Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Hari Pertama Lomba Pesparawi

Rubrik Kampus oleh

Lomba Pesta Paduan Suara Gerejawi Mahasiswa X untuk kategori musica sacra telah berlangsung pada hari Rabu, 29 Oktober 2008, di Balairung Universitas. Secara bergantian, kontingen-kontingen peserta unjuk kebolehan di hadapan sekitar seribu penonton.

Namun ada lima kontingen yang tak mengikuti lomba untuk kategori ini, sebagai konsekuensi dari keterlambatan saat pendaftaran awal. Kelima kontingen itu adalah Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Universitas Negeri Papua, Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Ambon, Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Palangkaraya, dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Papua.

Umbu Rauta, penanggungjawab Pesparawi Mahasiswa X, mengatakan bahwa tidak ikut sertanya kelima kontingen itu berawal dari batas waktu pendaftaran yang telah diputuskan panitia, yakni 30 Juni 2008. Saat itu, kontingen yang resmi kelengkapan administrasinya dan sah jadi peserta Pesparawi Mahasiswa X berjumlah 35. Namun kontingen dari Universitas Kristen Indonesia Toraja mengundurkan diri, hingga jumlah peserta pun turun jadi 34.

Selama kurun waktu Juli hingga Agustus 2008, ada lima kontingen yang ngotot ingin ikut serta. Karena begitu gigihnya mereka berjuang, maka panitia berkonsultasi dengan Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi. Usai konsultasi itu, panitia memutuskan untuk mengikutsertakan mereka dengan dua konsekuensi. Pertama, mereka hanya boleh mengikuti dua kategori lomba, yakni gospel dan folklore. Konsekuensi ini membuat mereka tak mungkin jadi juara umum. Kedua, seluruh biaya akomodasi dan transportasi harus mereka tanggung sendiri. Dua konsekuensi tersebut rupanya tak menyurutkan niat mereka.

Jalannya lomba

Pelaksanaan lomba kategori musica sacra (musik sakral tradisi religius — Red) terbagi dalam tiga sesi. Sesi pertama dan kedua masing-masing menampilkan dua belas kontingen. Sisanya tampil pada sesi ketiga. Masing-masing kontingen membawakan tiga lagu, dengan batas waktu maksimal lima belas menit.

Hingga sesi kedua berakhir, dua kontingen peserta mendapat pemotongan nilai sebagai akibat dari kelebihan waktu bernyanyi. Kedua kontingen itu berasal dari Universitas Kristen Indonesia dan Universitas Sam Ratulangi. Kontingen UKI menyanyi dengan total waktu 17 menit 57 detik dan kontingen Unsrat 16 menit 16 detik.

Tags:

3 Comments

  1. Yang terpenting dari lomba ini adalah kesempatan yang dapat dinikmati oleh para peserta maupun para penonton untuk bertemu dan mengenal berbagai kekayaan budaya Indonesia ini. Mungkin hal itu terdengar cliche, tapi menurut saya itu sangat penting sekali. Karena kita di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang justru bisa membuat makna Indonesia itu sendiri menjadi tergerus. Contohnya jelas, pada hari kedua Pesparawi, di saat orang di Salatiga sedang menikmati kekayaan budaya bangsa ini, di Jakarta para politisi justru memutuskan untuk merangkul satu UU yang potensial mematikan kekayaan budaya dengan alasan pornografi. Hal-hal ini yang membuat saya merasa sedih melihat begitu besarnya semangat para mahasiswa menyajikan penampilan yang terbaik, sementara di tempat lain para pemimpin politik justru melakukan kompromi politik yang bisa mengancam kekayaan budaya dan kualitas masa depan para mahasiswa itu. Seorang sahabat lama kemudian mengirim email kepada saya bahwa “dalam hidup ini terkadang kita bertemu dengan kenyataan pahit yang harus dihadapi.” Mari kita doakan bangsa ini agar menjadi lebih baik dan bukannya justru tambah terpuruk.

  2. asyik memang hanya kata yang terucap karena dsna emang asyik banget

    Aqu AmPe ktagihan…………………..

    kapan ada acara kayak gini lagi??????????????????????????????

  3. […] “Yang terpenting dari lomba ini adalah kesempatan yang dapat dinikmati oleh para peserta maupun para penonton untuk bertemu dan mengenal berbagai kekayaan budaya Indonesia ini. Mungkin hal itu terdengar cliche, tapi menurut saya itu sangat penting sekali,” tulis Theofransus Litaay, dosen Fakultas Hukum, pada kolom komentar berita tentang hari pertama lomba Pesparawi. […]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas