Tribal Fusion Ads

“Fakultas Buruk Sistemnya”

Surat Pembaca ini telah dilihat 589 kali sejak 1 October 2008

Redaksi yang terhormat,

Saya mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra yang ingin menyampaikan saran saya untuk fakultas saya. Sebenarnya saya sudah bosan membicarakan hal ini dan telah menyampaikannya melalui Access (majalah mahasiswa FBS — Red). Karena tidak pernah ada respon dari pihak fakultas, melalui email ini saya mencoba untuk mengisi kolom saran di Scientiarum dan saya berharap akan memperoleh respon dari pihak fakultas.

Pertama, saya sangat menyesalkan sikap pihak fakultas yang tidak menghargai keberadaan mahasiswa. Yang menjadi indikatornya adalah pihak fakultas selalu mempermainkan mahasiswa. Bayangkan saja, selama tiga kali Siasat, saya tidak pernah menemukan keseriusan mereka dalam memikirkan jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang mengambil kelas tersebut. Hal ini mengakibatkan para mahsiswa harus melakukan adjustment berulang-ulang, yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.

Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian? Saya rasa kalau hal ini terjadi berulang-ulang, secara tidak langsung bisa disimpulkan kalau fakultas yang satu ini memang benar-benar buruk sistemnya.

Saya berharap supaya saran saya bisa dimuat untuk memberikan efek jera buat mereka. Trims.

KALEB N. RIVA
Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra ‘07

CATATAN
Surat ini telah masuk ke email redaksi pada 30 Agustus 2008, namun baru dapat ditayangkan 1 Oktober 2008, karena menunggu pengaturan kembali kolom surat pembaca pada situs web Scientiarum. Kami mohon maaf atas keterlambatan yang relatif lama ini. Terima kasih.

Satria A. Nonoputra
Redaktur

Tag: ,

10 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

  1. Komentar no. 1

    Bayangkan saja, selama tiga kali Siasat, saya tidak pernah menemukan keseriusan mereka dalam memikirkan jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang mengambil kelas tersebut. Hal ini mengakibatkan para mahsiswa harus melakukan adjustment berulang-ulang, yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.

    saya dengar-dengar memang begitu ya..?
    kalau nggak segera diatasi, semester depan bisa jadi lebih parah.., karena rencananya besok registrasi harus dilakukan sekaligus untuk semester yang akan datang + semester pendek/pengayaan…
    semoga FBS makin baik dalam merencanakan kelas….
    (di FE, penentuan kelas semester mendatang dibicarakan melalui rapat fakultas (dipersiapkan dulu oleh Kaprodi) — termasuk pengaturan jadwal dosen-dosen yang diagihkan untuk tiap-tiap MKL), setelah SIASAT, untuk revisi Adjustment, ditentukan bersama antara para Kaprodi + Tim Siasat, berdasarkan data yang dikumpukan waktu Siasat, tentu dengan mempertimbangkan beban dosen-dosen yang diagihkan pada kelas2 tambahan.)

    Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian?

    wah…, kalau yang ini sepenuhnya menjadi wewenang dosen yang mengajar MKL ybs. Memang ada metode-metode penilaian yang “standard”, tapi kalau masalah nilai itu hak prerogratif dosen. Memang mahasiswa berhak tahu bagaimana cara dosen menilai kinerja mahasiswanya.
    Nggak mungkinlah dibuat seragam. perbedaan MKL mempengaruhi cara penilaian dosen.

    salam,
    wit - fe-uksw (pembaca setia scientiarum)

  2. Komentar no. 2

    Halo, Kaleb,

    Wah, saya nggak berani komentar yang soal siasat. Itu saya serahkan pada managemen FBS aja *alias tunggu liburan lebaran selesai :)*

    =====Yang kedua, masalah sistem penilaian yang bermacam-macam yang membuat mahasiswa bingung. Apa susahnya sih menyeragamkan sistem penilaian?====

    Soal penilaian, saya setuju dengan Mas Wit bhw sistem penilaian itu terserah dosen dengan catatan mahasiswa berhak tahu bagaimana sistem penilaiannya dan berhak mempertanyakan kok nilainya begini begitu. Saya rasa dosen FBS terbuka kok kalau dipertanyakan oleh mahasiswa kok nilai saya begini begitu. Dan biasanya, dosen punya data-data mengapa nilai mahasiswa tersebut kok jadi ini atau itu. Silakan saja tanya dosennya kalau Kaleb punya keberatan dengan nilai semester lalu. Ini kan universitas yang Anda bebas mempertanyakan, nggak kayak di SMA yang serba diktator sulapan nilai bisa.

    Tapi ini yang dimaksud sistem penilaian yang model apa? Apa yang model patokan vs. model nisbi? Kalau itu sih, di teori tentang testing sudah dibahas plus minusnya (silakan mengambil mata kuliah Language Testing kalau Anda nanti sudah tahun ketiga). Atau yang dimaksud Riva soal beragamnya metode penilaian? (tes, presentasi, paper, dsb). Kalau soal metode yang bermacam-macam ini, memang itulah FBS. Nggak mungkin dong menilai kemampuan mahasiswa berbicara bahasa Inggris dengan tes tertulis. Atau menilai kemampuan menyimak dengan menulis paper. Itu kalau di teori Language Testing namanya tidak tepat construct validity-nya alias tidak pas antara kemampuan yang mau dites dengan bentuk tesnya. Kalau nanti Kaleb sudah masuk ke tahun ketiga, lebih ‘aneh-aneh’ lagi bentuk penilaiannya, ada menjadi cast di kelas drama, ada bikin portfolio di kelas CCU, ada proyek di kelas CAR. Saya kira di Fakultas lain pun seperti ini juga. Misalnya di Fakultas Seni Pertunjukan yang notabene mengajari skill bermusik. Tidak lucu dong kalau mengetes kemampuan main piano dengan tes tertulis. Kalau gitu sih, saya pasti lulus dong. Tinggal ngapalin teori main piano, tapi tidak perlu bisa tang-ting-tung beneran! Nah kalau yang terjadi beginian, baru silakan Anda pertanyakan soal buruknya sistem. Kalau memang sistem FBS buruk, silakan Anda lihat profil alumninya yang tersebar di mana-mana itu apakah mereka berkualitas buruk karena sistem yang buruk. Saya rasa Anda akan kaget kalau berbicara dengan para alumni itu dan para pengguna alumni itu dan menemukan bahwa mereka memang berkualitas baik karena sistem FBS yang bisa dibilang cukup ‘bullet proof’ karena sudah teruji selama berpuluh-puluh tahun (nggak usah saya sebut siapa saja alumninya, nanti Anda jadi keder :P)

    Ini bukan apologi lho, jadi silakan ditanggapi dengan hati yang tulus ikhlas :D

  3. Komentar no. 3

    Sebentar…saya mau tanya lebih jauh lagi mengenai sistem penilaian yang dianggap buruk itu yang seperti apa ya saudara Kaleb? Anda harus mendefinisikan secara lebih detail lagi karena menurut saya penilaian itu banyak aspeknya. Saya rasa apa yang dinilai dari suatu course di FBS itu sudah jelas dan malah sangat jelas ketika anda sudah membaca syllabus dari tiap course yang sudah pasti dibagikan pada awal perkuliahan. Selama saya kuliah di FBS, saya tidak pernah merasakan adanya sistem penilaian yang mengganjal di hati sebegitu dalamnya seperti apa yang anda rasakan. Kalau agak kontra sedikit ya is ok lah, kan tidak bisa semuanya sesuai dengan kehendak mahasiswanya. Kalau masalah nisbi dan patok, memang sejak awal sudah ada sistem penilaian yang seperti itu. Malah sebelum saya kuliah juga sudah begitu sistemnya.

    Lalu, bahwa setiap dosen memiliki hak prerogative di dalam menilai mahasiswanya, itu juga memang sudah sepantasnya seperti itu selama tidak melenceng dari teaching guidelines-nya. Apa yang dianggap ‘bagus’ oleh dosen yang satu kan belum tentu sama menurut dosen yang lainnya. Apalagi di FBS kan setiap course berbeda-beda field-nya, di mana dosen yang mengajar juga sesuai dengan language compentence yang dimiliki. Di FBS ada courses yang berhubungan dengan grammar skills yang memiliki sistem penilaiannya sendiri. Lalu ada juga courses yang computer-based dengan sistem penilaian yang berbeda pula. Sedangkan courses yang berhubungan dengan teori language-teaching juga pastinya memiliki sistem penilaian yang berbeda lagi. Yang jelas adalah bahwa setiap skill pastinya memerlukan standar penilaian yang berbeda. Sebagai contoh: kelas speaking and kelas writing tidak bisa donk disama-ratakan sistem penilaiannya. Skill yang bisanya dinilai melalui praktek pasti berbeda sistem penilaiannya dengan skill yang bisanya dinilai melalui test tertulis, seperti apa yang telah disampaikan oleh ibu Neny di atas.

    Untuk masalah sistem SIASAT, pastinya tidak kamu saja yang merasakan bahwa sistem tersebut memang agak menyusahkan dan memperlambat bagi mahasiswa-mahasiswa tertentu. Tetapi trust me, itu bukan murni salahnya FBS, tetapi lebih ke sistem kampusnya as a whole. Kan sistem SIASAT tersebut bukan semata-mata tanggung jawab FBS saja. FBS pastinya hanya memberi informasi kepada pihak kampus mengenai courses yang ada dan kuota kelasnya, lalu pihak kampus yang mengatur sendiri mengenai SIASAT-nya. Sedangkan mengenai kuota untuk kelas-kelas tertentu, ini pastinya berhubungan dengan ketersediaan dosen pengampunya juga. Tidak mungkin donk dosen yang expertise-nya di literature, lalu mengajar kelas-kelas yang berhubungan dengan language-teaching hanya karena kuota kelas harus ditambah. Kalau dilakukan bisa-bisa saja, tetapi bagaimana dengan quality control yang ada, nantinya pasti anda akan menulis lagi di scientiarum dengan wacana yang berbeda pula, macam “Fakultas Buruk Kualitasnya” hehe….

    Harapan saya adalah semoga kita bisa melanjutkan pembahasan wacana ini, tapi tetap harus dengan kepala dingin, okay… :wink:

  4. Komentar no. 4

    Buat Mas Kaleb,

    Walaupun menurut saya komentar agak terkesan bombastis dan subyektif, saya mengucapkan terima atas saran Anda. SIASAT memang kontroversial. Ada saja masalah, walaupun pihak fakultas sudah berusaha mati-matian untuk mengatasi masalah itu. Harus diakui bahwa FBS tidak bisa selalu menuruti semua permintaan mahasiswa. Pertama, seperti yang dikatakan Felis, dosen tidak bisa mengajar semua matakuliah karena masing-masing punya expertise sendiri-sendiri. Sangat tidak masuk akal meminta dosen sastra misalnya mengajar structure 2 atau 3 yang mungkin sedang Anda ambil sekarang. Kedua, harus diakui ada cukup banyak dosen FBS yang lagi studi lanjut plus ada juga yang cuti. Fakultas khan nggak bisa menyuruh mereka pulang khan? Untuk itu, pihak fakultas sudah berusaha meminta bantuan dosen dari fakultas lain (misalnya PP, STIBA atau piha luar), tapi sekali lagi kami nggak bisa asal comot. Kalau ternyata performance mereka tidak sesuai dengan harapan kami, bagaimana? Kamipun juga tidak bisa meminta bantuan mereka seenaknya karena dosen-dosen itu sendiri juga sibuk di fakultas mereka. Ketiga, ada keterbatasan jumlah dosen dengan kepakaran (expertise) tertentu. Makanya kelas dibuka sebagian pada semester ganjil dan sisanya pada semester genap. Saya kira fakultas lain di UKSW juga menerapkan sistem seperti itu. Masih ada beberapa alasan lain yang terlalu banyak untuk diulas di sini. Tapi percayalah kami nggak seperti yang Anda kira. Kami sangat menghargai mahasiswa kami dan kami tidak pernah mempermainkan Anda dan mahasiswa FBS lainnya. Apa untungnya buat kami?

    Bukan bermaksud untuk menyudutkan Anda, tetapi ketika Anda tidak mendapatkan matakuliah, apakah Anda pernah bertanya kepada diri Anda mengapa? Apakah hal itu terjadi karena Anda terlambat SIASAT? Apakah Anda melakukan SIASAT sendiri atau diSIASATkan teman? Apakah hal itu terjadi karena kesalahan FBS atau karena sistem di UKSW? Apakah Anda sudah mengecek pengumuman kalau ada penambahan kelas-kelas baru? Apakah Anda mengambil matakuliah sesuai dengan flowchart kita? Ataukah seperti yang Anda tuduhkan bahwa jumlah kursi untuk mahasiswa kurang untuk matakuliah yang pas Anda akan ambil? Anda sendiri yang tahu jawabannya.

    Soal dosen yang memakai sistem penilaian yang bermacam-macam, Anda memang benar. Kenapa nggak distandarkan saja? Mungkin itu ide yang baik, tapi maksud Anda dengan standard itu apa? Apa harus tertulis kayak di SMA? Apa harus berbentuk pilihan ganda? Atau harus nisbi dan bukan patokan? Maaf, saya kurang begitu jelas. Namun, seperti yang dikatakan temen-temen lain, memang bentuk penilaian itu tergantung dosen dan jenis matakuliahnya. Kalau Anda ambil speaking 3 atau 4 sekarang, terus Anda dites pakai pilihan ganda, wah..ngak lucu namanya. Anda ambil Writing 2 terus dites dengan membaca, bisa kacaulah fakultas kita. Anda ingat khan pepatah “Ada banyak jalan ke Roma”. Kira-kira begitulah. Ada banyak cara penilaian (misalnya: tes, porto folio, tugas akhir, presentasi, dll.) dan masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Namun yang pasti, dosen pada awal kuliah selalu memberitahukan kepada mahasiwa bentuk penilaian yang akan diterapkan, berapa kali hal itu dilakukan, berapa bobotnya dan kapan penilaian itu akan dilakukan (kecuali unannounced quiz supaya Anda rajin ikut kuliah). Di kelas saya (Intro to Linguistics dan Corpus Linguistics) saya menanyakan kepada mahasiswa apakah mereka setuju dengan sistem penilaian yang saya usulkan. Kami berdiskusi dan kami membuat komitmen bersama. Enak dan enak lho!

    Kalau sekiranya Mas Kaleb kurang puas, silakan mampir di kantor saya. Tahu khan? Kita bisa teruskan ngobrol-ngobrol kita sambil minum teh (nanti saya buatkan yang siip). Tapi jangan lupa buat appointment ya? Thanks.

  5. Komentar no. 5

    Masalah sistem sebenarnya bukan FBS aja yang bermasalah, fakultas “X” di UKSW yang baru mendirikan Progdi baru tahun 2006 pun juga begitu. mereka sengaja membuat kurikulum yang sangat bagus untuk mendapatkan ijin dari dikti, tapi tidak memikirkan bahwa ‘mampu / tidak mahasiswanya menerimanya?’.
    sistem yang digunakan adalah sistem paket diman setiap semester mahasiswa harus menempuh 26 SKS dan ini wajib. dan ada lagi beberapa mahasiswa yang mengulang dan SKS-nya menjadi 28-34 SKS.
    Efektifkah pembelajaran seperti ini?

    maaf saya tidak menyebutkan nama fakultas dan progdinya.

  6. Komentar no. 6

    hem…… UKSW ini kok serba di salahkan ya…..! nggak universitasnya fakultasnyapun selalu menjadi obyek kritikan.
    tapi memang sebenarnya harus begitu semakin banyak kritikan justru akan semakin menjadi lebih bagus ya UKSW !!
    akan tetapi tidak hanya menerima kritikan saja tetapi juga menimbang-nimbang dan memperbaiki sistem agar tidak menjadi obyek kritik yang abadi.
    selain itu tidak hanya UKSW dan fakultasnya saja yang dikritik akan tetapi kalo mahasiswanya sudah di beri sistem dan fasislitas yang bagus masih saja tidak menjadi mahasiswa yang benar ( intelek,kritis dan prinsipil) mahasiswanya juga harus di kritik dan harus mau menerima kritik dan menjalani sebagaimana mestinya mahasiswa intelek.
    pokonya buat civitas UKSW tetep semangat…..BRAVO…. ciayo…..

  7. Komentar no. 7

    @ZOE
    menjadi mahasiswa bagi saya adalah tahap meraup kebebasan yang lebih besar.
    bebas memilih mata kuliah apa yang diambil. bebas memilih tidur dimana tiap malam.
    bebas memilih cewek mana yang mau dipacarin. bebas memilih berapa lama mau jadi mahasiswa.
    bebas walau masih dalam belenggu berbagai kebatasan (kemampuan diri, finansial, dll).

    so, mahasiswa mau menjadi intelek atau mau menjadi mahasiswa karbitan ya juga bebas.

    @Kaleb
    sara rasa surat pembaca yang anda tulis ini menjadi kritik dan masukan bagi fakultas, tapi tentu berlebihan bila dibilang menimbulkan efek jera.
    Salut buat anda karena telah mau bersuara!

  8. Komentar no. 8

    Terlepas dari baik atau buruk sistem yang ada di fakultas bahasa dan sastra, saya pribadi acung jempol untuk Kaleb, telah berani bersuara. jarang ada teman teman FBS yang berjiwa pemberani dan memanfaatkan media yang ada untuk sebuah perubahan.

  9. Komentar no. 9

    Hi Kaleb..
    Aku salut sama kamu berani bersuara disini..tapi saranku kalo ngritik tu dipikir dulu..
    1. Memang masalah FBS selama ini adalah kekurangan kelas..menurutku fakultas tu sebenernya udah nyiapin kelas yang cukup..tapi kan ada masalah yang kadang sulit untuk diprediksi misalnya berapa jumlah mahasiswa yang ngulang..di tiap MK kan beda2..ada yang banyak, ada yang sama sekali ga ada..
    coba kamu pandang masalah ini dari berbagai sisi:
    a. Fakultas:
    * coba kamu pikir emang nyusun jadwal bwt +/- 700 mahasiswa FBS itu gampang..? kita mahasiswa si enak susun jadwal cuma bwt kita sendiri..
    b. Klo kamu nyalahin sistem SIASAT..sepertinya kamu perlu coba bwt sistem sendiri..karena setauku yang namanya internet kalo dipake bareng2 dalam satu waktu ya itu yang terjadi..: ga bisa cepet..
    c. Kalo nyalahin yang ngulang => kamu yakin ga bakal ngulang apapun? Klo yakin ya bagus..aku doa’in cepet lulus; ngulang itu kan hak asasi, ya tho?

    2. Nilai
    anak2 2007 emang pernah nanyain soal sistem penilaian..kalo berdasar pengalamanku si, di hari pertama kuliah, dosen selalu kasi silabus yang salah satu isinya adalah sistem penilaian, kalau kamu merasa ga dpt y minta donk, berani ngomongnya kan? disini aja berani masa sama dosen ga berani tanya..

    3. Kalo kamu ga puas sama ACCESS kenapa ga tanya langsung ke P. Hendro? Klo ga berani sendiri hubungi aja BPMFBS..nt kita temenin..

  10. Komentar no. 10

    Wah….
    Aku pengen blajar keberanian sdri Kaleb…

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK