FMA 2008: Angkat Isu Lingkungan Lewat Kesenian

Browse By

Aksi “injak jarik” peserta Parade Jalan Kostum Sampah memeriahkan pembukaan Festival Mata Air 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Aksi “injak jarik” peserta Parade Jalan Kostum Sampah memeriahkan pembukaan Festival Mata Air 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Tanam Untuk Kehidupan adalah satu komunitas yang punya perhatian untuk isu-isu lingkungan di Salatiga. Komunitas ini punya macam-macam kegiatan seni budaya, seperti kegiatan tahunan Festival Mata Air, yang pertama kali digelar pada 2006.

Parade Jalan Kostum Sampah kemarin melewati Jalan Jenderal Sudirman. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Parade Jalan Kostum Sampah kemarin melewati Jalan Jenderal Sudirman. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

FMA 2008 kali ini mengusung tema “Air untuk Semua“. Festival ini digelar di Kalimangkak pada 24 Oktober hingga 26 Oktober 2008. TUK menyelenggarakan Workshop Seni dan Lingkungan, Parade Jalan Kostum Sampah, Pesta Rakyat, serta stan-stan informasi tentang lingkungan. Selama festival, para pengunjung akan dihibur kolaborasi seni budaya lokal, nasional, dan internasional yang dimeriahkan Sawung Jabo, Franky Sahilatua, Veho, Wayang Kampung Sebelah, Planet Bamboo, Jodhi Yudono, Sound Rebel, Om Duta, dan sebagainya.

Tujuan utama FMA digelar adalah sebagai ajang pendidikan dan hiburan untuk membuka opini masyarakat agar peduli lingkungan. TUK bermaksud mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga dan merawat lingkungan mereka sendiri. FMA sendiri juga jadi wadah kolaborasi seni budaya lokal, nasional, dan internasional dalam mengekspresikan kepedulian mereka terhadap lingkungan, mempromosikan seni budaya serta pariwisata Salatiga, dan memperluas jaringan kerjasama antara komunitas seni dan lingkungan dari Australia dan Indonesia.

“Kami merasa kewalahan karena tenaga sangat terbatas, hanya melibatkan 30 anggota aktif dan pasif serta 1.200 pendukung acara. Sedangkan animo masyarakat pada kegiatan ini besar sekali,” kata Titi Permata, bendahara panitia FMA 2008.

Meski demikian, Titi berharap bahwa FMA 2008 akan melibatkan penonton lebih dari 20.000 orang, sehingga pesan-pesan lingkungan yang diangkat dapat terdengar dan terwujud dalam kehidupan sebanyak mungkin orang.

Anak-anak juga ikut berpartisipasi pada FMA 2008. “Anak-anak lebih mudah diajak untuk peduli lingkungan daripada orang dewasa. Apabila sejak kecil mereka telah terbiasa untuk mencintai lingkungan, maka kebiasaan ini akan berlanjut sampai mereka dewasa nanti,” kata Didik J., koordinator anak-anak.

Menurut Didik, beragam kegiatan untuk anak-anak telah disiapkan dalam FMA ini. Anak-anak ikut dilibatkan dalam Parade Jalan Kostum Sampah, 24 Oktober kemarin. “Kami juga mengadakan lomba melukis dan pameran lukisan untuk anak-anak yang akan digelar Minggu tanggal 26 Oktober nanti.”

Tentang lomba melukis, Didik mengungkapkan bahwa nantinya panitia akan menyiapkan selembar kertas. Kertas tersebut akan dilukis oleh empat orang anak yang dipilih secara acak. “Kami sengaja melakukan hal ini agar anak-anak mampu bersosialisasi dengan teman lain yang baru saja mereka kenal,” imbuh Didik.

Parade Jalan Kostum Sampah juga lewati Kantor Walikota. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Parade Jalan Kostum Sampah juga lewati Kantor Walikota. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

“Saya lebih senang mengadakan workshop dengan sasaran anak-anak karena anak-anak mudah dibentuk,” ungkap Didik. “Workshop sering saya lakukan di sekolah-sekolah, di antaranya di (SD) Marsudirini 78. Guru-gurunya juga antusias sekali untuk ikut workshop. Saya minta peserta workshop bawa sampah yang bisa didaur ulang, atau kami beli barang bekas dari pemulung, kemudian kami bimbing peserta wokshop untuk bikin barang-barang dari sampah daur ulang itu.”

Didik merasa, tak ada hambatan berarti selama ia berkecimpung menanamkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian lingkungan pada anak-anak. Menurutnya, kunci sukses untuk kebersihan kota adalah kejujuran pada diri sendiri dan orang lain yang akan memunculkan kesadaran diri. Meski demikian, Didik menyayangkan minimnya dukungan pemerintah dan instansi pendidikan kepada TUK setiap ada kegiatan pelestarian lingkungan.

“Kegiatan tentang lingkungan seperti ini harusnya lebih sering dilakukan karena bagus untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Lebih baik mengadakan acara seperti ini daripada pentas yang dilakukan oleh partai tertentu,” tutur Onesimus Hihika, salah satu mahasiswa Satya Wacana yang buka stan kerajinan di FMA 2008. “Saya akan mendukung selalu acara bertema lingkungan seperti ini.”

Kemacetan lalu lintas akibat rute Parade Jalan Kostum Sampah melewati Jalan Jenderal Sudirman yang padat kendaraan bermotor. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Kemacetan lalu lintas akibat rute Parade Jalan Kostum Sampah melewati Jalan Jenderal Sudirman yang padat kendaraan bermotor. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Prita Yudha Puspita adalah reporter magang Scientiarum. Dia mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

6 thoughts on “FMA 2008: Angkat Isu Lingkungan Lewat Kesenian”

  1. Pingback: Scientiarum » Menyambut Festival Mata Air 2008
  2. Trackback: Scientiarum » Menyambut Festival Mata Air 2008
  3. DQ says:

    sayangnya pemkot kagak kondusif…!!

  4. Sanie B Kuncoro says:

    Saya menjadi kontributor majalah Femina untuk liputan FMA 2008. Tapi saya mengalami kesalahan teknis dalam proses pemotretan. Apakah dimungkinkan apabila saya memakai foto-foto dari anda? Terimakasih.

  5. STR says:

    Pak Sanie, Anda bisa hubungi James Anthony via email james@scientiarum.com untuk bicara langsung soal hal ini. Saya juga sudah forward email, yang Anda kirim ke email Redaksi, kepada James. Terima kasih.

  6. Pdt Masada Sinukaban says:

    Syalom, DR Robert Valentino Tarigan Pernah Berkata “Jangan Wariskan Air Mata Buat Anak Cucu Kita Tapi Wariskanlah Mata Air”

    Ayo Semuanya kita Peduli Mata Air, Lingkungan Hidup dan Anti Perambahan Hutan atau Illeggal Logging. Tanamlah Minimal 1 atau 2 Batang Pohon Demi Generasi kita NANTI!!

    KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA DAN MAYIM MERIBA PDT MASADA SINUKABAN

    OK GBU

  7. obed says:

    Semangat Pak Pendeta.
    gimana kalo sebagian persepeluhan gereja di alokasikan untuk perbaikan lingkungan?
    itu langkah yang lebih nyata kayaknya…
    piss GBU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *