Hargai Pesparawi
Opini ini telah dilihat 1,722 kali sejak 5 November 2008“Tidak ada makan siang gratis,” kata Yulius Pratomo, dosen muda Fakultas Ekonomi. Di tengah hening kelas yang seperti kuburan, kata-kata itu menarik perhatian saya, hingga kantuk sedikit hilang — hari memang masih pagi, tapi kuliah yang membosankan memang obat tidur yang mujarab. Badan yang semula menyandar kursi saya tegakkan, lalu condongkan ke depan. Mata dan telinga saya buka lebar-lebar. Frasa “makan siang” membuat saya berselera. Saya belum sempat sarapan.
Waktu itu menjelang akhir 2006. Saya baru beberapa bulan jadi mahasiswa Fakultas Ekonomi. Yulius menuntun para mahasiswa peserta kelas Makro Ekonomi untuk belajar prinsip-prinsip ilmu ekonomi yang ditulis Gregory Mankiw, profesor dari Harvard University. Waktu itu konsep opportunity cost sedang mengemuka di kelas.
Definisi konsep tersebut pada handout kuliah masih terlalu abstrak: “The opportunity cost of any item is whatever must be given up to obtain it.” Yulius coba mengonkretkannya dengan contoh makan siang. “Pasti ada orang lain yang membayar makan siang itu (kalau Anda tak membayarnya),” kata Yulius. “Entah teman Anda, atau si penjual, atau siapapun.” Dan, sekalipun Anda tak mengeluarkan duit, Anda tetap akan “membayar” kesempatan makan siang itu dengan waktu dan kesempatan mengerjakan hal lain. Misalnya, jika terbiasa tidur siang, mungkin kesempatan tidur siang Anda akan berkurang. Jika terbiasa jengjeng siang, mungkin waktu jengjeng Anda akan terpotong.
“Harga” sebuah makan siang tak cuma bergantung pada jumlah rupiah yang Anda keluarkan, tapi juga waktu Anda, kalori yang otot-otot Anda pakai untuk berjalan ke kafe kampus, dan sebagainya. Semua itu adalah opportunity cost.
Opportunity cost senantiasa mengikuti trade off, situasi dimana tiap orang harus memilih satu di antara sekian pilihan. Dengan menimbang-nimbang opportunity cost — secara sadar atau tidak — manusia menjatuhkan pilihan rasionalnya, melewati trade off yang satu menuju trade off yang lain. Mungkin, seseorang baru tak menghadapi trade off jika ia telah “tidur siang di liang lahad”.
***
Saat kesempatan menuanrumahi Pesta Paduan Suara Gerejawi Mahasiswa X datang, Satya Wacana menghadapi trade off. Ambil kesempatan itu atau tidak? Jika mengambil, apa untung dan ruginya? Jika tidak, bagaimana?
“Yang terpenting dari lomba ini adalah kesempatan yang dapat dinikmati oleh para peserta maupun para penonton untuk bertemu dan mengenal berbagai kekayaan budaya Indonesia ini. Mungkin hal itu terdengar cliche, tapi menurut saya itu sangat penting sekali,” tulis Theofransus Litaay, dosen Fakultas Hukum, pada kolom komentar berita tentang hari pertama lomba Pesparawi.
Jumat petang minggu lalu, sehari setelah Rancangan Undang-Undang Pornografi disahkan, Senat Mahasiswa Universitas bikin satu diskusi tentang multikulturalisme. Salah satu makalah yang diangkat pada diskusi itu — yang ditulis Merly Aclin Nuasizta Klaas, mahasiswa Fakultas Psikologi — berpendapat bahwa salah satu cara menghargai keragaman budaya adalah dengan mengenal dan memahaminya. Pengenalan dan pemahaman itu — biasanya disebut “pendidikan multikulturalisme” — sebaiknya diberikan sejak usia dini. Jika masyarakat punya pemahaman yang baik tentang keragaman, maka niscaya keragaman tak akan jadi sumber konflik. “Pendidikan multikulturalisme” sendiri, dalam konteks Satya Wacana, bisa terdapat pada festival budaya yang digelar tahunan oleh Senat Mahasiswa Universitas, atau Pesparawi Mahasiswa X.
Satya Wacana menjatuhkan pilihannya dua tahun yang lalu. Ia memilih menyelenggarakan “pendidikan multikulturalisme” itu dengan menuanrumahi Pesparawi Mahasiswa X. Wakil Rektor III Umbu Rauta — yang juga penanggungjawab kegiatan ini — pernah bilang pada saya bahwa Pesparawi kali ini dipersiapkan (sejak 2006) sebagai Pesparawi “terbesar dalam sejarah”. Saya tak tahu persis apa ukuran “terbesar dalam sejarah”. Yang jelas, kontingen peserta Pesparawi Mahasiswa X berjumlah 39, lebih banyak dari Pesparawi Mahasiswa IX di Manado yang bepeserta 27 kontingen. Dana kegiatan ini pun tak terima hanya ratusan juta. “Bisa sampai sekitar dua (miliar rupiah),” klaim Umbu. Menurut klaim Umbu, dana sebesar itu tak ditanggung Satya Wacana sendiri. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberi bantuan satu miliar lebih. Selain itu, ada bantuan sponsor. Maka tak heran jika saat penutupan Pesparawi, Sabtu minggu lalu, nama-nama korporasi besar berderet pada pembacaan ucapan terima kasih.
“Kalau menurutku, memang sudah saatnya Satya (Wacana) menunjukkan ‘taring’-nya,” kata Geritz Febrianto Rindang Bataragoa, redaktur senior Scientiarum. Geritz mengasosiasikan kemampuan Satya Wacana menghelat Pesparawi dengan “taring” institusi “akademis” ini.
Selama seminggu penuh, sivitas akademika Satya Wacana dibuai dalam keindahan harmoni Pesparawi. Mereka boleh masuk ke gedung Balairung Universitas yang masih gres, menonton para awak paduan suara yang cantik-cantik serta ganteng-ganteng, menikmati suara merdu awak-awak itu, merasakan kebersamaan dengan penonton yang lain, dan berbagai “intangible facilities” yang tak dapat saya sebut satu per satu. Semuanya gratis!
Dan semua sepertinya senang.
***
Seperti kata Yulius Pratomo, tak ada makan siang gratis. Seampuh apapun “taring” Satya Wacana, sebanyak apapun bantuan yang diterimanya dari Ditjen Dikti pun para sponsor, selama ia belum “tidur siang di liang lahad”, ia tetap harus tunduk pada prinsip-prinsip ilmu ekonomi.
Opportunity cost senantiasa mengikuti trade off.
Opportunity cost tak melulu soal jumlah rupiah.
Satya Wacana memilih jadi tuan rumah Pesparawi Mahasiswa X. Umbu Rauta bilang, persiapan sudah dilakukan sejak 2006.
“segala hal disiapkan.. luar biasa bukan?? ya luar biasa,, itulah hebat kita.. mau menyongsong seuatu yang besar dan wahh di beriakan tenaga, materi perhatian ekstra.. tapii untk kepentingan mahasiswa ….. kasiannn…,” tulis salah satu komentator berinisial “deris anak UKSW” pada kolom komentar berita Menyongsong Pesparawi Mahasiswa X.
Katarinus Andikaputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi, ikut angkat suara. “BU (Balairung Universitas — Red) sampe dikebut siang malam… kuliah bakal keganggu selama 1 minggu… hanya buat pesparawi mahasiswa ini… sejak pertama kali baliho dipasang, sampe skarang, selain hiburan dan ajang promosi, aku gak kepikiran apa sih gunanya buat mahasiswa dengan UKSW jadi host pesparawi ini… ngabis2in duit doank….”
“drpd buat biayain pesparawi, mending buat benerin siasat (Sistem Informasi Akademik Satya Wacana — Red) gih, kalo gak buat beli buku biar mahasiswa gak da lagi yang diwajibin ma dosennya buat beli buku (buku tulisan si dosen sendiri itu pula) dengan dalih itu buku wajib mata kuliah, or benerin itu hotspot biar uksw gak jadi pembohong dengan kasih promo hotspot kampus tapi jarang jalan normal.”
“intinya, sebelon koar2 n show off, benerin dolo bobrok di dalem…,” tambah Andika.
Para pedagang kaki lima depan kampus pun ikut menanggung opportunity cost Pesparawi. Dengan surat edaran bernomor 511.3/756, Dinas Pasar dan Pedagang Kaki Lima Salatiga meminta para PKL untuk “menunda berjualan pada tanggal tersebut (27 Oktober 2008 — Red) mulai pagi sampai dengan acara selesai”, “dalam rangka memperingati Defile Pesparawi”.
Surat edaran itu menyebar kebohongan. Dalam undangan pembukaan Pesparawi yang diterima Scientiarum, tertulis bahwa defile merupakan bagian terakhir dari acara yang dijadwalkan berlangsung dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00, bukan dari “pagi s.d selesai”. Faktanya, rombongan defile waktu itu baru keluar dari Kridanggo sekitar jam lima sore lebih, dan sampai di kampus Satya Wacana sekitar jam enam petang. Orang-orang, yang biasa lewat Jalan Diponegoro depan kampus, pasti tahu bahwa waktu berjualan pagi para PKL selesai pukul 16.00. Sebelum jam lima sore barang-barang mereka sudah bersih dari trotoar depan kampus.
Panitia Pesparawi sendiri mengaku tak tahu ihwal “penundaan” waktu berjualan PKL yang dilakukan Dinas. “Yang kami pakai jalannya, bukan trotoar,” kata Sony Heru Priyanto, sang ketua panitia, ketika saya hubungi lewat telepon. Ya! Jika yang dipakai jalannya, kenapa yang di trotoar ikut diusik? Praktis, para PKL tak berjualan sepanjang hari itu. Saya tak berhasil mendapat jawaban Tri Priyo Nugroho, si kepala dinas. Ditelepon di kantor dan rumah, jawabnya sama saja. Sibuk meeting!
Scientiarum sendiri tak luput dari opportunity cost Pesparawi. Beberapa wartawannya, seperti Yosia Nugrahaningsih, Ferdinand Umbu Reda Anaboeni, Bambang Triyono, Yoga Prasetya, dan James Anthony Leonard Filemon, masuk dalam kepanitiaan Pesparawi. Yosi, Ferdi, Bambang, dan Yoga jadi redaksi Harmoni, satu buletin harian yang terbit selama seminggu Pesparawi. Yosi pemimpin redaksinya. Sedangkan James — yang seorang wartawan foto — kebagian jatah dokumentasi.
Saya masih ingat betul, waktu itu panitia Pesparawi minta bantuan Scientiarum untuk menerbitkan buletin harian itu. Yosi, yang sejak awal sudah tergabung dalam kepanitiaan, menyampaikan permintaan itu secara lisan dalam suatu kesempatan rapat.
Awalnya saya senang. Saya pikir ini sebuah kemajuan bagi Satya Wacana, jika panitia memberi tempat kepada pers untuk menjelajahi seluk-beluk kepanitiaan dan kegiatan. Saya kira mereka siap untuk terbuka dan transparan dalam penyelenggaraan Pesparawi. Memberi tempat kepada pers, berarti memberi tempat kepada publik untuk ikut mengawal jalannya suatu proses. Maka saya tak keberatan jika sebagian tenaga Scientiarum “disumbangkan” buat Harmoni. Saya pun beberapa kali berpesan kepada mereka, “Tetaplah jadi wartawan, jangan jadi humas!”
Yosi dan Ferdi sempat cerita pada saya soal beberapa masalah, salah satunya soal kontingen yang kesurupan. Kenapa masalah itu tak ditulis? Bukannya cari sensasi, tapi dalam konteks universitas “Kristen”, saya kira kesurupan adalah masalah besar. Masalah ini perlu diliput, digali akar permasalahannya, diberitahukan pada publik, agar semua orang bisa belajar. Apakah “kekristenan” tak lagi mampu melawan “kuasa kegelapan”, atau orang-orang “Kristen” jaman sekarang tak Kristen lagi? Ini menyangkut identitas Satya Wacana sebagai institusi “akademis” “Kristen”!
Suatu sore di kantor Scientiarum, Ferdi menceritakan kekesalannya pada saya. Salah satu beritanya di Harmoni menuai protes. Dalam berita itu Ferdi menulis, “Sampai sesi kedua berakhir, dua kontingen peserta mendapat pemotongan nilai sebagai akibat dari kelebihan waktu bernyanyi. Kedua kontingen tersebut adalah : peserta dengan nomor urut 7 Universitas Kristen Indonesia - Jakarta, dan peserta dengan nomor urut 20 Universitas Negeri Sam Ratulangi - Manado. Masing — masing dari mereka bernyanyi dengan waktu 17,57 menit untuk UKI Jakarta dan 16,16 menit untuk UNIMA Manado.”
Yang melakukan protes pertama kali adalah wakil kontingen UKI. Mereka memrotes publikasi pemotongan nilai itu pada salah satu anggota panitia. Panitia tersebut lantas protes kepada Yosi, dan Yosi menyampaikan protes itu kepada Ferdi. Yosi minta agar lain kali Ferdi lebih berhati-hati dan tak usah menulis jika ada pemotongan nilai lagi. “Karena itu haknya dewan juri untuk bicara,” kata Yosi pada saya.
Ferdi juga punya argumentasi. Kata dia, semua orang di BU seharusnya tahu kalau UKI dan Unsrat menyanyi lebih dari 15 menit. Ada papan elektronik penunjuk waktu di sana. Ferdi juga tahu ada peraturan tertulis, bahwa jika waktu tampil kontingen lebih dari 15 menit, maka kontingen itu akan dikenai pemotongan skor. Ferdi telah melakukan verifikasi kepada Yulius Istarto — anggota panitia yang membawa daftar skor — dan mendapati bahwa skor UKI dan Unsrat memang dikorting dewan juri. Jika faktanya demikian, apakah Ferdi masih harus menunggu dewan juri untuk bicara? Bagaimana jika dewan juri yang terhormat itu tak mau bicara, atau menyangkali pemotongan skor? Bisa-bisa mereka sendiri malah mengangkangi peraturan.
Berita Ferdi memang kurang akurat. Ferdi menyebut Unsrat (Universitas Sam Ratulangi), lalu menyebut Unima (Universitas Negeri Manado). Yang benar adalah Unsrat. Seharusnya Unima tak tertulis dalam berita itu dan redaksi memuat ralat atas salah tulis itu. Tapi soal penulisan korting nilai, mestinya Ferdi tak disalahkan dan Yosi, sebagai pemimpin redaksi, ikut melindungi Ferdi, reporternya.
Belakangan, dalam kolom Curhat Harmoni edisi terakhir, Ferdi menulis, “Melayani via guratan tinta. Pelayanan yang aku beri benar-benar tulus dan tanpa pamrih. Walaupun para petinggi birokrasiku ‘seperti’ melepas tangan tanpa mau menengadahkan sedikit kepala dan badannya ke kami. Begitupun ketika pelindungku berseberangan denganku tanpa memberi perlindungan yang semestinya kudapat. … Guratan tintaku tanpa bercak. Tak ada rasa benci dan dengki, terlebih dendam.”
Sehari sebelum penutupan Pesparawi, Yosi bilang bahwa Harmoni sepertinya memang media humas milik panitia. “Dan aku pikir nggak ada yang salah dengan humas,” kata Yosi.
Praktik-praktik kehumasan — yang hanya memanipulasi informasi untuk kepentingan penguasa — tak mungkin mendatangkan kebaikan, bahkan bagi penguasa itu sendiri! Penghimpunan informasi yang parsial dan bermotif “memihak kepentingan” bukanlah bentuk komunikasi yang baik dalam jangka panjang. Ia memupuk ketegangan dan memperlebar jurang kecurigaan di antara “pihak-pihak yang berkepentingan”. Ingat bagaimana Suara Maluku dan Ambon Ekspres jadi katalisator konflik Ambon? Sebagaimana tertulis dalam laporan Eriyanto, analis media dari Institut Studi Arus Informasi, dalam konflik itu Suara Maluku adalah humas kelompok Kristen, dan Ambon Ekspres milik komunitas Islam.
Saya percaya kepada jurnalisme sebagai bentuk komunikasi terbaik. Ia memihak kebenaran. Meski itu bukan berarti praktisi jurnalisme adalah orang yang paling benar, tapi setidaknya mereka wajib mengusahakan pencarian kebenaran itu. Pencarian kebenaran sendiri penting karena “kebenaran itu akan memerdekakan kamu,” tulis penulis kitab Yohanes versi Indonesian Literal Translation. Bill Kovach, wartawan yang disebut-sebut sebagai pembawa hati nurani jurnalisme Amerika, juga menyatakan hal serupa dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme. “Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri,” tulis Kovach.
Tujuan pendirian universitas sendiri — mengutip kolom Anto Prabowo, staf peneliti dan pengembangan Suara Merdeka, tentang kemelut Satya Wacana — adalah untuk menciptakan, menguji, dan menggugat kebenaran. Kebenaran tidaklah tunggal, pasti mandiri, dan tak pernah mati. “Dulu, matahari mengelilingi bumi dianggap sebagai kebenaran. Kini terbukti, bumilah yang mengelilingi matahari,” tulis Anto. Satya Wacana, dalam Statuta 2000, juga punya visi: “Menjadi Universitas Scientiarum, untuk pembentukan persekutuan pengetahuan tingkat tinggi, yang terikat kepada pengajaran kebenaran (aletheia) berdasarkan pada realisme Alkitabiah.”
Lalu buat apa media humas macam Harmoni? Siapa yang punya ide bikin media ini? “Ide dari panitia,” jawab Umbu Rauta dalam sebuah pesan singkat. Umbu sendiri adalah penanggungjawab kepanitiaan Pesparawi. Apakah dia juga akan bertanggungjawab atas praktik-praktik kehumasan Harmoni? Saya khawatir, ketika “manusia-manusia akademis” di sini nyatanya lebih suka berhumas ria daripada mengusahakan pengejaran kebenaran, jangan-jangan Satya Wacana telah menggagalkan visinya sendiri.
Kini, Pesparawi telah usai. Selamat kepada Universitas Kristen Indonesia Maluku, sang juara umum. Selamat juga buat Satya Wacana atas perhelatannya. Semoga semua yang terlibat dalam Pesparawi bisa menyadari, apa-apa yang dilakukannya selama seminggu kemarin punya opportunity cost-nya sendiri-sendiri. Dan semoga pula, mereka tak menyesal atas pilihan-pilihan yang telah diambil. Kalau kata filsuf-cum-wartawan Albert Camus, “Life is a sum of all your choices.”

Komentar no. 96
19 December 2008 14:58
Perambah
Lebih memuakkan lagi jika kepanitiaannya dimanfaatkan guna promosikan pak ketua biar mentas dadi wakil rektor 2009..
Komentar no. 95
18 December 2008 15:38
Perambah
@DM,
makanya jangan melihat “seseorang” dari penampilannya saja…..tapi ingatlah kuburan/makam, luar tampak indah, didalamnya mayat busuk
atau kamu pernah lihat perut mulus seorang wanita? tahu dalamnya isinya apa? ha ha ha…
semoga pesparawi tidak seperti kuburan ya… jangan juga seperti perut mulus ya….
(entah saya nggak tahu, suara-suara sumbang, nanti akan lenyap juga kok…) — nampaknya sampai sekarang SA belum menurunkan laporan lengkap pesparawi, atau sudah ada laporan lengkap dari panitia? dimana?
Bagaimana yang bis nggak ada di hari terakhir itu?
Komentar no. 94
17 December 2008 9:12
Perambah
saya cuma mo bilang bahwa kesuksesan pesparawi itu hanya dinikmati oleh mereka yang tergabung dalam susunan panitia pusat yang cuma bisa mengkritik. apalagi terdapat ketidakadilan dan ketidaktransparan dalam tubuh panitia sendiri. masa yang jaga merchandise dan cuma beberapa hari bahkan pada hari terakhir (2/11) tidak ada satupun mahasiswa yang menjaga merchandise menampakkan wajahnya malah diberi sertifikat tapi panitia yang sejak bazaar yang sampai selalu dianaktirikan sampai saat ini masih belum mendapatkan apa yang jadi haknya. jadi sebenarnya kesuksesan pesparawi hanya keliatan kulitnya aja padahal di dalamnya SANGAT AMBURADUL!!! saya jadi bertanya dalam hati sebenarnya apa fungsi panitia bazaar? apakah memang sebagai bagian dari kepanitiaan atau hanya target untuk dijadikan kambing hitam? karena pada kenyataannya panitia bazaarlah yang selalu mendapat “nasihat” dari orang-orang yang merasa bahwa ia punya kuasa. ditambah lagi ada satu hal yang tidak saya mengerti, jika Pesparawi X ini adalah hajat universitas kenapa (suatu hal yang menjadi pertanyaan apakah UKSW sebegitu miskinnya) lahan parkir depan GAP disewakan dan panitia yang berwenag diharuskan membayar sewa. suatu hal yang tidak masuk akal khan?!
buat teman-teman yang mendapat apa yang jadi hak kalian saya ucapkan selamat. dan bagi bapak serta ibu yang tergabung dalam kepanitiaan pusat saya hanya ingin mengatakan semoga kelak ketidakadilan serta ketidaktransparan seperti yang terjadi pada Pesparawi Mahasiswa X ini tidak terjadi dan tidak menimpa mahasiswa lainnya. cukup kami yang menjadi naka tiri dan kambing hitam untuk terakhir kalinya.
terima kasih
Komentar no. 93
12 December 2008 10:10
Perambah
Sebagai mahasiswa Uksw, saya merasa bangga dengan kegiatan pesparawi kemarin.. maju terus uksw
Komentar no. 92
11 December 2008 14:13
Perambah
Selamat buat UKSW sebagai Tuan Rumah Pesparawi X ,.. Tuhan memberkati..
Komentar no. 91
4 December 2008 14:33
Perambah
denger-denger dana untuk acara tersebut gede juga ya… tapi ada sponsor kan?