FMA 2008: Sinta Bali Desa

Browse By

Teater Kalangan pimpinan Didot Klasta beraksi di Festival Mata Air 2008. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Teater Kalangan pimpinan Didot Klasta beraksi di Festival Mata Air 2008.
{Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Festival Mata Air 2008 mengajak masyarakat untuk melestarikan lingkungan. Ajakan ini disampaikan dalam bentuk seni budaya. Titi Permata, salah satu panitia FMA 2008, menyatakan bahwa cara ini digunakan untuk menjaring kaum muda. Seni jadi daya tarik tersendiri, yang dapat memancing anak-anak muda untuk peduli lingkungan, karena, menurut Titi, tak mudah mengarahkan mereka melalui cara-cara lama seperti orasi atau seminar.

Minggu sore, 26 Oktober, pertunjukan bawah panggung Teater Kalangan terlihat mampu menyedot perhatian orang banyak. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, semuanya berkerumun mengelilingi para pemain.

Didot Klasta memimpin teaternya beraksi bawah panggung. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Didot Klasta memimpin teaternya beraksi bawah panggung. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Konsep pertunjukan bawah panggung ini bukannya tak disengaja. “Panggung itu hanya memisahkan penonton dengan pemain,” kata Didot Klasta, sang sutradara. Ia ingin memberi penonton kesempatan untuk berinteraksi, bukan cuma melihat saja.

Teater Kalangan yang berasal dari kampung Karang Balong, Desa Bener, Kabupaten Semarang, ini selalu mengisi acara Festival Mata Air. Tahun ini pertunjukan mereka berjudul “Sinta Bali Desa”. Mulanya, Didot ingin pakai judul “Sinta Adus” untuk berkisah tentang Dewi Sinta, tokoh cerita klasik Ramayana.

Ceritanya, setelah dibebaskan Hanoman dari tangan Rahwana, Rama meragukan kesucian Sinta. Untuk membuktikan bahwa dirinya masih suci, Sinta terjun ke dalam api. Jika ia masih suci, maka ia tak akan terbakar. Namun, karena festival ini berkaitan dengan lingkungan, api tersebut digantikan air. Dalam hal ini, Sinta melambangkan Dewi Sri, lambang kesuburan dan kehidupan, sehingga ia disucikan oleh air.

Kemudian judulnya diganti lagi jadi “Bedaya Sinta Suci”. Istilah “bedaya” adalah cara menyebut kesenian klasik yang “kelas tinggi” dari istana. Didot ingin mengritik kenapa kesenian ’kelas tinggi’ harus selalu produk istana, produk para artis. Tapi istilah ”bedaya” kurang populer di telinga orang Salatiga. Akhirnya Teater Kalangan, yang beranggota sekitar 80 pemain ini, memutuskan memakai “Sinta Bali Desa” sebagai judul. Di sini fokusnya lebih pada negeri Ngalengka sebagai simbol kemajuan, namun telah kacau seperti kota-kota besar saat ini. Sinta yang ditawan Rahwana di sana, direbut agar kembali ke desa.

Salah satu anak Teater Kalangan yang berperan sebagai monyet untuk Sinta Bali Desa agak kesulitan memadamkan obor. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Salah satu anak Teater Kalangan yang berperan sebagai monyet untuk Sinta Bali Desa agak kesulitan memadamkan obor. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Franky Sahilatua bicara alam

Malamnya, sebagian pengunjung mulai berkumpul di depan panggung untuk menyaksikan penampilan sejumlah band dari berbagai kota. Meski kemudian turun hujan, para penonton tetap setia bernyanyi dan berjoget mengikuti alunan musik.

Menjelang tengah malam, para pengunjung tampaknya tak mau menyia-nyiakan kedatangan Franky Sahilatua, penyanyi balada era 70-an yang ngetop dengan tembang Kemesraan dan Perahu Retak. Jesse, pemuda Australia yang ikut menikmati lantunan lagu Franky, mengakui bahwa penampilan Franky bagus. Walau baru kali ini ia mendengar Franky bernyanyi, ia merasa menyukai lagunya. “Ya, dia keren,” ujar Jesse.

Ketika Franky turun panggung, tim Scientiarum (Kartika Indah Prativi, Bambang Triyono, dan Geritz Febrianto Rindang Bataragoa — Red) mengikutinya ke sebuah kafe. Nama kafe itu Kalimang, karena memang terletak di sebelah Hotel Kalimang.

Di Kalimang, Franky bercerita bahwa sudah sejak remaja ia peduli terhadap masalah lingkungan dan sosial. “Saya itu sahabatnya banyak LSM (lembaga swadaya masyarakat — Red),” kata Franky. Ia mengaku punya banyak sahabat LSM seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, serikat petani, serikat nelayan, dan serikat guru selama sekitar 28 tahun. Lewat lagu Bumi Kita Satu, ia mencoba mengingatkan kita untuk tidak serakah. “Manusia terlalu memaksakan kebutuhannya,” ia berucap.

Contoh keserakahan manusia yang ia paparkan antara lain pengeboran minyak bumi secara besar-besaran, yang ia nilai dapat mengganggu keseimbangan di dalam dunia. Lalu penebangan pohon yang berdampak pada gundulnya hutan. Hal ini menyebabkan pemanasan global yang selanjutnya menimbulkan perubahan cuaca yang sangat ekstrim. Jika hujan, akan deras sekali. Jika panas, temperaturnya jadi sangat tinggi. Franky memberi satu contoh, yakni Surabaya yang suhu udaranya pernah mencapai 42 derajat Celcius. Bila perubahan seperti ini berlanjut, curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan banjir besar. “Panas memukul sawah ladang,” imbuhnya.

Alasan memilih kata “memukul”, kata Franky, kalau misalnya orang dipukul, pasti roboh. Begitu juga dengan sawah ladang. Bila sawah tak lagi bisa berproduksi dengan baik, dunia terancam mengalami kelaparan, kekurangan bahan pangan. Menurutnya, lima tahun saja dari sekarang, temperatur udara akan meningkat banyak. Saat ini, di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam, tanaman padi mengalami pengurangan jumlah bulir tiap tangkainya. Franky menyebutkan, semula satu tangkai padi berisi 220 biji padi, namun kini jumlahnya susut jadi 180-190 biji. Penyusutan itu diakibatkan tekanan panas yang tinggi dan tanah yang kering. Jadi, isapan air ke dalam bulir-bulir padi terlalu sedikit. Selain itu, Franky menambahkan, suhu panas akan membuat hama-hama tanaman seperti serangga, berkembang biak dengan subur.

Franky menyampaikan pendapatnya bahwa kegiatan yang mengampanyekan isu lingkungan seperti Festival Mata Air harus terus giat diselenggarakan. Tak hanya lingkungan, tapi juga aspirasi-aspirasi lain, supaya pemerintah mendengar keluhan rakyatnya. Selama ini, seperti yang kita lihat, rakyat frustrasi karena merasa diacuhkan. Akibatnya timbul pembangkangan terhadap peraturan-peraturan yang ada. Pelanggaran sederhana yang paling sering dilakukan adalah pelanggaran lalu lintas. Pelanggaran ini melibatkan semua lapisan masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, menurut Franky, pemerintah eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus jujur, bersih, dan baik. Sekarang ini bahkan institusi pendidikan sudah jadi industri. Semua dinilai dengan uang.

Saat ditanya apakah Franky tak tertarik masuk dunia politik, ia menyatakan bahwa sebagai seniman ia sudah berpolitik, tapi tidak untuk masuk partai politik. Banyak orang menganggap bahwa berpolitik itu tabu. Namun, jika berpolitik untuk kesejahteraan, kecerdasan, dan kebudayaan, kenapa tidak?

2 thoughts on “FMA 2008: Sinta Bali Desa”

  1. Pingback: Scientiarum » Monyet Kalangan
  2. Trackback: Scientiarum » Monyet Kalangan
  3. Theofransus Litaay says:

    Perubahan iklim global sekarang ini sudah memakan banyak korban. Tidak tentunya cuaca membuat banyak perubahan kebiasaan.
    Jika hanya masih berupa kebiasaan tentunya tidak menjadi persoalan. Akan menjadi persoalan jika yang terjadi adalah bencana alam.
    Itu sebabnya panel ahli PBB pernah meramalkan munculnya banyak pengungsi yang terkait dengan perubahan iklim global.
    Persoalan menjadi parah karena perubahan iklim tentunya akan mempengaruhi perubahan pola tanam bagi tanaman pangan. Itu sebabnya akan terjadi banyak kegagalan panen yang menyebabkan harga pangan menjadi mahal dan menyebabkan orang miskin (khususnya) mendapat dampak yang sangat keras dan jatuh sakit. Lingkaran setan kemiskinan menjadi tidak henti-hentinya berputar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *