Fakultas Pertanian menanam gandum Dewata di lahan seluas 2 hektar, di dusun Salaran. Varietas ini diturunkan dari gandum DWR162 (India) oleh Djoko Murdono dan kawan-kawan. Djoko adalah ahli uji seleksi benih dari Fakultas Pertanian. Dia mengklaim, varietas ini mampu menghasilkan panen sekitar 25 persen lebih banyak dari DWR162.
@Dicky Kurniawan
padi juga diteliti kok.., baca Kompas hari kemarin, Faperta sedang meneliti untuk mengawinkan padi GH dari Banyubiru (Ambarawa) dengan ‘pejantan’ dari China.
satu hal yg membanggakan dari tanaman bernama gandum ini, adalah pd saat sy membawa gandum ini kepada Pakde sy yg seorang guru besar di sebuah institut pertanian di kota Bogor. Komentar Pakde sy adl, dia kagum pd fak. pertanian UKSW yg berhasil menanam, bahkan memanen gandum di Indonesia.
@ Satrya : Kayaknya, kalo pake kamera Nikon, minimal yg D40X, lebih bgs, dech…( wakakakakak…jgn dimasukin hati, Sat. Just joking, and promosi kamera DSLR Nikon, hehehehe…Maklum, gue Nikon mania )
Belilah bubur gandum, dijamin sehat bergizi dan awet muda
Kembangkan terus produksi gandum di Indonesia. Sehingga mampu mengurangi angka impor gandum. Dan suatu kebanggaan jika Indonesia mampu memenuhi sendiri kebutuhan gandum dalam negeri.
Sukses bwt Fakultas Pertanian UKSW Salatiga, yang udah mengembangkan gandum di Indonesia…
Bwt bubur gandumnya rasanya enak, kalo bisa dikembangin lagi kuliner gandumnya.
Kembangkanlah terus produk Indonesia, Majukan kesejahteraan rakyat.
Jaya Indonesia!!!*** ^_^
fotonya bagus!
bagaimana prospek ekonomisnya, tanam gandum 1 hektar berapa profitnya ? Maklum alumnus fe’88 akan berpikir ekonomis juga. Bagaimana dengan padi 1 hektar dibanding gandum 1 hektar ?