Fakultas Buruk Sistemnya

Browse By

Redaksi yang terhormat,

Saya mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra yang ingin menyampaikan saran saya untuk fakultas saya. Sebenarnya saya sudah bosan membicarakan hal ini dan telah menyampaikannya melalui Access (majalah mahasiswa FBS — Red). Karena tidak pernah ada respon dari pihak fakultas, melalui email ini saya mencoba untuk mengisi kolom saran di Scientiarum dan saya berharap akan memperoleh respon dari pihak fakultas.

Pertama, saya sangat menyesalkan sikap pihak fakultas yang tidak menghargai keberadaan mahasiswa. Yang menjadi indikatornya adalah pihak fakultas selalu mempermainkan mahasiswa. Bayangkan saja, selama tiga kali Siasat, saya tidak pernah menemukan keseriusan mereka dalam memikirkan jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang mengambil kelas tersebut. Hal ini mengakibatkan para mahsiswa harus melakukan adjustment berulang-ulang, yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.

Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian? Saya rasa kalau hal ini terjadi berulang-ulang, secara tidak langsung bisa disimpulkan kalau fakultas yang satu ini memang benar-benar buruk sistemnya.

Saya berharap supaya saran saya bisa dimuat untuk memberikan efek jera buat mereka. Trims.

Kaleb Riva, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra angkatan 2007

21 thoughts on “Fakultas Buruk Sistemnya”

  1. wit says:

    Bayangkan saja, selama tiga kali Siasat, saya tidak pernah menemukan keseriusan mereka dalam memikirkan jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang mengambil kelas tersebut. Hal ini mengakibatkan para mahsiswa harus melakukan adjustment berulang-ulang, yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.

    saya dengar-dengar memang begitu ya..?
    kalau nggak segera diatasi, semester depan bisa jadi lebih parah.., karena rencananya besok registrasi harus dilakukan sekaligus untuk semester yang akan datang + semester pendek/pengayaan…
    semoga FBS makin baik dalam merencanakan kelas….
    (di FE, penentuan kelas semester mendatang dibicarakan melalui rapat fakultas (dipersiapkan dulu oleh Kaprodi) — termasuk pengaturan jadwal dosen-dosen yang diagihkan untuk tiap-tiap MKL), setelah SIASAT, untuk revisi Adjustment, ditentukan bersama antara para Kaprodi + Tim Siasat, berdasarkan data yang dikumpukan waktu Siasat, tentu dengan mempertimbangkan beban dosen-dosen yang diagihkan pada kelas2 tambahan.)

    Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian?

    wah…, kalau yang ini sepenuhnya menjadi wewenang dosen yang mengajar MKL ybs. Memang ada metode-metode penilaian yang “standard”, tapi kalau masalah nilai itu hak prerogratif dosen. Memang mahasiswa berhak tahu bagaimana cara dosen menilai kinerja mahasiswanya.
    Nggak mungkinlah dibuat seragam. perbedaan MKL mempengaruhi cara penilaian dosen.

    salam,
    wit – fe-uksw (pembaca setia scientiarum)

  2. Neny Isharyanti says:

    Halo, Kaleb,

    Wah, saya nggak berani komentar yang soal siasat. Itu saya serahkan pada managemen FBS aja *alias tunggu liburan lebaran selesai :)*

    =====Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian?====

    Soal penilaian, saya setuju dengan Mas Wit bhw sistem penilaian itu terserah dosen dengan catatan mahasiswa berhak tahu bagaimana sistem penilaiannya dan berhak mempertanyakan kok nilainya begini begitu. Saya rasa dosen FBS terbuka kok kalau dipertanyakan oleh mahasiswa kok nilai saya begini begitu. Dan biasanya, dosen punya data-data mengapa nilai mahasiswa tersebut kok jadi ini atau itu. Silakan saja tanya dosennya kalau Kaleb punya keberatan dengan nilai semester lalu. Ini kan universitas yang Anda bebas mempertanyakan, nggak kayak di SMA yang serba diktator sulapan nilai bisa.

    Tapi ini yang dimaksud sistem penilaian yang model apa? Apa yang model patokan vs. model nisbi? Kalau itu sih, di teori tentang testing sudah dibahas plus minusnya (silakan mengambil mata kuliah Language Testing kalau Anda nanti sudah tahun ketiga). Atau yang dimaksud Riva soal beragamnya metode penilaian? (tes, presentasi, paper, dsb). Kalau soal metode yang bermacam-macam ini, memang itulah FBS. Nggak mungkin dong menilai kemampuan mahasiswa berbicara bahasa Inggris dengan tes tertulis. Atau menilai kemampuan menyimak dengan menulis paper. Itu kalau di teori Language Testing namanya tidak tepat construct validity-nya alias tidak pas antara kemampuan yang mau dites dengan bentuk tesnya. Kalau nanti Kaleb sudah masuk ke tahun ketiga, lebih ‘aneh-aneh’ lagi bentuk penilaiannya, ada menjadi cast di kelas drama, ada bikin portfolio di kelas CCU, ada proyek di kelas CAR. Saya kira di Fakultas lain pun seperti ini juga. Misalnya di Fakultas Seni Pertunjukan yang notabene mengajari skill bermusik. Tidak lucu dong kalau mengetes kemampuan main piano dengan tes tertulis. Kalau gitu sih, saya pasti lulus dong. Tinggal ngapalin teori main piano, tapi tidak perlu bisa tang-ting-tung beneran! Nah kalau yang terjadi beginian, baru silakan Anda pertanyakan soal buruknya sistem. Kalau memang sistem FBS buruk, silakan Anda lihat profil alumninya yang tersebar di mana-mana itu apakah mereka berkualitas buruk karena sistem yang buruk. Saya rasa Anda akan kaget kalau berbicara dengan para alumni itu dan para pengguna alumni itu dan menemukan bahwa mereka memang berkualitas baik karena sistem FBS yang bisa dibilang cukup ‘bullet proof’ karena sudah teruji selama berpuluh-puluh tahun (nggak usah saya sebut siapa saja alumninya, nanti Anda jadi keder :P)

    Ini bukan apologi lho, jadi silakan ditanggapi dengan hati yang tulus ikhlas 😀

  3. Felis_domesticus says:

    Sebentar…saya mau tanya lebih jauh lagi mengenai sistem penilaian yang dianggap buruk itu yang seperti apa ya saudara Kaleb? Anda harus mendefinisikan secara lebih detail lagi karena menurut saya penilaian itu banyak aspeknya. Saya rasa apa yang dinilai dari suatu course di FBS itu sudah jelas dan malah sangat jelas ketika anda sudah membaca syllabus dari tiap course yang sudah pasti dibagikan pada awal perkuliahan. Selama saya kuliah di FBS, saya tidak pernah merasakan adanya sistem penilaian yang mengganjal di hati sebegitu dalamnya seperti apa yang anda rasakan. Kalau agak kontra sedikit ya is ok lah, kan tidak bisa semuanya sesuai dengan kehendak mahasiswanya. Kalau masalah nisbi dan patok, memang sejak awal sudah ada sistem penilaian yang seperti itu. Malah sebelum saya kuliah juga sudah begitu sistemnya.

    Lalu, bahwa setiap dosen memiliki hak prerogative di dalam menilai mahasiswanya, itu juga memang sudah sepantasnya seperti itu selama tidak melenceng dari teaching guidelines-nya. Apa yang dianggap ‘bagus’ oleh dosen yang satu kan belum tentu sama menurut dosen yang lainnya. Apalagi di FBS kan setiap course berbeda-beda field-nya, di mana dosen yang mengajar juga sesuai dengan language compentence yang dimiliki. Di FBS ada courses yang berhubungan dengan grammar skills yang memiliki sistem penilaiannya sendiri. Lalu ada juga courses yang computer-based dengan sistem penilaian yang berbeda pula. Sedangkan courses yang berhubungan dengan teori language-teaching juga pastinya memiliki sistem penilaian yang berbeda lagi. Yang jelas adalah bahwa setiap skill pastinya memerlukan standar penilaian yang berbeda. Sebagai contoh: kelas speaking and kelas writing tidak bisa donk disama-ratakan sistem penilaiannya. Skill yang bisanya dinilai melalui praktek pasti berbeda sistem penilaiannya dengan skill yang bisanya dinilai melalui test tertulis, seperti apa yang telah disampaikan oleh ibu Neny di atas.

    Untuk masalah sistem SIASAT, pastinya tidak kamu saja yang merasakan bahwa sistem tersebut memang agak menyusahkan dan memperlambat bagi mahasiswa-mahasiswa tertentu. Tetapi trust me, itu bukan murni salahnya FBS, tetapi lebih ke sistem kampusnya as a whole. Kan sistem SIASAT tersebut bukan semata-mata tanggung jawab FBS saja. FBS pastinya hanya memberi informasi kepada pihak kampus mengenai courses yang ada dan kuota kelasnya, lalu pihak kampus yang mengatur sendiri mengenai SIASAT-nya. Sedangkan mengenai kuota untuk kelas-kelas tertentu, ini pastinya berhubungan dengan ketersediaan dosen pengampunya juga. Tidak mungkin donk dosen yang expertise-nya di literature, lalu mengajar kelas-kelas yang berhubungan dengan language-teaching hanya karena kuota kelas harus ditambah. Kalau dilakukan bisa-bisa saja, tetapi bagaimana dengan quality control yang ada, nantinya pasti anda akan menulis lagi di scientiarum dengan wacana yang berbeda pula, macam “Fakultas Buruk Kualitasnya” hehe….

    Harapan saya adalah semoga kita bisa melanjutkan pembahasan wacana ini, tapi tetap harus dengan kepala dingin, okay… 😉

  4. Hendro Setiawan says:

    Buat Mas Kaleb,

    Walaupun menurut saya komentar agak terkesan bombastis dan subyektif, saya mengucapkan terima atas saran Anda. SIASAT memang kontroversial. Ada saja masalah, walaupun pihak fakultas sudah berusaha mati-matian untuk mengatasi masalah itu. Harus diakui bahwa FBS tidak bisa selalu menuruti semua permintaan mahasiswa. Pertama, seperti yang dikatakan Felis, dosen tidak bisa mengajar semua matakuliah karena masing-masing punya expertise sendiri-sendiri. Sangat tidak masuk akal meminta dosen sastra misalnya mengajar structure 2 atau 3 yang mungkin sedang Anda ambil sekarang. Kedua, harus diakui ada cukup banyak dosen FBS yang lagi studi lanjut plus ada juga yang cuti. Fakultas khan nggak bisa menyuruh mereka pulang khan? Untuk itu, pihak fakultas sudah berusaha meminta bantuan dosen dari fakultas lain (misalnya PP, STIBA atau piha luar), tapi sekali lagi kami nggak bisa asal comot. Kalau ternyata performance mereka tidak sesuai dengan harapan kami, bagaimana? Kamipun juga tidak bisa meminta bantuan mereka seenaknya karena dosen-dosen itu sendiri juga sibuk di fakultas mereka. Ketiga, ada keterbatasan jumlah dosen dengan kepakaran (expertise) tertentu. Makanya kelas dibuka sebagian pada semester ganjil dan sisanya pada semester genap. Saya kira fakultas lain di UKSW juga menerapkan sistem seperti itu. Masih ada beberapa alasan lain yang terlalu banyak untuk diulas di sini. Tapi percayalah kami nggak seperti yang Anda kira. Kami sangat menghargai mahasiswa kami dan kami tidak pernah mempermainkan Anda dan mahasiswa FBS lainnya. Apa untungnya buat kami?

    Bukan bermaksud untuk menyudutkan Anda, tetapi ketika Anda tidak mendapatkan matakuliah, apakah Anda pernah bertanya kepada diri Anda mengapa? Apakah hal itu terjadi karena Anda terlambat SIASAT? Apakah Anda melakukan SIASAT sendiri atau diSIASATkan teman? Apakah hal itu terjadi karena kesalahan FBS atau karena sistem di UKSW? Apakah Anda sudah mengecek pengumuman kalau ada penambahan kelas-kelas baru? Apakah Anda mengambil matakuliah sesuai dengan flowchart kita? Ataukah seperti yang Anda tuduhkan bahwa jumlah kursi untuk mahasiswa kurang untuk matakuliah yang pas Anda akan ambil? Anda sendiri yang tahu jawabannya.

    Soal dosen yang memakai sistem penilaian yang bermacam-macam, Anda memang benar. Kenapa nggak distandarkan saja? Mungkin itu ide yang baik, tapi maksud Anda dengan standard itu apa? Apa harus tertulis kayak di SMA? Apa harus berbentuk pilihan ganda? Atau harus nisbi dan bukan patokan? Maaf, saya kurang begitu jelas. Namun, seperti yang dikatakan temen-temen lain, memang bentuk penilaian itu tergantung dosen dan jenis matakuliahnya. Kalau Anda ambil speaking 3 atau 4 sekarang, terus Anda dites pakai pilihan ganda, wah..ngak lucu namanya. Anda ambil Writing 2 terus dites dengan membaca, bisa kacaulah fakultas kita. Anda ingat khan pepatah “Ada banyak jalan ke Roma”. Kira-kira begitulah. Ada banyak cara penilaian (misalnya: tes, porto folio, tugas akhir, presentasi, dll.) dan masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Namun yang pasti, dosen pada awal kuliah selalu memberitahukan kepada mahasiwa bentuk penilaian yang akan diterapkan, berapa kali hal itu dilakukan, berapa bobotnya dan kapan penilaian itu akan dilakukan (kecuali unannounced quiz supaya Anda rajin ikut kuliah). Di kelas saya (Intro to Linguistics dan Corpus Linguistics) saya menanyakan kepada mahasiswa apakah mereka setuju dengan sistem penilaian yang saya usulkan. Kami berdiskusi dan kami membuat komitmen bersama. Enak dan enak lho!

    Kalau sekiranya Mas Kaleb kurang puas, silakan mampir di kantor saya. Tahu khan? Kita bisa teruskan ngobrol-ngobrol kita sambil minum teh (nanti saya buatkan yang siip). Tapi jangan lupa buat appointment ya? Thanks.

  5. Joy says:

    Masalah sistem sebenarnya bukan FBS aja yang bermasalah, fakultas “X” di UKSW yang baru mendirikan Progdi baru tahun 2006 pun juga begitu. mereka sengaja membuat kurikulum yang sangat bagus untuk mendapatkan ijin dari dikti, tapi tidak memikirkan bahwa ‘mampu / tidak mahasiswanya menerimanya?’.
    sistem yang digunakan adalah sistem paket diman setiap semester mahasiswa harus menempuh 26 SKS dan ini wajib. dan ada lagi beberapa mahasiswa yang mengulang dan SKS-nya menjadi 28-34 SKS.
    Efektifkah pembelajaran seperti ini?

    maaf saya tidak menyebutkan nama fakultas dan progdinya.

  6. ZOE says:

    hem…… UKSW ini kok serba di salahkan ya…..! nggak universitasnya fakultasnyapun selalu menjadi obyek kritikan.
    tapi memang sebenarnya harus begitu semakin banyak kritikan justru akan semakin menjadi lebih bagus ya UKSW !!
    akan tetapi tidak hanya menerima kritikan saja tetapi juga menimbang-nimbang dan memperbaiki sistem agar tidak menjadi obyek kritik yang abadi.
    selain itu tidak hanya UKSW dan fakultasnya saja yang dikritik akan tetapi kalo mahasiswanya sudah di beri sistem dan fasislitas yang bagus masih saja tidak menjadi mahasiswa yang benar ( intelek,kritis dan prinsipil) mahasiswanya juga harus di kritik dan harus mau menerima kritik dan menjalani sebagaimana mestinya mahasiswa intelek.
    pokonya buat civitas UKSW tetep semangat…..BRAVO…. ciayo…..

  7. andi-dobleh says:

    @ZOE
    menjadi mahasiswa bagi saya adalah tahap meraup kebebasan yang lebih besar.
    bebas memilih mata kuliah apa yang diambil. bebas memilih tidur dimana tiap malam.
    bebas memilih cewek mana yang mau dipacarin. bebas memilih berapa lama mau jadi mahasiswa.
    bebas walau masih dalam belenggu berbagai kebatasan (kemampuan diri, finansial, dll).

    so, mahasiswa mau menjadi intelek atau mau menjadi mahasiswa karbitan ya juga bebas.

    @Kaleb
    sara rasa surat pembaca yang anda tulis ini menjadi kritik dan masukan bagi fakultas, tapi tentu berlebihan bila dibilang menimbulkan efek jera.
    Salut buat anda karena telah mau bersuara!

  8. yosafat says:

    Terlepas dari baik atau buruk sistem yang ada di fakultas bahasa dan sastra, saya pribadi acung jempol untuk Kaleb, telah berani bersuara. jarang ada teman teman FBS yang berjiwa pemberani dan memanfaatkan media yang ada untuk sebuah perubahan.

  9. Yessica says:

    Hi Kaleb..
    Aku salut sama kamu berani bersuara disini..tapi saranku kalo ngritik tu dipikir dulu..
    1. Memang masalah FBS selama ini adalah kekurangan kelas..menurutku fakultas tu sebenernya udah nyiapin kelas yang cukup..tapi kan ada masalah yang kadang sulit untuk diprediksi misalnya berapa jumlah mahasiswa yang ngulang..di tiap MK kan beda2..ada yang banyak, ada yang sama sekali ga ada..
    coba kamu pandang masalah ini dari berbagai sisi:
    a. Fakultas:
    * coba kamu pikir emang nyusun jadwal bwt +/- 700 mahasiswa FBS itu gampang..? kita mahasiswa si enak susun jadwal cuma bwt kita sendiri..
    b. Klo kamu nyalahin sistem SIASAT..sepertinya kamu perlu coba bwt sistem sendiri..karena setauku yang namanya internet kalo dipake bareng2 dalam satu waktu ya itu yang terjadi..: ga bisa cepet..
    c. Kalo nyalahin yang ngulang => kamu yakin ga bakal ngulang apapun? Klo yakin ya bagus..aku doa’in cepet lulus; ngulang itu kan hak asasi, ya tho?

    2. Nilai
    anak2 2007 emang pernah nanyain soal sistem penilaian..kalo berdasar pengalamanku si, di hari pertama kuliah, dosen selalu kasi silabus yang salah satu isinya adalah sistem penilaian, kalau kamu merasa ga dpt y minta donk, berani ngomongnya kan? disini aja berani masa sama dosen ga berani tanya..

    3. Kalo kamu ga puas sama ACCESS kenapa ga tanya langsung ke P. Hendro? Klo ga berani sendiri hubungi aja BPMFBS..nt kita temenin..

  10. Jonathan says:

    Wah….
    Aku pengen blajar keberanian sdri Kaleb…

  11. kaleb ngraha says:

    well.. pertama saya mau bilang thank buat semua komentar yang masuk tapi saya belum bisa menjelakan semuany sekarang karena saya berencana untuk memgkalrifikasi semaunya di depan dekan saya terlebih dahul,dean HSH,pada tangga 29 januari 2009,dan hasilnya akan saya sampaikan keada saudara semuanya,saya minta maaf kalau saya lambat meresponi karena saya baru tahu kalau surat saya diprdebatkan kemarin mala,22 januari 2008,intinya aya pasti bertangung jawab dengan semua statement yang saya buat karena saya yakin saya benar

  12. kaleb nugraha says:

    seperti yang disarankan banyak orang saya sudah membuat perjanjian dengan dekan FBS,dean HS,tapi mungkin karena kesibukan beliau beliau belum memberikan respon untuk ajakan saya,say bisa memaklumi hal ini namun karena saya bukan tipe orang yang senang membuat bingnung banyak orang saya akan coba menerangkan hal ini di blog pribadi saya,kaleb1989.wordepress.com/letusan mercon di malam hari,saya tunggu respon anda untuk wacana ini adapun alsan saya untuk tidak membahas hal ini di sini karena saya punya prinsip tidak baik membicarakan masalah pribadi di rumah orang (bukan di blog pribadi).saya tunggu respon anda

  13. nugraha says:

    saya sudah menaggapi semua komentar yang masuk melalui blog pribadi saya,bukan karena saya pecundang tapi karena saya bukan seorangyang mau menghabiskan waktu untuk berdebat jadi kalau anda masih penasaran silakan kunjungi blog saya kaleb1989.wordpress.com/letusan mercon di malam hari

  14. michael says:

    talk less, do more

  15. Yoyok 2003 says:

    1st..saya salut sama Kaleb yang berani menyuarakan pendapatnya (atau hak nya sebagai konsumen dari sudut pandang jual-beli).

    Mengenai jumlah kelas yang kurang. Menurut saya permasalahannya adalah tidak seimbangnya jumlah kelas vs jumlah mahasiswa. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila sebelumnya dilakukan perhitungan matematis secara tepat. (kalau tidak salah di T.Industri namanya riset operasi :P).

    Mengenai SIASAT yang lambat pada saat D-Day. Memang benar system dapat mengalami penurunan layanan apabila terjadi overload. Namun hal ini bukan tidak dapat diatasi.. bias saja terjadi masalah pada sistem load balancing, maupun pada algoritma pemogramannya. Contoh: detik[dot]com yang notabene jumlah aksesnya secara real-time jauh lebih banyak dari siasat pada saat D-Day.

    Jadi menurut saya intinya kembali ke mahasiswa dan manajemen fakultas. Sebagai mahasiswa usahakan jangan mengulang makul (agar penjadualan lebih mudah), dan untuk pihak manajemen sebaiknya mengambil langkah matematis / statistic dalam melakukan hal ini. CMIIW

    Regards,

    Hargyo T.N

  16. Markus AR says:

    Saya kurang setuju dengan pendapat anda.
    Setiap fakultas pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, keberadaan itu tergantung dari penerimaan kita.
    Anggaplah semua fakultas memiliki sistem pendidikan yang sama, dan di dalam sebuah fakultas semua sistem pendidikannya sama. Apakah mahasiswa malah tidak menjadi jenuh???
    Saya kira semua sistem pengajaran antarDosen berbeda – beda. Kalo disamaratakan maka sistem pengajarannya akan sangat monotone. Malah bisa terjadi mahasiswa sering bolos kuliah karena merasa jenuh.

    Mengenai jumlah kelas yang penuh ataupun keterbatasan matakuliah yang diambil, semua itu tergantung pada anda sendiri. Menurut saya semua itu sudah wajar, di manapun universitasnya pasti mahasiswa akan mengalami hal yang sama. Maka dari itu banyak mahasiswa “telat lulusnya”, menurut saya apa ruginya telat lulus jika dibandingkan lulus cepat tapi tidak mendapatkan job???? apakah anda takut lulus lama?? tidak usah cepat -cepat lulus, toh masa depan gak ada yang tahu ( maksud saya lulus dengan wajar akan lebih baik darpada memaksakan diri ). Saran saya cintailah ilmunya bukan sistemnya.

    Kuliah sebaiknya dinikmati, tidak usah terlalu mempedulikan sistem apa yang digunakan. Toh kalau anda benar – benar mencintai jurusan yang anda pilih anda akan secara otomatis mengikuti sistemnya ( kecuali anda masuk dengan terpaksa atau bukan karena cita – cita anda ). Kalau ada ketidakcocokan itu wajar, anda pasti bisa mengkompensasi hal – hal tersebut. Bila tidak dapat mengkompensasi, ya itu masalah anda.

  17. Yoyok 2003 says:

    @ Pak Markus (menanggapi pernyataan Anda terhadap jumlah kelas yang kurang)

    Sepertinya Anda kurang memahami apa yang terjadi :). Yang terjadi pada waktu artikel ini dibuat (semoga sekarang sudah tidak terjadi) adalah jumlah keras yang kurang akibat banyaknya jumlah mahasiswa.

    Sekarang saya tanya pada Anda..apabila sistem trimester dirancang agar untuk mahasiswa dengan IPK 3.0 jumlah sks yang diambil adalah 12 SKS..tapi karena jmlh kelas yang kurang akhirnya banyak mahasiswa2 yang BERHAK mendapatkan 12 sks hanya mendapatkan 8 Sks. Apa yang Anda lakukan? Diam?

    Sekali lagi mahasiswa juga mempunyai hak sebagai konsumen di universitas (yang notabene penyedia jasa pendidikan); mahasiswa berhak untuk lulus cepat (kalau dia mampu).

    Anda mengatakan apabila kita mencintai fakultas kita maka kita akan mengikuti sistemnya. Hmm..apakah ini yang berlaku di negara ini? ketika ada ketimpangan pada sistem yang berlaku kita hanya diam..karena alasan cinta. Pertanyaan saya: cinta atau tidak peduli? cinta atau takut untuk bersuara?

    salam 🙂

  18. dhika says:

    kaleb = do something dong drpda ngomong mulu
    kalo mikir ttg sesuatu hal,jangan dari satu sisi aja,,,buka mata supaya bisa liat dunia.
    bayangin aja kalo liat jalan dari satu arah doang,,bisa ketabrak.
    buka wawasan,,buka mata,,
    semua hal pasti ada kekurangan dan kelebihannya,dan pastinya fakultas (in case,universitas juga), mereka sudah coba kasih yang terbaik untuk mahasiswa.jangan protes ttg kekurangan kalo gak tau cara yang lebih baik,,

  19. wahyu herlambang says:

    Kepada saudara kaleb dan semua yang memposting komentar di scientiarum untuk subject ini

    Pembahasan masalah sistem siasat ini memang tidak akan selesai satu atau dua hari karena diakui atau tidak ada masalah administrasi di kampus maupun fakultas bahasa dan sastra. Tapi alangkah lebih baik bila kita tidak asal tuding siapa yang perlu disalahkan. Baik yang berkomentar (Kaleb) maupun yang menanggapi (yang saya tahu sebagian adalah mahasiswa FBS sendiri) perlu memikirkan apa yang perlu diposting agar tidak terkesan mendiskriminasikan atau menuduh tanpa alasan yang jelas.
    Saya selaku mahasiswa FBS dan mantan fungsionaris LK FBS juga merasa kesulitan dalam mendapatkan beberapa kelas selama ini. Terlepas dari masalah itu, saya mencoba untuk berbesar hati dan beradaptasi dengan cara mengambil kelas alternatif.

    Untuk saudara kaleb sendiri, saya patut mengucapkan salut atas perhatiannya pada perbaikan siasat karena saya juga pernah mendengar banyak keluhan serupa dari mahasiswa FBS dan mengalaminya secara pribadi. Tapi bila anda menuduh fakultas main2 dalam menyiapkan siasat, saya rasa itu claim yang sangat terburu2. Bayangkan saja bila pada saat siasat jumlah kelas ditingkatkan secara dramatis, apa nilai anda nanti bisa keluar tepat pada waktunya atau apa anda nanti akan mendapat hasil sepadan dengan jumlah uang kuliah yang anda bayar sebelumnya?

    Sebagai informasi, pihak fakultas sendiri juga pada tahun lalu memutuskan untuk tidak memberikan prioritas kepada fungsionaris LK untuk siasat terlebih dahulu (itu sebenarnya hak kami untuk pengabdian di LK, tapi tidak akan saya ungkit lebih jauh lagi). Pihak fakultas merasa bahwa kebijakan ini kurang adil bagi kebanyakan mahasiswa dan sesuai dengan keputusan fakultas, pihak LK tidak lagi diserahi tanggung jawab dalam membantu proses siasat. Hal ini sudah diungkapkan dalam rapat LK sebelum semester 2 dimulai.

    Dalam hal penilaian dari para dosen, saya rasa itu merupakan kebijakan yang mereka ambil, berdasarkan atas apa yang mereka rasa baik. Tergantung dari diri kita sendiri apa kita bisa mengikuti standar yang mereka berikan. Coba saja anda bayangkan kalau semua dosen di FBS menetapkan standar terlampau tinggi, selevel S2, misalnya (untuk lebih mudah dipahami saya sebut saja dosen pelit nilai). Saya jamin banyak mahasiswa FBS yang berakhir dengan NaSaKom. Atau bila semua dosen FBS murah nilai, tanpa memperhatikan kualitas dari evaluasi yang mereka berikan, bisa2 harga diri Fakultas dan kita selaku mahasiswa yang kuliah di dalamnya bisa tercoreng. Apa kita mau dianggap lulus dari fakultas yang kualitasnya *maaf* “ecek2”? Tentu saja tidak, karena FBS Satya Wacana tidak sekelas itu. Kalau memang mau lulus secara instant dengan nilai yang baik, mungkin pertimbangan para mahasiwa akan beralih ke universitas akreditasi B atau lebih rendah. Saya yakin bahwa FBS kita memang pantas mendapat akreditasi “A” karena kualitasnya memang teruji. Silakan bandingkan dengan universitas2 lain, apakah FBS kita kurang bermutu dibandingkan FBS mereka? Tidakkah alumni FBS kita banyak tersebar di mana2 dan diakui? Kita berkuliah di FBS papan atas di negeri ini dan saya rasa tidaklah berlebihan bila kita bangga karenanya.

    Jadi untuk saudara Kaleb sendiri, mungkin anda perlu berterima kasih kepada para dosen dari fakultas yang anda sebut sebagai “yang buruk sistemnya” ini karena secara tidak langsung mereka menyatakan bahwa “Anda kuliah di fakultas yang bermutu, ini standar kami, silakan Anda pahami dan ikuti” melalui standar penilaian mereka. Berbesar hatilah untuk hal ini karena melalui penilaian2 mereka kita secara tidak langsung dipersiapkan untuk mengahadapi standar penilaian di dunia kerja kelak.

    Saya juga menganjurkan anda untuk menyuarakan pendapat saudara kaleb dan mahasiswa FBS lainnya bersama2 dengan perwakilan BPMFBS apabila anda mengalami masalah serupa dengan SIASAT ataupun nilai karena itulah fungsi dari BPMF sendiri.

    Harap komentar ini dipahami sebagai kepedulian saya untuk kemajuan bersama.

    Salam Sejahtera

  20. Sastrostroek says:

    Hiii Kaleb….smoga dikaunya sudah lulus…tapi masih sempat baca suratmu yang baru dipublikasikan 😀

    Jangan kecil hati Kaleb…karena permasalahan fakultas tidak hanya di fakultasmu saja. Kayaknya kasus yang sama juga bisa ditemukan dimana-mana di UKSW. Sepertinya sih…pejabat-pejabat fakultas punya prinsip….”mana da urus”….sibuuk nih ngurus diri sendiri..yang penting kan SKS-KU berjibun dan tunjangan tetap mengalir. Sakit mental…meniru istilah almarhum Gus Dur….spertinya memang membudaya…berjuang menjadi pejabat karena fasilitas yang ditawarkan….12 SKS untuk jabatan + tunjangan tiap bulan..huebaaat to….itupun masih mengejar SkS pengajaran dan maunya di jam-jam nikmat…setelah jam 09.00 dan sebelum jam 16.00. Jadi kapan dong ngurus fakultas. Lebih memprihatinkan lagi fenomena yang merebak…menjadi pejabat tertinggi fakultas, merangkap jabatan pelayanan di luaran, menerima jam pengajaran yang tidak sedikit…..mau datang jam 07.00 kalau ada jadwal mengajar plus (jam mengajar yang dibayar langsung uang), rapat fakultas dianggap tidak perlu…..sangat menyedihkan…seperti dekan FSM.

    Jadi Kaleb….kayaknya kita bersatu dalam doa saja deh…biar Allah sendiri yang campur tangan dan Kuasa Alah sendiri yang mengubahnya…..karena kalau kita mencoba mengemukakan pendapat saja…bisa-bisa seperti istilah “ula marani gebug” atau ular menuju pemukul dirinya :-((

    Yaaah…wallahuallam….kapan UKSW kembali ke citra dirinya lagi….Universitas yang bernuansa kasih sesama bukan kasih uangnya.

    Syaloom

  21. tika says:

    kayaknya telat 2 thun untuk komen… Hm… sesuatu tanpa kritik tidak akan maju, karena kritik selalu diperlukan… (jgn berkata kritik membangun karena kritik tetaplah kritik). yang perlu dilakukan adlah berkaca diri baik pihak pengritik atau pun yang dikritik…
    memang tidak mudah untuk mengubah sistem, tapi jika ingin melakukan perubahan mulai dari hal tg paling sederhana yaitu mendengarkan dan berpikir bijaksana…
    kalo tidak siap dikritk, statis saja di tempat…
    terlalu reaktif terhadap kritik di situ lah titik kelemahan kita nampak… mengritik tanpa dipikir masak2 atau menggunakan kaca mata lain itu juga tidak bijaksana….
    jangan lewat majalah dong… ajak ketemu saja semua pihak yang dibutuhkan… lalu cari akar masalahnya…
    (kembali saja lah pada hakikat belajar dan mengajar dan didirikan tempat belajar).
    (hidup juga perlu berdialektika….)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *