Makna Pemilihan Langsung bagi LK UKSW

Browse By

Menjelang demisionerisasi Lembaga Kemahasiswaan, sudah jadi ritual tiap-tiap lembaga kemahasiswaan, baik legislatif maupun eksekutif, membentuk kepengurusan untuk periode berikutnya. Sidang pemilihan ketua badan perwakilan mahasiswa fakultas jadi pembuka ritual itu. Legitimasi yang berlaku untuk pemilihan pemimpin BPMF di Universitas Kristen Satya Wacana adalah pasal 13 ayat 3 Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa.

Sama halnya seperti pemilihan di aras fakultas, legitimasi yang berlaku untuk aras universitas (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) adalah pasal 29 ayat 3 KUKM. Dalam KUKM juga secara eksplisit dimuat bahwa BPM memilih ketua senat mahasiswa (KUKM pasal 12 ayat 2d dan pasal 28 ayat 2a). Maka sah-sah saja jika euforia momen ini hanya dirasakan segelintir orang, yaitu mereka yang merasa dirinya representasi ribuan mahasiswa UKSW. Dalam proses pemilihan ini, mahasiswa “awam” memang tidak dilibatkan secara langsung.

Sistem seperti ini berlaku pada zaman Orde Baru, dimana rezim yang berkuasa memasung kebebasan berpendapat rakyat. Konkretnya, saat penyampaian aspirasi kepada lembaga legislatif dan pemilihan presiden. Dalam kehidupan masyarakat yang heterogen, setiap orang mungkin menyampaikan aspirasinya dengan cara berbeda-beda dengan berbagai indikator cara penyampaian aspirasi dan pilihan, misalnya melihat aspek kredibilitas, akuntabilitas, kapabilitas, dan lain-lain. Dengan sistem yang diterapkan rezim Orde Baru, rakyat hilang kepercayaan terhadap pemimpinnya karena (mungkin) merasa pemimpinnya bukanlah representasi rakyat.

Krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya jadi stimulasi berbagai pergerakan rakyat yang ingin mengubah sistem yang berlaku, yang diharapkan dapat mengakomodir kepentingan rakyat ke arah yang lebih baik. Runtuhnya rezim Orde Baru diikuti dengan munculnya era reformasi jadi gerbang dimulainya tatanan baru yang diharapkan dapat lebih mengakomodir kepentingan rakyat.

Pemilihan langsung, itulah yang dikatakan demokrasi, demokrasi yang sesungguhnya. Dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Walau tidak bisa secara eksplisit mewakili kepentingan rakyat, tapi setidaknya rakyat diikutsertakan dalam momen tertinggi dari perspektif kenegaraan.

Terus apa benang merah yang dapat ditarik dari sistem pembentukan Lembaga Kemahasiswaan UKSW dengan sejarah demokrasi Indonesia? Seharusnya ada reformasi dalam tubuh lembaga ini (LK) — bahkan kalau perlu revolusi, meski waktunya cukup lama. Namun akan terlalu dini seandainya hal itu dilaksanakan sekarang, meski juga bukan tidak mungkin dilakukan — bila kita menghendaki dan memperjuangkannya. Butuh proses yang melibatkan mahasiswa secara keseluruhan.

Dalam perspektif saya, pengubahan sistem yang diharapkan bukan hanya sekadar mengubah sistem yang ada agar dapat “setidak-tidaknya” hampir mewakili suara mahasiswa. Tapi yang ditekankan adalah bagaimana mengupayakan keterlibatan seluruh mahasiswa dalam momen penting seperti pemilihan ketua BPM maupun senat mahasiswa.

Ketidakpedulian mahasiswa dengan keberadaan LK jadi topik pembicaraan umum bagi segelintir mahasiswa yang peduli dengan LK. Kenapa mahasiswa lain tidak peduli? Mengapa mereka tidak peduli? Apa yang menyebabkan mereka tidak peduli? Yang seharusnya ditanyakan adalah mengapa mahasiswa tidak pernah dilibatkan langsung dalam momen penting seperti pemilihan pemimpin LKF maupun LKU? Seandainya mereka (mahasiswa) dilibatkan langsung, mereka akan lebih merasakan keberadaan LK yang kini seolah-olah menjelma jadi penyelenggara program, tanpa fokus pada penyampaian aspirasi atau kepentingan mahasiswa.

Pesimisme dan ketidakpercayaan kepada LK sesegera mungkin harus dihapus dalam paradigma berpikir mahasiswa, hingga terjadi suatu kepentingan yang sinergis antara mahasiswa dengan segelintir orang yang represif berkeinginan merepresentasi aspirasi mahasiswa.

Namun mengubah sistem tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada proses yang sistematis untuk mengubah aturan. KUKM — yang jadi “kitab suci” lembaga kemahasiswaan — jadi kekuatan pengatur dalam tatanan kehidupan bermahasiswa. Mengamandemen KUKM mungkin merupakan langkah konkret yang tepat sebagai gerbang masuknya muatan demokrasi yang ideal.

James Filemon, ketua Komisi B Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas

8 thoughts on “Makna Pemilihan Langsung bagi LK UKSW”

  1. Neil Rupidara says:

    @James.. menambah perenungan bagi LK untuk meninjau kembali banyak hal tentang dan di dalam dirinya.. baik itu KUKM, barangkali juga SPPM, etc..

    Mudah2an nanti rekan-rekan LK membaca banyak referensi untuk mendiskusikan hal-hal dimaksud. Juga, karena ada juga para pakar hukum dan demokrasi di kampus, manfaatkanlah mereka dengan meminta pendapat2nya. Ada juga dosen yang adalah mantan fungsionaris LK yang bisa memberi referensi historis. Ada juga pimpinan UKSW dan dosen senior yang bisa diminta pandangan seputar ideal2 UKSW sebagai salah satu referensi memahami LK di UKSW. Namun, duduk dengan kepala dingin dan dengan mata hati yang tajam untuk melihat apa yang terbaik bagi LK UKSW.

    Catatan saya, membanding begitu saja zaman Orde Baru dan sekarang lalu semua hal harus diganti total ya be careful. Ambil contoh sederhana, di zaman Soeharto berkuasa, petinggi Dikti/Depdikbud pernah mengintervensi kampus dengan kebijakan NKK/BKK. Tidak terkecuali, UKSW juga kecipratan policy ini. Namun, LK dan pimpinan UKSW di kala itu tetap cerdik untuk menjaga kekhasan institusional yang dimiliki. Nama boleh BKK, tetapi isi tunggu dulu. Lembaga Kemahasiswaan ya tetap harus dikelola oleh para mahasiswa sendiri, bukan harus dibawahi oleh seorang Pembantu Rektor/Dekan urusan Kemahasiswaan. Hal lain, ketika semangat anti-Soeharto naik dan unjuk rasa mulai menggelora jelang pertengahan 90an, sejumlah pimpinan Senat Mahasiswa yang merasa diri heroik dari berbagai belahan nusantara hendak merekomendasikan agar lembaga kemahasiswaan di manapun di Indonesia sebaiknya mengambil format parlemen jalanan daripada terkooptasi kekuasaan Rektor yang dipersepsi perpanjangan tangan pemerintah Orba. Di kala ketegangan dan tekanan tinggi ke arah sana, Senat Mahasiswa UKSW dengan jelas, tegas, dan tenang mengemukakan beda pandangnya, “Itu bukan cara mahasiswa di UKSW karena mahasiswa pun berhak suara sama dengan lembaga manapun di kampus UKSW, di level Fakultas maupun Universitas”, walaupun memandang mengekspresikan pendapat dengan turun ke jalan pun bukanlah hal tabu. Jadi, di zaman kejamnya Soeharto pun UKSW tidak serta merta menjadi ‘Orba’ dan di zaman redupnya Soeharto UKSW juga tidak lalu liar seolah baru lepas dari tali pengikatnya. Di zaman Orba, UKSW tidak pernah disentuh karena pembangkangannya itu dan perguruan tinggi lain menaruh hormat atas pilihan berani itu dan belajar dari UKSW. Di saat euforia demokrasi, rekan-rekan Senat Mahasiswa dari perguruan tinggi lain pun tetap menaruh respek atas sikap ‘melawan arus’ dan tetap mau belajar dari UKSW.

    Dua contoh itu cuma sekedar menunjuk bahwa pengenalan jatidiri dan lingkungan jauh lebih penting dari sekedar tergopoh-gopoh berubah hanya karena alasan yang ‘terlalu besar’ sehingga kadang sulit dimengerti ketepatan konteksnya. Karena itu, sekali lagi, siapkan diri dengan baik untuk membangun kembali tatanan kelembagaan LK yang solid.

  2. James says:

    @pak Neil: terima kasih masukannya. saya salut dengan tindakan LK UKSW yang berani mengambil keputusan melawan arus.

    tapi saya tidak tahu apakah keputusan masa itu merupakan suatu tindakan yang benar. saya tidak tahu.

    melawan arus tidak selamanya benar (menurut saya). melawan arus bisa saya katakan tidak peduli.tidak peduli.
    UKSW menara gading? mungkin.

    memang terlalu dini menilai perbedaan pergerakan kini dan masa lalu. tapi yang kelihatan secara nyata memang demikian. perubahan sistem yang saya sebagai orang awam ketahui seperti itu pak. betul!! mungkin ada baiknya saya diskusikan dengan orang yang lebih ahli.
    pemilihan langsung salah satu alternatif yang saya yakin bisa mengubah pemahaman mahasiswa (awam) mengenai LK. “menarik” mahasiswa ke arah peduli terhadap LK. tahu “posisi” dan hak.

  3. Neil Rupidara says:

    @james.. lagi ya… soal yang dulu… UKSW justru tetap memertahankan roh ‘student government’ di saat perguruan tinggi manapun di Indonesia pada ‘mati’ oleh tekanan NKK/BKK… juga, soal style perjuangan jalanan di kampus, mengapa harus begitu ketika kita masih bisa duduk satu meja dan ikut berdebat dengan pengambil keputusan tertinggi di Universitas.. kan, kita tidak sekedar mau main politik tekanan massa di saat peluru intelektual masih bisa kita pakai… jadi, saya tidak tahu di mana argumen menara gading ditempatkan.. karena mahasiswa uksw di zaman dulu cukup aktif di berbagai kancah… lk uksw juga perintis pekan ilmiah mahasiswa yang menjadi ajang telaah intelektual kritis dalam menghadapi masalah-masalah pembangunan… ada banyak contoh yang baik yang masih bisa dirujuk saya kira… karena itu, soal menara gading kan soal seberapa tinggi derajad kepedulian lk uksw pada masalah2 riil dalam masyarakat melalui excercise kepakaran ilmiah yang dimiliki bagi kemanfaatan pihak lain, khususnya masyarakat…

    lihat tanggapan saya di tulisan lain di SA soal pemilihan langsung ini… kalau tidak disertai persiapan yang cukup misalnya edukasi pada participants ya hanya akan menghasilkan kejutan2 distortif.. jadi, bukannya salah, tapi bagi saya pilihan tatanan kelembagaan perlu memertimbangkan banyak hal bukal sekedar karena ganti rezim kekuasaan makro lalu semua yang mikro organisasi ya harus berubah..

  4. Pradhewa A says:

    Saya suka tulisan si James,,itu membuka mata kita semua sebagai mahasiswa Uksw (semoga banyak yang baca)..

    Fungsi LK tidak Hanya Sebagai Penyaji kegiatan ato penyelenggaraan kegiatan saja,tapi ingat yang utama adalah sebagai Tempat penyaluran aspirasi mahasiswa,,dimana mahasiswa UKSW dapat mencurahkan,menjelaskan masalahnya dalam hal perkuliahan di kampus.Dan yang paling penting adalah penyelesaiannya.

    Itu baru mencerminkan representatif mahasiswa…Dan baru fungsi demokrasi akan berjalan baik.

  5. schape09 says:

    well…
    membicarakan LK masa sekarang di UKSW, bagi saya (maaf) tidak seseru masa2 yang lalu. Bukan berarti saya menganggap bahwa LK sekarang tidak sehebat dulu, namun saya cenderung memaknai bahwa LK sekarang ini kurang memiliki kapabilitas sebagai representasi mahasiswa UKSW.
    Sikap lembaga yang ditunjukkan LK, tak lagi mampu mendidik mahasiswa untuk berkembang.

    Maaf, tapi Sdr. James belum secara terbuka menjelaskan lebih detail tentang proses regenerasi di lingkungan LK, di BPMU terutama. Akuntabilitas LK tidak dilaksanakan dengan baik, yang berarti persoalan ini lebih kepada persoalan profesionalitas dan manajemen sumber daya mahasiswa di BPMU. Boleh memang Sdr. James mengungkap apa yang dihadapi LK masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, akan tetapi perilaku LK tetap saja tak menjamin bahwa mahasiswa diberikan pengetahuan mengenai urgensitas LK di UKSW.

    Krisis kepercayaan yang terjadi belakangan ini bukan karena alasan bahwa mahasiswa kritis terhadap mekanisme organisasi yang dibangun LK, namun bagaimana LK dan BPMU terutama mensiasati perkembangan demokrasi di dalam proses peralihan kepemimpinan di LK. Beberapa tahun belakangan ini di LK (yang saya alami sendiri), peralihan kepemimpinan menghasilkan dua macam problema. Pertama, kentalnya politik kepentingan yang menyebabkan LK kurang gereget. Kedua, marjinalisasi anggota LK -dan mahasiswa- sehingga muncul ketidakpercayaan anggota kepada pihak yang memimpin.

    Nah, persoalannya, apakah Sdr. James mampu membawa perubahan (kecil saja dulu) dalam pergerakan mahasiswa yang direpresentasikan oleh BPMU? Apakah Sdr. James berani memberikan terobosan baru bagi perkembangan BPMU?

    Mari kita lihat sejauh mana BPMU mendidik anggotanya untuk mandiri berpendapat.
    Syukur, Sdr. James sedikit terbuka, meski berada di lingkungan yang ‘mengerikan’ itu.
    Salut.

    gBu
    🙂

  6. Andi K. Yuwono says:

    James, coba cek KUKM terakhir kapan direvisi? Menarik juga idemu untuk me-revolusi LK. Persoalannya revolusi itu frontal jadi tidak bisa bertahap. Mungkin maksudmu adalah reformasi sehingga membutuhkan waktu yang cukup panjang. Aku lebih usul perubahan yang cepat dan tepat.

    MAsih inget ketika aku sama-sama di senat waktu jama Neil juga. Pneyusunan program kerja memang hanya didiskusikan para “gerombolan aktivis senat” saja. Terkadang melupakan bahwa LK adalah sebuah lembaga yang seharusnya menjalankan program yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Bukan lantas berdiri sendiri dan tidak berpijak pada dunia yang ada di komunitas mahasiswanya.

    Dulu memang UKSW sangat disegani namun menjelang reformasi 98 hingga sekarang seolah terlempar dari pusaran arus besar itu sendiri.

    Nah pendapatmu soal pemilihan langsung tentunya itu wacana yang progressif dan patut dijalankan di era sekarang. Dinamika perubahan sudah terjadi di mana-mana kenapa tidak dilakukan? Sebuah langkah kecil yang (tentunya) berat. Terutama bagaimana caranya mengajak mahasiswa yang (mayoritas) tidak peduli dan masa bodoh bahkan pada dunia yang mereka pijak sendiri. Egoisme kelas menengah yang borjuis.

    Ayo!

  7. Cornelius Mellino says:

    Kalau ingin pesimisme mahasiswa terhadap LK terhapus (maaf, bukan dihapus) sebaiknya paradigma jembatan dirobohkan saja. Dari dulu saya sudah tidak percaya dengan ungkapan bahwa LK adalah jembatan antara manajemen kampus dengan mahasiswa. Karena sudah banyak LK-LK yang memakai paradigma itu, malah memposisikan diri sebagai Public Relationnya fakultas atau universitas… bedanya mereka tak digaji. LK dipilih oleh mahasiswa, dipercaya oleh publik mahasiswa untuk memperjuangkan aspirasi dan hak mahasiswa, jadi sudah selayaknya menjadi ujung tombak perjuangan mahasiswa.
    Jika memang LK punya nyali, baik pimpinan maupun anggotanya, dan mengambil posisi pro-mahasiswa dalam berbagai masalah…niscaya pesimisme mahasiswa thd LK akan hilang dengan sendirinya dan tergantikan dengan rasa antusias. Anda sebagai aktivis LK harus mampu mewujudkan LK “yang lebih punya taste”.

    Selamat Mencoba.

  8. bagus says:

    aq mo cari tau makna pemilihan langsung dalam pemimpin kita tch ap..?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *