Hargai Pesparawi

Browse By

“Tidak ada makan siang gratis,” kata Yulius Pratomo, dosen muda Fakultas Ekonomi. Di tengah hening kelas yang seperti kuburan, kata-kata itu menarik perhatian saya, hingga kantuk sedikit hilang — hari memang masih pagi, tapi kuliah yang membosankan memang obat tidur yang mujarab. Badan yang semula menyandar kursi saya tegakkan, lalu condongkan ke depan. Mata dan telinga saya buka lebar-lebar. Frasa “makan siang” membuat saya berselera. Saya belum sempat sarapan.

Waktu itu menjelang akhir 2006. Saya baru beberapa bulan jadi mahasiswa Fakultas Ekonomi. Yulius menuntun para mahasiswa peserta kelas Makro Ekonomi untuk belajar prinsip-prinsip ilmu ekonomi yang ditulis Gregory Mankiw, profesor dari Harvard University. Waktu itu konsep opportunity cost sedang mengemuka di kelas.

Definisi konsep tersebut pada handout kuliah masih terlalu abstrak: “The opportunity cost of any item is whatever must be given up to obtain it.” Yulius coba mengonkretkannya dengan contoh makan siang. “Pasti ada orang lain yang membayar makan siang itu (kalau Anda tak membayarnya),” kata Yulius. “Entah teman Anda, atau si penjual, atau siapapun.” Dan, sekalipun Anda tak mengeluarkan duit, Anda tetap akan “membayar” kesempatan makan siang itu dengan waktu dan kesempatan mengerjakan hal lain. Misalnya, jika terbiasa tidur siang, mungkin kesempatan tidur siang Anda akan berkurang. Jika terbiasa jengjeng siang, mungkin waktu jengjeng Anda akan terpotong.

“Harga” sebuah makan siang tak cuma bergantung pada jumlah rupiah yang Anda keluarkan, tapi juga waktu Anda, kalori yang otot-otot Anda pakai untuk berjalan ke kafe kampus, dan sebagainya. Semua itu adalah opportunity cost.

Opportunity cost senantiasa mengikuti trade off, situasi dimana tiap orang harus memilih satu di antara sekian pilihan. Dengan menimbang-nimbang opportunity cost — secara sadar atau tidak — manusia menjatuhkan pilihan rasionalnya, melewati trade off yang satu menuju trade off yang lain. Mungkin, seseorang baru tak menghadapi trade off jika ia telah “tidur siang di liang lahad”.

***

Saat kesempatan menuanrumahi Pesta Paduan Suara Gerejawi Mahasiswa X datang, Satya Wacana menghadapi trade off. Ambil kesempatan itu atau tidak? Jika mengambil, apa untung dan ruginya? Jika tidak, bagaimana?

“Yang terpenting dari lomba ini adalah kesempatan yang dapat dinikmati oleh para peserta maupun para penonton untuk bertemu dan mengenal berbagai kekayaan budaya Indonesia ini. Mungkin hal itu terdengar cliche, tapi menurut saya itu sangat penting sekali,” tulis Theofransus Litaay, dosen Fakultas Hukum, pada kolom komentar berita tentang hari pertama lomba Pesparawi.

Jumat petang minggu lalu, sehari setelah Rancangan Undang-Undang Pornografi disahkan, Senat Mahasiswa Universitas bikin satu diskusi tentang multikulturalisme. Salah satu makalah yang diangkat pada diskusi itu — yang ditulis Merly Aclin Nuasizta Klaas, mahasiswa Fakultas Psikologi — berpendapat bahwa salah satu cara menghargai keragaman budaya adalah dengan mengenal dan memahaminya. Pengenalan dan pemahaman itu — biasanya disebut “pendidikan multikulturalisme” — sebaiknya diberikan sejak usia dini. Jika masyarakat punya pemahaman yang baik tentang keragaman, maka niscaya keragaman tak akan jadi sumber konflik. “Pendidikan multikulturalisme” sendiri, dalam konteks Satya Wacana, bisa terdapat pada festival budaya yang digelar tahunan oleh Senat Mahasiswa Universitas, atau Pesparawi Mahasiswa X.

Satya Wacana menjatuhkan pilihannya dua tahun yang lalu. Ia memilih menyelenggarakan “pendidikan multikulturalisme” itu dengan menuanrumahi Pesparawi Mahasiswa X. Wakil Rektor III Umbu Rauta — yang juga penanggungjawab kegiatan ini — pernah bilang pada saya bahwa Pesparawi kali ini dipersiapkan (sejak 2006) sebagai Pesparawi “terbesar dalam sejarah”. Saya tak tahu persis apa ukuran “terbesar dalam sejarah”. Yang jelas, kontingen peserta Pesparawi Mahasiswa X berjumlah 39, lebih banyak dari Pesparawi Mahasiswa IX di Manado yang bepeserta 27 kontingen. Dana kegiatan ini pun tak terima hanya ratusan juta. “Bisa sampai sekitar dua (miliar rupiah),” klaim Umbu. Menurut klaim Umbu, dana sebesar itu tak ditanggung Satya Wacana sendiri. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberi bantuan satu miliar lebih. Selain itu, ada bantuan sponsor. Maka tak heran jika saat penutupan Pesparawi, Sabtu minggu lalu, nama-nama korporasi besar berderet pada pembacaan ucapan terima kasih.

“Kalau menurutku, memang sudah saatnya Satya (Wacana) menunjukkan ‘taring’-nya,” kata Geritz Febrianto Rindang Bataragoa, redaktur senior Scientiarum. Geritz mengasosiasikan kemampuan Satya Wacana menghelat Pesparawi dengan “taring” institusi “akademis” ini.

Selama seminggu penuh, sivitas akademika Satya Wacana dibuai dalam keindahan harmoni Pesparawi. Mereka boleh masuk ke gedung Balairung Universitas yang masih gres, menonton para awak paduan suara yang cantik-cantik serta ganteng-ganteng, menikmati suara merdu awak-awak itu, merasakan kebersamaan dengan penonton yang lain, dan berbagai “intangible facilities” yang tak dapat saya sebut satu per satu. Semuanya gratis!

Dan semua sepertinya senang.

***

Seperti kata Yulius Pratomo, tak ada makan siang gratis. Seampuh apapun “taring” Satya Wacana, sebanyak apapun bantuan yang diterimanya dari Ditjen Dikti pun para sponsor, selama ia belum “tidur siang di liang lahad”, ia tetap harus tunduk pada prinsip-prinsip ilmu ekonomi.

Opportunity cost senantiasa mengikuti trade off.

Opportunity cost tak melulu soal jumlah rupiah.

Satya Wacana memilih jadi tuan rumah Pesparawi Mahasiswa X. Umbu Rauta bilang, persiapan sudah dilakukan sejak 2006.

“segala hal disiapkan.. luar biasa bukan?? ya luar biasa,, itulah hebat kita.. mau menyongsong seuatu yang besar dan wahh di beriakan tenaga, materi perhatian ekstra.. tapii untk kepentingan mahasiswa ….. kasiannn…,” tulis salah satu komentator berinisial “deris anak UKSW” pada kolom komentar berita Menyongsong Pesparawi Mahasiswa X.

Katarinus Andikaputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi, ikut angkat suara. “BU (Balairung Universitas — Red) sampe dikebut siang malam… kuliah bakal keganggu selama 1 minggu… hanya buat pesparawi mahasiswa ini… sejak pertama kali baliho dipasang, sampe skarang, selain hiburan dan ajang promosi, aku gak kepikiran apa sih gunanya buat mahasiswa dengan UKSW jadi host pesparawi ini… ngabis2in duit doank….”

“drpd buat biayain pesparawi, mending buat benerin siasat (Sistem Informasi Akademik Satya Wacana — Red) gih, kalo gak buat beli buku biar mahasiswa gak da lagi yang diwajibin ma dosennya buat beli buku (buku tulisan si dosen sendiri itu pula) dengan dalih itu buku wajib mata kuliah, or benerin itu hotspot biar uksw gak jadi pembohong dengan kasih promo hotspot kampus tapi jarang jalan normal.”

“intinya, sebelon koar2 n show off, benerin dolo bobrok di dalem…,” tambah Andika.

Para pedagang kaki lima depan kampus pun ikut menanggung opportunity cost Pesparawi. Dengan surat edaran bernomor 511.3/756, Dinas Pasar dan Pedagang Kaki Lima Salatiga meminta para PKL untuk “menunda berjualan pada tanggal tersebut (27 Oktober 2008 — Red) mulai pagi sampai dengan acara selesai”, “dalam rangka memperingati Defile Pesparawi”.

Surat edaran itu menyebar kebohongan. Dalam undangan pembukaan Pesparawi yang diterima Scientiarum, tertulis bahwa defile merupakan bagian terakhir dari acara yang dijadwalkan berlangsung dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00, bukan dari “pagi s.d selesai”. Faktanya, rombongan defile waktu itu baru keluar dari Kridanggo sekitar jam lima sore lebih, dan sampai di kampus Satya Wacana sekitar jam enam petang. Orang-orang, yang biasa lewat Jalan Diponegoro depan kampus, pasti tahu bahwa waktu berjualan pagi para PKL selesai pukul 16.00. Sebelum jam lima sore barang-barang mereka sudah bersih dari trotoar depan kampus.

Panitia Pesparawi sendiri mengaku tak tahu ihwal “penundaan” waktu berjualan PKL yang dilakukan Dinas. “Yang kami pakai jalannya, bukan trotoar,” kata Sony Heru Priyanto, sang ketua panitia, ketika saya hubungi lewat telepon. Ya! Jika yang dipakai jalannya, kenapa yang di trotoar ikut diusik? Praktis, para PKL tak berjualan sepanjang hari itu. Saya tak berhasil mendapat jawaban Tri Priyo Nugroho, si kepala dinas. Ditelepon di kantor dan rumah, jawabnya sama saja. Sibuk meeting!

Scientiarum sendiri tak luput dari opportunity cost Pesparawi. Beberapa wartawannya, seperti Yosia Nugrahaningsih, Ferdinand Umbu Reda Anaboeni, Bambang Triyono, Yoga Prasetya, dan James Anthony Leonard Filemon, masuk dalam kepanitiaan Pesparawi. Yosi, Ferdi, Bambang, dan Yoga jadi redaksi Harmoni, satu buletin harian yang terbit selama seminggu Pesparawi. Yosi pemimpin redaksinya. Sedangkan James — yang seorang wartawan foto — kebagian jatah dokumentasi.

Saya masih ingat betul, waktu itu panitia Pesparawi minta bantuan Scientiarum untuk menerbitkan buletin harian itu. Yosi, yang sejak awal sudah tergabung dalam kepanitiaan, menyampaikan permintaan itu secara lisan dalam suatu kesempatan rapat.

Awalnya saya senang. Saya pikir ini sebuah kemajuan bagi Satya Wacana, jika panitia memberi tempat kepada pers untuk menjelajahi seluk-beluk kepanitiaan dan kegiatan. Saya kira mereka siap untuk terbuka dan transparan dalam penyelenggaraan Pesparawi. Memberi tempat kepada pers, berarti memberi tempat kepada publik untuk ikut mengawal jalannya suatu proses. Maka saya tak keberatan jika sebagian tenaga Scientiarum “disumbangkan” buat Harmoni. Saya pun beberapa kali berpesan kepada mereka, “Tetaplah jadi wartawan, jangan jadi humas!”

Yosi dan Ferdi sempat cerita pada saya soal beberapa masalah, salah satunya soal kontingen yang kesurupan. Kenapa masalah itu tak ditulis? Bukannya cari sensasi, tapi dalam konteks universitas “Kristen”, saya kira kesurupan adalah masalah besar. Masalah ini perlu diliput, digali akar permasalahannya, diberitahukan pada publik, agar semua orang bisa belajar. Apakah “kekristenan” tak lagi mampu melawan “kuasa kegelapan”, atau orang-orang “Kristen” jaman sekarang tak Kristen lagi? Ini menyangkut identitas Satya Wacana sebagai institusi “akademis” “Kristen”!

Suatu sore di kantor Scientiarum, Ferdi menceritakan kekesalannya pada saya. Salah satu beritanya di Harmoni menuai protes. Dalam berita itu Ferdi menulis, “Sampai sesi kedua berakhir, dua kontingen peserta mendapat pemotongan nilai sebagai akibat dari kelebihan waktu bernyanyi. Kedua kontingen tersebut adalah : peserta dengan nomor urut 7 Universitas Kristen Indonesia – Jakarta, dan peserta dengan nomor urut 20 Universitas Negeri Sam Ratulangi – Manado. Masing — masing dari mereka bernyanyi dengan waktu 17,57 menit untuk UKI Jakarta dan 16,16 menit untuk UNIMA Manado.”

Yang melakukan protes pertama kali adalah wakil kontingen UKI. Mereka memrotes publikasi pemotongan nilai itu pada salah satu anggota panitia. Panitia tersebut lantas protes kepada Yosi, dan Yosi menyampaikan protes itu kepada Ferdi. Yosi minta agar lain kali Ferdi lebih berhati-hati dan tak usah menulis jika ada pemotongan nilai lagi. “Karena itu haknya dewan juri untuk bicara,” kata Yosi pada saya.

Ferdi juga punya argumentasi. Kata dia, semua orang di BU seharusnya tahu kalau UKI dan Unsrat menyanyi lebih dari 15 menit. Ada papan elektronik penunjuk waktu di sana. Ferdi juga tahu ada peraturan tertulis, bahwa jika waktu tampil kontingen lebih dari 15 menit, maka kontingen itu akan dikenai pemotongan skor. Ferdi telah melakukan verifikasi kepada Yulius Istarto — anggota panitia yang membawa daftar skor — dan mendapati bahwa skor UKI dan Unsrat memang dikorting dewan juri. Jika faktanya demikian, apakah Ferdi masih harus menunggu dewan juri untuk bicara? Bagaimana jika dewan juri yang terhormat itu tak mau bicara, atau menyangkali pemotongan skor? Bisa-bisa mereka sendiri malah mengangkangi peraturan.

Berita Ferdi memang kurang akurat. Ferdi menyebut Unsrat (Universitas Sam Ratulangi), lalu menyebut Unima (Universitas Negeri Manado). Yang benar adalah Unsrat. Seharusnya Unima tak tertulis dalam berita itu dan redaksi memuat ralat atas salah tulis itu. Tapi soal penulisan korting nilai, mestinya Ferdi tak disalahkan dan Yosi, sebagai pemimpin redaksi, ikut melindungi Ferdi, reporternya.

Belakangan, dalam kolom Curhat Harmoni edisi terakhir, Ferdi menulis, “Melayani via guratan tinta. Pelayanan yang aku beri benar-benar tulus dan tanpa pamrih. Walaupun para petinggi birokrasiku ‘seperti’ melepas tangan tanpa mau menengadahkan sedikit kepala dan badannya ke kami. Begitupun ketika pelindungku berseberangan denganku tanpa memberi perlindungan yang semestinya kudapat. … Guratan tintaku tanpa bercak. Tak ada rasa benci dan dengki, terlebih dendam.”

Sehari sebelum penutupan Pesparawi, Yosi bilang bahwa Harmoni sepertinya memang media humas milik panitia. “Dan aku pikir nggak ada yang salah dengan humas,” kata Yosi.

Praktik-praktik kehumasan — yang hanya memanipulasi informasi untuk kepentingan penguasa — tak mungkin mendatangkan kebaikan, bahkan bagi penguasa itu sendiri! Penghimpunan informasi yang parsial dan bermotif “memihak kepentingan” bukanlah bentuk komunikasi yang baik dalam jangka panjang. Ia memupuk ketegangan dan memperlebar jurang kecurigaan di antara “pihak-pihak yang berkepentingan”. Ingat bagaimana Suara Maluku dan Ambon Ekspres jadi katalisator konflik Ambon? Sebagaimana tertulis dalam laporan Eriyanto, analis media dari Institut Studi Arus Informasi, dalam konflik itu Suara Maluku adalah humas kelompok Kristen, dan Ambon Ekspres milik komunitas Islam.

Saya percaya kepada jurnalisme sebagai bentuk komunikasi terbaik. Ia memihak kebenaran. Meski itu bukan berarti praktisi jurnalisme adalah orang yang paling benar, tapi setidaknya mereka wajib mengusahakan pencarian kebenaran itu. Pencarian kebenaran sendiri penting karena “kebenaran itu akan memerdekakan kamu,” tulis penulis kitab Yohanes versi Indonesian Literal Translation. Bill Kovach, wartawan yang disebut-sebut sebagai pembawa hati nurani jurnalisme Amerika, juga menyatakan hal serupa dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme. “Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri,” tulis Kovach.

Tujuan pendirian universitas sendiri — mengutip kolom Anto Prabowo, staf peneliti dan pengembangan Suara Merdeka, tentang kemelut Satya Wacana — adalah untuk menciptakan, menguji, dan menggugat kebenaran. Kebenaran tidaklah tunggal, pasti mandiri, dan tak pernah mati. “Dulu, matahari mengelilingi bumi dianggap sebagai kebenaran. Kini terbukti, bumilah yang mengelilingi matahari,” tulis Anto. Satya Wacana, dalam Statuta 2000, juga punya visi: “Menjadi Universitas Scientiarum, untuk pembentukan persekutuan pengetahuan tingkat tinggi, yang terikat kepada pengajaran kebenaran (aletheia) berdasarkan pada realisme Alkitabiah.”

Lalu buat apa media humas macam Harmoni? Siapa yang punya ide bikin media ini? “Ide dari panitia,” jawab Umbu Rauta dalam sebuah pesan singkat. Umbu sendiri adalah penanggungjawab kepanitiaan Pesparawi. Apakah dia juga akan bertanggungjawab atas praktik-praktik kehumasan Harmoni? Saya khawatir, ketika “manusia-manusia akademis” di sini nyatanya lebih suka berhumas ria daripada mengusahakan pengejaran kebenaran, jangan-jangan Satya Wacana telah menggagalkan visinya sendiri.

Kini, Pesparawi telah usai. Selamat kepada Universitas Kristen Indonesia Maluku, sang juara umum. Selamat juga buat Satya Wacana atas perhelatannya. Semoga semua yang terlibat dalam Pesparawi bisa menyadari, apa-apa yang dilakukannya selama seminggu kemarin punya opportunity cost-nya sendiri-sendiri. Dan semoga pula, mereka tak menyesal atas pilihan-pilihan yang telah diambil. Kalau kata filsuf-cum-wartawan Albert Camus, “Life is a sum of all your choices.

Satria Anandita, pemimpin redaksi Scientiarum

98 thoughts on “Hargai Pesparawi”

  1. andi-dobleh says:

    duh STR mbahas opportunity cost..

    Aku jadi terbayang kuliah Otonomi Daerah kemarin sore, dengan Daniel Kameo sebagai fasilitator (gak ada dosen, abis gaya Daniel Kameo bukan gaya dosen umum FE UKSW). Seperti kelas-kelas sebelumnya, yang hanya dihadiri 5 orang (4 Bachelor candidate dan 1 Professor), diskusi relatif berjalan cukup seru dan intensif. Sampai akhirna ketika kami sedang membahas mengenai pungutan pajak dan retribus pemda (pemerintah daerah), Daniel Kameo kurang lebih berkata,”Pemda harus melakukan perhitungan terlebih dahulu, untuk memilih peningkatan pendapatan short run atau long run. Harus dihitung biaya yang dikeluarkan untuk kedua pilihan tersebut.”

    Yang aku pertanyakan, melanjutkan komentarku pada berita “Menyongsong Pesparawi Mahasiswa”, bagi UKSW khususnya mahasiswanya, apakah pelaksanaan Pesparawi ini mendatangkan benefit yang lebih besar daripada segala biaya yang dikeluarkannya. Biaya disini termasuk perkuliahan yang terganggu (2 kali kuliahku batal selama pelaksanaan Pesparwi), sampah yang dihasilkan, biaya finansial yang dikeluarkan, molornya pembenahan siasat (mungkin), dll.

    Ak sadar bahwa banyak biaya diatas yang susah untuk diukur kuantitasnya ketika mau diperbandingkan. Tetapi tetap saja perlu, seperti ditulis Satria di opininya:
    Kalau kata filsuf-cum-wartawan Albert Camus, “Life is a sum of all your choices.”
    ketika hendak memilih itul harus dilakukan perhitungan yang matang danterperinci (menyangkut semua aspek). Atau perhitungan matang dan terperinci itu tidak dibuat karena dikalahkan oleh perhitungan kepentingan politis ??

    @STR
    aku dapet penggambaran humas perguruan tinggi:
    tonggak awal gerak PR Modern dimulai pada 1906, ketika Ivy Ledbetter Lee meluncurkan Declaration of Principle (Deklarasi Lee) yang bermuatan prinsip-prinsip dasar PR seperti persuasif, empati, jujur, terbuka, peduli lingkungan, mengutamakan stakeholders baik internal maupun eksternal, dll. link

    berangkat dari kutipan diatas, aku merubah persepsiku mengenai humas dimana selama ini aku melihat kerjaan humas adalah melaporkan fakta yang bagus-bagus aja atau memelintir fakta sehingga tidak terlihat jelek. Ternyata seperti beberapa kali kita diskusikan, yang salah bukan sistem tapi pelaku. hehehe 😀 =))

    @all
    CMIIW

  2. saam fredy says:

    Mohon dicatat baik-baik bahwa Harmoni tidak berada dalam ruang kehumasan Pesparawi. Harmoni berada dalam naungan kesekretariatan Pesparawi. Jadi salah kaprah kalau Harmoni mejalankan kegiatan kehumasan.

    Salam,
    Saam Fredy
    (ditunjuk menjadi Humas Pesparawi)

  3. STR says:

    @ Saam: Mungkin secara formal memang Harmoni tak disebut sebagai humas. Tapi siapa peduli dengan formalitas jika ia tak sesuai dengan substansi? Aku cuma melihat fakta. Harmoni tak punya independensi.

    @ Dobleh: Trims atas wawasan barunya. Jika definisi humas seperti yang kamu sebutkan, mungkin akan bagus juga jadinya — ia jujur dan terbuka, sepertinya memihak kebenaran juga. Tapi definisi humas yang aku pakai untuk tulisan di atas sudah beda. Definisi mana yang benar? Entah, aku cuma berangkat dari apa yang aku lihat, dengar, dan rasa.

    CMIIW

  4. Beto says:

    Wah kak Saam-nya tersinggung…

  5. andi-dobleh says:

    @STR
    definisimu induktif , sedangkan yang kukutip itu normatif. Ini salah satu masalah klasik, ketika teori tidak bertemu muka langsung dengan kenyataan empiris.
    Cuma bagaimanapun, jangan main generalisasi secara gegabah lho. Aku belajar sebagian hal ini dari kamu juga. Ketika kamu melihat fakta empiris dan menganggap itu salah, kamu perlu membandingkannya dengan konsep normatif dari fakta itu (jika ada dan untuk kasus humas ini memang ada). Sudah lah aku tidak perlu berpanjang lebar, kamu pasti bisa menemukan hal yang lebih dari ini.

    @Saam
    Mohon dicatat baik-baik bahwa Harmoni tidak berada dalam ruang kehumasan Pesparawi.

    mungkin dilihat dari perspektif struktur organisasi memang seperti itu, tetapi Harmoni sudah melaksanakan sebagian tugas humas kan? dengan pemaparan berita dan informasi terhadap publik.
    Saya tidak tahu begitu tahu struktur dan prinsip yang dipakai organ humas di UKSW, tapi saya pernah berbicara menemani teman saya mewawancarai seorang Kepala Cabang BNI di Semarang untuk keperluan tugas akhirnya mengenai humas. Ketika itu kepala cabang tersebut (yang saya lupa siapa namanya), mengemukakan bahwa setiap individu dalam struktur organisasi cabang BNI sudah menjadi seorang petugas humas ketika individu tersebut memberikan informasi mengenai BNI kepada para stakeholders, baik itu masyarakat umum atau konsumen BNI atau pejabat pemerintah.

    Salah kaprah atau tidak, tapi kegiatan itu berlangsung selama seminggu dan sudah berakhir.
    Kenapa selama seminggu itu Saam selaku Humas Pesparawi yang ditunjuk (entah oleh siapa), tidak mencoba mengkoreksi hal yang salah kaprah?
    Mengapa ketika Harmoni dianggap menjalankan praktek kehumasan yang kurang tepat seperti saat ini, Saam yang pernah ditunjuk (entah oleh siapa) sebagai Humas Pesparawi seolah lepas tangan?
    btw, Saam nyante aja lah…. kan sekarang kamu bukan humas Pesparawi lagi, lha wong kegiatannya aja dah bubar (akhirnya… hore…:D).

    @staff Harmoni
    walaupun aku muak dengan Pesparawi, tapi kerja keras kalian patut diacungi jempol. (ngasi smileys jempol piye yah)
    Harmoni sudah berakhir masa tugasnya, yang tersisa sekarang adalah proses evaluasi dan perbaikan untuk masa depan.

    Yosi bilang bahwa Harmoni sepertinya memang media humas milik panitia. “Dan aku pikir nggak ada yang salah dengan humas,” kata Yosi.

    Aku setuju, gak ada yang salah dengan humas, tetapi sebagus apapun kalau dijalankan dengan salah ya jadinya salah. Lha wong proses pemilihan rektor yang bagus aja bisa menimbulkan kekacauan dolo.
    Nah silakan Yosi yang merupakan mahasiswa progdi Komunikasi dan juga pelaku “humas” (sesuai yang diakui oleh Yosi sendiri) menilai apakah praktek humasnya sudah sesuai dengan norma-norma humas atau belum.

  6. febri says:

    “Kalau menurutku, memang sudah saatnya Satya (Wacana) menunjukkan ‘taring’-nya,” kata Geritz Febrianto Rindang Bataragoa, redaktur senior Scientiarum. Geritz mengasosiasikan kemampuan Satya Wacana menghelat Pesparawi dengan “taring” institusi “akademis” ini.

    Sebagai tambahan Pesparawi adalah sebuah kegiatan yang baik dalam bentuk yang formal. Namun jangan sampai UKSW tinggal disini saja atau jangan sampai terjebak kegiatan formal seperti. Formalitas memang penting sebagai penunjukan eksistensi, namun PR yang lebih besar lagi, bagaimana dengan kegiatan yg tidak terlalu formal seperti diskusi. Atau bagaimana dengan pengabdian masyarakat…

    salam febri

  7. Theofransus Litaay says:

    Terima kasih kepada sikap kritis STR dan SA yang mengangkat berbagai fakta di atas.

    Saya sendiri sangat menikmati dan gembira dengan acara Pesparawi itu. Jika acara semacam ini semakin sering diadakan di UKSW tentunya akan memperkaya batin manusia. Karena manusia tidak hanya hidup dari ilmu tapi juga dari kesenian.

    Yang saya kira perlu untuk kita berikan perhatikan dalam penyelenggaraan kegiatan besar di UKSW, adalah bahwa “sukses penyelenggaraan” itu artinya membawa multiplier effect positive kepada semua stakeholders kampus ini.

    Stakeholders kampus ini sekarang ada bermacam-macam, mulai dari pemerintah daerah sampai dengan pedagang kaki lima.

    Semua mereka akan gembira jika bisa mendapat manfaat dari UKSW dan tentunya mereka akan sedih jika kehilangan manfaat tersebut.

    Dari sisi UKSW, kita harus menyadari bahwa keberadaan kita itu harus juga membawa berkat bagi sesama.

    Dari isi berita STR di atas, saya ingin mengomentari beberapa hal.
    Pendapat Geritz bahwa “…memang sudah saatnya Satya (Wacana) menunjukkan ‘taring’-nya.” Pendapat semacam ini jelas merupakan eforia.

    Saya sangat senang dengan kegiatan Pesparawi ini, tapi ini bukan bukti ‘taring’ UKSW. UKSW memiliki kemampuan yang lebih dari itu.

    Ada banyak ‘taring’ yang sudah dihasilkan oleh UKSW yang lebih besar dari itu. Kalau kita bikin festival musik internasional atau international choir competition, itu barulah the real claw of UKSW dan saya yakin para sahabatku di fakultas seni pertunjukan mampu melaksanakannya. Mereka memiliki kapasitas untuk itu.

    Mereka pernah mengorganisir diri mengikuti konser internasional dan berhasil. Itu saja sudah menunjukkan bahwa ’taring’ mereka jauh lebih besar daripada kegiatan nasional.

    Pekan Ilmiah Mahasiswa UKSW pada masa lalu jelas-jelas lebih besar daripada Pesparawi ini, baik dari segi peserta maupun jumlah kepanitiaan yang terlibat dan pengaruhnya bagi perkembangan ilmiah serta kemahasiswaan. Itu taring UKSW, kalau bisa kembali dilaksanakan.

    Keberhasilan Leenawaty Limantara memperoleh Toray Science Award itu ’taring’ sains UKSW yang sangat hebat, sayangnya kurang dihargai.

    Jadi ’taring’ UKSW itu sudah ada. Yang perlu diingat juga, ’taring’ sebuah universitas terletak pada karya-karyanya. Kalau kita punya Koor yang hebat dan berprestasi internasional, itulah ’taring’ kita. Jangan sampai menunggu ada acara gebyar-gemebyar baru dikatakan bahwa UKSW ber-’taring’.

    Hal lain yang ingin saya komentari adalah mengenai dikebutnya pembangunan BU bagi Pesparawi. Nampaknya ada kesan yang keliru yang tercipta akibat dari komunikasi yang kurang jelas.

    Setahu saya, pembangunan atau renovasi BU UKSW BUKANlah dimaksudkan khusus untuk menyambut Pesparawi.

    Renovasi BU UKSW adalah program yang dijalankan pada masa kepemimpinan Rektor John Titaley dalam rangka memperbaiki bangunan BU UKSW yang sudah tua dan telah rusak di sana-sini.

    Sebelum mengakhiri kepemimpinannya, Rektorat pada waktu itu mencari dana pembangunan renovasi BU dan pembangunan Perpustakaan UKSW.

    Dana itu akhirnya diperoleh melalui bantuan dari United Board of Christian Higher Education in Asia (UBCHEA), sebuah lembaga nir-laba yang membantu pengembangan pendidikan Kristen di Asia. Donor bagi renovasi BU adalah dari Henry Luce Foundation di New York, yang juga mendanai pembangunan BU pertama kali pada tahun 1970an.

    Program itulah yang sekarang dilanjutkan oleh kepemimpinan Rektor Kris Timotius.

    Bahwa renovasi itu berlangsung dan sesudah itu ada kegiatan Pesparawi, saya yakin mulanya bukan suatu hubungan kausalitas.

    Kalau faktanya pembangunan itu dikebut untuk bisa menampung Pesparawi, saya kira itu kebijakan pimpinan universitas kemudian.

    Tapi yang jelas renovasi BU tidak dimaksudkan untuk mengadakan kegiatan Pesparawi di dalamnya.
    Faktanya adalah bahwa renovasi sudah selesai sehingga Pesparawi bisa dilaksanakan di dalamnya.

  8. Dicky Kurniawan says:

    Maju terus, Sat. 🙂
    Sayang sekali masih ada tekanan2 terhadap media dari panitia Pesparawi.

  9. febri says:

    @dobleh : kenapa muak…?

    @kak theo : kak, saya tidak euforia. perasaan saya senang biasa saja. Oke-lah… tapi taringnya untuk perubahan masyarakat dan keberpihakan kepada masyarakat, justru itulah taring yang sesungguhnya bagi saya.

  10. STR says:

    @ Dobleh: Aku tidak menulis “Praktik-praktik kehumasan tak mungkin mendatangkan kebaikan, bahkan bagi penguasa itu sendiri!

    Yang aku tulis adalah, “Praktik-praktik kehumasan — yang hanya memanipulasi informasi untuk kepentingan penguasa — tak mungkin mendatangkan kebaikan, bahkan bagi penguasa itu sendiri!

    Aku juga menambahkan, “Penghimpunan informasi yang parsial dan bermotif ‘memihak kepentingan’ bukanlah bentuk komunikasi yang baik dalam jangka panjang.

    Artinya, ada definisi, dan definisi itulah yang membatasi sasaran kritikku agar tak menggeneral kemana-mana.

    @ Theo: Koreksi kecil saja. Artikel ini bukanlah berita, melainkan opini. Saya menyampaikan pendapat saya atas fakta-fakta yang ada. Terima kasih.

  11. andi-dobleh says:

    @STR
    ok2 Sat. I missed your point there.

    @geritz
    aku capek aja liat “topeng” dan “make-up” di atas koreng.

    @Theo
    aku belum sempat , dan juga sudah tidak ada akses bebas, melihat berkas-berkas rapatnya. Kalau tidak salah ingat ketika rapat senator pada awal 2007, dikemukakan mengenai rencana peningkatan kualitas perpustakaan dengan pengadaan 300an unit komputer baru, pengadaan komputer itu akan dilaksanakan pada tahun 2007. Sedangkan renovasi BU akan dilakukan 1 atau 2 tahun setelah pengadaan komputer itu.
    Memang setelah rapat itu jarang sekali aku mengikuti lagi perkembangan kedua rencana itu (pengadaan komputer dan renovasi BU) karena sedang panas-panasnya topik aneh berjudul “trimester vs dwimester”. Sampai ketika tiba-tiba aku lihat proses renovasi yang sedang berlangsung.. entah untuk apa renovasi itu??

  12. Neil Rupidara says:

    @Andi-dobleh, bukankah itu menunjukkan semangat ‘harus beda’ dari yang kemarin? Itulah Satya Wacana, inkonsistensi, bukan move further…

  13. saam fredy says:

    Catat baik-baik, kalau tidak dalam struktur kehumasan, maka tidak boleh dikatakan Harmoni berfungsi sebagai media kehumasan. Kalau dalam kehumasan, tidak tercantum nama saya di dalamnya.

    Salam,
    Saam Fredy

  14. Dicky Kurniawan says:

    Maaf mas Saam Freedy anggota Harmoni kah? Soalnya saya nggak ngikutin beritanya. 🙂

  15. amr al' fath says:

    @Saam: tidak perlu reaktif defensif bos….tulisan STR, as usual, adalah karena kecintaannya terhadap UKSW…dan mohon ditelaah lagi tulisan STR secara seksama…get his point first…blast yer anger later lah…

  16. andi-dobleh says:

    @Neil R.
    Kak, memang itu kondisi saat ini, aku pun sebagai salah satu bagian dari Satya Wacana juga beberapa kali menunjukkan hal yang sama (inkonsistensi).
    Buat aku, berbuat salah itu masih bia dimaklumi, selama orang atau lembaga itu mau mengakui, mengevaluasi dan mengadakan perbaikan.
    Nah dalam konteks UKSW, aku tidak melihat hal itu(mengakui,evaluasi dan perbaikan) secara jelas. Komunikasi yang terjalin antar unit dalam UKSW tidak berjalan mulus (co: dalam pelaksanaan siasat). Dan perbaikan-perbaikan yang selama ini dijanjikan masih tidak ada dampak yang signifikan.

    @Saam
    sori, aku gak nangkep statement kamu. jadi gak perlu dicatet yah

  17. febri says:

    @dobleh : Oh gitu,……. truz apa yg sebaiknya?

  18. Theofransus Litaay says:

    @Febri: jelas Febri senang, itu sebabnya saya katakan eforia.

  19. Neil Rupidara says:

    @Andi-dobleh: Hmmm… padahal berefleksi itu critical… tidak jatuh pada kesalahan yang sama, malah bisa maju lebih baik lagi… Kalau disebut tidak ada kemajuan juga mungkin juga salah ya, ntar ada yang marah ha ha ha… tapi, mungkin trend kemajuannya bukan pada apa yang seharusnya, menyentuh jantung persoalannya…

    Saya ikut menangani masalah SIASAT cukup lama… pelik persoalannya… namun, saya kira tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan… namun, perlu duduk bersama… beberapa kali FE dulu suka mengundang pihak berkepentingan duduk bersama, atas inisiatif FE… itupun kami belum bisa mendapati seluruh persoalan bisa di-tackle dengan baik… Kayaknya mesti berpikir keras, keluar dari boks masalah dan jawaban hit and run… perlu solusi yang ke luar dari sistem yang eksis dan penuh masalah (=out of box thinking)… kalau cuma, masa diselesaikan parsiap dan sporadis, ya besok terulang lagi, atau masalah baru lagi… Karena itu, rasanya masalah SIASAT harus dilihat lebih dari sekedar SIASAT sebagai sistem teknis belaka… Sistem kurikulum, aturan akademik, pengembangan seluruh tatanan/sistem informasi di UKSW… karena itu, ya duduk bersama…

    Gimana dong, sebagai mahasiswa apa yang kalian konsepsikan sebagai “Satya Wacana yang kami inginkan?” Buat dengan HURUF KAPITAL, tebal, garis bawahi… maksud saya, sebagai komponen integral, suara mahasiswa please dong ah… Mungkin sebagai individu sudah ada, tapi kelembagaan? Ataukah sebagai institusi UKSW itu tuli (menulikan) dan buta (membutakan) dalam membaca kebutuhan mahasiswa? Kalau begitu celikkan dan pakaikan alat bantu pendengaran.

  20. Neil Rupidara says:

    Sorry, koreksi:

    … kalau cuma masalahnya diselesaikan parsial dan sporadis, ya besok terulang lagi, atau masalah baru lagi…

  21. andi-dobleh says:

    @geritz
    ya “koreng”nya diobatin dulu.. kalau sudah kering ya silakan diperindah dengan make-up…. 🙂
    lengkapnya silahkan cermati statementku, baik di kolom komentar artikel ini dan juga yang dikutip dalam opini STR.

    @Neil
    kak, aku lupa tulis…
    statement kak Neil
    Itulah Satya Wacana, inkonsistensi, bukan move further…
    aku percaya Satya Wacana tak kan selamanya seperti ini. Banyak potensi dalam tubuh UKSW. bila semua organ mau bekerja sama, aku yakin UKSW akan bisa move further.
    Saat ini, beberapa rekan (dan saya) suka menyebut kampus ini Universitas Kok Semuanya Wacana.
    Semoga suatu saat ejekan itu akan hilang.. Semoga…

  22. Neil Rupidara says:

    @andi-bleh,

    ya, optimisme tentang sesuatu yang lebih baik harus selalu kita pegang.. meminjam slogan Obama, yes we can.

    soal berwacana, saya malah khawatir bahwa kita justru kekurangan wacana, tentu yang berbobot. saya percaya, dunia ini menjadi seperti sekarang karena ide-ide. namun di kita? mungkin ada ide-ide, tetapi jarang dibicarakan terbuka (berwacana), akibatnya ketika satu orang mau melakukan sesuatu dengan didasarkan pada ide yang diyakininya baik, orang lain malah jadi penghambat.

    dalam konteks lingkungan yang berubah, Satya Wacana kadang hampir ‘mati’ dalam ber-ide, ide tentang model universitas masa depan yang tetap setia pada fungsi-peran fundamental universitas sebagai transformer kehidupan masyarakat. model universitas kita berhenti pada model ‘permukaan yang mewah’, bukan model ‘substansial’. kembali, bukan tidak ada ide, tetapi tidak ada forum berwacana.

    kasihan sekali, kampus adalah sebuah komunitas para pembelajar. sebagai komunitas pembelajar, salah satu proses esensial adalah komunikasi ide untuk proses refining, endorsement, dan selanjutnya fasilitasi ke arah pemrograman, implementasi dan kontrol implementasi. bandingkan zaman dulu kebiasaan para pemimpin seperti Willi Toisuta yang tidak henti-hentinya mengemukakan idenya kepada publik kampus. saya dengar pak Noto juga senantiasa melakukan hal yang sama, melalui pidato-pidatonya, baik pada saat dies maupun event lainnya.

    namun, kita jelas butuh hasrat dan kekuatan untuk merealisasikan ide. namun, kembali ke proses pemilihan presiden Amerika, yang memungkinkan ide besar jadi kenyataan, di samping butuh pemimpin visioner dan tangguh, ya karena rakyat/pengikutnya juga mengamini dan mau lakukan. Obama jelas tidak akan jadi presiden jika pengikut-pengikutnya tidak bergerak se-edan itu. mereka-lah yang memungkinkan itu terjadi, dan kemampuan mereka bergerak itu karena sebagian di antaranya adalah kemampuan obama mewacanakan ide-idenya, termasuk melalui pembuktian-pembuktian sikap dan tindakannya selama ini. orang tahu bahwa mereka bisa menaruh harapan padanya. klop!

    @all: kita diajarkan oleh para ahli ekonomi mainstream seolah-olah segala sesuatu dilakukan secara rasional: manusia adalah makhluk rasional dan mengambil keputusan melalui sebuah proses rasional yang sempurna. sayangnya, tidak semua hal seperti itu. banyak keputusan yang diambil justru memertontonkan kepada kita bahwa manusia sering tidak/kurang rasional, mengambil keputusan melalui proses yang jauh dari rasional. yang ditunjukkan terkadang hanya sebuah pencarian legitimasi sosial, bukan manfaat rasional terbaik. para ahli ekonomi kelembagan lebih membantu kita memahami hal seperti itu.

  23. STR says:

    @ Neil: Apakah Pesparawi ini juga bisa disebut “sebuah pencarian legitimasi sosial”?

  24. Yodie Hardiyan says:

    dalam konteks lingkungan yang berubah, Satya Wacana kadang hampir ‘mati’ dalam ber-ide, ide tentang model universitas masa depan yang tetap setia pada fungsi-peran fundamental universitas sebagai transformer kehidupan masyarakat. model universitas kita berhenti pada model ‘permukaan yang mewah’, bukan model ’substansial’. kembali, bukan tidak ada ide, tetapi tidak ada forum berwacana.

    @ Neil: Permukaan yang mewah? Apakah Satya Wacana, tempatku berkuliah yang (kelak) memberi ijazah ini, adalah universitas dengan permukaan yang mewah? Bila ya, berarti lebih menyelam (dalam) lagi lebih mewah donk? Lebih wah dan mantap? Lebih mempesona? Atau justru sebaliknya, tergambar dalam sarkasme yang Andi-Dobleh bilang: aku capek aja liat “topeng” dan “make-up” di atas koreng. . Berarti di UKSW ini, hanya jualan nama besar dan pencitraan kosmetik perguruan tinggi dengan koreng-korengan di dalamnya? Aduh, enggak ngerti nih aku. 😆

    Sebentar, yang bikin permukaan tersebut tampak mewah siapa? Apakah http://www.uksw.edu dengan berita prestasi olahraga dari mahasiswa, kerjasama dengan institusi ternama, seminar sukses, profil mahasiswa IP tinggi, dan bla bla yang lain? Wah, bila ya, hebat ya http://www.uksw.edu. Ujung tombak konten situs tersebut juga ditulis oleh seseorang yang berembel-embel “jurnalis”. Wah jurnalis hebat! Keren banget! Jurnalis dari Badan Promosi dan Hubungan Luar (BPHL). Jurnalis dari badan kehumasan kampus besar! Wow! Kok jurnalis itu enggak daftar di media-media “besar” ya kayak Tempo atau Kompas? Atau aku yang salah persepsi? 😆

    Kembali ke koreng, aduh aku kok takut ya. Ternyata, aku kuliah di tempat yang penuh koreng. Aduh, rugi donk aku bayar kuliah? Aku membayar universitas koreng, bukan universitas model substansial yang (sesuai idealisme, bung?). Gawat! Gawat! Gimana donk seandainya entar aku enggak laku di pasaran tenaga kerja? (orang-orang bijak bakal bilang: salah sendiri Yod, kamu dungu) 😆

    Wakil Rektor III Umbu Rauta — yang juga penanggungjawab kegiatan ini — pernah bilang pada saya bahwa Pesparawi kali ini dipersiapkan (sejak 2006) sebagai Pesparawi “terbesar dalam sejarah”

    Wah, hebat ya Pesparawi. Terbesar dalam sejarah, cing! Aku berarti enggak masuk sebagai pelaku sejarah donk, lha aku sama sekali enggak nonton Pesparawi. Maklum, aku penganut ajaran Kupu-Kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Hiks.

    Juga tahunya cuma hiruk pikuk di dalam kampus. Kampus yang begitu tenang itu dan berjumlah mahasiswa yang sedikit, tiba-tiba disesaki banyak bus dan orang wira-wiri. Wah kampusnya jadi ramai dan terlihat sesak. Biasanya longgar, tiba-tiba jadi sesak. LONGGAR? SUMPE LO? 😆

    Ya, ndak apa-apa. Semoga dan semoga. Eh aku mau kasih usul, bagaimana Andika Katarinus a.k.a Dobleh diberi award: sebagai mahasiswa kritikus terkritis sejagat Scientiarum? Soalnya, bila kita baca komentarnya, uh, dalem banget. Sedalam cintanya kepada UKSW, hingga ia berujar Saat ini, beberapa rekan (dan saya) suka menyebut kampus ini Universitas Kok Semuanya Wacana.

    😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆

    Sat, tulisanmu bagus. Literair! Titisan dewa-dewi Poencer. Wakakakaka! Rindu diriku menulis panjang. Karena (ingin) rajin kuliah, jadinya males nulis panjang. *banyak cingcong alasan*

  25. Febri says:

    Saya punya pendapat sendiri tentang UKSW bila ingin lebih baik… yaitu harus berdamai dulu dengan sesama yg di UKSW….
    Walaupun tidak dapat saya buktikan, tetapi saya melihat bahwa banyak sekali konflik laten di UKSW. Mungkin ada yg menganggap ini biasa atau cara untuk lebih dewasa, atau entah alasan apalagi….!!
    Namun bagaimana mau maju Energi habis untuk berkonflik……

    Bila ingin maju ya berdamai dulu dengan sesama,,,,!!

    Damai di hati, damai di bumi, damai di UKSW

  26. Neil Rupidara says:

    @STR, sebelum saya ber-opini per definisi: organizational legitimacy refers to the degree of cultural support or an organization (Meyer and Scott)… atau, the acceptance by the general public and by relevant elite organizations of an association’s right to exist and to pursue its affairs in its chosen manner… (keduanya dikutip dalam Deephouse and Suchman, 2008, Legitimacy in Organizational Institutionalism, dalam Greenwood dkk., Sage Handbook of Organizational Institutionalism).

    Menjawab pertanyaanmu, maka motivasi UKSW ketika mengajukan diri menjadi tuan rumah Pesparawi di tahun 2006 mestinya bisa ikut menjelaskan, apakah ada niatan UKSW untuk mendapat legitimasi sosial (walau kalau ditanya mungkin bisa tidak keluar statement motivasinya). Namun, secara umum, bisa diduga ada. Ini pekerjaan besar dan sebagaimana sudah dibahas oleh tulisan-tulisan terkait Pesparawi dan tanggapan-tanggapan, pekerjaan raksasa, tidak mudah, makan ongkos (bukan saja ongkos finansial, tetapi termasuk misalnya terkorbankannya perkuliahan), etc, sulit untuk dijelaskan selain untuk mencari pengakuan atau penerimaan atau legitimasi pihak-pihak eksternal bahwa “inilah UKSW”. Keuntungan rasional apalagi ekonomis relatif kecil dibanding motif itu, dugaan saya.

    Beberapa contoh. Pertama, saya kutipkan, “Rencananya, panitia akan menanggung seluruh biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi lokal tiap kontingen”. Dalam logika pengelolaan yang ekonomis, rasional, apakah ini bisa diterima? Sulit rasanya: dapat untung apa kita? Jangan salah tangkap dengan kata untung, lalu menuding saya berpandangan bahwa UKSW, misalnya, bisa dapat untung finansial dari kegiatan ini. Bukan begitu. Namun, di mana-mana lazimnya pengelolaan yang ekonomis, “biarkanlah peserta menanggung pengeluarannya”. Begitu kan? Atau barangkali, ada pungutan biaya partisipasi yang sudah memasukkan unsur pengeluaran akomodasi, konsumsi, transportasi (?). Rasanya tidak ‘kan? Lalu, apa motifnya? Dugaan saya, legitimasi: “wah hebat ya!” Tentu bukan untuk cari nama murahan, karena hal itu bisa jadi wajar juga dalam even seperti ini, karena toh dananya ditanggung Dikti cukup besar, 1 miliar lebih. Namun, kewajaran sosial adalah bagian dari upaya memenuhi ekspektasi publik atau elite dan itu bagian dari mencari dan mendapatkan legitimasi.

    Hal lain yang bisa diduga sebagai bagian dari motif mendapatkan legitimasi adalah pengakuan bahwa, UKSW luar biasa! Siapa yang memberi pengakuan? Publik peserta, masyarakat umum yang ikut terlibat, Dikti, etc. Apa efek rasional/ekonomis dari pengakuan itu? Mungkin tidak ada, kecuali sekedar pengakuan itu sendiri. Adakah minat masuk FSP (misalnya, karena terkait dengan dunia seni tarik suara) atau UKSW akan meningkat signifikan (kalkulasi ekonomis yang menjadi salah satu pertimbangan rasional)? Sulit dibayangkan atau paling tidak ‘kan tidak masuk dalam kalkulasi riil ketika mengajukan, menerima dan menyelenggarakan kegiatan ini. Jadi, tendensi ke arah mencari dan mendapatkan legitimasi memang terbuka lebar.

    Contoh lain, sikap panitia yang menjadi keluhan awak Harmoni juga bisa dilihat sebagai bentuk mencari legitimasi. “Jangan kecewakan peserta!” kira-kira begitulah. Kalau peserta kecewa, maka hilanglah kesan “UKSW memang oke punya,” sebagai tuan rumah yang baik. Hal begitu memang wajar dalam dunia memberi layanan. Namun, dalam kacamata analisis ini, lagi-lagi, ada motif mencari legitimasi pihak lain di situ, bukan seperti ekspektasi awak Harmoni dan penulis opini, “jujur mengatakan apa adanya”.

    Masih banyak pembuktian dari apa yang sudah disajikan secara tertulis di SA yang bisa diangkat untuk memenuhi kriteria mencari legitimasi sosial. Namun, mungkin itu (analisis mencari legitimasi) bukan sesuatu yang luar biasa. Saya mengajukan pandangan soal legitimasi, dibanding kalkulasi rasional atas biaya-biaya, hanya untuk menanggapi atau membenarkan logika penulisan dan tanggapan yang ada, bahwa maunya kita berhitung-hitung semua costs, namun apa daya kita tidak punya informasi, kita tidak mampu berhitung pada saat itu, atau barangkali juga kita tahu akan berbiaya negatif, tetapi ini kan demi nama baik kita. Ini menunjukkan bahwa keputusan tidak selalu rasional dan/atau memuat makna pencarian legitimasi, dari pada manfaat rasional dalam perspektif para ekonom beraliran rational choice.

  27. wit says:

    hm..
    ada yang kesurupan tho?
    apa mungkin dhemit salatiga (uksw) nggak senang dengan kehadiran orang asing, ha ha ha ….

    jangan lupa, disamping opportunity cost, ada juga yang menikmati benefit..
    antara lain, yang dapat order sewa bis puluhan unit selama seminggu itu….
    penginapan-penginapan di sekitar UKSW yang jadi full book….
    dan lain-lain masih banyak lagi….

    eh.., kenapa Harmoni tidak menyajikan informasi mengenai pembiayaan Pesparawi?
    Atau SA mau memberikan info lengkap mengenai pembiayaan Pesparawi? siapa tahu ada yang pingin tahu….

    (termasuk biaya pembuatan BU itu ya…., saya lihat ada bagian BU dibongkar kembali……dengar-dengar… BU tidak selesai tepat waktu, dan kontraktornya kena pinalti, apa benar?..)

  28. STR says:

    @ wit: Waktu itu (sebelum Pesparawi mulai) Umbu Rauta janji akan beri laporan keuangannya secara lengkap untuk dipublikasi. SA cetak edisi dies sendiri akan ada laporan soal Pesparawi. Nanti akan kami tagih janji itu.

  29. andi-dobleh says:

    @Neil
    wah, kalau begitu aku yang kurang melihat lebih dalam ke kampus ini ya Kak?
    Aku kurang memperhatikan apakah wacana kampus ini sudah berbobot atau tidak, aku kurang memperhatikan proses pewacanaan itu sendiri.
    Yang aku tangkap selama ini, statement-statement yang dikeluarkan oleh para pejabat kampus ini, baik itu WR, Dekan, Kaprogdi adalah wacana2. Wacana yang sering kali tidak bisa diimplementasikan, dengan berbagai dalih.
    Setelah membaca komentar Kak Neil, aku mempertimbangkan kembali pemahamanku akan “wacana”. Ternyata memang selama ini aku mencampur adukkan antara wacana dan ide. Thanks ya kak.

    Sementara hipotesis Kak Neil mengenai kurangnya forum berwacana saya terima dulu. Tapi tetap saja Kak, ketika kampus ini (Progdi/Fak/Rektorat) mewacanakan mengenai sesuatu, implementasinya terus saja mengecewakan.
    Beberapa contoh wacana:
    Perbaikan SiASAT(diwacanakan oleh WR I dan juga Wk.Dekan FE), bleum kelihatan hasilnya
    “semester aneh FE”(aneh karena namanya semester tapi waktunya terlalu singkat-diwacanakan Dekan FE berdasar pengarahan petinggi Universitas), hasilnya : aku jadi BINGUNG
    peningkatan kualitas/kuantitas mengajar Dosen.(sering diwacanakan) hasilnya: mbuh
    Entah apakah kekecewaanku karena kurangnya komunikasi petinggi kampus>mahasiswa, atau kurangnya aku menggali informasi??

    Kekuatan potensial kita sudah punya deh. . Kalau hasrat, mungkin bisa melihat komentar Geritz:
    …bagaimana mau maju Energi habis untuk berkonflik…

    mengenai ahli ekonomi mainstream, bukankah rational expectation itu hanyalah sebagai landasan untuk mempermudah pemahaman Kak? jadi bukan merupakan suatu ajaran tentang kepastian akan perilaku rasional tapi hanya satu dari sekian asumsi. CMIIW

    Ini menunjukkan bahwa keputusan tidak selalu rasional dan/atau memuat makna pencarian legitimasi
    Ya emang keputusan tidak selalu rasional Kak. Lha wong aku aja gak rasional ketika memutuskan masuk UKSW kok 😀 . Toh menurutku, tetap saja analisis cost-benefit perlu dilakukan sebagai alat pendukung dalam pengambilan keputusan atau bisa juga untuk mengevaluasi keputusan itu..
    Mengenai legitimasi sosial; Kok demen banget sih mencari legitimasi sosial dari luar, ketika dari dalam saja belum dapat….

    @Yodie
    hehehe.. kowe kok PD banget bakal dapet ijazah.. hahahaha.. 😛
    aku sarkas ya Yod?
    IMO, “koreng” pasti ada dalam setiap individu atau organisasi. Jadi mau kamu kuliah di kampus manapun pasti kamu juga akan menghadapi “koreng” dalam bentuk yang berbeda.
    Yang kupermasalahkan adalah sikap yang diambil oleh organisasi uksw ini terhadap “koreng” itu. bukannya mengobatinya dengan tekun dan telaten sampai sembuh, tapi justru dikasih make-up biar gak keliatan.
    Hi hi hi, bingung mikir pasar tenaga kerja yah…..
    Aku berarti enggak masuk sebagai pelaku sejarah donk, lha aku sama sekali enggak nonton Pesparawi
    SAMA KITA YOD…..
    nama gw jangan dibalik2….. hehehe
    kritis mungkin, sayang analisaku sering kurang tajam Yod. Ayo kita belajar…

    @geritz
    masih laten tho konfliknya?
    tar dolo deh kalo suruh damai. lha belom negosiasi dan kompromi kok. itikad baik pun belum ditunjukkan. Jadi masih: “NO DEAL”, kalo kata Tantowi.
    jadi inget kata “Uwa” Hengky (kangen jadinya nih) :
    “LAWAN! LAWAN! dan LAWAN, Bleh!”

    o iya, buat Yodie:
    yang buat kampus keliatan mewah : ketika mahasiswa mencoba masuk ke sebuah gedung, yang mengaku melayani mahasiswa, tapi ditolak karena mahasiswa itu pake sendal jepit. BUSUK!!!!!!!!!

  30. saam fredy says:

    Sementara itu wartawan, dalam pendefinisian Persatuan Wartawan Indonesia, hubungannya dengan kegiatan tulis menulis yang di antaranya mencari data (riset, liputan, verifikasi) untuk melengkapi laporannya. Wartawan dituntut untuk objektif, hal ini berbeda dengan penulis kolom yang bisa mengemukakan subjektivitasnya. (wikipedia Indonesia).

    Salam,
    Saam Fredy

  31. saam fredy says:

    A journalist (also called a newspaperman) is a person who practices journalism, the gathering and dissemination of information about current events, trends, issues, and people while striving for non-bias viewpoint. (wikipedia.org).

    salam,
    Saam Fredy

  32. saam fredy says:

    Bias is a term used to describe a tendency or preference towards a particular perspective, ideology or result, especially when the tendency interferes with the ability to be impartial, unprejudiced, or objective.[1] The term biased is used to describe an action, judgment, or other outcome influenced by a prejudged perspective. It is also used to refer to a person or body of people whose actions or judgments exhibit bias.

    Form of bias:
    * Cultural: interpreting and judging phenomena in terms particular to one’s own culture.
    * Ethnic or racial: racism, nationalism, regionalism and tribalism.
    * Geographical: describing a dispute as it is conducted in one country, when the dispute is framed differently elsewhere.
    * Inductive
    * Media: real or perceived bias of journalists and news producers within the mass media, in the selection of which events will be reported and how they are covered
    * Gender: including sexism and heteronormativity.
    * Linguistic: bias, favoring certain languages
    * Political: bias in favor of or against a particular political party, philosophy, policy or candidate.
    * Corporate: bias in favor of a business.
    * Advertising: bias with observations motivated for selling an opinion rather than using objectivity.
    * Sociological: bias in favor of a society’s ideals. bias for groups needs/wants.
    * Entertainment: bias in favor of entertaining an audience
    * Personal: bias for personal gain.
    * Religious: bias for or against religion, faith or beliefs;
    * Sensationalist: favoring the exceptional over the ordinary. This includes emphasizing, distorting, or fabricating exceptional news to boost commercial ratings.
    * Scientific (including anti-scientific and scientific skepticism): favoring (or disfavoring) a scientist, inventor, or theory for non-scientific reasons. This can also include excessive favoring (or disfavoring) prevalent scientific opinion, if in doing so, notable viewpoints are no longer being treated neutrally.
    (wikipedai.org)

  33. saam fredy says:

    @ Disky Kurniawan: Saya bukan anggota Harmoni.

    Berikut struktur Harmoni (dapat dilihat di halaman 2 harmoni):

    Penanggung Jawa: Kristoko D.H., S.Kom, M.Kom (Kabid Pubdekdok dor Pesparawi).
    Penasehat: Eko Iman Slamet (seksi keprotokoleran Pesparawi) dan Philip Budi Christiawan, ST (Kabit Kesekretariatan).

    Pimred: Yosia N (Mahasiswa FIS Komunikasi)
    Wartawan: Indra G, Dian Indah K, Salfia L, Goerge T., Ferdinand U.R.A., Yoga P.

    Photographer: Widi
    Layout: Daniel Ta’ewa dan Happy K.S.
    Editor: Bambang T.
    Fashion Desaign: Pramudhita

    Salam,
    Saam Fredy

  34. saam fredy says:

    @ Yodie: UKSW tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk, saya yakin anda juga tidak dipaksa untuk masuk ke sini (UKSW). Kalau kemudian anda merasa keliru, ya segeralah membetulkannya dengan membuat pilihan yang benar menurut anda, jangan diam. Anda bisa tinggalkan kampus ini kalau anda mau, kenapa harus repot.

    Salam,
    Saam Fredy
    (alumni UKSW)

  35. saam fredy says:

    @ amr al’ fath: saya tidak reaktif, hanya menyampaikan koreksi, jadi jangan di biaskan begitu sesuai dengan keinginan anda.

    Salam,
    Saam Fredy

  36. saam fredy says:

    @andi dobleh: statementku yang mana yang tidak kamu pahami?

    Salam,
    Saam Fredy

  37. saam fredy says:

    @ sat: fakta-fakta yang ada? dari sisi sebelah mana?

    Salam,
    Saam Fredy

  38. STR says:

    @ saam fredy: @ sat: fakta-fakta yang ada? dari sisi sebelah mana?

    Fakta-fakta yang tertulis di atas tentu dari sisiku. Dan fakta-fakta tersebut aku dapat dari observasi. Aku datang saat pembukaan, lomba, dan penutupan Pesparawi. Tapi aku juga membuka mata terhadap sekeliling (di dalam maupun luar kampus) dan internal organisasi SA sendiri. Piye? Ada yang ngganjel?

    @ amr al’ fath: saya tidak reaktif, hanya menyampaikan koreksi, jadi jangan di biaskan begitu sesuai dengan keinginan anda.

    Yang mana koreksimu?

    @ Yodie: UKSW tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk, saya yakin anda juga tidak dipaksa untuk masuk ke sini (UKSW). Kalau kemudian anda merasa keliru, ya segeralah membetulkannya dengan membuat pilihan yang benar menurut anda, jangan diam. Anda bisa tinggalkan kampus ini kalau anda mau, kenapa harus repot.

    Tanggapi Yod …. 😀

    A journalist (also called a newspaperman) is a person who practices journalism, the gathering and dissemination of information about current events, trends, issues, and people while striving for non-bias viewpoint. (wikipedia.org).

    Jika tak ada referensi lain (yang lebih sahih), silakan pakai Wikipedia. Tapi, jika ada referensi lain yang lebih sahih (misalnya buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Kovach dan Rosenstiel — dua wartawan senior AS itu wawancara ribuan orang dan ratusan wartawan untuk susun buku ini), tentu referensi Wikipedia tak perlu dipakai. Dan buku Sembilan Elemen itulah yang aku pakai sebagai acuan dalam menulis opini ini.

    Salah satu dari kesembilan elemen jurnalisme adalah independensi. Para pengumpul berita harus independen dari sumber beritanya. Dan fakta menunjukkan Harmoni tak bisa (atau dikondisikan agar tak bisa) independen. Jadi, apakah Harmoni media jurnalisme?

    Ini sekaligus kritik juga buat kamu yang selalu memasang embel-embel “staf jurnalis”. Bisakah kamu independen terhadap, katakanlah manajer BPHL (atasanmu). Ini belum elemen jurnalisme lainnya (seperti pemantau kekuasaan). Apakah “jurnalis” BPHL mau dan bisa memantau penguasanya? Nyatanya lebih sibuk “promosi” kan?

    Sementara itu wartawan, dalam pendefinisian Persatuan Wartawan Indonesia, hubungannya dengan kegiatan tulis menulis yang di antaranya mencari data (riset, liputan, verifikasi) untuk melengkapi laporannya. Wartawan dituntut untuk objektif, hal ini berbeda dengan penulis kolom yang bisa mengemukakan subjektivitasnya. (wikipedia Indonesia).

    Objektif? Siapa manusia yang bisa objektif? Sutarno pun bilang tak ada manusia yang bisa objektif. “Saya percaya semua orang subjektif,” kata Sutarno. Hanya saja, dalam penelitian, metode yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan, transparan, dan memungkinkan orang lain untuk mengujinya secara independen. Kovach dan Rosenstiel dalam Sembilan Elemen Jurnalisme juga menyatakan hal yang sama.

    Jadi, jangan salah kaprah dengan objektivitas.

    Wartawan tetaplah seorang yang subjektif. Bedanya ketika menulis berita, ia tak menulis kesimpulan ataupun pendapatnya. Ia hanya mengemukakan pendapatnya atas sebuah fakta dalam kolom opini.

  39. saam fredy says:

    @ sat: oh dari SISIMU SAJA YA FAKTANYA (observasi dan cerita)!

    @ sat amr al’ fath: saya menyatakan bahwa harmoni tidak ada dalam koordinasi saya sebagai humas Pesparawi, ini koreksi saya.
    @ sat: idenya kepada pemahaman terhadap jurnalis. Apakah wikipedia lebih rendah daripada Bukumu itu? Untuk kamu, baca yang lain dong, males aku dengar bill kovac, kaya dia aja Jurnalis handal. Sara dari saya, “satu buku yang kita baca, akan mempersempit pemahaman kita. Dua buku yang kita baca akan membawa kita kepada perbandingan dengan yang lai. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin tercerahkan kita”.

    Apakah Harmoni media jurnalisme? Apakah HArmoni memiliki visi dan misi sebagai alat jurnalisme?
    Adakah yang bisa independen? Kamu bisakah?

    Kalau tidak bisa objektif bagaimaan dengan mengedepankan independesi?

    Salam,
    Saam Fredy

  40. STR says:

    @ saam: @ sat: oh dari SISIMU SAJA YA FAKTANYA (observasi dan cerita)!

    Lho … kalau bukan dari aku terus darimana? Emang gue nyolong? Aku kutip komentar orang-orang di atas pakai ijin (kecuali yang udah tertulis di kolom komentar) dan verifikasi lho Saam. 😀

    @ sat amr al’ fath: saya menyatakan bahwa harmoni tidak ada dalam koordinasi saya sebagai humas Pesparawi, ini koreksi saya.

    Ya silakan, itu kan formalitas. Dan pemahamanku dalam opini di atas tidak berangkat dari formalitas. Aku berangkat dari fakta empiris. Plis deh, jangan keluar dari konteks.

    @ sat: idenya kepada pemahaman terhadap jurnalis. Apakah wikipedia lebih rendah daripada Bukumu itu? Untuk kamu, baca yang lain dong, males aku dengar bill kovac, kaya dia aja Jurnalis handal.

    Sekarang gini deh. Aku dulu sebelum baca buku Kovach, ya bacanya Wikipedia. Tapi terus kan ada buku Kovach. Dan menurutku, buku Kovach lebih sahih daripada Wikipedia. Dia wawancara ratusan wartawan, wawancara ribuan pemirsa media, penelitian bertahun-tahun, analisis dengan beberapa organisasi media level internasional. Institusi-institusi yang termasuk dalam kerjasama untuk penulisan Sembilan Elemen Jurnalisme ini contohnya Harvard University, Stanford University, Committee of Concerned Journalists, International Consortium for Investigative Journalists, dan sebagainya.

    Kovach juga punya reputasi panjang dan terhormat sebagai wartawan. Dia pernah jadi kepala biro Washington untuk The New York Times, suratkabar paling berpengaruh di dunia. Dia pernah jadi pemimpin redaksi Atlanta Journal-Constitution, dimana dia menugaskan dan menyunting beberapa laporan yang memenangkan Pulitzer. Ungkapan orang bila bicara soal Kovach adalah “pembawa hati nurani jurnalisme Amerika”. Goenawan Mohamad bilang, dia “kesulitan mencari kesalahan Kovach”.

    Jadi, ini buku serius.

    Aku tak menutup mata dari referensi lain. Tapi kalau buku Sembilan Elemen Jurnalisme dibandingkan dengan Wikipedia — yang ditulis secara open oleh siapapun, tanpa kejelasan metodologi ….

    Lihat? Betapa bodohnya orang yang tetap bersikeras mengacu Wikipedia ketika di hadapannya ada Sembilan Elemen Jurnalisme.

    Sara dari saya, “satu buku yang kita baca, akan mempersempit pemahaman kita. Dua buku yang kita baca akan membawa kita kepada perbandingan dengan yang lai. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin tercerahkan kita”.

    Lho, emang kamu pikir aku cuma baca Sembilan Elemen Jurnalisme? Aku juga baca buku jurnalisme dari Solopos, dari Janet Steele, dari Pantau, dan sebentar lagi (tadi pagi baru dibelikan Febri) dari Ignatius Haryanto. Tapi buku yang menurutku paling sahih soal definisi jurnalisme adalah Sembilan Elemen Jurnalisme. Begitu ….

    Apakah Harmoni media jurnalisme? Apakah HArmoni memiliki visi dan misi sebagai alat jurnalisme?
    Adakah yang bisa independen? Kamu bisakah?

    Bisa, kenapa tidak?

    Aku menulis di Scientiarum tanpa beban dan tanpa peduli siapapun yang kutulis, karena aku meyakini apa yang aku tulis benar. Meski Scientiarum dapat dana rubrik tahunan dari Wakil Rektor III, tapi komando Umbu Rauta (jika ia pernah mengomando) hanya bisa sampai pintu kayu kantor redaksi, lalu mental. Umbu hanya bisa mengusulkan, sama seperti para tamu kantor kami yang lain. Rapat redaksilah yang menentukan.

    Dan, meski Scientiarum status formalnya adalah unit kegiatan mahasiswa di bawah Senat Mahasiswa Universitas, ketua SMU tak (atau belum) pernah cawe-cawe pada kebijakan redaksional Scientiarum. Jangankan WR III atau ketua SMU, wong “dekan” Scientiarum aja (Bambang Triyono), tak pernah intervensi kebijakan redaksional. 😛

    Kalau tidak bisa objektif bagaimaan dengan mengedepankan independesi?

    Lho? Objektivitas dan independensi itu sudah hal yang berbeda. Duh, jangan pakai konsep mengacau dong. Baca buku dulu sana. 🙂

  41. saam fredy says:

    @ sat: Play by the rule man. Itu yang kamu harapkan.

    salam,
    Saam Fredy

  42. saam fredy says:

    @sat: oh akhirnya dijawab juga jadi DARI SISIMU SAJA THO!!! (menegaskan)Ya silakan, itu kan formalitas.

    …………………..Dan pemahamanku dalam opini di atas tidak berangkat dari formalitas. Aku berangkat dari fakta empiris. Plis deh, jangan keluar dari konteks…………………

    Siapa yang keluar dari konteks, satu pertanyaan: apakah bisa dikatakan dia melakukan tugas kehumasan apabila bukan orang humas? Sekali lagi Saya mengatakan bahwa Harmoni tidak melakukan tugas kehumasan, karena Harmoni tidak berada dalam komando saya! Faktamu itu tidak kamu konfirmasikan ke aku sebagai humas Pesparawi. Sudah tentu aku menyangkal Harmoni melakukan tugas kehumasan.

    Kenapa kamu juga tidak konfirmasi kepada penangungjawab Harmoni? Kenapa hanya tanya kepada anggotanya saja?

    ………………..Sekarang gini deh. Aku dulu sebelum baca buku Kovach, ya bacanya Wikipedia. Tapi terus kan ada buku Kovach. Dan menurutku, buku Kovach lebih sahih daripada Wikipedia…………….oooooo menurutmu THO!!! Kalau itu menurutmu ya untuk kamu saja. Saya sih ok-ok saja pakai wikipedia.

    Lihat? Betapa bodohnya orang yang tetap bersikeras mengacu Wikipedia ketika di hadapannya ada Sembilan Elemen Jurnalisme…..ITUKAN MENURUTMU….. Kamu pikir semua jurnalis hanya akan menggunakan teknik si bill itu saja. Itu di amerika mas….di Indonesia, berat. Kata orang, lain lubuk lain belalang. Indonesia saya pikir punya gaya jurnalisme sendiri, dan itu telah dibangun sejak jaman sebelum Indonesia ada dan berkembang hingga hari ini.

    Sara dari saya, “satu buku yang kita baca, akan mempersempit pemahaman kita. Dua buku yang kita baca akan membawa kita kepada perbandingan dengan yang lai. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin tercerahkan kita”.

    Lho, emang kamu pikir aku cuma baca Sembilan Elemen Jurnalisme? Aku juga baca buku jurnalisme dari Solopos, dari Janet Steele, dari Pantau, dan sebentar lagi (tadi pagi baru dibelikan Febri) dari Ignatius Haryanto. Tapi buku yang menurutku paling sahih soal definisi jurnalisme adalah Sembilan Elemen Jurnalisme. Begitu …….SEKALI LAGI ITUKAN MENURUTMU……MENURUTMU.

    Apakah Harmoni media jurnalisme? Apakah HArmoni memiliki visi dan misi sebagai alat jurnalisme?
    Adakah yang bisa independen? Kamu bisakah? Bisa, …….kenapa tidak?….Kalau begitu sekarang ditanya pada kru harmoni, apakah Harmoni memiliki misi dan visi. Apakah gaya jurnalisme yang mereka anut? Jenis media apa yang mereka pakai? Kenapa harmoni lahir? dll! Itu belajar dari latarbelakang historis.

    …………..Aku menulis di Scientiarum tanpa beban dan tanpa peduli siapapun yang kutulis, karena aku meyakini apa yang aku tulis benar. Meski Scientiarum dapat dana rubrik tahunan dari Wakil Rektor III, tapi komando Umbu Rauta (jika ia pernah mengomando) hanya bisa sampai pintu kayu kantor redaksi, lalu mental. Umbu hanya bisa mengusulkan, sama seperti para tamu kantor kami yang lain. Rapat redaksilah yang menentukan. Dan, meski Scientiarum status formalnya adalah unit kegiatan mahasiswa di bawah Senat Mahasiswa Universitas, ketua SMU tak (atau belum) pernah cawe-cawe pada kebijakan redaksional Scientiarum. Jangankan WR III atau ketua SMU, wong “dekan” Scientiarum aja (Bambang Triyono), tak pernah intervensi kebijakan redaksional………………JANGAN SOMBONG MAS. HATI-HATI KALAU EGO SUDAH BICARA! KAMU MENEBAR PERMASALAHAN. TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA.

    …………Kalau tidak bisa objektif bagaimaan dengan mengedepankan independesi? Lho? Objektivitas dan independensi itu sudah hal yang berbeda. Duh, jangan pakai konsep mengacau dong. Baca buku dulu sana……HA…HA..HA…. Berbeda gimana Mas? Ada hubungannya cuma kamu saja yang tidak melihatnya dengan jelas. Keduannya memiliki hubungan yang sangat erat, coba belajar lagi.

    Salam,
    Saam Fredy

  43. Dicky Kurniawan says:

    Sekedar reminder, Wikipedia tidak selalu 100% benar.
    Karena editornya bisa siapa saja 🙂
    Sebagai contoh dulu sekolah SMAku di Wikipedia pernah kena yang jelek2 & lulus sensor Wiki.

  44. andi-dobleh says:

    @saam
    yang ini lho
    Catat baik-baik, kalau tidak dalam struktur kehumasan, maka tidak boleh dikatakan Harmoni berfungsi sebagai media kehumasan. Kalau dalam kehumasan, tidak tercantum nama saya di dalamnya.

    Btw, kamu tuh ngutip2 panjang2 kek gitu apa gak capek? soalnya gak jelas maksudna apa.
    Just my 2 cents, kalo maw menyatakan sesuatu, boleh2 aja pake kutipan, tapi sertakan juga pendapatmu soal itu.

    Oh iya, soal wikipedia silakan baca ini:
    Facebook dan Wikipedia Terlarang bagi Wartawan
    London – Lembaga berita ternama dunia, AFP (Agence France Presse), melarang wartawannya memakai situs jejaring sosial Facebook sebagai sumber berita. Tak hanya itu, mereka sebelumnya ternyata juga telah melarang pemakaian situs ensiklopedi online, Wikipedia, sebagai rujukan utama informasi dalam penulisan berita.
    berita lengkap langsung ke detikInet!

    @all
    tolong dipahami, ketika menyampaikan opini disini, para pembaca yang lain bisa punya interpretasi subjektif dalam dirinya mengenai komentar siapapun (diungkapkan oleh Yodie H. dalam pembicaraan via YM). Jadi ya jangan mutung kalau orang lain menanggapi statement anda tidak sesuai dengan keinginan anda.

  45. andi-dobleh says:

    halah abis mbilangin Saam soal kutip2an malah kelupaan ndiri kan..

    nambahin Soal wikipedia:
    aku setuju ama STR : ketika gak ada referensi lain, wiki sah2 aja dijadiin referensi utama… tapi ya itu, kalo ada yang lebih bagus, ya pakai yang lain aja

  46. Yodie Hardiyan says:

    @ Yodie: UKSW tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk, saya yakin anda juga tidak dipaksa untuk masuk ke sini (UKSW). Kalau kemudian anda merasa keliru, ya segeralah membetulkannya dengan membuat pilihan yang benar menurut anda, jangan diam. Anda bisa tinggalkan kampus ini kalau anda mau, kenapa harus repot.

    Tinggalkan kampus ini? Wakakakakakak 😆 ! YA IYALAH, MASAK YA IYA DONK! NGAPAIN JUGA GUE LAMA-LAMA DI SINI! Tunggu tanggal mainnya bung, biar saya selesaikan sesegera mungkin studi saya. Saya juga tak punya cita-cita bertitel MA (Mahasiswa Abadi). Enggak perlu Anda suruh, saya pasti akan keluar. Lagipula kepergian saya di UKSW tampaknya diidam-idamkan beberapa pihak. Eh, besok kalau saya lulus, diliput ya wisudanya. “Jurnalis” dari BPHL ada kan? Nanti tolong wawancarai saya: kesan dan pesan selama kuliah di UKSW. Oke? Jangan lupa dimasukin di http://www.uksw.edu 😆

    Hei, saya memang tak dipaksa masuk UKSW. Saya juga masuk enggak asal daftar. Saya lihat-lihat dulu. Eh, UKSW kan mempromosikan segenap fasilitas menawan. Betul enggak? Fasilitas sih ada, yang jadi pertanyaan mencukupi enggak? Lantas ribuan mahasiswa yang bayar kuliah, dapat apa? Jawab sendiri deh. Ini baru contoh kecil. Mau contoh banyak? TANYA AJA SAMA MAHASISWA, DILIPUT DAN MASUKIN http://WWW.UKSW.EDU, berani enggak? Ya kalau pengen tutup mata ya enggak apa-apa. Karepmu. Eh, by the way, BPHL ikutan promosi enggak? Waduh, jangan bilang “ikut”. Kalau seperti itu, saya akan bilang: “DASAR PEMBOHONG PUBLIK!”.

    Lantas bila saya kecewa tidak boleh? Saya menghadapi kampus penuh koreng (bleh, pinjem istilah sarkasmu). Kecewa itu dilarang? Atau harus berpura-pura: angguk-angguk bahwa semuanya berjalan baik dan tak perlu ada dialektika, minimal dalam diri sendiri? Oh Damn! Kejam nian dunia ini? Bredel diri macam apa ini? Jijay banget ah 😆

    @ sat: idenya kepada pemahaman terhadap jurnalis. Apakah wikipedia lebih rendah daripada Bukumu itu? Untuk kamu, baca yang lain dong, males aku dengar bill kovac, kaya dia aja Jurnalis handal.

    Ya ampun. Memang kitabmu sebagai jurnalis apa? Eh, waktu aku ke perputakaan Tempo di Jakarta, kok ada bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme-nya Bill Kovach dan Rosentiel ya? Terus waktu aku iseng-iseng masuk perpustakaan Kompas, kok ada juga ya? Terus beberapa penggiat pers kampus yang pernah aku temui juga bicara soal buku itu. Apa para jurnalis di sana baca buku itu juga ya? Atau baca brosur UKSW? Atau referensi mereka http://www.uksw.edu? Kan informasinya bagus-bagus? 😆

    Memangnya jurnalis handal menurutmu siapa? Buku bacaanmu apa? Bukan ingin membandingkan, cuma ingin tahu. Saya pingin belajar dari jurnalis http://www.uksw.edu, medianya UKSW, yang terkenal itu. Kalau bisa saya pinjam. Atau kita barter pinjam buku. Mau? Tapi saya jangan dipinjami brosur UKSW lho. Saya nangis nanti. 😆

    Bung, pernah tau ucapannya Bung Karno: gantungkan cita-citamu setinggi bintang langit? Bintang tersebut berguna menjadi guiding star (bintang pemandu). Sama halnya buku Sembilan Elemen Jurnalisme, sulit dilakoni secara sempurna, tapi BERGUNA JADI PANDUAN jurnalis. Atau tak perlu panduan? Kalau enggak salah di buku tersebut juga ada analogi “pelaut yang butuh bintang sebagai penunjuk jalan saat berlayar di malam hari”. Paham?

    Bung, kesalahan kadang memang tak terhindarkan/tak sengaja terjadi. Itulah pentingnya kritik. Mengkoreksinya. Membetulkannya. Semua orang pernah berbuat salah. Kalau kekuasaan, yang salah, malah didukung, alamak!

  47. STR says:

    @ saam: @sat: oh akhirnya dijawab juga jadi DARI SISIMU SAJA THO!!! (menegaskan)

    Saam, apa yang salah dengan pernyataan itu, sehingga kamu terus-terusan menegaskannya? Setiap orang punya sudut pandang sendiri-sendiri kan? Begitu pula dengan wartawan. Dia punya sudut pandangnya sendiri. Tapi yang wajib dilakukan wartawan adalah memperluas sudut pandangnya dengan melakukan observasi ke lapangan, mewawancara orang lain, dan baca buku-buku. Itu yang penting, karena dengan begitu, sudut pandang si wartawan dapat melingkupi sudut pandang konstituen-konstituen yang dilayaninya.

    Nah, dalam menulis opini ini, aku tak berangkat dari lamunanku semata. Aku telah berusaha memperluas sudut pandangku dengan datang saat pembukaan, lomba, dan penutupan Pesparawi. Aku juga wawancara mahasiswa, panitia, dan awak Harmoni sendiri. Aku pun memasukkan pendapat-pendapat yang tersampaikan lewat kolom komentar web SA. Untuk soal PKL, aku juga telah berusaha menghubungi si kepala dinas (meski tak berhasil).

    Jadi, aku melihat memang dari sisiku sendiri. Tapi sisi itu telah aku perlebar dengan pendapat-pendapat dan perspektif dari pihak-pihak lain.

    Siapa yang keluar dari konteks, satu pertanyaan: apakah bisa dikatakan dia melakukan tugas kehumasan apabila bukan orang humas? Sekali lagi Saya mengatakan bahwa Harmoni tidak melakukan tugas kehumasan, karena Harmoni tidak berada dalam komando saya! Faktamu itu tidak kamu konfirmasikan ke aku sebagai humas Pesparawi. Sudah tentu aku menyangkal Harmoni melakukan tugas kehumasan.

    Jadi, kalau menurutmu, media humas Pesparawi adalah media yang berada di bawah komando Saam Fredy. Jika tak berada di bawah komando Saam Fredy, maka bukan media humas namanya. Begitukah?

    Lha ini kan sudah definisi baru lagi namanya. 😀

    Padahal, ketika aku menulis opini ini, definisiku sudah beda dengan definisimu. Itulah kenapa aku bilang kamu (lewat komentar-komentarmu) keluar dari konteks, konteks yang aku pakai ketika membahas opportunity cost Pesparawi pada artikel ini.

    Coba lihat komentar-komentar sebelumnya. Ada komentar dimana Dobleh menyampaikan alternatif definisi humas yang normatif. Definisimu tentang humas berangkat dari status formal kepanitiaan. Sedangkan definisiku sendiri induktif, kata Dobleh.

    Aku memilih untuk menggunakan definisi induktif, karena definisi itulah yang aku lihat jelas pada Harmoni (dan belakangan dibenarkan sendiri oleh para awaknya), yang berhubungan langsung dengan publik UKSW. Definisi itulah yang paling mendarat dan konkret waktu itu.

    Kenapa kamu juga tidak konfirmasi kepada penangungjawab Harmoni? Kenapa hanya tanya kepada anggotanya saja?

    Yosi adalah pemimpin redaksi Harmoni. Dia sudah cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. CMIIW.

    oooooo menurutmu THO!!! Kalau itu menurutmu ya untuk kamu saja. Saya sih ok-ok saja pakai wikipedia.

    Lho, kok gitu? Kalau gini caranya, ya percuma kita bicara di forum ini. Kata-kataku memang menurutku. Emangnya kata-katamu bukan menurutmu? Tapi kan bukan itu yang terpenting. Yang penting adalah argumen-argumen yang dibangun di balik “menurutku” dan “menurutmu” itu.

    …..ITUKAN MENURUTMU….. Kamu pikir semua jurnalis hanya akan menggunakan teknik si bill itu saja. Itu di amerika mas….di Indonesia, berat. Kata orang, lain lubuk lain belalang. Indonesia saya pikir punya gaya jurnalisme sendiri, dan itu telah dibangun sejak jaman sebelum Indonesia ada dan berkembang hingga hari ini.

    Tapi hasil penelitian para antropolog yang ditulis sejarawan Mitchell Stephens dalam buku History of News menyatakan sebaliknya tuh. Mulai dari sekelompok suku di Afrika sampai penduduk pulau terpencil di Samudra Pasifik, mereka punya definisi yang sama tentang apa yang disebut berita. “Mereka bahkan mencari kualitas yang sama dalam diri si pembawa pesan yang mereka pilih untuk mengumpulkan dan menyampaikan berita.”

    Lantas, kalau kamu bilang Indonesia punya gaya jurnalismenya sendiri, seperti apa gayanya? Apakah seperti “jurnalisme Pancasila” yang dicetuskan Harmoko, mantan Menteri Penerangan Orde Baru yang juga pendiri harian Pos Kota? Atau bagaimana?

    Argumenmu akan mendapat tentangan keras jika disandingkan dengan fakta bahwa banyak pemimpin media besar di Indonesia mengakui kesahihan dan kebenaran Sembilan Elemen Jurnalisme.

    Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, menulis kata pengantar untuk buku ini: “Dari dia (Kovach) saya dapat mendapatkan inspirasi, dan dalam hal ini, saya kira saya tak sendirian.”

    Andreas Harsono, alumni FTJE yang memimpin Pantau, juga menulis epilog buat buku ini: “Di Indonesia, buku ini diterbitkan dalam judul Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Yayasan Pantau, bekerjasama dengan Institut Studi Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika.”

    Sabam Siagian, redaktur senior The Jakarta Post, adalah murid Kovach di Harvard.

    Dahlan Iskan, bos Kelompok Jawa Pos, bilang “suka dengan isinya”.

    Jakob Oetama dari Kompas bahkan memesan buku ini untuk dikirim ke semua redakturnya di seluruh Indonesia.

    Kurang apa lagi?

    Aku tak hendak mengultuskan Kovach dengan pemaparan fakta-fakta di atas. Tapi jangan negasikan reputasi Sembilan Elemen Jurnalisme dan Bill Kovach tanpa dasar jelas. Kalau kamu punya referensi yang lebih sahih daripada Sembilan Elemen Jurnalisme, atau patron yang lebih reputable daripada Kovach, aku pasti dengan senang hati menerimanya.

    Kalau begitu sekarang ditanya pada kru harmoni, apakah Harmoni memiliki misi dan visi. Apakah gaya jurnalisme yang mereka anut? Jenis media apa yang mereka pakai? Kenapa harmoni lahir? dll! Itu belajar dari latarbelakang historis.

    Ini mah putar-putar namanya. Isi dan bagaimana respon media terhadap sebuah fakta cerminkan misi dan visinya.

    JANGAN SOMBONG MAS. HATI-HATI KALAU EGO SUDAH BICARA! KAMU MENEBAR PERMASALAHAN. TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA.

    Makasih buat peringatannya.

    ……HA…HA..HA…. Berbeda gimana Mas? Ada hubungannya cuma kamu saja yang tidak melihatnya dengan jelas. Keduannya memiliki hubungan yang sangat erat, coba belajar lagi.

    Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, dua hal itu dibedakan. Atau kamu punya referensi lain yang cukup sahih untuk menjelaskan hubungan dua hal ini? Aku akan dengan senang hati membacanya.

    @ sat: Play by the rule man. Itu yang kamu harapkan.

    Opo neh iki …. Gak mudheng aku.

    Saam, aku sibuk. Minggu ini deadline buat penerbitan cetak. Ini komentarku yang terakhir ya. Silakan komentar sepuasmu, nanti aku loloskan terus dari moderasi kok.

  48. andi-dobleh says:

    wedew…
    @saam
    statement apa sih yang sombong? statement STR justru menonjolkan kelebihan (pejabat) kampus ini ketika mereka tidak mengintervensi pers mahasiswa..

    saam wrote:
    KAMU MENEBAR PERMASALAHAN. TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA.
    tunggu waktu apaan tuh saam? mo dibuat pesta yah? ikut donk. brb ngakak 😀

    perdebatan orang jurnalis. aku bukan orang jurnalis cuma aku respek pada bidang ini.
    O iya, aku cuma mau ngasih sedikit kutipan :
    “Informasi tanpa standar jurnalistik disebut gosip,” simpul David Hazinski (prof Jurnalistik di University of Georgia). sumber dari sini
    mungkin statement di atas terkesan sedikit ekstrim. Dan mungkin juga statement saam ini juga akan dilontarkan oleh orang lain:
    Itu di amerika mas….di Indonesia, berat. Kata orang, lain lubuk lain belalang. Indonesia saya pikir punya gaya jurnalisme sendiri, dan itu telah dibangun sejak jaman sebelum Indonesia ada dan berkembang hingga hari ini.
    Aku pun juga setuju bahwa kita harus punya ciri sendiri Saam. Tapi apa cirinya, kamu bicara hal yang abstrak dan gak menyajikan fakta, lewat contoh-contoh misalnya.

    Biar para pembaca komen perdebatan Saam dan Satria jelas, aku mencoba mencari apa sih gaya jurnalisme Indonesia dan apa sih Sembilan Elemen Jurnalisme , hasilnya ini:
    Jurnalisme Indonesia
    1.Ada empat semangat kebebasan pers yang melatarbelakangi kelahiran AJI.
    Pertama, kemerdekaan berpendapat, memperoleh informasi, dan kebebasan berserikat adalah hak asasi setiap warga negara. Kedua, sejarah pers Indonesia berangkat dari pers perjuangan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan serta melawan kesewenang-wenangan. Ketiga, dalam melaksanakan misi perjuangannya, pers Indonesia menempatkan kepentingan dan keutuhan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Keempat, pers Indonesia melandaskan perjuangannya pada prinsip-prinsip hukum yang adil, bukan pada kekuasaan.

    2.kode etik jurnalis PWI
    beberapa poinnya adalah :
    -independen, berita akurat, berimbang, tidak beritikad buruk,
    -menempuh cara-cara yang profesional,
    -menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah,
    -tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul,
    -tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan,
    -tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap
    – dll, silakan lihat disini

    Lalu coba kita bandingkan dengan Sembilan elemen jurnalismenya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (ada dua orang lho penulisnya..) :
    1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
    2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat.
    3. Inti jurnalisme adalah disiplin melakukan verifikasi
    4. Para jurnalis harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput
    5. Jurnalis harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan.
    6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik.
    7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan.
    8. Jurnalis harus menjaga agar beritanya proporsional dan komprehensif.
    9. Jurnalis itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya

    demikian Hasil riset kecilku.. agar pembaca (termasuk aku) juga bisa ngikutin perdebatan STR dan Saam, dan tentu bisa menilai scara lebih objektif (silakan lihat juga komentar saya mengenai wikipedia – komentar no 44)..

  49. saam fredy says:

    @ Yodie:

    1. Terima kasih telah mengaku tidak dipaksa masuk UKSW!
    2. Saya tantang anda, jika ada pemberitaan di http://www.uksw.edu yang tidak benar silahkan memaparkan. Jika mengenai isi berita, itu sesuai dengan garis kebijakan dari universitas. seperti yang pernah saya bilang kepada sat, lain lubuk lain belalang. Saya selalu mengalaskan pemebritaan untuk http://www.uksw.edu dari fakta yang ada. uksw.edu lebih menjadi media komunikasi antar universitas dan civitas serta di luar kampus.
    3.Jurnalis handal itu tidak lupa untuk mawas diri dan tetap low profile. Kalau hal itu tidak ada dalam bukunya si kovac, tambahkanlah dihatimu.
    4.Bung, kesalahan kadang memang tak terhindarkan/tak sengaja terjadi. Itulah pentingnya kritik. Mengkoreksinya. Membetulkannya. Semua orang pernah berbuat salah. Kalau kekuasaan, yang salah, malah didukung, alamak!…………….kesalahan mana yang saya dukung???

    Salam,
    Saam Fredy

  50. saam fredy says:

    @ Sat: ……….Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, dua hal itu dibedakan. Atau kamu punya referensi lain yang cukup sahih untuk menjelaskan hubungan dua hal ini? Aku akan dengan senang hati membacanya…kamu kan pinter masa gitu saja tidak bisa!!

    Salam,
    Saam Fredy

Tinggalkan Balasan ke Theofransus Litaay Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *