Dualisme Kekuasaan di Seram Barat

Browse By

Sore ini Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia telah mengadakan diskusi yang membahas legitimasi kekuasaan pemerintah dan adat di Seram Barat. Seram Barat — juga disebut sebagai Piru — adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Narasumber diskusi ini adalah Amin Ramly, dosen Universitas Pattimura, Ambon.

Pada diskusi ini Amin memresentasikan makalah berjudul “Legitimasi Kekuasaan Pemerintah dan Adat di Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat.” Makalah ini adalah hasil studinya tentang ketaatan masyarakat desa terhadap pemerintah dan adat di Seram Barat. Amin akan menulis tesis dengan topik serupa untuk meraih gelar magister pada Program Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana UKSW.

Dalam makalah maupun presentasinya, Amin berpendapat bahwa sistem pemerintahan rezim Orde Baru — yang Jawa-sentris — banyak mendominasi pranata lokal yang berbasis pada adat. Dominasi yang sentralistik ini akhirnya melahirkan dualisme kekuasaan pada masyarakat Seram Barat. Secara de jure, pemerintah daerah yang “legal-formal” diakui. Namun secara de facto, pemerintah adat lebih mampu menggerakkan rakyat.

“Kalau ada camat suruh rakyat bangun jembatan, ya bangun. Tapi begitu camat pergi, ya dorang bubar,” kata Amin. “Dorang” adalah kata Melayu-Ambon yang berarti “mereka.” Menurut Amin, rakyat Seram lebih percaya pada pemerintah adatnya, yang terdiri dari raja, kewang, marinyo, kepala soa, dan mauweng.

Wilson Therik, mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan, menyampaikan bahwa fenomena yang serupa juga terjadi di Rote, Nusa Tenggara Timur. Program-program pemerintah daerah baru dapat berjalan jika melibatkan pemerintah adat.

“Berikan kesempatan pada masyarakat untuk menciptakan kreativitasnya sendiri (dalam membangun pranata kehidupannya), sepanjang itu tidak bertentangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Amin.

11 thoughts on “Dualisme Kekuasaan di Seram Barat”

  1. STR says:

    Jadi karena ada dominasi yang Jawa-sentris ini ya muncul gerakan-gerakan separatis di Maluku, Aceh, Papua, dan lain-lain?

    Benedict Anderson, profesor Cornell University yang Indonesianis, pernah bilang bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara dengan begitu banyak ragam kebudayaan tapi bentuknya kesatuan. Ini bisa jadi penyeragaman bukan?

  2. Chaken says:

    Penyeragaman itu benar-benar sesuatu yang dipaksakan, menurut Durkheim masing-masing masyrakat memiliki sui generis sendiri. Karena itu field dan habitusnya berbeda dari masyarakat lain kata Pierre Bordue. Karena itu, pembangunan tidak bosa seragam, aspek kontekstualitas penting untuk ditempatkan dalam dimensi pembangunan. Sebab jika state adalah an imagine community kata Andersson, maka ikatannya sebagai bangsa tidak bisa dipaksakan, ikatan itu adalah ikatan sukarela karena prinsip keadilan dan kesejahteraan bersama.
    Saya setuju dengan Banga Amin dan Satrio bahwa adat perlu dimasukan sebagai salah satu pertimbangan penting dalam blue print pembangunan kita. Dengan demikin pembangunan kita dapat menjadi sebuah tindakan komunikatif yang jauh dari hegemoni. Semoga yah…..oh iya salam dari Ambon untuk semua di Salatiga…..see you again

  3. Saam Fredy says:

    Terlepas dari ketidakhadiran saya waktu diskui, dari tulisan berita di atas dapat saya simpulkan bahwa apa yang disodorkan oleh Bapak Amin adalah sesuatu yang tidak baru lagi. Jika Bapak belum membaca buku berjudul: Orang indonesia dan Orang Perancis dari abad XVI sampai dengan Abad XX, karya Bernard Dorleans, maka saya berharap Bapak membacanya. Buku itu dapat dicari di Perpustakaan Universitas.

    Apa yang menarik dari buku itu? Sisi cerita dari kaum pendatang (Eropa) tentang nusantara, terutama daerah rempah-rempah. Ada beberapa cerita tentang adat kebiasaan dari penduduk setempat.

    Salam,
    Saam Fredy

  4. Theofransus Litaay says:

    @Saam: Seperti yang Saam katakan, bahwa bukunya Dorleans memuat sisi cerita orang Eropa tentang Nusantara. Sedangkan cerita pak Amin adalah cerita dari sisi seorang anak Maluku Muslim terhadap desa Maluku Kristen di pulau Seram. Bagi kehidupan di Maluku sekarang, itu sesuatu yang luar biasa. Bagi orang Indonesia di luar Maluku, tentunya menjadi luar biasa karena itu ternyata luar biasa di Maluku. Itulah wajah Indonesia saat ini.

  5. Saam Fredy says:

    @ Pak theo: Saya pikir Pak Amin juga perlu menggali dari aspek historis tentang penduduk Seram Barat. Buku Dorlens menunjukkan kepada saya bahwa telah terjadi proses perubahan budaya asli Seram menjadi antara pendatang dengan penduduk seram. Sudah tentu itu berdampak ke masa kini. Sehingga menurut saya, apa yang terjadi di seram saat ini menurut Pak Amin, tidak hanya penduduk seram secara murni, tapi ada faktor lain tersebut. Dan itu sangat umum terjadi di negara ini, karena memang terjadi pertukaran kebudayaan yang berujung kepada resistensi kepada budaya baru/baru stok lama.

    Salam,
    saam fredy

  6. Amin Ramly says:

    @ Pak Saam: sebenarnya duduk persoalan yang saya kemukakan adalah bahwa legitimasi kekuasaan yang berdasarkan nilai-nilai adat itu jusrtu lebih kuat daripada legitimasi pemerintah yang memaksa dan menindas rakyatnya. bukan berbicara tentang perubahan budaya, Pak saam mestinya dapat membedakan bahwa masyarakat Seram terbagi atas penduduk asli dan pendatang. Fokus pembahasan saya adalah masyarakat seram yang masih menjadikan nilai-nilai adat sebagai sumber legitimasi dalam menuntut ketaatan mayarakatkat terhadap suatu perintah. Dimana sejak pemerintahan orde baru nilai-nilai adat seram tidak diberikan kesempatan oleh Pemerintah untuk mengembangkan adatnya termasuk lembaga-lembaga adat saniri.

  7. Amin Ramly says:

    @Pak STR: maaf pa, Gerakan yang dilakukan oleh Rakyat Maluku terhadap Negara, tidak dapat dikatakan sebagai gerakaran seperatis. Gerakan yang dilakukan oleh rakyat Maluku sebetulnya adalah bentuk perlawanan rakyat terhadap hegemoni, donimasi, penindasan oleh Penguasa Negara. Bentuk kesatuan yang dikatakan oleh anderson adalah bentuk kesatuan dalam paham tradisi kekuasaan Jawa. Sejak orde baru berkuasa Soeharto memahami kesatuan dalam ideologi Jawa, yang justru menegasikan keragaman yang dimiliki oleh Rakyat Indonesia. Ironisnya sebagian masyarakat Indonesia disigmatisasi sebagai suku terasing. Pa STR harus akui bahwa Soeharto mengawinkan antara tradisi Jawa dan Militerisme selama dia berkuasa, sehingga masyarakat taat kepada pemerintah bukan karena suka rela, tapi ketaatan secara terpaksa karena takut penindasan Penguasa kala itu.

  8. saam fredy says:

    @Pak Amin: Terima kasih untuk respon Bapak.

    Tapi adalah sangat lucu sekali kalau Bapak menulis tentang adat, tapi berkilah dari perubahan budaya yang terjadi dalam masyarakat adat tersebut. Nilai-nilai adat ada jika ada budaya dalam masyarakat, tidka bisa dilepas-lepas. Dorlens menunjukan perubahan nilai-nilaia adat akibat masuknya budaya barat dan Islam ke Nusantara, dan hal itu masih dirasakan hingga hari ini.

    Kalau Bapak hanya bicara tentang legitimasi kekuasaan yang berdasarkan nilai-nilai adat itu jusrtu lebih kuat daripada legitimasi pemerintah yang memaksa dan menindas rakyatnya. Wah itu sangat sederhana sekali, dan sudah banyak yang bicara tentang itu.

    Saya hanya ingin menyampaikan masukan, jika Bapak berkenan, yaitu memasukan perubahan budaya Seram Barat terhadap perubahan nilai-nilai adat yang berujung kepada kekuatan yang terjadi sekarang.

    Salam,
    Saam Fredy

  9. Amin Ramly says:

    Pa Fredy, Terima kasih atas masukannya. tetapi juga harus disadari keberadaan nilai-nilai adat dalam masyarakat tidak se-sederhana seperti apa yang pa Fredy katakan. Masalahnya adalah maksud dari penelitian saya pa fredy tidak membacanya secara tuntas sehingga terdapat perbedaan maksud antara saya dan pa Fredy, sehingga akan sulit mendapat titik temunya. adapun pengaruh akibat akulturasi budaya. Bukan saja barat dan islam, tapi pengaruh kerajaan sriwijaya dan majapahit dengan agama hindunya itu malah lebih besar daripada islam dan barat. Inti nya adalah maksud yang di inginkan oleh pa fredy dan saya berbeda sehingga percakapan ini membutuhkan waktu panjang.

  10. saam fredy says:

    @Pak Amin: Terima kasih respon Bapak.

    Pak Amin, saya sangat menyadari benar bahwa apa yang Bapak maksud: “keberadaan nilai-nilai adat dalam masyarakat tidak se-sederhana seperti apa yang pa Fredy katakan.” Makanya itu menjadi menarik sekali bagi saya. Perubahan paradigma pada cara berfikir masyarakat yang mampu membawa masyarakat itu resisten terhadap hadirnya budaya lain. Resistensi yang harus dipertahankan ataukah ekslusifitasan kelompok tertentu terhadap kekuasaan negara.

    Terlepas dari kepentingan penguasa dan kelompok kepentingan dalam tubuh negara, sikap resisten terhadap budaya lain (terutama hadirnya pemerintah) sudah tentu merupakan hal yang harus diungkap, kenapa?

    Hal serupa, mungkin mirip, terjadi juga dengan masyarakat Samin di beberapa daerah di pantai utara Jawa. Dan saya yakin masih banyak masyarakat adat yang menentang keberadaan pemerintah di daerah mereka, karena mereka telah punya adat yang juga perlu dijunjung tinggi.

    Pak Amin bapak juga salah mengerti dengan berucap: “Bukan saja barat dan islam, tapi pengaruh kerajaan sriwijaya dan majapahit dengan agama hindunya itu malah lebih besar daripada islam dan barat”. Karena buku Dorlens hanya melihat dari sisi pendatang (eropa). Sudah pasti kerajaan besar Majapahit dan Sriwijaya memiliki pengaruh saat itu.

    Ada baiknya Bapak mengirimkan tulisan Bapak ke Saya supaya saya bisa baca tuntas, mohon diemail ke: fredy_marpaung@yahoo.com.

    Salam,
    saam fredy

  11. Wilson says:

    Saam, saya mengikuti pemaparan Pak Amin Ramly di Kantor PSKTI UKSW beberapa waktu yang lalu dan saya tidak menemukan ada yang lucu dari pemaparan maupun makalah Pak Amin Ramly. Coba Saam jelaskan secara detail dimana lucu-nya makalah Pak Amin Ramly? … Lalu, menurut Saam, apa itu adat? dan apa itu budaya? … dalam konteks Maluku khususnya di Seram Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *