Universitas Kristen Satya Wacana itu unik. Mahasiswanya belas ribuan, dari banyak daerah pula. Maklum, punya nama besar. Terkenal!
Terkenal, pasti punya sejarah. UKSW pernah begini begitu. Sejarah ungkapkan fakta dan data, disimak di hari ini. Sejarah berbuah cerita. Berfungsi refleksi, identitas, prestis, bahkan promosi.
Nama besar dan terkenal, dampaknya positif. Lulusan sekolah menengah atas atau sederajat, berduyun-duyun mereken UKSW sebagai pilihan. Laris manis. Salatiga banjir mahasiswa.
Walau universitas di kota mini, siapa tak kenal? Tak henti sanjungan dibombastiskan. UKSW termasuk lima puluh universitas Indonesia yang dipromosikan di luar negeri. Wow?
Pada suatu kesempatan di Cisarua, Bogor, saya berbincang dengan pengurus sebuah organisasi kewartawanan Indonesia. Tahu saya dari UKSW, ia cukup antusias. Ngobrol-ngobrol seputar keharuman UKSW, yang di masa lalu. Maaf, bukan yang sekarang, 2008.
Nama tokoh yang tersembul dalam obrolan berkisar Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan George Junus Aditjondro. Tak bisa dipungkiri, tak sedikit kontribusi tiga nama di atas terhadap jagat intelektualitas bahkan demokrasi. Ada ahli sosialisme, bahasa, dan media. Terlepas dari nama-nama itu pun, berdasar kisah yang beredar, dulu (era 60-an hingga 90-an) UKSW itu “tempat pendidikan banget.” Asoy geboy pokoknya.
Tapi, itu dulu. Sekali lagi, dulu!
Kisah harum prestasi, digdaya, dan kepal tangan berasal dari semprotan wewangian cerita lampau. UKSW beruntung punya sejarah hebat.
Yang jadi pertanyaan, apakah UKSW sekarang laku dan diminati karena sandaran romantika? Hanya berjubah nama besar ciptaan sejarah? UKSW “hebat” adalah dulu, bukan sekarang?
Bila ya, berarti kasihan. Banyak mahasiswa UKSW tertipu. Salah pilih perguruan tinggi. Termasuk saya, dan mungkin, Anda. Kalaupun benar pilih, mungkin dirundung kecewa, gelisah, dan tak sesuai harapan.
“Kampus kok kayak begini ya? Katanya berkualitas, kok matakuliah rebutan? Katanya fasilitas lengkap, kok internet antre? Kampusnya teduh, tapi kok sumpek?”
Terperangkap gombal tutur kisah kampus “Indonesia Mini.” Berakibat semuanya berkhayal manis-manis, harapkan UKSW berikan yang tak mungkin. Macam khayal dan harap komunisme boleh diperjuangkan di Pemilu 2009 layaknya Pemilu 1955. Hei, jauh panggang dari api!
Sadar tak sadar, calon mahasiswa memilih kampus untuk “masa depan,” terutama diri sendiri. Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!”
Tujuan kuliah adalah agar individu diolah oleh ahli olah. Bila ahli olah tak pintar mengolah, tandanya tak berkualitas. Hasil olahan jadi runyam.
Apakah itu artinya UKSW menjauh dari intelektualitas?
Misal, di media massa, goresan Satya Wacana tertulis bila “mahasiswa juara kompetisi olahraga.” Tak masalah dan tak lucu. Tapi olahraga hanyalah ekstrakurikuler, bukan intrakurikuler. Tak ada fakultas olahraga di UKSW. Tingkah ini dikuatkan sebuah fakultas yang tak malu usung basket sebagai alat promosi, bukan akademiknya. Yang dibanggakan, jarang berupa penelitian, penemuan, atau setidaknya tulisan singkat di koran!
Seorang dosen yang pernah berkoar agar mahasiswa menulis di koran, sampai detik ini tak pernah saya lihat pemikiran beserta namanya tercetak di koran.
Dosen kencing berdiri, mahasiswa kencing berlari.
Mbludak!
Semasa SMA, kerap saya dengar UKSW didengung masyarakat sebagai universitas link and match amboi. Wawasan pragmatisnya: kuliah, mudah raih pekerjaan. Juga (katanya) sarjana UKSW diincar tempat kerja tersohor. Begitu?
Gampang dapat kerja, apalagi bergaji besar, bukan rejeki nomplok mendadak dari langit. Ada proses. Perlu timba ilmu tak sedikit saat kuliah. Analoginya, sebelum terjun di medan perang (dunia kerja), siapkan senjata (kuliah) dahulu.
Siap senjata, perlu matang pikir. Prediksi, andai musuh (lulusan universitas lain) punya pisau, melawannya siapkan yang lebih mematikan. Siapkan pistol. Pistol diisi peluru mesiu. Mesiunya, ilmu.
Ilmu di kampus, jelas utama didapat melalui kuliah. Mahasiswa berhak ikut kuliah, karena penuhi kewajiban bayar SPP dan SKS. Logikanya, terjalin “simbiosis mutualisme” kampus-mahasiswa. Tapi apa nyana?
Mahasiswa rebutan matakuliah. Mahasiswa tak dapat kelas. Gaftar alir runtutan matakuliah tak terpatuhi.
Ini gamblang terjadi di “fakultas ganas” macam Fakultas Ekonomi atau Fakultas Teknologi Informasi. Di lembaga pendidikan setenar UKSW, tampaknya berlaku pola “siapa cepat, dapat matakuliah.” Yang dapat senang, yang tak dapat? Kuliah sama-sama membayar, namun jibaku rebutan matakuliah.
Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40. Dosen mengajar paralel. Sumber daya dosen minim, diperah kampus untuk layani mahasiswa yang tak sedikit.
Dosen tidak lagi memperkaya ilmu, tetapi lelah karena harus mengajar banyak kelas. Ini belum termasuk mengerjakan “proyek” lain di luar perguruan tinggi. (Nurudin, 2007)
Korbannya, ya mahasiswa dan dosen. Bukan pengurus yayasan. Masih mengharap kualitas pendidikan “yahud” dari universitas swasta terbaik nomor sembilan se-Indonesia ini (versi Globe Asia, 2007)? Jangan-jangan, bila majalah lain bikin jajak pendapat, UKSW tak masuk 100 besar?
Saking banyaknya mahasiswa, mungkin dosen bingung beri nilai. Hingga indeks prestasi (IP) dapat dipertanyakan subtansinya. IP cerminkan mahasiswa? IP tinggi berarti cerdas? IP rendah sama dengan tak pintar? Ponten “A” pada matakuliah filsafat menandakan mahasiswanya paham filsafat? Belum tentu.
Cek saja. Tanyakan materalisme, dialektika, historis Karl Marx atau cogito ergo sum Rene Descartes pada pemilik nilai A di matakuliah filsafat. Sangsi, dari 100 mahasiswa, kurang dari 10 yang paham. Jangan-jangan, pemilik nilai C atau D yang lebih mudeng.
Atmosfer kompetitif nihil. Persaingan didukung kejujuran yang dapat melecut gairah belajar tak terbangun. Artinya, mahasiswa terjebak dalam kesemuan: mendapat IP tanpa standarisasi jelas. Inilah universitas bernama besar.
Mungkin, agenda kampus raih mahasiswa sebanyak-banyaknya harus tercapai. Urusan matakuliah dan terbatasnya staf pengajar, apa peduli?
Akar masalah: jumlah mahasiswa yang mbludak!
Mahasiswa berhak
Tanya: Apa bedanya manusia belajar di hutan liar dan di kampus?
Jawab: Di hutan, manusia belajar tanpa diarahkan. Tak ada kurikulum atau silabus, apalagi biaya. Di kampus, ada lembaga yang dibayar untuk atur, urus, ayomi, layani, dan bimbing mahasiswa. Dan mahasiswa bayar untuk itu! Bukan dilepas macam anak monyet yang mencari pisang di hutan.
Lain cerita tempat belajar berbasis kebutuhan seperti sekolah alternatif Qaryah Thayyibah di daerah Kalibening, Salatiga. Ceritanya, seorang individu bebas pilih disiplin ilmu yang disukai atau dirasa butuh oleh subjek didik.
UKSW adalah lembaga pendidikan formal berbasis disiplin ilmu. UKSW sudah dibayar, mengapa mahasiswa tak “dibayar” balik? Dimana mutualismenya?
Mahasiswa berhak menuntut, bukan begitu? Atau harus diam, nurut, pura-pura tak tahu, cengar-cengir, tundukkan kepala, dan silangkan tangan di belakang?
Jangan biarkan mahasiswa pontang-panting urus tetek bengek yang (mestinya) bukan urusannya. Rebutan matakuliah dan pusing fasilitas. Biarkan mahasiswa tenang berkuliah serta aksesorisnya: baca buku, organisasi, diskusi, belajar, dan menulis.
Nikmat bercinta dengan ilmu. Das sein yang bukan utopis.
Selamat datang
Hidup bermahasiswa tak lagi seindah bayangan. UKSW yang indah, visualisasi penuh bebungaan dan cuplikan kliping berita koran tentang hebatnya UKSW di brosur promosi, lahirkan kesemuan.
UKSW ibarat akuarium berkapasitas maksimal 100 ikan kecil, tapi diisi 300 ikan besar. Ikan-ikan berebut makanan dan megap-megap bernapas. Kondisi jadi gelagapan. Segalanya ruwet. Kacau.
Bagaimana bila sistematika penerimaan mahasiswa baru dirubah? Kurangi mahasiswa. Sistem sortir. Lewati seleksi yang bukan pantas-pantas belaka. Standarisasi pendidikan, mutu akademik, dan formalisme fungsional jelas nan tegas harus ditegakkan.
Kasihan mahasiswa dan dosen. Daripada dahsyat kuantitas, loyo kualitas? Seorang dosen senior UKSW yang pemikirannya kerap hiasi media, pernah berujar, “Small is beautiful.” Saya mengamini, kecil itu indah!
Mungkinkah, wahai Para Petinggi Satya Wacana yang Terhormat?
Jelang tahun akademik 2008/2009, ikan-ikan baru, segar dari “penangkaran” (SMA/sederajat), siap ceburkan diri ke akuarium. Tambah sesak, padat, dan bersiap hanyut dalam keruh akuarium. Hati-hati, atur nafas.
Selamat datang, mahasiswa baru angkatan 2008!
YODIE HARDIYAN
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW
@ Yodie : Yup…untuk beberapa hal saya sependapat dengan pandangan serta nalar yang kamu ajukan. Ditambah dengan keberanianmu mengemukakan pendapat tentang “kebenaran”. Tetapi, mengenai kebenaran fungsional kita perlu hati-hati mengatakan bahwa itu merupakan kebenaran hasil kesepakatan universal (dalam jurnalistik pun lebih dianjurkan dengan melakukan pendekatan kebenaran ini).
Karena ketika kita berbicara tentang kesepakatan “universal” (kesepakatan dalam bentuk apapun), tampaknya kita harus melihat juga proses kesepakatan tersebut, situasi-kondisi yang terbangun dalam kurun waktu tertentu serta dinamika sosial yang terbangun pada peradaban-peradabannya. Motor penggerak dialektika pasti ada didalamnya dan hal itu merupakan sintesa-sintesa yang mungkin saja menelurkan tesis dan antitesis selanjutnya.
Selain itu, benar adanya jika kita memperdebatkan keberadaan Tuhan (seperti yang karl marx ajukan). layaknya kita memperdebatkan paham idealisme dan paham materialisme. Wow…rentan dengan konflik dan bahkan bisa saja kontradiksi ini menghasilkan kesadaran “meniadakan nyawa orang lain dianggap sah” (seperti kebenaran atas kesepakatan universal tadi).
Artinya kita ada (lahir, tumbuh/berkembang, dan berakhir) tidak lepas dari kontradiksi, ketika kita masih berpijak diatas muka bumi ini kita akan berhadapan dengan pembenaran-pembenaran. Catatan penting : Pembenaran disini jangan serta merta di konotasikan, seperti penguat alasan, atau dalih, atau apologi yang tidak berdasar.
Mungkin orang lain akan menilai saya adalah seorang yang pesimistis dengan kebenaran. Tapi ini adalah bagian dari kesadaran saya, bahwa kebenaran adalah sesuatu hal – perihal yang harus terus diupayakan.
Sedikit berkomentar masalah pendidikan dan kritik-konstruktif dari yodie bagi penyelenggaraan pendidikan, saya dapat merasakan kegelisahan-kegelisahan anda menyangkut klausul ini. Kalau mungkin saya terlalu mendramatisir masalah, kegelisahan yodie hampir mirip seperti yang dirasakan oleh ivan illich ataupun paulo freire pada masanya.
Tambahan saja, mungkin saja penulis sudah membaca tentang Ideologi-ideologi Pendidikan, pengarang : William F. Oniel. Bagaimana konstruksi pendidikan berdasarkan ideologi serta pendekatan-pendekatan apa yang dibangun didalamnya. Memang awalnya dan seharusnya pendidikan merupakan wahana untuk pembentukan manusia yang berkebajikan dan bebas nilai (kepentingan). Tetapi pada prosesnya, ternyata kepentingan-kepentingan tertentu sulit untuk dipisah kan darinya.
Dikaitkan dengan diskusi kita, Kalau kita mau memandang lebih jauh dan mengupas lebih dalam lagi, ada akar permasalahan yang harus kita cerabut dari lahan pendidikan ini. Tidak serta merta kita menunjukkan bahwa permasalahannya ada di infrastruktur ataupun pada teknis pelaksanaan yang dijalankan ataupun soal-soal lain. Dikawatirkan kita hanya berdiskusi dan berdebat pada area kulit saja.
Terakhir kali, Jujur saya sangat mendambakan orang-orang seperti penulis duduk dalam lembaga kemahasiswaan (LK), serta memformat lembaga kemahasiswaan menjadi lembaga yang dinamis dalam menggelontorkan pikiran-pikiran yang kritis-konstruktif bagi lembaga tercinta ataupun sekitaran (tanpa maksud mendiskriditkan fungsionaris yang sudah ada dan berkinerja sekarang). Saya sangat yakin itu.
Yodie:
Dosen dan ruang juga terbatas. Kelas kuliah berjubel. Rasio mahasiswa dosen di kelas bisa mencapai 1:40.
@Yodie:
saya kira benar perkataan bung obed, UKSW nih semisal warung yang luaariss banget, soalnya masakannya enak bahkan pengunjungnya membludak bahkan kadang ngantri sampai panjang meskipun dengan harga mahal (mis: nasi goreng pak Joko Patimura), dan warung itu mementingkan mutu makanan dan laba yang tinggi, orang yang “mau beli” tu kadang mengomel karena antrinya dan karena sesaknya karena tempatnya yang sempit, tapi orang yang sudah makan dan keluar dari warung akan selalu terlihat puas dengan rasanya dan tidak akan peduli lagi dengan pengorbanan yang di lakukan untuk mendapatkannya. Jadi menurut pandangan saya, Mas Yodie nih seperti orang yang belum merasakan sepenuhnya menu yang enak di “warung UKSW”, jadi anda ini masih menunggu dengan bersungut-sungut dan melihat banyaknya yang antri di depan anda, bahkan anda mungkin ngomong “warung koyo ngene ki enake sebelah ngendi.., wis antri, larang sisan….”, dan Mas Yodie berpapasan dengan saya yang kebetulan habis makan, kekenyangan dan kebetulan mendengar sungutan mas Yodie, maka saya jawab “enak lo mas, jajalen, ra rugi kok njenengan ngantri, tapi nek njenengan selak ngeleh yo mending nggolek warung liane wae, sing ra antri, murah ning rasane yo mbuh…”
Yodie:
Di suatu obyek wisata, yang sangat asing bagi si turis, guide berfungsi mengarahkan turis: “ini lho tempat yang eksotik dan bla bla bla”. Guide mengarahkan, menerjemahkan bahasa dan tetek bengeknya.
Bayangkan: turis di sebuah tempat yang tak dikenalnya, tak diketahui tata bahasanya, disuruh berjalan-jalan sendiri. Ya, kesasar!
@ Yodie: saya bingung denger perumpamaan di atas, soalnya setahu saya di Pulau Dewata turis tu dikasih guide oleh biro wisata atau hotelnya, jadi pasti tahu bahasa si turis, dan kalau turisnya kesasar karena jalan sendiri tu ya bodohnya si turis, karena aturannya dia harus mengikuti guidenya, namanya guide tu kan PEMANDU jadi seperti panduan jalan bagi turis jadi meskipun si turis bayar banyak untuk sewa Guide tapi dia juga harus ikut aturan si guide, jadi kalau turisnya mau jalan sendiri silahkan…kesasar tanggung sendiri. jadi mungkin Mas Yodie sebagai mahasiswa yang baik tahukan artinya abstraksi di atas?
Yodie:
Jangan lepas mahasiswa! Adakan PAKET MEKANISME PENGAMBILAN MATAKULIAH! Dengan apa? Penuhi hak-hak mahasiswa mendapat kelas. Caranya? Jangan biarkan GAFTAR ALIR kacau! Lho, apa sih akar masalahnya? Jumlah mahasiswa membludak!
@Yodie: sepengetahuan saya (kalau salah mohon dibenarkan), kita pertama masukkan udah diaturkan gaftar Alir Mata Kuliah soalnya kita kan babar blas nggak tau apa itu siasat?, apa itu mata kuliah?dsbnya, dan untuk gaftar alir selanjutnya kan terserah kita soalnya tergantung IPK kita kan?, saya masih bingung hubungan antara gaftar alir kacau dengan membludaknya mahasiswa???, tolong jelasin dong mas??
Yodie:
Cepat atau lambat, akuarium yang terlalu penuh diisi ikan, akan terlihat jelek, kualitas hidup rendah dan bukan tak mungkin: HANYA SISAKAN NAMA. Lho?
Ya, ikannya mati semua, perang rebutan makanan. Bila Jayabaya adalah manusia, dan setiap manusia adalah egaliter, dan bolehlah kita manusia ramalkan: suatu kehancuran.
@Yodie:
Sya punya masukan kalau jangan pake Akuarium gimana?, soalnya nggak cocok sebagai penggambaran dari UKSW, alasan saya:
1. Akuarium kalau mau diisi ikan kan terserah pemiliknya, pemiliknya kan beli dari penjual ikan, jadi ikannya kan nggak punya pilihan mau hidup di akuarium mana.
nah kalau kita di UKSW, kita tuh yang keluar duit dan kita punya pilihan mau kuliah di UKSW apa di AMA apa di QT, jadi kita tidak bisa menyalahkan pihak lain karena pilihan kita sendiri.
2. kalau di Akuarium kan ada yang mati rebutan makanan, itu kan karena si ikan nggak bisa ngomong sama pemiliknya, sedangkan kita kan bisa ngomong ke dosen/wali studi kalau kehabisan ruang, asal IPK kita cukup, ya nggak…?
@Moderator:
kita bisa pake BB COde nggak to? soalnya kan kita juga pengen menggaris bawahi/ menebali yang mungkin penting, tolong petunjuknya.
Thanks
Mas Yodie…
Saya jadinya bingung juga akhirnya dengan Anda… pertama, siapa sih yang memilih masuk di UKSW? Siapa juga yang memilih masuk Fakultas Ekonomi… masuk FE pun, sejak pertama kali mendaftar, siapa yang memilih masuk Akuntansi, Manajemen, atau Ilmu Ekonomi? Semua jawabannya jelas adalah mahasiswa yang memilih… Itulah mengapa saya katakan mahasiswa telah memilih sesuatu sesuai apa yang dirasa dibutuhkannya… mengapa memilih masuk FE dan Manajemen…, bukannya FSM Kimia, Teknik Elektro Komputasi, Seni Pertunjukan Musik Gereja dll… Salah satu kemungkinannya karena ingin belajar dan kemudian bekerja di dunia manajemen… entah mau jadi praktisi.. apakah di dunia organisasi bisnis atau organisasi lainnya.. atau berkarya di dunia akademik… mahasiswa yang memilih atau memutuskan, mestinya ia jugalah yang telah memikirkan itu…
Di salah satu tanggapan saya atas diskusi2 kita ini saya pernah menyinggung juga bahwa mas STR meminta mahasiswa diberi kebebasan memilih dan menuntukan apa saja mata kuliah yang ingin distudikannya karena mereka diasumsikan sudah dewasa dan bisa memilih apa yang dibutuhkannya… Sekarang saya duduk di atas asumsi itu, mas Yodie justru menghindar dari saya… saya dulu katakan, jangan mudah bandingkan dengan QT yang berada di aras SMP dan SMA karena di aras itu lazimnya siswa belajar IPA, IPS, Agama, Olahrga, Kesenian… so many things kan? Jadi kalau Anda bangga siswa SMP/SMA QT bebas memilih apa dan bagaimana ia bisa pelajari hal yang disukainya.. maka sekarang saya balik mengatakan, di atas pandangan seperti di atas… mahasiswa justru sudah lebih maju dalam memilih sebelum ia jadi mahasiswa atau untuk menjadi mahasiswa… sejak awal ia misalnya memilih FE, bukan FSM… tidak ingin belajar Fisika, Kimia, atau Matematika, atau Statistika sebagai core-nya tapi ingin belajar ekonomi… ia ingin belajar Manajemen bukan Ilmu Ekonomi.. jadi, mestinya ia telah sadar exclude apa yang tidak ingin dipelajari.. dan mengarahkan apa yang dipelajarinya…
Di zaman internet beginian, informasi tentang apa itu Ilmu Ekonomi dan bahkan ranting keilmuannya pun bisa ditemukan.. jadi, ketika memilih, seorang calon mahasiswa sudah bisa memersiapkan diri atau mengetahui apa yang bakal dipelajarinya… Jika webpage FE tidak bermasalah seperti sekarang, di sana sudah ada gambaran tentang setiap program studi, termasuk gambaran kurikulumnya… jadi, setiap calon mahasiswa bisa mengetahui binatang apakah progdi manajemen itu? Saya pun ketika mencari universitas untuk saya berstudi, saya mencoba aktif mencari tahu dan memahami sampai batas tertentu universitas macam apa, siapa di dalam sana, keahliannya apa.. etc… tentu tidak semua hal bisa saya ketahui… banyak hal bisa saya pelajari juga sambil berada di dalamnya…
Dengan alasan2 seperti itu saya lalu katakan mahasiswa sudah pilih (asumsinya sesuai kebutuhan, ingat bukan FSM tapi FE.. Bukan Manajemen tapi Akuntansi)… dan sekarang saya tambahkan ia memiliki peluang untuk mengetahui terlebih dahulu apa detail yang bakal dipelajarinya… jadi, ia tahu bahwa ia akan belajar mikroekonomi, makroekonomi, moneter, etc.. demikian juga kalau ia pilih manajemen atau akuntansi.. Bahkan di SMA ia paling tidak sudah diperkenalkan tentang hal-hal itu, sekecil apapun… Apakah ini terlalu ideal?
Yang justru jadi pertanyaan bagi mereka yang merasa terikat justru pada apa yang justru telah dipilihnya adalah tentang kesadaran dirinya sendiri dan kesadaran akan pilihannya… OK, kalau tidak atau belum sadar… pertanyaan lagi, mengapa tidak minta pertimbangan2 sejak awal kepada wali studinya? Ia harus aktif, seorang dewasa kan punya inisiatif, tidak tunggu dipilihkan oleh orang lain kan.. Jadi, mas Yodie cuma menunjukkan pada saya sikap bunuh diri seorang mahasiswa…. memilih, tidak tahu, merasa dipaksa, etc… lho FE UKSW tidak paksa mahasiswa untuk memilihnya… betul kan? FE UKSW cuma membimbing mahasiswanya meniti bidang studi pilihannya… karena sudah pilih FE dan Manajemen, misalnya, maka inilah yang biasa dipelajari di dunia orang yang belajar Manajemen… justru aneh jika seseorang memilih Manajemen tetapi portofolio mata kuliahnya adalah Sosiologi.. walau Sosiologi memberi dasar2 teoritis bagi kajian Manajemen.. tetapi mahasiswa yang memilih belajar Manajemen tidak sama dengan mahasiswa yang memilih Sosiologi..
Coba bandingkan, siswa SMP saja bisa memilih… itu kebanggaan Anda pada QT kan… lalu, kenapa mereka yang justru telah melewati SMA justru dan telah memilih merasa terpenjara oleh sesuatu yang bukan yang dipilihnya… Ini kontradiksi berpikir yang cukup parah… Anda bahkan menuding saya inkonsisten dengan membandingkan pelabelan yang saya pakai sudah memilih berbasis kebutuhan dengan pasar RMK yang distortif…
Kenapa tidak dipaketkan saja? Kalau mahasiswa mau ‘paket’, kan sudah ada gaftar alir… kalau semua mahasiswa minta dibimbing ya maka gaftar alir adalah pembimbingan terbatasnya.. di gaftar alir sudah ada berapa sks per semester, nama mata kuliah… mereka tinggal ngatur kelas yang mana akibatnya hari apa, jam berapa, di kelas mana, dosennya siapa… jadi kalau mahasiswa mau cukup normal2 saja kan tidak ada masalah.. karena memang fakultas menjamin bahwa mata kuliah yang terdaftar di gaftar alir akan dibuka… kalau ternyata ada yang tidak dibuka.. anda berhak memintanya… apalagi yang wajib2…
tapi, kembali ke anggapan anda supaya mahasiswa bisa memilih… ia pun masih diberi kebebasan.. berdasarkan intervensi yang dipakai yaitu aturan main… kalau IPK lebih besar dari standar, maka ia bisa ambil lebih besar dari yang tersedia di gaftar alir… karena gaftar alir cenderung standar/rata-rata… jadi, itu sudah kombinasi kebebasan memilih dan intervensi aturan main… bukan liar.. karena itu lapangan sepak bola, bukan lapangan tenis… itu arena tinju, bukan lintasan lari…
Cuma karena anda dan barangkali mahasiswa lain maunya jadikan lapangan bola jadi tempat bertinju ya jadinya kekacauan… itulah yang saya kritik sebagai itu bukan tempat kita buat semau kita (wants)… jiga begitu maka itu pasar yang chaotic, istilah saya lainnya terkait dengan istilah pasar yang anda kritik sebagai pemuja pasar bebas… walau dari penjelasan2 saya selama ini sudah cukup banyak indikasi adanya model intervensionis… Keynes sendiri juga tidak meminta pemerintah untuk mengatur segala-galanya kan… Jadi logika mas Yodie justru membingungkan saya..
Soal rasio mahasiswa… dari dasar manakah dia dihitung dengan jumlah dosen mahasiswa di kelas? Sebuah cara perhitungan yang jelas salah lagi… itukah klaim kebenaran? Tolong cek bagaimana menghitung rasio dosen – mahasiswa… Sebagai perbandingan.. Di universitas Macquarie tempat saya studi dalam satu kelas di Dept of Business bisa mencapai 50 orang… Di Fakultas tertentu, di bidang2 science, kadang kuliahnya di ruang teater yang bisa mencapai lebih dari 100 orang… saya pernah berkunjung ke Sydney Univ.. dan ada juga kelas teater yang barangkali isanya bisa 100 orang… saya baru saja ngobrol teman saya dari Univ Twente di Belanda… dia katakan dia mengajar satu mata kuliah yang mahasiswanya mencapai 300 orang… lalu apakah rasio dosen – mahasiswanya 1: 300? Silahkan cek bagaimana menghitungnya supaya anda memang benar2 menglaim kebenaran…
Cuma jangan juga manipulasi pendapat saya…. saya juga sempat mengatakan… jika saya boleh memilih, saya masih mau memilih untuk menambah dosen di FE…
Di samping itu, kita belum bicara sistem pembelajaran secara keseluruhan untuk bagaimana bisa handle kelas2 raksasa (kalau mau dipakai) walau masih bisa menjaga mutu.. Ambil contoh… dulu saya kuliah di Univ. Groningen.. sejumlah mata kuliah kami, pada minggu tertentu kami kuliah di ruang teater dan berisi 100 – 150 orang… namun, pada minggu2 tertentu kami ketemu dosen kami di kelas2 20 – 25 orang… tapi, mengatur perkuliahan di kelas saja tidak cukup.. apa yang membuat pembelajaran efektif? Ya sistem yang bisa membuat mahasiswa sebagai pelaku belajar aktif, bukan cuma datang mendengar dosen lalu pikir akan menguasai apa yang dipelajarinya… jadi, diskusi2 kita tidak bisa digebyah uyah sudah menjawab segala hal… saya pun ya menanggapi pada isu yang dibicarakan saja… saya tidak atau belum mengajak anda masuk pada detail2 yang lain…
Logika turisme anda jelas logika salah kaprah… mari saya bandingkan anda sebagai mahasiswa UKSW… apa beda dengan di UGM? apakah yang di UGM dipandu seperti anak kecil? tidak tuh… di universitas mana yang dipandu seperti orang tidak tahu apa2? bukan cuma di Indonesia, di mana2pun tidak ada yang perlu dituntun seperti orang buta… tidak ada… mahasiswa adalah pribadi yang sudah mampu mengelola dirinya sendiri.. bukan turis… turis pun banyak yang sebelum berkunjung ke suatu tempat akan menyiapkan diri… membaca sesuatu tentang tempat yang bakal dikunjunginya.. seminim apapun itu.. bahkan untuk bisa membaca, mereka beli sendiri peta, buku2 seputar daerah yang mau dikunjungi.. jadi, kesiapan si mahasiswa jelas diperlukan… dia bukan domba yang dibawa kepala pejagalan dan siap dibantai karena tidak tahu mau kemana diajak…
Apa benar tidak ada panduan? Kemana katalog mahasiswa? Kemana buku peraturan akademik? Semua ada kan? Tapi, mari kita tanya kemana buku2 itu?
Apa lagi? wali studi pun ada kan.. waktu perwalian pun disediakan, betul…? ke mana mahasiswa pada saat perwalian? apakah dosen yang perlu menjemputnya di rumah atau tempat kos-nya? atau jangan2 harus dijemput di tempat biliar seperti kisah yang pernah saya ceritakan? anda suka yang seperti itu ya? sayang sekali… anak saya saja yang masih SD saya telah mencoba mengajarinya untuk memilih apa yang dia inginkan… dan belajar bertanggung jawab untuk menerima konsekuensi pilihannya… mengapa orang seperti anda yang justru sudah memilih di awal mengapa tidak pernah memilih? mau melempar tanggung jawab pilihan anda? kalau tidak suka, bertanggung jawablah… putuskan untuk mengganti pilihan… mahasiswa bebas memutuskan itu kapan saja… sekaligus menjawab @DN… di mana pun di UKSW (termasuk FE) atau universitas lainnya.. mahasiswa bebas memilih untuk keluar dari pilihan sekarang dan membuat pilihan baru (silahkan tanya ada skema/skenario yang disebut Multi Entry Multi Exit di FE… skenari itu bermaksud untuk menyiapkan mahasiswa untuk siap memilih jalur baru di UKSW jika tidak merasa cocok atau dinilai tidak cocok (akibat worse performance)… FE juga bisa menerima transfer dari fakultas/program lain yang dirasanya masih memenuhi standar nilai masuk FE… walau tidak jarang mahasiswa pindahan juga diminta mengikuti tes adminis… ada sejumlah mahasiswa FTEK yang transfer ke FE… bagi mahasiswa FE yang dinilai tidak cocok, kepada mereka diberikan peringatkan sebelum waktunya harus diputus status kemahasiswaannya.. dengan peringatan itu, ia diminta untuk menghadap wali studinya untuk membicarakan masalahnya… harusnya kalau ia datang, ia sudah akan diingatkan ata ditanyakan… apakah ia merasa masih cocok di FE? kalau merasa masih, maka akan berdiskusi bagaimana upayanya untuk menaikkan kinerjanya sendiri… tidak ada orang lain yang bisa membantu kecuali mahasiswa itu sendiri… dosen wali cuma motivator, fasilitator, dan peran2 pemerantaraan lain..
Justru apa yang ingin saya ungkapkan dari sana adalah sebuah pertanyaan sangat besar dan mendasar kepada para mahasiswa… sendiri memilih, tidak tahu apa yang sesungguhnya dipilihnya… diberi detail dari pilihannya… entah dibuang ke mana dan akhirnya bingung sendiri.. dan kemudian menjadi kacau dalam merencanakan operasionalisasi atas pilihannya sendiri… sebuah tanda tanya sangat besar untuk anda dan mahasiswa lain… apakah Neil Rupidara atau FE memaksa anda masuk ke FE? sekali lagi tidak… karena Anda putuskan Anda mau belajar Ekonomi, maka mari belajar Ekonomi… apa saja sub keilmuan dalam ilmu Ekonomi? itulah kurikulumnya… mengapa wajib? Orang yang mau belajar ilmu ekonomi kalau tidak wajib ambil makroekonomi ya aneh… orang yang ngambil manajemen dan tidak ngambil (pengantar) manajemen (apapun nama mata kuliahnya tidak masalah, tetapi isinya adalah pengantar ke studi manajemen) ya aneh… di dunia ini, universitas manakah yang tidak membuat daftar mata kuliah wajib? silahkan cari… sedikit atau banyaknya mata kuliah yang wajib, itu soal kedua… silahkan google dan saya tunggu jawabannya…
Jangan terlalu kaku begitu dong dengan pilihan istilah saya dengan pasar… pasar adalah istilah yang bagi saya sudah umum… menggunakan istilah pasar belum berarti saya seorang pengikut Adam Smith, walaupun pernah sedikit memelajari Adam Smith.. jadi jangan naif gitu dong…
Digunakannya istilah pasar karena ia ibarat pasar… ada penawaran (mata kuliah) oleh program2 studi dan ada permintaan (mata kuliah) oleh mahasiswa2… jadi ada mekanisme seperti itu… anda sarankan kenapa tidak intervensi? anda tidak melihat ada intervensi terhadap pasar (RMK) itu? masa’ sih… tidakkah ada aturan mainnya, kan bukan berjalan dengan mekanisme pasar bebas-nya Adam Smith.. apa saya keliru?
Soal membludak… FE UKSW tahun 1990 di saat saya masuk menerima mahasiswa 250 orang… 3 tahun terakhir angka itulah yang diterima FE… mungkin tahun ini agak naik, saya belum tahu persisnya… lihat data mas… sejak tahun 2000 mahasiswa baru di FE menurun terus… ini berbeda dari tahun 1995 hingga tahun 1999.. hingga tahun 2004 total mahasiswa FE masih mencapai di atas 2500… kini? Silahkan cek datanya…. Lalu mengapa Anda yang sedang menjadi mahasiswa di era penurunan jumlah mahasiswa FE klaim mahasiswanya membludak? Orang yang tahu sejarah tahu bahwa FE justru menurun jumlah mahasiswanya, bukan membludak… sebuah klaim yang salah secara fatal… dalam kasus FE..
soal pembatasan @DN… pernah terkesan tidak dibatasi di FE (dibanding kapasitas optimum dan jika pertimbangkan rasio2 yang wajar)… tapi, apa anda tidak merasa bahwa kini memang ada batasannya? batasannya apa? satu tes… silahkan cek standar nilai masuk yang dipakai, di FE misalnya… kedua, kapasitas… FE belajar dari pengalaman paruh kedua 1990an yang agak kebablasan… dan mestinya FE tidak ingat segila itu lagi sekarang… saya pribadi memerkirakan angka 300 cukup lah… dengan dosen sekitar 50an yang tinggal tambah beberapa lagi sedikit, maka rasio dosen mahasiswa di FE secara total, jika tiap tahun ambi 300 (dan asumsi mahasiswanya lulus dalam 4 tahun) bisa sekitar 1:20… angka UKSW ya hitung pada skala UKSW.. dosen UKSW ada berapa? kalau mau main linier2an ya gampang aja kan jumlah total mahasiswa UKSW/jumlah total dosen…
masalah finansial adalah juga masalah penting… cuma di negara2 kaya seperti di Eropa Utara atau Nordic Country macam Finland… jadi mahasiswa anda tidak perlu bayar uang kuliah… di negara2 kaya lain, masih ada porsi tanggungan mahasiswa… di Indonesia, kalau negeri juga masih dapat subsidi pemerintah.. walau kini tidak sedikit orang menuding komersialisasi pendidikan terjadi juga di PTN… bagaimana bagi universitas swasta? UKSW jika tidak salah bergantung sekitar 80-90% pemasukannya dari mahasiswa… ini riskan, tetapi ini kenyataan sampai hari ini… tetapi, sebagai UKSW tentu saya kira kita tidak boleh berpikir bahwa UKSW harus ‘jual murah’… jadi, ia masalah penting, tetapi bukan untuk tawar-menawar kualitas… cukuplah sudah di masa UKSW kesulitan di periode 1990an.. tidak sekarang..
cuma ketika saya mengatakan ada masalah uncertainties dan keterbatasan resources… saya cuma mau mengatakan bahwa setiap keputusan manajerial yang perlu kehati-hatian… misalnya dalam menambah jumlah dosen (seperti yang masih saya bayangkan bagi FE)… juga dalam pengadaan fasilitas2… butuh manajemen investasi yang hati-hati… itu saja..
jadi ini bukan soal batas – membatasi jumlah secara linier atau simpel… soal besaran total mahasiswa… UKSW seberapa sih? universitas swasta lain setara di UKSW bisa jadi jumlahnya mendekati 20000 mahasiswa, atau paling tidak 15000… uksw baru 11-12 ribu secara total… apa yang salah jika mahasiwa UKSW 25000? tidak ada, kalau ada banyak sekali program studi baru yang dibuka… tidak masalah jika rasio dosen – mahasiswa juga wajar… etc…
sekali lagi, saya tidak ada belum bicara aspek lain dan kemungkinan2 solusi kita… ambil contoh, 12 ribu mahasiswa di kampus diponegoro sudah tampak kesesakan… setuju dengan akuarium penuh ikannya mas Yodie… jadi space kampus uksw masih cocok hingga 5000-6000.. di atas itu, sebetulnya sudah tidak cukup… cuma, saya tidak mau ngomong soal investasi pengadaan atau pengembangan kampus baru… tapi, pernah ada satu tim yang dibentuk rektor UKSW di tahun 2004/2005 yang diminta menyusun proposal pengembangan kampus baru UKSW… dan anda bisa cek bayangan seperti apa yang dipikirkan tim itu tentang kampus baru UKSW di zaman itu… jadi, sekali lagi, kita bisa bicara banyak hal.. ya sekedar untuk diskusi… toh ada hal-hal yang anda maupun saya tidak punya kontrol atasnya…
Cuma, saya tetap salut dengan concerns anda berdua soal kualitas dan saya dukung itu… hanya saja, soal angka2, hitung-berhitung, dan informasi2 dasar atau dasar argumentasinya tolong dicek dulu… supaya klaim-nya memang berbunyi… concerns yang bagus, tapi tidak berdasar atau salah bukti kan bisa jadi percuma karena jadinya ’salah tunjuk’…. Saya pribadi masih punya banyak catatan soal mutu… saya pribadi juga terus berpikir bagaimana cara untuk itu… ya kita pikir sama2… diskusi di sini… untuk jadi wacana warga kampus yang peduli apa yang terbaik bagi almamater-nya…
PERDEBATAN
Sang Guru tak mau berdebat dengan siapa pun, karena ia tahu
bahwa yang dicari oleh “pendebat” adalah pembenaran atas
keyakinannya, bukan Kebenaran.
Suatu ketika Sang Guru menunjukkan kepada mereka nilai
sebuah perdebatan:
“Sepotong roti bermentega jatuh. Yang bermentega di sisi
atas atau bawah?”
“Tentu saja, sisi yang bermentega di bagian bawah.”
“Tidak, sisi yang bermentega di atas.”
“Ayo kita uji.”
Sepotong roti diolesi mentega lalu dilempar ke atas. Jatuh.
Sisi yang bermentega berada di atas!
“Saya menang.”
“Hanya karena saya membuat satu kesalahan.”
“Kesalahan apa?”
“Saya mengoleskan mentega pada sisi yang salah.” (Anthony de Mello)
Untuk cepero:
Jadi menurut pandangan saya, Mas Yodie nih seperti orang yang belum merasakan sepenuhnya menu yang enak di “warung UKSW”, jadi anda ini masih menunggu dengan bersungut-sungut dan melihat banyaknya yang antri di depan anda, bahkan anda mungkin ngomong “warung koyo ngene ki enake sebelah ngendi.., wis antri, larang sisan….”, dan Mas Yodie berpapasan dengan saya yang kebetulan habis makan, kekenyangan dan kebetulan mendengar sungutan mas Yodie, maka saya jawab “enak lo mas, jajalen, ra rugi kok njenengan ngantri, tapi nek njenengan selak ngeleh yo mending nggolek warung liane wae, sing ra antri, murah ning rasane yo mbuh…”
Saya sudah merasakan yang enak di UKSW. Yang tidak enak, lebih banyak. Apa yang enak? Satu contoh: Perpusnya lumayan enak. Yang gak enak? Baca tulisan Akuarium saya.
1. Akuarium kalau mau diisi ikan kan terserah pemiliknya, pemiliknya kan beli dari penjual ikan, jadi ikannya kan nggak punya pilihan mau hidup di akuarium mana.
nah kalau kita di UKSW, kita tuh yang keluar duit dan kita punya pilihan mau kuliah di UKSW apa di AMA apa di QT, jadi kita tidak bisa menyalahkan pihak lain karena pilihan kita sendiri.
Hehehe. Perumpamaan Anda: “pemiliknya kan beli dari penjual ikan”. Kalau pemilik UKSW adalah Yayasan, berarti yayasan beli mahasiswa ke orangtua lulusan SMA? OH!
Tidak bisa menyalahkan pihak lain? Yang “jangan disalahkan” otoriter donk? Pernah dengar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia? Untuk apa itu? Atau begini: Anda beli susu kaleng, dan susu itu meracuni anak Anda, berarti jangan protes donk? Kan susunya dibeli dari hasil pilihan Anda? OH!
@Yodie: sepengetahuan saya (kalau salah mohon dibenarkan), kita pertama masukkan udah diaturkan gaftar Alir Mata Kuliah soalnya kita kan babar blas nggak tau apa itu siasat?, apa itu mata kuliah?dsbnya, dan untuk gaftar alir selanjutnya kan terserah kita soalnya tergantung IPK kita kan?, saya masih bingung hubungan antara gaftar alir kacau dengan membludaknya mahasiswa???, tolong jelasin dong mas??
Anda bisa jawab sendiri pertanyaan Anda. Pikirkan secara logis, untuk apa gaftar alir itu dibuat. Key? OH!
Hubungan gaftar alir dengan membludaknya mahasiswa? Nih mas cepero: Mahasiswa banyak+dosen tak banyak, kelas jadi rebutan: gaftar alir muskil dipatuhi. OH!
Untuk Neil R
Terima kasih banyak! Kritik Anda cukup pedas, dekonstruksi dan memberi pencerahan. Soal data, itung-itungan, akan saya matangkan lagi di tulisan berikut. Terima kasih bung. Ini kritik yang benar-benar saya butuhkan. Bila Anda bilang ini sebagai apologi penulis, saya tak malu mengakuinya. Lebih baik saya mencoba bertindak, daripada tidak sama sekali. Ada sedikit yang saya lakukan, daripada tidak sama sekali.
Saya masih mempertanyakan ini Bung, tolong dijelaskan:
Saya jadinya bingung juga akhirnya dengan Anda… pertama, siapa sih yang memilih masuk di UKSW? Siapa juga yang memilih masuk Fakultas Ekonomi… masuk FE pun, sejak pertama kali mendaftar, siapa yang memilih masuk Akuntansi, Manajemen, atau Ilmu Ekonomi? Semua jawabannya jelas adalah mahasiswa yang memilih… Itulah mengapa saya katakan mahasiswa telah memilih sesuatu sesuai apa yang dirasa dibutuhkannya… mengapa memilih masuk FE dan Manajemen…, bukannya FSM Kimia, Teknik Elektro Komputasi, Seni Pertunjukan Musik Gereja dll… Salah satu kemungkinannya karena ingin belajar dan kemudian bekerja di dunia manajemen… entah mau jadi praktisi.. apakah di dunia organisasi bisnis atau organisasi lainnya.. atau berkarya di dunia akademik… mahasiswa yang memilih atau memutuskan, mestinya ia jugalah yang telah memikirkan itu…
Saya tahu maksud Anda berkenaan dengan “needs”. Tapi, itu terlalu normatif. Saya tak pungkiri itu dalam pandangan saya. Positifnya: banyak gambaran mahasiswa yang masuk fakultas adalah seperti yang saya tuliskan diatas: Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!”
Nah itu dia. Kenapa yang “seperti itu” (termasuk saya, pastinya) harus lolos di UKSW. Masuk di UKSW itu terlalu mudah. Tiada seleksi ketat. Darimana kesimpulan “pemilihan berdasarkan needs” kalau cara masuk kampus, tak mencerminkan apapun? Saya sih sudah tercebur, dan kepalang basah, mungkin perlahan melebur. Yang lain? Belum tentu sadar telah basah. Bung Neil, saya memuji bahwa Anda kaum intelektual, dan mungkin lingkungan Anda intelektualis semua. Namun, pandangan terkadang jangan kabur bahwa everything is okay karena pengaruh atmosfir lingkungan. Dibalik kaum intelektual Satya Wacana, seperti Anda, terserak juga mereka yang “bingung”. Anda sebagai dosen, tahulah tipe mahasiswa macam apa itu.
Kenapa tidak dipaketkan saja? Kalau mahasiswa mau ‘paket’, kan sudah ada gaftar alir… kalau semua mahasiswa minta dibimbing ya maka gaftar alir adalah pembimbingan terbatasnya.. di gaftar alir sudah ada berapa sks per semester, nama mata kuliah… mereka tinggal ngatur kelas yang mana akibatnya hari apa, jam berapa, di kelas mana, dosennya siapa… jadi kalau mahasiswa mau cukup normal2 saja kan tidak ada masalah.. karena memang fakultas menjamin bahwa mata kuliah yang terdaftar di gaftar alir akan dibuka… kalau ternyata ada yang tidak dibuka.. anda berhak memintanya… apalagi yang wajib2…
Bung Neil, gafttar alir itu kan jelas. Berapa sks per semester dan juga matakuliahnya. Bukankah gaftar alir itu sesuatu yang ideal? Sebagai contoh, tak perlu jauh-jauh, saya misalnya, mau ambil matakuliah X yang tertera di gaftar alir…eh, tidak dapat kelas. Kok bisa? “siapa cepat dia dapat”. Apa karena dosen sedikit? Nah, andaikata, “needs” yang Anda maksud adalah matakuliah X tersebut bagi saya, bagaimana donk? Minta kelas? Kok tetap tidak kebagian ya? Alamak.
Saya pikir, solusinya adalah pemaketan matakuliah hingga tahun kedua. Setelah itu, baru sesuai konsentrasi dan pilihan juga minor. Jadi mahasiswa tak bingung dalam siasat. Dan ada sistematika bila ingin matakuliah “lebih banyak” karena IPKnya tinggi. Sistematika? Ya, disediakan matakuliah yang khusus (khusus, semisal di konsentrasi/pilhan/minor dan tidak tercakup dalam gaftar alir). Bisa diambil mahasiswa, semisal, ber-IPK >3-3.5 (dengan catatan: tanpa harus merugikan mahasiswa lain, terlebih mahasiswa yang memang jatah waktu dan kesempatan sesuai gaftar mengambil matakuliah tersebut). Begitu.
Untuk perumpaan, makna rasio, logika dan ibaratisme dalam tulisan saya: saya sekali lagi harus mengakui, otak ini perlu dilatih lagi. Terima kasih banyak bung, komentar Anda membantu saya. Saya harus belajar dari sejarah, yaitu hari ini yang akan menjadi masa lalu, saat saya membaca tanggapan Anda.
Untuk Opha:
Mungkin orang lain akan menilai saya adalah seorang yang pesimistis dengan kebenaran. Tapi ini adalah bagian dari kesadaran saya, bahwa kebenaran adalah sesuatu hal – perihal yang harus terus diupayakan.
Dan perlu anda ingat, apa yang Anda ucapkan juga bisa dikategorikan sebagai kebenaran, juga pembenaran, walau Anda tidak sadar dan menganggapnya.
Memang, kebenaran itu abstrak dan absurd untuk diadakan menjadi ada walau itu tidak ada. Tapi, bagi saya, kebenaran adalah bagaimana cara memandang. Tapi akan terus berjalan dialektiknya, dan suatu saat saja bisa berubah. Matur suwun, bung Opha.
Untuk Cepero,
BBCode bisa dipakai di kolom komentar web ini, hanya saja perlu diubah ke bentuk HTML terlebih dahulu. Biasanya, karakter “[" atau "]” diganti dengan “< " atau ">“. Untuk lebih jelasnya, silakan tengok penjelasan Wikipedia tentang BBCode dan HTML di sini ==> http://en.wikipedia.org/wiki/BBCode
Trims.
Mas Yodie, mutu pendidikan Indonesia memang sedang terpuruk. Itu juga yang anda rasakan di UKSW, karena UKSW toh bagian dari masyarakat Indonesia itu. Kekritisan anda menjadi benar, karena keterpurukan itu tidak bisa dijadikan excuse bagi universitas yang menyadari bahwa peningkatan mutu adalah masalah survival di masa depan. Kalau pada jaman dahulu UKSW pernah menjadi pusatnya program pengembangan pendidikan tinggi nasional-nya departemen p dan k (pada masa itu), mengapa sekarang tidak bisa? kalau UKSW bisa membanggakan diri sebagai salah satu universitas swasta yang menghasilkan guru besar sendiri (tanpa membeli atau menyewa dari luar), mengapa sekarang tidak bisa? Ini yang harus menjadi perenungan kita bersama dan dicari jalan keluarnya.
Tentunya bukan tugas mas Yodie untuk mencari jalan keluarnya, tugas mas Yodie adalah menulis kritik semacam ini sehingga memunculkan kesadaran bersama (karena mahasiswa seperti mas Yodie berHAK atas pendidikan yang baik, sebagaimana amanat undang-undang sehingga berhak untuk menuntut pemenuhan hak tersebut).
Masalah gaftar alir dll adalah masalah manajemen pendidikan. Kelas yang tidak mencukupi juga persoalan manajemen, pertanyaannya sejauh mana persoalan ini diantisipasi secara manajerial? Sebenarnya dalam perspektif manajemen pendidikan, itu adalah masalah-masalah yang kelihatan di permukaan. Yang esensial justru tidak tampak di bawah permukaan, masalah apakah itu? itulah yang perlu digali dan dicari solusinya.
Halo Mas Yodie,
Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda… saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi… cuma, saya masih mau mengajak kita untuk menggunakan ruang2 di mana kita (khususnya mahasiswa) masih bisa memilih atau memutuskan karena lokus keputusan masih ada pada mahasiswa… jadi, mahasiswa tidak boleh merasa tidak berdaya.. Jika pun saya boleh melihat dari titik waktu sekarang ke masa lampau… saya juga memilih FE dan Manajemen bukan karena itu pilihan terbaik saya.. namun, saya toh harus konsekuen dengan pilihan saya sendiri.. demikian juga bagi siapapun mahasiswa yang memilih karena diminta orang tuanya… dalam kasus ini, saya pernah punya anak bimbingan skripsi yang setelah lulus baru mengungkapkan itu pada saya… tapi, bagi saya dia toh telah konsekuen “bertanding dengan benar”, sekalipun itu bukan yang sesungguhnya ia inginkan… jadi, don’t blame others jika itu adalah pilihan atau masih bisa dikatakan pilihan kita, sekalipun karena pengaruh atau bahkan paksaan orang lain..
Di komentar sebelumnya saya telah mengatakan (apologi juga?) tentang mengapa tampak selalu kurang tersedia jumlah kelas yang cukup… jujur, sebagai administrator pada masa tertentu… di atas perhitungan2 yang relatif sudah di atas kebutuhan normal, perhitungan kami mestinya jumlah kelas yang ditawarkan melebihi jumlah mahasiswa yang diprediksi membutuhkannya… hanya, saya menilai (klaim saya) ada pola permintaan yang sulit dibaca begitu saja dengan misalnya berdasarkan gaftar alir (mata kuliah pada tahun ke berapa, semester ke berapa, berapa jumlah mahasiswa pada angkatan yang secara normal ada pada tahun/semester tersebut, serta prediksi prosentasi kegagalan mahasiswa pada periode sebelumnya yang butuh mengulang mata kuliah tersebut)… karena itu, kami pun menyediakan mekanisme permintaan pembukaan kelas tambahan untuk mengatasi mismatch permintaan dari penawaran awal… namun, saya setuju dengan anda bahwa ternyata tidak semua permintaan disetujui.. namun, jelas cukup banyak yang disetujui dan itu dilakukan yang cukup hati-hati… para kaprogdi lazimnya diminta untuk mengecek dan menilai itu secara hati-hati… termasuk melihat kembali dalam rencana tahun/semester depan berapa banyak kelas yang bakal dibuka… jadi, prinsipnya keputusan tambahan kelas diberikan atau tidak dicoba dibuat dari perspektif trend lampau, kondisi permintaan semester tersebut, dan rencana penawaran periode berikutnya… hanya saja, maaf besar jika masih saja ada cukup banyak mahasiswa yang kecewa… termasuk anda?
Yang cukup unik di FE sejak 2004 yang mulai memerkenalkan mata kuliah pilihan bebas (di 2004 cuma 2 sks, di 2007 antara 12 – 20, termasuk kalau ngambil minor)… fenomena yang saya lihat adalah mahasiswa FE kembali ‘berbelanja’ di pasar FE sendiri… padahal dia punya pilihan terbuka se-UKSW… memang kami waktu itu sempat menyoal mekanisme RMK-nya yang masih sulit diakomodasi oleh SIASAT dan urged BTSI dan BARA untuk bisa cepat meng-upgrade SIASAT yang memungkinkan mahasiswa bisa melihat dan memilih opsi mata kuliah dari fakultas lain untuk merealisasikan kurikulum yang seperti itu…
Jelas sekali bahwa jika mahasiswa FE kembali memilih dari dalam FE, maka mata kuliah tertentu yang tadinya cukup kapasitasnya untuk jatah mereka yang seharusnya mengambil pada semester tersebut bisa jadi tidak cukup karena dikerubuti oleh mereka yang “membeli karena kepanikan”… apalagi kalau mereka angkatannya lebih senior dan berkesempatan RMK duluan… kasihanlah yang di bawahnya… cuma sekali lagi… bagi saya, “protes” lah jika yang berhak tidak mendapat haknya… kalau perlu temui langsung pejabat terkait… desak LK untuk juga ikut mendesak agar kelas tersebut harus ditambah karena memang adalah jatah mereka yang mau mengambil tetapi tidak kebagian… ingat, kita tidak jarang hidup dalam kondisi informasi yang asimetrik.. ambil contoh, biasanya saya selalu pantau SIASAT untuk melihat kondisi kelas kurang etc agar siap2 kontak kaprogdi kalau butuh penambahan kelas.. dan teman2 kaprogdi juga ada yang aktif memantau… tapi, kami tidak selalu bisa menangkap fenomena riil dengan cermat sehingga meleset juga assessment kami dan akhirnya juga keputusan kami… jadi, dalam konteks yang asimetrik begitu, ya mahasiswa juga harus ‘intervensi’ … mendesak permintaannya agar diterima..
Soal masih cukup mudahnya lolos UKSW… ini hal yang terus menjadi perhatian serius kita semua.. pada kasus kami di FE jelas telah diupayakan dinaikkannya standar nilai masuk dari tahun ke tahun.. cukup unik, ini justru dilakukan setelah FE ada pada trend mahasiswa menurun… bagi saya ya pertimbangannya sederhana… justru declining, kita harus berani banting trend masa lampau untuk membentuk trend baru.. mas Yodie bisa dicek data kenaikan standar nilai masuk, walau jelas menaikkannya pun harus dilakukan dengan perhitungan hati-hati untuk tetap menjami ketersediaan mahasiswa yang cukup di sana FE terlanjur sudah ‘big size’… saya berharap trend menaikkan nilai masuk terus terjadi sampai pada batas minimum yang boleh dikata kompetitif dan benar-benar merefleksikan mutu…
Namun, jelas kondisi persaingan hari ini jelas berbeda dibanding awal 90an dan sebelumnya… di masa-masa itu, bahkan pendaftaran mahasiswa baru ditutup karena sudah melebihi jumlah pendaftar yang diharapkan… dan, FE di zaman itu, jelas punya ruang memilih yang besar… rasio mahasiswa yang diterima dari yang mendaftar jauh lebih baik… tapi, sekali lagi, dengan trend sejak medio 2000an, saya pribadi berharap FE UKSW bisa lebih kompetitif ke depan..
Perjuangan ke arah praktik pengajaran dan pembelajaran yang bermutu dan student centered masih panjang… “bensin” kita harus cukup untuk perjuangan panjang tersebut… dan, salah satu sumber bensin itu adalah dari Anda para mahasiswa… karena, jangan sungkan2 untuk speak up… kalau perlu demonstrasi sekalian ha ha ha ha ha…
Untuk Neil R
Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda…saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi…
Saya juga berterimakasih banyak. Saat saya membaca kritik dari Anda, saya dapat pelajaran banyak. Pedas memang, tapi dekonstruktif. Saya sempat merenung semalaman lho, Bung! Saya jadi teringat di suatu kesempatan dengan Tony D Widiastono (Kepala Desk Harian Kompas), yang sempat mempertanyakan tulisan saya yang penuh kenormatifan, tersembul banyak klaim walau gagasannya menarik.
Memang benar, kritik adalah salah satu alat mantap dalam perihal dialektik diri. Terus kritik saya Bung! Dan saya kalau bisa, akan kritik balik. Di suatu kesempatan, Bu Konta Intan Damanik juga pernah bilang kepada saya, hubungan dosen-mahasiswa dahulu begitu dekat. Mungkin, kedekatan bisa dimulai dari saling kritik, tanpa harus menjadi pemegang kebenaran tunggal dalam hubungan mutualisme.
Semoga saya sebelum lulus dari FE UKSW, bisa bertemu Anda, setidaknya hanya untuk berjabat tangan. Terima kasih.
Salam. Ditunggu kritiknya lagi!
ini ada link menarik tentang relasi dosen-mahasiswa: http://www.as.wvu.edu/~mbb/teaching/teacher.htm