Redaksi yang terhormat,
Saya mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra yang ingin menyampaikan saran saya untuk fakultas saya. Sebenarnya saya sudah bosan membicarakan hal ini dan telah menyampaikannya melalui Access (majalah mahasiswa FBS — Red). Karena tidak pernah ada respon dari pihak fakultas, melalui email ini saya mencoba untuk mengisi kolom saran di Scientiarum dan saya berharap akan memperoleh respon dari pihak fakultas.
Pertama, saya sangat menyesalkan sikap pihak fakultas yang tidak menghargai keberadaan mahasiswa. Yang menjadi indikatornya adalah pihak fakultas selalu mempermainkan mahasiswa. Bayangkan saja, selama tiga kali Siasat, saya tidak pernah menemukan keseriusan mereka dalam memikirkan jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang mengambil kelas tersebut. Hal ini mengakibatkan para mahsiswa harus melakukan adjustment berulang-ulang, yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.
Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian? Saya rasa kalau hal ini terjadi berulang-ulang, secara tidak langsung bisa disimpulkan kalau fakultas yang satu ini memang benar-benar buruk sistemnya.
Saya berharap supaya saran saya bisa dimuat untuk memberikan efek jera buat mereka. Trims.
KALEB N. RIVA
Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra ‘07
CATATAN
Surat ini telah masuk ke email redaksi pada 30 Agustus 2008, namun baru dapat ditayangkan 1 Oktober 2008, karena menunggu pengaturan kembali kolom surat pembaca pada situs web Scientiarum. Kami mohon maaf atas keterlambatan yang relatif lama ini. Terima kasih.
Satria A. Nonoputra
Redaktur
well.. pertama saya mau bilang thank buat semua komentar yang masuk tapi saya belum bisa menjelakan semuany sekarang karena saya berencana untuk memgkalrifikasi semaunya di depan dekan saya terlebih dahul,dean HSH,pada tangga 29 januari 2009,dan hasilnya akan saya sampaikan keada saudara semuanya,saya minta maaf kalau saya lambat meresponi karena saya baru tahu kalau surat saya diprdebatkan kemarin mala,22 januari 2008,intinya aya pasti bertangung jawab dengan semua statement yang saya buat karena saya yakin saya benar
seperti yang disarankan banyak orang saya sudah membuat perjanjian dengan dekan FBS,dean HS,tapi mungkin karena kesibukan beliau beliau belum memberikan respon untuk ajakan saya,say bisa memaklumi hal ini namun karena saya bukan tipe orang yang senang membuat bingnung banyak orang saya akan coba menerangkan hal ini di blog pribadi saya,kaleb1989.wordepress.com/letusan mercon di malam hari,saya tunggu respon anda untuk wacana ini adapun alsan saya untuk tidak membahas hal ini di sini karena saya punya prinsip tidak baik membicarakan masalah pribadi di rumah orang (bukan di blog pribadi).saya tunggu respon anda
saya sudah menaggapi semua komentar yang masuk melalui blog pribadi saya,bukan karena saya pecundang tapi karena saya bukan seorangyang mau menghabiskan waktu untuk berdebat jadi kalau anda masih penasaran silakan kunjungi blog saya kaleb1989.wordpress.com/letusan mercon di malam hari
talk less, do more
1st..saya salut sama Kaleb yang berani menyuarakan pendapatnya (atau hak nya sebagai konsumen dari sudut pandang jual-beli).
Mengenai jumlah kelas yang kurang. Menurut saya permasalahannya adalah tidak seimbangnya jumlah kelas vs jumlah mahasiswa. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila sebelumnya dilakukan perhitungan matematis secara tepat. (kalau tidak salah di T.Industri namanya riset operasi :P).
Mengenai SIASAT yang lambat pada saat D-Day. Memang benar system dapat mengalami penurunan layanan apabila terjadi overload. Namun hal ini bukan tidak dapat diatasi.. bias saja terjadi masalah pada sistem load balancing, maupun pada algoritma pemogramannya. Contoh: detik[dot]com yang notabene jumlah aksesnya secara real-time jauh lebih banyak dari siasat pada saat D-Day.
Jadi menurut saya intinya kembali ke mahasiswa dan manajemen fakultas. Sebagai mahasiswa usahakan jangan mengulang makul (agar penjadualan lebih mudah), dan untuk pihak manajemen sebaiknya mengambil langkah matematis / statistic dalam melakukan hal ini. CMIIW
Regards,
Hargyo T.N
Saya kurang setuju dengan pendapat anda.
Setiap fakultas pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, keberadaan itu tergantung dari penerimaan kita.
Anggaplah semua fakultas memiliki sistem pendidikan yang sama, dan di dalam sebuah fakultas semua sistem pendidikannya sama. Apakah mahasiswa malah tidak menjadi jenuh???
Saya kira semua sistem pengajaran antarDosen berbeda – beda. Kalo disamaratakan maka sistem pengajarannya akan sangat monotone. Malah bisa terjadi mahasiswa sering bolos kuliah karena merasa jenuh.
Mengenai jumlah kelas yang penuh ataupun keterbatasan matakuliah yang diambil, semua itu tergantung pada anda sendiri. Menurut saya semua itu sudah wajar, di manapun universitasnya pasti mahasiswa akan mengalami hal yang sama. Maka dari itu banyak mahasiswa “telat lulusnya”, menurut saya apa ruginya telat lulus jika dibandingkan lulus cepat tapi tidak mendapatkan job???? apakah anda takut lulus lama?? tidak usah cepat -cepat lulus, toh masa depan gak ada yang tahu ( maksud saya lulus dengan wajar akan lebih baik darpada memaksakan diri ). Saran saya cintailah ilmunya bukan sistemnya.
Kuliah sebaiknya dinikmati, tidak usah terlalu mempedulikan sistem apa yang digunakan. Toh kalau anda benar – benar mencintai jurusan yang anda pilih anda akan secara otomatis mengikuti sistemnya ( kecuali anda masuk dengan terpaksa atau bukan karena cita – cita anda ). Kalau ada ketidakcocokan itu wajar, anda pasti bisa mengkompensasi hal – hal tersebut. Bila tidak dapat mengkompensasi, ya itu masalah anda.
@ Pak Markus (menanggapi pernyataan Anda terhadap jumlah kelas yang kurang)
Sepertinya Anda kurang memahami apa yang terjadi :). Yang terjadi pada waktu artikel ini dibuat (semoga sekarang sudah tidak terjadi) adalah jumlah keras yang kurang akibat banyaknya jumlah mahasiswa.
Sekarang saya tanya pada Anda..apabila sistem trimester dirancang agar untuk mahasiswa dengan IPK 3.0 jumlah sks yang diambil adalah 12 SKS..tapi karena jmlh kelas yang kurang akhirnya banyak mahasiswa2 yang BERHAK mendapatkan 12 sks hanya mendapatkan 8 Sks. Apa yang Anda lakukan? Diam?
Sekali lagi mahasiswa juga mempunyai hak sebagai konsumen di universitas (yang notabene penyedia jasa pendidikan); mahasiswa berhak untuk lulus cepat (kalau dia mampu).
Anda mengatakan apabila kita mencintai fakultas kita maka kita akan mengikuti sistemnya. Hmm..apakah ini yang berlaku di negara ini? ketika ada ketimpangan pada sistem yang berlaku kita hanya diam..karena alasan cinta. Pertanyaan saya: cinta atau tidak peduli? cinta atau takut untuk bersuara?
salam :)
kaleb = do something dong drpda ngomong mulu
kalo mikir ttg sesuatu hal,jangan dari satu sisi aja,,,buka mata supaya bisa liat dunia.
bayangin aja kalo liat jalan dari satu arah doang,,bisa ketabrak.
buka wawasan,,buka mata,,
semua hal pasti ada kekurangan dan kelebihannya,dan pastinya fakultas (in case,universitas juga), mereka sudah coba kasih yang terbaik untuk mahasiswa.jangan protes ttg kekurangan kalo gak tau cara yang lebih baik,,
Kepada saudara kaleb dan semua yang memposting komentar di scientiarum untuk subject ini
Pembahasan masalah sistem siasat ini memang tidak akan selesai satu atau dua hari karena diakui atau tidak ada masalah administrasi di kampus maupun fakultas bahasa dan sastra. Tapi alangkah lebih baik bila kita tidak asal tuding siapa yang perlu disalahkan. Baik yang berkomentar (Kaleb) maupun yang menanggapi (yang saya tahu sebagian adalah mahasiswa FBS sendiri) perlu memikirkan apa yang perlu diposting agar tidak terkesan mendiskriminasikan atau menuduh tanpa alasan yang jelas.
Saya selaku mahasiswa FBS dan mantan fungsionaris LK FBS juga merasa kesulitan dalam mendapatkan beberapa kelas selama ini. Terlepas dari masalah itu, saya mencoba untuk berbesar hati dan beradaptasi dengan cara mengambil kelas alternatif.
Untuk saudara kaleb sendiri, saya patut mengucapkan salut atas perhatiannya pada perbaikan siasat karena saya juga pernah mendengar banyak keluhan serupa dari mahasiswa FBS dan mengalaminya secara pribadi. Tapi bila anda menuduh fakultas main2 dalam menyiapkan siasat, saya rasa itu claim yang sangat terburu2. Bayangkan saja bila pada saat siasat jumlah kelas ditingkatkan secara dramatis, apa nilai anda nanti bisa keluar tepat pada waktunya atau apa anda nanti akan mendapat hasil sepadan dengan jumlah uang kuliah yang anda bayar sebelumnya?
Sebagai informasi, pihak fakultas sendiri juga pada tahun lalu memutuskan untuk tidak memberikan prioritas kepada fungsionaris LK untuk siasat terlebih dahulu (itu sebenarnya hak kami untuk pengabdian di LK, tapi tidak akan saya ungkit lebih jauh lagi). Pihak fakultas merasa bahwa kebijakan ini kurang adil bagi kebanyakan mahasiswa dan sesuai dengan keputusan fakultas, pihak LK tidak lagi diserahi tanggung jawab dalam membantu proses siasat. Hal ini sudah diungkapkan dalam rapat LK sebelum semester 2 dimulai.
Dalam hal penilaian dari para dosen, saya rasa itu merupakan kebijakan yang mereka ambil, berdasarkan atas apa yang mereka rasa baik. Tergantung dari diri kita sendiri apa kita bisa mengikuti standar yang mereka berikan. Coba saja anda bayangkan kalau semua dosen di FBS menetapkan standar terlampau tinggi, selevel S2, misalnya (untuk lebih mudah dipahami saya sebut saja dosen pelit nilai). Saya jamin banyak mahasiswa FBS yang berakhir dengan NaSaKom. Atau bila semua dosen FBS murah nilai, tanpa memperhatikan kualitas dari evaluasi yang mereka berikan, bisa2 harga diri Fakultas dan kita selaku mahasiswa yang kuliah di dalamnya bisa tercoreng. Apa kita mau dianggap lulus dari fakultas yang kualitasnya *maaf* “ecek2″? Tentu saja tidak, karena FBS Satya Wacana tidak sekelas itu. Kalau memang mau lulus secara instant dengan nilai yang baik, mungkin pertimbangan para mahasiwa akan beralih ke universitas akreditasi B atau lebih rendah. Saya yakin bahwa FBS kita memang pantas mendapat akreditasi “A” karena kualitasnya memang teruji. Silakan bandingkan dengan universitas2 lain, apakah FBS kita kurang bermutu dibandingkan FBS mereka? Tidakkah alumni FBS kita banyak tersebar di mana2 dan diakui? Kita berkuliah di FBS papan atas di negeri ini dan saya rasa tidaklah berlebihan bila kita bangga karenanya.
Jadi untuk saudara Kaleb sendiri, mungkin anda perlu berterima kasih kepada para dosen dari fakultas yang anda sebut sebagai “yang buruk sistemnya” ini karena secara tidak langsung mereka menyatakan bahwa “Anda kuliah di fakultas yang bermutu, ini standar kami, silakan Anda pahami dan ikuti” melalui standar penilaian mereka. Berbesar hatilah untuk hal ini karena melalui penilaian2 mereka kita secara tidak langsung dipersiapkan untuk mengahadapi standar penilaian di dunia kerja kelak.
Saya juga menganjurkan anda untuk menyuarakan pendapat saudara kaleb dan mahasiswa FBS lainnya bersama2 dengan perwakilan BPMFBS apabila anda mengalami masalah serupa dengan SIASAT ataupun nilai karena itulah fungsi dari BPMF sendiri.
Harap komentar ini dipahami sebagai kepedulian saya untuk kemajuan bersama.
Salam Sejahtera