Caranya? Jangan biarkan GAFTAR ALIR kacau! Lho, apa sih akar masalahnya? Jumlah mahasiswa membludak!

    Itu bila kita merunut logika sebuah mutualisme ideal dalam kasus UKSW.

    Bila mau “berbasis kebutuhan”, maaf, kita bukan bayar untuk itu, walau saya cukup kagum dengan konsep itu. Bila UKSW adalah “berbasis kebutuhan” ideal seperti di QT, mungkin saya tak menulis tulisan Akuarium.

    Kalau benar adanya mahasiswa harusnya patuh pada “needs”, hapus yang namanya matakuliah wajib. Bukan begtu?

    Yang iya bagaimana?

    Ya, ya, ya…

    Untuk DN
    karena dari awal saya se-opini dng penulis jadi saya mendukung dan meyakini opini penulis sebagai kebenaran. Bukankah sekarang semakin jelas Akuarium ini bertambah 2500 lebih ikan baru.

    Dialektika butuh penyadaran. Saya kira Anda termasuk yang sadar. Sebenarnya mahasiswa UKSW yang lain sudah sadar, mungkin belum timing yang tepat untuk pengungkapan kesadarannya.

    Cepat atau lambat, akuarium yang terlalu penuh diisi ikan, akan terlihat jelek, kualitas hidup rendah dan bukan tak mungkin: HANYA SISAKAN NAMA. Lho?

    Ya, ikannya mati semua, perang rebutan makanan. Bila Jayabaya adalah manusia, dan setiap manusia adalah egaliter, dan bolehlah kita manusia ramalkan: suatu kehancuran.

    Punya akuarium di rumah? isilah dengan ikan melebihi kapasitas ideal. Apa yang terjadi?

    Syalalalalalala…..

  41. Yulius says:

    Menarik sekali disikusi tentang aquarium UKSW ini. Banyak fenomenon yang telah tersaji…bisa dibilang kebenaran dan juga pembenaran…yang pasti selalu ada kepentingan di balik itu semua (misalnya mengapa ada kasus “menabrak” aturan jumlah maksimal mahasiswa dstnya)… untuk itu upaya penelusuran persoalan-persoalan yang dihadapi oleh UKSW harus dapat dilihat tidak saja bernada korektif (apalagi memvonis) namun ada juga upaya menyodorkan solusi. Perlu kiranya dasar filosofis pendidikan yang berlaku di UKSW ditinjau lagi..apakah kita semua telah berjalan dengan spirit itu atau tidak. Kalo tidak…kita benahi bersama..mulai dai sistemnya sampai kepada operatornya.

  42. Opha says:

    @ Yodie : Yup…untuk beberapa hal saya sependapat dengan pandangan serta nalar yang kamu ajukan. Ditambah dengan keberanianmu mengemukakan pendapat tentang “kebenaran”. Tetapi, mengenai kebenaran fungsional kita perlu hati-hati mengatakan bahwa itu merupakan kebenaran hasil kesepakatan universal (dalam jurnalistik pun lebih dianjurkan dengan melakukan pendekatan kebenaran ini).
    Karena ketika kita berbicara tentang kesepakatan “universal” (kesepakatan dalam bentuk apapun), tampaknya kita harus melihat juga proses kesepakatan tersebut, situasi-kondisi yang terbangun dalam kurun waktu tertentu serta dinamika sosial yang terbangun pada peradaban-peradabannya. Motor penggerak dialektika pasti ada didalamnya dan hal itu merupakan sintesa-sintesa yang mungkin saja menelurkan tesis dan antitesis selanjutnya.

    Selain itu, benar adanya jika kita memperdebatkan keberadaan Tuhan (seperti yang karl marx ajukan). layaknya kita memperdebatkan paham idealisme dan paham materialisme. Wow…rentan dengan konflik dan bahkan bisa saja kontradiksi ini menghasilkan kesadaran “meniadakan nyawa orang lain dianggap sah” (seperti kebenaran atas kesepakatan universal tadi).

    Artinya kita ada (lahir, tumbuh/berkembang, dan berakhir) tidak lepas dari kontradiksi, ketika kita masih berpijak diatas muka bumi ini kita akan berhadapan dengan pembenaran-pembenaran. Catatan penting : Pembenaran disini jangan serta merta di konotasikan, seperti penguat alasan, atau dalih, atau apologi yang tidak berdasar.

    Mungkin orang lain akan menilai saya adalah seorang yang pesimistis dengan kebenaran. Tapi ini adalah bagian dari kesadaran saya, bahwa kebenaran adalah sesuatu hal – perihal yang harus terus diupayakan.

    Sedikit berkomentar masalah pendidikan dan kritik-konstruktif dari yodie bagi penyelenggaraan pendidikan, saya dapat merasakan kegelisahan-kegelisahan anda menyangkut klausul ini. Kalau mungkin saya terlalu mendramatisir masalah, kegelisahan yodie hampir mirip seperti yang dirasakan oleh ivan illich ataupun paulo freire pada masanya.

    Tambahan saja, mungkin saja penulis sudah membaca tentang Ideologi-ideologi Pendidikan, pengarang : William F. Oniel. Bagaimana konstruksi pendidikan berdasarkan ideologi serta pendekatan-pendekatan apa yang dibangun didalamnya. Memang awalnya dan seharusnya pendidikan merupakan wahana untuk pembentukan manusia yang berkebajikan dan bebas nilai (kepentingan). Tetapi pada prosesnya, ternyata kepentingan-kepentingan tertentu sulit untuk dipisah kan darinya.

    Dikaitkan dengan diskusi kita, Kalau kita mau memandang lebih jauh dan mengupas lebih dalam lagi, ada akar permasalahan yang harus kita cerabut dari lahan pendidikan ini. Tidak serta merta kita menunjukkan bahwa permasalahannya ada di infrastruktur ataupun pada teknis pelaksanaan yang dijalankan ataupun soal-soal lain. Dikawatirkan kita hanya berdiskusi dan berdebat pada area kulit saja.

    Terakhir kali, Jujur saya sangat mendambakan orang-orang seperti penulis duduk dalam lembaga kemahasiswaan (LK), serta memformat lembaga kemahasiswaan menjadi lembaga yang dinamis dalam menggelontorkan pikiran-pikiran yang kritis-konstruktif bagi lembaga tercinta ataupun sekitaran (tanpa maksud mendiskriditkan fungsionaris yang sudah ada dan berkinerja sekarang). Saya sangat yakin itu.

  43. Cepero says:

    Yodie:
    Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40.

    @Yodie:
    saya kira benar perkataan bung obed, UKSW nih semisal warung yang luaariss banget, soalnya masakannya enak bahkan pengunjungnya membludak bahkan kadang ngantri sampai panjang meskipun dengan harga mahal (mis: nasi goreng pak Joko Patimura), dan warung itu mementingkan mutu makanan dan laba yang tinggi, orang yang “mau beli” tu kadang mengomel karena antrinya dan karena sesaknya karena tempatnya yang sempit, tapi orang yang sudah makan dan keluar dari warung akan selalu terlihat puas dengan rasanya dan tidak akan peduli lagi dengan pengorbanan yang di lakukan untuk mendapatkannya. Jadi menurut pandangan saya, Mas Yodie nih seperti orang yang belum merasakan sepenuhnya menu yang enak di “warung UKSW”, jadi anda ini masih menunggu dengan bersungut-sungut dan melihat banyaknya yang antri di depan anda, bahkan anda mungkin ngomong “warung koyo ngene ki enake sebelah ngendi.., wis antri, larang sisan….”, dan Mas Yodie berpapasan dengan saya yang kebetulan habis makan, kekenyangan dan kebetulan mendengar sungutan mas Yodie, maka saya jawab “enak lo mas, jajalen, ra rugi kok njenengan ngantri, tapi nek njenengan selak ngeleh yo mending nggolek warung liane wae, sing ra antri, murah ning rasane yo mbuh…”

    Yodie:
    Di suatu obyek wisata, yang sangat asing bagi si turis, guide berfungsi mengarahkan turis: “ini lho tempat yang eksotik dan bla bla bla”. Guide mengarahkan, menerjemahkan bahasa dan tetek bengeknya.
    Bayangkan: turis di sebuah tempat yang tak dikenalnya, tak diketahui tata bahasanya, disuruh berjalan-jalan sendiri. Ya, kesasar!

    @ Yodie: saya bingung denger perumpamaan di atas, soalnya setahu saya di Pulau Dewata turis tu dikasih guide oleh biro wisata atau hotelnya, jadi pasti tahu bahasa si turis, dan kalau turisnya kesasar karena jalan sendiri tu ya bodohnya si turis, karena aturannya dia harus mengikuti guidenya, namanya guide tu kan PEMANDU jadi seperti panduan jalan bagi turis jadi meskipun si turis bayar banyak untuk sewa Guide tapi dia juga harus ikut aturan si guide, jadi kalau turisnya mau jalan sendiri silahkan…kesasar tanggung sendiri. jadi mungkin Mas Yodie sebagai mahasiswa yang baik tahukan artinya abstraksi di atas?

    Yodie:
    Jangan lepas mahasiswa! Adakan PAKET MEKANISME PENGAMBILAN MATAKULIAH! Dengan apa? Penuhi hak-hak mahasiswa mendapat kelas. Caranya? Jangan biarkan GAFTAR ALIR kacau! Lho, apa sih akar masalahnya? Jumlah mahasiswa membludak!

    @Yodie: sepengetahuan saya (kalau salah mohon dibenarkan), kita pertama masukkan udah diaturkan gaftar Alir Mata Kuliah soalnya kita kan babar blas nggak tau apa itu siasat?, apa itu mata kuliah?dsbnya, dan untuk gaftar alir selanjutnya kan terserah kita soalnya tergantung IPK kita kan?, saya masih bingung hubungan antara gaftar alir kacau dengan membludaknya mahasiswa???, tolong jelasin dong mas??

    Yodie:
    Cepat atau lambat, akuarium yang terlalu penuh diisi ikan, akan terlihat jelek, kualitas hidup rendah dan bukan tak mungkin: HANYA SISAKAN NAMA. Lho?
    Ya, ikannya mati semua, perang rebutan makanan. Bila Jayabaya adalah manusia, dan setiap manusia adalah egaliter, dan bolehlah kita manusia ramalkan: suatu kehancuran.
    @Yodie:
    Sya punya masukan kalau jangan pake Akuarium gimana?, soalnya nggak cocok sebagai penggambaran dari UKSW, alasan saya:
    1. Akuarium kalau mau diisi ikan kan terserah pemiliknya, pemiliknya kan beli dari penjual ikan, jadi ikannya kan nggak punya pilihan mau hidup di akuarium mana.
    nah kalau kita di UKSW, kita tuh yang keluar duit dan kita punya pilihan mau kuliah di UKSW apa di AMA apa di QT, jadi kita tidak bisa menyalahkan pihak lain karena pilihan kita sendiri.
    2. kalau di Akuarium kan ada yang mati rebutan makanan, itu kan karena si ikan nggak bisa ngomong sama pemiliknya, sedangkan kita kan bisa ngomong ke dosen/wali studi kalau kehabisan ruang, asal IPK kita cukup, ya nggak…?

    @Moderator:
    kita bisa pake BB COde nggak to? soalnya kan kita juga pengen menggaris bawahi/ menebali yang mungkin penting, tolong petunjuknya.
    Thanks

  44. Neil Rupidara says:

    Mas Yodie…

    Saya jadinya bingung juga akhirnya dengan Anda… pertama, siapa sih yang memilih masuk di UKSW? Siapa juga yang memilih masuk Fakultas Ekonomi… masuk FE pun, sejak pertama kali mendaftar, siapa yang memilih masuk Akuntansi, Manajemen, atau Ilmu Ekonomi? Semua jawabannya jelas adalah mahasiswa yang memilih… Itulah mengapa saya katakan mahasiswa telah memilih sesuatu sesuai apa yang dirasa dibutuhkannya… mengapa memilih masuk FE dan Manajemen…, bukannya FSM Kimia, Teknik Elektro Komputasi, Seni Pertunjukan Musik Gereja dll… Salah satu kemungkinannya karena ingin belajar dan kemudian bekerja di dunia manajemen… entah mau jadi praktisi.. apakah di dunia organisasi bisnis atau organisasi lainnya.. atau berkarya di dunia akademik… mahasiswa yang memilih atau memutuskan, mestinya ia jugalah yang telah memikirkan itu…

    Di salah satu tanggapan saya atas diskusi2 kita ini saya pernah menyinggung juga bahwa mas STR meminta mahasiswa diberi kebebasan memilih dan menuntukan apa saja mata kuliah yang ingin distudikannya karena mereka diasumsikan sudah dewasa dan bisa memilih apa yang dibutuhkannya… Sekarang saya duduk di atas asumsi itu, mas Yodie justru menghindar dari saya… saya dulu katakan, jangan mudah bandingkan dengan QT yang berada di aras SMP dan SMA karena di aras itu lazimnya siswa belajar IPA, IPS, Agama, Olahrga, Kesenian… so many things kan? Jadi kalau Anda bangga siswa SMP/SMA QT bebas memilih apa dan bagaimana ia bisa pelajari hal yang disukainya.. maka sekarang saya balik mengatakan, di atas pandangan seperti di atas… mahasiswa justru sudah lebih maju dalam memilih sebelum ia jadi mahasiswa atau untuk menjadi mahasiswa… sejak awal ia misalnya memilih FE, bukan FSM… tidak ingin belajar Fisika, Kimia, atau Matematika, atau Statistika sebagai core-nya tapi ingin belajar ekonomi… ia ingin belajar Manajemen bukan Ilmu Ekonomi.. jadi, mestinya ia telah sadar exclude apa yang tidak ingin dipelajari.. dan mengarahkan apa yang dipelajarinya…

    Di zaman internet beginian, informasi tentang apa itu Ilmu Ekonomi dan bahkan ranting keilmuannya pun bisa ditemukan.. jadi, ketika memilih, seorang calon mahasiswa sudah bisa memersiapkan diri atau mengetahui apa yang bakal dipelajarinya… Jika webpage FE tidak bermasalah seperti sekarang, di sana sudah ada gambaran tentang setiap program studi, termasuk gambaran kurikulumnya… jadi, setiap calon mahasiswa bisa mengetahui binatang apakah progdi manajemen itu? Saya pun ketika mencari universitas untuk saya berstudi, saya mencoba aktif mencari tahu dan memahami sampai batas tertentu universitas macam apa, siapa di dalam sana, keahliannya apa.. etc… tentu tidak semua hal bisa saya ketahui… banyak hal bisa saya pelajari juga sambil berada di dalamnya…

    Dengan alasan2 seperti itu saya lalu katakan mahasiswa sudah pilih (asumsinya sesuai kebutuhan, ingat bukan FSM tapi FE.. Bukan Manajemen tapi Akuntansi)… dan sekarang saya tambahkan ia memiliki peluang untuk mengetahui terlebih dahulu apa detail yang bakal dipelajarinya… jadi, ia tahu bahwa ia akan belajar mikroekonomi, makroekonomi, moneter, etc.. demikian juga kalau ia pilih manajemen atau akuntansi.. Bahkan di SMA ia paling tidak sudah diperkenalkan tentang hal-hal itu, sekecil apapun… Apakah ini terlalu ideal?

    Yang justru jadi pertanyaan bagi mereka yang merasa terikat justru pada apa yang justru telah dipilihnya adalah tentang kesadaran dirinya sendiri dan kesadaran akan pilihannya… OK, kalau tidak atau belum sadar… pertanyaan lagi, mengapa tidak minta pertimbangan2 sejak awal kepada wali studinya? Ia harus aktif, seorang dewasa kan punya inisiatif, tidak tunggu dipilihkan oleh orang lain kan.. Jadi, mas Yodie cuma menunjukkan pada saya sikap bunuh diri seorang mahasiswa…. memilih, tidak tahu, merasa dipaksa, etc… lho FE UKSW tidak paksa mahasiswa untuk memilihnya… betul kan? FE UKSW cuma membimbing mahasiswanya meniti bidang studi pilihannya… karena sudah pilih FE dan Manajemen, misalnya, maka inilah yang biasa dipelajari di dunia orang yang belajar Manajemen… justru aneh jika seseorang memilih Manajemen tetapi portofolio mata kuliahnya adalah Sosiologi.. walau Sosiologi memberi dasar2 teoritis bagi kajian Manajemen.. tetapi mahasiswa yang memilih belajar Manajemen tidak sama dengan mahasiswa yang memilih Sosiologi..

    Coba bandingkan, siswa SMP saja bisa memilih… itu kebanggaan Anda pada QT kan… lalu, kenapa mereka yang justru telah melewati SMA justru dan telah memilih merasa terpenjara oleh sesuatu yang bukan yang dipilihnya… Ini kontradiksi berpikir yang cukup parah… Anda bahkan menuding saya inkonsisten dengan membandingkan pelabelan yang saya pakai sudah memilih berbasis kebutuhan dengan pasar RMK yang distortif…

    Kenapa tidak dipaketkan saja? Kalau mahasiswa mau ‘paket’, kan sudah ada gaftar alir… kalau semua mahasiswa minta dibimbing ya maka gaftar alir adalah pembimbingan terbatasnya.. di gaftar alir sudah ada berapa sks per semester, nama mata kuliah… mereka tinggal ngatur kelas yang mana akibatnya hari apa, jam berapa, di kelas mana, dosennya siapa… jadi kalau mahasiswa mau cukup normal2 saja kan tidak ada masalah.. karena memang fakultas menjamin bahwa mata kuliah yang terdaftar di gaftar alir akan dibuka… kalau ternyata ada yang tidak dibuka.. anda berhak memintanya… apalagi yang wajib2…

    tapi, kembali ke anggapan anda supaya mahasiswa bisa memilih… ia pun masih diberi kebebasan.. berdasarkan intervensi yang dipakai yaitu aturan main… kalau IPK lebih besar dari standar, maka ia bisa ambil lebih besar dari yang tersedia di gaftar alir… karena gaftar alir cenderung standar/rata-rata… jadi, itu sudah kombinasi kebebasan memilih dan intervensi aturan main… bukan liar.. karena itu lapangan sepak bola, bukan lapangan tenis… itu arena tinju, bukan lintasan lari…

    Cuma karena anda dan barangkali mahasiswa lain maunya jadikan lapangan bola jadi tempat bertinju ya jadinya kekacauan… itulah yang saya kritik sebagai itu bukan tempat kita buat semau kita (wants)… jiga begitu maka itu pasar yang chaotic, istilah saya lainnya terkait dengan istilah pasar yang anda kritik sebagai pemuja pasar bebas… walau dari penjelasan2 saya selama ini sudah cukup banyak indikasi adanya model intervensionis… Keynes sendiri juga tidak meminta pemerintah untuk mengatur segala-galanya kan… Jadi logika mas Yodie justru membingungkan saya..

    Soal rasio mahasiswa… dari dasar manakah dia dihitung dengan jumlah dosen mahasiswa di kelas? Sebuah cara perhitungan yang jelas salah lagi… itukah klaim kebenaran? Tolong cek bagaimana menghitung rasio dosen – mahasiswa… Sebagai perbandingan.. Di universitas Macquarie tempat saya studi dalam satu kelas di Dept of Business bisa mencapai 50 orang… Di Fakultas tertentu, di bidang2 science, kadang kuliahnya di ruang teater yang bisa mencapai lebih dari 100 orang… saya pernah berkunjung ke Sydney Univ.. dan ada juga kelas teater yang barangkali isanya bisa 100 orang… saya baru saja ngobrol teman saya dari Univ Twente di Belanda… dia katakan dia mengajar satu mata kuliah yang mahasiswanya mencapai 300 orang… lalu apakah rasio dosen – mahasiswanya 1: 300? Silahkan cek bagaimana menghitungnya supaya anda memang benar2 menglaim kebenaran…

    Cuma jangan juga manipulasi pendapat saya…. saya juga sempat mengatakan… jika saya boleh memilih, saya masih mau memilih untuk menambah dosen di FE…

    Di samping itu, kita belum bicara sistem pembelajaran secara keseluruhan untuk bagaimana bisa handle kelas2 raksasa (kalau mau dipakai) walau masih bisa menjaga mutu.. Ambil contoh… dulu saya kuliah di Univ. Groningen.. sejumlah mata kuliah kami, pada minggu tertentu kami kuliah di ruang teater dan berisi 100 – 150 orang… namun, pada minggu2 tertentu kami ketemu dosen kami di kelas2 20 – 25 orang… tapi, mengatur perkuliahan di kelas saja tidak cukup.. apa yang membuat pembelajaran efektif? Ya sistem yang bisa membuat mahasiswa sebagai pelaku belajar aktif, bukan cuma datang mendengar dosen lalu pikir akan menguasai apa yang dipelajarinya… jadi, diskusi2 kita tidak bisa digebyah uyah sudah menjawab segala hal… saya pun ya menanggapi pada isu yang dibicarakan saja… saya tidak atau belum mengajak anda masuk pada detail2 yang lain…

    Logika turisme anda jelas logika salah kaprah… mari saya bandingkan anda sebagai mahasiswa UKSW… apa beda dengan di UGM? apakah yang di UGM dipandu seperti anak kecil? tidak tuh… di universitas mana yang dipandu seperti orang tidak tahu apa2? bukan cuma di Indonesia, di mana2pun tidak ada yang perlu dituntun seperti orang buta… tidak ada… mahasiswa adalah pribadi yang sudah mampu mengelola dirinya sendiri.. bukan turis… turis pun banyak yang sebelum berkunjung ke suatu tempat akan menyiapkan diri… membaca sesuatu tentang tempat yang bakal dikunjunginya.. seminim apapun itu.. bahkan untuk bisa membaca, mereka beli sendiri peta, buku2 seputar daerah yang mau dikunjungi.. jadi, kesiapan si mahasiswa jelas diperlukan… dia bukan domba yang dibawa kepala pejagalan dan siap dibantai karena tidak tahu mau kemana diajak…

    Apa benar tidak ada panduan? Kemana katalog mahasiswa? Kemana buku peraturan akademik? Semua ada kan? Tapi, mari kita tanya kemana buku2 itu?

    Apa lagi? wali studi pun ada kan.. waktu perwalian pun disediakan, betul…? ke mana mahasiswa pada saat perwalian? apakah dosen yang perlu menjemputnya di rumah atau tempat kos-nya? atau jangan2 harus dijemput di tempat biliar seperti kisah yang pernah saya ceritakan? anda suka yang seperti itu ya? sayang sekali… anak saya saja yang masih SD saya telah mencoba mengajarinya untuk memilih apa yang dia inginkan… dan belajar bertanggung jawab untuk menerima konsekuensi pilihannya… mengapa orang seperti anda yang justru sudah memilih di awal mengapa tidak pernah memilih? mau melempar tanggung jawab pilihan anda? kalau tidak suka, bertanggung jawablah… putuskan untuk mengganti pilihan… mahasiswa bebas memutuskan itu kapan saja… sekaligus menjawab @DN… di mana pun di UKSW (termasuk FE) atau universitas lainnya.. mahasiswa bebas memilih untuk keluar dari pilihan sekarang dan membuat pilihan baru (silahkan tanya ada skema/skenario yang disebut Multi Entry Multi Exit di FE… skenari itu bermaksud untuk menyiapkan mahasiswa untuk siap memilih jalur baru di UKSW jika tidak merasa cocok atau dinilai tidak cocok (akibat worse performance)… FE juga bisa menerima transfer dari fakultas/program lain yang dirasanya masih memenuhi standar nilai masuk FE… walau tidak jarang mahasiswa pindahan juga diminta mengikuti tes adminis… ada sejumlah mahasiswa FTEK yang transfer ke FE… bagi mahasiswa FE yang dinilai tidak cocok, kepada mereka diberikan peringatkan sebelum waktunya harus diputus status kemahasiswaannya.. dengan peringatan itu, ia diminta untuk menghadap wali studinya untuk membicarakan masalahnya… harusnya kalau ia datang, ia sudah akan diingatkan ata ditanyakan… apakah ia merasa masih cocok di FE? kalau merasa masih, maka akan berdiskusi bagaimana upayanya untuk menaikkan kinerjanya sendiri… tidak ada orang lain yang bisa membantu kecuali mahasiswa itu sendiri… dosen wali cuma motivator, fasilitator, dan peran2 pemerantaraan lain..

    Justru apa yang ingin saya ungkapkan dari sana adalah sebuah pertanyaan sangat besar dan mendasar kepada para mahasiswa… sendiri memilih, tidak tahu apa yang sesungguhnya dipilihnya… diberi detail dari pilihannya… entah dibuang ke mana dan akhirnya bingung sendiri.. dan kemudian menjadi kacau dalam merencanakan operasionalisasi atas pilihannya sendiri… sebuah tanda tanya sangat besar untuk anda dan mahasiswa lain… apakah Neil Rupidara atau FE memaksa anda masuk ke FE? sekali lagi tidak… karena Anda putuskan Anda mau belajar Ekonomi, maka mari belajar Ekonomi… apa saja sub keilmuan dalam ilmu Ekonomi? itulah kurikulumnya… mengapa wajib? Orang yang mau belajar ilmu ekonomi kalau tidak wajib ambil makroekonomi ya aneh… orang yang ngambil manajemen dan tidak ngambil (pengantar) manajemen (apapun nama mata kuliahnya tidak masalah, tetapi isinya adalah pengantar ke studi manajemen) ya aneh… di dunia ini, universitas manakah yang tidak membuat daftar mata kuliah wajib? silahkan cari… sedikit atau banyaknya mata kuliah yang wajib, itu soal kedua… silahkan google dan saya tunggu jawabannya…

    Jangan terlalu kaku begitu dong dengan pilihan istilah saya dengan pasar… pasar adalah istilah yang bagi saya sudah umum… menggunakan istilah pasar belum berarti saya seorang pengikut Adam Smith, walaupun pernah sedikit memelajari Adam Smith.. jadi jangan naif gitu dong…

    Digunakannya istilah pasar karena ia ibarat pasar… ada penawaran (mata kuliah) oleh program2 studi dan ada permintaan (mata kuliah) oleh mahasiswa2… jadi ada mekanisme seperti itu… anda sarankan kenapa tidak intervensi? anda tidak melihat ada intervensi terhadap pasar (RMK) itu? masa’ sih… tidakkah ada aturan mainnya, kan bukan berjalan dengan mekanisme pasar bebas-nya Adam Smith.. apa saya keliru?

    Soal membludak… FE UKSW tahun 1990 di saat saya masuk menerima mahasiswa 250 orang… 3 tahun terakhir angka itulah yang diterima FE… mungkin tahun ini agak naik, saya belum tahu persisnya… lihat data mas… sejak tahun 2000 mahasiswa baru di FE menurun terus… ini berbeda dari tahun 1995 hingga tahun 1999.. hingga tahun 2004 total mahasiswa FE masih mencapai di atas 2500… kini? Silahkan cek datanya…. Lalu mengapa Anda yang sedang menjadi mahasiswa di era penurunan jumlah mahasiswa FE klaim mahasiswanya membludak? Orang yang tahu sejarah tahu bahwa FE justru menurun jumlah mahasiswanya, bukan membludak… sebuah klaim yang salah secara fatal… dalam kasus FE..

    soal pembatasan @DN… pernah terkesan tidak dibatasi di FE (dibanding kapasitas optimum dan jika pertimbangkan rasio2 yang wajar)… tapi, apa anda tidak merasa bahwa kini memang ada batasannya? batasannya apa? satu tes… silahkan cek standar nilai masuk yang dipakai, di FE misalnya… kedua, kapasitas… FE belajar dari pengalaman paruh kedua 1990an yang agak kebablasan… dan mestinya FE tidak ingat segila itu lagi sekarang… saya pribadi memerkirakan angka 300 cukup lah… dengan dosen sekitar 50an yang tinggal tambah beberapa lagi sedikit, maka rasio dosen mahasiswa di FE secara total, jika tiap tahun ambi 300 (dan asumsi mahasiswanya lulus dalam 4 tahun) bisa sekitar 1:20… angka UKSW ya hitung pada skala UKSW.. dosen UKSW ada berapa? kalau mau main linier2an ya gampang aja kan jumlah total mahasiswa UKSW/jumlah total dosen…

    masalah finansial adalah juga masalah penting… cuma di negara2 kaya seperti di Eropa Utara atau Nordic Country macam Finland… jadi mahasiswa anda tidak perlu bayar uang kuliah… di negara2 kaya lain, masih ada porsi tanggungan mahasiswa… di Indonesia, kalau negeri juga masih dapat subsidi pemerintah.. walau kini tidak sedikit orang menuding komersialisasi pendidikan terjadi juga di PTN… bagaimana bagi universitas swasta? UKSW jika tidak salah bergantung sekitar 80-90% pemasukannya dari mahasiswa… ini riskan, tetapi ini kenyataan sampai hari ini… tetapi, sebagai UKSW tentu saya kira kita tidak boleh berpikir bahwa UKSW harus ‘jual murah’… jadi, ia masalah penting, tetapi bukan untuk tawar-menawar kualitas… cukuplah sudah di masa UKSW kesulitan di periode 1990an.. tidak sekarang..

    cuma ketika saya mengatakan ada masalah uncertainties dan keterbatasan resources… saya cuma mau mengatakan bahwa setiap keputusan manajerial yang perlu kehati-hatian… misalnya dalam menambah jumlah dosen (seperti yang masih saya bayangkan bagi FE)… juga dalam pengadaan fasilitas2… butuh manajemen investasi yang hati-hati… itu saja..

    jadi ini bukan soal batas – membatasi jumlah secara linier atau simpel… soal besaran total mahasiswa… UKSW seberapa sih? universitas swasta lain setara di UKSW bisa jadi jumlahnya mendekati 20000 mahasiswa, atau paling tidak 15000… uksw baru 11-12 ribu secara total… apa yang salah jika mahasiwa UKSW 25000? tidak ada, kalau ada banyak sekali program studi baru yang dibuka… tidak masalah jika rasio dosen – mahasiswa juga wajar… etc…

    sekali lagi, saya tidak ada belum bicara aspek lain dan kemungkinan2 solusi kita… ambil contoh, 12 ribu mahasiswa di kampus diponegoro sudah tampak kesesakan… setuju dengan akuarium penuh ikannya mas Yodie… jadi space kampus uksw masih cocok hingga 5000-6000.. di atas itu, sebetulnya sudah tidak cukup… cuma, saya tidak mau ngomong soal investasi pengadaan atau pengembangan kampus baru… tapi, pernah ada satu tim yang dibentuk rektor UKSW di tahun 2004/2005 yang diminta menyusun proposal pengembangan kampus baru UKSW… dan anda bisa cek bayangan seperti apa yang dipikirkan tim itu tentang kampus baru UKSW di zaman itu… jadi, sekali lagi, kita bisa bicara banyak hal.. ya sekedar untuk diskusi… toh ada hal-hal yang anda maupun saya tidak punya kontrol atasnya…

    Cuma, saya tetap salut dengan concerns anda berdua soal kualitas dan saya dukung itu… hanya saja, soal angka2, hitung-berhitung, dan informasi2 dasar atau dasar argumentasinya tolong dicek dulu… supaya klaim-nya memang berbunyi… concerns yang bagus, tapi tidak berdasar atau salah bukti kan bisa jadi percuma karena jadinya ‘salah tunjuk’…. Saya pribadi masih punya banyak catatan soal mutu… saya pribadi juga terus berpikir bagaimana cara untuk itu… ya kita pikir sama2… diskusi di sini… untuk jadi wacana warga kampus yang peduli apa yang terbaik bagi almamater-nya…

  45. Yulius says:

    PERDEBATAN
    Sang Guru tak mau berdebat dengan siapa pun, karena ia tahu
    bahwa yang dicari oleh “pendebat” adalah pembenaran atas
    keyakinannya, bukan Kebenaran.

    Suatu ketika Sang Guru menunjukkan kepada mereka nilai
    sebuah perdebatan:

    “Sepotong roti bermentega jatuh. Yang bermentega di sisi
    atas atau bawah?”

    “Tentu saja, sisi yang bermentega di bagian bawah.”

    “Tidak, sisi yang bermentega di atas.”

    “Ayo kita uji.”

    Sepotong roti diolesi mentega lalu dilempar ke atas. Jatuh.
    Sisi yang bermentega berada di atas!

    “Saya menang.”

    “Hanya karena saya membuat satu kesalahan.”

    “Kesalahan apa?”

    “Saya mengoleskan mentega pada sisi yang salah.” (Anthony de Mello)

  46. Yodie Hardiyan says:

    Untuk cepero:

    Jadi menurut pandangan saya, Mas Yodie nih seperti orang yang belum merasakan sepenuhnya menu yang enak di “warung UKSW”, jadi anda ini masih menunggu dengan bersungut-sungut dan melihat banyaknya yang antri di depan anda, bahkan anda mungkin ngomong “warung koyo ngene ki enake sebelah ngendi.., wis antri, larang sisan….”, dan Mas Yodie berpapasan dengan saya yang kebetulan habis makan, kekenyangan dan kebetulan mendengar sungutan mas Yodie, maka saya jawab “enak lo mas, jajalen, ra rugi kok njenengan ngantri, tapi nek njenengan selak ngeleh yo mending nggolek warung liane wae, sing ra antri, murah ning rasane yo mbuh…”

    Saya sudah merasakan yang enak di UKSW. Yang tidak enak, lebih banyak. Apa yang enak? Satu contoh: Perpusnya lumayan enak. Yang gak enak? Baca tulisan Akuarium saya.

    1. Akuarium kalau mau diisi ikan kan terserah pemiliknya, pemiliknya kan beli dari penjual ikan, jadi ikannya kan nggak punya pilihan mau hidup di akuarium mana.
    nah kalau kita di UKSW, kita tuh yang keluar duit dan kita punya pilihan mau kuliah di UKSW apa di AMA apa di QT, jadi kita tidak bisa menyalahkan pihak lain karena pilihan kita sendiri.

    Hehehe. Perumpamaan Anda: “pemiliknya kan beli dari penjual ikan”. Kalau pemilik UKSW adalah Yayasan, berarti yayasan beli mahasiswa ke orangtua lulusan SMA? OH!

    Tidak bisa menyalahkan pihak lain? Yang “jangan disalahkan” otoriter donk? Pernah dengar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia? Untuk apa itu? Atau begini: Anda beli susu kaleng, dan susu itu meracuni anak Anda, berarti jangan protes donk? Kan susunya dibeli dari hasil pilihan Anda? OH!

    @Yodie: sepengetahuan saya (kalau salah mohon dibenarkan), kita pertama masukkan udah diaturkan gaftar Alir Mata Kuliah soalnya kita kan babar blas nggak tau apa itu siasat?, apa itu mata kuliah?dsbnya, dan untuk gaftar alir selanjutnya kan terserah kita soalnya tergantung IPK kita kan?, saya masih bingung hubungan antara gaftar alir kacau dengan membludaknya mahasiswa???, tolong jelasin dong mas??

    Anda bisa jawab sendiri pertanyaan Anda. Pikirkan secara logis, untuk apa gaftar alir itu dibuat. Key? OH!

    Hubungan gaftar alir dengan membludaknya mahasiswa? Nih mas cepero: Mahasiswa banyak+dosen tak banyak, kelas jadi rebutan: gaftar alir muskil dipatuhi. OH!

    Untuk Neil R

    Terima kasih banyak! Kritik Anda cukup pedas, dekonstruksi dan memberi pencerahan. Soal data, itung-itungan, akan saya matangkan lagi di tulisan berikut. Terima kasih bung. Ini kritik yang benar-benar saya butuhkan. Bila Anda bilang ini sebagai apologi penulis, saya tak malu mengakuinya. Lebih baik saya mencoba bertindak, daripada tidak sama sekali. Ada sedikit yang saya lakukan, daripada tidak sama sekali.

    Saya masih mempertanyakan ini Bung, tolong dijelaskan:

    Saya jadinya bingung juga akhirnya dengan Anda… pertama, siapa sih yang memilih masuk di UKSW? Siapa juga yang memilih masuk Fakultas Ekonomi… masuk FE pun, sejak pertama kali mendaftar, siapa yang memilih masuk Akuntansi, Manajemen, atau Ilmu Ekonomi? Semua jawabannya jelas adalah mahasiswa yang memilih… Itulah mengapa saya katakan mahasiswa telah memilih sesuatu sesuai apa yang dirasa dibutuhkannya… mengapa memilih masuk FE dan Manajemen…, bukannya FSM Kimia, Teknik Elektro Komputasi, Seni Pertunjukan Musik Gereja dll… Salah satu kemungkinannya karena ingin belajar dan kemudian bekerja di dunia manajemen… entah mau jadi praktisi.. apakah di dunia organisasi bisnis atau organisasi lainnya.. atau berkarya di dunia akademik… mahasiswa yang memilih atau memutuskan, mestinya ia jugalah yang telah memikirkan itu…

    Saya tahu maksud Anda berkenaan dengan “needs”. Tapi, itu terlalu normatif. Saya tak pungkiri itu dalam pandangan saya. Positifnya: banyak gambaran mahasiswa yang masuk fakultas adalah seperti yang saya tuliskan diatas: Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!”

    Nah itu dia. Kenapa yang “seperti itu” (termasuk saya, pastinya) harus lolos di UKSW. Masuk di UKSW itu terlalu mudah. Tiada seleksi ketat. Darimana kesimpulan “pemilihan berdasarkan needs” kalau cara masuk kampus, tak mencerminkan apapun? Saya sih sudah tercebur, dan kepalang basah, mungkin perlahan melebur. Yang lain? Belum tentu sadar telah basah. Bung Neil, saya memuji bahwa Anda kaum intelektual, dan mungkin lingkungan Anda intelektualis semua. Namun, pandangan terkadang jangan kabur bahwa everything is okay karena pengaruh atmosfir lingkungan. Dibalik kaum intelektual Satya Wacana, seperti Anda, terserak juga mereka yang “bingung”. Anda sebagai dosen, tahulah tipe mahasiswa macam apa itu.

    Kenapa tidak dipaketkan saja? Kalau mahasiswa mau ‘paket’, kan sudah ada gaftar alir… kalau semua mahasiswa minta dibimbing ya maka gaftar alir adalah pembimbingan terbatasnya.. di gaftar alir sudah ada berapa sks per semester, nama mata kuliah… mereka tinggal ngatur kelas yang mana akibatnya hari apa, jam berapa, di kelas mana, dosennya siapa… jadi kalau mahasiswa mau cukup normal2 saja kan tidak ada masalah.. karena memang fakultas menjamin bahwa mata kuliah yang terdaftar di gaftar alir akan dibuka… kalau ternyata ada yang tidak dibuka.. anda berhak memintanya… apalagi yang wajib2…

    Bung Neil, gafttar alir itu kan jelas. Berapa sks per semester dan juga matakuliahnya. Bukankah gaftar alir itu sesuatu yang ideal? Sebagai contoh, tak perlu jauh-jauh, saya misalnya, mau ambil matakuliah X yang tertera di gaftar alir…eh, tidak dapat kelas. Kok bisa? “siapa cepat dia dapat”. Apa karena dosen sedikit? Nah, andaikata, “needs” yang Anda maksud adalah matakuliah X tersebut bagi saya, bagaimana donk? Minta kelas? Kok tetap tidak kebagian ya? Alamak.

    Saya pikir, solusinya adalah pemaketan matakuliah hingga tahun kedua. Setelah itu, baru sesuai konsentrasi dan pilihan juga minor. Jadi mahasiswa tak bingung dalam siasat. Dan ada sistematika bila ingin matakuliah “lebih banyak” karena IPKnya tinggi. Sistematika? Ya, disediakan matakuliah yang khusus (khusus, semisal di konsentrasi/pilhan/minor dan tidak tercakup dalam gaftar alir). Bisa diambil mahasiswa, semisal, ber-IPK >3-3.5 (dengan catatan: tanpa harus merugikan mahasiswa lain, terlebih mahasiswa yang memang jatah waktu dan kesempatan sesuai gaftar mengambil matakuliah tersebut). Begitu.

    Untuk perumpaan, makna rasio, logika dan ibaratisme dalam tulisan saya: saya sekali lagi harus mengakui, otak ini perlu dilatih lagi. Terima kasih banyak bung, komentar Anda membantu saya. Saya harus belajar dari sejarah, yaitu hari ini yang akan menjadi masa lalu, saat saya membaca tanggapan Anda.

    Untuk Opha:

    Mungkin orang lain akan menilai saya adalah seorang yang pesimistis dengan kebenaran. Tapi ini adalah bagian dari kesadaran saya, bahwa kebenaran adalah sesuatu hal – perihal yang harus terus diupayakan.

    Dan perlu anda ingat, apa yang Anda ucapkan juga bisa dikategorikan sebagai kebenaran, juga pembenaran, walau Anda tidak sadar dan menganggapnya.

    Memang, kebenaran itu abstrak dan absurd untuk diadakan menjadi ada walau itu tidak ada. Tapi, bagi saya, kebenaran adalah bagaimana cara memandang. Tapi akan terus berjalan dialektiknya, dan suatu saat saja bisa berubah. Matur suwun, bung Opha.

  47. STR says:

    Untuk Cepero,

    BBCode bisa dipakai di kolom komentar web ini, hanya saja perlu diubah ke bentuk HTML terlebih dahulu. Biasanya, karakter “[” atau “]” diganti dengan “< " atau ">“. Untuk lebih jelasnya, silakan tengok penjelasan Wikipedia tentang BBCode dan HTML di sini ==> http://en.wikipedia.org/wiki/BBCode

    Trims.

  48. Theofransus Litaay says:

    Mas Yodie, mutu pendidikan Indonesia memang sedang terpuruk. Itu juga yang anda rasakan di UKSW, karena UKSW toh bagian dari masyarakat Indonesia itu. Kekritisan anda menjadi benar, karena keterpurukan itu tidak bisa dijadikan excuse bagi universitas yang menyadari bahwa peningkatan mutu adalah masalah survival di masa depan. Kalau pada jaman dahulu UKSW pernah menjadi pusatnya program pengembangan pendidikan tinggi nasional-nya departemen p dan k (pada masa itu), mengapa sekarang tidak bisa? kalau UKSW bisa membanggakan diri sebagai salah satu universitas swasta yang menghasilkan guru besar sendiri (tanpa membeli atau menyewa dari luar), mengapa sekarang tidak bisa? Ini yang harus menjadi perenungan kita bersama dan dicari jalan keluarnya.
    Tentunya bukan tugas mas Yodie untuk mencari jalan keluarnya, tugas mas Yodie adalah menulis kritik semacam ini sehingga memunculkan kesadaran bersama (karena mahasiswa seperti mas Yodie berHAK atas pendidikan yang baik, sebagaimana amanat undang-undang sehingga berhak untuk menuntut pemenuhan hak tersebut).
    Masalah gaftar alir dll adalah masalah manajemen pendidikan. Kelas yang tidak mencukupi juga persoalan manajemen, pertanyaannya sejauh mana persoalan ini diantisipasi secara manajerial? Sebenarnya dalam perspektif manajemen pendidikan, itu adalah masalah-masalah yang kelihatan di permukaan. Yang esensial justru tidak tampak di bawah permukaan, masalah apakah itu? itulah yang perlu digali dan dicari solusinya.

  49. Neil Rupidara says:

    Halo Mas Yodie,

    Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda… saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi… cuma, saya masih mau mengajak kita untuk menggunakan ruang2 di mana kita (khususnya mahasiswa) masih bisa memilih atau memutuskan karena lokus keputusan masih ada pada mahasiswa… jadi, mahasiswa tidak boleh merasa tidak berdaya.. Jika pun saya boleh melihat dari titik waktu sekarang ke masa lampau… saya juga memilih FE dan Manajemen bukan karena itu pilihan terbaik saya.. namun, saya toh harus konsekuen dengan pilihan saya sendiri.. demikian juga bagi siapapun mahasiswa yang memilih karena diminta orang tuanya… dalam kasus ini, saya pernah punya anak bimbingan skripsi yang setelah lulus baru mengungkapkan itu pada saya… tapi, bagi saya dia toh telah konsekuen “bertanding dengan benar”, sekalipun itu bukan yang sesungguhnya ia inginkan… jadi, don’t blame others jika itu adalah pilihan atau masih bisa dikatakan pilihan kita, sekalipun karena pengaruh atau bahkan paksaan orang lain..

    Di komentar sebelumnya saya telah mengatakan (apologi juga?) tentang mengapa tampak selalu kurang tersedia jumlah kelas yang cukup… jujur, sebagai administrator pada masa tertentu… di atas perhitungan2 yang relatif sudah di atas kebutuhan normal, perhitungan kami mestinya jumlah kelas yang ditawarkan melebihi jumlah mahasiswa yang diprediksi membutuhkannya… hanya, saya menilai (klaim saya) ada pola permintaan yang sulit dibaca begitu saja dengan misalnya berdasarkan gaftar alir (mata kuliah pada tahun ke berapa, semester ke berapa, berapa jumlah mahasiswa pada angkatan yang secara normal ada pada tahun/semester tersebut, serta prediksi prosentasi kegagalan mahasiswa pada periode sebelumnya yang butuh mengulang mata kuliah tersebut)… karena itu, kami pun menyediakan mekanisme permintaan pembukaan kelas tambahan untuk mengatasi mismatch permintaan dari penawaran awal… namun, saya setuju dengan anda bahwa ternyata tidak semua permintaan disetujui.. namun, jelas cukup banyak yang disetujui dan itu dilakukan yang cukup hati-hati… para kaprogdi lazimnya diminta untuk mengecek dan menilai itu secara hati-hati… termasuk melihat kembali dalam rencana tahun/semester depan berapa banyak kelas yang bakal dibuka… jadi, prinsipnya keputusan tambahan kelas diberikan atau tidak dicoba dibuat dari perspektif trend lampau, kondisi permintaan semester tersebut, dan rencana penawaran periode berikutnya… hanya saja, maaf besar jika masih saja ada cukup banyak mahasiswa yang kecewa… termasuk anda?

    Yang cukup unik di FE sejak 2004 yang mulai memerkenalkan mata kuliah pilihan bebas (di 2004 cuma 2 sks, di 2007 antara 12 – 20, termasuk kalau ngambil minor)… fenomena yang saya lihat adalah mahasiswa FE kembali ‘berbelanja’ di pasar FE sendiri… padahal dia punya pilihan terbuka se-UKSW… memang kami waktu itu sempat menyoal mekanisme RMK-nya yang masih sulit diakomodasi oleh SIASAT dan urged BTSI dan BARA untuk bisa cepat meng-upgrade SIASAT yang memungkinkan mahasiswa bisa melihat dan memilih opsi mata kuliah dari fakultas lain untuk merealisasikan kurikulum yang seperti itu…

    Jelas sekali bahwa jika mahasiswa FE kembali memilih dari dalam FE, maka mata kuliah tertentu yang tadinya cukup kapasitasnya untuk jatah mereka yang seharusnya mengambil pada semester tersebut bisa jadi tidak cukup karena dikerubuti oleh mereka yang “membeli karena kepanikan”… apalagi kalau mereka angkatannya lebih senior dan berkesempatan RMK duluan… kasihanlah yang di bawahnya… cuma sekali lagi… bagi saya, “protes” lah jika yang berhak tidak mendapat haknya… kalau perlu temui langsung pejabat terkait… desak LK untuk juga ikut mendesak agar kelas tersebut harus ditambah karena memang adalah jatah mereka yang mau mengambil tetapi tidak kebagian… ingat, kita tidak jarang hidup dalam kondisi informasi yang asimetrik.. ambil contoh, biasanya saya selalu pantau SIASAT untuk melihat kondisi kelas kurang etc agar siap2 kontak kaprogdi kalau butuh penambahan kelas.. dan teman2 kaprogdi juga ada yang aktif memantau… tapi, kami tidak selalu bisa menangkap fenomena riil dengan cermat sehingga meleset juga assessment kami dan akhirnya juga keputusan kami… jadi, dalam konteks yang asimetrik begitu, ya mahasiswa juga harus ‘intervensi’ … mendesak permintaannya agar diterima..

    Soal masih cukup mudahnya lolos UKSW… ini hal yang terus menjadi perhatian serius kita semua.. pada kasus kami di FE jelas telah diupayakan dinaikkannya standar nilai masuk dari tahun ke tahun.. cukup unik, ini justru dilakukan setelah FE ada pada trend mahasiswa menurun… bagi saya ya pertimbangannya sederhana… justru declining, kita harus berani banting trend masa lampau untuk membentuk trend baru.. mas Yodie bisa dicek data kenaikan standar nilai masuk, walau jelas menaikkannya pun harus dilakukan dengan perhitungan hati-hati untuk tetap menjami ketersediaan mahasiswa yang cukup di sana FE terlanjur sudah ‘big size’… saya berharap trend menaikkan nilai masuk terus terjadi sampai pada batas minimum yang boleh dikata kompetitif dan benar-benar merefleksikan mutu…

    Namun, jelas kondisi persaingan hari ini jelas berbeda dibanding awal 90an dan sebelumnya… di masa-masa itu, bahkan pendaftaran mahasiswa baru ditutup karena sudah melebihi jumlah pendaftar yang diharapkan… dan, FE di zaman itu, jelas punya ruang memilih yang besar… rasio mahasiswa yang diterima dari yang mendaftar jauh lebih baik… tapi, sekali lagi, dengan trend sejak medio 2000an, saya pribadi berharap FE UKSW bisa lebih kompetitif ke depan..

    Perjuangan ke arah praktik pengajaran dan pembelajaran yang bermutu dan student centered masih panjang… “bensin” kita harus cukup untuk perjuangan panjang tersebut… dan, salah satu sumber bensin itu adalah dari Anda para mahasiswa… karena, jangan sungkan2 untuk speak up… kalau perlu demonstrasi sekalian ha ha ha ha ha…

  50. Yodie Hardiyan says:

    Untuk Neil R

    Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda…saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi…

    Saya juga berterimakasih banyak. Saat saya membaca kritik dari Anda, saya dapat pelajaran banyak. Pedas memang, tapi dekonstruktif. Saya sempat merenung semalaman lho, Bung! Saya jadi teringat di suatu kesempatan dengan Tony D Widiastono (Kepala Desk Harian Kompas), yang sempat mempertanyakan tulisan saya yang penuh kenormatifan, tersembul banyak klaim walau gagasannya menarik.

    Memang benar, kritik adalah salah satu alat mantap dalam perihal dialektik diri. Terus kritik saya Bung! Dan saya kalau bisa, akan kritik balik. Di suatu kesempatan, Bu Konta Intan Damanik juga pernah bilang kepada saya, hubungan dosen-mahasiswa dahulu begitu dekat. Mungkin, kedekatan bisa dimulai dari saling kritik, tanpa harus menjadi pemegang kebenaran tunggal dalam hubungan mutualisme.

    Semoga saya sebelum lulus dari FE UKSW, bisa bertemu Anda, setidaknya hanya untuk berjabat tangan. Terima kasih.

    Salam. Ditunggu kritiknya lagi!

  51. Theofransus Litaay says:

    ini ada link menarik tentang relasi dosen-mahasiswa: http://www.as.wvu.edu/~mbb/teaching/teacher.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *