Sejarah untuk Masyarakat Tanpa Sejarah

Browse By

Pada 8 Agustus 2008, Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia bekerjasama dengan Program Pascasarjana Studi Pembangunan mengadakan seminar bertema “Sejarah untuk Masyarakat Tanpa Sejarah, Kasus Indonesia Timur.”

Seminar ini menghadirkan Daniel Dhakidae, mantan kepala bagian penelitian dan pengembangan harian Kompas, dan dihadiri sekitar seratus peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan peneliti Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Kristen Satya Wacana. Masalah yang diseminarkan adalah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya perjuangan masyarakat Indonesia Timur. Dhakidae menyampaikan sejarah lokal, sejarah pahlawan, dan historiografi di Indonesia.

Dengan sendirinya Indonesia melahirkan “pendewaan” terhadap tokoh-tokoh tertentu yang berperan besar. Fase berikutnya adalah kelahiran konsep tentang pahlawan-pahlawan kemerdekaan. Ada semangat yang sangat besar dari “bawah,” yaitu dari daerah-daerah untuk memperdekat apa yang terjadi di daerah dengan apa yang dipahami “pusat” tentang kepahlawanan.

Menurut Dhakidae, pahlawan tidak diciptakan. Pahlawan adalah seseorang yang memiliki karya tertentu yang diangkatnya, dan kawasan Indonesia Timur pada awalnya memang tidak memilki aksara, kecuali Flores.

“Banyak sekolah di kawasan Indonesia Timur yang tidak mengenal sejarah Indonesia Timur. Padahal sebenarnya sejarah lokal sangat penting untuk pendidikan dan dari situlah baru mereka mempelajari sejarah nasional,” tandas Dhakidae.

Dalam makalahnya, Dhakidae menuliskan bahwa semua yang disebut “nasional” sangat tergantung dari seberapa tinggi kadar integritas secara multidimensional. Hal tersebut menjadi soal, baik pada masa kemerdekaaan maupun kolonial. Oleh karena itu, memukul rata bahwa seluruh wilayah yang sekarang disebut “Indonesia” pernah dijajah selama 350 tahun adalah sesuatu yang sangat riskan dari aspek historiografi.

Sepertinya tema seminar menjadi bahan diskusi yang cukup hangat, karena banyak dari peserta yang hadir beranggapan bahwa tema tersebut cukup meremehkan masyarakat Indonesia Timur. Ada beberapa peserta mengatakan bahwa dirinya tersinggung pada saat Dhakidae mengatakan bahwa istilah “Indonesia Timur” tidak memiliki makna. Namun Dhakidae juga menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Indonesia Timur itu terdiri dari ratusan unsur di dalamnya. Flores saja terdiri dari lima bahasa induk, sehingga perlu dipelajari secara khusus. Rote yang kecil saja ada delapan belas bahasa. Di Indonesia Timur ada ratusan bahasa dengan ratusan etnik dan subetnik. Jadi, Indonesia Timur bisa penting, tapi bisa jadi tidak menjelaskan apapun.

9 thoughts on “Sejarah untuk Masyarakat Tanpa Sejarah”

  1. Neil Rupidara says:

    Luar biasa, pencerahan yang luar biasa. Banyak hal taken for granted selama ini. Orang macam pak Daniel Dhakidae yang menekuni ilmu secara mendalam-lah yang pada akhirnya berani untuk melakukan peramuan ide dan melahirkan kritik atas gagasan2 yang taken for granted dan mendorong berkembangnya gagasan2 baru (=proses bricolage).

    Sejarah penting. Karena itu, ada apa dalam dan dengan sejarah kita? Studi dan penulisan kembali sejarah kita karena itu tidak terhindarkan dan mendesak. Ini untuk melandasi penyimpulan mengapa kita jadi begini sekarang ini dan memandu kita memasuki masa depan.

    Studi2 sejarah di barat kini makin mengambil tempat penting, termasuk dalam dunia bisnis. Coba tengok Dept Business History di Harvard. Dalam sebuah wawancara dengan Harvard Business School Working Knowledge, professor Geoffrey Jones mengatakan temuan2 studi sejarah yang kaya data telah membuktikan salah kaprahnya teori-teori dan asumsi2 kontemporer tertentu yang biasa kita dengar dan terima begitu saja. “This loss of history has resulted in the spread of influential theories based on ill-informed understandings of the past,” says Jones.

  2. STR says:

    Pak Neil,

    Saya sepakat bahwa sejarah itu penting, sehingga studi dan penulisan kembali sejarah kita menjadi tidak terhindarkan dan mendesak. Bagaimana dengan sejarah UKSW sendiri? Adakah ia juga mendesak untuk ditulis?

  3. Neil Rupidara says:

    @STR: Sejarah UKSW punya sejumlah dokumen.. Di dekade 90an ada tim penulis sejarah UKSW di Yayasan dan menghasilkan satu dokumen/buku… Sayangnya buku itu demikian eksklusifnya.. tidak pernah dimasyarakatkan.. Dipikir bahwa ya cukup lah jadi dokumen resmi Yayasan.. warga kampus tidak perlu.. Ada juga buku perayaan 25 tahun UKSW, yang diberi judul “Dalam Tuhan Jerihmu Tidak Sia-sia”… Ada buku2 dokumentasi pikiran pak Noto, misalnya “Kepemimpinan dan Pembinaan Pemimpin” serta “Kreativitas Yang Bertanggung Jawab (2 buku)”… Lalu sekitar tahun 1991, Prof John Titaley menulis buku kecil “Pilihan-pilihan Satya Wacana”.. setelah itu, tidak ada lagi buku ‘sejarah’ UKSW yang terpublik, kecuali dokumen sejarah di YPTKSW yang tadi itu.. Baru tahun 2006 ketika merayakan HUT Emas UKSW keluar lagi buku-buku sejarah (judul2nya lupa persis): 1) “50 Tahun UKSW: Mempertegas Jati Diri sebagai Creative Minority”, 2) buku UKSW dalam Kenangan (berisi foto-foto), 3) buku sejarah UKSW versi FKIP (UKSW kan lahir dalam line program pendidikan Guru). Saya ada di tim yang produced buku 1, buku 2 dikomandoi mas Sampurno Fisipol. Waktu itu, sederhana saja pikiran saya, masa mau 50 tahun kita tidak berefleksi atas perjalanan sampai usia itu.. karena itu, buku itu lebih berupa historical accounts para ‘saksi’ sejarah, daripada ditulis sebagai dokumen yang kaku.. sayangnya tidak semua orang yang dianggap critical dalam fase sejarah bisa ikut menulis saat itu..

    STR, saya sempat mengunjungi Univ. Ateneo de Manila.. dan dokumentasi sejarah univ itu dari lahir sampai saat ini rapi dipelihara.. saya salut… sejarah dihargai sedemikian rupa.. saya lalu mengerti bahwa itulah jalan/pilihan hidup.. itulah jatidiri.. tapi, kita di sini anggap sepele semua itu.. saya yang analis organisasi diperhadapkan pada dilema teori – praktik dalam konteks kita di UKSW… teori berkata di antaranya: 1) setiap organisasi memiliki (pilihan) historical path yang unik dan para ahli berargumentasi itu ikut menyumbang sukses/gagalnya organisasi.. 2) narasi/story telling dalam organisasi karena itu penting.. tapi, apa yang terjadi pada kita? kita cenderung berpikir… apa dan untuk apa sih sejarah itu? hmm..

    Saya pernah usul Geritz agar teman2 di SA, dalam rangka dies UKSW tahun ini, untuk bongkar2 lagi sejarah UKSW dan khususnya pikiran2 pak Noto dan membuat edisi cetak spesial Dies membongkar kembali pikiran2 itu dalam konteks sejarah kini dan ke depan… bagaimana, bisa dan mau?

  4. Win says:

    Salah satu yang terungkap dalam seminar tersebut adalah mengenai sejarah dan hegemoni kekuasaan. Ada permainan kepentingan dari penguasa yang masuk dalam penulisan-penulisan sejarah. Bagaimana teman-teman menyikapi hal tersebut?

  5. Theofransus Litaay says:

    @Win: sejarah memang tidak lepas dari kekuasaan, tugas para sejarawanlah untuk menyeimbangkan dengan obyektifitas keilmuan mereka. Itu salah satu hal yang saya tangkap dari seminar tersebut.
    @Neil: bung pernah baca satu buku tentang pentingnya menurunkan sejarah organisasi kepada generasi yang lebih muda? saya lupa judul bukunya, tapi buku itu menarik hikmah dari cara orang-orang jaman kuno menurunkan hikayat dan silsilah mereka lewat tuturan lisan di sekitar api unggun. Pada waktu membaca buku tersebut, saya masih mahasiswa dan kebetulan menjabat ketua BPMU saat itu. Lalu saya sejak saat itu merubah pola menulis paper LK saya menjadi berisi sebanyak mungkin informasi sejarah LK.
    Pemahaman visi dan misi tidak mudah untuk disampaikan melalui training saja, yang lebih efektif justru lewat komunikasi lisan.
    Itulah yang saya pikir menarik untuk kita renungkan bersama, sekali sejarah organisasi hilang maka penghayatan terhadap roh dan jiwa organisasi juga terancam hilang.
    semoga hal ini tidak terjadi.

  6. Neil Rupidara says:

    @Theofransus, yang saya pernah baca buku tentang story telling dalam organisasi.. ditulis oleh Brown dkk.. itupun baca sekenanya di sebuah toko buku… namun, sejumlah literature lain yang saya baca tentang hasil riset dalam bidang organisational studies, ditulis dengan pola naratif dan sangat menarik, bagi saya. Ini mengindikasikan pentingnya story telling atau narasi baik dalam kehidupan riil organisasi maupun dalam mengungkap kehidupan organisasi ke media publikasi. Tapi, saya tunggu info judul bukunya…

    Betul tentang komunikasi lisan, karena itu, suatu waktu saya pernah berkata, “Kita butuh orang seperti pak Noto dan pak Willi yang adalah komunikator yang tidak pernah berhenti membicarakan visi dan misi.. termasuk berupaya mewujudkannya dalam keseharian kepemimpinan mereka.

  7. Nehemia says:

    Aku pikir Dhakidae belum menggali sepenuhnya apa yang terjadi di Indonesia Timur, terkesan biasa saja. Konflik-konflik horisontal juga terjadi di kalangan internal Indonesia Timur yang juga sifatnya memecah kesatuan secara umum. Ide Dhakidae menjadi besar karena saat ini Indonesia Timur memanen banyak orang terpelajar akibat proses pendidikan yang terjadi di sana. Jika tidak, mereka akan tetap ada apa adanya. Ide dicampur semangat, maka jadilah luar biasa. Itu rumus sederhananya. Contoh sederhana lainnya, adalah bangkitnya lagi semangat Pembebasan di kawasan Amerika Latin.

  8. Theofransus Litaay says:

    @Nehemia: mohon diperjelas “Ide Dhakidae menjadi besar karena saat ini Indonesia Timur memanen banyak orang terpelajar akibat proses pendidikan yang terjadi di sana. Jika tidak, mereka akan tetap ada apa adanya.” (?)

  9. Neil Rupidara says:

    @Nehemia, sejalan dengan pertanyaan bung Theo, saya juga ingin tahu alasan menilainya biasa-biasa saja. Indonesia Timur jelas tidak bisa dinilai sebagai cuma satu. Jika Indonesia dinilai memiliki ratusan suku bangsa, budaya, dan bahasa, maka menurut saya itu dikontribusikan dengan sangat signifikan oleh ragam ethnic groups di wilayah2 Indonesia Timur. Karena ragam dan mewarisi kehidupan etnosentrik yang cukup kuat, ya konflik dengan grup lain merupakan hal biasa. Barangkali hal-hal beginian harus ditilik dari/dalam sejarahnya dan karena itu, menurut saya, ide Dhakidae untuk menggali kembali sejarah Indonesia dalam perspektif sejarah-sejarah lokal adalah justru hal luar biasa. Upaya ini bisa membantu kita memahami kekayaan Indonesia secara lebih dinamis, termasuk melalui perspektif konflik2 dalam masyarakat. Bagi saya, kita cenderung sudah take for granted dengan sejarah Indonesia yang ada, sejarah mana oleh Dhakidae justru dinilai sebagai cuma representasi perspektif yang terbatas. Kita tidak (mau) menyoal itu. Kita seolah juga menganggap tidak relevan-lah sejarah-sejarah lokal di atau dari tempat lain. Karena itu, barangkali banyak aspek sejarah yang tenggelam dalam hegemoni sejarah nasional yang sudah established. Apakah saya keliru?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *