Meruwat Fisipol?

Browse By

Bau hio merebak dari ruang rapat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik hari ini. Seorang dosen menunjuk sesajian di atas satu meja kayu panjang sebagai asal bau tersebut. Rupanya sedang ada ruwatan kecil di Fisipol.

CATATAN
Saya menulis catatan ini pada 4 Oktober 2008 sebagai penjelasan, bagaimana foto di atas bisa terpublikasi di Scientiarum.

Jumat, 26 September 2008, beberapa orang — ada dosen, juga mahasiswa — melakukan semacam doa bersama di taman depan kantor Fisipol. Dalam doanya, mereka meminta agar di masa mendatang Fisipol bisa lebih baik dari keadaan sekarang (waktu itu). Doa bersama ini mendapat perhatian wartawan Kompas, Antony Lee. Saya lihat dia beberapa kali menjepret orang-orang yang lagi berdoa, dengan digital single-lens reflex camera.

Setelah doa bersama usai, saya masuk “kanfak” Fisipol untuk menemui Tri Kadarsilo di ruangnya. Sebelumnya saya dapat info dari Saam Fredy Marpaung, staf Biro Promosi dan Hubungan Luar, bahwa salah satu penggagas doa bersama adalah Kadarsilo. Saat itu bau wangi — seperti bau kemenyan — semerbak di seluruh lorong kanfak.

Saya ketuk pintu ruang Tri Kadarsilo dengan pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Saya lantas memberanikan diri masuk. Saat pintu terbuka, saya lihat ada Tri Kadarsilo, Saam Fredy Marpaung, dan Antony Lee di sana. Dua nama terakhir yang saya sebut itu tak lama kemudian keluar. Lee membawa beberapa dokumen — salah satu, yang saya lihat jelas, mirip dengan cetakan transkrip kuliah mahasiswa Satya Wacana.

Saya tak punya banyak kesempatan memperhatikan dokumen-dokumen yang dibawa Antony Lee. Dia bergegas keluar, meninggalkan ruang Tri Kadarsilo. Saam Fredy Marpaung “mengawal” wartawan itu.

Perhatian saya kemudian terarah pada Tri Kadarsilo. Saya hanya ingin bertanya, apa maksud sebenarnya dari doa bersama? Kok tumben ada yang demikian, sampai diliput wartawan Kompas segala?

Tri Kadarsilo lantas menjelaskan satu masalah yang lagi terjadi di Fisipol — saya atau wartawan Scientiarum lain akan menuliskannya sebagai laporan tersendiri. Dia bilang, penyelesaian masalah tersebut dilakukan dengan pendekatan kultural. Pendekatan kultural? Ya, salah satu contohnya adalah berdoa itu tadi.

Tapi rupanya ada pendekatan kultural lain. Tanpa saya minta, Tri Kadarsilo mengajak saya keluar ruangnya. Dia membawa saya menuju satu ruang yang disebut sebagai ruang rapat Fisipol. Dia menunjukkan seperangkat sesajian seperti tergambar pada foto di atas. Akhirnya saya paham asal bau wangi yang saya sangka kemenyan tadi.

Untuk apa sesajian itu? Ruwatan? Ya, kira-kira begitulah, ucap Tri Kadarsilo, sambil tersenyum. “Saya kan orang Jawa,” katanya pada saya. Menurut Kadarsilo, cara-cara yang demikian lebih bisa menjawab masalah, ketimbang mengandalkan iman Kristen yang sering didengungkan di kampus. Dia merasa ada “kekuatan yang bersahabat” dengan dirinya di sekitar kanfak Fisipol. Dan kekuatan itu membantunya mengungkap masalah yang baru saja dia ceritakan pada saya sebelumnya. Masalah, yang kata Kadarsilo, selalu berusaha ditutup rapat oleh para pemimpin di Universitas Kristen Satya Wacana!

Menjelang akhir pembicaraan saya bertanya pada Kadarsilo, “Apa hal ini (sesajian dan ruwatan) boleh diketahui publik (sivitas akademika Satya Wacana)?” Tri Kadarsilo tak keberatan. Maka saya ambil foto di atas dari kamera Petrus Wijayanto (dengan minta ijin, tentu saja), dosen Fakultas Ekonomi yang sempat mengambil foto ruangan itu. Saya crop foto itu sedikit, lalu tulis tiga kalimat sebagai caption-nya, dan publish foto tersebut sebagai berita foto.

Satria A. Nonoputra
Redaktur

238 thoughts on “Meruwat Fisipol?”

  1. iyo says:

    haha..
    y ampun..
    yg kayak gi2 tuh g enak dcium..
    coba diganti bau babi guling kek..kn lbi enk dcium + menambah nafsu makan ^o^
    still believe with ‘something like that’ sih sah2 saja..(hak stp org)
    tp tolong jgn dbandingkn dgn iman kristiani yg jelas tidak dia mengerti(atau miliki) 🙂

  2. capede.. says:

    ckckck…. katanya univ kristen,,,, tapi prasaan ni univ oq tambah aneh aja y? menurut saia sih, gpp ikutin budaya, selama budaya itu ga bersebrangan prinsip sama bible. klo dah kliatan beda, y jgn lah. kan sama artinya kita ngerasa Tuhan kita tidak mampu mangatasi masalah qta. HEY!!! Tuhan qta tuh dahsyat!!! masak lbh ngandelin “barang alus” (yg adalah ciptaan) daripada sang pencipta itu sndr? itu namanya, “ngeremehin Tuhan”. itu si menurut aku.

    btw, klo ada kasus gn, brati kan pihak univ kan tau ya? ada tindak lanjut ga si? mengingat pendiri univ adalah beberapa GEREJA sala3?

  3. wit says:

    @capede.. dan semuanya…

    OK, mari sekarang kita bahas substansi permasalahan yang terjadi. Sy kira tulisannya Pak Tri sebelum ini sudah sangat jelas, bahkan secara spesifik menjawab komentar beberapa orang di sini.

    pertanyaannya sederhana saja:

    1. Apakah PAHE di Fisipol itu bisa diterima? (entah benar entah salah — sebab yang salah bisa jadi benar, ketika mayoritas menerima kesalahan itu sebagai “kebenaran”)
    – jika diterima, mari kita bikin ruwatan lagi untuk mendukung PAHE itu (seperti usulnya Pak Tri….)

    Jika ditolak…
    2. Apa tindakan selanjutnya? terhadap mahasiswanya? terhadap pengambil keputusan itu?
    (perlu sanksi apa tidak? apa dibiarkan saja, biarkan bertobat sendiri, asal besok tidak mengulangi?)

    jika perlu sanksi…. siapa yang ‘wajib’ memberikan sanksi? sanksinya dalam bentuk apa?

    ayo…, silakan berpendapat, jangan cuma nyoroti masalah “bau hio”nya saja… memang maksudnya disebar ‘bau’ agar menarik perhatian…., e.e.e….. ternyata yang menarik malah bau-nya, mengapa berbau begini….

  4. 'jj' says:

    Wah… ruwatan pake kemenyan…ngeri juga dengernya! APA NGGAK MALU?

    Kalau menurut aku nih… UKSW- Universitas Kristen Satya Wacana—– udah pasti didasarkan Kristen kan?!
    Lalu kepercayaan kepada Tuhan Yesus dimana tuh?
    Bukankah masalah yang terjadi di dalam kehidupan ini memang ujian yang diberikan Tuhan kepada QT? dan dalam memecahkan permasalah tersebut bukankah QT harus berpegang teguh Kepada Tuhan juga?? Bukankah segala sesuatu yang terjadi memang rencana TUHAN?
    Saya alumni UKSW. saya masih ingat sewaktu saya mendapatkan perkuliahan agama Kristen, diajarkan bahwa tidak ada yang dapat mengungguli kekuatan TUHAN. Lalu buat apa diajarkan mata kuliah tersebut…? jika masih mempercayai adanya hal lain??? (rugi dong bayar sks-nya) hehehe.
    Bukankah seharusnya jika ada permasalahan QT berdoa kepada TUHAN, bukan yang lainnya?! Memang QT tinggal di tanah Jawa..yang dipercaya juga banyak tahayul (magic lah… hantu lah…) dan yang pasti dengan tradisi jawa (sembahyang leluhur, arwah2).
    Sebenarnya sih boleh2 aja mengadakan sembahyang tradisi… tapi bukankah harus dilihat tempatnya juga….
    Sekarang kalau yang terjadi di sebuah universitas kristen yang begitu terkenalnya…. kemudian ada suatu permasalahan dan langsung mengadakan ruwatan di dalam kampus….Koq sampai percaya dengan begituan??? Apakah sudah benar-benar lupa dengan TUHAN?

    Saya memang bukan umat Kristen, tetapi jika saya mengalami suatu permasalahan saya selalu meminta kepada TUHAN. Saya sangat PERCAYA dengan TUHAN.. APA YANG TUHAN BERIKAN ITULAH YANG TERINDAH..

  5. Yulius says:

    Pimpinan Universitas dan Fakultas dan kita tentunya sudah tahu jawaban atas pertanyaan saudara Wit…persoalannya bukan ditanyakan lagi (ulang), tapi usaha lain apa lagi yang akan dilakukan untuk menyuarakan ketidakberesan/ketidakbenaran ini.
    Supaya tidak saja bau-nya yang tercium…pilh cara lain…yang tidak mengundang kontradiktif, mengingat Universitas ini begitu plural isinya.

  6. wit says:

    @’jj’
    wah.. rupanya anda tidak membaca dulu komentar-komentar yang sudah ada….,
    baca TERUTAMA, komentar Pak Tri Kadarsilo, penggagas ‘ruwatan’ ini.

    @Yulius,
    anda malah mengajak bikin acara (lain) lagi untuk menyuarakan ‘ketidakberesan’ itu, apa perlu demonstrasi dengan orasi berpengeras suara dan spanduk2 bernada protes?

    saya kita para pejabat yang berwenang tidak tuli, juga tidak buta, tapi memang perlu didorong untuk mengambil keputusan tertentu terhadap kasus “PAHE” ini. bukan diam saja.

    memang ada pepatah diam itu emas but some time, quiet is just yellow. (i hope not something yellow that smell “good” (…. and’ very good’ for flies….)

  7. Neil Rupidara says:

    Pak Tri,

    Takut nih saya nyampuri dapur Fisipol, apalagi saya dalam status ‘preman’ atau sedang di luar sistem. Namun, apa yang terjadi jelas memrihatinkan saya dan karena itu ya saya mau ikutan mendiskusikan.

    Pertama, kasus pahe yang disebut jelas memrihatinkan, kalau benar terjadi dan benar pula tafsirannya. Jelas sekali bahwa untuk lulus dari jenjang pendidikan tinggi, seseorang harus menempuh minimal 144 sks. Namun, di sejumlah Fakultas/Progdi tertentu, hanya untuk maju ujian, tidak harus seseorang sudah menempuh 144. Walaupun policy seperti ini sudah jarang, tetapi ada Progdi yang memiliki syarat proporsi sks tertentu (misalnya 120) untuk memerbolehkan seorang mahasiswa yang telah selesai skripsinya untuk diuji. Lulus ujian skripsi tidak serta merta membuat si mahasiswa boleh menyandang gelar sarjana, karena ia belum memenuhi jumlah sks untuk menyandang gelar sarjana dan diwisuda. Jadi, posisi masalah Pahe dalam sistem kurikulum di Fisipol ini bagaimana sesungguhnya?

    Namun, kedua, tindakan pak Tri, bagi saya, juga sama memrihatinkannya. Mengapa? Bukan soal itu kristiani atau tidak, walau tentu secara subyektif saya bisa saja menyoal itu. Namun yang vital bagi saya, kok sepertinya tidak ada mekanisme organisasional untuk membahas masalah keputusan tersebut sehingga ditempuh jalur ‘ekstra konstitusional’ seperti yang pak Tri ambil??? Dilakukannya ruwatan di ruang rapat menurut tangkapan saya ruang rapat itu sendiri ‘punya masalah’, alias tidak bisa menjadi wadah menyelesaikan masalah. Ini cukup berbahaya karena simbol dilawan dengan simbol, dan bisa mengantar kita untuk meng-KO-kan pranata organisasi yang resmi, walaupun mungkin ada masalah-masalah di dalamnya.

    Yang juga memrihatinkan adalah klaim pak Tri bahwa cara seperti itu (ruwatan) lebih ampuh daripada mengandalkan iman Kristen. Orang seperti saya bisa bertanya, “Yang disebut sebagai iman Kristen yang tidak ampuh itu yang seperti apa?” Dalam cukup banyak hal kita gampang menglaim kita ini Kristen, tetapi perilaku kita tidak sesungguhnya Kristiani. Jadi, klaim subyektif (bahwa tindakan tertentu sudah Kristiani) sah-sah saja, hanya kan apakah ada persetujuan secara kolektif atas klaim yang subyektif tadi sehingga bisa diterima umum atau menjadi ‘obyektif’? Jadi, bisa terjadi bias paling tidak pada dua level: 1) asumsi yang keliru bahwa itu sudah Kristiani, 2) bahwa yang Kristiani itu tidak ampuh. Ini menunjukkan, mudah sekali orang menuding yang gagal adalah iman Kristennya, bukan si subyek yang mendistorsikan makna ke-Kristen-annya (berdasarkan klaim pribadinya). Jadi, jelas dalam hal ini tindakan yang pak Tri ambil disertai rasionalitas yang diajukan menurut saya bersifat memrihatinkan. Yang gagal orang-orangnya (pemimpin, misalnya), yang dituding institusi keorganisasian dan keyakinannya (iman Kristen).

    Dalam berbagai forum diskusi/debat di Scientiarum ini saya selalu menyoal masalah komunikasi dalam organisasi dan lemahnya kepemimpinan dalam menyikapi masalah tertentu dan mengambil keputusan yang tegas. Banyak kali kita (UKSW) lari dari apa yang seharusnya kita putuskan dan serahkan itu kepada orang lain, padahal masalah itu ada pada wilayah keputusan kita. Karena itu, cukup banyak masalah terkesan dipendam, bisa jadi agar tidak mencuat dan karenanya tidak menempatkan kita (baca: yang harusnya membuat keputusan) berada di posisi sulit karena masalahnya pelik dan sulit diputuskan. Namun, sekali lagi, jangan klaim bahwa yang begitu itu iman Kristennya yang gagal. Keadaan seperti itu sama sekali tidak mencerminkan atau menjadi ukuran yang tepat untuk klaim yang dibuat. Kalau ada pihak yang menggunakan label iman Kristen untuk sikap-sikap dan keputusan yang jelas dapat dipertanyakan, saya kira kita semua berhak menyoal apa maksudnya dengan perujukannya pada iman Kristen. Tidak boleh ada pihak yang berhak semena-mena menyebut tindakannya benar karena itulah wujud iman Kristen. Bagi saya, itu bisa jadi justru wujud kesombongan iman dan di sisi lain setiap kita justru selalu diminta pertanggungjawaban atas sikap iman kita.

    Catatan terakhir, jika pak Tri yang ‘orang dalam’ sepertinya tidak berdaya dengan sistemnya sendiri dan harus melakukan sesuatu melalui jalur ekstra konstitusional, jelas ada yang ‘rusak’ dalam tatanan organisasi kita. Cuma, saran saya, tempuh dulu ‘perkelahian’ di ‘jalan yang benar’. Jika tidak mempan dan memang apa yang pak Tri perjuangkan adalah hal prinsipil yang tidak bisa tidak harus terus diperjuangkan, ya silahkan menggunakan cara-cara demonstratif. Tentu pak Tri punya alasan2 untuk menjustifikasi mengapa itu dilakukan sehingga bisa memertanggungjawabkan pilihan2 pak Tri.

    Dari jauh, saya berharap masalah tersebut dalam terselesaikan dengan baik. Dalam setiap keputusan organisasi, selalu ada klausula bahwa jika terdapat kekeliruan, maka sebuah keputusan dapat diralat atau dibatalkan. Di situlah ruang keorganisasian masih bisa ditempuh.

    Salam.

  8. Joy says:

    Saya selaku mahasiswa UKSW salut dengan Bpk Tri kadarsilo, karena dengan santai mengijinkan kepada para wartawan untuk mempublikasikan acara ruwatan fisipol. apa tidak takut di katakan “Musrik” Pak?
    sebagai dosen senior di fisipol, kenapa anda tidak melakukan tidakan nyata untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dan cenderung untuk melakukan ruwatan?
    saya sebagai orang jawa sangat menghargai yang namanya ruwatan ini, karena di daerah-daerah masing sering acara-acara seperti ini, tapi saya baru dengar ini—ada ruwatan yang dilakukan di kampus.

  9. penggemar UKSW says:

    recommended bung Neil jadi Rektor UKSW Selanjutnya, next 2 step

  10. wowok says:

    Menurut saya, apa yang dilakukan pak tri merupakan hal yang lumprah sebagai orang jawa. Mungkin tidak hanya pak tri saja, di FE ada juga dosen yang lebih terkenal dengan “Fenghui “nya, dari pada kiprah akademiknya..

  11. Yulius says:

    Wit
    Saya setuju untuk mendorong Pimpinan agar segera melakukan tindakan untuk mengatasi ketidakberesen ini. Makanya saya bertanya apa langkah berikutnya dari penggagas ruwatan di FISIPOL. Kalo Anda mengusulkan orasi kenceng2 sambil bawa spanduk..itu hak anda (bukan dan tidak ada dalam tulisan saya). Emang ga bisa ya diperkuat budaya dialog yang dilakukan tanpa harus unjuk gigi taring?
    Langkah selanjutnya sebenarnya sangat ditentukan oleh pak TKS dan teman2 di FISIPOL , bagaimana mereka MAU dan TERUS mengoptimalkan fungsi organisasional mereka..bukan dengan cara mencari dukungan ke pihak lain. Jangan sampai terkesan ruwatan menjadi final opsi (atau juga bentuk frustrasi)terhadap persoalan PAHE.

  12. dian ade permana says:

    salam…ada yang perlu dipahami mengenai ruwatan yang digagas oleh TKS…
    ruwatan hanyalah “alat” yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu….
    bagi saya, ruwatan yang digelar oleh TKS adalah sarana untuknya bersuara setelah sekian lama diam, terdiam, atau didiamkan…
    ruwatan bukan tujuan, itu hanyalah alat…
    dan tidak ada yang salah dengan cara ini,,,
    penerimaan untuk menerima perbedaan menjadi penting disini…ketika kita sudah terlalu lama terdiam dan diseragamkan dengan “kasih” yang tidak mengasihi….kita harus menggunakan alat yang berbeda…setidaknya untuk didengar….

    salam
    dian ade permana
    _pernah diruwat TKS_

  13. Mamik says:

    Hal-hal yang berbau mistis dan misteri memang diakui oleh banyak orang di berbagai wilayah dan budaya, termasuk di jawa. Apa yang dilakukan pak tri sebenarnya hal yang biasa saja…

  14. wit says:

    Hal-hal yang berbau mistis dan misteri memang diakui oleh banyak orang di berbagai wilayah dan budaya, termasuk di jawa. Apa yang dilakukan pak tri sebenarnya hal yang biasa saja…

    yang tidak biasa adalah PAHE di Fisipol, kenapa bukan PAHE ini yang dikomentari panjang lebar ya..?

  15. Neil Rupidara says:

    @dian ade dll…

    rasanya banyak yang setuju bahwa ruwatan bukan tujuan… kalau sudah jadi tujuan mah itu karnaval budaya namanya, orang hanya bermaksud menunjukkannya sebagai atribut atau atraksi budayanya… cuma, saya jelas berkeberatan jika ia dengan begitu mudahnya dikatakan sebagai sah-sah saja atau hal biasa saja…

    jika ruwatan itu dilakukan komunitas gunung Merapi seperti yang sudah berapa kali diliput Scientiarum ya sumonggo… tapi, kalau ruwatan dilakukan di sebuah organisasi seperti UKSW ya tunggu dulu… sebuah cara tidak seenak hati bisa kita pakai pada suatu konteks tertentu… apa lagi me-relatif-kan nya sebagai sekedar sebuah kenyataan budaya… yang harus diingat, UKSW juga punya tradisi dan mekanisme organisasinya yang berlandaskan prinsip2 atau norma2 tertentu… termasuk dalam hal menyoal masalah tertentu… di sisi lain, sebagai sebuah komunitas Kristen, tentu ada rujukan norma dan tradisi yang bisa disebut cocok dengan cirinya sebagai sebuah komunitas Kristen… saya sudah argued di posting pertama bahwa kegagalan orang, jangan ditumpahkan sebagai kegagalan iman, atau kasih, atau jangan-jangan dipandang sebagai kegagalan Tuhan… terlalu jauh…

    alasan ade soal telah lama diam, terdiam, atau didiamkan tidak tepat untuk membenarkan dilakukannya ruwatan dengan memberi sesajenan seperti tampak di gambar… bagi saya, UKSW bukan milik pribadi… jika ada yang salah, jangan didiamkan.. diomongkan bersama… dicari jalan keluar dengan cara2 yang ada… jadi, tidak ada alasan juga bagi kita untuk bungkam kan…???

    masalah ‘pahe’ itu sendiri adalah maalah yang sangat jelas dan sekarang sudah menjadi sebuah masalah ‘telanjang’ .. kan ada aturan2 akademik… ada mekanisme pengambilan keputusan organisasi… dan, pengambilan keputusan organisasi pun bertingkat… jika keputusan eksekutif di aras progdi/fakultas dipandang keliru, masih ada senat fakultas (rujukan, di FE ada) yang menjadi badan normatif yang menurut saya cukup tepat untuk diajukan problematika ini… masalah ini juga bisa diangkat menjadi concern pada aras yang lebih tinggi misalnya hingga senat universitas, jika dianggap ada pelanggaran serius terhadap norma dan peraturan akademik…

    kalau semua perangkat itu ada, lha mengapa harus ada sesajenan segala??? itu hanya menunjukkan kebuntuan pikir menyangkut cara menyelesaikan persoalan… toh, masih ada ‘seribu satu’ cara selain ruwatan pola sesajenen begituan…

    sekarang soal ruwatan sebagai alat atau cara…. jika pun cara demonstratif ini mau dipakai untuk menarik perhatian agar terjadi percakapan atas masalah pahe, pertanyaan saya, mengapa sesajenan? pertama, bagi saya, sesajen bukan sekedar ritual budaya biasa, tetapi membawa simbol2 keyakinan dan merupakan ritual sesembahan pada sesuatu yang diyakini dapat membantu manusia untuk hal yang diinginkan pemberi sesembahan… sang Tuhan-kah yang disembahi? padahal Tuhan tidak minta sesajenan seperti itu…. lalu siapa???? tolong koreksi saya jika keliru… tapi, dari dari uraian berita, “…ia merasa ada “kekuatan yang bersahabat” dengan dirinya di sekitar kanfak Fisipol. Dan kekuatan itu membantunya mengungkap masalah yang baru saja dia ceritakan pada saya sebelumnya…” apakah maksud pernyataan ini? saya merasa ada dimensi keyakinan yang lain yang ikut disertakan… karenanya maaf, saya rasa, itu tidak dikenal dan bahkan bisa bertabrakan dengan keyakinan dan praktik keyakinan kristen… saya tidak yakin itu juga dapat diterima dalam perspektif sinkretisme atau eufemismenya akulturasi (diskusi oleh wit dan yulius)… karena itu, protes dengan jalan sesajenan, bagi saya, dalam konteks keorganisasi di UKSW adalah keliru total…

    bagaimana dengan feng shui? sami mawon, siapa juga yang menerima feng shui? UKSW secara kelembagaan tidak pernah menerima itu… jadi, tidak ada alasan untuk menerima model begituan… ntar agama suku dari mana pun berhak membuat ritual keagamaannya di UKSW dan itu diklaim sebagai sesuatu yang menyatu dengan ritual keorganisasian dan kekristenan…

    namun, sekali lagi, tidak ada yang melarang jika ritual begituan dilakukan sebagai sebuah ritual budaya di luar konteks UKSW sebagai institusi Kristen.. sah… kita juga harus menghormati orang dengan keyakinannya dan tradisi kulturalnya… misalnya, kalau saya ke Bali, saya harus berterima untuk mendapati orang2 Bali memasang sesajen di mana-mana… tetapi, ketika kita lakukan itu di dalam batas2 wilayah UKSW dengan kekristenan sebagai batas keyakinannya, maka jelas pilihan cara2 kulturalpun harus menghormati eksistensi kelembagaan UKSW yang macam begitu… Jika kita mengamini bahwa itu bisa diterima karena merupakan sebuah pendekatan kulturan, bagi saya, ini bahaya besar!!! apalagi itu disertai justifikasi, bahwa iman Kristen dan kasih gagal menyelesaikan masalah-masalah nyata… sebuah klaim yang terlalu sumir… yang gagal menyelesaikan masalah2 itu manusianya… jangan-lah lalu kita mudah menuding institusi keyakinannya…. bahaya besar!!!

    @ yulius dan wit… jelas sekali, pak Tri sudah membawa masalah ini ke permukaan… bahkan sudah dibuka ke wartawan Kompas… tidak ada lagi yang tertutup… bola sudah dilempar pak Tri ke wilayah publik… karena itu, pertanyaannya bukan lagi ke pak Tri, apa yang bakal dilakukannya… pertanyaan kini mengarah kepada para petinggi di kampus.. termasuk khususnya di tingkat Fisipol… termasuk juga komunitas dosen fisipol, juga LK/mahasiswa Fisipol… ini masalah riil di depan mata kita semua… pertanyaannya: apakah jawab mu???? bagi saya, selesaikanlah!!!!

    jika masalah ini tidak segera diselesaikan, maka saya kira ini akan sangat riskan bagi kita semua… ingat, Scientiarum yang meliput ini pun adalah media yang terbuka diakses siapa saja…. banyak orang membacanya… karena itu, kini ditunggu kemampuan kita menyelesaikan masalahnya…

    karena itu, di posting pertama saya katakan, saya berharap masalah ini dapat terselesaikan dengan baik… semoga masalah ini segera mendapat respon yang proporsional dari mereka yang berkepentingan, alias diselesaikan dengan tuntas… tas… tas… semoga itu yang sedang atau akan terjadi… sebagai pemerhati, kita tunggu apa yang bakal terjadi…

  16. A. Mailoi says:

    Salut untuk perjuangan Pak Tri Kadarsilo. Sebenarnya inti bukan ruwetan, tapi pencapian makna keadilan. Pencarian makna keadilan dapat dilakukan dengan berbagai cara, bagi saya itu sah-sah saja.

  17. Ela fisip'05 says:

    Kalau dilihat dari kacamata usaha bersuara, nampaknya aktor ruwatan cukup berhasil mengundang perhatian. Agendanya berhasil merasuki benak civitas akademika UKSW, formal organisasional maupun informal pribadi. Sesuatu yang unik dan kontroversial memang cepat mengundang minat. Dan mesti diakui sebagai media aspirasi lakon budaya ini sukses membuat kita sejenak menengok sebentar dari rtual kesibukan kita yang cenderung mekanis teknis.

    Entahkah akhirnya dikatakan menyalahi prosedur atau enggak, seenggaknya lihat dulu dari bingkai aliran pesan. Serupa aliran sungai, adakah sungai itu tersumbat sehingga membutuhkan jalan aliran baru yang akhirnya menimbulkan kecurigaan penyimpangan? kalo memang demikian, seharusnya kita bertanya, bagian mana yang tersumbat, kenapa tersumbat, bagaimana bisa tersumbat, lalu bagaimana cara mengatasinya?

    Saya pikir ruwatan-ruwatan yang lain juga banyak dilakukan di kampus besar ini sebagai akibat sumbatan-sumbatan di sepanjang aliran sungai, hanya dalam bentuk dan cara yang berbeda. Dan bukan aliran-aliran sungai baru ini yang seperlunya memerlukan kesegeraan untuk dibahas, tapi sumbatan-sumbatannya yang perlu segera diatasi. Percuma memotong aliran sungai baru, tapi engga menanggulangi aliran besar yang tersumbat, karena akan mengakibatkan meluapnya aliran sungai dan ketidaktentuan arah mengalirnya sungai. Bahaya bagi penduduk di dalam sungai itu sendiri dan penduduk di sekitar sungai. Bisa antah berantah dan mengakibatkan bencana masal. atau memang harus begitu?

    salam,
    ela

  18. Yulius says:

    Ruwatan FISIPOL jilid dua memang sudah menjadi teks terbuka yang berimplikasi pada kebebasan publik untuk memberi interpretasi. Banyak perspektif bisa menari di sana. Bola itu memang sudah bergulir jauh dan menuntut otoritas di Universitas (juga Fakultas) ini untuk segera mengambil tindakan konkret. Tapi, tidak sertamerta aktor pelempar bola meninggalkan arena permainan dan kemudian beralih peran menjadi penonton. Sedianya, ritual itu kemudian dikawal terus dengan ritual-ritual lain yang bercirikan tradisi UKSW, sebagai institusi akademik yang berpredikat Kristen. Itulah sebabnya saya “ngotot” untuk meminta jawaban dari aktor ruwatan atas pertanyaan, langkah konkret lanjutan apa yang akan diambil dan dilaksanakan?

    @Ela: Saya pikir ruwatan-ruwatan yang lain juga banyak dilakukan di kampus besar ini sebagai akibat sumbatan-sumbatan di sepanjang aliran sungai, hanya dalam bentuk dan cara yang berbeda.

    Bisa beri contoh konkret?

  19. DQ says:

    @Yulius: Jadi bapak maunya seperti apa? kalau jadi wacana publik, artinya bukan lagi milik sang aktor ruwatan.

  20. Mamik says:

    Yang penting pak Tri masih memiliki Tuhan, tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuhan , itu hak asasi setiap orang… Maju terus pak Tri… Tuhan memberkatimu

  21. Yuliawati PUS says:

    Dua hari lalu saya berbincang dng pak Tri, beliau mengeluh suratnya kpd Yulius dan Neil Rupidara dmk lama di mediasi Scientiarum. Padahal surat tsb bisa memperjelas persoalan “Pahe di FISIPOL “dan siapa tokoh intelektual di belakangnya. Beliau bertanya, mengapa di institusi dan komunitas bersemboyan takut kepada Tuhan ngomong ‘kebenaran’ lantas menjadi cadel. Lalu bgmn rasa hati ketika menyanyikan mars Satya Wacana? Tolong deh Mas Redaktur Scientiarum kayak apa sih surat itu?

  22. STR says:

    Untuk Yuliawati,

    Saya justru kebingungan dengan surat yang Anda maksud. Saya, maupun redaktur web Scientiarum yang baru (Gunawan, mahasiswa FTI), tak pernah menerima surat Tri Kadarsilo sama sekali. Surat yang mana? Dikirim lewat mana? Kalau dikirim lewat kolom komentar ini, kami tak pernah menghapus komentar Tri Kadarsilo. Semua kami tampilkan. Saya juga cukup sering kontak Tri Kadarsilo akhir-akhir ini, tapi dia tak pernah mengeluh sebagaimana Anda sampaikan itu. Terima kasih.

  23. Neil Rupidara says:

    @Mamik, untuk praktik berkomunikasi dengan Tuhan, betul itu hak tiap individu mau seperti apa, apakah itu jumpalitan atau apapun. Namun, tentu itu menjadi tepat ketika ia adalah praktik di ruang privat, bukan sebuah praktik di wilayah publik karena asosiasinya adalah itulah Satya Wacana, bukan lagi Tri Kadarsilo. Karena itu, senang sekali nanti mendapat respon pak Tri yang semoga memerjelas sejumlah hal.

    @Yuliawati, benar, kayak apa sih isi tanggapan pak Tri? Punggawa SA masih bingung dengan surat itu, jadi kita tunggu. Cuma, saya sependapat dengan beliau, mengapa harus takut ngomong kebenaran di komunitas UKSW. Perhatikan banyak posting saya di SA ini yang duduk di atas prinsip itu: kalau benar, mengapa takut? Cuma, saya tetap mengharapkan itu dilakukan dengan metode dengan simbol dan asosiasi yang justru bisa ‘merusak’ isi pesannya. Kita ada di komunitas yang saya persepsi sebagai terbuka untuk dialog dan debat, lha secara konseptual posisi mahasiswa dan dosen saja katanya dipandang setara untuk urusan ilmiah, duduk di atas konsep kesetaraan manusia di depan penciptanya, imago dei. Apalagi di antara sesama dosen dan untuk membicarakan sesuatu yang penting, sebuah masalah dalam pengelolaan aspek akademik. Jadi, jangan cadel, Tuhan memberi kita kelengkapan untuk berbicara secara transparan dan itu panggilan profetis pak Tri di dalam komunitasnya, Fisipol dan UKSW.. Tapi, ya baiknya kita tunggu sampainya surat pak Tri ke SA ini, biar lebih jelas.

  24. Neil Rupidara says:

    Cuma, saya tetap mengharapkan itu TIDAK dilakukan dengan metode dengan simbol dan asosiasi yang justru bisa ‘merusak’ isi pesannya

  25. sabrina/K/10 says:

    Ketika kita mendengar orang berbicara tentang kebenaran maka kita akan menghubungkan kebenaran tersebut dengan sesuatu hal yang nyata atau berhubungan dengan realitas yang terjadi disekitar lingkungan kita berada. Ada banyak versi kebenaran tergantung dari sudut pandang mana kita melihat kebenaran itu. Tetapi pada hakekatnya kebenaran itu harus lah ada bukti nyatanya. Untuk saat ini kita akan berbicara mengenai apa itu kebenaran menurut teori koheren. Teori koheren menyatakan bahwa kebenaran harus lah ada hubungannya dengan sesuatu yang ada didalam nilai-nilai yang terkandung didalam hal tersebut. Jika kita menyatakan bahwa presiden RI adalah SBY maka haruslah ada nilai-nilai kebenaran didalamnya. Bahwa SBY adalah presiden RI itu benar dengan bukti bahwa dia berhasil memenangkan pemilu 2004 silam dimana dia bersanding dengan JK. Nilai kebenaran yang terkandung didalamnya seperti (telah mengikuti pemilu 2004 dan menjadi pemenang pemilu 2004) merupakan salah satu bukti bahwa individu tersebut telah menjadi pemenang dan berhak menjadi presiden) dan itu adalah kebenaran. Tetapi kadang-kadang nilai-nilai kebenaran sudah tidak lagi dianggap penting dan vital karena individu ataupun kelompok sangat dengan gampang diputarbalikan atau menyimpang dari fakta yang ada. Seperti apa yang terjadi pada fakultas kita dimana telah terjadi kasus kriminal, ada seorang oknum mahasiswa yang dengan gampangnya mengikuti ujian skripsi dan lulus padahal oknum mahasiswa tersebut baru meraih total sks 125. Peraturan mengatur bahwa mahasiswa berhak mengikuti ujian skripsi ketika berhasil meraih total sks 144. Padahal pada kenyataannya oknum mahasiswa tersebut belum memenuhi persyaratan. Oknum yang terlibat didalamnya telah melanggar peraturan dan menyimpang dari nilai-nilai kebenaran yang ada. Hal seperti ini akan menimbulkan prasangka bahwa jika kita telah mencapai angka sks demikian maka mahasiswa berhak mengikuti ujian skripsi. Sejatinya kebenaran harus berhubungan erat dengan kenyataan atau bukti yang tidak menyimpang.

  26. Risky R09 says:

    menurut saya…. apakah setiap masalah seperti sekarang ini harus diselesaikan dengan Ruwatan yang bapak lakukan? em,ya saya tau! ruwatan ini bukan untuk menyelesaikan masalah yang ada, intinya lebih ke berdoa agar fisipol lebih baik……. Cuman apa ya harus berdoa dengan perlengkapan seperti alat2 yang ada di Foto atas. apa tidak bisa di selesaikan secara langsung, duduk bersama dan mengutarakan apa yang tidak disukai (speak up…..!!!!!)
    Thx……. kl mo di jawab, boleh jg…….!!!! =)

  27. wit says:

    @Risky R09
    menurut saya…. apakah setiap masalah seperti sekarang ini harus diselesaikan dengan Ruwatan yang bapak lakukan? em,ya saya tau! ruwatan ini bukan untuk menyelesaikan masalah yang ada, intinya lebih ke berdoa agar fisipol lebih baik…….

    jawabnya TIDAK, ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah.

    Cuman apa ya harus berdoa dengan perlengkapan seperti alat2 yang ada di Foto atas. apa tidak bisa di selesaikan secara langsung, duduk bersama dan mengutarakan apa yang tidak disukai (speak up…..!!!!!)
    Thx……. kl mo di jawab, boleh jg…….!!!! =)

    Anda percaya pada Tuhan? dengan cara bagaimana anda berdoa? pakai perlengkapan apa?
    jika anda di gereja, apa ya harus pakai lilin? apa ya harus pakai “air suci” (katholik), apa harus melipat tangan dan tutup mata? apa ya harus 1x seminggu?
    jika anda di masjid, apa ya harus dengan bahasa arab dan lafal berlagu, apa ya harus pakai sarung dan peci? apa ya harus pakai gerakan-gerakan tertentu? apa ya harus 5x sehari?
    tidakkah anda bisa bicara langsung dengan Tuhan, kapanpun anda mau, dengan bahasa anda, tanpa benda-benda dan gerakan-gerakan simbolis?

    jangan berstandar ganda.

  28. ANtonius says:

    Memang agak aneh, jika dalam sebuah universitas kristen.. kok ada ritual yang berbau klenik…

  29. Kuntilanak says:

    Sebagai orang jawa, ruwatan merupakan hal yang lazim digunakan sebagai simbol keyakinan. Asal keyakinan tetap pada Tuhan, maka ruwatan di UKSW saya kira ok-ok aja.

  30. dq says:

    @STR: pihak2 laen di kampus tercinta koq nggak diwawancarai? BARA, registrar, kaprogdi, dekan, WR 1 opo rektor’e sisan.

  31. TARI R29 says:

    Ketika kita mendengar orang berbicara tentang kebenaran maka kita akan menghubungkan kebenaran tersebut dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan realitas atau fakta yang terjadi disekitar kita. Ada banyak orang berasumsi tentang kebenaran tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Tetapi pada dasarnya kebenaran itu harus punya bukti yang nyata. saat ini kita akan membicarakan tentang apa itu kebenaran menurut teori korespondensi. Teori korespondensi menyatakan bahwa pernyataan dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Tetapi kadang-kadang nilai-nilai kebenaran sudah tidak lagi dianggap penting sebab individu baik kelompok sangat dengan mudahnya diputarbalikan atau menyimpang dari fakta yang sudah ada. Seperti apa yang terjadi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik atau FISIPOL telah mengalami kasus yang menggemparkan para mahasiswa dan dosen, ada seorang mahasiswa yang dengan gampangnya mengikuti ujian skripsi dan lulus padahal mahasiswa tersebut hanya dengan 120sks. padahal ketentuan dari pihak Universitas yaitu 140sks. dengan adanya kejadian itu banyak orang yang ingin mencari kebenarannya.apakah semua ini adalah kebenaran atau bohong belaka ??kita tidak perlu menyalahkan mahasiswa tersebut atau pun para dosen yang ikut campur dalam hal ini.yang jelas kita harus mencari kebenaran tersebut dengan fakta atau bukti.kebenaran memang harus kita selidiki hingga kebenaran itu memang benar adanya.agar semua orang akan mengerti bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya.

  32. R07 says:

    Kebenaran memang tidak bisa dianggap sebagai sebuah definisi mutlak. Kebenaran ada dalam diri setiap orang dan tergantung bagaimana seseorang itu menganggap dan memaknai apa itu kebenaran. Mungkin apa yang menurut saya benar, belum tentu bagi orang lain hal yang sama juga benar, dan sebaliknya. Jadi kebenaran itu tidak mempunyai definisi mutlak. Menurut saya kebenaran musti perjuangkan. Walaupun kebenaran yang saya katakan hanya muncul dari pikiran saya saja maupun sebuah relatifitas. Apalagi apabila kebenaran itu ada karena relatifisme, sangat bodoh apabila kebenaran itu tidak diperjuangkan.
    Menurut saya, kasus di Fisipol terjadi karena adanya perbedaan pengertian akan kebenaran itu sendiri, bila dikaitkan dengan filsafat. Ada yang memang kebenaran di pegang karena adanya sebuah keyakinan yang memang timbul dari dalam diri sendiri. Jadi apabila seseorang melakukan hal yang dianggapnya benar, maka akan menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagi dia, meskipun banyak orang menganggap hal itu bukan suatu kebenaran. Bisa saja, posisi ini ada pada pihak-pihak yang menyetujui hal tersebut bisa terjadi. Pihak-pihak tersebut menganggap dan mempunyai keyakinan bahwa mereka benar, walaupun di luar sana banyak sekali kontrofersi mengenai hal ini. Pihak-pihak ini mempunyai pandangan yang berbeda mengenai kebenaran dengan mereka yang menentang adanya kasus tersebut. Sehingga timbul adanya kepuasan tersendiri bagi pihak-pihak pencipta kasus tersebut, karena pihak-pihak ini mempunyai keyakinan bahwa mereka benar.
    Sama pula seperti, saya menganggap dan meyakini bahwa bunga itu berwarna kuning, meskipun orang menganggap lain, yaitu berwarna merah. Namun, saya tetap menyebutkan bahwa bunga itu berwarna kuning, karena saya yakini apa yang saya pikirkan dalah benar. Dan saya merasa puas, karena pikiran yang saya bangun sendiri, meskipun akibatnya cukup besar;karena orang lain menganggap saya ini aneh. Nah, itulah kebenaran. Tidak ada definisi kebenaran secara pasti dan mutlak, tetapi yang ada adalah membangun pikiran kita sendiri bagaimana kita melihatnya dan menganggapnya, apakah kasus itu sebuah kebenaran atau kesalahan. Bila sebuah kebenaran ( bukan kesalahan ), maka silakan dinikmati saja sebagai kepuasan batin sendiri. Namun sebaliknya, apabila itu adalah sebuah kesalahan;musti dan harus diperjuangkan untuk mencari keadilan yang seadil-adilnya.

  33. Shella R08 says:

    Mencuatnya kasus di FISIPOL ini menyadarkan kita, mengenai pentingnya kebenaran dalam hidup.
    Sikap keterbukaan,tidak menutup-nutupi,dan berlaku benar menjadi hal yang sangat memprihatinkan.
    Karna sikap-sikap tersebut menjadi suatu hal yang krisis hari-hari ini…
    Oleh karenanya,melalui kasus yang ada ini marilah kita sebagai makluk ciptaan Tuhan yang sempurna dan lagi berakal budi luhur,marilah kita sadar akan pentingnya kebenaran dan mempraktekkannya…Singkatnya,marilah setiap kita hidup di dalam kebenaran yakni di setiap aspek kehidupan kita…

  34. bayu R11 says:

    sebenarnya saya bingung dengan kasus FISIPOL yang sampai saat ini masih terus di bahas.
    memang tidak benar kalau mengajukan ujian skripsi tapi hanya 120 SKS,dan ada apa dengan dosen yang memberikan ijin untuk maju ujian?????
    padahal standar ketentuan universitas untuk maju ujian adalah 144 SKS. lalu apakah dengan 120 SKS di ijinkan maju ujian skripsi tersebut di benarkan?? menurut saya hal tersebut jelas tidak di benarkan, karena jelas-jelas menyalahi aturan yang sudah di tetapkan dari pihak universitas dan pemerintah. banyak dari mahasiswa lain khususnya mahasiswa FISIPOL yang mencari kebenaran mengenai kasus tersebut. tetapi sampai sekarang saya belum mendengar tentang kebenaran dari masalah di atas untuk itu marilah kita junjung nilai-nilai kebenaran

  35. klaas says:

    Klaas K 27
    MEMPEROLEH KEBENARAN DENGAN CARA KEKRISTENAN

    keyakinan kita untuk membuktikan suatu hal, itulah yang dikatakan dengan mencari
    kebenaran. Dalam kehidupan kita banyak masalah yang harus di buktikan kebenarannya,nanun yang di tuntut adalah membuktikan kebenaran dengan cara yang kristiani ( iman kristen ).Bagaimana kita berdoa,
    merenungkan firman Tuhan, dan berpuasa untuk menyelesaikan suatu masalah.Inilah cara yang benar sesuai dengan pandangan iman Kristiani ( iman kristen ).Berhubung dengan masalah pelanggaran aturan akademik yang terjadi di FISIPOL, mengapa Bapak Tri Kadarsilo sebagai seorang kristen yang mengetahui
    dengan benar konsep kekristenan yang di pakai oleh UKSW ( takut akan Tuhan ialah permulaan pengetahuan ) tidak menerapkan konsep ini dalam mengungkapkan kebenaran dari masalah ini tetapi Bapak lebih memelih Ruwatan sebagai jalan pemecahan masalahnya. Apakah menurut Bapak cara yang kristiani itu tidak ampuh dalam mengungkapkan kebenaran masalah ini! Mungkin yang tidak ampuh bukan iman nya tetapi kualitas orangnya yang tidak meyakini iman nya dengan sungguh – sungguh.

    Penyelasaian sebuah masalah dengan cara kristiani bukanlah sesuatu yang instan tetapi membutuhkan proses dari Tuhan. ketidaksabaran kita sebagai manusia dalam menanti jawaban dari Tuhan membuat kita ragu dan berpikir bahwa cara – cara kekristenan dalam menyelesaikan atau mengungkapkan kebenaran dari masalah yang kita hadapi tidak manjur atau ampuh. tetapi kita harus ingat bahwa ketika kita menyerahkan masalah dalam tangan Tuhan, maka Tuhan sedang berproses untuk membuktikan jawaban dan kebenaran dari masalah yang di hadapi, termasuk masalah yang di hadapi keluarga besar FISIPOL. namun yang terpenting adalah berpegang pada iman kristen dan menggunakan cara kristiani dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Bersabarlah dalam menanti jawaban Tuhan atas kebenaran dari masalah yang kita hadapi.

  36. STR says:

    @ dq: Terima kasih sudah bertanya. Liputan masalah ini sebenarnya sudah ditugaskan pada Andreas Rahmadi (reporter magang Scientiarum) sejak seminggu lalu dengan saya sebagai mentornya. Namun, saya akui, saya tak bisa maksimal dalam mentoring. Ada beberapa utang tulisan, juga beberapa kesibukan dan gangguan lain, yang menyita perhatian saya, hingga saya cuma bisa mentori Andreas lewat obrolan-obrolan ringan di kantor. Belakangan, Andreas mengaku tak paham benar bagaimana caranya melakukan liputan ini.

    Idealnya, selama magang, setiap reporter baru akan didampingi satu mentor ketika melakukan liputan. Si reporter akan terjun langsung ke lapangan untuk belajar, sambil terus berkonsultasi dan bertanya pada mentornya. Liputan secara berdua juga akan membiasakan mental reporter baru perlahan-lahan agar tidak kaget.

    Pada rapat malam ini (29 Oktober 2008), saya menyatakan diri mundur dari posisi mentor Andreas. Posisi saya akan digantikan Geritz Febrianto, meskipun saya akan tetap menyupersivi proses mentoring Andreas, seperti mentoring reporter-reporter magang yang lain. Para narasumber yang terkait dengan masalah “paket hemat” ini pasti akan kami tanyai. Terima kasih.

  37. wit says:

    @R07
    Sama pula seperti, saya menganggap dan meyakini bahwa bunga itu berwarna kuning, meskipun orang menganggap lain, yaitu berwarna merah. Namun, saya tetap menyebutkan bahwa bunga itu berwarna kuning, karena saya yakini apa yang saya pikirkan dalah benar. Dan saya merasa puas, karena pikiran yang saya bangun sendiri, meskipun akibatnya cukup besar;karena orang lain menganggap saya ini aneh.

    itu bukan kebenaran, tetapi PENDAPAT.
    sebuah kebenaran, tetap kebenaran, sekalipun dianggap bukan kebenaran.
    bunga MERAH tetap merah, sekalipun anda anggap kuning. perlu dibuktikan bunga ‘kuning’ -nya anda itu sebenarnya merah atau kuning, sebab merah dan kuning masing-masing sudah memiliki kriterianya sendiri, sesuai kesepakatan/konsensus, atau kriteria ilmiah (spektrum cahaya)
    contoh (maaf): jika feces anda ‘kuning’, itu wajar, anda sehat, tapi jika ‘merah’, jangan-jangan anda kena ambeien, dan anda sedang mengalami pendarahan.

    kita tidak perlu menyalahkan mahasiswa tersebut atau pun para dosen yang ikut campur dalam hal ini.yang jelas kita harus mencari kebenaran tersebut dengan fakta atau bukti.kebenaran memang harus kita selidiki hingga kebenaran itu memang benar adanya.agar semua orang akan mengerti bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya.

    setiap penyimpangan terhadap kebenaran adalah KESALAHAN, jadi kalau mau OBYEKTIF, perlu dicari, siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika perlu diambil tindakan pada yang salah, dan BELA yang benar (ingat lagu Maju Tak Gentar…membela yang benar…)

    @klaas
    apakah yang melakukan “pelanggaran” di Fisipol bukan orang Kristen? tanyakan ke beliau, mengapa memilih melakukan PAHE untuk seorang mahasiswanya? Apakah itu karena beliau Kristen? karena beliau sedang ‘mengamalkan’ kekristenan? atau karena hal lain?

    So.. kalau Pak Tri melakukan ruwatan, jangan juga dikecam, “orang Kristen kok begitu, tidak menunjukkan kekristenannya” Saya kira pak Tri tidak sedang berperan sebagai orang Kristen, tetapi sebagai orang Jawa yang punya pemahaman tertentu terhadap simbol-simbol ‘uborampe’ ruwatan.
    Apakah ketika menjadi Kristen, identitas “jawa”-nya harus hilang?

    Jelaskan dulu yang mana yang anda sebut iman Kristen itu? Kristen yang merayakan Natal di 25 Desember, padahal tahu (atau tidak tahu) bahwa 25 Desember itu hari kelahiran Dewa Matahari? Kristen yang tidak lagi menyebut Tuhan dengan kata “Allah”, tetapi menggunakan “Yahweh”, atau Kristen yang tetap mempertahankan “Allah”. Kristen yang mengakui Trinitas, atau Kristen yang tidak mengakui Trinitas? Kristen yang pakai patung-patung di gereja atau yang tidak? Yang pakai ‘air suci’ atau yang tidak? Yang merayakan Paskah bersama “Easter” atau yang merayakan Paskah di tanggal 14 Nisan, sesuai Paskah Yahudi? Yang beribadah di hari Minggu atau yang hari Sabtu? Yang mengakui Yesus anak Allah, atau yang mengakui Yesus anak Yahweh?
    Kristen yang mana? Kristen yang anda maksud mungkin berbeda dengan Kristen yang saya maksud, mungkin berbeda dengan yang Pak Tri maksud.
    (he he he… masih banyak pertanyaan tentang “Kristen” yang anda maksud, tapi ini bukan forum untuk berdiskusi tentang kekristenan. — kalau mau sy undang anda di http://www.gkmin.net — disanalah sy ungkapkan beberapa pandangan saya tentang kekristenan — yang sangat mungkin berbeda dengan pandangan anda)

    Demikian juga ruwatan yang dimaksud Pak Tri, ternyata dipahami secara berbeda-beda oleh civitas akademika UKSW.
    Termasuk PAHE yang dilakukan oleh pejabat di Fisipol, ada yang CUEK, ada yang PEDULI, ada yang cuma GRUNDELAN…
    salam.

  38. maria dorotea S29 says:

    Penganut ajaran kejawen (dalam hal ini dalah ruwatan) biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku. Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik. Akibatnya banyak orang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan. Padahal hal ini dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman. Inilah yang saya baca pada situs wikipedia. Ini munkin cara pak Tri untuk membuka titik cerah masalah PAHE FISIPOL. Dan untuk mencari kebenran sendiri kita bersama-sama berperang dengan ini. Salah satu cara sederhana untuk mempelajari suatu subjek adalah menentukan segala sesuatu yang bisa benar atau salah, termasuk pernyataan, proposisi, kepercayaan, kalimat, dan pemikiran. Bagaimanapun ” aib” yang ditutup ini harus ditindak tegas, apa kata orang tentang FISIPOL, yang harusnya civitas academica menjunjung tinggi aturan malah melanggar aturan yang dibuat sendiri! Mungkin akan sangat susah melawan ini karena para petinggi Universitas pun hanya melakukan sedikit pergerakan tanpa pencerahan. Boleh saya katakan disini
    orang benar akan membuat tiang kuburnya sendiri.

  39. Merry S17 says:

    Menurut saya mengenai kasus yang terjadi dalam FISIPOL ini memang telah menjadi
    kontroversi dari berbagai pihak.Dan saya setuju dengan tindakan Pak Tri yang menggunakan
    cara ruwatan untuk mendapatkan pemecahan masalah melalui “cara-cara tradisional” dan
    masih sesuai dengan adat-adat kejawen yang sebenarnya tidak ada pengaruhnya dengan
    keagamaan.
    Sebenarnya kegiatan ruwatan yang diadakan ini hanyalah sebagai makna simbolik dari bentuk protes
    pada kaum atasan atas penyimpangan-penyimpangan dengan tujuan untuk mengembalikan
    ke keadaan yang lebih baik serta agar berbagai civitas mengetahui masalah ini.Sebenarnya
    jika kasus ini disangkutkan dengan kebenaran,
    dapat menimbulkan keraguan dari berbagai pihak.Sebab kebenaran tersebut harus ditunjang dengan dengan proposisi atau fakta-fakta yang jelas.Jelas pelanggaran mengenai “PAHE FISIPOL” ini
    dapat melatih mental mahasiswa tersebut untuk serba instan.
    Oleh karena itu,seharusnya masalah ini segera diselesaikan melalui tindakan tegas dari para
    petinggi universitas.Tidak sebaliknya dari pihak atasan justru melanggar aturan-aturan yang telah
    dibuat.Dengan tindakan yang jelas,tidak akan menimbulkan keraguan dari berbagai pihak serta tidak menimbulkan kesimpangan sosial.
    Hidup FISIPOL!!!

  40. RABECCA 87 says:

    kebenaran? apa sih kebenaran?
    bagi beberapa orang kebenaran adalah sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. namun ada pula yang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, maksudnya bagi beberapa orang menganggap sesuatu hal itu benar dan ada pula yang menganggap hal yg sm itu pula tdk benar.
    seperti yang terjadi pasa kasus seorang mahasiswa dpt mengikuti ujian dengan 120 sks. di sinilah kebenaran diuji. mungkin untuk orang yang membenarkan kasus ini dianggap benar, tapi untuk dipihak lain menganggap hal ini tidak benar. menurut saya ini memang tidak benar karena telah melenceng dari jalannya, dimana untk mengikuti ujian harus menempuh 144 sks. Tapi memang sulit mempertemukan 2 perbedaan pandangan tentang kebenaran. Saya hanya bisa berharap kasus ini menemukan titik terangnya…
    dan utk usaha-usaha meruwat FISIPOL saya dukung, tapi akan lebih baik bila kita mengandalkan Tuhan..
    semangat………^_^

  41. the END__K15 says:

    KEBENARAN?
    Kebenaran merupakan persesuaian antara pikiran dan kenyataan. kebenaran juga ditentukan oleh adanya argumen-argumen yang saling berkesinambungan. Suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran apabila ada argumen-argumen yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Lalu bagaimana dengan kasus yang terjadi di Fisipol bulan September kemarin??? Apakah itu kebenaran atau hanya kebohongan publik semata??? Ada seorang mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi, namun mahasiswa tersebut baru menyelesaikan 126sks dengan 6sks mengulang. hal ini menimbulkan konflik intra fakultas. Keputusan fakultas diragukan dandipertanyakan. Faklutaspun dianggap telah menjual ijasah. Konflik semakin meluap, karena di dalam fakukltas terdapat dua kubu yang saling bertentangan. Kubu pro dan kubu kontra. Argumen-argumen yang telah diungkapkan oleh pihak pro dianggap sebagai penutup kebohongan saja oleh pihak kontra. Kebenaran masih dopertanyakan dan diharapkan. Sampai saat ini masalah ini masih hangat diperbincangkan. bukan hanya dosen saja, namun mahasiswapun turut memperbincangkan dan mulai bertanya-tanya tentang kebenaran masalah ini. lalu kebenaran seperti ap yang sebenarnya diharapkan oleh semua pihak, supaya kasus ini menjadi benar-benar merupakan suatu kebenaran yang pasti??? Apakah kebenaran itu sendiri ada??? Lalu siapa yang sebenarnya memiliki kebenaran akan kasus ini??? Permintaan akan kebenaran ini akan terus muncul selama kasus ini belum ada pihak yang merasa puas dengan argumen yang telah diungkap. lalu akan dibawa kemana nasib mahasiswa Fisipol jika ada konflik intra fakultas Fisipol?

  42. Bram R40 says:

    kebenaran??????
    kebenaran merupakan hal yang selalu diperkatakan dan diinginkan semua orang tetapi susah untuk dilakukan. kebenaran itu sendiri harus dibuktikan sengan fakta-fakta yang jelas dan dapat dibuktikan. kebenaran itu juga membutuhkan pengorbanan. terkadang setiap orang yang melakukan kebenaran ada pihak lain yang menyalahkan sehingga banyak orang yang berfikir untuk menyelamatkan diri sendiri dari kesalahan dari pada bertindak kebenaran malah disalahkan.
    menanggapi kasus mahasiswa FISIPOL yang lulus dengan 120 sks, saya sangat berat hati, karena hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang seharusnya lulus dengan 144sks.mungkin hal tersebut ada yang peduli dan ada yang tidak . saya sendiri tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. apakah itu permainan orang dalam atau ada pihak yang sengaja melakukan tindakan tersebut????
    semoga tindakan tersebut dapat ditelusuri kebenarannya secara tuntas, dan mengetahui siapa dalang di balik kasus paristiwa tersebut. dan bagaimana nasib mahasiswa FISIPOL??????? Apa kata dunia?????

  43. V3 R06 says:

    kebenaran…
    seperti yang kita ketahui tentang kasus mahasiswa yang diperbolehkan mengambil skripsi hanya dengan 126 sks, dan jika kasus ini dikaitkan dengan masalah kebenaran kita tidak bisa mengatakan bahwa mahasiswa ini benar atau salah, dan tidak bisa dikatakan pula bahwa tindakan fakultas benar atau tidak. Intinya bahwa suatu kebenaran dikatakan benar jika, pernyataan tersebut disertai oleh proposisi atau fakta. Tapi kebenaran itu sendiri bisa saja tidak dapat didefinisikan, dan kita harus bertanggung jawab terhadap keyakinan kita tentang kebenaran itu sendiri dan mau menanggung resiko akan kebenaran itu, karena orang lain pun juga mempunyai kebenaran dan keyakinannya sendiri. Jadi jika kita mempunyai suatu keyakinan kita harus menyertakan fakta-faktanya atau proposisi yang dapat memperkuat keyakinan kita tersebut. Dan kebenaran yang kita ucapkan pun harus konsisten, dan biasanya pembuktian kebenaran ini sangat prospektif, atau tergantung dari diri kita sendiri.

  44. Maria Lestari says:

    Aduh! Saya bener-bener bingung dengan apa yang saya baca! Memang, mencari sebuah ‘kebenaran’ itu butuh waktu dan proses! Berita mengenai ‘120 sks’, telah menjadi ‘rahasia publik’ atau bahan pembicaraan masyarakat luas. Dalam hal ini, kira-kira siapa yang harusnya disalahkan atau bertanggung jawab? Apakah dari pihak Mahasiswa tersebut? Ataukah dari pihak Dosen? Atau dari pihak Fakultas? Atau adakah pilahan lain yang dapat dijadikan sebagai sumber masalah? Nah, hal ini yang seharusnya dilakukan, MENCARI SUMBER PERMASALAHAN! Publik menginginkan adanya KEBENARAN yang PASTI. Terutama dari pihak Fakultas terkait. Kabar luas menyatakan bahwa, adanya penekanan atau intimidasi dari ‘pihak dalam’. Tidak dijelaskan secara detail, siapa yang mendapat penekanan atau intimidasi, atau siapa yang melakukan intimidasi tersebut! Mungkin, yang menjadi pertanyaan publik adalah, “Mengapa dengan 120sks, yang bersangkutan dapat diluluskan?!!”. Banyak alasan yang dapat menutupi ‘sesuatu’ yang terjadi (seBENARnya)! Jika yang bersangkutan dapat diluluskan hanya dengan 120sks saja, maka bagi Mahasiswa yang lainpun, BERHAK mendapatkan hal yang sama! LULUS dengan 120sks saja! Atau, mungkin bisa dibawah 120sks??! Toh juga yang bersangkutan, DILULUSKAN TIDAK SESUAI DENGAN ATURAN YANG BERLAKU!
    Indonesia udah Merdeka 63tahun lamanya. SEBAGAI MAHASISWA, KAMIPUN MENUNTUT KEMERDEKAAN TERSEBUT!!!!!
    Tapi, masih adakah KEMERDEKAAN bagi kami? KEMERDEKAAN kami sebagai Mahasiswa! Karna kami memiliki HAK UNTUK BERBICARA, MENGETAHUI, dan MENYAMPAIKAN TENTANG KEBENARAN!!!!!

    GOD BLESS and ALWAYS WITH US 🙂

  45. IvanA R27 says:

    Kebenaran yang dicari – cari dalam konteks ini(masalah seorang mahasiswa yang selesai skripsinya untuk di uji hanya dengan 120sks) adalah kesempatan yang dimana sebenarnya adalah kebenaran mutlak. artinya kebenaran mutlak yang sudah tidak dapat disalahkan lagi. akan tetapi jelas sekali bahwa seorang mahasisiwa lulus jenjang pendidikan tinggi, harus menempuh 144sks. namun pada kenyataannya mahasiswa tersebut boleh skiripsinya di uji hanya dengan 120sks… sebenarnya hal seperti ini juga perlu ditanyakan. mengapa sampai hal itu bisa terjadi pada seorang mahasiswa FISIPOL???????
    Semoga saja…. hal ini tidak terulangi lagi pada mahasiswa yang lainnya.
    dengan keseimpulan memang kebenaran itu bersifat subjektif dan individual.

  46. JaPaNG R30 says:

    Kebenaran logis rasional maupun kebenaran empiris merupakan cikal bakal dari kemurnian informasi.Kebenaran dalam kaidahnya akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu.Bila menyinggung tentang apa yang terjadi di “Rumah Fisipol” emang bisa dikatakan “Suatu Kewalahan dalam Rumah Tangga”.Bagaimana tidak??Salah seorang mahasiswa mengambil hak nya terlebih dahulu,padahal dia belum menunaikan kewajiban resminya sebagai mahasiswa.Emang bisa dikatakan jaman ini sungguh “antik” dalam segala aspek.Mengapa demikian??Karena segala sesuatu yang ingin diraih tidak mungkin tidak akan tercapai apabila ada suatu “pahlawan” yang kita sebut sebagai “phi” itu.Contoh real nya aja ya 126 SKS dianggap sudah dapat menunjang “masa depan” seseorang.Padahal Fisipol itu punya sistem,Man!!Mahasiswa lain meneteskan keringat untuk menggapai impian dan harapannya.Ya boleh dibilang kebenaran bukan sesuatu yang penting,mungkin??Tapi kita mungkin sedikit saja bisa bernapas lega.Mengapa??Karena kehadiran “pahlawan kebenaran” yaitu Pak Tri Kadarsilo.Tentunya fengan jurusan andalannya Filsafat Super.he…he…Nggaklah.Mungkin dengan Ruwatan yang dianggap kuwat untuk menangkis perusak kebenaran.Boleh juga ni kita bisa adain Mata Kuliah Ruwatan.Tapi sapa yang mengampu??Suruh aja tu yang punya “Kelulusan Cepat”.Dengan itu kan sekaligus nge tes dia gitu.Tapi,Pak Tri applause buatmu karena telah sedikit banyak “membuat harum” Fisipol dibanding Fakultas lain.Walaupun hanya untuk sementara.GBU,,,,,,,,,,Hidup Filsafat!!!!!

  47. fisipol 06 crew says:

    cara untuk menyampaikan aspirasi itu macem2. ada yang mogok makan, demonstrasi, konvoi, dll
    cara yang dilakukan pak tri itu ga ada salahnya. klo pun kita memandang itu dosa berarti kita melihat dari sudut pandang agama donk. tujuanya agar masalah di dalam fisipol itu g berlarut-larut dan cepat berakhir, ya biar waktu yang akan menjawabnya

    pokoke selama pak tri tidak bakar gedung FISIPOL ma mutilasi orang itu ga masalah ga melanggar hukum tidak bisa di pidanakan

    maju terus pantang mundur

    pokoke ketik REG(spasi)BENAR kirim 9191

  48. nez K09 says:

    Mungkin ada berbagai macam pelanggaran yang dilakukan oleh FISIPOL, namun yang saya ketahui adalah kasus tentang pelanggaran ketentuan ujian skripsi yang melibatkan beberapa dosendan seorang mahasiswa Sosiologi angkatan 2001.
    Hal semacam itu membuat resah mahasiswa-mahasiswa FISIPOL, Karena menyangkut study mereka semua.
    Fakultas FISIPOL pun mendapatkan julukan sebagai “Fakultas Penjual Ijazah”. Mengapa demikian? Ini semua karena ulah para pelaku yang bertindak seenaknya sendiritanpa harus memikirkan hal lainnya.
    Saya sebagai mahasiswa fakultas tersebut sangat terkejut ketika mendapatkan informasi tentang pelanggaran ketentuan ujian skripsi itu.
    Saya kira difakultas yang saya banggakan tidak ada hal semacam itu, namun ternyata saya keliru memberikan penilaian.
    Hal semacam itu harus ditindak tegas agar tidak kembali lagi terjadi, karena bila hal semacam itu terjadi lagi, saya dan teman-teman yang lain merasa kecewa atas tindakan para pelaku-pelakunya.
    Kita tidak bisa diam menghadapi situasi yang seperti ini, kalau kita tetap diam saja tanpa memperdulikan apa yang terjadi difakultas kita ini, kita akan merasa tidak nyaman oleh apa yang dilakukan para pelaku yang tidak bertanggung jawab.
    Untuk itu kita harus mencari bukti-buktiyang akurat agar para pelakunya sadar terhadap apa yang telah mereka lakukan.
    Kita tidak mungkin bertindak sendirian, kita memerlukan dukungan dan kerjasama dari para dosen dn mahasiswa lainnya yang menolak keras tentang kasus ketentuan ujian skripsi di FISIPOL.
    Kita harus dapat mengatasi persoalan-persoalan yang ada difakultas kita, agar pihak fakultas tidak lagi menutup-nutupi persoalan yang ada difakultas.
    Kita seharusnya mencari kebenaran yang ada di fakultas kita, supaya kita mengerti apa yang sedang benar-benar terjadi di fakultas. Kebenaran itu tidak dapat didefinisikan namun bukan berarti kita tidak bisa mengetahui apapun mengenainya. Akankah pihak fakultas selalu menutup-nutupi persoalan yang terjadi di fakultas?
    Sampai kapankah hal semacam it uterus berlanjut?
    Bila hal ini terus menerus dibiarkan, dimanakah hati nurani mereka?
    Kita mahasiswa Fisipol berada disini untuk menuntut ilmu, namun kalau disini hanya memperjualbelikan ijazah, percuma saja kita menuntutilmu disini, daripada kita susah- susah menuntut ilmu mendingan beli ijazah saja sudah beres.
    Bila kita melakukan hal semacam itu, bagaimanakah nasib maas depan kita nantinya dalam menghadapi dunia kerja? Apakah nanti kita punya skill yang dibutuhkan?
    Itulah ajang harus kita pertanyakan pada para pelaku pelanggaran tersebut.
    Seharusnya para pelaku pelanggaran tersebut harus diberi sangsi yang tegas lewat jalur kekeluargaan namun apabila tidak bisa lewat jalan kekeluargaan, ya mau tidak mau lewat jalur hukum. Karena hal semacam itu tidak bisa dibiarkan begitu saja .
    Dan pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran ketentuan ujian skripsi tersebut harusnya sadar akan perbuatan yang mereka lakukan jangan hanya tenang-tenang saja.

  49. Muti says:

    Skripsi dianggap sebagai formalitas untuk mendapat ijazah S1, tanpa memperhatikan kualitas dan substansi yang terkandung di dalamnya dan praktek ini akan terus berjalan selama Universitas tutup mata dan tidak menunjukkan perlawanan yang berarti…
    Berarti banyak mahasiswa yang bisa mengikuti ”paket hemat” S1 ini, selagi fakultas bisa kecolongan. Enak dong…..
    Tunjukan KEBENARAN!!!!!!!!

  50. elizabeth widiati p _R.5 says:

    Bagi saya kebenaran itu bersifat relative. Bagi saya kebenaran itu bersifat relative. Sesuatu dapat dikatakan benar atau salah tergantung dari segi mana kita melihat sebuah fakta atau kenyataan yang ada. Kebenaran dibuktikan salah atau benar bukan oleh kekeyakinan yang lain melainkan oleh sesuatu dalam pikiran pribadi seseorang. Kebenaran akan suatu hal dapat dinilai benar atau salah tergantung dari siapa yang memandang dan dari sudut pandang apa.
    Jika dilihat dari teori diatas, masalah yang sedang terjadi di fisipol ini bisa dikatakan benar atau salah tergantung dari sudut pandang mana kita memandang. Dan apakah kita telah menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Karena mungkin saja ada kesalahpahaman yang terjadi di balik semua permasalahan ini. Tapi bila kita menyimpulkan hal ini salah maka mungkin saja kita telah menyelidiki lebih lanjut mengenai masalah ini sehingga kita bisa menyimpulkan masalah ini adalah sesuatu yang salah.
    Pendapat saya mengenai permasalahan di atas adalah hal ini merupakan hal yang salah. Karena hal ini dapat menimbulkan akibat atau efek yang kurang baik bagi semua pihak. Bagi yang terlibat maupun yang tidak terlibat dalam permasalahan ini, tetapi masih masuk dalam lingkungan UKSW.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *