Antara Evolusi dan Penciptaan

Fakultas Biologi menyelenggarakan seminar bertajuk “Manusia Jawa Purba: A New Adventure” di ruang E123 kampus Satya Wacana pada hari Kamis, 9 Oktober 2008. Seminar ini membahas evolusi manusia dan masa depan kemanusiaan. Harry Widianto, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, hadir sebagai pembicara pertama.

Harry Widianto adalah doktor paleontologi lulusan Perancis. Tingginya sekitar 160 sentimeter dan berpostur agak gemuk. Harry sering memakai kosakata bahasa Jawa untuk mendeskripsikan bentuk fosil.

Ketika menjelaskan proses evolusi manusia, Harry lebih banyak mengacu pada kapasitas tengkorak atau volume otak fosil manusia purba. “Dalam evolusi manusia, bagian yang paling banyak mengalami perubahan adalah bagian kepala manusia. Hal ini disebabkan oleh perkembangan otak yang sangat dinamis dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya,” tulis Harry dalam makalah seminarnya.

Pada Australopithecus, kelompok hominid yang hidup sekitar lima juta tahun lalu, kapasitas tengkoraknya adalah 550 sentimeter kubik. Generasi berikutnya, Homo habilis — yang hidup 2,5 juta tahun kemudian — punya kapasitas tengkorak 150 sentimeter kubik lebih banyak. Lalu Homo erectus — yang hidup antara 1,7 juta hingga 300 ribu tahun lalu — punya kapasitas tengkorak antara 900 hingga 1.000 sentimeter kubik. Sedangkan Homo sapiens, spesies manusia modern yang mulai ada sejak sekitar 200 ribu tahun lalu, punya kapasitas otak antara 1.200 sampai 1.400 sentimeter kubik.

“Dari Australopithecus ke Homo habilis saja butuh waktu jutaan tahun untuk berevolusi. Itu pun pertambahannya (kapasitas tengkorak — Red) tidak banyak. Dari Homo habilis ke Homo erectus juga begitu, butuh jutaan tahun. Tapi kok ini dari Homo erectus ke Homo sapiens, yang pertambahan volume otaknya cukup banyak, terjadinya begitu cepat, hanya butuh sekitar 100 ribu tahun? Lha, ini kan nggak mungkin,” kata Harry.

Multiregional hypothesisPerdebatan pun meramaikan dunia paleoantropologi. Ada dua hipotesis yang muncul, yakni Multiregional dan Out of Africa.

Hipotesis pertama bersikukuh dengan pendapat bahwa Homo sapiens merupakan hasil evolusi gradual dan terus-menerus dari Homo erectus. Gustav Schwalbe, ahli anatomi dari Jerman yang memulai hipotesis ini, menyatakan bahwa ada rangkaian evolusi dari Pithecanthropus di Jawa, menuju Homo neanderthalensis di Eropa, hingga Homo sapiens masa kini. Pendapat ini dipertegas Franz Weidenreich setengah abad kemudian. Ahli anatomi dari University of Strasbourg itu memberi gambaran jalur evolusi paralel di Dunia Lama (Eropa, Asia, dan Afrika — Red), mulai dari Homo erectus, Homo sapiens arkais, hingga Homo sapiens modern.

Sedangkan hipotesis kedua, Out of Africa, menyatakan bahwa Homo sapiens berasal dari suatu tempat di Afrika dan mulai menyebar sejak sekitar 100 ribu tahun lalu. Dalam penyebaran itu, Homo sapiens mendominasi hingga akhirnya menyebabkan kepunahan Homo erectus. “Jadi ada kemungkinan kalau Homo sapiens pernah duduk semeja dan makan bareng dengan Homo erectus,” kata Harry.

Harry sendiri mengaku lebih condong pada Out of Africa. Dulu, ketika menulis disertasi doktoralnya, ia membagi evolusi manusia menjadi dua jalur. Pada jalur pertama digambarkan, evolusi manusia dimulai dari Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus, dan kemudian hilang. Harry memakai notasi “?” untuk kekosongan pasca-Homo erectus. Sedangkan pada jalur kedua digambarkan, Homo sapiens tak punya — belum punya atau belum ditemukan — akar evolusi, hingga Harry menuliskan notasi “?” sebagai akar evolusi manusia modern.

***

Liang Bua adalah salah satu gua di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di gua itulah, pada September 2003, Mike Morwood, Peter Brown, serta beberapa koleganya menemukan rangka manusia purba berusia sekitar 18 ribu tahun. Rangka itu ditemukan pada kedalaman 5,9 meter dari permukaan tanah. “Rangka ini hampir utuh, sangat rapuh, dan belum menunjukkan proses fosilisasi sama sekali, atau belum tertutup oleh kalsium karbonat,” tulis Harry tentang rangka yang kemudian diberi kode Liang Bua 1 (LB1) itu.

Rangka LB1 bertinggi badan 106 sentimeter. Kapasitas tengkoraknya sekitar 380 sentimeter kubik, jauh di bawah Homo erectus (1.000 sentimeter kubik) dan Homo sapiens (1.400 sentimeter kubik), dan bahkan di bawah simpanse (450 sentimeter kubik). Semua ciri fisik tersebut, kecuali alat-alat mastikasinya (rahang maupun gigi), mirip dengan Australopithecus afarensis yang hidup di Afrika antara 3,9 hingga 2,9 juta tahun lalu.

Dalam makalah seminarnya, Harry mencatat pernyataan Brown atas LB1, “Kombinasi karakter primitif dan asal yang mosaik, unik, dan tidak ditemukan pada hominid lain.”

LB1 kemudian dianggap sebagai spesies baru dari genus Homo, dengan tatanama binomial Homo floresiensis. Spesies ini sering diidentikkan dengan Hobbit, ras manusia cebol yang muncul dalam fantasi The Lord of the Rings karya John Ronald Reuel Tolkien, seorang penulis-cum-filolog dari Inggris.

Penamaan rangka LB1 sempat mendapat kritik dari Teuku Jacob, profesor antropologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Jacob menyatakan, LB1 bukanlah spesies baru. LB1 adalah Homo sapiens yang mengalami pengerdilan karena menderita mikrosefali, suatu kelainan dalam proses perkembangan saraf otak. Sementara itu, Maciej Henneberg, profesor ilmu anatomi dari University of Adelaide, menyatakan bahwa tengkorak LB1 sangat identik dengan tengkorak dewasa manusia modern yang hidup sekitar empat ribu tahun lalu di pulau Kreta, Yunani. Henneberg sepakat dengan Jacob, LB1 hanyalah Homo sapiens pesakitan.

“Pernyataan Jacob dan Henneberg ini akan mendapat tantangan serius apabila dihubungkan dengan banyaknya jumlah individu minimal, yaitu tujuh individu, yang semuanya mempunyai postur tubuh yang sama, kerdil,” tulis Harry. “Dalam hal ini, patologi akan lebih bersifat sebagai kasus individual, dan bukan pada suatu populasi.”

Frontal lobeHasil penelitian Dean Falk dari Florida State University terhadap cetakan otak LB1 membantah pendapat Jacob dan Henneberg. Lobus frontal LB1, yang merupakan daerah pemroses pemikiran tinggi, menunjukkan pembesaran signifikan. Lobus temporalnya (fungsi memori dan emosi — Red) juga telah melebar dan berkembang. Hanya saja, lobus oksipital LB1 masih primitif, mirip dengan milik Homo erectus. Menurut Falk, bisa jadi LB1 adalah Homo erectus yang tinggal dalam lingkungan pulau insuler dengan sumber makanan terbatas, sehingga memungkinkan terjadinya pengerdilan. Falk juga membandingkan cetakan otak LB1 dengan milik Homo sapiens penderita mikrosefali, dan menemukan banyak ketidaksamaan di antara keduanya.

Harry sendiri menyebutkan bahwa lewat pengamatan saksama terhadap tengkorak LB1, terlihat percampuran karakter yang cukup menonjol antara Homo erectus dan Homo sapiens. “Pada Manusia Flores inilah terdapat kombinasi karakter erectus dan sapiens,” kata Harry.

Karakter Homo erectus terlihat pada tengkorak yang rendah dan panjang. Dahinya miring ke belakang dengan penonjolan kening. Di antara dahi dan tulang kening terdapat cekungan. Pada bagian bawah, muka LB1 menjorok ke depan dengan rahang besar dan kekar. Namun muka yang sempit dan tinggi, palatin (tulang yang membentuk langit-langit mulut — Red) sempit, serta morfologi dan dimensi gigi yang modern menyamai ciri Homo sapiens.

“Kalau dilihat dari masa hidupnya yang sekitar 18 ribu tahun yang lalu (periode dominasi evolusi Homo sapiens — Red) itu, seharusnya LB1 dan LB3 dianggap sebagai salah satu variasi Homo sapiens,” kata Harry. LB3 adalah temuan lain yang serupa dengan LB1.

Harry rupanya tak sepakat dengan penggunaan tatanama binomial Homo floresiensis. Ia menulis, “Untuk mendefinisikan sebuah spesies baru, terdapat cara-cara tertentu yang harus diikuti menurut tatanan taksonomik, antara lain: harus benar-benar berbeda dari spesies yang telah ada (habilis, erectus, sapiens), dan bukan pula campuran antara ketiga atau keduanya.”

“Dalam hal ini, ketentuan-ketentuan tersebut tidak terlihat, karena Manusia Flores adalah campuran erectus dan sapiens, sehingga bukan sebuah spesies baru. Oleh karenanya, namanya adalah Homo sapiens floresiensis.”

***

Does size matter?” Demikianlah salah satu subjudul buku The Future of the Brain karya Steven Rose, profesor biologi dan neurobiologi dari University of London. Dalam buku itu, Rose mengatakan bahwa otak bukanlah organ uniter. Karena itu, argumen “bigger-means-better” — untuk volume otak — adalah argumen yang “over-simplistic“, katanya.

Rose lantas menyebut apa yang disebut antropolog evolusioner Terrence Deacon sebagai “Chihuahua paradox“. Anjing Chihuahua punya ukuran tubuh lebih kecil daripada Alsatian, ras anjing gembala dari Jerman. Namun ukuran otak mereka kurang lebih sama. Itu artinya, Chihuahua punya rasio tubuh-otak lebih tinggi daripada Alsatian. Meski demikian, kedua ras anjing itu tak pernah dibedakan berdasarkan tingkat intelejensinya. Maka, jika bicara soal perkembangan otak, pasti ada faktor lain yang berpengaruh ketimbang besar volumenya saja.

Dengan pendekatan biologi molekuler, para ilmuwan berkesempatan mempelajari ontogeni otak manusia secara “lebih tidak simplistis”. “Dengan bioinformatika (penerapan teknik komputasional dalam biologi — Red) kita bisa melakukan analisis pohon kekerabatan serta menganalisis struktur gen dan genom, kandungan gen yang sama dalam genom, keteraturan posisi gen di dalam genom, rata-rata kesamaan urutan, dan filogenomik,” kata Ferry Fredy Karwur sambil membacakan makalah seminarnya.

Menurut Ferry, “Melalui pendekatan-pendekatan molekuler kita boleh lebih kokoh memahami bahwa migrasi dan pola persebaran manusia modern di muka bumi terjadi melalui teori Out of Eden.”

Ferry adalah pengampu matakuliah Evolusi di Fakultas Biologi. Ia seorang PhD di bidang biologi molekuler dari Imperial College, satu universitas di London yang menurut THES-QS World University Rangkings 2008 adalah universitas terbaik keenam di dunia. Pada seminar evolusi tempo hari, Ferry adalah pembicara kedua, setelah Harry Widianto.

Genom“Menurut teori genetika, ada konservasi genetik,” kata Ferry.

Genom (pembawa informasi genetik suatu organisme — Red) mengandung fosil-fosil DNA yang tak bermutasi atau berubah untuk waktu yang lama. Dengan mengekstrak DNA tulang Homo neanderthalensis, para ilmuwan dapat melakukan perbandingan antara genom Manusia Neanderthal dan Manusia Bijak (Homo sapiens), dan menemukan bahwa genom mereka 99,5 persen sama!

“Hal yang membuat kita terbelalak adalah temuan-temuan di tingkat protein dan DNA, bahwa jarak genom antara manusia modern dan simpanse lebih dekat (dengan tingkat kesamaan DNA genomic 98,7 persen) ketimbang jarak antara simpanse dengan orangutan dan gorila,” tulis Ferry dalam makalahnya.

“Pada titik inilah kita diberi kesadaran baru bahwa ada pintu masuk ke arah studi molekuler-fungsional untuk menyingkap hubungan antara kita, manusia modern, dengan organisme lain dalam kerabat Hominini.”

Tapi kemiripan genom bukanlah segalanya. “Meskipun genomnya sama, tapi kalau ekspresi gennya beda, ya beda kan?” tandas Ferry. Dalam makalahnya, ia mengutip pernyataan ahli genetika manusia Mary-Claire King dan Allan C. Wilson: “A relatively small number of genetic changes in systems controlling the expression of genes may account for the major organismal differences between humans and chimpanzees.

Perbedaan-perbedaan morfologis dan kognitif antara manusia dan simpanse terjadi karena perbedaan ekspresi gen. Hasil studi ekspresi gen neokorteks (selaput luar otak — Red) manusia dan simpanse, yang dipublikasikan Mario Caceres beserta kolega-koleganya pada Oktober 2003, menyatakan bahwa setidaknya ada 169 gen yang menunjukkan perbedaan ekspresi, terutama gen-gen yang terletak di wilayah korteks. Empat bulan kemudian, Monica Uddin, Derek Wildman, dan kolega-koleganya turut memublikasikan laporan studi yang menyatakan bahwa profil ekspresi gen simpanse lebih dekat dengan manusia ketimbang gorila.

“Wildman et al.,” demikian tulis Ferry untuk Wildman, Uddin, dan kolega-kolega mereka, “berdasarkan studi mereka terhadap 90 kbp dari 97 gen manusia, simpanse, gorila, dan orangutan, menyimpulkan bahwa simpanse harus dimasukkan ke dalam genus Homo karena memiliki kesamaan yang sangat tinggi (99,4 persen) pada mutasi-mutasi yang secara fungsional penting (mutasi non-sinonim).”

Sebagaimana telah dilakukan pada simpanse dan manusia, untuk memastikan hubungan kekerabatan antara Homo sapiens dan Homo neanderthanlensis, maka harus diadakan pengujian ekspresi gen di antara keduanya. “Nah, ini yang susah, lha wong organismenya sudah mati,” kata Ferry. “Tapi, dalam batas-batas bioetika, mungkin kita bisa lakukan pengujian ekspresi gen (Homo neanderthalensis) dengan menanamnya pada sistem kultur sel manusia.”

***

“Tidak ada kekekalan hayati,” tulis Ferry dalam makalahnya, “pun di aras molekuler. Gen datang dan pergi. Ia muncul, mengalami modifikasi berangsur-angsur atau radikal menuju perubahan fungsi, dan mengalami kematian.” Gen yang telah mati bisa jadi pseudogen, sampah yang terakumulasi dalam genom.

Lantas pertanyaannya, apa — atau siapa — yang bertanggungjawab atas mekanisme-mekanisme molekuler tersebut?

Mengutip Francois Jacob, ahli biologi pemenang Nobel dari Perancis, Ferry menjawab bahwa semua mekanisme tersebut terjadi melalui proses tinkering (secara asal saja), yakni proses penciptaan hal baru lewat kombinasi acak dari bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya.

“Pada saat yang bersamaan pula muncul pertanyaan menantang dari sudut epistemologis dan etis: Apakah kita dibolehkan untuk memahami ekspresi gen-gen agar tersingkap pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia telah berevolusi dan menjadi spesies yang paling perkasa di jagad raya ini.”

Namun tak ada satupun hadirin seminar yang bisa menjawab pertanyaan ini hingga seminar usai, termasuk dua penanggap ahli waktu itu: Jubhar Christian Mangimbulude dan Yulius Yusak Ranimpi.

Yulius hanya memaparkan pandangannya mengenai psikologi evolusioner, sebuah pendekatan yang melihat bahwa ciri-ciri mental dan psikologis manusia merupakan produk fungsional dari seleksi alam. Sebelum mengakhiri jatah bicaranya, Yulius menekankan pentingnya studi tentang otak, dari sisi psikologis dan biologis, dalam penelitian lebih lanjut tentang evolusi manusia. Ia melontarkan wacana kerjasama antara Fakultas Psikologi dan Fakultas Biologi.

Izak Lattu, moderator seminar yang juga dosen Fakultas Teologi, pun ikut angkat bicara di akhir seminar. Menurutnya, dari sudut pandang teologis, “teori Penciptaan” yang tertera pada kitab Kejadian di Alkitab tak akan masuk di akal manusia, “Kalau kita baca Alkitab secara tekstual (saja).” Artinya, harus ada penafsiran. Jika dalam kitab Kejadian disebutkan (secara tekstual) bahwa dunia diciptakan dalam waktu enam hari, mungkin enam hari yang dimaksud bukanlah “enam kali 24 jam” seperti pengertian “hari” yang dipahami secara umum. “Mungkin waktu Tuhan beda dengan waktu kita,” kata Izak.

“Mungkin saat ini, kelihatannya, ilmu pengetahuan dan agama itu seperti dua rel yang sejajar. Tapi mungkin nanti, suatu saat, kita nggak tahu kapan, dua rel yang sejajar tadi bisa ketemu di satu titik,” tambah Harry Widianto.

Saya jadi teringat kata-kata fisikawan Fritjof Capra dalam buku The Tao of Physics: “Physicists do not need mysticism, and mystics do not need physics, but humanity needs both.

32 komentar pada Antara Evolusi dan Penciptaan

  1. wit 27 Oktober 2008 pukul 12:28

    sebagai referensi lain, silakan lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Kent_Hovind#Hovind.27s_.24250.2C000_offer ,
    telusuri juga teori-teori Dr Kent Hovind.

  2. rino 27 Oktober 2008 pukul 12:32

    wah ini acara penting banget,,, gimana caranya biar alumni pada ngerti tiap ada acara menarik? ini kan mencari hubungan antara iman dan ilmu.

  3. kuro 27 Oktober 2008 pukul 14:56

    sungguh tulisan yg sangat bagus sekali bagi saya..
    evolusi dan penciptaan memang menjadi debat yg tak kunjung usai dari jaman dulu sampai sekarang

  4. Pdt Masada Sinukaban 29 Oktober 2008 pukul 21:01

    Syalom,

    Sebenarnya Masalah ini sudah tidak terlalu penting, kalau bisa dibilang yah sudah menjadi brita lama, dari dulu kita selalu di kasi info soal Teori Evolusi dan sejenisnya. Tapi yah, ndak pernah selesai untuk di diskusikan, Usul Saya, Lebih baik “Tanam Sebatang Pohon Mangga” Siapa tahu besok Berbuah lalu kita Makan atau kalau ada Uang Anda sedikit bagikan kepada yang Membutuhkan. Itu saja, daripada Membicarakan Teori ini terus menerus, he, he, he GBU

  5. STR 30 Oktober 2008 pukul 0:07

    Syalom Pak Pendeta,

    Saya yakin setiap hal punya kepentingannya sendiri-sendiri, seperti setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing (sesuai dengan keadilan Tuhan sebagai penciptanya). Saya sepakat, menanam sebatang pohon mangga untuk menikmati buahnya esok, atau membagikan uang kepada mereka yang butuh, adalah sesuatu yang penting. Namun, perlu diingat, apa yang penting bagi Anda belum tentu penting bagi orang lain. Juga, apa yang tak penting bagi Anda belum tentu juga tak penting buat orang lain.

    Sekian dulu.

    Oya, satu lagi. Apa yang penting buat Anda, belum tentu penting juga buat Tuhan, pun sebaliknya.

    Terima kasih.

  6. wit 30 Oktober 2008 pukul 5:09

    @STR
    ha ha ha… obrolan waktu makan sore, kamu tulis buat menjawab pak Pendeta…

    @Pdt Masada Sinukaban,
    Pak pendeta, komentar STR itu sering saya pakai untuk menjawab orang-orang yang mengatakan “tidak penting” ketika saya mengangkat isue-isue tentang kekristenan, misalnya tentang Allah dan Yahweh, tentang UFO, tentang Yesus ke Tibet, tentang setan, jin dan roh jahat, tentang natal 25 Desember, tentang paskah 14 Nisan.

    Pak Pendeta sering berkotbah?
    apa yang Bapak kotbahkan? apakah hal yang penting juga? kalau tidak penting, mengapa Bapak kotbahkan? menanam pohon mangga saja tiap minggu, dari pada berkotbah atau mendengarkan kotbah yang bersumber dari ayat-ayat Alkitab ditambah tafsir yang sudah bisa dibaca di buku-buku atau internet. kotbah di televisi atau radio, kadang lebih bagus, ha ha ha….

    kadang saya ke gereja dan menilai yang dikotbahkan pendeta tidak penting buat saya….
    pengakuan iman tiap minggu itu juga tidak penting buat saya Pak, sekali saya mengaku percaya pada Tuhan, sudah cukup, tidak perlu tiap-tiap minggu saya ulangi. Tuhan-pun mungkin bosan mendengar pengakuan iman yang diulang-ulang tiap minggu.
    bahkan kadang saya berpikir tidak penting juga ke gereja tiap minggu, yang penting saya masuk surga, dan ke gereja bukan jaminan masuk surga.
    Kalau ke gereja hanya untuk mencari berkat, kadang sy berpikir tidak perlu tiap minggu pergi ke gereja, karena pendeta selalu bilang, “semoga berkat dan damai sejahtera dari Bapa di Surga ada pada saudara sekalian hari ini sampai selama-lamanya” (bukankah cukup sekali saja ke gereja, berkatNya sudah selama-lamanya… he he he…)
    bagi saya juga tidak penting saya beragama kristen kok pak, silakan baca tulisan saya di http://gkmin.net/?p=113

    so.. sama dengan komentar STR, yang penting buat anda, belum tentu penting buat orang lain, dan sebaliknya.

  7. masya 4 November 2008 pukul 10:21

    @ STR : Great article bang… ^_^

    @ pak pendeta :
    Syalom bpak.. biarpun evolusi ini telah menjadi berita lama dan menurut bpk tidak terlalu penting, pandanglah bahwa ilmu pengetahuan ini selalu berkembang. Ketika ini sering diperbincangkan dan menjadi sesuatu yang kontroversial justru hal ini sangat penting. Evolusi justru menjadi suatu kebutuhan pengetahuan masa mendatang kita. Evolusi bukan hanya sekedar teori karena telah banyak bukti fisik yang tersedia.. (see national geographic bulan ini)
    Mungkin bapak melihat evolusi dari sudut pandang sebagai seorang pendeta dan akhirnya akan menimbulkan kepntingan yang beda pula. Coba liat dari sudut pandang yang laen juga…

    setuju dengn Wit n STR bhwa yang penting bagi bapak lom tntu pntng unk orng lain

    THx N GBUs!

  8. Theofransus Litaay 4 November 2008 pukul 18:00

    Percaya tidak percaya, di Amerika Serikat masalah ini masih menjadi perdebatan yang sangat serius dan bahkan mempengaruhi berbagai badan pendidikan di banyak negara bagian dalam penyusunan kurikulum pendidikan sains mereka. Bisa dilihat dalam perdebatan isi kurikulum mengenai masalah “Creationism” atau juga mengenai “Intelligent design” [ bisa diklik di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Creationism#Intelligent_design ]. Jadi bagi orang di tempat lain ini memang masalah penting. Dalam pemilihan presiden amerika pun kita bisa mengidentifikasikan para pendukung partai atau calon berdasarkan pandangan mereka terhadap isu ini.
    Bagi banyak orang di Indonesia pun ini masih merupakan masalah penting. Coba saja anda katakan kepada masyarakat bahwa “Bukan Tuhan yang menciptakan langit bumi dan isinya” atau dengan pernyataan yang lebih menukik “Adam dan Eva bukanlah ciptaan Tuhan dan Taman Eden hanyalah kisah reka-rekaan.” Kira-kira bagaimana reaksi masyarakat?

  9. Dicky Kurniawan 7 November 2008 pukul 13:25

    Hmm. Aku vote utk evolusi.

  10. andi-dobleh 8 November 2008 pukul 2:03

    wah Sat, aku malah gek moco saiki tulisanmu iki, mantab Sat.

    Baru saja tadi siang berbincang dengan Opha dan Triyono, tentang sumbangan SA bagi publik pembacanya.
    Yah Opha, IMO inilah salah satu sumbangan SA bagi publik umum (bukan cuma civitas UKSW).

    Evolusi dan penciptaan
    akan sangat penting untuk memahami bagaimana menjadi seperti saat ini. Seperti dalam halnya ketika pemeluk agama Kristen retreat dan rekoleksi. untuk menilai apa yan sudah diperbuatnya di masa lalu. Ketika kita memahami asal usul kita, itu menjadikan kita sebagai suatu individu yang lengkap; tahu masa lalu, menjalani masa kini, dan mempersiapkan untuk masa depan.

    “Apakah kita dibolehkan untuk memahami ekspresi gen-gen agar tersingkap pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia telah berevolusi dan menjadi spesies yang paling perkasa di jagad raya ini?”

    wah masa gak ada yang bisa jawab sih Sat?
    walau aku gak begitu ngarti “ekspresi gen” tapi tak jawab ahh.. :
    kalau kita mampu, ya boleh bahkan wajib!

  11. STR 8 November 2008 pukul 8:00

    Bleh, makasih apresiasinya. Aku kira teman-teman Fakultas Biologi juga berjasa banyak buat tulisan ini. Mereka bikin seminar yang menarik, dengan pembicara yang menarik pula, sehingga aku tertarik untuk “berkubang” selama 18 hari dalam “lautan ilmu biologi dan paleoantropologi”, sampai tulisan ini selesai.

    Ya, faktanya memang nggak (atau belum) ada yang bisa jawab pertanyaan itu (secara ilmiah). Lha wong pertanyaan sebelumnya aja (soal mekanisme-mekanisme molekuler) dijawab dengan jawaban “secara asal saja”, bahkan oleh seorang pemenang Nobel! Apalagi pertanyaan “mengapa ‘yang asal saja’ itu bisa terjadi?” …

    Kalo secara mistis sih, pertanyaan itu bisa dijawab dengan gampang, “Itu semua pekerjaan Tuhan.” :D

  12. Dicky Kurniawan 9 November 2008 pukul 19:17

    Kalo nggak salah ini pernah didebatkan di fight club kaskus.
    Tapi saat itu temanya buktikan Tuhan itu ada.

    Dari sisi yang pro-Tuhan, banyak yang jawab adalah saat proses penciptaan kehidupan, sup kimia purba.
    Terutama dari pelajaran SMA, teori sup kimia purba adalah salah satu teori asal kehidupan, dari benda mati menjadi benda hidup / lebih tepatnya kalo nggak salah dari benda mati menjadi bahan kehidupan dasar (kalo nggak salah bahan DNA). Lebih lengkapnya cari di Wiki :D

    Tanpa bantuan Tuhan, tidak mungkin sup kimia purba bisa menjadi organisme. Kalau nggak salah inget, ibaratnya kaya sebuah angin topan yang melewati tumpukan sampah besi & tumpukan besi itu bisa menjadi pesawat terbang. Oleh karena itu Tuhan ikut “main tangan” di sana (ikut berperan).

    Tapi, dari pihak yang atheis, mengcounter dengan menjawab kira2, memang kemungkinan benda mati jadi hidup oleh teori sup purba kecil, butuh suatu “kekuatan besar” untuk membuatnya terjadi. Tapi dari situ tidak terlihat adanya Tuhan yang berkehendak, maksudnya yang memiliki sifat. Hanya terlihat adanya suatu “kekuatan misterius”.

    Kira2 demikian, arsip threadnya ada di FC kaskus :p

  13. STR 12 November 2008 pukul 22:05

    Apakah wacana kerjasama Fakultas Biologi dan Fakultas Psikologi jadi terealisasi?

  14. wit 13 November 2008 pukul 3:28

    Kalo secara mistis sih, pertanyaan itu bisa dijawab dengan gampang, “Itu semua pekerjaan Tuhan.”

    itu jawaban orang yang malas berpikir, (sebagian besar) atau yang sudah berpikir tapi sudah mentok….

    Tuhan kok selalu jadi “kambing hitam”, eh… “domba putih”.

  15. Fendy 13 November 2008 pukul 7:52

    Teologi pada awalnya adalah science untuk menjelaskan keberadaan manusia..manusia adalah ciptaan Tuhan cukup memuaskan bagi mereka yang memilih, menganut dan meyakini jalan ini. namun ketika science berdiri sendiri di Era Newton, Darwin dkk maka manusia boleh menolak jika dia tidak dijadikan oleh Tuhan..kita masih kabur dalam memahami “apa” itu Tuhan dan “Siapa” itu manusia, sebaiknya kita sepakat dulu..Tuhan dan Manusia bagi saya adalah konsep yang perlu disepakati. walahualam!

  16. Yulius 13 November 2008 pukul 12:24

    Ajakan (mungkin juga tantangan) untuk adanya kerjasama antara FPsi dan FBio sampai dengan ini belum terrealiasi. Memang sempat secara sambil lalu, Dekan FBio bertanya kepada saya, kapan ajakan tersebut bicarakan. Jujur, saya tidak bisa membawa ajakan itu ke aras konkret karena keterbatasan struktural. Saya memang psikolog dan mengajar di FPsi, tapi tidak berada dalam struktur pengajar tetap di sana. Saya hanya bisa lontaran ajakan kerjasama itu ditangkap oleh pimpinan dari kedua fakultas terkait. Yang bisa saya lakukan hanya sebatas “ngompor”. Thanks ya Sat, pertanyaanmu adalah tanda kawalan yang konsisten atas laporan jurnalismu.

  17. rhembolz alias rhema 18 November 2008 pukul 13:02

    saya paling setuju kalau ada kerjasama antara FaBio dan Fpsi, tapi saya terganjal struktural saya sebagai mahasiswa. saya sering diskusi dengan beberapa teman dari FaBio dan Fteo, bagaimana kalau kita bertiga bekerjasama??? karena saya orang yang mendukung evolusi!

  18. Dicky Kurniawan 19 November 2008 pukul 14:42

    Menurutku walau nanti bertemu 2 fak, memang dalam hal penciptaan, agama & iptek sulit nyambungnya.
    Yah kita imani aja penciptaan berdasarkan agama, walau secara logika manusia (yang terbatas ini) mungkin evolusi terasa “lebih masuk akal”.

  19. Neil Rupidara 20 November 2008 pukul 4:16

    Tuhan memberi kita akal budi untuk memahami ciptaannya dan mengenali Dia dengan baik. Tapi, jangan memerangkap Tuhan dan kuasanya secara sempit. Cerita penciptaan dalam Alkitab pun sulit untuk dimengerti secara harafiah belaka. Science membantu kita menerjemahkan yang sulit dipahami itu agar kita lebih baik memahamiNya. Karena itu, Iman pun harus duduk dalam relasi penuh hormat dengan Ilmu pengetahuan, itu tugas UKSW. Silahkan cek misi UKSW, mencari nisbah Iman dan Ilmu.

  20. adit 10 April 2009 pukul 21:30

    Udah dech ga sah dibahas lagi…
    ga bakalan bisa nyatu dech antara evolusi sama penciptaan…
    Tapi kalo aq sich msh milih penciptaan coz semua Dari TUHAN…..
    ga ada yg bisa ganggu gugat titik!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  21. dominggus 18 Januari 2010 pukul 12:51

    komentar Adit terkesan terburu buru bahkan bernada putus asa…..
    katanya ga perlu dibahas lagi……,tapi pilih penciptaan n ga ada yang ganggu gugat!!!!
    mas, mahasiswa kaya kita ini yang justru seharusnya berdiskusi. Penciptaan ataupun Evolusi itu berbicara tentang kita……nah berarti kita juga yang punya andil untuk sama sama berfikir, lagi pula sudah sangat jelas dari materi yang dah dipaparkan diatas.
    siapa yang bilang Tidak Bisa diganggu gugat???
    dari dulu, Alkitab bisa digunakan untuk mengkritisi sains dan begitu sebaliknya, sains mengkritisi Alkitab
    alkitab pun direfisi kok….. , cuma sedikit orang yang tahu, karena mereka ga pernah baca Alkitab,…….
    God Bless Sains

  22. Neil 19 Januari 2010 pukul 8:31

    @Dominggus, bisa ulas lebih jauh tentang revisi Alkitab? Tanpa penjelasan yang cukup, bisa keliru dipahami.

  23. nando 17 Agustus 2010 pukul 18:20

    satu hal yang mau saya katakan

    saya ini diciptakan menjadi manusia oleh Tuhan saya bukan hasil evolusi dari mkhluk makhluk purba ,saya tidak mau mempunyai seorang nenek moyang seorang kera, tapi nenek moyang saya adam dan hawa,untuk anda yang percaya dengan teori evolusi berbaktilah dengan monyet dan dan sejenisnya karna itu nenek monyang anda

  24. Abrah 19 Agustus 2010 pukul 13:09

    Hanya mau kasi’ link Video supaya lebih cepat memahami!

    Yang belum tahu tentang keruntuhan teori darwin dan penipuanx begitupula yang Ingin meyaksikan Rickhard Dawkins (Evolusionis paling terkemuka masa kini) tak bisa angkat bicara saat disodorkan pertanyaan tentang bukti Evolusi silahkan tonton Videox dsini: http://id.harunyahya.tv/videoDetail/Lang/21/Product/1169/KERUNTUHAN_TEORI_EVOLUSI

    Klo mau downlod Videonya disini: http://174.121.197.240/download/19/07/b730e294fc452b72a96d4f069b8bc7f2/Harun.Yahya.The.Collapse.Of.Evolution.Indonesian.flv

    Yang mengatakan bahwa teori Evolusi cuma skedar teori saja dan tidak perlu dipermasalahkan silahkan tonton Videox dsini: http://id.harunyahya.tv/videoDetail/Lang/21/Product/2211/PETAKA_AKIBAT_DARWINISME_TERHADAP_KEMANUSIAAN

    Klo mau downlod Videonya disini: http://174.121.197.240/download/19/07/9d1dfd2be8785e40eb308aafeab31c10/petaka_akibat_darwinisme_terhadap_kemanusiaan.flv

    Yang mengatakan bahwa teori darwin tidak bertentangan dengan Agama tonton Videonya disini: http://id.harunyahya.tv/videoDetail/Lang/21/Product/3844/KERUNTUHAN_ATEISME

    Klo mau downlod Videonya disini: http://174.121.197.240/download/19/07/03b465f849aca965667c68844868e7d0/ateizmin_cokusu_endonezyaca_site.flv

    Jangan berkomentar sebelum menonton Videonya! karna hanya membuat masalah itu tak pernah berakhir…!

  25. Nova Tumbol 21 September 2010 pukul 15:28

    Hahaha menarik!! Tp jgn berbantah-bantah lah, ksian pdtnya :-),Yg pasti iman tdk akan bs kt pisahkan dgn ilmu. Tulisan2 dlm Alktb khusus Genesis jg adalah hsl dr ilmu walaupun kt hrs jujur katakan ilmu yg terbatas krn pengetahuan saat itu terbatas dan blm ada penelitian2 yg didukung olh alat2 canggih modern sprti saat ini. Misalx penulis Kej.katakan bumi itu sprti lempengan yg ada kaki, ada air di atas,yg ono kranx klau Tuhan marah ya…dtglah banjir n ada air di bawah, itu ilmunya saat itu, tp kt pun hrs ingat bersama bhw Alktb bkn hy buku ilmu doang, klau ilmu doang udah lama byk org tinggalkan,termasuk ai lah! Tp Alktb jg sarat dgn pesan2 Ilahi utk org2 saat itu yg msh up to date smpe kt2 skrng ini, mkx smpai skrng kt tetap akan mencari-cari tau HikmatNya dgn ilmu kt,yg jg berasal drNya,walaupun Dia tdk akan pernah bs diukur olh kt…t e r l a l u luas!!!
    Memang kslamatan tdk hy kt dpt dr instrment grj. Tp apakah sdr mau hdp tanpa persktuan dgn umatNya, bs aja tp klau lg susah, skit or mati?
    -alumi Fak.Teo’91-UKSW-

  26. wiwin 7 Oktober 2010 pukul 9:43

    Bung Abrah, kok video ga bisa di download yah?

  27. Rosita Waite 22 Oktober 2010 pukul 4:29

    evolusi adalah theory, bukan hukum – berarti masih bisa berubah tergantung penemuan2 yg akan datang dan penafsirannya…tdk heran para ahli evolusi masih byk perbedaan pendapat….knp kita mesti memegang theory seolah2 itu kebenaran mutlak?

  28. joko 30 Oktober 2010 pukul 11:29

    menurutku,
    adam adalah manusia pertama di bumi. tapi bukan makhluk pertama di bumi. sebelum adam, ada sekelompok makhluk yang mirip manusia namun mereka bukan manusia.
    sewaktu Tuhan akan menciptakan manusia dan menjadikan manusia itu pemimpin di bumi, malaikat berkata “apakah makhluk seperti itu (malaikat mengacu pada makhluk mirip manusia yang sudah ada di bumi) yang akan engkau jadikan pemimpin di bumi wahai Tuhanku, kemudian Tuhan menjawab yang kira-kira intinya “hanya AKUlah yang tau tentang apa yang aku ciptakan”.
    Tuhan menciptakan adam dan hawa dari saripati tanah (sperma dan ovum) dan menggunakan rahim makhluk di bumi yang mirip manusia itu sebagai tempat embrio adam dan hawa. adam dan hawa lahir tanpa bapak / orang tua, Tuhan hanya menggunakan rahim makhluk bumi yg mirip manusia itu sebagai tempat berprosesnya penciptaan manusia.
    menaruh benih makhluk ke dalam rahim tanpa proses perkawinan juga dilakukan Tuhan kepada ISA yang memiliki Ibu maryam yang tidak bersuami. jadi, penciptaan adam dan hawa serta nabi isa itu setipe.

    kenapa Tuhan tidak menciptakan adam dan hawa secara gaib (dari tanah langsung) ?
    karena kebesaran Tuhan akan dapat kita hayati dan kagumi hanya dengan cara kita mengetahui prosesnya dengan detil dan sempurna.

    analoginya begini :
    anda lebih kagum dengan seorang pesulap seperti bang deddy yang menciptakan sesuatu dengan sulap/ilusi ?
    atau
    anda lebih kagum dengan einstein yang menciptakan sesuatu dengan proses ?
    seperti itulah kira-kiranya.

  29. andre 15 November 2010 pukul 12:20

    emang ada penciptaan yah……..? manusia tercipta oleh papa n mama.. hehehehe

  30. Jill 26 November 2010 pukul 2:31

    Berbicara tentang Evolusi dan Penciptaan masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Tergantung sudut pandang orang mau menilainya seperti apa. Ada yang menganggap tidak penting dan ada pula yang menganggap itu penting. Evolusi merupakan perubahan suatu fungsi, sistem dan lingkungan secara perlahan dalam waktu yang lama. Evolusi juga dapat terjadi terhadap suatu budaya maupun terhadap pola pikir seseorang. Banyak orang yang masih kurang mengerti dengan makna evolusi. Mereka hanya beranggapan bahwa evolusi adalah permasalahan perubahan Kera menjadi manusia. Padahal jika kera menjadi manusia, gak ada kera donk sekarang, kan dah berevolusi menjadi manusia…:-)
    So, permasalahannya bukan itu. Tetapi bagaimana pola pikir kita kedepan untuk menerima atau menjalani berbagai evolusi-evolusi yang akan terjadi seiring dengan teknologi yang semakin maju. Tunjukan kalo kamu memiliki volume otak rata2 1300-1400 cm kubik.
    hehehe

  31. Thio Hok Lay 2 Mei 2011 pukul 13:11

    Wouw…itulah kebesaran Tuhan. Dari semua jenis makhluk ciptaan, Dia sengaja memilih manusia yang jelas-jelas tidak besar, untuk boleh berpikir dan belajar guna melakukan hal-hal yang besar; salah satunya adalah upaya kita untuk mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan tentang kisah penciptaan.

    salam dan doa,
    thio hok lay – alumnus FB, UKSW

  32. lius 15 Juni 2011 pukul 23:26

    Saya senang mempelajari teori evolusi dan penciptaan. sepertinya dua2nya secara logika masuk akal. tapi yang jadi pertanyaan saya sampai sekarng yang belum terjawab dari teori evolusi adalah
    Mengapa sampai sekarg msh ad monyet, simpanse ya? kenapa tidak ber evolusi menjadi manusia?

    mungkin ada yg bisa membantu disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1 pelanggan lain

Pendaftaran Wartawan Baru


Scientiarum membuka pendaftaran wartawan tulis dan foto. Formulir dapat diambil di kantor SA pada jam berapa saja, atau unduh pada tautan berikut:
Formulir SA