FMA 2008: Australia Ikut Peduli

Browse By

Kath Ellis guncang pengunjung FMA, 25 Oktober 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Kath Ellis guncang pengunjung FMA, 25 Oktober 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Alpha House, komunitas seni dari Sidney, ikut berpartisipasi dalam Festival Mata Air 2008 di Salatiga. Hugh Coffey dan Kath Ellis memberikan penampilan penuh semangat selama kurang lebih sejam kemarin, 25 Oktober 2008. Kath membawakan beberapa lagu dengan ekspresif dan Hugh memainkan gitar dengan semangat. Bersama dua mahasiswa, Aswin (drummer) dari Jakarta dan Harjuna (bassist) dari Salatiga, mereka menarik perhatian penonton di Kalimangkak sejak petang.

Namun, di tengah-tengah penampilan mereka, sempat terjadi kericuhan kecil pada kerumunan penonton. Kath berusaha menghentikan kericuhan tersebut dari atas panggung. Setelah kericuhan berhenti, mereka melanjutkan penampilan mereka dengan lagu berikutnya tanpa mengurangi semangat.

Sebelum tampil, dengan logat Australia-nya, Hugh menjelaskan bahwa ini adalah tahun kedua mereka berpartisipasi dalam FMA. Mereka ingin membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat lingkungan. Selain itu, mereka juga ingin berbagi kebahagiaan dalam musik dan mempererat hubungan Australia dan Indonesia.

To touch their hearts, engage communication, and to show that you can find good people anywhere,” jawab Hugh saat Scientiarum menanyakan misi mereka di FMA. Mereka ingin menyentuh hati masyarakat, sehingga mereka sadar untuk menjaga dan merawat lingkungan. Mereka juga ingin, dengan adanya acara ini, masyarakat mampu menjalin komunikasi yang baik dan menyadari bahwa banyak orang baik yang dapat mereka temui dimanapun.

Dengan sedikit terbata, Hugh menutup wawancara dengan mengatakan, “Saya cinta Indonesia.”

Harapan untuk mahasiswa

Komunitas Tanam Untuk Kehidupan menggelar Festival Mata Air 2008 bertema “Air untuk Semua” di Kalimangkak, 24 hingga 26 Oktober 2008. Dengan digelarnya FMA 2008 di Kalimangkak, TUK berharap, sawah di sana tak di-“sihir” jadi perumahan, karena sawah Kalimangkak adalah salah satu tempat resapan air di Salatiga.

Salah satu mainan dari barang bekas di FMA 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Salah satu mainan dari barang bekas di FMA 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Dalam kesempatan kali ini, TUK memang lebih memperhatikan tentang air yang keadaannya mulai memprihatinkan. “Di sini terdapat sungai yang tujuh tahun yang lalu mungkin masih ada kura-kura dan ikan. Tapi sekarang banyak sampah dari pasar,” kata Eric Setia Darmawan, manajer staf FMA 2008.

Dengan bekerjasama dengan banyak komunitas dari banyak daerah, TUK mampu mengumpulkan orang-orang yang peduli dengan lingkungan. Setiap daerah mengirimkan wakil untuk mengisi acara di festival ini. Beberapa daerah yang berpartisipasi adalah Salatiga, Yogyakarta, Blora, Bali, Medan, bahkan Sidney. Mereka bersatu dalam sebuah misi, yaitu untuk membuka pikiran masyarakat melalui seni budaya bahwa masalah lingkungan adalah masalah bersama.

Festival ini dirancang untuk menjangkau orangtua, remaja, dan anak-anak. TUK ingin menambah pengetahuan para orangtua dan menyadarkan para remaja tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mereka juga ingin membekali anak-anak dengan pengetahuan tersebut, agar nantinya mereka dapat ikut serta menyelamatkan lingkungan.

“Kami mengharap mahasiswa mau bergabung untuk membangun sistem demokrasi pada humanisme dan pelestarian lingkungan,” kata Djuawadi dari Anak Seribu Pulau, komunitas peduli lingkungan di Blora yang berafiliasi dengan TUK.

One thought on “FMA 2008: Australia Ikut Peduli”

  1. Pdt Masada Sinukaban says:

    Syalom,
    Ayo Peduli Lingkungan Hidup!!!

    Lestarikan Air, JAGA HUTAN, JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN DAN HEMAT ENERGI DEMI BUMI KITA YANG HANYA SATU-SATUNYA INI!!

    dan Dukung Gerakan “Tanam Pohon” 1-2 setiap orang dimanapun Kita berada!!

    KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA DAN MAYIM MERIBA PDT MASADA SINUKABAN

    GBU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *