Kampung Petani, Miskin Pendidikan

Browse By

Di Dusun Kaligawan, Jeruk, Randublatung, Blora, mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Siang-malam, masyarakat kampung ini menghabiskan waktu mengurus pertanian, entah itu hasil maupun lahannya. Bukan hanya orang dewasa yang bekerja, tapi anak-anak usia sepuluh tahun ke atas juga sudah disibukkan dengan yang namanya bertani.

Dibanding kampung-kampung lain di Randublatung, Gawan — demikian Kaligawan biasa disebut — terkenal dengan masyarakatnya yang rajin bertani. Saking rajinnya, banyak orang kampung tetangga menasihati anak-anak mereka, “Le, mbesuk yen golek bojo, ojo neng desa Gawan. Kono wonge sregep-sregep. Kowe mengko mundak diseneni morotuamu terus! (Nak, besok kalau cari suami/istri, jangan di desa Gawan. Di sana orangnya rajin-rajin. Kamu nanti malah dimarahi mertuamu terus!)”

Pernyataan tersebut menyatakan ketakutan jika anak-anak mereka tak mampu mengimbangi kerja masyarakat Gawan.

Soal kerajinan bertani, masyarakat Gawan memang patut diacungi jempol. Tapi soal pendidikan masyarakat, Gawan masih kalah dengan kampung-kampung sekitar. Mereka cenderung memilih untuk mendidik anaknya dengan ilmu bertani, agar dapat meneruskan profesi yang telah mereka tekuni selama ini, daripada menyekolahkan anak-anaknya.

Ada beberapa keluarga yang tergolong kaya di Gawan. Salah satunya keluarga Lasmo Lasinah. Lasinah punya sawah seluas sekitar 6 hektar. Selain tanah itu, keluarga ini juga memelihara sekitar sepuluh ekor sapi dan beberapa ekor kambing. Jika diuangkan, penghasilan mereka perbulan bisa dua kali lipat atau lebih dari gaji guru PNS golongan III B.

Keluarga ini punya tiga anak. Saat ini, yang masih tinggal di rumah keluarga itu hanya dua, karena yang sulung telah menikah. Anak yang nomor dua sekarang berumur 22 tahun, dan yang bungsu 19 tahun. Sepulang sekolah, anak-anak ini langsung menyusul kedua orangtuanya yang sejak pagi sudah bersawah. Kebiasaan ini mereka lakukan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Pendidikan anak-anak keluarga ini hanya sampai bangku Sekolah Menengah Pertama.

Sebenarnya sangat sayang jika pendidikan anak-anak ini hanya berhenti sampai di situ. Mereka ini tergolong anak-anak yang berprestasi. Peringkat kelas mereka selalu di atas lima besar.

Cerita yang sedikit berbeda datang dari keluarga yang hanya punya sawah sempit. Mereka sekolahkan anaknya sampai SMP — bahkan ada yang hanya sampai SD — dan setelah lulus, anak-anak ini langsung merantau ke Jakarta. Yang perempuan jadi pembantu rumah tangga atau karyawan salon. Yang laki-laki bekerja di “proyek” (kuli bangunan).

Sebenarnya, kalau untuk menyekolahkan, hasil bertani orangtua mereka sudah cukup. Tapi, mungkin karena sudah tradisi atau apa, ini tetap terjadi. Ujung-ujungnya, sepulang dari merantu dan setelah mereka menikah, mereka kembali menekuni profesi tani yang sebelumnya telah ditekuni oleh kedua orangtua mereka.

Bagi para orangtua di Gawan, sekolah tak begitu penting. Mereka punya asumsi bahwa sekolah belum tentu dapat menjadikan anak-anaknya lebih sukses dari kehidupannya yang sekarang, dan hanya menghabiskan uang saja. Pernyataan ini, rasa-rasanya, dapat diterima mentah-mentah oleh anak-anak mereka tanpa berpikir panjang.

Tahun 2007 kemarin, ada beberapa mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Semarang yang melaksanakan KKN (kuliah kerja nyata) di Gawan. KKN ini bertujuan untuk memberantas buta aksara. “Teknik” yang digunakan para mahasiswa KKN ini adalah dengan memberi uang Rp 10 ribu kepada setiap orang yang datang dan ingin belajar membaca.

Anehnya, mereka tak datang untuk belajar membaca, tapi hanya untuk minta uangnya saja. Sebabnya, Rp 10 ribu itu setara dengan upah setengah hari kerja di sawah sebagai kuli. Nah, kalau ada KKN, dengan duduk manis, mendengarkan, sambil bercanda beberapa jam, mereka bisa dapat bayaran Rp 10 ribu — meski tak tahu apa yang diajarkan oleh mahasiswa IKIP itu. Memang hanya beberapa orangtua yang tak bisa membaca di Gawan. Tapi setidaknya, kalau mereka tak ingin belajar membaca, mending tak usah berangkat. Kasihan mahasiswa yang mengeluarkan Rp 10 ribu itu.

Inilah sebuah fenomena yang seharusnya tak ada lagi dalam upaya memajukan dunia pendidikan negeri ini. Melihat perkembangan jaman yang kian modern — apa-apa menggunakan alat serba canggih — tentunya akan menarik masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya agar tidak tertinggal dengan yang lain. Tapi ini tidak, bahkan antusiasme masyarakat Gawan untuk pendidikan masih sangat rendah.

Jika masyarakatnya masih ada yang seperti ini, maka upaya yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain akan sia-sia. Pertanyaan besarnya, bagaimana memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan, hingga mereka termotivasi untuk menyekolahkan anak-anaknya?

Subiharto, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

8 thoughts on “Kampung Petani, Miskin Pendidikan”

  1. nancy says:

    Aduh miris sekali memabaca cerita seperti ini. Pemerintah tidak seharusnya berpangku tangan dan mulai menitikberatkan pada pendidikan dan usaha untuk mencerdaskan bagsa.
    Siapa tahu diantara anak-anak yang tak bersekolah itu ada calon-calon pengganti Einstein yang nantinya bisa mengharumkan bangsa.
    Saya pernah bertemu dengan seorang pemuda, anak tukang sayur dari desa yang menjadi juara Olimpiade Fisika tingkat Internasional. Jika anak-anak seperti ini tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka maka, semua potensi itu akan terkubur bersama dengan jasadnya. Sayang kan? Kita aja yang otaknya pas-pas-an berjuang untuk menaruh impian setinggi bintang di langit.

    Proses untuk mencerdaskan bangsa memang butuh waktu dan usaha. Syukurlah jika ada anak-anak muda entah dari UKSW atau PGRI yang mau memikul beban ini, menebarkan mimpi kepada mereka yang tak mengenal apa itu mimpi.

  2. wit says:

    Jika masyarakatnya masih ada yang seperti ini, maka upaya yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain akan sia-sia. Pertanyaan besarnya, bagaimana memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan, hingga mereka termotivasi untuk menyekolahkan anak-anaknya?

    lebih parah lagi, ternyata para lulusan sekolah termasuk perguruan tinggi menjadi penambah daftar pengangguran di Indonesia, ini tentu mempengaruhi motivasi untuk sekolah, akankah sekolah hanya untuk menjadi penganggur?

    tapi seperti kata nancy (nancy dinar, — tumben sampai sini?, dulu sy tahu nama anda dari website-website ‘rohani’ ) kita tetap perlu “menebarkan mimpi kepada mereka yang tak mengenal apa itu mimpi.”

    mereka mungkin termasuk orang-orang yang “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”,
    siapa yang perlu memberitahu bahwa mereka tidak tahu dan bahwa mereka perlu tahu.?

  3. Pdt Masada Sinukaban says:

    Syalom,
    Sebenarnya kalau Kita masih “Punya Hati Nurani”, Jujur Saja Kampus Sebesar UKSW ini Untak Apa Rupanya hadir di Jawa Tengah ini?? Bantulah Mereka, Masak kampus Sebesar ini Tidak bisa Membantu Anak-anak yang kurang mampu seperti itu, Rektor, Dosen dan Mahasiswa-i Perlu membuat sebuah Acara Untuk menggalang Dana Bagi mereka yang Membutuhkan Bantuan untuk Studi. Ayo, buat Acara malam Dana “Malam Peduli Anak Putus Sekolah atau Malam Peduli Pendidikan”. Mungkin kalau hal itu dilakukan maka, Ada Ratusan Juta atau juga mungkin Milyaran Rupiah bisa kita Kumpulkan untuk mereka. Masalahnya “Apakah Kita Masih Punya Hati Nurani??? Atau “Kasih Sudah Menjadi Dingin” he,he, he Saya Bersedia juga mencari Donatur untuk itu, Satu atau Dua Orang Anak bisa Saya bantu, GBU

  4. Theofransus Litaay says:

    Saya setuju dengan cambukan semangat yang disampaikan pak Pendeta. Dalam waktu dekat, Campus Ministry UKSW juga akan mendorong program Peduli Pendidikan. Melalui program ini kita bersama-sama bisa membantu mereka yang kurang mampu, melalui penyediaan biaya pendidikan khususnya uang sekolah.
    Ada anak orang miskin tidak mampu membayar uang sekolahnya Rp 3000 per bulan. Saya tidak mengada-ada, ini kejadian nyata di Salatiga. Bayangkan harga sebungkus rokok yang dikonsumsi seorang mahasiswa di kafe kampus, ternyata mampu membayar 2 bulan atau 3 bulan uang sekolah bagi anak miskin yang ada di sekitar kita.
    Bentuk bantuan bisa berupa uang dan barang (alat-alat sekolah). Jika berupa uang, maka penyalurannya bisa disalurkan langsung ke sekolah yang terkait.
    Saya rasa dalam waktu dekat Campus Ministry akan segera mengumumkan inisiatif ini, karena tadi siang istri saya sudah ikut rapat membahas masalah tersebut dan rencana kegiatannya.

  5. Subiharto says:

    Terima kasih pada semua yang telah aktif menanggapi coretan saya ini, semoga berawal dari sini kita dapat menemukan solusi dalam mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain khususnya dalam dunia pendidikan. Amin…..!!!

  6. pujianto says:

    wah ojo elek elek kampunge dewe,sori pak subiarto cobo liat di desa sebelahnya yaitu desa krangkong disitu banyak orang yang berpendidikan lho pak,ada master degree nya.coba di teliti laga.puji wong krangkong

  7. Subiharto says:

    @ Kang Anto : Bukan maksud menjelek-jelekkan atau apa, saya hanya memaparkan kondisi yang ada di Kampung saya. Sejauh yang saya amati, dan hingga saya menyimpulkan bahwa kampungku miskin pendidikan itu karena faktanya orang yang mengenyam pendidikan sangat minim.

    Maaf, jika saya kurang peka melihat Dusun tetangga, Krangkong. Beberapa yang saya tahu, termasuk Anda, Nur, Rully, dll, memang kuliah, tapi maaf jika saya tidak tahu hingga ada yang bergelar master degree. Dan Puji Syukur, sekarang sudah mulai marak dari tetangga-tetangga Anda yang mengais ilmu hingga bangku kuliah.

    Di Dusun saya, memang ada beberapa sarjana, namun nampaknya masih bisa dihitung dengan jari tangan. Dan hingga detik ini saya belum melihat, upaya dari sarjana-sarjana yang ada untuk membangun kampungnya sendiri, khususnya upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang ada.

    Menurut saya, inilah yang perlu kita pikirkan bersama, bagaimana memotivasi mereka, memberikan pemahaman bahwa pendidikan itu sangat penting. Dan bukan hanya itu, tapi bagaimana agar pendidikan yang di enyam penerus-penerus Desa itu tidak mentok sampai bangku SMP, bahkan hanya SD.

  8. Pingback: Aku Belajar Menulis ; Scientiarum « Subiharto.com
  9. Trackback: Aku Belajar Menulis ; Scientiarum « Subiharto.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *