Pengalaman Aneh di Poliklinik UKSW

Oleh Sri Hartati | 1 October 2008 | Surat Pembaca

Kepada: Direktur Poliklinik UKSW

Dengan hormat,

Saya mohon penjelasan bapak/ibu yang berwenang dengan kesehatan staf dosen/nondosen UKSW. Tentu saja ini berkaitan dengan pengalaman yang saya anggap aneh dengan pelayanan apotek setelah periksa kesehatan di poliklinik.

Saya datang memeriksakan suami dan anak saya hari Rabu, 24 Juli 2008, sekitar pukul 18.30. Dokter jaga saat itu dr. Jodelin Muninggar. Sesuai dengan permasalahan yang ada, khusus untuk anak saya (yang sulit sekali makan dan mudah sekali sakit), diberikanlah resep dua macam obat. Yang satu bentuk tablet dan satunya lagi vitamin bentuk sirup curcuma. Vitamin yang mengandung curcuma ini yang tersedia di apotek — kebetulan vitamin yang biasanya diberikan, DHAVIT® Syrup, lagi kosong.

Begitu catatan obat dari dokter dimasukkan ke apotek, beberapa saat kemudian salah seorang petugas (apotekernya?) keluar sambil memberikan satu plastik yang berisi tablet. Spontan saya tanya bagaimana dengan sirup curcumanya? Sungguh mengejutkan, dengan wajah tanpa senyum muncul jawaban bahwa untuk memperolehnya saya harus menebusnya kontan. Saya kejar dengan pertanyaan, berarti harus bentuk resep? Ternyata tidak bisa juga. Weee … lhadalah, jangan-jangan saya yang
kurang informasi bahwa obat yang terdaftar di komputer dan dibaca para dokter pemeriksa tidak semuanya boleh diberikan ke pegawainya maupun keluarganya yang sakit. Padahal kami sebagai pegawai kan tiap bulannya ditarik iuran kesehatan dan kami juga punya batasan penggunaannya tiap tahun?

Supaya tidak ada lagi korban keterkejutan peraturan yang mungkin tidak pernah disosialisasikan oleh pimpinan, khususnya tentang pengelolaan poliklinik dengan apoteknya. Poliklinik dan apotek adalah salah satu unit pelayanan di UKSW yang menangani orang-orang yang sakit. Apakah tidak perlu dilakukan monev (monitoring dan evaluasi — Red) bagaimana harus bersikap terhadap orang-orang yang berobat?

SRI HARTATI
Dosen Fakultas Sains dan Matematika

CATATAN
Surat ini telah masuk ke email redaksi pada 24 Juli 2008, namun baru dapat ditayangkan 1 Oktober 2008, karena menunggu pengaturan kembali kolom surat pembaca pada situs web Scientiarum. Kami mohon maaf atas keterlambatan yang relatif lama ini. Terima kasih.

Satria A. Nonoputra
Redaktur


49 Komentar

  1. ROSALINA T. ENGKANG FAK ILMU KESEHATAN UKSW

    pertama kali q menginjakkan kaki q di kampus uksw, gila q ngerasa sesuatu yg beda, beda dr universitas lain, uksw q salut sma uksw byk beasiswa yg diberikan, fasilitas yg mendukung mahasiswa u/ belajar tp hati q sedih sewaktu begitu byk komentar yg diberikan bwt uksw seolah olah uksw hanya sebagai tempat pelarian mahasiswa yg tdk diterima di perguruan tinggi lain. so qta sebagai pelajar jgn hanya protes tp tolong tunjukkan rasa peduli qta, seperti poliklinik uksw yg begitu byk kekurangannya dlm melayani, qta sebagai klien pada saat mereka memberikan pelayanan yg kurang qta bisa langsung menegur mereka, qta tdk perlu ngomong dibelakang tp langsunk didepan, karena itu semua demi kebaikan qta semua.
    dan saya sebagai mahasiswa ilmu kesehatan UKSW, ini menjadi beban buat saya, saya akan memberikan pelayanan yg maksimal untuk klien saat ini dan nantinya dan akan tunjukkan lulusan ilmu kesehatan uksw, adalah lulusan yg berkompetisi walaupun qmi fakultas termuda di uksw. jadi mohon dukungan dari berbagai pihak untuk kelancaran qmi dalam menggapai mimpi mim[i qmi dikemudian hari.

  2. anThi_FiK

    Sy mahasiswa FIK tidak mw berkomentar banyak…tetapi saya ingin menyampaikan bahwa poliklinik memang memiliki kekurangan…dan dari kekurangan tersebut lah kita tahu apa yang harus kita perbaiki dari POLIKLINIK tercinta kita…jgn hanya berkomentar saja…tapi pikirkan apa yang harus kita lakukan terhadap POLIKLINIK UKSW…sehingga kelak POLIKLINIK tersebut tidak di CAP sebagai POLIKLINIK yang tidak baik…

    ^Bagi bapak yang menjaga POLIKLINIK sy tw anda cape melayani bnyk pasien…tp jgn jdkan cape tersebut menjadi halangan untuk tersenyum dan melayani orang…jdikan hal tersebut sbgai suatu pekerjaan yang menyenangkan dan melayani TUHAN….^

    GBU ALL…

  3. Yoyok 2003

    duh…Andai manajemen Poliklinik menggunakan hak jawab untuk menyanggah surat pembaca ini (*berharap*)..jadi paling tidak kita tahu bahwa manajemen poliklinik juga ikutan baca thread ini..soalnya saya juga pernah mengalami hal serupa. Sampai males berobat ke poli…

    ps: atau jangan2 lagi menyusun gugatan perdata dan pidana pake UU ITE neh? hihihi.

  4. C.A.

    @Yoyok 2003: Mungkin mas Yoyok perlu nanyakan kepada redaksi SA mengapa hak jawab itu nggak pernah dilayani, padahal kan poliklinik sudah lama memberikan klarifikasinya…. Nah…

  5. steph

    benar sekali. saya rasakan pelayanan di poliklinik uksw sangat KURANG SEKALI. apalagi pegawai poliklinik, SAMA SEKALI TIDAK RAMAH TERHADAP PENGUNJUNG!!!!!!!

    walaupun kami ini mahasiswa, tapi kami juga berhak mendapatkan pelayanan yang terbaik dari unit uksw. KHUSUSNYA DARI POLIKLINIK. HARUSNYA DIADAKAN UJI KELAYAKAN UNTUK SETIAP PEGAWAINYA!!!!!!!!!!

  6. Rendy

    Memang segala sesuatu tidak ada yg sempurna termasuk poloklinik. Tapi jangan menjadikan kata2 bijak itu untuk memelihara sesuatu yg kurag hingga menghambat perubahan.
    Pada tahun 2007 awal saya merasakan kondisi tubuh yg sangat lemah, karena tidak ada orang tua maupun sanak saudara di sala3, saya pergi ke poloklnik untuk mendapatkan pengobatan. Saat itu dokter yg memeriksa saya mengatakan bahwa saya hanya sakit biasa dan akan sembuh dalam 3 hari. Setelah 4 hari tidak sembuh saya kembali ke poli dan ditangan oleh dokter yg berbeda. Dokter ini mengatakan bahwa saya hanya flu. Obat yg diberikannya lumayan manjur tapi hanya bermanfaat menahan sakit sementara. Akhirnya kondisi saya semakn memburuk dan tidak dapat bangun dari ranjang. Terpaksa memberi tau orang tua yg ada di jakarta dan mereka segera datang. Saya dibawa dan diperiksa di RS Mardi Rahayu Kudus dan ternyata positif terkena tipes.
    Apa jadinya saat ini jka saya tetap bekeyakinan bahwa saya hanya “FLU” seperti yg dikatakan oleh dokter di poliklinik tersebut?

  7. Nana

    saya Mahasiswa FIK… jujur prtama kli k poliklinik… adlh pnglman yng seruuuu… krna msing2 dokter mendiagnosa sakit yng brbeda… pernh wktu sya periksa gigi pada pagi hari,,, ktnya gigi saya harus dibersihkan… dng membyar 1 grahang 60 ribu…..kmudian siangnya sya blik lgi k poliklinik,, dokter yng berbeda m’mberikn diagnosa yng berbeda… ktnya gigi saya tdk apa2 hnya perlu minum obat…. sya mnjadi bingung..?? sbnrnya dokter yg mn yg diagnosanya benar…??? Dengan pengalaman ini saya merasa ragu akan pelayanan dari pihak poliklinik. Apalagi saya sebagai seorang mahasiswa yang telah membayar uang layanan kemahasiswaan yang didalamnya telah termasuk uang pengobatan di poliklinik. Pelayanan yang diberikan kurang memuaskan, saya sbgai mahasiswa merasa dirugikan.
    pelayanan dari para karyawan poliklinik juga sangat tidak memuaskan. Karyawan di poliklinik sering marah-marah tidak jelas pada mahasiswa yang datang berobat. Padahal ketika sayadatang ke poliklinik saya dalam keadaan sakit. Lebih baik saya berobat di rumah sakit terdekat yang memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pasien daripada ke poliklinik yang memberikan pelayanan kurang memuaskan.

  8. NanAka

    ni masalah emang udah dari dulu2…..
    CKS: ada kk angkatanku yg berobat, dia sakit laen, dikasih obat laen,, alhasil dari yg dulu badanya XXL, jadi dah badannya M.. saking setres aku liat kondisinya, dari awal aku terdaftar sebagai mahasiswa(2006) sampai sekarang, aku berdoa sama Tuhan,, biar aku gag sakit. secara, aku bukan anak orang kaya yang kalo sakit bisa ke dokter mana aja, jadi satu2nya harapanku ya poliklinik, tapi berhubung telah terjadi hal2 yang luar biasa, aku memutuskan supaya gag sakit… klo aku sakit trus ke poliklinik, tanpa sengaja aku didiagnosanya salah, orangtua aku juga yang susah…. aku sebagai salah seorang yang turut berprihatin dengan pengalaman kawan2, cuma bisa berdoa, semoga Tuhan menggerakkan hati para pegawai poliklinik supaya bisa memberikan pelayanan yg terbaik buat mahasiswa dan terkhususnya untuk Kemuliaan Tuhan. apa yg gag mungkin dimata manusia jadi pasti dimata Tuhan lho,, contohnya,, aku bedoa biar gag sakit selama di sini dan itu terbukti dalam hidupku. kawan kita sebagai bagian dari KAMPUS TERCINTA, seharusnya kita mendoakan menurut agama dan kepercayaan kita masing2 untuk setiap suka-duka kampus kita. saranku, buat kawan2, klo memang itu pegawai gag berubah2, cobalah kita yang berubah. jangan selalu berpikir negatif atas ketidakramahan orang lain. try to think positif. jangan menuntut apa yang orang harus berikan bagi kita, tapi berikanlah terlebih dahulu kepada orang lain (awali langkah kecil dengan terus memberikan senyum). klo memang kata kawan2, bapak itu senyumnya mahal,, jual murah atau berikan secara gratis senyum kita kepada pegawainya..
    jangan hanya kritik jika tidak disertai dengan masukan yang membangun…
    salam…
    GB

  9. adi

    Perkenankan saya menyampaikan suka-duka yang saya alami di poliklinik UKSW. Saya bersedia bertanggung jawab apabila saya tidak menyampaikan informasi yang sebenar-benarnya pada teman-teman mahasiswa. Saya menulis di sini bukan karena saya pengecut dan mau menjelek-jelekan institusi ybs, tetapi saya hanya ingin berbagi informasi, sebab kalau perlu saya bisa memberikan feedback dengan cara lain TANPA MENIMBULKAN KONFLIK entah melalui LK atau menemui WR III. Perlu saya tambahkan, hal-hal seperti ini tidak bisa disampaikan secara frontal di depan orangnya.

    Saya sangat berterimakasih atas pelayanan dr. Silvy Leuwol yang membantu kesembuhan saya. Beliau ramah, perhatian, dan cerdas. Saya sering ke poliklinik UKSW dan mendapat perlakuan yang sangat baik dari beliau. Beliau juga selalu memberi obat yang tepat buat saya.

    Sayangnya, walaupun memiliki seorang dokter yang baik seperti dr. Silvy, poliklinik UKSW juga memiliki:
    1. Seorang petugas administrasi yang lebih mirip tukang pukul ketimbang petugas administrasi di sebuah institusi MEDIS.
    Sudah sekian kali saya dibentak, ditertawakan, dan dimarahi tanpa sebab yang jelas. Pernah suatu kali giliran saya dilewati sampai dua kali oleh dia. Saya sudah menyerahkan kartu berobat dan menulis di register tetapi hanya didiamkan saya oleh dia dan dia mendaftarkan dua pasien lain yang seorang adalah pegawai UKSW dan yang seorang lagi pasien umum. Padahal di register nama saya berada di atas dua pasien tersebut tetapi yang didahulukan oleh dia bukan nama saya. Setelah tidak ada yang lain baru dia mengambil kartu saya dan bergumumam-gumam sendiri (terdengar seperti keluhan). Kali lain dia berteriak sendiri: “Huaaahhhhh!” ketika hendak mendaftarkan nama saya sambil bergumam-gumam sendiri seperti tadi. Kelihatanya dia ‘wegah’ atau malas melayani saya. Saya berusaha ramah dengan bertanya: “Yang (poli) gigi buka to Pak?” tetapi dia menjawab dengan nada seperti orang yang mengajak berkelahi “Lha di situ ada ndak!!?” sambil melotot ke arah register. Setelah itu dia juga ‘ngerasani’ atau menjelek-jelekkan saya di depan para apoteker di sana. Dia bilang ke mereka dengan nada mengejek: “Poli opo? Gigi? Umum? Kulit!!?” dan tertawa-tawa dengan nada mengejek. Pernah kali lain kartu berobat saya hilang. Saya sudah membawa KTM saya dan meminta maaf sampai dua kali tapi dia tetap membentak dan memarahi saya dan setelah itu marah-marah sendiri ketika mencari file saya di rak lalu melempar kartu saya yang baru ke atas meja sambil terus memarahi saya.
    2. Seorang dokter gigi yang kurang kompeten dan kurang ramah. Saya ke sana untuk menambal gigi, dan saya sudah utarakan ke dokter tsb sampai dua kali bahwa tambalannya masih mengganjal. Dokter tersebut tetap ngeyel/bersikeras kalau tambalannya sudah bagus dan hanya mengebor sekadarnya saja. Besoknya tambalan tersebut pecah dan saya pergi ke dokter lain. Kata dokter ini tambalan yang terpasang kasar, kurang pas, dan masih banyak plak yang belum dibersihkan dan ditambal dengan benar.

Kami Menerima Pandangan Anda

© 2009 Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW