Meruwat Fisipol?
Foto ini telah dilihat 3,159 kali sejak 26 September 2008
Bau hio merebak dari ruang rapat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik hari ini. Seorang dosen menunjuk sesajian di atas satu meja kayu panjang sebagai asal bau tersebut. Rupanya sedang ada ruwatan kecil di Fisipol.
CATATAN
Saya menulis catatan ini pada 4 Oktober 2008 sebagai penjelasan, bagaimana foto di atas bisa terpublikasi di Scientiarum.
Jumat, 26 September 2008, beberapa orang — ada dosen, juga mahasiswa — melakukan semacam doa bersama di taman depan kantor Fisipol. Dalam doanya, mereka meminta agar di masa mendatang Fisipol bisa lebih baik dari keadaan sekarang (waktu itu). Doa bersama ini mendapat perhatian wartawan Kompas, Antony Lee. Saya lihat dia beberapa kali menjepret orang-orang yang lagi berdoa, dengan digital single-lens reflex camera.
Setelah doa bersama usai, saya masuk “kanfak” Fisipol untuk menemui Tri Kadarsilo di ruangnya. Sebelumnya saya dapat info dari Saam Fredy Marpaung, staf Biro Promosi dan Hubungan Luar, bahwa salah satu penggagas doa bersama adalah Kadarsilo. Saat itu bau wangi — seperti bau kemenyan — semerbak di seluruh lorong kanfak.
Saya ketuk pintu ruang Tri Kadarsilo dengan pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Saya lantas memberanikan diri masuk. Saat pintu terbuka, saya lihat ada Tri Kadarsilo, Saam Fredy Marpaung, dan Antony Lee di sana. Dua nama terakhir yang saya sebut itu tak lama kemudian keluar. Lee membawa beberapa dokumen — salah satu, yang saya lihat jelas, mirip dengan cetakan transkrip kuliah mahasiswa Satya Wacana.
Saya tak punya banyak kesempatan memperhatikan dokumen-dokumen yang dibawa Antony Lee. Dia bergegas keluar, meninggalkan ruang Tri Kadarsilo. Saam Fredy Marpaung “mengawal” wartawan itu.
Perhatian saya kemudian terarah pada Tri Kadarsilo. Saya hanya ingin bertanya, apa maksud sebenarnya dari doa bersama? Kok tumben ada yang demikian, sampai diliput wartawan Kompas segala?
Tri Kadarsilo lantas menjelaskan satu masalah yang lagi terjadi di Fisipol — saya atau wartawan Scientiarum lain akan menuliskannya sebagai laporan tersendiri. Dia bilang, penyelesaian masalah tersebut dilakukan dengan pendekatan kultural. Pendekatan kultural? Ya, salah satu contohnya adalah berdoa itu tadi.
Tapi rupanya ada pendekatan kultural lain. Tanpa saya minta, Tri Kadarsilo mengajak saya keluar ruangnya. Dia membawa saya menuju satu ruang yang disebut sebagai ruang rapat Fisipol. Dia menunjukkan seperangkat sesajian seperti tergambar pada foto di atas. Akhirnya saya paham asal bau wangi yang saya sangka kemenyan tadi.
Untuk apa sesajian itu? Ruwatan? Ya, kira-kira begitulah, ucap Tri Kadarsilo, sambil tersenyum. “Saya kan orang Jawa,” katanya pada saya. Menurut Kadarsilo, cara-cara yang demikian lebih bisa menjawab masalah, ketimbang mengandalkan iman Kristen yang sering didengungkan di kampus. Dia merasa ada “kekuatan yang bersahabat” dengan dirinya di sekitar kanfak Fisipol. Dan kekuatan itu membantunya mengungkap masalah yang baru saja dia ceritakan pada saya sebelumnya. Masalah, yang kata Kadarsilo, selalu berusaha ditutup rapat oleh para pemimpin di Universitas Kristen Satya Wacana!
Menjelang akhir pembicaraan saya bertanya pada Kadarsilo, “Apa hal ini (sesajian dan ruwatan) boleh diketahui publik (sivitas akademika Satya Wacana)?” Tri Kadarsilo tak keberatan. Maka saya ambil foto di atas dari kamera Petrus Wijayanto (dengan minta ijin, tentu saja), dosen Fakultas Ekonomi yang sempat mengambil foto ruangan itu. Saya crop foto itu sedikit, lalu tulis tiga kalimat sebagai caption-nya, dan publish foto tersebut sebagai berita foto.
Satria A. Nonoputra
Redaktur

Komentar no. 195
6 January 2009 10:34
Perambah
mungkin saya juga termasuk orang gila yang sependapat dengan Pak TKS. FISIPOL memang sudah gelap mata, main hati, dan rai gedek, ndas tank… saya jadi males kuliah di FISIPOL… jangan2 saya lulus setelah menempuh 250 sks???
Komentar no. 194
22 December 2008 21:26
Perambah
ya sekarang tinggal bagaimana mahasiswa fisipol sendiri, bisa melalui BPMF untuk mengusahakan penyelesaian masalah ini, jika memang dianggap belum selesai, tapi kalau dianggap sudah selesai karena di ‘peti es’ kan ya sudah…..
pak, saya kira..”fungsi” BPMF sudah diambil TKS dalam kasus pahe ini..karena mereka tidak bisa “menyuarakan” kegundahan…
dan saya yakin, BPMF tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini,,karena mereka bukan pembuat kebijakan yang bisa berdampak pada perubahan keputusan para pembuat kebijakan..
ketika seharusnya BPM berbicara..mereka malah terdiam..bahkan seorang TKS harus bersuara…
ada pada dengan BPMF?
berbenahlah..
Komentar no. 193
22 December 2008 16:44
Perambah
Wit, masih ingat keramaian kasus pelecehan seksual kan? Menguap ya kasus itu… Kalau benar menguap, maka dugaan saya terbukti. Lalu apa yang mau diungkapkan Sdr. Saam Freddy. Dulu argumen Sdr. Saam sebagai humas UKSW, itu kan sudah jadi urusan kepolisian. Karena itu, Pimpinan UKSW bersih diri untuk tidak ambil langkah apa-apa, selain tunggu keputusan kepolisian. Rasanya senada deh, kali ini alasannya begini, itu kan urusan Fakultas/Progdi. Betul kan, itu keputusan di tingkat Progdi/Fakultas? Tetapi, ingat yang memberi gelar kan UKSW, rektor yang mengukuhkan kelulusan/kesarjanaan. Dan, sebagai yang memberi gelar kok Pimpinan UKSW tenang-tenang saja? Oh, kan keputusan meluluskan kan bukan keputusan pimpinan kan? Di aras Fakultas/Progdi lalu gimana? Tampaknya sami mawon. Kalau telinga sudah disumbat, muka ditebalkan, mau apa lagi? Jadi tampaknya memang percuma pak Tri berkoar-koar lagi atau lebih jauh. Seperti itulah ciri UKSW kini, sukanya mendiamkan persoalan-persoalan di dalamnya. Kan nanti akan diam dengan sendirinya. Sesuai pernyatanmu Wit, pertanyaannya, kalau sikap yang sama sudah lebih dari sekali terjadi, bagaimana kesimpulannya?
Saya kira sebagai institusi UKSW sudah jatuh harga, ditantang untuk membuktikan slogan-slogannya sendiri. Coba simak Mars UKSW, BELA KEADILAN, BELA KEBENARAN. Lalu? Barangkali, mulai sekarang jangan lagi itu diyanyikan saat upacara-upacara formal kelembagaan, karena cuma omong kosong. JIKA TIDAK ADA PERBAIKAN MENDASAR DALAM SIKAP KELEMBAGAAN atas masalah-masalah sensitif seperti itu, baiklah Mars-nya kita nyanyikan begini aja:
Satya Wacana, Satya Wacana
Reduplah garba ilmiah kita
Mengabdi tahta dan harga diri
Proklamasikan krajaan ego
Jegal keadilan, bunuh kebenaran
Maju mundur menuju binasa
Sesatkan mreka hambakan diri
Slamatkan diri masing-masing
Maafkan saya yang lancang ini. Namun, kita sendirilah yang memburuk-rupa-i wajah kita kan? Kenapa kita takut mengaku buruknya wajah kita?
Tantangan kini bagi pihak lembaga kemahasiswaan dan mahasiswaan. Apa suara mereka?
Atau, jangan-jangan yang edan itu ya pak Tri, bu Yuliawati, Wit, bung Julius, saya, atau semua yang menganggap pandangan pak Tri benar?
Ternyata tidak ada langit yang baru dan bumi yang baru, semua tetap sama GELAP GULITA.
Komentar no. 192
19 December 2008 13:43
Perambah
Mungkin Pak Tri merasa TUGAS-nya sudah selesai untuk urusan ini, biar ditindaklanjuti oleh orang-orang lainya,
bukankah dalam kekristenan juga dikenal pembagian tugas ini: Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.Aku menanam, Apolos menyiram,…..
Pak Tri sudah mengungkap, kita semua sudah berkomentar, tinggal tunggu tindakan dari orang-orang yang berwenang mengambil tindakan. Dan kalaupun tak ada tindakan apa-apa, selama website ini “up”, maka masalah ini akan terdokumentasi dan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
Namun, jika kesalahan yang sama (misalnya) masih terulang di kemudian hari, ha ha.. kita tidak lebih baik dari keledai, sebab katanya, keledaipun tidak terantuk pada batu yang sama untuk kedua kali.
Trus kalau misalnya Pak Tri tidak “mundur” apa lagi yang harus dilakukan Pak Tri? Ruwatan kedua? ketiga? dengan membakar kemenyan yang lebih menusuk hidung? atau dengan membakar hio disambung petasan hingga keluar bunyi gemuruh?
kalau menurut saya, ya sekarang tinggal bagaimana mahasiswa fisipol sendiri, bisa melalui BPMF untuk mengusahakan penyelesaian masalah ini, jika memang dianggap belum selesai, tapi kalau dianggap sudah selesai karena di ‘peti es’ kan ya sudah…. memang inilah akhir dari perjuangan “kita” bersama.
Apa kira-kira pemimpin UKSW (dan atau Yayasan) tidak membaca tulisan di scientiarum ini ya…?
mungkin memang benar: , jamane jaman edan, ora ng-edan ora keduman, nanging sabegja-begjane wong ng-edan, isih begja wong kang eling lan waspada.
Komentar no. 191
18 December 2008 15:27
Perambah
PENGUNDURAN DIRI PAK TRI DARI PERGULATAN “PAHE FISIPOL”
Tulisan Yuliawati ttg pengundurandiri Pak Tri dari pewacanaan “Pahe Fisipol” agak mengangetkan saya. Karena dari sekian banyak Pengajar FISIPOL hanya beliau ynng konsen thd masalah ini. Mungkin beliau jenuh ? Atau tujuan telah tercapai agar masalah ini muncul ke permukaan. Atau Pak Tri ‘gigit jari’ karena output yng beliau targetkan agar muncul perbaikan sistem di faklutas tsb tidak terjadi?. Bahkan perhatian dari Pimpinan Universitas-pun tak ada.
Namun yang terang mungkin orang tersadar dari kasus ini bahwa FISIPOL telah ‘bermain kayu’, atau di pelbagai fakultas juga terjadi, tetapi orang diam demi ‘ loyalitas korp’ atau menyingkir/ menghindar dari “cap sok” bagi “civitas yng malas mikir”, atau atas dasar “pertimbangan stabilitas”. Lalu apa gunanya belajar demokrasi, gerakan massa, atau filsafat serta moral/etika yang digembar-gemborkan!
Mohon Pak Tri suka “mencabut” pernyataannya seperti diungkap oleh sdr. Yuliawati. Gerakan bapak telah mendukung usaha pembrantasan korupsi kekuasaan ,dan bermanfaat serta mengilhami banyak orang, termasuk saya. Jadi ..maju..majulah laskar kristen. Terimakasih.