Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Meruwat Fisipol?

Rubrik Foto oleh

Bau hio merebak dari ruang rapat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik hari ini. Seorang dosen menunjuk sesajian di atas satu meja kayu panjang sebagai asal bau tersebut. Rupanya sedang ada ruwatan kecil di Fisipol.

CATATAN
Saya menulis catatan ini pada 4 Oktober 2008 sebagai penjelasan, bagaimana foto di atas bisa terpublikasi di Scientiarum.

Jumat, 26 September 2008, beberapa orang — ada dosen, juga mahasiswa — melakukan semacam doa bersama di taman depan kantor Fisipol. Dalam doanya, mereka meminta agar di masa mendatang Fisipol bisa lebih baik dari keadaan sekarang (waktu itu). Doa bersama ini mendapat perhatian wartawan Kompas, Antony Lee. Saya lihat dia beberapa kali menjepret orang-orang yang lagi berdoa, dengan digital single-lens reflex camera.

Setelah doa bersama usai, saya masuk “kanfak” Fisipol untuk menemui Tri Kadarsilo di ruangnya. Sebelumnya saya dapat info dari Saam Fredy Marpaung, staf Biro Promosi dan Hubungan Luar, bahwa salah satu penggagas doa bersama adalah Kadarsilo. Saat itu bau wangi — seperti bau kemenyan — semerbak di seluruh lorong kanfak.

Saya ketuk pintu ruang Tri Kadarsilo dengan pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Saya lantas memberanikan diri masuk. Saat pintu terbuka, saya lihat ada Tri Kadarsilo, Saam Fredy Marpaung, dan Antony Lee di sana. Dua nama terakhir yang saya sebut itu tak lama kemudian keluar. Lee membawa beberapa dokumen — salah satu, yang saya lihat jelas, mirip dengan cetakan transkrip kuliah mahasiswa Satya Wacana.

Saya tak punya banyak kesempatan memperhatikan dokumen-dokumen yang dibawa Antony Lee. Dia bergegas keluar, meninggalkan ruang Tri Kadarsilo. Saam Fredy Marpaung “mengawal” wartawan itu.

Perhatian saya kemudian terarah pada Tri Kadarsilo. Saya hanya ingin bertanya, apa maksud sebenarnya dari doa bersama? Kok tumben ada yang demikian, sampai diliput wartawan Kompas segala?

Tri Kadarsilo lantas menjelaskan satu masalah yang lagi terjadi di Fisipol — saya atau wartawan Scientiarum lain akan menuliskannya sebagai laporan tersendiri. Dia bilang, penyelesaian masalah tersebut dilakukan dengan pendekatan kultural. Pendekatan kultural? Ya, salah satu contohnya adalah berdoa itu tadi.

Tapi rupanya ada pendekatan kultural lain. Tanpa saya minta, Tri Kadarsilo mengajak saya keluar ruangnya. Dia membawa saya menuju satu ruang yang disebut sebagai ruang rapat Fisipol. Dia menunjukkan seperangkat sesajian seperti tergambar pada foto di atas. Akhirnya saya paham asal bau wangi yang saya sangka kemenyan tadi.

Untuk apa sesajian itu? Ruwatan? Ya, kira-kira begitulah, ucap Tri Kadarsilo, sambil tersenyum. “Saya kan orang Jawa,” katanya pada saya. Menurut Kadarsilo, cara-cara yang demikian lebih bisa menjawab masalah, ketimbang mengandalkan iman Kristen yang sering didengungkan di kampus. Dia merasa ada “kekuatan yang bersahabat” dengan dirinya di sekitar kanfak Fisipol. Dan kekuatan itu membantunya mengungkap masalah yang baru saja dia ceritakan pada saya sebelumnya. Masalah, yang kata Kadarsilo, selalu berusaha ditutup rapat oleh para pemimpin di Universitas Kristen Satya Wacana!

Menjelang akhir pembicaraan saya bertanya pada Kadarsilo, “Apa hal ini (sesajian dan ruwatan) boleh diketahui publik (sivitas akademika Satya Wacana)?” Tri Kadarsilo tak keberatan. Maka saya ambil foto di atas dari kamera Petrus Wijayanto (dengan minta ijin, tentu saja), dosen Fakultas Ekonomi yang sempat mengambil foto ruangan itu. Saya crop foto itu sedikit, lalu tulis tiga kalimat sebagai caption-nya, dan publish foto tersebut sebagai berita foto.

Satria A. Nonoputra
Redaktur

Tags:

238 Comments

  1. Y g pa2,ruwatan,kn intinya ke depan untuk menjadi lebih baek dr skarang, melihat kaca diri sendri. Kalu bisa juga saya minta tlong jg ad rwatan di kamar kos saya, kamar it berhasil membuat saya males berangkat kuliah,krn bgt nyaman bt bobo…sukses fisipol

  2. orang kristen kok percaya tahayul…..
    kalo di denger kampus lain malu katanya percaya kristus kok masih pake ruatan segala.
    ya gapapa si semua itu terserah pelaku ruatan semoga saja setelah ruatan fisipol tambah sukses
    bravo……fisipil …..cayoooo…..

  3. @zoe,
    masalahnya, katanya percaya kristus kok masih banyak yang melakukan tindakan “ngawur” nglanggar aturan dan norma.
    “ruwatan” itu salah satu bentuk kepihatinan, karena tidak mempan ditegur pakai “kasih” dan ayat-ayat suci.
    Bisa jadi dengan “bau hio” lebih “menusuk” daripada cuma tanda salib yang dipasang di tiap ruang di UKSW dan tulisan ayat “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”

    tapi doanya juga masih “dalam nama Yesus” lho… piye jal…
    ha ha ha.. bingung khan….saya juga nggak mudheng kok…., cuma ambil gambar dan dengar “bisik-bisik tetangga” saja… (karena saya di FE, bukan di Fisipol)

  4. Menurut Kadarsilo, cara-cara yang demikian lebih bisa menjawab masalah, ketimbang mengandalkan iman Kristen yang sering didengungkan di kampus

    hahahaha….TKS kembali menunjukkan taringnya…kekuatan kasih masih kalah kuat dari kekuatan kultural…
    kekuatan yang bersahabat memang masih harus dipelihara…yang tidak bersahabat? silahkan rasakan sendiri…

  5. Wajar saja, jika tindakan yang dilakukan oleh TKS dipahami sebagai bentuk sinkretis…asal jangan lupa juga bahwa kristen juga mengandung sinkretis. Yang menarik bagi saya, adalah ini adalah kali ke 2 teman2 di FISIPOL melakukan hal ini (tolong saya dikoreksi, kalo keliru) dan tetap meninggalkan tanya..apa sebenarnya latar belakang aksi ini? Adalah sangat sederhana bila soal jumlah mahasiswa baru yang dijadikan alasan. Pesan moral dan kritik apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh TKS dan teman2 lain dalam kegiatan itu? Siapa yang disasar? dan yang paling penting adalah mengapa bentuk kegiatan yang dipilih adalah ruwatan? Coba deh, teman2 scientiarum investivigasi lanjutan..

  6. @Yulius
    Wajar saja, jika tindakan yang dilakukan oleh TKS dipahami sebagai bentuk sinkretis…asal jangan lupa juga bahwa kristen juga mengandung sinkretis.

    ha ha …begitulah “kristen”, kalau yang ‘tidak menguntungkan’ disebut SINKRETISME, kalau yang ‘menguntungkan’ disebut INKULTURASI. bukankah begitu Mas…
    misalnya:
    Sabat dari Sabtu ganti Minggu dianggap Inkultuasi..
    Natal, dari TIDAK ADA kemudian diadakan 25 Desember, (yang adalah hari kelahiran dewa matahari) dianggap inkulturasi…
    Paskah dari Paskah Yahudi menjadi Easter, dianggap inkulturasi….
    Nama Tuhan dari YHWH diganti menjadi TUHAN atau ALLAH (huruf besar semua), juga inkulturasi kah….

    kita mungkin tidak hanya bisa melihat sebuah fenomena dengan satu sudut pandang, jika kita pakai kacamata hitam, semua akan tampak kehitaman lho…..

    kalau memang yang dilakukan TKS, itu dianggap salah, ya silakan ditegur saja…. kalau mengundang pawang hujan itu salah, ya tegur dong….
    ayo…, bagaimana tanggung jawab CAMPUS MINISTRY sebagai “penjaga” kehidupan kekristenan di kampus UKSW, jangan diam saja dong…… (atau jangan-jangan malah nggak tahu bahwa ada civitas yang ‘main dukun’, yang ‘main sesaji’, yang ‘main pawang hujan’ dan lain-lain…)
    CAMPUS MINISTRY jangan cuma bikin RENUNGAN HARIAN KAMPUS, yang pasti lebih hemat jika berlangganan saja dari penerbit renungan harian yang sudah ada, banyak kok… yang “netral” tidak mengacu pada doktrin gereja tertentu, ada Saat Teduh, Renungan Harian, dan lain-lain….
    bukankah malah lebih baik kita kerjasama dengan lembaga lain untuk menyediakan “renungan harian” untuk civitas akademika UKSW. (kita tinggal beli saja beres kok… kalau beli banyak khan ada yang dapat discount sampai 30%)
    Ini jamannya outsourcing…. masa semua mau ditangani sendiri….., tapi ya nggak apa-apa… biar tambah eh.. tampak sibuk…

    (lagi pula…. Renungan Harian Kampus itu nambah-nambahi “buku renungan” saja…– (misalnya, dirumah saya sudah berlangganan 2 buku renungan harian, + selalu diberi 1 buku yang lain lagi oleh teman saya, masih kadang beli yang ‘jenis’ lain, masih ada yang rutin mengirim via email…. e.e.e… di kantor masih tambah lagi…, terus terang…. saya baca sepintas-sepintas saja….)

  7. Re: ruwatan mas Satria
    Pertama saya harus minta maaf kerna tempohari tak melayani Anda dng baik, atas pertimbangan copy hard data telah saya berikan kpd KOMPAS. Wawancara-lepas Mas Satria dengan saya yng dimuat SCIENTIARUM dng ‘pintumasuk’ foto milik Wid cukup memadai dng fokus aspek kebudayaan Ruwatan. Kedua saya senang Anda tetap tidak me nuliskan hard data, yng tentu telah Anda ketahui dan dalam status of f the record, dalam ulasan foto tsb.
    Wid memberitahu saya (7/10) bahwa Anda memuat foto jepretannya dan menulis per timbangan2nya berdasarkan wawancara lepas itu. Barulah siangnya (7/10) saya menulis kan alasan Ruwatan tsb disini. Mudah2an peristiwa ini merupakan ‘keteledoran’ pejabat yang memiliki ,seperti yang pernah Anda sebut, aspek “pembelajaran bagi civitas”. Tentu akan lebih menarik, untuk selanjutnya, SCIENTIARUM melakukan laporan jurnalistik investigasinya. Terimakasih untuk perhatiannya. Wassalam.

  8. Re Surat2 Yulius, Zoe, Ade Permana, Alfi, dan Wid + Satria

    Trims atas perhatian kalian, semoga tulisan pendek ini menjawab pertanyaan2, keprihatinan, dukungan dan kesangsian Anda.
    Benar bhw di FISIPOL dua kali ini melakukan Ruwatan. Pertama kali kira2 lima tahun lalu, sebagai bentuk keprihatian atas ‘kedzoliman fakultas’ yng memberikan keputusan habiskontrak 3 hari sebelum jatuhtempo bagi sdr.TF. Aturannya, sdr TF harus diberitahu paling tidak 90 hari sebelum kontraknya habis. Perhelatan saat itu dihadiri banyak orang, Ruang Rapat FIS penuh, antara lain, para pemperhati budaya Jawa di pelbagai fakultas di UKSW, ahli kebatinan dan pelaku filsafat Jawa (Klaten, Jogya, Bringin, Salatiga) dan civitas mahasiswa. Saat itu Mbah Guno meramekan dengan tabuhan gamelan gendher melantunkan beberapa bait tembang ‘Uran-Uran Begja’ gubahan Ki Ageng Suryamentaram (1928). Maklum Ruwatan saat itu kecuali bermakna budaya juga untuk (kemungkinan) uji-tanding pengetahuan kespiritualan. Heboh? Tidak. Peristiwa ini diketahui pihak Fakultas dan UKSW. Biaya kegiatan bersifat swadana diperoleh dari iuran-pribadi (bukan dana taktis struktural lho!) dari pelbagai pihak, senilai takkurang 100 porsimakan siang. Ruwatan saat itu tdk dihadiri Pejabat struktural fakultas , walau diundang.

    Ruwatan kedua (senilai 10 porsi makan siang, dihadiri pejabat struktural), ya saat ini ; ketika ‘fakultas’ memberikan ‘Paket Hemat’(“Pahe”) kpd sdr.KU (mhs Angkt 2001) yng baru menempuh 120 SKS (126 SKS dng 6 SKS gagal) untuk menempuh Ujian Akhir S1-nya. Pada hal pada ‘kondisi biasa’ mahasiswa baru menempuh ujian-skripsi, sebagai bentuk ‘ujian-puncak’, ketika SKSnya berjumlah tak kurang 144. Lho kok bisa muncul “Pahe”? Fakultas kecolongan? Ada kongkalikong? Ada TST (tahu sama tahu)?. Itulah kuwajiban Scientiarum membukanya dng kiat jurnalistik investigasi. Tetapi jangan hanya berbasis preposisi mayor (yng diucapkan dosen Fisipol dlm Makrab di Pantaran) “mahasiswa membuat dan setelah merampungkan skripsi mesti diuji” tetapi juga preposisi yang dimaklumatkan “sebelum ujian harus memenuhi persyaratan administrasi sesuai ketentuan UKSW”. Setelah peristiwa ujian itu, dipintu gerbang FISIPOL saya telah menempelkan seruan “ Lewati pintu ini dengan Integritas” sebagai acuan dan materi diskusi kelas bagi peserta2 Kelas Filsafat dan Kelas Filsafat Manusia.

    Sebenarnya masih ada “satu kasus besar yang terjadi di FISIPOL” diantara Ruwatan-Per tama dan Ruwatan-Kedua, yang memerlukan Ruwatan, hal itu tdk dilakukan krn “kesal” oleh respons gaya Fakultas. Saya hanya menyindir berbentuk tulisan tema-renungan da lam “Renungan Kampus UKSW”(Edisi Maret-Agustus 2008).

    Maaf mas Satria saya membuka (sedikit) hard data untuk mengurangi bobot fokus perha tian civitas hanya pada aspek kultural Ruwatan saja. Atas pemuatan surat ini, saat ini, Scientiarum (tentu) lebih “cepat dlm pemberitaan dan Komplit” atas Kasus Ruwatan Fisipol.
    Maturnuwun, semuanya.

  9. pak TKS tuh emang nyentrik… dia pake cara lain untuk menyuarakan aspirasinya… kalo mahasiswa suka demo, dosen suka rapat, tapi TKS suka sesuatu yang kultural dan dipadukan dengan kekristenan… sah2 aja kok… sebenarnya agama dan kepercayaan merupakan bagian dari kultur… jadi kalo mau dipadukan dengan kultur jawa, sah banget laaah… kalo mau liat di Alkitab (ini menurut saya), di perjanjian lama, itu juga dikaitkan dengan budaya setempat… nah, kita kan di jawa, apalagi TKS itu, wonge jowo ndeles (orangnya jawa banget), yang medhok, sukanya pake baju batik warna coklat sambil bawa2 kopi…hehehe..peace, pak…
    intinya, mau ruwatan mau pasang hio, mau ada sesajen, terserah aja… kan di STATUTA 2000 dan KUKM ga diatur mengenai ruwatan, dsb… hehehehehe…

    hidup FISIPOL, soalnya saya orang yang sudah terlanjur jatuh cinta sama FISIPOL dan saya mahasiswa FISIPOL juga… btw, doain dosen fisipol tambah banyak n bagus, yang sadar akan permasalahan yang terjadi, dan semoga saya dapat pembimbing skripsi yaitu TKS… hehehehe… doain aja deh tahun depan lulus… amiiinnn…

  10. Pak Tri Kadarsilo engkau emang The Best untuk melakukan ruwatan.Boleh juga ni aku ngikutin jejaknya buka usaha Terima Jasa Ruwatan.he…he….Sering2 aja ya biar FISIPOL kita punya ciri khas tersendiri dibanding Fakultas lain yaitu “Fakultas Yang Berbau Wangiiiiii Tenan”

  11. sah-sah aja memang… klo TKS berpendapat kalau memang cara-cara yang demikian lebih bisa menjawab masalah, ketimbang mengandalkan iman Kristen yang sering didengungkan di kampus. ini jadi semacam refleksi bagi kampus, yang menyatakan diri sebagai kampus Kristen tp jujur saja iman Kristennya saja sudah luntur mungkin (banyak dosen termasuk dosen Teologi juga tidak percaya lagi Alkitab itu sebagai Firman Tuhan) jd wajar dong praktek-praktek sinkritisme seperti ini akhirnya jadi pilihan. namun jangan sampai kebablasan saja, ok.

    GBU all

  12. Pak- pak kok aneh2 wae to,pake ruwatan sgala,,,,,,,,,,,tapi saya setuju ama semangatnya bapak,dalam membela kebenaran dg cara yang ga biasa..he he he…………………..semangat terus pantang mundur ya pak,,,,,,,,,,,,,,Tuhan Yesus memberkati…………………..

  13. selama masih ada orang jawa………………
    saya katakan ” maju terus pantang mundur buat hal2 semacam itu”
    ssssssemangat pak tri kadarsilo!!!!
    pembela kebenaran, pemberantas kejahatan……………….

  14. Smga mslah2 yg dhdpi fKltas kita dpt terselesaikan dgan baik. . .
    agar tidak ada anggapan miring dari mahasiswa lainnya maupun masyarakat sekalipun tentang fakltas kita…. buat pak Tri, sukses terus pak!!!! semangatnya bpak luar biasa..
    Tuhan Memberkati!!!

  15. Ya,saya rasa apa yg bapak lakukan itu tidak salah. Tp apakah setiap ada masalah Bapak akan melakukan RUWATAN ??? lalu dengan RUWATAN Bapak merasa semua masalah bisa diselesaikan ??? saya menanyakan ini karena saya bukan orang Jawa jd ini adalah keingintahuan saya terhadap apa itu RUWATAN.
    Ya itu saja tolong dijawab ya Pak. ^-^

  16. komentar saya ya slalu tegakkan aturan yang telah dijalankan dan selalu konsisten dengan aturan yang telah disetujui bersama jika ada yang melanggarnya tolong ditindak lanjuti lebih lanjut dan berusaha terbuka dengan yang lain,sebenarnya ya kurang bagus karena itu memihak dan identik pilih kasih.kalau yang lain belum nyusun skripsi dengan aturan sks belum penuh knapa diperbolehkan untuk nyusun skripsi????
    itu aja komentar saya tolong donk jangan pilih kasih dan slalu konsisten akan aturan yang ada

  17. Pilihan ekonomis dalam penggunaan sinkritisme dan atau inkulturasi, tidak terlalu menjadi soal. Toh, namanya juga teks terbuka memungkinkan untuk multi penyebutan dan juga pemaknaannya. Yang penting bagi saya adalah, pemahaman yang kita anut sekarang tidak menjadi dasar moral untuk menghakimi liyan sekaligus menganggap kita yang paling benar.

    Untuk Bapak TKS.
    untuk ruwatan pertama, bukankah goal-nya tercapai..bahwa rekan pengajar di FISIPOL akhirnya bertahan? dan setahu saya, ruwatan yang dilakukan tersebut benar-benar direspon oleh pimpinan Universitas. Untuk ruwatan ke-dua, apakah akan ditindaklanjuti dengan upaya dialog dengan pimpinan fakultas-universitas? atau justru ruwatan itu, justru diadakan karena proses dialog mandeg, mengingat ini ekses dari kebijakan yang dihasilkan oleh mekanisme kepemimpinan tertentu?
    Kalau boleh tahu, kira2 apa langkah bapak selanjutnya bentuk kritik ruwatan tidak mendapat respon? pasang spanduk? boikot? ruwatan jilid 3? atau budaya dialog terus digencarkan (mengingat bahwa dialog adalah juga budaya)?
    Memang gemas melihat adanya anomali pelaksanaan sistem yang diakibatkan pendekatan strukturalis. Untuk itu, saya setuju dengan langkah yang bapak lakukan.

  18. pa cayo jangan lupa ruwat fakultas psikologi because anak psikologi juga perlu diruwat?????
    itu juga demi kebaikan kita bersama tapi bapak menggunakan cara yang berbeda tapi dengan tujuan yang sama untuk kenyamanan kampus kita.cayyyyyyoooooooo pak maju terus saya juga percaya dengan hal gaib atau mistik disekitar kita juga ada dan perlu dihormati

  19. yah. walau pun aga berbau mistis tapi setidak nya permsalahan di fisipol bisa terungkap step by step meski dengan cara klenik dan tidak irasional . dan buat saya pak tri sudah get a decision with right. go…go…go…. show your brave.

  20. menurut saya pribadi itu bukan suatu masalah.semua orang punya kepercayaan masing-masing.apa yang dilakukan oleh Bapak Tri Kadarsilo itu syah saja.adanya ruwatan tersebut dikarenakan masalah yang melanda FISIPOL.dalam masalah ini yang perlu ditegaskan bukan masalah sesajian,tapi lebih ke problem intern yang dialami oleh FISIPOL.ruwatan tersebut menurut saya memang perlu dilakukan,entah kedepannya FISIPOL jadi lebih baik atau bahkan mungkin sebaliknya.tergantung pada kinerja Mahasiswa dan para Dosen.saya pribadi sebagai mahasiswa FISIPOL ikut prihatin dan saya berharap kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi.

  21. lagi-lagi sensasi berita dari scientiarum…..capeeeeak deaahhhh..!!! dari Renix

    Ini bukan berita sensasi dari Scientiarum…ini adalah kejadian…dan saya harap anda tidak capek…
    berita ini adalah kejadian nyata dan betul-betul terjadi…ada narasumber yang nyata…
    lalu dimana letak sensasi yang anda maksud?
    Meliput dan memberitakan adalah tugas dari teman-teman Scientiarum…dan mereka sudah melaksanakan tugasnya….

    ada masukan sedikit buat teman-teman yang ada di Scientiarum : JIka mengambil gambar, usahakan sebisa mungkin ada orangnya..biar gambar kelihatan lebih “hidup”….tidak “kosong”

    salam….

    dian ade permana
    _pernah belajar di Fisipol_
    _diruwat TF dan TKS hingga lolos dari Fisipol_

  22. seperti syafaat, ruwatan juga doa, itu aja dulu! Doa Yesus juga ada yang berdarah-darah, tentu pada tataran masalah yang berat! Lha UKSW memang gudangnya masalah berat yang beranak-pinak menahun tanpa penyelesaian! siapa yang bertanggung jawab? aneh klo SCIENTIARUM tidak tertarik dengan masalah ini!
    Bagaikan gunung es, sudah sangat jelas, tahun 1995 gaji pegawai mulai mendatar (tercatat sebagai rezim blockgrant). Entah siapa yang meruwat John Titaley, mendobrak tradisi, menentang arus, hingga tahun 2004 berani “menyesuaikan” gaji pegawai hingga 2 X lipat? Tidak penting! Hanya paling tidak kita harus mampu menghitung demikian besar berkat Tuhan untuk UKSW selama ini. Justru yang penting kita harus mengetahui, kemana larinya berkat Tuhan yang melimpah itu selama ini? Gaji pegawai sejak 2004 kembali mendatar, sekarang tahun 2008, tahun ke 5, separuh jalan! Siapa yang harus diruwat? Mungkin kita perlu berdoa untuk mantan PR II, Prapto Yuwono, yang mulai sakit2an, depresi sejak kasus “Wisma Kardinah”! Untuk Yudhiatmoko mantan KaBauk yang menghilang entah kemana! Nah masih ingin “ruwatan”? Pembantu Rektor II sangat membutuhkan itu . . . 😛

  23. Hem…harus mulai dr mana necH?
    Mlm ini,sy tdk bs tdr..krn trlintas di benak sy ttg hal ini!sy cb buka kmbali…agar bs tdr nyenyak..hehe
    Wah2…trnyata filosofis ttg kopi menarik jg!baru kali ini sy temukan kasiat kopi sungguh LUAR BIASA!dapat membuka hati dan pikiran pak tri..hahaha
    yah buat pihak2 yg merasa menciptakan masalah2 di FISIPOL sy sarankan utk minum kopi,agar PIKIRAN & HATINYA terbuka..bisa bertindak dan tau mana yg benar dan mana yg salah..
    Salut..utk penyelenggara acra ruwatanya…semoga masalah2 FISIPOL tdk makin menjadi jadi..
    O iya..mungkin selain hio dan sesajen,bs di tmbahkan kopi Pak..hehehe
    cicak2 di dinding..JUST KIDDING!!
    Matur nuwun..sugeng ndalu..
    Berkah dalem..Gusti tansah mberkahi!amin

  24. pak,sebenernya kita juga harus percaya dengan kekuatan Tuhan.itu menurut saya dapat lebih membantu menyelesaikan masalah..

  25. olalalala……….

    klo gk heboh ea g fisipol nmax kalee….hehehe
    dlm stiap manusia pzti mempunyai pola pikir & kepercayaan yg berbeda2..
    menurt pikiran sy pribadi ruwatan tersebut lbh cenderung k perkumpulan doa agr d kmudian kelak fisipol lbh “MANTAP” jd ssering mgkin hal tersebt d lakukan…..hhehhehe

    n snmoga mslh yg tlh trjdi fisipol tdk kn terulang lagi hingga akhir waktu……
    upzzzzz mlh nyanyi q ik,,hehehehe

    hohoho,,gbu

  26. kepercayaan boleh menjadi kebebasan siapapun…tetapi kebebasan itu jangan sampai menggangu ruang publik dan kenyamanan orang lain…..seharusnya seorang akademik tahu hal tersebut, terutama seorang dosen ilmu sosial………………HIDUP FISIPOL..!!!!!!

  27. Hmm..
    Mau adanya ruwatan,sesajen,ato apalah hal ini bukan yang jadi permasalahannya,,
    Nah..,yang jadi masalah adalah “mengapa ‘hal ini’ bisa terjadi…?”
    Hal ini yg musti diselesaikan…yang pasti dengan bijaksana..
    Yaaah,,poko’nya Chayoo deh buat FISIPOL…
    God Bless…^^

  28. menurut saya pak,,,dihidup ini pasti ada masalah dan pasti juga ada jalan penyelesaiannya .jadi smua masalah itu kita serahkan pada tuhan.saya lebih mengandalkan Tuhan dalam menyelesaikan segala masalah yang ada,karena apapun yang kita hadapi dalam hidup itu smua itu terbaik. Tuhan sudah merencanakan semuanya dan kita harus berusaha menjalaninya

  29. ruwatan?
    emang jaman ya?
    kalo menurut ku sich tu sm aja kayak “MURTAD”
    katanya beragama kristen tapi kok nyembah yg gak jelas asal usulnya sich..
    udah jadi dukun aja seXan deh..
    hehehe..

  30. Duw,
    bpk tu jawa banget sih?
    kalo menurutku sih, terserah bpk mau ruwatan tu d.anggp budaya atau apalah …
    tapi yg jelas nggak semua org bisa nerima persepsi bpk.
    mendingan nih …
    jln tengahnya tuh bpk nggak usah lagi bwt acara Ruwatan di kampus fisipol.
    dirumah bpk aja .
    biar org nggak usah comment yg aneh2.
    kan nggak semu org bs ngikutin kebudayaan bpk yg JAWA bgt itu .

  31. semoga aj ruwatan yang udah dilakuin itu bawa bnyak perubahan yang baik di di fisipol,tapi sebelumnya ap yang terjadi d fisipol hingga masalah ne masih trus berlanjut..
    apa g ad dosen fisipol yang berani open the case hingga masalah ne kelar smua??
    tapi ap dengan ruwatan itu juga masalah akan dan sudahkah terasa berkurang??
    god blessing fisipoL

  32. @FRANSISCA PRAMESTY
    anda beragama Kristen? memangnya sudah jelas ‘siapa’ yang anda sembah?
    coba baca: http://gkmin.net/?p=52
    salam kenal…
    (semoga jelas ‘siapa’ yang anda sembah.. jangan-jangan selama ini anda-pun hanya IKUT-IKUTAN jadi Kristen dan ikut-ikutan menyembah “tuhan”, ataukah anda tahu sendiri.., mengerti sendiri?.pernah ketemu Tuhan? pernah ketemu Yesus?)

  33. idih……… bpk kok masih aj yaw percaya ma kaya gituan? sebagai seorang kristiani,apa bpk tdk mempercayai Tuhan sbg juruslamat??? menurut saya bpk seharusnya JANGAN LAGI MELAKUKAN HAL TERSEBUT,karena apapun yang terjadi dlm hidup sudah menjadi rencana Tuhan.

  34. Re Surat2 Pendekar, Amoy , Remix, Fransisca, Yulius, Ayu, Yuliawati, serta Wit dan Satria

    Saya menjadi cukup ‘terbeban’ untuk slalu menjawab pertanyaan Anda semua. Pertama kerna masih bnyak surat membahas ‘ruwatan’ . Padahal kegiatan-simbolik itu hanyalah sbuah pintu masuk agar “Pahe FISIPOL” secepatnya bisa diketahui civitas dan mendapatkan tanggapan. Kedua, 30 hari setelah “Pahe” terjadi, tanggapan dari Pihak Managemen UKSW belum terdengar ataupun terbaca gelagatnya. Rektor ‘formal’ telah menerima laporan lisan, demikian halnya secara incognito 4 WR telah diberitahu. Lho kok adem-ayem. Menunggu waktu-Tuhan?

    Jeng Yuliawati, anda ngak usah ngidam Pahe FISIPOL. Itu permainan ugal2an tak usah ditiru. Pahe bisa dianalogkan sbg siasat Aswatama-ngangsir dlm cerita Mahabarata. Kalau tertangkap tangan ya cengingisan saja, kalau lolos akan tepukdada sembari sesumbar itu kerna beleid ampuh! Sekali lagi jeng, tak usalah hati tergoyang pengin menikmati ‘Pahe’.
    Tapi kalau masih ingin ya kita dukung bulat dan rame2 “penyelenggaraan Pahe” untuk bersama, jangan hanya untuk KU seorang. Carl Jung (2007) menyatakan resistensi akan terjadi bila satu rezim kebijakannya terus dikritik (lha wong salah je!). “What you resist persist”. Agar tidak kumat dan (bisa) kecangar ya kita dukung saja, biar mereka merea lisasikan program-salah itu. Dapatkah ia merealisasikannya? Dalam kasus ini ‘yang salah bisa menjadi unggul’. Sebentar lagi kita selenggara kan apel dukungan, setuju?

    Ayu, Anda nggah usah tahu banyak ttng ruwatan, kalau karoserinya tidak cocok. Lagian beban moral bagi seorang Peruwat cukup berat, antara lain, dianggap sbg pendukung klenik, tidak agamis, dan harus menanggung biaya srana dan ngebyar bbrp malam. Agar ayem lebih baik bersemboyan: “ Gendhar gereh, jangan gori. Modhar luweh orasah ngopeni”. Beberapa artikel ttg ‘ruwatan’ bisa dicari di situs Wilkipedia. Saya juga menulis (2007) berdasarkan cerita Sudamala di Candi Sukhuh, Surakarta.

    Trims untuk mas Wid atas dukungan tulisan inkulturasi dan sinkretisme, dan mas Satria yng telah menulis ‘artikel-pintumasuk’ sehingga banyak orang tlah mencium hio-FISIPOL.

    Fransisca kalau tahu yang melakukan , mendisain dan tokoh intelektual “Pahe FISIPOL” adalah orang Kristen tulen apakah anda tak kecewa ?”. Jangan bicara ‘agama’ sekaligus dicampur ‘kelakuan umat’ yang masih senang WAH ?. Agama selalu baik dalam kontek teks alkitabnya. Kelakukan umatnya belum tentu?

    Bagi mrk yang menyatakan kita sbg insan-sekolahan (educated people) kita mbok tah usah menggunakan “cara2 tradisional” untuk pemecahan masalah. Lho kan apapun cara yang dilakukan syah2 saja. Adakah Anda mengusulkan cara pemecahan “Pahe FISIPOL” yang berkeadil-benaran (termasuk pelbagai fatwa dan doktrin agama) shg bisa dipakai sbg obat mujarab. Tangeh.

    Kalau terus-terusan audienns hanya bahas substansi ruwatan, lebih baik diskusi ini distop karena artikel-pembukapintu dari Mas Satria menginformasikan hal empiris, yaitu Pahe FISIPOL, tetapi yng nampak dlm respon justru masalah lain. Tutup ataupun bungkus jelas bukan isinya.

    Sebenarnya ada Kasus ikutan ‘Pahe’ yang kita bisa bahas yaitu Surat Penolakan Prosesing dari Dir BAA tgl.18/9/08 atas 6 matakuliah (senilai 20 sks) milik KU yng dikirim kpd Kaprogdi Sosiologi, karena tak memenuhi persyaratan Buku Ungu (Peraturan Akademik UKSW) psl 34:2&3. Bgmn mungkin kuliah baru berjalan 2 minggu nilai keluar. Mari kita melalukan investigasi, lalu ditulis di sini. Biar Civitas tahu bahwa kita bisa ‘efektif’.

  35. berbagai tradisi budaya bisa saja berbeda-beda ungkapan dan metaforanya dalam berbicara perihal waktu, ruang dan kausalitas; tetapi pengalaman kita tentang semuanya tadi bisa secara mendasar disusun oleh perlengkapan persepsi-konsepsi kita yang dibentuk secara dan oleh suatu budaya tertentu.
    itu semua merupakan bagian penting dari suatu konsep antropologi budaya….
    kita perlu memandang struktur kebudayaan dalam kombinasi statis-dinamis, yaitu merekonstruir suatu irisan pada moment tertentu dan memperbandingkannya dengan taraf-taraf dari proses kebudayaan tersebut…
    dengan suatu upaya mental kita dapat mulai menyadari sandi-sandi yang biasanya tersembunyi di bawah perilaku kita sehari-hari…….
    tapi bagaimana pun, menurut saya, memang upacara ruwetan tersebut tidak tepat dilaksanakan di sebuah tempat dimana unsur dan dasarnya ialah iman Kristiani….

  36. Pak TKS

    Anda belum menjawab pertanyaan saya…apa langkah anda selanjutnnya? hanya menunggu,Tuhan menggerakkan nurani dan motorik pimpinan?Apakah publikasi persoalan FISIPOL di media ini dinilai memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat pimpinan Universitas dan Fakultas peduli?

Tinggalkan Balasan ke Adi Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas