Tribal Fusion Ads

Songsong Hari Tani Nasional dengan demonstrasi

Berita ini telah dilihat 280 kali sejak 23 September 2008

Demo Hari Tani Nasional 2008
SCIENTIARUM/GATOT DWIYANTO

SALATIGA — Kemarin, lebih dari 60 mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis berunjuk rasa di area gerbang masuk Universitas Kristen Satya Wacana. Mereka berunjuk rasa dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional yang jatuh besok.

Para pengunjuk rasa membagi-bagikan selebaran yang memuat pernyataan aksi berjudul “Reformasi Agraria Sebagai Jalan Meneguhkan Kuasa Rakyat” kepada masyarakat yang melintasi jalan Diponegoro, depan kampus UKSW. Mereka menyatakan keprihatinan mereka terhadap nasib kaum petani yang tak kunjung membaik kesejahteraannya.

Mereka juga menyuguhkan aksi teatrikal yang mengisahkan penindasan penguasa terhadap kaum petani. Mulyanto Allo Karaeng, salah satu demonstran, mengenakan kaus hitam, celana doreng, dan sepatu bot ala tentara. Dia “menginjak-injak” demonstran lain yang berkostum kaus putih dan celana pendek.

Menurut Daniel Pakuwali, mahasiswa Fapertabis angkatan 2008 yang menjadi koordinator lapangan, unjuk rasa ini bertujuan mendesak pemerintah untuk mencari jalan, bagaimana melindungi hak-hak petani dalam regulasi pangan. Mereka minta pemerintah kendalikan peredaran beras-beras impor. “Kasihan petani lokalnya,” kata Daniel.

Bagaimana pendapat Daniel soal kegagalan panen padi galur Super Toy, yang terjadi di beberapa daerah?

“Petani dijadikan kelinci percobaan,” jawab Daniel. “Petani yang sudah bodoh, dibodohi.”

Daniel berpendapat, seharusnya penelitian Super Toy dilakukan berulang-ulang, hingga benar-benar menghasilkan bibit yang baik. “Sedangkan uji cobanya jangan berhektar-hektar sawah, untuk mengurangi resiko kegagalan.”

RALAT
Ada kesalahan pada artikel ini. Nama Mulianto Allo Karaeng ditulis “Mulyanto”. Daniel Pekuwali ditulis “Pakuwali”. Atas kesalahan ini, kami mohon maaf.

Satria A. Nonoputra
Redaktur

Tag: , ,

8 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

  1. Komentar no. 1

    Salut dengan aksi tersebut. Tapi kurang bijak mengatakan petani bodoh (dalam kalimat “sudah bodoh, dibodohi”)

  2. Komentar no. 2

    Masak 60 orang Seh??????Waktu berangkat ibadah senin seh kayaknya sekitar 20an tok. Tapi gak tau deng kalo pada nyusul kemudian,semoga benar dugaan saya(yang laennya nyusul). Bukan sekedar blow up media hehehe…..Simulasi yang bagus Kak Febri…Semangat buat temen2 pertanian. buat Riki,kapan makan kolak lagi di tempat Pak WR1 hahahaha…Makasih yach…

  3. Komentar no. 3

    Untuk Ju2r,

    Terima kasih buat komentarnya.

    Menurut Bambang “Bams” Triyono, wartawan yang menulis berita ini, informasi “lebih dari 60 mahasiswa” dia dapat dari salah satu pengorganisasi aksi (saya lupa orangnya). Anthony Lee, wartawan Kompas, malah menulis “sekitar 40 mahasiswa”. Pagi ini saya coba hubungi Mulyanto Allo Karaeng, salah satu demonstran, dan mendapat jawaban, “Lebih dari 50 orang.” Mulyanto sangat yakin dengan taksirannya. “Wong angkatan 2008 tok itu yang ikut 50 orang, cuma dua yang nggak dateng,” katanya.

    Mungkin Mas Bams bisa ikut memberi penjelasan di sini. Kita tunggu saja.

    Terima kasih.

  4. Komentar no. 4

    kalo mau jangan demo,mending cepet lulus trus memperbaiki indonesia dengan ilmu yang didapat,daripada kalian demo sama penguasa masuk telinga kiri keluar telinga kanan….hidup satya

  5. Komentar no. 5

    Intinya jgn lawan pemerintah brkuasa,mreka jg mkir loh, ganti rugi untk padi super toy jg uda dibagikan to? Mau bantu petani,bkin peneltian aj,jgn cman ngmong… Saya pna dger fakultas prtanian jg pna punya pnlitian ttg padi kualitas bagus kahn? Lha mbok dlanjutkan terus..smangad bt mahswa faperbis, hdup uksw dan petani pasti… Sbg fakta,ada petani jaman skrg hanya sbg pkerja,tdak pmilik lahan scra utuh..

  6. Komentar no. 6

    Buat Ju2r:

    @ jumlah massa aksi itu saya peroleh dari Korlap (Koordinator Lapangan), Daniel Pakuwali.

  7. Komentar no. 7

    To All: Wah Readers SA makin kritis aja…. Salut nich !!

  8. Komentar no. 8

    Saya sangat mendukung demonstrasi ini, banyak petani tertindas karena pemerintah menginpor beras dari luar. perlu diketahui bahwa harga pupuk kimia di daerah-daerah tinggi tapi anehnya, barangnya pun tidak ada.
    untuk membeli pupuk, mereka harus mengumpulkan surat tanah di penyalur pupuk, tapi dengan cara itupun pupuk masih tetap tidak ada.

    bagaimana padi bisa hidup, jika pupuknya aja tidak ada.

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK