Percaya Dukun, Mahasiswa Sekap Mahasiswa

Oleh Yoga Prasetya | 1 October 2008 | Kampus

Daniel di RSUD
SCIENTIARUM/YOGA PRASETYA
Daniel ketika di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga, 24 September 2008.

Tiga mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana sedang menjalani pemeriksaan di Kepolisian Resort Kota Salatiga. Bersama dua oknum lainnya, mereka ditetapkan sebagai tersangka atas penyekapan dan penganiayaan satu mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi angkatan 2006, Daniel Adi Nugroho.

Penyekapan diduga berlangsung selama enam hari, sejak 17 September 2008. Selama penyekapan, Daniel mengaku hanya diberi makan sekali sehari. Penyekapan baru berakhir 23 September 2008 setelah polisi menggerebek kamar kos yang dipakai sebagai tempat penyekapan. ”Kakak korban melapor ke polisi bahwa adiknya sudah enam hari nggak pulang,” kata kepala Polres Salatiga, Ajun Komisaris Besar Polisi Achmad Haydar. Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga karena kondisinya sangat lemah.

Percaya dukun
Menurut Daniel, kejadian berawal ketika dia mendatangi kos temannya di jalan Turen I nomor 29. Waktu itu sekitar jam 9-10 malam. Dia hendak meminta data-data untuk keperluan kuliah.

Ketika Daniel sedang di kamar temannya itu, Adi Nugrahanto — mahasiswa Fakultas Teknik Elektro yang juga kos di rumah tersebut — meminjam telepon genggam Daniel untuk mengirim pesan singkat. Setelah selesai mengirim, Adi tiba-tiba mendapat panggilan telepon dan, tak lama kemudian, datang beberapa orang ke rumah kos tersebut.

Adi lantas memanggil Daniel ke ruang tengah dan mengenalkannya pada Yuma Sedayu, kakak dari pacar Adi. ”Udah Mas, kembalikan aja laptopnya (Adi),” kata Daniel, menirukan ucapan Yuma kepadanya setelah berkenalan. Yuma menuduh Daniel mencuri laptop Adi. Setelah berkata demikian, Yuma lantas menendang Daniel hingga jatuh tersungkur. Beberapa hari sebelumnya, Adi memang kehilangan laptop dan ”sambat” ke dukun atas kehilangan itu. Menurut petunjuk dukun, orang yang mencuri laptop Adi punya ciri-ciri sama dengan Daniel.

Yuma tetap memaksa Daniel mengembalikan laptop Adi. Yuma juga sempat mengambil sebuah botol untuk memukul Daniel, namun Adi mencegahnya. ”Yang pantas emosi itu saya karena laptop hilang di kamar saya,” kata Daniel, menirukan Adi yang kemudian ikut memukul bagian belakang kepala Daniel. Dodi Oktafian (mahasiswa Fakultas Ekonomi — Red) dan Agus Widodo, dua teman Adi yang ikut menuduh Daniel mencuri laptop juga terus memaksa Daniel mengaku, sambil memukuli Daniel.

Seorang yang biasa dipanggil ”Jontit” kemudian datang dan menyuruh Adi beserta teman-temannya keluar ruangan. Jon lalu mengajak Daniel berdoa guna meyakinkan Daniel. ”Kalo memang nggak mencuri, ya sudah, jangan takut,” kata Jon.

Usai berdoa, Jon pergi. Namun Yuma datang lagi dengan membawa sapu dan memukulkannya pada Daniel. Adi juga ikut menendang Daniel hingga jatuh. Dodi dan Agus menginjak-injak Daniel.

Mendengar ada kabar pemukulan, Herry, penghuni rumah kos di seberang tempat kejadian, memberanikan diri masuk rumah kos Adi. ”Baru pertama kali itu juga saya masuk ke kos itu,” kata Herry. Sama seperti Jon, setelah mengamankan Daniel, Herry juga mengajak Daniel berdoa. ”Dia (Daniel) minta didoakan supaya kuat.”

”Sebetulnya (Daniel) mau saya bawa ke tempat saya dulu untuk itu luka-lukanya dibersihkan dulu atau apalah.” Tapi niat Herry urung karena dia harus segera berangkat ke Jakarta untuk suatu urusan. Lagipula, Adi dan kawan-kawanya berhasil meyakinkan Herry bahwa Daniel tak akan dianiaya lagi. ”Mereka bilang, mereka sudah seperti saudaralah,” kata Herry. Setelah itu Herry berangkat ke Jakarta tanpa tahu soal penyekapan Daniel. Melalui sambungan telepon, temannya memberitahu bahwa tak ada gelagat aneh lagi di Turen I nomor 29.

Tapi Adi dan teman-temanya memilih bertindak lebih jauh. Mereka sekap Daniel di kamar Sardi Maikel (mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi — Red). Kamar dikunci selama enam hari dan hanya dibuka untuk memberi Daniel makan sekali sehari.

”Saya mau teriak, tapi saya takut karena di daerah situ sepi. Dan saya takut yang dengar bukannya orang lain tapi Adi dan teman-temanya. Saya nggak tahu (kalau) tiba-tiba temen saya cerita ke kakak saya, karena kakak saya sudah bingung mencari saya, dan kakak saya langsung lapor polisi. Pas polisi datang, langsung saya dikeluarkan dari kamar dan (akan) dibawa ke rumah sakit. Tiba-tiba Adi datang dan langsung ditangkap sama polisi,” tutur Daniel.

Matius Sukamto, ayah Daniel, berharap agar kejadian ini jangan sampai terulang lagi. Menurutnya, mahasiswa UKSW adalah kalangan akademisi yang seharusnya tidak melakukan hal-hal di luar nalar. ”Sebagai manusia, saya memaafkan kelakuan mereka yang sudah mencelakai anak saya. Akan tetapi, aparat hukum tetap harus menindaklanjuti kejadian ini karena mereka sudah melakukan suatu tindakan yang sudah melanggar hukum,” kata Daniel.

Wakil Rektor III, Umbu Rauta, telah menjenguk Daniel di RSUD dan sudah mendatangi kantor polisi untuk mencari informasi. Dia bilang, semua biaya rumah sakit akan ditanggung UKSW. ”Rencananya, pimpinan akan memberikan surat kepada FTE, Fakultas Ekonomi, dan FTI yang isinya meminta kasus ini dibahas di masing-masing fakultas, dan fakultas mengusulkan sanksi yang akan diberikan pada pelaku ke Rektor,” ujar Umbu.

Umbu juga menyatakan, UKSW terbuka untuk dimintai bantuan hukum melalui Unit Pelayanan Bantuan Hukum Fakultas Hukum. ”Untuk melindungi mahasiswanya, khususnya korban. Itupun jika korban meminta, karena pihak UKSW hanya menawarkan,” kata Umbu.

Laporan ini dikerjakan bersama Satria A. Nonoputra.

CATATAN
Ada sedikit ralat dari Umbu Rauta, yang disampaikannya lewat komentar nomor 10.

“Untuk Redaksi,
Ada kekeliruan dalam mengutip pernyataan saya, khususnya alinea paling akhir. Tertulis bahwa bantuan hukum akan diberikan kepada korban…… seharusnya yang saya katakan adalah UKSW (melalui UPBH) membuka kemungkinan kepada para tersangka/pelaku (para mahasiswa) — bukan korban — untuk mengajukan kuasa kepada UPBH dalam rangka pendampingan selama proses hukum. demikian ralat saya. Trims.”

Atas kekeliruan ini, kami mohon maaf.

Satria A. Nonoputra
Redaktur


40 Komentar

  1. Arnold P Bolang

    Satu sisi sebagai orang percaya (pengikut Kristus), menyedihkan bahwa banyak kehidupan kita diatur dan ditentukan di luar Tuhan, entah pergi ke dukun, percaya mistik dan lainnya. Ini menjadi challenge bagi UKSW, sebagai universitas berlabel Kristen untuk lebih memperhatikan kondisi yang ada. Akankah kita membiarkan semakin banyak orang yang percaya kepada setan atau berlari kepada Kristus? Bukankah persahabatan dengan dunia setan adalah permusuhan dengan Tuhan?

    Sebagai pemerhati generasi muda, saya prihatin. Ini menjadi sebuah cerminan kepada seluruh pribadi yang menyandang label ‘orang UKSW’ untuk berbenah diri dan mendorong, mengajarkan, menerapkan kembali seluruh prinsip-prinsip kebenaran Alkitab. Alkitab adalah Firman Allah, dan Firman itu adalah Allah sendiri. Menolak Firman sama dengan menolak Allah. Kalau begitu apa bedanya kita dengan atheis?

    Selama proses Daniel dan Andi dkk, saya berdoa, mengunjungi Daniel di rumah sakit, berbicara dengan bapaknya. Saya juga mengunjungi Dody, Sardi, Andi di penjara. Saya bawakan Alkitab, share firman dan berdoa buat mereka. Kita tidak dapat menghakimi siapapun dari mereka. Toh proses sudah selesai, biarkan ini menjadi sebuah pelajaran yang berharga, betapa jauhnya kita dari kebenaran Allah.

    Saya juga mengetuk pintu nurani dari seluruh pimpinan entah BPMU, BPMF, SMU dan seluruh organisasi yang menjadi payung bagi mahasiswa/i UKSW..untuk lebih peduli kepada manusia daripada program dan kesenangan pribadi. Ketika saya bertanya kepada rekan-rekan sewaktu mereka di tahan di polres salatiga, adakah dari ketua senat entah FE, FTI dll datang berkunjung? Jawaban nya tidak. Saya memahami pada saat itu setiap fakultas sedang membuat program dan liburan lebaran, tapi bukankah organisasi dibuat untuk membangun manusia? Bukankah hal itu yang Yesus lakukan? Mengunjungi mereka yang sakit, di penjara? Let us check our heart and Holy Spirit help us to do His word!

    (saya bukanlah mahasiswa UKSW tapi saya sangat mengasihi UKSW dan seringkali berdoa dan menangis buat kampus ini)

  2. ody

    Waduh Dan…..
    Anak2 Triple Seven mendoakan supaya Daniel cepet sembuh deh….

    Kalo ada masalah jangan main pukul aja,terlebih lagi main sekap2an kan susah nyarinya..
    kasian lagi 1x doank makannya….Tega amat…….

  3. mayyank

    hadoooohh. . . . .
    jd smpe skrg masih aja ngmgin hal ini??????
    ngga ada bahasan laen apa!!?
    drpd smua org pd asal ngmg yaaaa,
    aku kasih tau niiy. . . .
    mending lsg ditanyain ke AN aja deh,
    dia tau tuw smuanya dr A-Z,
    secara kn dia tersangka utamanya. . . .
    tp iia gtu deh……
    tersangka utama yg ngga mau msk penjara sndirian,
    jdnya iia nyeret2 org ngga bersalah!!
    huuhu, capeeee deh!!
    *lol

  4. alumni kos turen

    Kalo ga salah dengar dari alumni, salah satunya ada angkatan 2000 Elektro?
    waduh ngisin2i….
    mending dukun buat kerjain skripsi tuh!!!
    belum lulus juga eh malah bikin kasus!!
    kalo leptop ilang, ngapain pergi sama dukun, pergi aja ke Tukul, se najiz2 nya si Tukul kan masih mending daripada pergi ke dukun. emang dukun yg di cari bisa kerjain bahan TAS nya Fisika Modern nya Pak Li** Wi***jo?

  5. Agni

    Aduh,sbnrnya laptop milik sp sih?dah deh,yg g tau g usah ikutan comment.mndingan tny lgs aja k AN yg jd otak dr smua ini.tp srh jwb yg sbnr2nya,jd smua jelas kan.org yg pny kok mlh ikut diseret jd tsangka,aneh!!!!

  6. Dimas

    Hare gene percaya dukun…..

  7. Jaka Tarub

    Model penyelesaian ala detectif swasta atao preman mamang marak dikalangan mahasiswa. Sadar Hukum donk….

  8. ika

    DaniEL, semangat Y..

  9. ariega

    ckckckckckck . . . .. . . . .
    g ngira juga mpe sjauh itu
    aneh
    g jelas mana yg harus dibenarkan & mana yang g benar

  10. joko edan

    biasa aja tuh…

Kami Menerima Pandangan Anda

© 2009 Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW