Kucing Ayah

Browse By

Sejak kehadiran kucing betina itu, perhatian Ayah mulai berkurang padaku. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja kucing warna hitam itu sudah nongol di rumah kami. Kucing itu datang pada sebuah senja. Dia mengeong-ngeong dan menggosok-gosokkan tubuhnya di kaki Ayah yang sedang asyik baca koran terbitan sore di beranda depan. Saat itu aku baru pulang dari sekolah.

Ayah begitu terpesona dengan kucing hitam yang jinak dan manja itu. Kucing itu seakan paham betul mengambil hati Ayah agar menyayanginya. Aneh juga, pikirku. Ayah memanggilku yang sedang asyik menyiapkan hidangan untuk makan malam.

“Nita, coba sini sebentar!”

“Ada apa, Yah?”

“Siapa pemilik kucing ini?”

“Nita nggak tau, Yah. Mungkin kucing tetangga sebelah,” jawabku menduga-duga. Sebenarnya jauh dalam hati kecilku, aku juga sangat menyukai kucing yang manis dan lucu itu.

Dengan membawa rasa penasarannya, Ayah kemudian mengecek ke tetangga sebelah kalau-kalau ada yang merasa kehilangan kucing.

“Bagaimana, Yah?” tanyaku ketika Ayah balik dari tetangga. Wajah Ayah tampak diselimuti keheranan bercampur kegembiraan.

“Ayah sudah mengecek ke tetangga. Semua mengaku tidak ada yang merasa kehilangan kucing.”

“Kalau begitu pelihara di rumah saja. Kasihan kalau dia sampai terlantar.”

“Ayah juga bermaksud begitu. Kucing ini kita pelihara di rumah saja.”

Sebentar kemudian Ayah celingukan mencari pembantu kami. “Mbok, tolong ke sini sebentar!”

Mbok Iyem datang tergopoh-gopoh menuju beranda. “Ada apa, Tuan?”

“Tolong mandikan kucing ini di belakang.”

Mbok Iyem mengangkat kucing itu. Karena kaget kucing itu mengeong.

“Hati-hati, Mbok!”

Dalam perasaanku aku menduga Ayah telah jatuh cinta dengan kucing itu. Dan benar saja, sejak kucing itu ada di rumah kami, perhatian Ayah sepenuhnya tercurah pada kucing itu. Ayah sangat memanjakan kucingnya. Selalu ada kesempatan untuk membelai, mengajaknya bermain-main, menggelitiki tubuhnya, mencari kutu-kutu di bulunya atau memandangi kucing itu berlama-lama, seakan Ayah telah terkena sihirnya.

Lama-lama Ibu mulai jengkel melihat kelakuan Ayah.

“Jangan terlalu dimanjakan. Nanti kucing itu malah kurang ajar pada kita.”

“Ah, Ibu! Ibu ‘kan tahu sendiri, Ayah sangat mencintai binatang, apalagi kucing.”

“Iya, Ibu mengerti. Tapi sekarang sudah jam tujuh lebih. Ayah harus segera berangkat ke kantor. Sekarang kita sarapan dulu, ya?”

Setelah Ayah berangkat ke kantor, benar dugaan Ibu, kucing itu mulai kurang ajar. Beberapa kali sempat aku pergoki kucing itu masuk dapur dan diam-diam membuka penutup makanan dan mencuri lauk.

Pintar sekali kucing itu, pikirku. Kejadian itu aku biarkan saja. Aku tidak berusaha mengusir atau memukul kucing itu. Namun keesokan harinya kucing itu mengulangi perbuatannya. Ayah tidak tahu akan kenakalan kucingnya. Ayah masih saja memanjakan kucingnya. Hewan nakal itu sangat lihai mengambil hati Ayah dengan bermanja-manja di kaki Ayah. Dan segera setelah itu Ayah pun akan menaruh kucing itu di pangkuannya dan mengelus-ngelusnya dengan mesra.

“Nita, tolong ambilkan roti dan susu untuk kucing ini.”

Huh, aku makin kesal saja. Seenaknya saja Ayah memerintah. Kalau sekali-kali tidak apa-apa. Tapi ini hampir setiap hari aku yang ditugasi membuatkan susu untuk kucing itu. Awas, kalau aku jahat, aku beri racun saja susu itu, biar kucing itu mati sekalian, gerutuku dalam hati.

Aku tiba di beranda dengan roti dan susu di tangan. Aku semakin muak melihat kelakuan kucing itu. Dia begitu asyik mendengkur di pangkuan Ayah. Dasar kucing sialan! Aku sendiri sebagai anak tunggalnya belum pernah dimanjakan seperti itu. Aku cemburu dengan kucing itu. Menyesal juga aku telah mengusulkan agar kucing itu dipelihara di rumah, ternyata kelakuannya sudah kelewat batas.

“Ini, Yah, roti dan susunya.”

“Taruh di bawah,” sahut ayah pendek.

Kucing itu kemudian menggeliat karena mencium bau susu segar. Dia melompat dari pangkuan Ayah menuju piring dan mulai mencecap susu itu dengan nikmat. Ayah tertawa dan sangat senang menyaksikan kelakuan kucing itu. Aku bertambah kesal.

“Nita, kenapa kau cemberut begitu? Apa kau tidak suka dengan kucing ini?”

“Bukan begitu, Yah. Kucing itu terlalu Ayah manjakan.”

“Kau cemburu ya sama kucing ini?” Ayah tertawa kecil.

“Jelas dong, Yah,” sahutku ketus. “Kucing itu telah merebut perhatian Ayah. Ayah tidak sayang lagi sama Nita.”

“Bukan begitu, Nita. Kucing ini ‘kan perlu disayang juga seperti manusia.”

“Kucing itu nakal, Yah. Dia suka mencuri lauk di dapur saat Ayah tidak di rumah.”

“Ah, tidak mungkin. Mana mau kucing ini makan lauk, apalagi mencuri. Kau lihat sendiri ‘kan, ia makan roti dan susu. Ini kucing istimewa, Nita.”

“Ah, susah bicara sama Ayah!”

Aku lari ke belakang dan menangis kesal di pangkuan Ibu.

Kejengkelanku pada kucing itu tambah menjadi-jadi saja. Apalagi ketika banyak tetangga mengadu pada Ibu tentang kelakuan kucing itu yang mencuri anak ayam tetangga, burung dara tetangga, dan lebih sering lagi mengobrak-abrik dapur tetangga. Pendeknya kucing itu telah membuat kacau warga se-RT. Ibu jadi stres. Aku muak dengan kucing laknat itu.

Suatu hari kucing kesayangan Ayah itu kembali kupergoki mencuri lauk di dapur. Dengan kejengkelan yang telah sampai di ubun-ubun kuambil sapu ijuk dan kupukul kucing itu. Dia mengeong keras sekali dan akhirnya sekarat. Saat itu Ayah yang sedang berada di kebun mendengar ngeong kesakitan kucing kesayangannya. Ayah segera berlari ke arah suara dan terperanjat menyaksikan kucingnya sedang meregang nyawa.

“Nita, kau apakan kucing ini?”

Tubuhku menggigil menahan takut. Keringat dingin mengucur. Aku telah membunuh kucing itu. Wajah Ayah tampak merah menahan amarah.

“Kenapa kau bunuh kucing itu. Apa salahnya?”

Tak terasa sebuah tempelengan telah mendarat di pipiku. Tubuhku oleng dan pipiku terasa panas sekali.

“Kucing itu mencuri lauk, Yah. Dia sering mengobrak-abrik dapur tetangga!”

“Hanya karena mencuri lauk kau tega membunuh kucing ini, heh? Apa kau tidak merasa berdosa telah membunuhnya?”

“Tapi, Yah?”

“Tapi apa?”

Ayah kembali mengangkat tangannya hendak menempelengku. Aku segera kabur ke luar rumah. Saat itu aku sudah tidak menghiraukan apa-apa lagi. Dalam pikiranku yang ada hanya berlari sekuat tenaga.

“Awas, Dik!” Samar-samar kudengar teriakan pedagang bakso. Orang-orang di jalan juga sepintas kulihat bergidik ngeri dan berteriak histeris. Saat itu, yang kurasa hanya kegelapan. Kepalaku pening, pandanganku kabur dan dunia terasa berputar-putar.

Kepalaku masih terasa pening. Aku berusaha membuka mata yang terasa berat. Kaki kananku juga terasa berat dan sakit. Samar-samar kulihat wajah Ibu yang muram dan menangis sesenggukan. Melihat aku menggeliat-geliat, Ibu langsung mendekapku erat-erat.

“Nita, kamu sudah siuman, Nak?”

“Kepalaku masih pening, Bu.”

Dari arah pintu kulihat Ayah dan dokter datang tergopoh-gopoh. Aku gemetar melihat wajah Ayah. Aku berusaha bangkit untuk lari. Ibu dan perawat segera menahanku.

“Tenang, Nita, Ayah tidak marah lagi sama kamu.”

Ayah mendekat dan dengan lembut membelai rambutku.

“Maafkan Ayah, Nita. Ayah khilaf. Maafkan Ayah ya, Sayang.”

Aku memberanikan diri menatap wajah Ayah. Wajah itu begitu lembut dan penuh kasih sekarang. Aku tidak lagi melihat kebengisan pada wajah Ayah.

“Gara-gara kucing itu, Ayah telah mengabaikan kamu. Maafkan Ayah ya. Ayah sayang kamu.” Ayah mencium keningku.

Lima hari kemudian aku dibolehkan pulang dari rumah sakit. Dari cerita Ibu, aku tahu bahwa selama satu hari aku tidak sadarkan diri akibat benturan keras dengan sepeda motor yang menabrakku. Kaki kananku patah.

Seminggu kemudian, pada sebuah senja, dengan wajah gembira Ayah datang dari jalan-jalan. Seekor anak kucing warna hitam mengeong-ngeong manja dalam pelukannya. Aku menatap wajah Ayah dengan perasaan ngeri.

Wayan Sunarta, sastrawan dari Bali

8 thoughts on “Kucing Ayah”

  1. wit says:

    Kucing? bukan kucing garong khan….?!
    jadi ingat cerita tentang seorang yang sangat sayang pada kucing/Penyayang Kucing (PK)
    PK: Bu mau beli Rinso..
    Penjual Rinso (PR): Bungkus besar apa yang kecil?
    PK: Kecil saja Bu, cuma untuk mencuci (maksudnya: memandikan) kucing kok Bu..)
    PR: Lho dik, jangan dimandikan pakai Rinso, nanti bisa mati.
    PK: Hati-hati kok Bu, masa kucing mati karena Rinso…
    PK pulang dan segeran memandikan kucing kesayangannya.., PR gelisah….
    —-keesokan harinya—-
    PR: Gimana dik, kucingnya mati apa tidak?
    PK: Mati Bu…(dengan wajah sedih dan menyesal)
    PR: (bangga) Nah lho.. khan saya sudah bilang, jangan mandikan kucing dengan Rinso..
    PK: matinya bukan karena Rinsonya Bu….
    PR: Lha karena apa?
    PK: Karena saya peras biar cepat kering…
    PR: ??!!??

  2. excalibur says:

    diperas ato disetrika tuh kucing

  3. Felis_domesticus says:

    Wah kasihan juga tuh kucing…hanya karena maling ikan lantas dibunuh. Padahal, manusia yang suka maling saja tidak sampai dibuat meregang nyawa…hihihi… 😀

  4. Gordon says:

    Sering terjadi, analogikan mahasiswa -> kucing tadi. . … Haha…

  5. wit says:

    Sering terjadi, analogikan mahasiswa -> kucing tadi. . … Haha…

    ha ha ha… mahasiswi jadi ikan asinnya…..

    (biar tambah OOT)

  6. indah says:

    ya ampun cuma nyuri aja sampe dibunuh ,KALO KESEL KAN BISA DIBUANG AJA DASAR DI DUNIA INI BANYAK ORG GILA .AKU MARAH BESAR KLO ADA ORG YG KAYA GITU soaalnya aku ini adlah penyayang penyayang kucing soalnyakucing itu lucu

  7. Ayu Dj says:

    Intinya:
    !!Jgn b’lebihan!!

    Btw, da yg pny kucing ga?

    Kasiin q dunk. Pgn pny kucing lg. 2 bln lalu kucingQ wafat. Q g pny gantiny ni..
    Janji dirawat deh:-)

  8. agrizt says:

    kenapa harus di pukul nita? kamu juga tidak menuliskan bagaimana keadaan kucing itu setelah kamu pukul. apakah mati atau langsung di obati oleh ayahmu? kalau menurut saya, kucing itu khan juga punya otak, jadi bisa diajari tatakrama sedikit2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *