Tribal Fusion Ads

Tolak TV?

Resensi ini telah dilihat 322 kali sejak 30 October 2008

Berani Nolak TV?!Judul: Berani Nolak TV?!

Penulis: Kunsri Budiasih

Penerbit: DAR! Mizan

Rilis: 2005

Genre: nonfiksi, media

ISBN: 979-752-152-4

Televisi, televisi, televisi …. Siapa yang tidak kenal? Sumber informasi paling populer sekaligus kontroversial. Lalu apa jadinya kalau kamu yang gantian ditonton sama televisi?

Jangan takut, buku Berani Nolak TV?! ini akan mengubah cara pandang kita. Buku ini berisi pengamatan dan renungan tentang penyiaran televisi Indonesia. Begitu luasnya cakupan televisi dan beragamnya sudut pandang menjadikan buku ini menarik untuk dibaca. Buku ini juga punya nilai plus. Ia tak hanya akan menjawab semua pertanyaanmu tentang televisi, tapi juga mengajak kamu melihat televisi dengan pandangan yang “lain” dan “baru”, agar kamu jadi pemirsa yang kritis terhadap semua tayangan.

Banyak pandangan kritis dan menarik mengenai dunia televisi di tanah air yang bisa kamu temukan dalam buku ini. Beberapa tahun terakhir, televisi telah jadi bahan pembicaraan di berbagai tempat dan oleh berbagai kalangan. Ketika media audiovisual ini memasyarakat, sejumlah harapan disandarkan untuk terbukanya saluran komunikasi dan informasi yang lebih maju. Orang tak lagi hanya melihat
gambar mati seperti foto, atau suara tanpa rupa seperti radio. Dari televisi, kamu bisa menilai apa dan bagaimana informasi itu dinyatakan.

Sayangnya, kita juga merasakan efek buruk yang bersumber dari televisi. Ketika anak-anak malas belajar, tayangan televisi banyak diduga sebagai sebabnya. Orang dibuai dengan kemewahan hingga jadi materialistis. Sejumlah perbuatan kriminal, seperti perampokan dan pemerkosaan, juga dikabarkan
terinspirasi dari siaran televisi. Kita semua pasti senang jika televisi menempatkan pengelola dan pemirsa dalam posisi yang setara. Sebagai bagian dari masyarakat, kita berharap televisi dapat menempatkan diri sebagai milik publik, sehingga tak ada pemaksaan dari pengelola kepada pemirsa.

Meski buku ini cenderung menuangkan sisi negatif televisi, tapi dengan kreativitas penulis menuangkan ide, merangkai kata dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini tetaplah menarik. Banyak yang dapat kamu temukan dari buku ini, ketimbang sekadar deretan huruf mati.

Jangan mau diperbudak televisi!

ARI WANGANDARA
Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis

Tag: , , ,

7 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

  1. Komentar no. 1

    TELEVISI PENUH PROPAGANDA!!!!

  2. Komentar no. 2

    Syalom, Televisi itu sebenarnya ada 3 fungsinya, Pertama untuk Pendidikan, Kedua Untuk Hiburan dan Ketiga Untuk Bisnis. Nah, sekarang tergantung sama kita yang punya Televisi, Mau nonton pada saat ada Brita baik atau tidak itu Kita harus Kritis atau “Punya Filter”. Misalnya ada Tayangan Kekerasan, Porno dan sebagainya. Kita harus memilah-milah mana yang baik di tonton dan mana yang tidak baik. Kalau ada Anak-anak kita, Sebagai kakak atau Orang Tua harus mendampingi Si Anak dalam Menonton Televisi atau tayangan yang ada di Televisi tersebut. Sekarang ini, Televisi itu Sudah Menjadi “Budaya Pop” atau “Pop Culture” yang tidak bisa lagi di bendung tapi bisa kita kuasai.
    Jangan dihancurkan Televisinya tapi kuasailah Televisi dengan Spritualitas dan Pendidikan Moral yang kita dapatkan dari Gereja atau Tokoh Agama atau Buku Kitab Suci yang kita Yakini dan kita Percayai Masing-Masing GBU

  3. Komentar no. 3

    Syalom, bahasa kami Orang Medan, Kok kalah sama Televisi!! Apalah itu, Matikan saja Televisinya kalau tidak suka Siarannya!! He, He, He. Masak Kalah Televisi Sama Manusia yang Punya Akal dan Pikiran, He, He, He. Kuasai aja Televisi itu. GBU

  4. Komentar no. 4

    Stasiun TV Indonesia masih ‘kaget’ dalam menanggapi kebebasan pers pasca reformasi. Masyarakat dicekoki berbagai informasi tanpa ada pertimbangan mana yang baik dan yang buruk untuk publik. Sehingga dalam pemberitaan sering kali kepentingan individu ataupun kelompok menunggangi stasiun TV nasional kita. Sehingga menjadi bias dan tidak berimbang. Seperti dalam contoh kasus eksekusi Amrozi cs, stasiun TV membentuk opini publik yang memberikan simpati kepada mereka tanpa melihat peristiwa bom bali 1 dan akibatnya. Dalam hal entertainment, acara2 reality show, infotainment, serta sinetron memberi dampak buruk tentang sudut pandang dan gaya hidup yang hiperbola dan mendramatisir.

    Acara stasiun TV Indonesia tidak baik untuk kesehatan mental anda…

  5. Komentar no. 5

    Hmmm…ada yang judulnya: “Berani Nolak Komputer??” hehehe…

  6. Komentar no. 6

    hm.. dari dulu memang sering dipersoalkan masalah tv.. semuanya sebenarnya tergantung orangnya..
    apapun juga didunia ini bisa menjadi negatif kl kita tidak bisa menguasainya. seperti garam… kl dmasukkan 1 bungkus dalam 1 mangkok kecil sayur.. tentu ga bakalan ada yg mau makan…tp kl ditaruh secukupnya pasti akan nikmat sekali..begitu jg dengan televisi.. jika kita menelan mentah2…wah nanti bisa keasinan.. tp coba kita ambil yg bagus2 aja..rasanya pasti akan nikmat sekali.

  7. Komentar no. 7

    kalau mau nolak TV, saya rasa itu perbuatan konyol. Judulnya terlalu bombastis… kalau saya pikir, kita harus punya filter… ibaratnya rokok, yang ga ada filternya alias kretek, itu tambah bikin rusak kita punya tubuh…kalo ada filternya, kandungan nikotin dan tar berkurang…meskipun sudah diracik oleh pabriknya sih… asal kita mampu menyaring apa yang disiarkan TV, saya rasa itu bagus. menonton TV = menentukan selera. kalau udah ngomong selera, itu nggak bisa diperdebatkan deh…asal kita bisa menentukan selera yang benar, mendidik, menghibur secara positif, itu sudah cukup. TV merupakan sarana penyalura informasi yang potensial, jadi jangan ditolak. hanya diseleksi saja acaranya apa yang baik bagi Anda.

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK