<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Akuarium</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 08:12:37 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Black Cat Miauuuww</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-6/#comment-3976</link>
		<dc:creator>Black Cat Miauuuww</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 07:23:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-3976</guid>
		<description>Saya rasa kita semua telah memilih kampus ini sebagai ajang percaturan hidup kita dengan berbagai macam alasan. Tapi alasan yang nyata bagi seorang mahasiswa adalah belajar, dan maybe belajar tidak hanya di kelas tapi di sekitar kampus kita juga dapat belajar. Seluruhnya di kampus adalah tempat belajar dan mengajar. Memang terkadang kuliah itu sangat &quot;membosankan&quot; kita, sepertinya kita hanya dituntut untuk mengejar titel saja tanpa memaknai titel itu,  kelak kita akan tahu bahwa inilah realitas kehidupan berkuliah  di UKSW yang arogansinya terlalu memaksakan mahasiswa seperti SD, point card lah contohnya, sangat kapitalis. Huahaahaaha.....
Sudahlah Yodie, walau bagaimanapun kita sudah memilih UKSW, dan setidaknya kita juga harus menghargai pilihan diri kita sendiri, tanpa sesal. hiks... hiks....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya rasa kita semua telah memilih kampus ini sebagai ajang percaturan hidup kita dengan berbagai macam alasan. Tapi alasan yang nyata bagi seorang mahasiswa adalah belajar, dan maybe belajar tidak hanya di kelas tapi di sekitar kampus kita juga dapat belajar. Seluruhnya di kampus adalah tempat belajar dan mengajar. Memang terkadang kuliah itu sangat &#8220;membosankan&#8221; kita, sepertinya kita hanya dituntut untuk mengejar titel saja tanpa memaknai titel itu,  kelak kita akan tahu bahwa inilah realitas kehidupan berkuliah  di UKSW yang arogansinya terlalu memaksakan mahasiswa seperti SD, point card lah contohnya, sangat kapitalis. Huahaahaaha&#8230;..<br />
Sudahlah Yodie, walau bagaimanapun kita sudah memilih UKSW, dan setidaknya kita juga harus menghargai pilihan diri kita sendiri, tanpa sesal. hiks&#8230; hiks&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ayuning@</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-6/#comment-2824</link>
		<dc:creator>ayuning@</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 04:16:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2824</guid>
		<description>yup dari pengalaman hanya tiga nama diataslah yang sering dipakai sebagai Paswordnya UKSW, dan yang paling sering sering adalah Arif Budiman, kelg Arif Budiman sekarang sering ke sala3 untuk fak psikologi kenapa tidak menawari ibu Laila Budiman untuk menjadi dosen psikologi UKSW ( supaya jumlah pengajar yang profesional beertambah )mungkin penulis perlu menambahkan kejadian 1995 itu juga pasword UKSW.....:).saya juga ingin bertanya kepada UKSW kenapa dosen2 ekonomi yang expert2  banyak yang pergi ke kampus lain?

yang pasti semua pemegang kebijakan UKSW dan mahasiswa UKSW harus tetap berusaha maju trusss mengisi hari-harinya dengan perkembangan kampus didunia, jangan terlena dengan buaian masa lalu...bagaimanapun juga performance kampus dilihat dari output lulusan  saat para alumni bekerja.........semangat UKSW....miliki UKSW..maka kita akan terus menjaganya...jadikan Takut akan Tuhan benar-benars sebagai dasar UKSW...
Go Go Go UKSW</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yup dari pengalaman hanya tiga nama diataslah yang sering dipakai sebagai Paswordnya UKSW, dan yang paling sering sering adalah Arif Budiman, kelg Arif Budiman sekarang sering ke sala3 untuk fak psikologi kenapa tidak menawari ibu Laila Budiman untuk menjadi dosen psikologi UKSW ( supaya jumlah pengajar yang profesional beertambah )mungkin penulis perlu menambahkan kejadian 1995 itu juga pasword UKSW&#8230;..:).saya juga ingin bertanya kepada UKSW kenapa dosen2 ekonomi yang expert2  banyak yang pergi ke kampus lain?</p>
<p>yang pasti semua pemegang kebijakan UKSW dan mahasiswa UKSW harus tetap berusaha maju trusss mengisi hari-harinya dengan perkembangan kampus didunia, jangan terlena dengan buaian masa lalu&#8230;bagaimanapun juga performance kampus dilihat dari output lulusan  saat para alumni bekerja&#8230;&#8230;&#8230;semangat UKSW&#8230;.miliki UKSW..maka kita akan terus menjaganya&#8230;jadikan Takut akan Tuhan benar-benars sebagai dasar UKSW&#8230;<br />
Go Go Go UKSW</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: edo</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-6/#comment-2653</link>
		<dc:creator>edo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 01:55:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2653</guid>
		<description>akan bagus sekali bila dilaksanakan seleksi terlebih dahulu untuk menyaring mahasiswa baru, bisa semakin jelas mutu universitasnya, karena yang masuk bukan orang-orang sembarangan (yang hanya punya duit). tapi bagaimana persaingan dengan UMPTN?
ya kalo mnurut saya si paling2 ya kalah ma UMPTN.

satu lagi, hand out yang diberikan oleh dosen terlalu memanjakan mahasiswa. jadi mahasiswa gak biasa dengan yang namanya membaca dan analisis buku. termasuk saya juga si.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>akan bagus sekali bila dilaksanakan seleksi terlebih dahulu untuk menyaring mahasiswa baru, bisa semakin jelas mutu universitasnya, karena yang masuk bukan orang-orang sembarangan (yang hanya punya duit). tapi bagaimana persaingan dengan UMPTN?<br />
ya kalo mnurut saya si paling2 ya kalah ma UMPTN.</p>
<p>satu lagi, hand out yang diberikan oleh dosen terlalu memanjakan mahasiswa. jadi mahasiswa gak biasa dengan yang namanya membaca dan analisis buku. termasuk saya juga si.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2474</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 08:20:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2474</guid>
		<description>ini ada link menarik tentang relasi dosen-mahasiswa: http://www.as.wvu.edu/~mbb/teaching/teacher.htm</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ini ada link menarik tentang relasi dosen-mahasiswa: <a href="http://www.as.wvu.edu/~mbb/teaching/teacher.htm" rel="nofollow">http://www.as.wvu.edu/~mbb/teaching/teacher.htm</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yodie Hardiyan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2361</link>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 09:44:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2361</guid>
		<description>&lt;em&gt; Untuk Neil R &lt;/em&gt;

&lt;strong&gt;Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda…saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi…&lt;/strong&gt;

Saya juga berterimakasih banyak. Saat saya membaca kritik dari Anda, saya dapat pelajaran banyak. Pedas memang, tapi dekonstruktif. Saya sempat merenung semalaman lho, Bung! Saya jadi teringat  di suatu kesempatan dengan Tony D Widiastono (Kepala Desk Harian Kompas), yang sempat mempertanyakan tulisan saya yang penuh kenormatifan, tersembul banyak klaim walau gagasannya menarik. 

Memang benar, kritik adalah salah satu alat mantap dalam perihal dialektik diri. Terus kritik saya Bung! Dan saya kalau bisa, akan kritik balik. Di suatu kesempatan, Bu Konta Intan Damanik juga pernah bilang kepada saya, hubungan dosen-mahasiswa dahulu begitu dekat. Mungkin, kedekatan bisa dimulai dari saling kritik, tanpa harus menjadi pemegang kebenaran tunggal dalam hubungan mutualisme. 

Semoga saya sebelum lulus dari FE UKSW, bisa bertemu Anda, setidaknya hanya untuk berjabat tangan. Terima kasih. 

Salam. Ditunggu kritiknya lagi!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><em> Untuk Neil R </em></p>
<p><strong>Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda…saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi…</strong></p>
<p>Saya juga berterimakasih banyak. Saat saya membaca kritik dari Anda, saya dapat pelajaran banyak. Pedas memang, tapi dekonstruktif. Saya sempat merenung semalaman lho, Bung! Saya jadi teringat  di suatu kesempatan dengan Tony D Widiastono (Kepala Desk Harian Kompas), yang sempat mempertanyakan tulisan saya yang penuh kenormatifan, tersembul banyak klaim walau gagasannya menarik. </p>
<p>Memang benar, kritik adalah salah satu alat mantap dalam perihal dialektik diri. Terus kritik saya Bung! Dan saya kalau bisa, akan kritik balik. Di suatu kesempatan, Bu Konta Intan Damanik juga pernah bilang kepada saya, hubungan dosen-mahasiswa dahulu begitu dekat. Mungkin, kedekatan bisa dimulai dari saling kritik, tanpa harus menjadi pemegang kebenaran tunggal dalam hubungan mutualisme. </p>
<p>Semoga saya sebelum lulus dari FE UKSW, bisa bertemu Anda, setidaknya hanya untuk berjabat tangan. Terima kasih. </p>
<p>Salam. Ditunggu kritiknya lagi!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Neil Rupidara</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2353</link>
		<dc:creator>Neil Rupidara</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:09:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2353</guid>
		<description>Halo Mas Yodie,

Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda... saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi... cuma, saya masih mau mengajak kita untuk menggunakan ruang2 di mana kita (khususnya mahasiswa) masih bisa memilih atau memutuskan karena lokus keputusan masih ada pada mahasiswa... jadi, mahasiswa tidak boleh merasa tidak berdaya.. Jika pun saya boleh melihat dari titik waktu sekarang ke masa lampau... saya juga memilih FE dan Manajemen bukan karena itu pilihan terbaik saya.. namun, saya toh harus konsekuen dengan pilihan saya sendiri.. demikian juga bagi siapapun mahasiswa yang memilih karena diminta orang tuanya... dalam kasus ini, saya pernah punya anak bimbingan skripsi yang setelah lulus baru mengungkapkan itu pada saya... tapi, bagi saya dia toh telah konsekuen &quot;bertanding dengan benar&quot;, sekalipun itu bukan yang sesungguhnya ia inginkan... jadi, don&#039;t blame others jika itu adalah pilihan atau masih bisa dikatakan pilihan kita, sekalipun karena pengaruh atau bahkan paksaan orang lain..

Di komentar sebelumnya saya telah mengatakan (apologi juga?) tentang mengapa tampak selalu kurang tersedia jumlah kelas yang cukup... jujur, sebagai administrator pada masa tertentu... di atas perhitungan2 yang relatif sudah di atas kebutuhan normal, perhitungan kami mestinya jumlah kelas yang ditawarkan melebihi jumlah mahasiswa yang diprediksi membutuhkannya... hanya, saya menilai (klaim saya) ada pola permintaan yang sulit dibaca begitu saja dengan misalnya berdasarkan gaftar alir (mata kuliah pada tahun ke berapa, semester ke berapa, berapa jumlah mahasiswa pada angkatan yang secara normal ada pada tahun/semester tersebut, serta prediksi prosentasi kegagalan mahasiswa pada periode sebelumnya yang butuh mengulang mata kuliah tersebut)... karena itu, kami pun menyediakan mekanisme permintaan pembukaan kelas tambahan untuk mengatasi mismatch permintaan dari penawaran awal... namun, saya setuju dengan anda bahwa ternyata tidak semua permintaan disetujui.. namun, jelas cukup banyak yang disetujui dan itu dilakukan yang cukup hati-hati... para kaprogdi lazimnya diminta untuk mengecek dan menilai itu secara hati-hati... termasuk melihat kembali dalam rencana tahun/semester depan berapa banyak kelas yang bakal dibuka... jadi, prinsipnya keputusan tambahan kelas diberikan atau tidak dicoba dibuat dari perspektif trend lampau, kondisi permintaan semester tersebut, dan rencana penawaran periode berikutnya... hanya saja, maaf besar jika masih saja ada cukup banyak mahasiswa yang kecewa... termasuk anda?

Yang cukup unik di FE sejak 2004 yang mulai memerkenalkan mata kuliah pilihan bebas (di 2004 cuma 2 sks, di 2007 antara 12 - 20, termasuk kalau ngambil minor)... fenomena yang saya lihat adalah mahasiswa FE kembali &#039;berbelanja&#039; di pasar FE sendiri... padahal dia punya pilihan terbuka se-UKSW... memang kami waktu itu sempat menyoal mekanisme RMK-nya yang masih sulit diakomodasi oleh SIASAT dan urged BTSI dan BARA untuk bisa cepat meng-upgrade SIASAT yang memungkinkan mahasiswa bisa melihat dan memilih opsi mata kuliah dari fakultas lain untuk merealisasikan kurikulum yang seperti itu... 

Jelas sekali bahwa jika mahasiswa FE kembali memilih dari dalam FE, maka mata kuliah tertentu yang tadinya cukup kapasitasnya untuk jatah mereka yang seharusnya mengambil pada semester tersebut bisa jadi tidak cukup karena dikerubuti oleh mereka yang &quot;membeli karena kepanikan&quot;... apalagi kalau mereka angkatannya lebih senior dan berkesempatan RMK duluan... kasihanlah yang di bawahnya... cuma sekali lagi... bagi saya, &quot;protes&quot; lah jika yang berhak tidak mendapat haknya... kalau perlu temui langsung pejabat terkait... desak LK untuk juga ikut mendesak agar kelas tersebut harus ditambah karena memang adalah jatah mereka yang mau mengambil tetapi tidak kebagian... ingat, kita tidak jarang hidup dalam kondisi informasi yang asimetrik.. ambil contoh, biasanya saya selalu pantau SIASAT untuk melihat kondisi kelas kurang etc agar siap2 kontak kaprogdi kalau butuh penambahan kelas.. dan teman2 kaprogdi juga ada yang aktif memantau... tapi, kami tidak selalu bisa menangkap fenomena riil dengan cermat sehingga meleset juga assessment kami dan akhirnya juga keputusan kami... jadi, dalam konteks yang asimetrik begitu, ya mahasiswa juga harus &#039;intervensi&#039; ... mendesak permintaannya agar diterima..

Soal masih cukup mudahnya lolos UKSW... ini hal yang terus menjadi perhatian serius kita semua.. pada kasus kami di FE jelas telah diupayakan dinaikkannya standar nilai masuk dari tahun ke tahun.. cukup unik, ini justru dilakukan setelah FE ada pada trend mahasiswa menurun... bagi saya ya pertimbangannya sederhana... justru declining, kita harus berani banting trend masa lampau untuk membentuk trend baru.. mas Yodie bisa dicek data kenaikan standar nilai masuk, walau jelas menaikkannya pun harus dilakukan dengan perhitungan hati-hati untuk tetap menjami ketersediaan mahasiswa yang cukup di sana FE terlanjur sudah &#039;big size&#039;... saya berharap trend menaikkan nilai masuk terus terjadi sampai pada batas minimum yang boleh dikata kompetitif dan benar-benar merefleksikan mutu... 

Namun, jelas kondisi persaingan hari ini jelas berbeda dibanding awal 90an dan sebelumnya... di masa-masa itu, bahkan pendaftaran mahasiswa baru ditutup karena sudah melebihi jumlah pendaftar yang diharapkan... dan, FE di zaman itu, jelas punya ruang memilih yang besar... rasio mahasiswa yang diterima dari yang mendaftar jauh lebih baik... tapi, sekali lagi, dengan trend sejak medio 2000an, saya pribadi berharap FE UKSW bisa lebih kompetitif ke depan..

Perjuangan ke arah praktik pengajaran dan pembelajaran yang bermutu dan student centered masih panjang... &quot;bensin&quot; kita harus cukup untuk perjuangan panjang tersebut... dan, salah satu sumber bensin itu adalah dari Anda para mahasiswa... karena, jangan sungkan2 untuk speak up... kalau perlu demonstrasi sekalian ha ha ha ha ha...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Mas Yodie,</p>
<p>Terima kasih banyak untuk tanggapan kritis balik dari Anda&#8230; saya setuju bahwa masih ada banyak orang yang bila saya terlalu naif mengatakan telah memilih sesuai need, maka saya justru mengabaikan mereka karena ternyata mereka ibarat orang buta di hutan belantara.. jadi, hutannya sudah sulit dipahami, mereka buta lagi&#8230; cuma, saya masih mau mengajak kita untuk menggunakan ruang2 di mana kita (khususnya mahasiswa) masih bisa memilih atau memutuskan karena lokus keputusan masih ada pada mahasiswa&#8230; jadi, mahasiswa tidak boleh merasa tidak berdaya.. Jika pun saya boleh melihat dari titik waktu sekarang ke masa lampau&#8230; saya juga memilih FE dan Manajemen bukan karena itu pilihan terbaik saya.. namun, saya toh harus konsekuen dengan pilihan saya sendiri.. demikian juga bagi siapapun mahasiswa yang memilih karena diminta orang tuanya&#8230; dalam kasus ini, saya pernah punya anak bimbingan skripsi yang setelah lulus baru mengungkapkan itu pada saya&#8230; tapi, bagi saya dia toh telah konsekuen &#8220;bertanding dengan benar&#8221;, sekalipun itu bukan yang sesungguhnya ia inginkan&#8230; jadi, don&#8217;t blame others jika itu adalah pilihan atau masih bisa dikatakan pilihan kita, sekalipun karena pengaruh atau bahkan paksaan orang lain..</p>
<p>Di komentar sebelumnya saya telah mengatakan (apologi juga?) tentang mengapa tampak selalu kurang tersedia jumlah kelas yang cukup&#8230; jujur, sebagai administrator pada masa tertentu&#8230; di atas perhitungan2 yang relatif sudah di atas kebutuhan normal, perhitungan kami mestinya jumlah kelas yang ditawarkan melebihi jumlah mahasiswa yang diprediksi membutuhkannya&#8230; hanya, saya menilai (klaim saya) ada pola permintaan yang sulit dibaca begitu saja dengan misalnya berdasarkan gaftar alir (mata kuliah pada tahun ke berapa, semester ke berapa, berapa jumlah mahasiswa pada angkatan yang secara normal ada pada tahun/semester tersebut, serta prediksi prosentasi kegagalan mahasiswa pada periode sebelumnya yang butuh mengulang mata kuliah tersebut)&#8230; karena itu, kami pun menyediakan mekanisme permintaan pembukaan kelas tambahan untuk mengatasi mismatch permintaan dari penawaran awal&#8230; namun, saya setuju dengan anda bahwa ternyata tidak semua permintaan disetujui.. namun, jelas cukup banyak yang disetujui dan itu dilakukan yang cukup hati-hati&#8230; para kaprogdi lazimnya diminta untuk mengecek dan menilai itu secara hati-hati&#8230; termasuk melihat kembali dalam rencana tahun/semester depan berapa banyak kelas yang bakal dibuka&#8230; jadi, prinsipnya keputusan tambahan kelas diberikan atau tidak dicoba dibuat dari perspektif trend lampau, kondisi permintaan semester tersebut, dan rencana penawaran periode berikutnya&#8230; hanya saja, maaf besar jika masih saja ada cukup banyak mahasiswa yang kecewa&#8230; termasuk anda?</p>
<p>Yang cukup unik di FE sejak 2004 yang mulai memerkenalkan mata kuliah pilihan bebas (di 2004 cuma 2 sks, di 2007 antara 12 &#8211; 20, termasuk kalau ngambil minor)&#8230; fenomena yang saya lihat adalah mahasiswa FE kembali &#8216;berbelanja&#8217; di pasar FE sendiri&#8230; padahal dia punya pilihan terbuka se-UKSW&#8230; memang kami waktu itu sempat menyoal mekanisme RMK-nya yang masih sulit diakomodasi oleh SIASAT dan urged BTSI dan BARA untuk bisa cepat meng-upgrade SIASAT yang memungkinkan mahasiswa bisa melihat dan memilih opsi mata kuliah dari fakultas lain untuk merealisasikan kurikulum yang seperti itu&#8230; </p>
<p>Jelas sekali bahwa jika mahasiswa FE kembali memilih dari dalam FE, maka mata kuliah tertentu yang tadinya cukup kapasitasnya untuk jatah mereka yang seharusnya mengambil pada semester tersebut bisa jadi tidak cukup karena dikerubuti oleh mereka yang &#8220;membeli karena kepanikan&#8221;&#8230; apalagi kalau mereka angkatannya lebih senior dan berkesempatan RMK duluan&#8230; kasihanlah yang di bawahnya&#8230; cuma sekali lagi&#8230; bagi saya, &#8220;protes&#8221; lah jika yang berhak tidak mendapat haknya&#8230; kalau perlu temui langsung pejabat terkait&#8230; desak LK untuk juga ikut mendesak agar kelas tersebut harus ditambah karena memang adalah jatah mereka yang mau mengambil tetapi tidak kebagian&#8230; ingat, kita tidak jarang hidup dalam kondisi informasi yang asimetrik.. ambil contoh, biasanya saya selalu pantau SIASAT untuk melihat kondisi kelas kurang etc agar siap2 kontak kaprogdi kalau butuh penambahan kelas.. dan teman2 kaprogdi juga ada yang aktif memantau&#8230; tapi, kami tidak selalu bisa menangkap fenomena riil dengan cermat sehingga meleset juga assessment kami dan akhirnya juga keputusan kami&#8230; jadi, dalam konteks yang asimetrik begitu, ya mahasiswa juga harus &#8216;intervensi&#8217; &#8230; mendesak permintaannya agar diterima..</p>
<p>Soal masih cukup mudahnya lolos UKSW&#8230; ini hal yang terus menjadi perhatian serius kita semua.. pada kasus kami di FE jelas telah diupayakan dinaikkannya standar nilai masuk dari tahun ke tahun.. cukup unik, ini justru dilakukan setelah FE ada pada trend mahasiswa menurun&#8230; bagi saya ya pertimbangannya sederhana&#8230; justru declining, kita harus berani banting trend masa lampau untuk membentuk trend baru.. mas Yodie bisa dicek data kenaikan standar nilai masuk, walau jelas menaikkannya pun harus dilakukan dengan perhitungan hati-hati untuk tetap menjami ketersediaan mahasiswa yang cukup di sana FE terlanjur sudah &#8216;big size&#8217;&#8230; saya berharap trend menaikkan nilai masuk terus terjadi sampai pada batas minimum yang boleh dikata kompetitif dan benar-benar merefleksikan mutu&#8230; </p>
<p>Namun, jelas kondisi persaingan hari ini jelas berbeda dibanding awal 90an dan sebelumnya&#8230; di masa-masa itu, bahkan pendaftaran mahasiswa baru ditutup karena sudah melebihi jumlah pendaftar yang diharapkan&#8230; dan, FE di zaman itu, jelas punya ruang memilih yang besar&#8230; rasio mahasiswa yang diterima dari yang mendaftar jauh lebih baik&#8230; tapi, sekali lagi, dengan trend sejak medio 2000an, saya pribadi berharap FE UKSW bisa lebih kompetitif ke depan..</p>
<p>Perjuangan ke arah praktik pengajaran dan pembelajaran yang bermutu dan student centered masih panjang&#8230; &#8220;bensin&#8221; kita harus cukup untuk perjuangan panjang tersebut&#8230; dan, salah satu sumber bensin itu adalah dari Anda para mahasiswa&#8230; karena, jangan sungkan2 untuk speak up&#8230; kalau perlu demonstrasi sekalian ha ha ha ha ha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2344</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 11:19:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2344</guid>
		<description>Mas Yodie, mutu pendidikan Indonesia memang sedang terpuruk. Itu juga yang anda rasakan di UKSW, karena UKSW toh bagian dari masyarakat Indonesia itu. Kekritisan anda menjadi benar, karena keterpurukan itu tidak bisa dijadikan excuse bagi universitas yang menyadari bahwa peningkatan mutu adalah masalah survival di masa depan. Kalau pada jaman dahulu UKSW pernah menjadi pusatnya program pengembangan pendidikan tinggi nasional-nya departemen p dan k (pada masa itu), mengapa sekarang tidak bisa? kalau UKSW bisa membanggakan diri sebagai salah satu universitas swasta yang menghasilkan guru besar sendiri (tanpa membeli atau menyewa dari luar), mengapa sekarang tidak bisa? Ini yang harus menjadi perenungan kita bersama dan dicari jalan keluarnya. 
Tentunya bukan tugas mas Yodie untuk mencari jalan keluarnya, tugas mas Yodie adalah menulis kritik semacam ini sehingga memunculkan kesadaran bersama (karena mahasiswa seperti mas Yodie berHAK atas pendidikan yang baik, sebagaimana amanat undang-undang sehingga berhak untuk menuntut pemenuhan hak tersebut). 
Masalah gaftar alir dll adalah masalah manajemen pendidikan. Kelas yang tidak mencukupi juga persoalan manajemen, pertanyaannya sejauh mana persoalan ini diantisipasi secara manajerial? Sebenarnya dalam perspektif manajemen pendidikan, itu adalah masalah-masalah yang kelihatan di permukaan. Yang esensial justru tidak tampak di bawah permukaan, masalah apakah itu? itulah yang perlu digali dan dicari solusinya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Yodie, mutu pendidikan Indonesia memang sedang terpuruk. Itu juga yang anda rasakan di UKSW, karena UKSW toh bagian dari masyarakat Indonesia itu. Kekritisan anda menjadi benar, karena keterpurukan itu tidak bisa dijadikan excuse bagi universitas yang menyadari bahwa peningkatan mutu adalah masalah survival di masa depan. Kalau pada jaman dahulu UKSW pernah menjadi pusatnya program pengembangan pendidikan tinggi nasional-nya departemen p dan k (pada masa itu), mengapa sekarang tidak bisa? kalau UKSW bisa membanggakan diri sebagai salah satu universitas swasta yang menghasilkan guru besar sendiri (tanpa membeli atau menyewa dari luar), mengapa sekarang tidak bisa? Ini yang harus menjadi perenungan kita bersama dan dicari jalan keluarnya.<br />
Tentunya bukan tugas mas Yodie untuk mencari jalan keluarnya, tugas mas Yodie adalah menulis kritik semacam ini sehingga memunculkan kesadaran bersama (karena mahasiswa seperti mas Yodie berHAK atas pendidikan yang baik, sebagaimana amanat undang-undang sehingga berhak untuk menuntut pemenuhan hak tersebut).<br />
Masalah gaftar alir dll adalah masalah manajemen pendidikan. Kelas yang tidak mencukupi juga persoalan manajemen, pertanyaannya sejauh mana persoalan ini diantisipasi secara manajerial? Sebenarnya dalam perspektif manajemen pendidikan, itu adalah masalah-masalah yang kelihatan di permukaan. Yang esensial justru tidak tampak di bawah permukaan, masalah apakah itu? itulah yang perlu digali dan dicari solusinya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: STR</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2342</link>
		<dc:creator>STR</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 10:15:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2342</guid>
		<description>Untuk Cepero,

BBCode bisa dipakai di kolom komentar web ini, hanya saja perlu diubah ke bentuk HTML terlebih dahulu. Biasanya, karakter &quot;[&quot; atau &quot;]&quot; diganti dengan &quot;&lt;&quot; atau &quot;&gt;&quot;. Untuk lebih jelasnya, silakan tengok penjelasan Wikipedia tentang BBCode dan HTML di sini ==&gt; http://en.wikipedia.org/wiki/BBCode

Trims.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Cepero,</p>
<p>BBCode bisa dipakai di kolom komentar web ini, hanya saja perlu diubah ke bentuk HTML terlebih dahulu. Biasanya, karakter &#8220;[" atau "]&#8221; diganti dengan &#8220;< " atau ">&#8220;. Untuk lebih jelasnya, silakan tengok penjelasan Wikipedia tentang BBCode dan HTML di sini ==> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/BBCode" rel="nofollow">http://en.wikipedia.org/wiki/BBCode</a></p>
<p>Trims.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yodie Hardiyan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2341</link>
		<dc:creator>Yodie Hardiyan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 10:09:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2341</guid>
		<description>&lt;em&gt; Untuk cepero: &lt;/em&gt;

&lt;strong&gt;Jadi menurut pandangan saya, Mas Yodie nih seperti orang yang belum merasakan sepenuhnya menu yang enak di “warung UKSW”, jadi anda ini masih menunggu dengan bersungut-sungut dan melihat banyaknya yang antri di depan anda, bahkan anda mungkin ngomong “warung koyo ngene ki enake sebelah ngendi.., wis antri, larang sisan….”, dan Mas Yodie berpapasan dengan saya yang kebetulan habis makan, kekenyangan dan kebetulan mendengar sungutan mas Yodie, maka saya jawab “enak lo mas, jajalen, ra rugi kok njenengan ngantri, tapi nek njenengan selak ngeleh yo mending nggolek warung liane wae, sing ra antri, murah ning rasane yo mbuh…”&lt;/strong&gt;

Saya sudah merasakan yang enak di UKSW. Yang tidak enak, lebih banyak. Apa yang enak? Satu contoh: Perpusnya lumayan enak. Yang gak enak? Baca tulisan Akuarium saya.

&lt;strong&gt;1. Akuarium kalau mau diisi ikan kan terserah pemiliknya, pemiliknya kan beli dari penjual ikan, jadi ikannya kan nggak punya pilihan mau hidup di akuarium mana.
nah kalau kita di UKSW, kita tuh yang keluar duit dan kita punya pilihan mau kuliah di UKSW apa di AMA apa di QT, jadi kita tidak bisa menyalahkan pihak lain karena pilihan kita sendiri.&lt;/strong&gt;

Hehehe. Perumpamaan Anda: &quot;pemiliknya kan beli dari penjual ikan&quot;. Kalau pemilik UKSW adalah Yayasan, berarti yayasan beli mahasiswa ke orangtua lulusan SMA? OH!

Tidak bisa menyalahkan pihak lain? Yang &quot;jangan disalahkan&quot; otoriter donk? Pernah dengar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia? Untuk apa itu? Atau begini: Anda beli susu kaleng, dan susu itu meracuni anak Anda, berarti jangan protes donk?  Kan susunya dibeli dari hasil pilihan Anda? OH!

&lt;strong&gt;@Yodie: sepengetahuan saya (kalau salah mohon dibenarkan), kita pertama masukkan udah diaturkan gaftar Alir Mata Kuliah soalnya kita kan babar blas nggak tau apa itu siasat?, apa itu mata kuliah?dsbnya, dan untuk gaftar alir selanjutnya kan terserah kita soalnya tergantung IPK kita kan?, saya masih bingung hubungan antara gaftar alir kacau dengan membludaknya mahasiswa???, tolong jelasin dong mas??&lt;/strong&gt;

Anda bisa jawab sendiri pertanyaan Anda. Pikirkan secara logis, untuk apa gaftar alir itu dibuat. Key? OH!

Hubungan gaftar alir dengan membludaknya mahasiswa? Nih mas cepero: Mahasiswa banyak+dosen tak banyak, kelas jadi rebutan: gaftar alir muskil dipatuhi. OH!

&lt;em&gt; Untuk Neil R &lt;/em&gt;

Terima kasih banyak! Kritik Anda cukup pedas, dekonstruksi dan memberi pencerahan. Soal data, itung-itungan, akan saya matangkan lagi di tulisan berikut. Terima kasih bung. Ini kritik yang benar-benar saya butuhkan. Bila Anda bilang ini sebagai apologi penulis, saya tak malu mengakuinya. Lebih baik saya mencoba bertindak, daripada tidak sama sekali. Ada sedikit yang saya lakukan, daripada tidak sama sekali.

Saya masih mempertanyakan ini Bung, tolong dijelaskan:

&lt;strong&gt;Saya jadinya bingung juga akhirnya dengan Anda… pertama, siapa sih yang memilih masuk di UKSW? Siapa juga yang memilih masuk Fakultas Ekonomi… masuk FE pun, sejak pertama kali mendaftar, siapa yang memilih masuk Akuntansi, Manajemen, atau Ilmu Ekonomi? Semua jawabannya jelas adalah mahasiswa yang memilih… Itulah mengapa saya katakan mahasiswa telah memilih sesuatu sesuai apa yang dirasa dibutuhkannya… mengapa memilih masuk FE dan Manajemen…, bukannya FSM Kimia, Teknik Elektro Komputasi, Seni Pertunjukan Musik Gereja dll… Salah satu kemungkinannya karena ingin belajar dan kemudian bekerja di dunia manajemen… entah mau jadi praktisi.. apakah di dunia organisasi bisnis atau organisasi lainnya.. atau berkarya di dunia akademik… mahasiswa yang memilih atau memutuskan, mestinya ia jugalah yang telah memikirkan itu…&lt;/strong&gt;

Saya tahu maksud Anda berkenaan dengan &quot;needs&quot;. Tapi, itu terlalu normatif. Saya tak pungkiri itu dalam pandangan saya. Positifnya: banyak gambaran mahasiswa yang masuk fakultas adalah seperti yang saya tuliskan diatas: &lt;em&gt; Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!” &lt;/em&gt;

Nah itu dia. Kenapa yang &quot;seperti itu&quot; (termasuk saya, pastinya) harus lolos di UKSW. Masuk di UKSW itu terlalu mudah. Tiada seleksi ketat. Darimana kesimpulan &quot;pemilihan berdasarkan needs&quot; kalau cara masuk kampus, tak mencerminkan apapun? Saya sih sudah tercebur, dan kepalang basah, mungkin perlahan melebur. Yang lain? Belum tentu sadar telah basah. Bung Neil, saya memuji bahwa Anda kaum intelektual, dan mungkin lingkungan Anda intelektualis semua. Namun, pandangan terkadang jangan kabur bahwa everything is okay karena pengaruh atmosfir lingkungan. Dibalik kaum intelektual Satya Wacana, seperti Anda, terserak juga mereka yang  &quot;bingung&quot;. Anda sebagai dosen, tahulah tipe mahasiswa macam apa itu.

&lt;strong&gt;Kenapa tidak dipaketkan saja? Kalau mahasiswa mau ‘paket’, kan sudah ada gaftar alir… kalau semua mahasiswa minta dibimbing ya maka gaftar alir adalah pembimbingan terbatasnya.. di gaftar alir sudah ada berapa sks per semester, nama mata kuliah… mereka tinggal ngatur kelas yang mana akibatnya hari apa, jam berapa, di kelas mana, dosennya siapa… jadi kalau mahasiswa mau cukup normal2 saja kan tidak ada masalah.. karena memang fakultas menjamin bahwa mata kuliah yang terdaftar di gaftar alir akan dibuka… kalau ternyata ada yang tidak dibuka.. anda berhak memintanya… apalagi yang wajib2…&lt;/strong&gt;

Bung Neil, gafttar alir itu kan jelas. Berapa sks per semester dan juga matakuliahnya. Bukankah gaftar alir itu sesuatu yang ideal? Sebagai contoh, tak perlu jauh-jauh, saya misalnya, mau ambil matakuliah X yang tertera di gaftar alir...eh, tidak dapat kelas. Kok bisa? &quot;siapa cepat dia dapat&quot;. Apa karena dosen sedikit? Nah, andaikata, &quot;needs&quot; yang Anda maksud adalah matakuliah X tersebut bagi saya, bagaimana donk? Minta kelas? Kok tetap tidak kebagian ya? Alamak.

Saya pikir, solusinya adalah pemaketan matakuliah hingga tahun kedua. Setelah itu, baru sesuai konsentrasi dan pilihan juga minor. Jadi mahasiswa tak bingung dalam siasat. Dan ada sistematika bila ingin matakuliah &quot;lebih banyak&quot; karena IPKnya tinggi. Sistematika? Ya, disediakan matakuliah yang khusus (khusus, semisal di konsentrasi/pilhan/minor dan tidak tercakup dalam gaftar alir). Bisa diambil mahasiswa, semisal, ber-IPK &gt;3-3.5 (dengan catatan: tanpa harus merugikan mahasiswa lain, terlebih mahasiswa yang memang jatah waktu dan kesempatan sesuai gaftar mengambil matakuliah tersebut). Begitu.

Untuk perumpaan, makna rasio, logika dan ibaratisme dalam tulisan saya: saya sekali lagi harus mengakui, otak ini perlu dilatih lagi.  Terima kasih banyak bung, komentar Anda membantu saya. Saya harus belajar dari sejarah, yaitu hari ini yang akan menjadi masa lalu, saat saya membaca tanggapan Anda.

&lt;em&gt; Untuk Opha: &lt;/em&gt;

&lt;strong&gt;Mungkin orang lain akan menilai saya adalah seorang yang pesimistis dengan kebenaran. Tapi ini adalah bagian dari kesadaran saya, bahwa kebenaran adalah sesuatu hal - perihal yang harus terus diupayakan. &lt;/strong&gt;

Dan perlu anda ingat, apa yang Anda ucapkan juga bisa dikategorikan sebagai kebenaran, juga pembenaran, walau Anda tidak sadar dan menganggapnya.

Memang, kebenaran itu abstrak dan absurd untuk diadakan menjadi ada walau itu tidak ada. Tapi, bagi saya, kebenaran adalah bagaimana cara memandang. Tapi akan terus berjalan dialektiknya, dan suatu saat saja bisa berubah. Matur suwun, bung Opha.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><em> Untuk cepero: </em></p>
<p><strong>Jadi menurut pandangan saya, Mas Yodie nih seperti orang yang belum merasakan sepenuhnya menu yang enak di “warung UKSW”, jadi anda ini masih menunggu dengan bersungut-sungut dan melihat banyaknya yang antri di depan anda, bahkan anda mungkin ngomong “warung koyo ngene ki enake sebelah ngendi.., wis antri, larang sisan….”, dan Mas Yodie berpapasan dengan saya yang kebetulan habis makan, kekenyangan dan kebetulan mendengar sungutan mas Yodie, maka saya jawab “enak lo mas, jajalen, ra rugi kok njenengan ngantri, tapi nek njenengan selak ngeleh yo mending nggolek warung liane wae, sing ra antri, murah ning rasane yo mbuh…”</strong></p>
<p>Saya sudah merasakan yang enak di UKSW. Yang tidak enak, lebih banyak. Apa yang enak? Satu contoh: Perpusnya lumayan enak. Yang gak enak? Baca tulisan Akuarium saya.</p>
<p><strong>1. Akuarium kalau mau diisi ikan kan terserah pemiliknya, pemiliknya kan beli dari penjual ikan, jadi ikannya kan nggak punya pilihan mau hidup di akuarium mana.<br />
nah kalau kita di UKSW, kita tuh yang keluar duit dan kita punya pilihan mau kuliah di UKSW apa di AMA apa di QT, jadi kita tidak bisa menyalahkan pihak lain karena pilihan kita sendiri.</strong></p>
<p>Hehehe. Perumpamaan Anda: &#8220;pemiliknya kan beli dari penjual ikan&#8221;. Kalau pemilik UKSW adalah Yayasan, berarti yayasan beli mahasiswa ke orangtua lulusan SMA? OH!</p>
<p>Tidak bisa menyalahkan pihak lain? Yang &#8220;jangan disalahkan&#8221; otoriter donk? Pernah dengar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia? Untuk apa itu? Atau begini: Anda beli susu kaleng, dan susu itu meracuni anak Anda, berarti jangan protes donk?  Kan susunya dibeli dari hasil pilihan Anda? OH!</p>
<p><strong>@Yodie: sepengetahuan saya (kalau salah mohon dibenarkan), kita pertama masukkan udah diaturkan gaftar Alir Mata Kuliah soalnya kita kan babar blas nggak tau apa itu siasat?, apa itu mata kuliah?dsbnya, dan untuk gaftar alir selanjutnya kan terserah kita soalnya tergantung IPK kita kan?, saya masih bingung hubungan antara gaftar alir kacau dengan membludaknya mahasiswa???, tolong jelasin dong mas??</strong></p>
<p>Anda bisa jawab sendiri pertanyaan Anda. Pikirkan secara logis, untuk apa gaftar alir itu dibuat. Key? OH!</p>
<p>Hubungan gaftar alir dengan membludaknya mahasiswa? Nih mas cepero: Mahasiswa banyak+dosen tak banyak, kelas jadi rebutan: gaftar alir muskil dipatuhi. OH!</p>
<p><em> Untuk Neil R </em></p>
<p>Terima kasih banyak! Kritik Anda cukup pedas, dekonstruksi dan memberi pencerahan. Soal data, itung-itungan, akan saya matangkan lagi di tulisan berikut. Terima kasih bung. Ini kritik yang benar-benar saya butuhkan. Bila Anda bilang ini sebagai apologi penulis, saya tak malu mengakuinya. Lebih baik saya mencoba bertindak, daripada tidak sama sekali. Ada sedikit yang saya lakukan, daripada tidak sama sekali.</p>
<p>Saya masih mempertanyakan ini Bung, tolong dijelaskan:</p>
<p><strong>Saya jadinya bingung juga akhirnya dengan Anda… pertama, siapa sih yang memilih masuk di UKSW? Siapa juga yang memilih masuk Fakultas Ekonomi… masuk FE pun, sejak pertama kali mendaftar, siapa yang memilih masuk Akuntansi, Manajemen, atau Ilmu Ekonomi? Semua jawabannya jelas adalah mahasiswa yang memilih… Itulah mengapa saya katakan mahasiswa telah memilih sesuatu sesuai apa yang dirasa dibutuhkannya… mengapa memilih masuk FE dan Manajemen…, bukannya FSM Kimia, Teknik Elektro Komputasi, Seni Pertunjukan Musik Gereja dll… Salah satu kemungkinannya karena ingin belajar dan kemudian bekerja di dunia manajemen… entah mau jadi praktisi.. apakah di dunia organisasi bisnis atau organisasi lainnya.. atau berkarya di dunia akademik… mahasiswa yang memilih atau memutuskan, mestinya ia jugalah yang telah memikirkan itu…</strong></p>
<p>Saya tahu maksud Anda berkenaan dengan &#8220;needs&#8221;. Tapi, itu terlalu normatif. Saya tak pungkiri itu dalam pandangan saya. Positifnya: banyak gambaran mahasiswa yang masuk fakultas adalah seperti yang saya tuliskan diatas: <em> Lain perkara bila pilihan karena formalitas, hibur hati orangtua atau gaya-gayaan. Perkara itu didukung guyonan serius: “Tak sulit kok masuk UKSW!” </em></p>
<p>Nah itu dia. Kenapa yang &#8220;seperti itu&#8221; (termasuk saya, pastinya) harus lolos di UKSW. Masuk di UKSW itu terlalu mudah. Tiada seleksi ketat. Darimana kesimpulan &#8220;pemilihan berdasarkan needs&#8221; kalau cara masuk kampus, tak mencerminkan apapun? Saya sih sudah tercebur, dan kepalang basah, mungkin perlahan melebur. Yang lain? Belum tentu sadar telah basah. Bung Neil, saya memuji bahwa Anda kaum intelektual, dan mungkin lingkungan Anda intelektualis semua. Namun, pandangan terkadang jangan kabur bahwa everything is okay karena pengaruh atmosfir lingkungan. Dibalik kaum intelektual Satya Wacana, seperti Anda, terserak juga mereka yang  &#8220;bingung&#8221;. Anda sebagai dosen, tahulah tipe mahasiswa macam apa itu.</p>
<p><strong>Kenapa tidak dipaketkan saja? Kalau mahasiswa mau ‘paket’, kan sudah ada gaftar alir… kalau semua mahasiswa minta dibimbing ya maka gaftar alir adalah pembimbingan terbatasnya.. di gaftar alir sudah ada berapa sks per semester, nama mata kuliah… mereka tinggal ngatur kelas yang mana akibatnya hari apa, jam berapa, di kelas mana, dosennya siapa… jadi kalau mahasiswa mau cukup normal2 saja kan tidak ada masalah.. karena memang fakultas menjamin bahwa mata kuliah yang terdaftar di gaftar alir akan dibuka… kalau ternyata ada yang tidak dibuka.. anda berhak memintanya… apalagi yang wajib2…</strong></p>
<p>Bung Neil, gafttar alir itu kan jelas. Berapa sks per semester dan juga matakuliahnya. Bukankah gaftar alir itu sesuatu yang ideal? Sebagai contoh, tak perlu jauh-jauh, saya misalnya, mau ambil matakuliah X yang tertera di gaftar alir&#8230;eh, tidak dapat kelas. Kok bisa? &#8220;siapa cepat dia dapat&#8221;. Apa karena dosen sedikit? Nah, andaikata, &#8220;needs&#8221; yang Anda maksud adalah matakuliah X tersebut bagi saya, bagaimana donk? Minta kelas? Kok tetap tidak kebagian ya? Alamak.</p>
<p>Saya pikir, solusinya adalah pemaketan matakuliah hingga tahun kedua. Setelah itu, baru sesuai konsentrasi dan pilihan juga minor. Jadi mahasiswa tak bingung dalam siasat. Dan ada sistematika bila ingin matakuliah &#8220;lebih banyak&#8221; karena IPKnya tinggi. Sistematika? Ya, disediakan matakuliah yang khusus (khusus, semisal di konsentrasi/pilhan/minor dan tidak tercakup dalam gaftar alir). Bisa diambil mahasiswa, semisal, ber-IPK &gt;3-3.5 (dengan catatan: tanpa harus merugikan mahasiswa lain, terlebih mahasiswa yang memang jatah waktu dan kesempatan sesuai gaftar mengambil matakuliah tersebut). Begitu.</p>
<p>Untuk perumpaan, makna rasio, logika dan ibaratisme dalam tulisan saya: saya sekali lagi harus mengakui, otak ini perlu dilatih lagi.  Terima kasih banyak bung, komentar Anda membantu saya. Saya harus belajar dari sejarah, yaitu hari ini yang akan menjadi masa lalu, saat saya membaca tanggapan Anda.</p>
<p><em> Untuk Opha: </em></p>
<p><strong>Mungkin orang lain akan menilai saya adalah seorang yang pesimistis dengan kebenaran. Tapi ini adalah bagian dari kesadaran saya, bahwa kebenaran adalah sesuatu hal &#8211; perihal yang harus terus diupayakan. </strong></p>
<p>Dan perlu anda ingat, apa yang Anda ucapkan juga bisa dikategorikan sebagai kebenaran, juga pembenaran, walau Anda tidak sadar dan menganggapnya.</p>
<p>Memang, kebenaran itu abstrak dan absurd untuk diadakan menjadi ada walau itu tidak ada. Tapi, bagi saya, kebenaran adalah bagaimana cara memandang. Tapi akan terus berjalan dialektiknya, dan suatu saat saja bisa berubah. Matur suwun, bung Opha.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yulius</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/08/09/akuarium/comment-page-5/#comment-2336</link>
		<dc:creator>Yulius</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 07:46:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/?p=128#comment-2336</guid>
		<description>PERDEBATAN
Sang Guru tak mau berdebat dengan siapa pun, karena ia tahu
bahwa yang dicari oleh &quot;pendebat&quot; adalah pembenaran atas
keyakinannya, bukan Kebenaran.
 
Suatu ketika Sang Guru menunjukkan kepada mereka nilai
sebuah perdebatan:
 
&quot;Sepotong roti bermentega jatuh. Yang bermentega di sisi
atas atau bawah?&quot;
 
&quot;Tentu saja, sisi yang bermentega di bagian bawah.&quot;
 
&quot;Tidak, sisi yang bermentega di atas.&quot;
 
&quot;Ayo kita uji.&quot;
 
Sepotong roti diolesi mentega lalu dilempar ke atas. Jatuh.
Sisi yang bermentega berada di atas!
 
&quot;Saya menang.&quot;
 
&quot;Hanya karena saya membuat satu kesalahan.&quot;
 
&quot;Kesalahan apa?&quot;
 
&quot;Saya mengoleskan mentega pada sisi yang salah.&quot; (Anthony de Mello)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>PERDEBATAN<br />
Sang Guru tak mau berdebat dengan siapa pun, karena ia tahu<br />
bahwa yang dicari oleh &#8220;pendebat&#8221; adalah pembenaran atas<br />
keyakinannya, bukan Kebenaran.</p>
<p>Suatu ketika Sang Guru menunjukkan kepada mereka nilai<br />
sebuah perdebatan:</p>
<p>&#8220;Sepotong roti bermentega jatuh. Yang bermentega di sisi<br />
atas atau bawah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja, sisi yang bermentega di bagian bawah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, sisi yang bermentega di atas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayo kita uji.&#8221;</p>
<p>Sepotong roti diolesi mentega lalu dilempar ke atas. Jatuh.<br />
Sisi yang bermentega berada di atas!</p>
<p>&#8220;Saya menang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya karena saya membuat satu kesalahan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kesalahan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mengoleskan mentega pada sisi yang salah.&#8221; (Anthony de Mello)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
