Simfoni Pelangi

Browse By

Awan hitam menggantung. Kurang lebih jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku bersama seorang perempuan, Pelangi namanya. Kami pergi ke sebuah kafe di pinggir kota kecil di kaki gunung Merbabu. Di tempat inilah aku mengutarakan isi hatiku yang telah sekian lama terpendam.

Usia Pelangi saat ini 21 tahun, lebih muda delapan tahun dariku. Meski muda, Pelangi memiliki kedewasaan yang cukup matang. Dia dapat berteman dengan siapa saja. Selain itu, dia juga termasuk tipe perempuan yang tegar.

Kami sudah berteman tiga bulanan. Tapi di awal-awal perjalanan, kita jarang bertemu. Waktu itu Pelangi indekos di Semarang selama sebulan. Dia bekerja pada sebuah bank sebagai assessor.

Baru akhir-akhir ini kami sering bertemu di kafe kampus. Itu pun ketika Pelangi sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi tahap akhir. Melihat dia sendiri waktu itu begitu pontang-panting mengerjakan skripsinya, maka aku merasa terpanggil untuk sekadar membantunya.

Pada suatu hari, Pelangi minta aku untuk mencarikan seorang teman yang bisa membantu mengerjakan skripsinya. Demi permintaannya itu lantas aku mengenalkan Pelangi kepada Opha. Namun bantuan Opha tidak berlangsung lama, waktu itu aku tidak mengetahui alasan sebenarnya, mengapa tiba-tiba saja Pelangi berpaling?!

Sebagai gantinya, bantuan datang dari Babe. Aku juga tidak terlalu paham, mengapa Pelangi memilih Babe?!

Setiap kali Pelangi mengerjakan skripsi dengan Babe, dia selalu minta agar aku mau menemaninya. Dan aku pun senantiasa menuruti permintaannya. Selain itu, aku juga beberapa kali makan bersama dan mengantarnya pulang apabila hari telah larut malam.

Hari demi hari terus kami lalui bersama, hingga kisah dan liku ini kian mengukir di lubuk sanubari. Aku merasa tak kuasa menjaga perasaan sekadar sebagai seorang teman. Rasanya ingin sekali memiliki Pelangi seutuhnya. Bayangan Pelangi seolah tak pernah lekang oleh waktu.

Aku telah jatuh cinta.

Di sore itu, hujan lebat dan awan begitu hitam. Aku, Pelangi, dan Babe duduk di kafe kampus sambil menikmati kopi dan camilan. Tak kusangka, Pelangi membuatku jengkel. Dia dan Babe sengaja memanas-manasi aku, mereka saling memberikan perhatian berlebih. Padahal, sebelum-sebelumnya tidak demikian.

Barangkali mereka telah mengetahui kalau aku telah jatuh cinta, dari gelagatku atau sikap-sikapku selama ini terhadap Pelangi. Aku begitu sensitif hingga wajahku kian memerah setiap kali Pelangi menawari Babe camilan. Tak ada yang dapat aku lakukan selain mencoba mendamaikan diriku.

Lagi-lagi, yang membuat aku kian jengkel adalah ketika mereka berdua pergi begitu saja dengan mobil sedan warna hitam, milik Babe. Tanpa pamit.

Karena aku telah jatuh hati kepada Pelangi, maka yang ada dalam benakku hanyalah kekhawatiran, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Pelangi.

Menjelang malam aku merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam otakku hanyalah Pelangi … Pelangi … dan … Pelangi.

Hujan mulai reda. Aku sudah merasa putus asa. Tiba-tiba aku teringat seorang teman, namanya Slamet. Sedikit banyak dia mengetahui kisahku dengan Pelangi. Keberuntungan datang, aku bertemu Slamet di pelataran kampus. Dia salah satu teman yang dapat dipercaya. Kita sudah berteman bertahun-tahun lamanya.

Aku minta dia untuk memberikan tanggapan dan masukan.

Aku mengutarakan apa yang barusan terjadi. Waktu itu dia memberikan tanggapan, “Kalau Pelangi melakukan hal demikian, itu hanya mau mengetes saja.” Aku cukup mengerti apa yang dia maksudkan.

Slamet juga memintaku untuk lebih tenang. Kemudian dia menyarankanku untuk mengirim pesan singkat kepada Pelangi.

“kmana..?”

Namun pesan singkat itu tak kunjung terkirim, masih pending. Setelah sekian lama tidak terkirim-kirim, maka aku pamit pulang ke kos.

Sesampainya di kos, aku lihat adik kandungku, Jack, sudah menungguku di kamar teman. Dia baru saja datang dari Boyolali. Saat itu aku hanya menyapanya sebentar lalu menuju kamarku di lantai dua.

Sesampainya di kamar, aku hanya memelototi langit-langit yang terbuat dari triplek yang sebagian telah lapuk. Tak ada gambaran jelas malam itu. Yang terselip di ingatan hanyalah menunggu kabar dari Pelangi.

Usai kumandang adzan Maghrib telepon genggamku bergetar. Aku membukanya, dan melihat laporan pesan singkat buat Pelangi telah terkirim. Tak lama kemudian, telepon genggamku bergetar lagi, dan kabar yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Pelangi membalasnya, “Aq dah smpai rumah. Piye?”

Aku tidak segera membalasnya, berpikir sejenak …. Berhubung aku ingin sekali mengetahui keadaannya, maka pikirku berbuah untuk mengajak Pelangi keluar jalan-jalan, dan aku mengirim pesan singkat.

“Jalan-jalan n sekalian dinner, yuk?”

“Ehm blh d, jam 8 ya…Aq tak isti bentar bis aq cpk bgt. Tak tgu y thx,”

Setelah itu hatiku sedikit lega. Mengingat waktu masih cukup lama, aku manfaatkan saja untuk ngobrol dengan Jack. Saat itu dia mengisahkan pertemuannya dengan kekasihnya tadi siang, saat makan bareng.

Namun saat Jack sedang asyik bercerita, sebenarnya aku hanya memikirkan bagaimana untuk mendapatkan uang buat makan malam bersama Pelangi. Saat itu aku tidak memiliki uang sepeserpun.

Dalam pengap dan gelap, amarahku memuncak dalam benakku ….

Pergolakan batin itu berujung pada kenekatan untuk berterus terang kepada Jack.

“Jack, punya uang gak?”

“Ada … emang kenapa Mas?”

”Aku pinjam uangmu dulu … tak pakai buat makan ma cewek.”

Dia langsung merogoh dompetnya dari saku celana jins warna hitam. Rencananya, aku hanya ingin pinjam lima puluh ribu saja, tapi dia malah kasih seratus ribu. Sambil mengulurkan uang dia bergumam, “Susahnya ya seperti itu kalau tidak punya uang.”

Barangkali dia teringat masa lalunya yang serba kekurangan. Sekarang Jack telah mendapatkan penghasilan sendiri. Dia bekerja di Jakarta, sebagai musisi.

Waktu seolah-olah berputar begitu cepat. Pukul 19.30, aku kembali berpetualang untuk mencari pinjaman motor. Ada dua teman yang aku hubungi melalui pesan singkat, Fajar dan Aan.

Aku jadi cemas ketika pesan singkat itu tidak segera mendapatkan balasan dari keduanya. Berhubung tidak ada kepastian, aku pun beranjak pergi menuju kampus, untuk menemui Slamet, dengan harapan motornya bisa aku pinjam.

Baru sampai di depan pintu gerbang kampus, telepon genggamku di saku celana jins bergetar. Fajar rupanya membalas pesan singkatku. Dia berkata, “Jam delapan aku baru ke kos.”

Balasan itu aku cuekkan. Aku tetap mencari Slamet.

Sesampainya di pelataran kampus, aku bertemu Dobleh. Aku pun bertanya ke dia tentang keberadaan Slamet. Dia memberitahukan kalau Slamet sudah pulang dari tadi sore.

Saking buru-burunya, aku lalu mengeluarkan telepon genggam untuk menelepon Slamet. Tapi ketika terhubung tidak terdengar suaranya, cuma terdengar kresek-kresek.

Tak lama kemudian Slamet mengirim pesan singkat. “Ak d kdai rio. Td km tlp ak ga dngr, ak trima tp suaramu ga msuk.”

“Ya dah aq k situ….” balasku.

Karena terus dikejar waktu, aku pun minta tolong Dobleh untuk segera mengantarku ke kedai Rio. Kami pun meluncur dengan mobil sedan warna silver.

Setibanya di kedai Rio, aku melihat Slamet sedang ngobrol asyik sambil menikmati secangkir susu putih dan roti bakar bersama dua temannya.

Aku lekas menghampirinya.

“Met, motormu mana?”

“Itu ….” Tangan kanannya menunjuk ke arah motornya yang saat itu sedang diparkir di bawah pohon.

“Aku pinjam dulu ya …?”

“Bawa aja, bawa STNK sekalian gak …?”

“Ya ….”

Dia pun segera mengambil STNK dari dompetnya, untuk kemudian diberikan padaku.

Aku melihat jam di telepon genggam menunjukkan pukul 19.45. Aku pun langsung pamit. Motor Kawasaki warna hitam itu aku geber menuju rumah Pelangi.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah Pelangi. Aku lihat Pelangi sudah menunggu di beranda depan rumahnya. Dia duduk di kursi busa warna coklat sambil pencet-pencet telepon genggamnya. Pelangi saat itu mengenakan jaket berkerudung warna merah dan celana pendek kotak-kotak dominasi warna coklat bergaris-garis hitam.

Melihatku datang, Pelangi pun bergegas menemuiku di luar pagar yang terbuat dari besi. Tiba-tiba dia langsung mengajakku jalan, tanpa menyuruh mampir barang sejenak.

Aku pun hanya bisa menuruti permintaannya. Setelah Pelangi duduk di jok motor, kami berbalik arah, menyusuri Jalan Pattimura.

Di tengah perjalanan, kami asyik ngobrol sambil menikmati keindahan perbukitan dan kerlap-kerlip cahaya nun jauh di perbukitan. Memasuki jantung kota, Pelangi bertanya, ”Mau makan di mana Mas …?”

“Ke Frufru yuk ….”

Pelangi langsung menyetujuinya. Kami pun menuju kafe Frufru yang letaknya di pinggiran kota Salatiga. Sesampainya di Frufru, kami berjalan menuju meja resepsionis, yang saat itu dijaga seorang perempuan. Dengan senyum mungilnya, resepsionis tersebut menyambut kedatangan kami, dan tanpa bercakap banyak perempuan itu menawari ruang, “Mau di bawah apa di atas?”

“Di atas aja …,” jawab Pelangi.

Kami berdua menuju ke ruangan atas dengan menaiki anak tangga yang terbuat dari besi. Sampai di ruang lantai dua itu, kami berhenti sejenak untuk kemudian memilih tempat duduk. Pelangi memilih meja yang letaknya di lobi kafe.

Baru sebentar duduk, seorang pelayan menghampiri sambil menyodorkan daftar menu.

Aku lihat Pelangi memesan ayam goreng kremes dan lime squash. Sedangkan aku pesan Paket D, yang di dalamnya ada ayam goreng, nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan sedikit lalapan, dan minumannya teh stroberi. Sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol-ngobrol lagi tentang apa saja yang terlintas.

Malam itu, Pelangi lebih banyak mengisahkan kehidupannya. Mulai dari masalah keluarganya, sampai menyinggung penyakit yang dideritanya selama ini.

Selama kenal Pelangi, baru malam itu dia mengatakan kalau dia menderita penyakit tumor di kepalanya. Usai mengetahui keluhan Pelangi, hampir seluruh badanku melemas, terlebih ketika Pelangi berkata …

“Ya kalau mati ya mati …”

“Ya kalau mati ya mati …”

Kata-kata itu terlontar berulang kali. Dia begitu pasrah dengan kondisinya. Apabila tiga bulan ke depan tidak segera sembuh, tidak tahu apa yang akan terjadi pada Pelangi. Dan itu membuatku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, sampai air mataku sedikit tercecer.

Desau angin malam itu tak mampu membasuh derita Pelangi.

Meski kondisi Pelangi demikian, dalam lubuk hati terdalam aku tidak akan surut untuk senantiasa mencintainya. Justru aku ingin sekali lalui hari-hari bersama Pelangi, entah sampai kapanpun.

Hatiku terlanjur ingin sekali melonjak menggapai pelangi di matanya.

Percakapan itu terputus dengan kedatangan pelayan yang mengantar makanan. Setelah menaruh semua makanan di atas meja, pelayan itu pergi sambil berkata, “Silahkan menikmati. Kalau ada apa-apa, silahkan menemui kami.”

Semua hidangan telah tersaji. Aku dan Pelangi pun segera menyantapnya. Dengan menikmati makanan itu, kami kembali ngobrol dengan sesekali diselingi canda tawa.

Percakapan demi percakapan terus mengalir, hingga tak terasa makanan pun habis.

Sejenak kemudian kami berdua sedikit meluangkan waktu untuk menatap jauh ke belantara angan. Aku, sambil menikmati sebatang rokok, menatap hitamnya langit dan bunga-bunga di pot yang mulai lesu. Sedangkan Pelangi aku lihat lebih banyak diam dan sesekali menundukkan kepalanya.

Agar suasana lebih rileks, aku coba menawari Pelangi kentang goreng. Pelangi tidak menolaknya. Lalu aku segera beranjak dari tempat duduk, pergi menuju meja pelayan di sudut ruangan untuk memesan kentang goreng.

Tak lama kemudian, aku kembali lagi duduk di samping Pelangi. Belum ada sepuluh menitan duduk, suasana terasa mencekam ketika angin kencang menghampiri. Beberapa tisu pun terhempas jatuh ke lantai.

Seketika itu pula Pelangi mengenakan jaketnya kembali untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Pelangi mengajakku pindah ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan itu kami duduk di kursi busa warna hijau, yang letaknya di sudut paling depan. Setelah kami duduk, pelayan datang lagi dengan membawakan kentang goreng.

Aku minta Pelangi untuk memakannya terlebih dahulu, mumpung masih hangat. Baru setelah itu aku. Satu persatu kentang goreng pun hampir habis kita makan.

Malam pun kian larut, berhubung malam ini tujuanku tak lain adalah untuk mengutarakan isi hatiku ke Pelangi, aku pun mencoba memberanikan diri untuk berkata terus terang.

“Sebelumnya aku minta maaf, aku ingin sekali mengutarakan sesuatu ke kamu … boleh gak?”

“Emang ada apa to Mas?”

“Eng … gak …. Kamu mau gak kalau kita jadian?”

Seketika itu pula Pelangi hanya senyum-senyum saja, sambil matanya melirik sisi kanan atas.

“Ehm, gimana ya Mas …. Sebenarnya aku lebih menikmati hidup sendiri.”

“Bisa kemana-mana …. Terus terang Mas, setelah aku sering nongkrong di kafe, aku banyak mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku peroleh.”

“Aku gak bisa Mas …. Gak apa-apa kan Mas …?”

Aku hanya bisa menghela nafas. Dalam dadaku pengap dan hampir semua persendianku seperti mau copot.

“Ya … kalau itu emang sudah menjadi kemauanmu, tidak apa-apa.”

“Bener Mas gak apa-apa?”

“Enggak ….”

Meski sebenarnya aku kecewa, tapi aku tetap menerima realitas ini dengan lapang dada. Toh aku telah mencobanya ….

”Emang Mas suka aku karena apa? Kalau boleh tahu ….”

”Setiap kali aku melihat matamu, ada pelangi.”

Dalam benakku, aku lebih menyukai perempuan seperti Pelangi yang memiliki banyak warna. Pergolakan dalam dirinya itulah sebuah simfoni yang senantiasa memanjakan aku untuk selalu menjaga dan melindunginya.

Pertemuan malam itu pun berakhir ketika pelayan memberitahukan kalau kafe sebentar lagi tutup. Kami pun beranjak pergi dari lantai dua menuju lantai satu untuk membayar makanan kami.

Setelah itu aku mengantar Pelangi pulang. Di sepanjang jalan kami berbincang-bincang lagi. Dan anehnya, perbincangan tidak membahas apa yang baru saja terjadi. Kami lebih banyak bicara soal kehidupan keluarga.

Jarum jam hampir menunjuk pukul sepuluh ketika kami sampai di depan rumah Pelangi. Dia langsung turun dari motor. Tanpa memberi salam, dia berlalu begitu saja. Aku pun hanya mampu berkata lirih, “Mengapa Pelangi bersikap demikian?”

Melihat kejanggalan itu, aku pun langsung memutar motor untuk pulang. Dalam perjalanan, aku hanya bisa menelusup ke ruang hampa tak bercahaya. Dan aku hanya berusaha melerai diriku sendiri.

Semoga saja akan datang hikmah di balik ini semua.

Setidaknya aku telah berbuat yang terbaik, dan tentunya nama Pelangi akan tersimpan di lubuk hatiku terdalam. Meski tanpa harus memiliki, aku masih berharap Pelangi menjadi teman selagi Sang Surya masih bersinar.

Keterpukauanku terhadap simfoni dalam dirinya itulah kelak yang akan menjadikan kehidupan Pelangi seperti harmoni, dan indah pada akhirnya ….

Bambang Triyono, sastrawan dari Selo

21 thoughts on “Simfoni Pelangi”

  1. Yodie Hardiyan says:

    Oh, menyentuh sekali mas…

    Ini jenis cerpen non-fiksi atau fiksi ya? Fiksi yang diangkat dari kisah nyata?

    Kayaknya aku tahu deh, siapa Pelanginya.

    *sok tahu*

  2. andi-dobleh says:

    ampun…
    ayo mbang kita tersenyum dan tertawa..

    pelangi hanya lah suatu sekilas keindahan.. tak lama ia akan hilang seiring redanya hujan.. dan sang surya akan menghangatkan hati yang dingin ditinggal pelangi..

  3. Gatholoco says:

    Berbahagialah mereka yang jatuh cinta

    Bersukurlah mereka yang dibalas cintanya, meskipun tak selamanya cinta hadir dalam wajah yang romantis
    Berterimalah yang tidak dibalas cintanya, setidaknya kamu tahu cinta itu tumbuh dalam dirimu
    Dan yang luar biasa lagi ternyata kamu menjadi tahu bahwa banyak orang-orang disekelilingmu yang mempedulikanmu….
    Cinta kadang terlalu egois, seperti kaca mata kuda, pikiran dan perhatianmu hanya pada dia
    Ketika kita dapat berbagi dengan orang-orang disekeliling kita maka cinta akan dianugerahkan sebagai bonus
    Ketika kita tidak mau berbagi cinta dapat menjadi pengingat bahwasanya kita harus lebih peduli terhadap orang lain, bukan hanya pada diri sendiri dan orang yang dicintai….

    Peace n Love

  4. 2Pit says:

    wah… merk’e kok ndang balekno kabeh to…
    duwit..pinjem…
    motorrr…jg ngrampok punya temen…ck,ck,ck,ck,,,,
    hehehehe…. becanda lho mas…

  5. Febri says:

    Tantang keheningan
    Dengan hujaman lantang meradang
    Dan kuasai kegundahgelisahan
    Sembari minum di atas makam kepedihan

    (Garcia Lorca)

  6. DQ says:

    tabahkanlah hatimu nak Bambang :))

  7. seehngojennaca! says:

    wah kowe bang nelangsa sekali,…. mesakke tenan ki …
    aku baru tahu sekarang, kalo opha kalah saingan bimbingannya …
    opha kamu butuh banyak istirahat, umurmu tambah tua …

  8. kenthang says:

    walah mas mbang…
    hidupmu koq belum berubah to le…he5..
    banyakin minum susu d t4 pak tok ya,jo teh anget terus..
    tambah pucet mengko….
    tetap berjuang yo…
    paling menthok Tuhan lupa ambil tulang igamu
    atau jodohmu dah mati sejak di lahirkan,he5….

  9. Opha says:

    Berbicara Judul dari Cerpen ini, saya teringat dengan Film yang sedang booming akhir-akhir ini, yakni “Laskar Pelangi”. Ada kesamaan sekaligus perbedaannya. Simfoni Pelangi unhappy ending!!! Tetapi sama-sama memiliki hikmah untuk terus dan terus berjuang. Tapi saya yakin Simfoni Pelangi suatu saat akan menjadi Laskar Pelangi.

  10. wit says:

    pertama saya lihat judul tulisan ini ketika pertama kali tampil di SA, saya tidak tertarik membacanya, saya pikir, bagian dari komentar atas film “Laskar Pelangi” yang akhir-akhir ini banyak di bicarakan. (jadi untuk apa saya membaca cerita yang sudah tidak asing lagi)

    E.. ternyata lain tho…
    Mas Bambang…, menurut saya…, waktu tiga bulan terlalu cepat untuk menyatakan ‘cinta’. Jatuh cinta memang dapat terjadi seketika, tapi…. perlu waktu untuk cinta tumbuh dan berkembang. Kenapa tidak anda nikmati dulu kebersamaan dengan Pelangi…, biarkan tresna-nya tumbuh karena ‘kulina’. Baru, ketika peluang jawaban “YA” itu mendekati 100%, anda utarakan isi hati anda.

    Di atas itu kisah nyata khan? Rasanya saya kenal dengan “Pelangi” itu.
    Berikut sebagian dari kisah nyata saya, semoga dapat menghibur Mas Bambang….

    Ketika saya “nembung” gadis yang sekarang jadi istri saya, …, saya cuma bilang…, “kamu khan sudah tahu.., aku naksir kamu, aku perlu jawabanmu, aku beri waktu 1 minggu, kalau ‘ya’ kita jalan, kalau ‘tidak’ aku mau cari yang lain” (tidak romantis khan…?!) Tapi…. dibalik itu semua, saya sudah berdoa (katanya jodoh di tangan Tuhan, jadi saat itu saya mencari tanganNya dulu.., dan waktu itu saya berhasil menemukan tanganNya, ya.. ketemulah jodoh saya — ya entah jodoh atau tidak jodoh, nyatanya sekarang sudah menjadi ibu dari anak-anak saya).

    Oh ya… alasan Mas Bambang adalah “karena ada pelangi di matanya” Apakah cinta harus punya alasan?
    Dulu waktu saya kuliah, ada seorang NN yang ‘istimewa’, walaupun kami tidak pernah “pacaran”, karena waktu itu saya belum berani “tegas”, tapi dia tahu kalau saya suka dan saya merasa nyaman dengan status “bukan pacar”, namun cukup dekat dengan dia — yang ternyata itu tidak nyaman buat dia, dan akhirnya dia perlu memilih teman saya yang berani memberi kepastian, apalagi didukung ayahnya — he he waktu itu dia pernah bilang, “Wit, sebenarnya mama pilih kamu, tapi papa pilih dia, aku bingung. Ya saya jawab, “lha kamu pilih siapa, tapi mungkin lebih baik kamu nuruti papamu saja.” Saat itu…, saya jadi tempat curhat dia dan saputangan yang selalu saya kantongi, kadang basah oleh air matanya…
    Nah.., suatu ketika dia sempat bertanya pada saya, “Kenapa kamu suka aku?” Saya jawab, “Kalau cinta perlu alasan, maka aku punya banyak alasan untuk suka pada orang lain selain kamu. banyak yang lebih cantik dari kamu….., banyak yang lebih pintar dari kamu….,banyak cewek yang berbeda dari kamu yang juga menarik, tapi aku juga nggak tahu apa alasannya, kenapa aku suka sama kamu…” (kalau yang ini agak romantis ya…!!)

    Saya belajar beberapa hal tentang ‘cinta’ dengan NN, walau saya jarang bersama dia, tidak pernah juga ngapelin dia di rumahnya — kecuali kadang mengantar pulang kalau dia sedang tidak pakai sepedamotor. Waktu itu kami cukup dekat di ‘hati” walau belum jamannya HP/SMS, tapi kalau dia pingin curhat dengan saya, saya “krasa” di rumah, sepertinya ada “nada panggil polyponic” dan besoknya saya pergi ke wartel, telpon ke rumah dia, dan janjian ketemu.. Pernah suatu hari dia heran, “kok kamu tahu kalau aku pingin ketemu kamu, tadi malam aku berdoa agar hari ini dapat ketemu kamu”.

    Tapi semua berakhir ketika dia menikah. sampai sekarang pun saya tidak pernah ketemu lagi, tidak tahu rimbanya.. namanya bahkan tidak terekam oleh google.com. Ya sudah, menurut istilah di KJ, dia dan semua kenangan dengan dia kini sudah menjadi “catatan mati”, sebuah pengalaman yang tidak perlu mempengaruhi hidup saya sekarang. Sekarang saya hidup dengan istri dan anak-anak saya.

    Mas Bambang, pernahkah anda mendengar atau membaca ini..

    “Cinta mulai dengan senyuman, tumbuh dengan ciuman dan berakhir dengan airmata….”

    pernah baca/dengar yang ini?

    perlu semenit mengenal seseorang
    perlu seminggu untuk dekat dengan seseorang
    perlu sebulan untuk mencintai seseorang
    namun perlu seumur hidup untuk melupakan seseorang

    lebih dari 10 tahun yang lalu saya menonton film “Heaven and Earth”, dan yand saya masih ingat sampai sekarang adalah kata-kata nasihat dari seorang bijak, “relakan apa yang sudah tidak dapat dipertahankan”

    ha ha… saya tunggu kisah-kisah dengan “pelangi” lainnya…
    tapi.. mata menarik bukan hanya karena ada “pelangi”, kadang mata yang “mendung” juga menarik, mata yang “hujan” kadang juga menarik, mata yang “cerah” juga kadang menarik.

    Bacalah buku “The Secret” (atau lihat saja DVD-nya), gunakan Law of Attraction, temukan cewek yang menarik buat anda… (gak perlu pakai jaran goyang atau semar mesem ha ha ha….).

    Hari demi hari terus kami lalui bersama, hingga kisah dan liku ini kian mengukir di lubuk sanubari. Aku merasa tak kuasa menjaga perasaan sekadar sebagai seorang teman. Rasanya ingin sekali memiliki Pelangi seutuhnya. Bayangan Pelangi seolah tak pernah lekang oleh waktu.

    Ini sih bukan cinta, cinta tak harus memiliki, justru cinta adalah “menyerahkan diri untuk dimiliki”… lha kalau saling cinta, itu saling menyerahkan diri, akhirnya saling memiliki…. tapi kalau inginnya memiliki, itu namanya egoisme, dan bisa lebih parah, berkembang menjadi sikap possesif yang bukan cinta lagi…

    Ingatlah sebagian kata-kata Kahlil Gibran, tentang cinta:
    “Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.”

    Untuk STR, ada pesan dari Kahlil Gibran
    “Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya

    tapi ingat..
    “Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.”

    gitu dulu ya.., selamat bercinta…..

  11. Triyono says:

    To Mas Wit,

    makasih mas atas atensinya.
    saya sangat menikmati hiburan dari kisah Mas Wit…he..he…

    salam, Triyono

  12. seehngojennaca! says:

    saat berkata-kata tentang cinta atau mau berbuat cinta …
    atau ingin menggagahi cinta …..
    aku tak bisa berbuat apa-apa …

    kecuali jalan-jalan ke sini
    http://www.kemudian.com/node/68755

  13. guruh says:

    wah bambang jujur tenan le gawe cerito… yo bener pelangi mu kang.. “ya kalo mati ya mati”…. yo kui jenenge urip kudu ngerti sangkan paraning dumadi….
    aku salut mbek pelangimu….

    biar hidup lebih berarti….
    tidak sekedar lahir sudah itu mati
    biar kita di sini
    berjalan…… ini jalan yang mesti kita lewati…

    diam sajalah jika tak berisi….
    bukankah diam tak berarti apa-apa?
    ya baiknya kita diam dan tak berarti apa-apa

    sekarang bangkitlah aku
    bangkit dengan ke-tidak diam-an
    jika mau berarti
    tidak sekedar lahir sudah itu mati…

    cukupkan sudah jika hanya mimpi………

  14. obed says:

    pelangi…
    tentu kamu tahu banyak warna di dalam pelangi..
    yah kita sadar begitu warna-warni dalam pelangi…
    tapi maaf mbang kamu gagal menjadi bagian dari pelangi…
    yah itulah nyatanya pelangi…

  15. Triyono says:

    To all

    trimaksih telah memberikan kritik dan masukannya….

    @ Singo–saya dah baca tu saran dari kamu, doakan semoga muncul karya-karyaku selanjutnya….

  16. adel says:

    kowe mesakke men tho…………………………………

    makane cari cewek yang biasa aja………………ga sah yang macem2………………………..

    cewek yang loe critain mendingan loe santet…..

    gak tau trimakasih…………………….

  17. mboh says:

    woalah kok tambah tragis wae cerita cintamu,tp tetap semangat bro mungkin tuhan mang belum waktunya kasih jodoh buat kmo ato mungkin tuhan berharap kmo lebih keras lagi berusaha tuk mendapatkan orang yang tepat seperti yang dikehendakiNYA.tp gw tetap salut akan semangat dan perjuangan yang kmo punya tuk merengkuh hati pelangi,biarpun kedua tangan mu kurang panjang tapi kmo terus berusaha mengapainya. dalam dekapanmu.walau kmo gak pernah mampu memeluk raganya tp kmo msh bisa membawa bayangnya dalam tidur malammu….hehe,tul gak

  18. pak totok says:

    Hal yang paling menyakitkan adalah ketika membiarkan kita Jatuh Cinta dan di abaikan………
    Putus itu sakit, tetapi lebih menyakitkan lagi apabila kita menahan orang yang kita sayangin bahagia dengan orang lain……..

  19. Febri says:

    Mas ini based on true story yaa…?

  20. yue says:

    cinta itu selalu indah, biarpun telah jadi masa lalu. bukankah cinta itu ada memang untuk memberi warna…

  21. tika says:

    you have been tricked by that girl… i know her well… biar diperhatiin aja dia itu… saat cinta tak punya mata, mk kau hrs punya mata,,,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *