Mencari Jejak Gunung

Browse By

Festival Lima Gunung VII telah digelar di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang, pada hari Senin, 11 Agustus 2008.

Setiap tahun, Festival Lima Gunung menghadirkan berbagai seniman dusun dari Kabupaten Magelang, tokoh nasional, maupun komunitas-komunitas dari luar Magelang. Festival ini merupakan ajang saling bertemu, serta belajar memahami kondisi masyarakat kita yang pluralistik, dalam proses budayanya yang tidak berhenti sebagai kata benda.

Berbagai karya seni tradisional, kontemporer, maupun kolaborasi dipentaskan di Festival Lima Gunung. Ada Reog, Ngargotontro (Merapi), Topeng Ireng Gimbal (Tidar), Sorang, Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada, serta Kuda Lumping dan Warok Bocah dari Dusun Dayugo (Merbabu).

Selanjutnya ada Soreng, Gejayan (Merbabu), Bekso Wanoro Argo, Krandegan (Sumbing), Topeng Ireng, Borobudur (Menoreh), Grasak, Petung (Merbabu), Topeng Saujana dan Topeng Kencono Putri dari Dusun Keron (Merbabu).

Selain itu, ada pula Truntung Topeng Gunung, Warangan (Merbabu), kethoprak dengan lakon “Jumenengan Hamengku Buwono I”, Mantran (Andong), musik etnik “Gelung Gunung“, Petung (Merbabu), dan wayang orang bertajuk “Dumadining Kraton Endroprastho” dari Dusun Tutup Ngisor (Merapi). Para seniman petani lima gunung juga menggelar Kirab Lima Gunung menyusuri jalan-jalan Desa Tutup Ngisor, tepatnya dari Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor pimpinan seniman Sitras Anjilin menuju Dusun Sumber. Kirab disambung dengan pemutaran film Teak Leaves at The Temple.

Spiritualitas gunung dan kritik sosial
Festival Lima Gunung secara terang-terangan mendasarkan gerakannya dengan telaah fenomena sosial. Dengan tema “Mencari Jejak Gunung”, Komunitas Lima Gunung menawarkan berbagai kearifan dusun gunung yang bermakna untuk membangun sinergi kemanusiaan yang alamiah. Gunung yang merupakan sumber energi abadi, senantiasa mencerminkan energi kehidupan yang “keras” namun ramah lingkungan. Dalam spritualitas orang-orang gunung terpancar energi kreativitas yang melahirkan berbagai macam bentuk seni berkarakter — entah kuat atau lemah, standar atau unik — yang cukup menjunjung tinggi solidaritas sampai soliditas sosial.

Komunitas Lima Gunung sebagai fenomena sosial, dalam koridor teori konflik yang bergerak pada ranah budaya, mencoba mencermati pilar-pilar keprihatinan sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan kondisi sosial lainnya yang memprihatinkan di Indonesia — sebagai akibat konkret rapuhya sistem politik dan kebijakan pembangunan yang terlalu berpihak pada kesejahteraan sosial masyarakat tertentu. Dengan Festival Lima Gunung kali ini, Komunitas Lima Gunung sepertinya secara tidak langsung mau mengajak para elit politik untuk tidak memandang sebelah mata orang-orang gunung. Komunitas ini hendak mengajak mereka untuk sejenak menoleh dan belajar dari spritualitas gunung, tentang pentingnya energi solidaritas dan soliditas sosial yang tinggi.

Lewat seni, Komunitas Lima Gunung juga secara halus mengecam kebijakan yang kurang berpihak pada rakyat kecil, yang disebabkan penyakit kronis bangsa ini, yaitu ketegangan ideologi politik, kecurigaan antarras, dominasi kesukuan, dan hegemoni kebudayaan. Polah tingkah para pemegang kekuasaan yang tidak merakyat mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat pedusunan, hingga berakibat pada gerakan pengambilan keputusan sendiri-sendiri dengan mengabaikan kebijakan perangkat dusun.

Tekanan demi tekanan dialami masyarakat pedusunan, termasuk desakan ekonomi, roda penggerak utama keberlangsungan hidup. Keterpojokan karena desakan ekonomi memaksa warga dusun mengambil jalan pintas. Contoh konkret, sumber mata air, yang semestinya dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, dikomersilkan karena kepentingan kelompok tertentu, sehingga menimbulkan pertikaian berkepanjangan. Masyarakat dibayangi mentalitas egoistis dengan mengabaikan kepentingan bersama. Konflik kepentingan yang didasari oleh kerakusan diri jadi pemandangan biasa.

Fenomena sosial
Sarana penguak rahasia masyarakat dewasa ini tidak hanya berkutat pada terminologi “orde” dan “peranan sosial”, tapi juga “konflik”. Konflik, menurut sosiolog Lewis A. Coser, adalah “perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan berkenaan dengan status, kuasa, dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, dimana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang-barang yang diinginkan, melainkan juga memojokkan, merugikan, atau menghancurkan lawan mereka.

Konflik adalah unsur interaksi yang penting dan sama sekali tidak boleh dikata bahwa konflik selalu tidak baik, atau memecahbelah, atau merusak. Konflik justru dapat menyumbang banyak pada kelestarian kelompok dan mempererat hubungan antaranggotanya.

Dalam siaran persnya, Komunitas Lima Gunung mencoba menelaah fenomena sosial dewasa ini, yang berkaitan erat dengan maraknya pemisahan diri — atau secara bersama-sama orang yang sepaham — dari sebuah kelompok, untuk membentuk kelompok baru, entah eksis atau tidak, namun dapat mencerminkan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang ada — dan ditambah lagi keinginan untuk dihargai dalam sebuah kelompok.

Sebenarnya ada satu pertanyaan mendasar yang tidak perlu diajukan kepada pihak di luar Komunitas Lima Gunung, tetapi kepada Komunitas Lima Gunung itu sendiri. Sejauh mana bisa dimengerti pula bahwa Komunitas Lima Gunung sebenarnya berada dan sedang terayun-ayun dalam koridor fenomena sosial ini?

Seorang filsuf sekaligus sosiolog dari Jerman, Ralf Dahrendorf, menempatkan suatu kerangka tajam yang disebut dengan teori konflik. Ia berkeyakinan bahwa tiap-tiap masyarakat di segala bidangnya mengalami proses-proses perubahan. Keyakinan ini juga didasarkan pada dalilnya yang menguak rahasia masyarakat bahwa setiap masyarakat memperlihatkan perbantahan (dissensus) dan konflik di segala bidangnya. Tidak semua sepaham dan sesuara. Tidak semua orang sama setuju. Selalu ada pihak yang pro dan yang kontra. Kekuasaan dan kepentingan menjadi pemicu utama munculnya konflik.

Uniknya, dalam spiritualitas gunung ditemukan semangat terbuka terhadap perbedaan. Selain ajang belajar untuk mengelola waktu, para pelaku Festival Lima Gunung juga belajar untuk menerima perbedaan sebagai realitas. Keberagaman realitas tidak memunculkan arogansi kelompoknya sendiri, tapi memunculkan semangat untuk saling terbuka dan belajar dari kelebihan dan kekurangan kelompok lain.

“Kalau para seniman berkumpul dan mementaskan karya mereka, hal itu bukan karena uang, tetapi kebutuhan untuk bertemu, memanfaatkan media belajar bersama dan mengolah naluri berkesenian,” kata Riyadi, ketua panitia FLG VII, yang juga pemimpin komunitas seniman petani dari Dusun Gejayan di lereng Merbabu.

Gendhotwukir, jurnalis dan penyair dari Komunitas Merapi

10 thoughts on “Mencari Jejak Gunung”

  1. saam fredy says:

    Sangat menarik.

    Salam,
    Saam Fredy

  2. adelia says:

    harusnya mahasiswa juga bisa nguri-uri kebudayaan seperti ini, biar gak lupa diri……………………………..

  3. Febri says:

    Wah… saya pernah menonton acara mereka. Mantap dan kemasan pun kelas atas, alias menarik orang lain.

    Yang lain sebaiknya menonton acara mereka

    Febri

  4. andreas says:

    lhah ini yang namanya seni….tidak terbatas……..tanpa ada halangan dari yang namanya RUU pornografi..hehehehehe.. mari kita senua sebagai warga negara Indonesia yang sangat beragam jenis dan bentuk kita bersama sama tolak RUU Pornografi yang mengkotak-kotakkan suku religi dan seni……..TOLAK TOLAK TOLAK!!!!!!!

  5. TL says:

    foto-fotonya bagus.

  6. indah says:

    keren pa lagi liat pak ismanto hehehe,,,,,,,,,

  7. ary says:

    aku senag sekali saat aku nari tarian
    yang aku ikut itu

  8. maha says:

    waaooww it’s so uniQue

  9. komunitas 5 gunung says:

    festival 5 gunung ke X hari minggu, 10 Juli 2011, tempat belum di tentukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *