Tribal Fusion Ads

Dualisme kekuasaan di Seram Barat

Berita ini telah dilihat 570 kali sejak 14 August 2008

SALATIGA — Sore ini Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia telah mengadakan diskusi yang membahas legitimasi kekuasaan pemerintah dan adat di Seram Barat. Seram Barat — juga disebut sebagai Piru — adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Narasumber diskusi ini adalah Amin Ramly, dosen Universitas Pattimura, Ambon.

Pada diskusi ini Amin memresentasikan makalah berjudul “Legitimasi Kekuasaan Pemerintah dan Adat di Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat.” Makalah ini adalah hasil studinya tentang ketaatan masyarakat desa terhadap pemerintah dan adat di Seram Barat. Amin akan menulis tesis dengan topik serupa untuk meraih gelar magister pada Program Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana UKSW.

Dalam makalah maupun presentasinya, Amin berpendapat bahwa sistem pemerintahan rezim Orde Baru — yang Jawa-sentris — banyak mendominasi pranata lokal yang berbasis pada adat. Dominasi yang sentralistik ini akhirnya melahirkan dualisme kekuasaan pada masyarakat Seram Barat. Secara de jure, pemerintah daerah yang “legal-formal” diakui. Namun secara de facto, pemerintah adat lebih mampu menggerakkan rakyat.

“Kalau ada camat suruh rakyat bangun jembatan, ya bangun. Tapi begitu camat pergi, ya dorang bubar,” kata Amin. “Dorang” adalah kata Melayu-Ambon yang berarti “mereka.” Menurut Amin, rakyat Seram lebih percaya pada pemerintah adatnya, yang terdiri dari raja, kewang, marinyo, kepala soa, dan mauweng.

Wilson Therik, mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan, menyampaikan bahwa fenomena yang serupa juga terjadi di Rote, Nusa Tenggara Timur. Program-program pemerintah daerah baru dapat berjalan jika melibatkan pemerintah adat.

“Berikan kesempatan pada masyarakat untuk menciptakan kreativitasnya sendiri (dalam membangun pranata kehidupannya), sepanjang itu tidak bertentangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Amin.

Tag: , , ,

11 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

  1. Komentar no. 11

    Saam, saya mengikuti pemaparan Pak Amin Ramly di Kantor PSKTI UKSW beberapa waktu yang lalu dan saya tidak menemukan ada yang lucu dari pemaparan maupun makalah Pak Amin Ramly. Coba Saam jelaskan secara detail dimana lucu-nya makalah Pak Amin Ramly? … Lalu, menurut Saam, apa itu adat? dan apa itu budaya? … dalam konteks Maluku khususnya di Seram Barat.

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK