Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Hargai Pesparawi

Rubrik Opini oleh

“Tidak ada makan siang gratis,” kata Yulius Pratomo, dosen muda Fakultas Ekonomi. Di tengah hening kelas yang seperti kuburan, kata-kata itu menarik perhatian saya, hingga kantuk sedikit hilang — hari memang masih pagi, tapi kuliah yang membosankan memang obat tidur yang mujarab. Badan yang semula menyandar kursi saya tegakkan, lalu condongkan ke depan. Mata dan telinga saya buka lebar-lebar. Frasa “makan siang” membuat saya berselera. Saya belum sempat sarapan.

Waktu itu menjelang akhir 2006. Saya baru beberapa bulan jadi mahasiswa Fakultas Ekonomi. Yulius menuntun para mahasiswa peserta kelas Makro Ekonomi untuk belajar prinsip-prinsip ilmu ekonomi yang ditulis Gregory Mankiw, profesor dari Harvard University. Waktu itu konsep opportunity cost sedang mengemuka di kelas.

Definisi konsep tersebut pada handout kuliah masih terlalu abstrak: “The opportunity cost of any item is whatever must be given up to obtain it.” Yulius coba mengonkretkannya dengan contoh makan siang. “Pasti ada orang lain yang membayar makan siang itu (kalau Anda tak membayarnya),” kata Yulius. “Entah teman Anda, atau si penjual, atau siapapun.” Dan, sekalipun Anda tak mengeluarkan duit, Anda tetap akan “membayar” kesempatan makan siang itu dengan waktu dan kesempatan mengerjakan hal lain. Misalnya, jika terbiasa tidur siang, mungkin kesempatan tidur siang Anda akan berkurang. Jika terbiasa jengjeng siang, mungkin waktu jengjeng Anda akan terpotong.

“Harga” sebuah makan siang tak cuma bergantung pada jumlah rupiah yang Anda keluarkan, tapi juga waktu Anda, kalori yang otot-otot Anda pakai untuk berjalan ke kafe kampus, dan sebagainya. Semua itu adalah opportunity cost.

Opportunity cost senantiasa mengikuti trade off, situasi dimana tiap orang harus memilih satu di antara sekian pilihan. Dengan menimbang-nimbang opportunity cost — secara sadar atau tidak — manusia menjatuhkan pilihan rasionalnya, melewati trade off yang satu menuju trade off yang lain. Mungkin, seseorang baru tak menghadapi trade off jika ia telah “tidur siang di liang lahad”.

***

Saat kesempatan menuanrumahi Pesta Paduan Suara Gerejawi Mahasiswa X datang, Satya Wacana menghadapi trade off. Ambil kesempatan itu atau tidak? Jika mengambil, apa untung dan ruginya? Jika tidak, bagaimana?

“Yang terpenting dari lomba ini adalah kesempatan yang dapat dinikmati oleh para peserta maupun para penonton untuk bertemu dan mengenal berbagai kekayaan budaya Indonesia ini. Mungkin hal itu terdengar cliche, tapi menurut saya itu sangat penting sekali,” tulis Theofransus Litaay, dosen Fakultas Hukum, pada kolom komentar berita tentang hari pertama lomba Pesparawi.

Jumat petang minggu lalu, sehari setelah Rancangan Undang-Undang Pornografi disahkan, Senat Mahasiswa Universitas bikin satu diskusi tentang multikulturalisme. Salah satu makalah yang diangkat pada diskusi itu — yang ditulis Merly Aclin Nuasizta Klaas, mahasiswa Fakultas Psikologi — berpendapat bahwa salah satu cara menghargai keragaman budaya adalah dengan mengenal dan memahaminya. Pengenalan dan pemahaman itu — biasanya disebut “pendidikan multikulturalisme” — sebaiknya diberikan sejak usia dini. Jika masyarakat punya pemahaman yang baik tentang keragaman, maka niscaya keragaman tak akan jadi sumber konflik. “Pendidikan multikulturalisme” sendiri, dalam konteks Satya Wacana, bisa terdapat pada festival budaya yang digelar tahunan oleh Senat Mahasiswa Universitas, atau Pesparawi Mahasiswa X.

Satya Wacana menjatuhkan pilihannya dua tahun yang lalu. Ia memilih menyelenggarakan “pendidikan multikulturalisme” itu dengan menuanrumahi Pesparawi Mahasiswa X. Wakil Rektor III Umbu Rauta — yang juga penanggungjawab kegiatan ini — pernah bilang pada saya bahwa Pesparawi kali ini dipersiapkan (sejak 2006) sebagai Pesparawi “terbesar dalam sejarah”. Saya tak tahu persis apa ukuran “terbesar dalam sejarah”. Yang jelas, kontingen peserta Pesparawi Mahasiswa X berjumlah 39, lebih banyak dari Pesparawi Mahasiswa IX di Manado yang bepeserta 27 kontingen. Dana kegiatan ini pun tak terima hanya ratusan juta. “Bisa sampai sekitar dua (miliar rupiah),” klaim Umbu. Menurut klaim Umbu, dana sebesar itu tak ditanggung Satya Wacana sendiri. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberi bantuan satu miliar lebih. Selain itu, ada bantuan sponsor. Maka tak heran jika saat penutupan Pesparawi, Sabtu minggu lalu, nama-nama korporasi besar berderet pada pembacaan ucapan terima kasih.

“Kalau menurutku, memang sudah saatnya Satya (Wacana) menunjukkan ‘taring’-nya,” kata Geritz Febrianto Rindang Bataragoa, redaktur senior Scientiarum. Geritz mengasosiasikan kemampuan Satya Wacana menghelat Pesparawi dengan “taring” institusi “akademis” ini.

Selama seminggu penuh, sivitas akademika Satya Wacana dibuai dalam keindahan harmoni Pesparawi. Mereka boleh masuk ke gedung Balairung Universitas yang masih gres, menonton para awak paduan suara yang cantik-cantik serta ganteng-ganteng, menikmati suara merdu awak-awak itu, merasakan kebersamaan dengan penonton yang lain, dan berbagai “intangible facilities” yang tak dapat saya sebut satu per satu. Semuanya gratis!

Dan semua sepertinya senang.

***

Seperti kata Yulius Pratomo, tak ada makan siang gratis. Seampuh apapun “taring” Satya Wacana, sebanyak apapun bantuan yang diterimanya dari Ditjen Dikti pun para sponsor, selama ia belum “tidur siang di liang lahad”, ia tetap harus tunduk pada prinsip-prinsip ilmu ekonomi.

Opportunity cost senantiasa mengikuti trade off.

Opportunity cost tak melulu soal jumlah rupiah.

Satya Wacana memilih jadi tuan rumah Pesparawi Mahasiswa X. Umbu Rauta bilang, persiapan sudah dilakukan sejak 2006.

“segala hal disiapkan.. luar biasa bukan?? ya luar biasa,, itulah hebat kita.. mau menyongsong seuatu yang besar dan wahh di beriakan tenaga, materi perhatian ekstra.. tapii untk kepentingan mahasiswa ….. kasiannn…,” tulis salah satu komentator berinisial “deris anak UKSW” pada kolom komentar berita Menyongsong Pesparawi Mahasiswa X.

Katarinus Andikaputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi, ikut angkat suara. “BU (Balairung Universitas — Red) sampe dikebut siang malam… kuliah bakal keganggu selama 1 minggu… hanya buat pesparawi mahasiswa ini… sejak pertama kali baliho dipasang, sampe skarang, selain hiburan dan ajang promosi, aku gak kepikiran apa sih gunanya buat mahasiswa dengan UKSW jadi host pesparawi ini… ngabis2in duit doank….”

“drpd buat biayain pesparawi, mending buat benerin siasat (Sistem Informasi Akademik Satya Wacana — Red) gih, kalo gak buat beli buku biar mahasiswa gak da lagi yang diwajibin ma dosennya buat beli buku (buku tulisan si dosen sendiri itu pula) dengan dalih itu buku wajib mata kuliah, or benerin itu hotspot biar uksw gak jadi pembohong dengan kasih promo hotspot kampus tapi jarang jalan normal.”

“intinya, sebelon koar2 n show off, benerin dolo bobrok di dalem…,” tambah Andika.

Para pedagang kaki lima depan kampus pun ikut menanggung opportunity cost Pesparawi. Dengan surat edaran bernomor 511.3/756, Dinas Pasar dan Pedagang Kaki Lima Salatiga meminta para PKL untuk “menunda berjualan pada tanggal tersebut (27 Oktober 2008 — Red) mulai pagi sampai dengan acara selesai”, “dalam rangka memperingati Defile Pesparawi”.

Surat edaran itu menyebar kebohongan. Dalam undangan pembukaan Pesparawi yang diterima Scientiarum, tertulis bahwa defile merupakan bagian terakhir dari acara yang dijadwalkan berlangsung dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00, bukan dari “pagi s.d selesai”. Faktanya, rombongan defile waktu itu baru keluar dari Kridanggo sekitar jam lima sore lebih, dan sampai di kampus Satya Wacana sekitar jam enam petang. Orang-orang, yang biasa lewat Jalan Diponegoro depan kampus, pasti tahu bahwa waktu berjualan pagi para PKL selesai pukul 16.00. Sebelum jam lima sore barang-barang mereka sudah bersih dari trotoar depan kampus.

Panitia Pesparawi sendiri mengaku tak tahu ihwal “penundaan” waktu berjualan PKL yang dilakukan Dinas. “Yang kami pakai jalannya, bukan trotoar,” kata Sony Heru Priyanto, sang ketua panitia, ketika saya hubungi lewat telepon. Ya! Jika yang dipakai jalannya, kenapa yang di trotoar ikut diusik? Praktis, para PKL tak berjualan sepanjang hari itu. Saya tak berhasil mendapat jawaban Tri Priyo Nugroho, si kepala dinas. Ditelepon di kantor dan rumah, jawabnya sama saja. Sibuk meeting!

Scientiarum sendiri tak luput dari opportunity cost Pesparawi. Beberapa wartawannya, seperti Yosia Nugrahaningsih, Ferdinand Umbu Reda Anaboeni, Bambang Triyono, Yoga Prasetya, dan James Anthony Leonard Filemon, masuk dalam kepanitiaan Pesparawi. Yosi, Ferdi, Bambang, dan Yoga jadi redaksi Harmoni, satu buletin harian yang terbit selama seminggu Pesparawi. Yosi pemimpin redaksinya. Sedangkan James — yang seorang wartawan foto — kebagian jatah dokumentasi.

Saya masih ingat betul, waktu itu panitia Pesparawi minta bantuan Scientiarum untuk menerbitkan buletin harian itu. Yosi, yang sejak awal sudah tergabung dalam kepanitiaan, menyampaikan permintaan itu secara lisan dalam suatu kesempatan rapat.

Awalnya saya senang. Saya pikir ini sebuah kemajuan bagi Satya Wacana, jika panitia memberi tempat kepada pers untuk menjelajahi seluk-beluk kepanitiaan dan kegiatan. Saya kira mereka siap untuk terbuka dan transparan dalam penyelenggaraan Pesparawi. Memberi tempat kepada pers, berarti memberi tempat kepada publik untuk ikut mengawal jalannya suatu proses. Maka saya tak keberatan jika sebagian tenaga Scientiarum “disumbangkan” buat Harmoni. Saya pun beberapa kali berpesan kepada mereka, “Tetaplah jadi wartawan, jangan jadi humas!”

Yosi dan Ferdi sempat cerita pada saya soal beberapa masalah, salah satunya soal kontingen yang kesurupan. Kenapa masalah itu tak ditulis? Bukannya cari sensasi, tapi dalam konteks universitas “Kristen”, saya kira kesurupan adalah masalah besar. Masalah ini perlu diliput, digali akar permasalahannya, diberitahukan pada publik, agar semua orang bisa belajar. Apakah “kekristenan” tak lagi mampu melawan “kuasa kegelapan”, atau orang-orang “Kristen” jaman sekarang tak Kristen lagi? Ini menyangkut identitas Satya Wacana sebagai institusi “akademis” “Kristen”!

Suatu sore di kantor Scientiarum, Ferdi menceritakan kekesalannya pada saya. Salah satu beritanya di Harmoni menuai protes. Dalam berita itu Ferdi menulis, “Sampai sesi kedua berakhir, dua kontingen peserta mendapat pemotongan nilai sebagai akibat dari kelebihan waktu bernyanyi. Kedua kontingen tersebut adalah : peserta dengan nomor urut 7 Universitas Kristen Indonesia – Jakarta, dan peserta dengan nomor urut 20 Universitas Negeri Sam Ratulangi – Manado. Masing — masing dari mereka bernyanyi dengan waktu 17,57 menit untuk UKI Jakarta dan 16,16 menit untuk UNIMA Manado.”

Yang melakukan protes pertama kali adalah wakil kontingen UKI. Mereka memrotes publikasi pemotongan nilai itu pada salah satu anggota panitia. Panitia tersebut lantas protes kepada Yosi, dan Yosi menyampaikan protes itu kepada Ferdi. Yosi minta agar lain kali Ferdi lebih berhati-hati dan tak usah menulis jika ada pemotongan nilai lagi. “Karena itu haknya dewan juri untuk bicara,” kata Yosi pada saya.

Ferdi juga punya argumentasi. Kata dia, semua orang di BU seharusnya tahu kalau UKI dan Unsrat menyanyi lebih dari 15 menit. Ada papan elektronik penunjuk waktu di sana. Ferdi juga tahu ada peraturan tertulis, bahwa jika waktu tampil kontingen lebih dari 15 menit, maka kontingen itu akan dikenai pemotongan skor. Ferdi telah melakukan verifikasi kepada Yulius Istarto — anggota panitia yang membawa daftar skor — dan mendapati bahwa skor UKI dan Unsrat memang dikorting dewan juri. Jika faktanya demikian, apakah Ferdi masih harus menunggu dewan juri untuk bicara? Bagaimana jika dewan juri yang terhormat itu tak mau bicara, atau menyangkali pemotongan skor? Bisa-bisa mereka sendiri malah mengangkangi peraturan.

Berita Ferdi memang kurang akurat. Ferdi menyebut Unsrat (Universitas Sam Ratulangi), lalu menyebut Unima (Universitas Negeri Manado). Yang benar adalah Unsrat. Seharusnya Unima tak tertulis dalam berita itu dan redaksi memuat ralat atas salah tulis itu. Tapi soal penulisan korting nilai, mestinya Ferdi tak disalahkan dan Yosi, sebagai pemimpin redaksi, ikut melindungi Ferdi, reporternya.

Belakangan, dalam kolom Curhat Harmoni edisi terakhir, Ferdi menulis, “Melayani via guratan tinta. Pelayanan yang aku beri benar-benar tulus dan tanpa pamrih. Walaupun para petinggi birokrasiku ‘seperti’ melepas tangan tanpa mau menengadahkan sedikit kepala dan badannya ke kami. Begitupun ketika pelindungku berseberangan denganku tanpa memberi perlindungan yang semestinya kudapat. … Guratan tintaku tanpa bercak. Tak ada rasa benci dan dengki, terlebih dendam.”

Sehari sebelum penutupan Pesparawi, Yosi bilang bahwa Harmoni sepertinya memang media humas milik panitia. “Dan aku pikir nggak ada yang salah dengan humas,” kata Yosi.

Praktik-praktik kehumasan — yang hanya memanipulasi informasi untuk kepentingan penguasa — tak mungkin mendatangkan kebaikan, bahkan bagi penguasa itu sendiri! Penghimpunan informasi yang parsial dan bermotif “memihak kepentingan” bukanlah bentuk komunikasi yang baik dalam jangka panjang. Ia memupuk ketegangan dan memperlebar jurang kecurigaan di antara “pihak-pihak yang berkepentingan”. Ingat bagaimana Suara Maluku dan Ambon Ekspres jadi katalisator konflik Ambon? Sebagaimana tertulis dalam laporan Eriyanto, analis media dari Institut Studi Arus Informasi, dalam konflik itu Suara Maluku adalah humas kelompok Kristen, dan Ambon Ekspres milik komunitas Islam.

Saya percaya kepada jurnalisme sebagai bentuk komunikasi terbaik. Ia memihak kebenaran. Meski itu bukan berarti praktisi jurnalisme adalah orang yang paling benar, tapi setidaknya mereka wajib mengusahakan pencarian kebenaran itu. Pencarian kebenaran sendiri penting karena “kebenaran itu akan memerdekakan kamu,” tulis penulis kitab Yohanes versi Indonesian Literal Translation. Bill Kovach, wartawan yang disebut-sebut sebagai pembawa hati nurani jurnalisme Amerika, juga menyatakan hal serupa dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme. “Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri,” tulis Kovach.

Tujuan pendirian universitas sendiri — mengutip kolom Anto Prabowo, staf peneliti dan pengembangan Suara Merdeka, tentang kemelut Satya Wacana — adalah untuk menciptakan, menguji, dan menggugat kebenaran. Kebenaran tidaklah tunggal, pasti mandiri, dan tak pernah mati. “Dulu, matahari mengelilingi bumi dianggap sebagai kebenaran. Kini terbukti, bumilah yang mengelilingi matahari,” tulis Anto. Satya Wacana, dalam Statuta 2000, juga punya visi: “Menjadi Universitas Scientiarum, untuk pembentukan persekutuan pengetahuan tingkat tinggi, yang terikat kepada pengajaran kebenaran (aletheia) berdasarkan pada realisme Alkitabiah.”

Lalu buat apa media humas macam Harmoni? Siapa yang punya ide bikin media ini? “Ide dari panitia,” jawab Umbu Rauta dalam sebuah pesan singkat. Umbu sendiri adalah penanggungjawab kepanitiaan Pesparawi. Apakah dia juga akan bertanggungjawab atas praktik-praktik kehumasan Harmoni? Saya khawatir, ketika “manusia-manusia akademis” di sini nyatanya lebih suka berhumas ria daripada mengusahakan pengejaran kebenaran, jangan-jangan Satya Wacana telah menggagalkan visinya sendiri.

Kini, Pesparawi telah usai. Selamat kepada Universitas Kristen Indonesia Maluku, sang juara umum. Selamat juga buat Satya Wacana atas perhelatannya. Semoga semua yang terlibat dalam Pesparawi bisa menyadari, apa-apa yang dilakukannya selama seminggu kemarin punya opportunity cost-nya sendiri-sendiri. Dan semoga pula, mereka tak menyesal atas pilihan-pilihan yang telah diambil. Kalau kata filsuf-cum-wartawan Albert Camus, “Life is a sum of all your choices.

Satria Anandita, pemimpin redaksi Scientiarum

98 Comments

  1. @to all: Saya juga baca di kovac mas-mas. setalah saya baca baru saya petakan, dan terlihat bahwa kovac membangun relasi antara wartawan/media dengan negara/peemrintah. Lah kalian di SA, mau memperlihatkan itu di UKSW, atau beraninya sama UKSW…he..he.he.

    Mau jadi wartawan beneran/atau kacangan, keluar dari kampus dong mas…! (and i will say “welcome to the jungle”).

    Salam,
    Saam Fredy

  2. Hahahahhahahah…

    hahahahhaha…ada yang ambil senjata dari wikipedia…hahahahhaha…aku aja pernah posting asal2an disana..hahahahahha..

    btw, ini debat anta para jurnalis ya…Satria dari LPM scientiarum lawan Sam freddy dari koran…..koran apa bung saam???

    tuh Sat disuruh Saam keluar kampus..jangan di depan internet terus..hhahhaha..nanti rusak matamu…hhihihi..iya Sat tulis kayak berita2 uksw.edu dong kan keren2 tuh…(eh uksw.edu beneran keren kan beritanya ???). Pokoknya scientiarum jangan kacangan..harus besar kayak koran Pos Kota Jakarta..hahahahahhahahah…dan isi websitenya kayak http://www.uksw.edu yang tersohor itu

    hahahahha..lucu..lucu….

    yodie kamu lucu..gak pentinglah yod terpaksa atau gak terpaksa..toh udah tlanjur masuk..kan uksw juga gak jelek2 amat (ceweknya maksud saya..rasanya juga enak enak..hahahah..sumpah loh..). Kamu juga masuk bagian dari sejarah kok Yod..sejarah orang2 yang gak masuk sejarah…hahahahahhahhaha

    hahahhahaha…

    Pesparawi ini memang pantas jadi yang terbesar sepanjang sejarah, sampai harus mengorbankan PKL….Apapun akan dicatat dalam sejarah kalau sampai harus ada yang jadi korban walau demi sesuatu yang biasa2 saja..

    ah..kalian semua ini lucu-lucu dan menggemaskan….

    salam energi negatif

    meci

  3. 1. Terima kasih telah mengaku tidak dipaksa masuk UKSW!

    Sama-sama sayang…. 😆

    2. Saya tantang anda, jika ada pemberitaan di http://www.uksw.edu yang tidak benar silahkan memaparkan. Jika mengenai isi berita, itu sesuai dengan garis kebijakan dari universitas. seperti yang pernah saya bilang kepada sat, lain lubuk lain belalang. Saya selalu mengalaskan pemebritaan untuk http://www.uksw.edu dari fakta yang ada. uksw.edu lebih menjadi media komunikasi antar universitas dan civitas serta di luar kampus.

    Wah, saya ditantang. Serem. Memang saya pernah bilang pemberitaan di uksw.edu salah? Di mana? Yang mana? Capek deh. Jangan sembarang fitnah donk. Hmm, mau referensi buku? Baca Sembilan Elemen Jurnalisme hal.141, judul babnya: Memantau Kekuasaan dan Menyambung Lidah yang Tertindas. Ya buat baca-baca aja sih. Mau enggak? Enggak mau ya karepmu!

    3.Jurnalis handal itu tidak lupa untuk mawas diri dan tetap low profile. Kalau hal itu tidak ada dalam bukunya si kovac, tambahkanlah dihatimu.

    Eh, di komentar 51kamu katanya udah baca bukunya Bill Kovach? Hayoooo…boong yah? Ah, jadi males saya bales komentarmu. Buka halaman 106, ada membahas soal kerendahhatian. Ini bagi saya, rambu-rambu. Saya juga manusia soalnya. Semoga bisa berfungsi sebagai “proses menjadi” saya. Bagimu? Meneketehek…., peduli amat!

    4.Bung, kesalahan kadang memang tak terhindarkan/tak sengaja terjadi. Itulah pentingnya kritik. Mengkoreksinya. Membetulkannya. Semua orang pernah berbuat salah. Kalau kekuasaan, yang salah, malah didukung, alamak!…………….kesalahan mana yang saya dukung???

    Lho, memangnya saya men-judge kamu mendukung kesalahan? Yang mana? Tolong perlihatkan. Kata-kata saya tersebut sebagai statement. Bukan menuduhmu! Atau merasa sebagai tertuduh? 😆

    Eh, aku juga undur diri ah. Males ngeladenin kayak gini. Lihat aja, pertanyaanku banyak yang enggak dijawab! Bahasannya Satria, Dobleh juga enggak ditanggapi sepenuhnya. Atau memang sudah tersudut? 😆

    @ Satria:
    JANGAN SOMBONG MAS. HATI-HATI KALAU EGO SUDAH BICARA! KAMU MENEBAR PERMASALAHAN. TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA.

    Ya ampun. Kok maen ancam kayak begini sih? Ih, aku enggak habis pikir. Jahat banget sih. Kekanak-kanakan juga. Ih,,, takut aku. Aku takut kuliah di tempat yang subur premanismenya.

    Satria, aku bakal dukung kamu. Bukan karena kamu temanku sejak hari pertama kuliah, tapi karena logika, pandangan, rasionalitas, argumen, dasar dan pemahamanmu bisa lebih diterima. Dibanding “dia”. Tenang. Banyak kawan di belakangmu. Dobleh mau enggak ya jadi pasukan berani mati?

    Don’t be affraid. Remember Thukul’s poem. Then there is only one word: RESIST!

    Eh, “dia” siapa ya? 😆 😆 😆

  4. @Yodie dll, daripada berdebat tidak selesai di urusan jurnalisme, lebih baik kita lanjutkan diskusi kita di beberapa isu yang dulu sudah diangkat. Semoga masih ada semangat untuk yang ini.

    Dibanding idealismenya sendiri, realitas UKSW masih tertinggal jauh. Bahkan kadang, UKSW tidak berjalan sesuai idealisme. Apakah idealisme lalu hanya sekedar statement dan bisa di-persetan-kan? Kalau sekedar begitu, ya sebaiknya dibuang/hapus saja supaya tidak menjadi beban. Supaya saya tidak dibilang asal tunjuk, maka mari kita tafsir misalnya fungsi/visi UKSW nomor 1 dan 2. Pak Noto yang merumuskan idealisme UKSW menurut saya seorang yang berwawasan luas, pemahamannya menjangkau ke luar batas wilayah Indonesia dan diadopsinya pandangan dan konsep-konsep dari luar, misalnya universitas scientiarum, universitas magistrorum et scholarium, creative minority. Lalu bagaimana kita mencoba membumikan idealisme UKSW?

    Harus kita pahmi bahwa konsep dan model universitas modern, bagaimana-pun boleh dikata, adalah produk atau didominasi oleh sejarah di negara-negara barat. Kemajuan universitas di Negara-negara itu pun tidak bisa ditolak jauh di depan kita. Karena itu, ketika kita mau memotret profil universitas-universitas terbaik dalam rangka memahami idealisme UKSW yang juga telah dipotret dari konteks perkembangan di barat, maka sulit untuk menghindari dari pilihan untuk membandingkannya dengan universitas-universitas asing itu, walau kita sedang melihat bahwa China pun mulai menyodok pelan-pelan. Nah, gambaran seperti apa sih universitas-universitas yang macam begitu? Karena itu, mari kita cek, ukur dan bandingkan dengan kemajuan universitas-universitas terbaik untuk menilai apakah benar kita berada pada urusan permukaan saja, atau sudah menggali substansinya.

    Kembali ke pernyataan saya, jikalau kesimpulan itu benar, yakni kita cuma bermain di level permukaan (ibarat menggunakan kosmetik dan belum benar-benar menohok inti persoalan untuk menjadi universitas yang baik – note: saya tidak memandang bahwa kesimpulan ini absolute artinya tidak ada yang baik, tetapi ini menggunakan ukuran rata-rata atau modus), maka pernyataan saya itu jelas sebuah otokritik karena kena juga pada diri sendiri. Namun, baiklah juga untuk jujur dan berani menunjuk hal buruk pada muka sendiri agar tidak berpuas diri. Lebih dari itu, kritikan pedas dari anda dan teman-teman mahasiswa lain pun sangat baik untuk menyodorkan fakta-fakta buruk yang perlu ditangani (yang buruk sampaikanlah, yang baik biarlah disimpan). Namun, pertanyaannya, apakah kita cukup berhenti di situ saja?

    Baiklah di situ kita ambil sikap optimis Dobleh bahwa, UKSW punya potensi dan kalau bekerja sama, kita pasti bisa. Pertanyaan lagi, bagaimana memungkinkan potensi itu menjadi riil? Apakah Febri benar, mana mungkin bisa demikian kalau konflik terus?

    @Febri, yang pertama sekali perlu didamaikan adalah dengan atau di dalam diri sendiri (saya asumsikan orang percaya selalu berupaya berdamai dengan Tuhannya). Namun, ini hal susah ya (kan saya tidak merasa punya masalah dengan diri sendiri, misalnya). Kembali, kalau klaim saya di atas benar, idealisme tidak sama dengan realitas (ada gap antara keyakinan dan ucapan dan kenyataan), maka ini berarti ‘perdamaian dalam diri’ belum terjadi. Kita cuma mengucap dengan mulut atau mencatat di atas kertas, tetapi tidak ada kesungguhan di hati bahwa kita benar-benar percaya itu. Ini mungkin terjadi karena idealisme UKSW memang Cuma tercatat di atas kertas, berhenti di situ, alias menjadi dokumen resmi saja dan karena itu ya cukup disimpan rapi dan tidak perlu dibicarakan kembali dari waktu ke waktu agar seluruh elemen komunitas ini paham idealisme lembaganya dengan baik. Lalu karena itu, bagaimana mungkin kita menjembatani gap idealisme – realitas, jika apa idealismenya saja tidak dipahami secara benar? Kalau paham benar lalu semua lidah mengaku (menjadi a shared belief), “kami percaya”, maka saya yakin seyakinnya ini akan memudahkan perdamaian antar sesama. Itulah yang disebut mekanisme kultural bekerja! Nah, supaya itu bisa terjadi, ya sosialisasi, dialog, wacana kritis kita perlukan untuk membangun institusi yang kuat.

    Nah, karena saya pun menilai kita justru kurang berwacana secara kritis. Komunitas UKSW belum berwacana dengan baik, apalagi menjadi sebuah komunitas yang berwacana. “A discourse community can be defined as people who share similar thoughts and ideas (dari wisegeek.com). Wacana sendiri adalah “the term to describe the conversations and the meaning behind them by a group of people who hold certain ideas in common.” Wacana adalah total dialog-dialog kita tentang sesuatu atau lebih hal. Karena itu, kalau conversation atau dialogue sebagai kendaraan mengekspresi dan membahas ide-ide (Wagner dan Hayes) saja jarang tersedia dan dimanfaatkan dengan benar untuk, lalu apa makna-makna yang bisa disepakati? Jadi, wacana bagi saya bukan sekedar lontaran pernyataan. Jika sudah berdialog dengan benar baru kita bisa capai posisi wacana sebagai ide-ide atau pengetahuan yang tersistem, yang lalu akan menjadi sebuah proses/mekanisme untuk mengonstruksi realitas kita. Dari situ-lah, kesimpulannya justru bahwa Satya Wacana kurang atau tidak berwacana datang.

    Namun, terima kasih SA, terima kasih buat teman-teman yang sudah mulai membangun masyarakat pewacana yang berwacana. Bagi saya SA menjadi media komunikasi dan wahana debat dan ini sentral karena, “communication is a prerequisite and collective debate is the source of individuals’ practical everyday knowledge (Wagner and Hayes, 2005, Everyday Discourse and Common Sense).

  5. @ To all: terakhir dari saya, ini saya sampaikan kepada 2 rekan saya ketika bertemu di seminar hari ini (11/11).

    Ada yang kurang dari SA, karena SA hanya mengedepankan jurnalisme liberal gaya amerika (si kovac itu), tapi lupa akan identitas awal SA sendiri. SA ada dalam lingkungan UKSW, SA ada dalam hati, jiwa, dan semangat ber-UKSW. Seharusnyalah SA lebih mengedepankan aspek ke-Kristenan yang diakui dalam statuta UKSW.

    Lalu bagaimana? Si kovac boleh saja, tapi mohon juga tidak meninggalkan etika ke-Kristenan kita. Sehingga tidak perlu ada kata-kata biadab, kata-kata yang ditulis untuk memojokan orang/kelompok tertentu hanya demi mengedepankan aspek jurnalisme, karena jurnalisme itu sendiri tidak biadab.

    Salam,
    Saam Fredy

  6. Mengikuti perkembangan “diskusi” (kalo tidak mau dikatakan debat) makin lama makin menarik. Apalagi membahas topik seputar jurnalisme ataupun jurnalistik. Menurut hemat saya, memang perlu kita memiliki garis ideal yang menjadi rambu serta haluan untuk kita bertindak. Bahkan hal tersebut di anjurkan dalam pelaku dunia jurnalistik. Ini kemudian menjadi ciri-ciri dari setiap hasil pelaku jurnalistik.
    Jika kemudian ini didiskusikan, keliatannya yang akan muncul adalah subjektivitas. Yang parahnya, diwarnai dengan “kekakuan”. Wajar saja tensinya meninggi (serem juga ya kalo para jurnalis berdiskusi…)

    Konkritnya, ada banyak pendekatan yang diambil oleh para jurnalis. Ini muncul tidak dengan sendirinya. Pahamilah semua ada kepentingannya masing-masing. Inilah warna dari dunia jurnalisme. Yang terpenting biarkan semuanya bergerak diranahnya masing-masing, publik yang mengkonsumsi akan memahami dan menjatuhkan penilaian serta pilihannya.

    Terlepas dari itu, akhir-akhir ini Saya melihat banyak yang telah berani menyalahkan diri sendiri karena keputusannnya. Ini perlu diacungi jempol. Institusi ini ya memang seperti “ini”. Ya pahami aja sebagai “situasi problematik”. Siapa saja boleh memaknainya, terus mengajukan gugatan jika perlu. Jangan terlalu berlarut-larut dengan penyesalan, takutnya memunculkan traumatis. Wuih….inilah ke-wacana-an satya wacana.

  7. Ikut ah….
    anyway y’all sucks!
    ngomongnya panjang tapi intinya cuma 4 kata

    seputar pesparawi versi subyektif

    gitu aj. hehe….
    great 4 the peple who run this page.

  8. kok jadi panjang ya….
    ini khan berangkat dari masalah, apakah Harmoni itu humas atau pers…,
    orang berkesan Harmoni itu Humas, tapi orang humas nggak terima, karena tidak berada di struktur kehumasan Pesparawi, yang jelas, secara struktural Harmoni ada di kesekretariatan…..

    nah, bukankah yang dipermasalahkan bukan Harmoni itu dalam struktur apa, namun content Harmoni yang cenderung ke-humas-an daripada pers, oleh beberapa pihak dipertanyakan, kenapa tidak ke arah pers saja….

    ke-humas-an Harmoni memang tampak menonjol, karena ada kejadian-kejadian di seputar Pesparawi yang tidak diliput, mungkin sengaja, mungkin tidak sengaja, karena Harmoni memang bukan pers yang perlu memantau semua kejadian di seputar pesparawi, namun cukup menampilkan/memberitakan hal-hal yang membuat persparawi menjadi semakin dikenal “hebat”. Begitu yang saya tangkap dari membaca Harmoni.

    Saya pernah berkomentar ketika di Harmoni ditulis ucapan “Selamat Bertanding”, ah.. bukankah lebih tepat “Selamat Berlomba”….(“selamat bertanding” mungkin lebih tepat diucapkan pada pengantin baru ha ha ha….)

    Bagi saya pribadi, yang tidak mengikuti Pesparawi dari “dekat” memang ada pertanyaan-pertanyaan yang masih menari-nari di dalam otak saya, (yang tidak tahu akan terjawab atau tidak)
    misalnya, seperti yang sudah disinggung, adanya kontingen yang kesurupan, walau tidak ada hubungannya dengan Pesparawi, namun sebagai Universitas Kristen, apakah tidak perlu ada pihak yang memberi penjelasan mengenai fenomena/fakta itu, sehingga orang yang mendengar secara samar-samar tidak main duga-duga dan bisa beropini macam-macam. Saya hanya tahu, ada panitia yang mendatangi seorang pendeta di sebuah gereja, dan pendeta tersebut tidak sanggup, karena sedang ada acara yang diikutinya. Sebenarnya panitia, jika tahu, di Salatiga ada beberapa orang yang “spesialis” menangani ‘manifestasi roh jahat’. Ada beberapa pendeta dan beberapa pelayan Tuhan, yang memang sudah dikenal sering melayani dalam bidang ini. Campus Ministry mestinya paham tentang hal demikian.

    Pembukaan Pesparawi yang diguyur hujan lebat, bagi saya juga “aneh”, karena walau tidak pakai pawang hujan, namun apakah tidak ada tim doa yang cukup handal untuk bisa minta belas kasihan Tuhan, agar hujan tidak turun….. atau sudah berdoa, namun “salah berdoa” atau bagaimana? Ya sebagai kata-kata penghiburan, pasti panitia akan berkilah bahwa itulah yang terbaik dari Tuhan, itu hujan berkat he he he…
    (bandingkan dengan KKR di Stadion Kridanggo tadi malam, bulan-pun menampakkan dirinya, tidak hujan sama sekali, dan KKR berjalan dengan lancar, tanpa ‘kerusuhan’ apapun, mukzijat kesembuhan juga terjadi pada beberapa orang yang hadir) Apakah beda, “kristen”nya UKSW dengan “kristen”nya gereja-gereja penyelenggara KKR itu?
    Atau mengapa tidak ada penjelasan dari panitia, pembukaan dilakukan siang-sore hari, padahal sudah tahu kalau musim hujan, apa memang mau menantang alam? (dan ternyata kalah…)

    Oh ya, bis-bis yang tidak muncul di hari terakhir, juga menimbulkan tanda tanya, ada apa dengan urusan transportasi? Apakah ada yang tidak beres? atau memang sudah direncanakan bahwa hari terakhir tidak lagi pakai bis? Coba apa keterangan dari seksi transportasi, coba apa kata sopir-sopir bis? cross check perlu dilakukan, agar tidak ada yang ditutup-tutupi.

    Minggu pagi, saya dengar (entah benar-entah tidak benar) ada gereja yang sudah dijadwalkan dikunjungi kontingen Pesparawi, namun ternyata tidak datang, ada yang dikunjungi lebih dari satu kontingen, itupun menimbulkan tanda tanya.

    Pilihan NAMA domain website http://www.pesparawimahasiswax.net ,bagi saya juga menorehkan tanda tanya, kenapa tidak menjadi sub domain uksw.edu saja, sehingga trafik uksw.edu naik? atau kenapa tidak pesparawi.net saja,. sehingga dapat dipakai untuk pelaksanaan pesparawi berikutnya, tinggal di transfer ke penyelenggara berikutnya. http://www.pesparawimahasiswax.net, akan almarhum tahun depan, ketika tidak ada yang berkepentingan memperpanjang kontrak nama domain tersebut, dan cerita kemegahan pesparawi mahasiswa x, akan hilang begitu saja, kecuali di backup dan dihosting di tempat lain dengan nama “domain” atau “subdomain” baru yang dapat “abadi”.

    Apakah itu semua akan diungkapkan oleh Harmoni, kapan? khan Pesparawi sudah selesai….

    Dibalik semua kemegahan pelaksanaan Pesparawi, yang mau-tidak-mau harus diakui sebagai sebuah “kesuksesan”, ada beberapa hal yang masih “mengganjal”, mungkin hanya bagi beberapa orang, karena bagi beberapa orang yang lain tidak mempermasalahkannya atau tidak melihatnya sebagai masalah….

    Ya seperti Harmoni…., ada yang mempersoalkan itu pers atau humas, ada yang tidak peduli, dan tetap menikmati sajian-sajian berita dari Harmoni.

    Bagi saya, karena tidak ada yang benar dan yang salah, semua hanya masalah pilihan dan konsekuensi, maka kehadiran Harmoni juga sebuah pilihan dari panitia, dan pembicaraan disini adalah salah satu konsekuensi dari hadirnya Harmoni sebagai “humas” (atau “pers”)-nya Pesparawi, yang tidak komplit meliput fakta-fakta di seputar Pesparawi.

  9. @Saam,Yodie, STR.
    ini bukan tanggapan terakhirku.. (gak mau ikut-ikutan mainstream.. hehehehe.. :p)

    @Saam
    kalo ini aku setuju Saam, soal penggunaan kata, kalau buat diriku sendiri lho ya. Cuma kalau yang lain, ya suka-suka mereka. lha wong tulisan mereka sendiri.
    kalau tentang kekurangan SA, ya wajar.. lha wong isinya manusia semua. mo liberal, mo Kristen kalo yang ngelakoke menungso ya pasti ada cacate….. kalo sampai ga ada cacate, artine pelakunya sudah tidak menjadi manusia sempurna.
    seperti komentar Lisa di “mahasiswa rentan kejahatan cyber”:
    kalau salah ngaku salah kalau benar ngakulah

    eh soal jurnalisme liberal. liberal = bebas. jurnalisme liberal = jurnalisme pembebasan?.. huehehehehe

    btw, kamu idup di jungle tho? *gubrag*

    hmm…
    barusan aku kepikiran, kok bisa sih dari artikel “Hargai Pesparawi”, bisa sampai debat antara Sembilan Elemen Jurnalisme vs wikipedia????
    review sampai atass, ternyata… bermula dari kritik terhadap uksw.edu tho… heheehe sampai kelupaan..
    dah selesai kan komentar2nya? pertanyaan yang tak terjawab ya silakan disimpan untuk kesempatan lain..
    Makian yang belum tertulis ya silakan disimpen aja, daripada dibilang biadab….:)
    (bi=dua, adab=kesopanan, kalo gitu.. biadab=kesopanan pangkat dua yah??? huehehehehe :D)

    @Neil
    Kak, hmm.. jadi menurut Kak Neil :
    – statement idealisme diperlukan sebagai penunjuk arah ( setuju sama ini)
    – perlunya dijembatani antara idealisme UKSW dengan realitas (setuju sama ini),seperti juga sudah aku kemukakan, bagaimana kita mau maju kalau belum ada itikad baik. Itu yang sekarang ini diperlukan! Kalau Kak Neil dan Opha memakai istilah otokritik (menuding diri sendiri, menyalahkan diri sendiri). Mungkin lebih jauh lagi, bagaimaa (pejabat) kampus ini juga menyediakan sarana kritik dari stakeholdernya (mahasiswa, dosen, alumni, dll). Salah satunya sudah terwujud dalam SA(baca : Scientiarum. bukan jenengmu lho Sat, dasar narsis :P). Apa lagi yang diperlukan? seperti sudah beberapa kali terkuak dalam diskusi dengan penghuni kafe depan, diperlukan kekuatan penyeimbang, disini seharusnya mahasiswa bisa berperan, dan juga kekuatan penyokong, salah satunya IKASATYA(sampai sekarang aku gak jelas, gunanya organisasi ini apa sich?). Intinya: gunakan segala resource yang tersedia. mekanisme teknisnya ya seperti yang sudah Kak Neil bilang, dialog, sosialisasi, dll.

    @opha
    sori Pha, aku gak paham dengan “penyesalan” dan traumatis” di komentarmu. Bisa tolong dijelaskan lagi gak? (tak beliin kopi deh .. :D)

    @Renat
    benarkah hanya itu inti yang kamu tangkap?
    hayo, Sat, Saam, Yodie, Neill, dll (termasuk dobleh ganteng)… cuma itu doank yang ditangkep ama Renat.
    Mungkin para komentator disini terlalu berpanjang lebar jadi yang baca malah gak nangkep esensinya.

    @wit
    sori mas, aku gak mau mengakui Pesparawi sebagai sebuah kesuksesan. hehehe..
    *kecuali kalau ada yang mau mbayar aku untuk bilang gitu (kebiasaan orang Indo nih, dan karena aku nasionalis jadi ya ngikut juga.. buakakakaaakkaka)*

    wit wrote:
    ada beberapa hal yang masih “mengganjal”, mungkin hanya bagi beberapa orang, karena bagi beberapa orang yang lain tidak mempermasalahkannya atau tidak melihatnya sebagai masalah

    wah, IMO, masalah ya masalah Mas. Gak perduli apakah ada orang yang mempermasalahkannya /melihatnya sebagai masalah atau tidak. Masalah bukan suatu konsep abstrak yang diciptakan oleh persepsi manusia, tapi suatu hal yang sudah ada, hanya saja perlu penggunaan panca indera, pikiran dan hati untuk mengakuinya dan berusaha memecahkannya.

  10. @Dobleh

    Pertama, gak apa-apa kalau si Renat cuma mau simpulkan seperti itu. Menurut saya opini yang ditulis oleh STR intinya menyoal (keputusan) mengapa ada (diselenggarakan) pesparawi sekalipun ada dampak (costs) yang ditimbulkan atau terabaikan karena sedotan perhatian yang besar serta yang memuat praktik yang olehnya dipandang kurang tepat (jurnalisme kehumasan yang tidak mengungkap kebenaran). Namun, tulisan itu dapat ditelaah dari banyak angle untuk menggali lebih dalam atau mengaitkan hal-hal relevan untuk mengembangkan wacana yang sudah dibuka STR sebagai penulis opini. Mendiskusikannya di antaranya adalah upaya memberi perspektif dan itu baik saja karena kita tidak berhenti pada kesimpulan. Ada orang yang memang maunya cuma tunggu atau cegat di ujung jalan (=kesimpulan), tetapi itu bisa membuatnya kehilangan detail dan perspektif. Namun, silahkan saja, itu haknya.

    Kedua, idealisme atau istilah yang dipakai Jerry Porras dan Jim Collins adalah ideologi, memuat di dalamnya nilai-nilai utama (core values) dan misi atau alasan kenapa sebuah organisasi itu ada. Bolehlah kita tambah visi, khususnya visi jangka panjang yang cenderung abstrak, yakni mimpi besar mau jadi apa sebuah organisasi, bukan visi jangka menengah-pendek yang lebih berupa target-target terukur yang ingin dicapai. Literatur sudah mengenakan banyak makna pada idealisme (values, vision, mission), pemberi identitas, penunjuk jalan, penyemangat, dll. Nah, maknanya yang super seperti itu hilang kalau idealisme cuma sebuah syarat formal bagi sebuah organisasi, yakni asal ada tetapi tidak dijiwai dan menjiwai perilaku organisasinya.

    Karena tidak pada posisi yang seharusnya, maka keputusan organisasi seringkali tidak dipandu oleh apa yang dipercayainya, apa yang diinginkannya untuk dikerjakan dan dicapai. Ini berisiko, organisasi melakukan sesuatu yang tidak perlu atau pada masa kritis ia mengambil keputusan yang kurang tepat. Buku Built to Last karya Collins dan Porras (ada di perpustakaan kita) bagus sekali dibaca untuk melihat apa kedudukan dan peran ideologi bagi organisasi-organisasi yang disebut visioner.

    Dengan mengatakan begitu, idealisme dan realitas bukan sesuatu yang terpisah ada path yang menjembatani keduanya dan karena itu ada selalu efforts untuk membawa realitas ke idealisme. Kehidupan sebuah organisasi dan setiap orang adalah mewujudkan cita-citanya, mengemban misinya, melaksanakan apa yang diyakininya benar. Dalam konteks itu, kalau terjadi gap, maka masalahnya kemungkinan ada pada: 1) pemahaman yang kurang baik tentang idealisme itu (kurang sosialisasi, dialog untku penguatan, dorongan untuk implementasi), para ahli budaya organisasi menyebutnya sebagai budaya yang tipis (thin culture), atau 2) idealisme itu sudah tidak cocok lagi dengan konteksnya karena perubahan-perubahan yang terjadi. Namun, dalam kasus UKSW saya menampik opsi kedua.

    Menganalisis kasus Pesparawi dan meninjau kembali tulisan STR, pertanyaannya mengapa Pesparawi harus dilakukan dengan dana besar di tengah cukup banyak kenyataan yang kurang baik (Siasat, buku, etc) yang olehmu (Dobleh) disebut masih banyak koreng-nya? Terkait dengan diskusi Ini, maka keputusan ini bisa disebut memrioritaskan sesuatu yang kurang pas. Kembali ke argumen di atas (Collins dan Porras), organisasi yang memegang idealismenya dengan baik, harusnya tahu apa yang masuk top priority (tidak bisa ditawar-tawar) dan mana yang perlu dikemudiankan. Sebuah pesta besar (meriahnya Pesparawi) di tengah kelaparan (banyak kekurangan internal) rasanya membenarkan klaim itu, terlepas dari ada juga objectives yang mau dicapai dari pesparawi.

    Bleh, kritikan stakeholders tidak sedikit dan tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang disampai langsung. Banyak indikator yang bisa dilihat sebagai atau banyak media yang bisa digunakan untuk mengantar kita menemukan kritik/saran tidak langsung bagi kita. Namun, pewadahan komunikasi langsung tentu saja lebih baik. Saya ambil contoh, Progdi Akuntansi dan Manajemen menyelenggarakan percakapan dengan stakeholders-nya ketika hendak menyusun ulang kurikulumnya. Progdi IE melakukan benchmark untuk menemukan gap orientasi akademiknya dibanding Dept of Economics di belahan dunia lain. Ini kan soal buka mata, telinga, dan hati.

    Di atas semua itu, pak Noto minta UKSW menjadi Radar, yang memantau perubahan di sekelilingnya. Ini visi UKSW. Lha kalau ternyata kalian kritik UKSW sebagai masih banyak koreng atau menunjukkan kekurangmampuan UKSW berkaca dan mematut diri dengan tepat dalam perspektif kualitas akademik, lha apakah itu artinya kita sudah lupa bahwa tugas sebagai radar adalah menangkap semua sinyal dan menerjemahkannya menjadi policies dan programs internal? Artinya, di mana ada gap mutu dan apa yang mau dikerjakan untuk itu, kapan dicapai. Bagi saya pribadi, masih banyak elemen kinerja kita yang perlu kita tinjau kembali dan secara tegas dan sistematik memrogramkan bagaimana mengupayakannya meningkat.

    Terakhir, mahasiswa oleh pak Noto ditempatkan sebagai mitra penting, mitra kritis dalam konsep universitas magistrorum et scholarium. Di samping sebagai mitra/pelaku akademik, dalam perspektif universitas sebagai sebuah sistem layanan mahasiswa juga adalah client terbesar dan terdekat. Karena itu, kalau mahasiswa sadar dan menuntut, maka UKSW tidak bisa santai-santai, kecuali kerja keras. Namun, kinerja akademik UKSW juga bagus karena mahasiswa juga bekerja keras karena dia juga pelaku akademik di UKSW. Complacency yang ada sudah dan hanya akan terus menunjukkan bahwa kita masih punya banyak koreng.

  11. Gatel juga ternyata. Ok, deh, sedikit komentar, mengenai Harmomi aja ya, n sedikit soal Pesparawi

    Soal kenapa Harmoni tidak mengulas masalah kesurupan, hujan dll yang diluar konteks lomba dan tetek bengek intern pesparawi. Ya, kenapa? Sudahkah para reporternya ditanyain? Kenapa mereka tidak mengulas hal itu? Setahu saya panitia (saya di kesekretariatan, nama saya jadi penasehat di Harmoni) nggak pernah membatasi apa yang jurnalis Harmoni tulis, apa yang mereka susun, mereka konsep semuanya adalah hak Harmoni, panitia (dalam hal ini saya salah satunya) seharusnya memberi masukan untuk isinya. Tapi apa lacur, kami semua hanya bisa mengoreksi dan membaca SETELAH Harmoni terbit, bukan sebelumnya. Dan sama sekali tidak pernah diajak rembug masalah isi. Di awal pembentukan dan pengaturan konsep besar, saya emang ada. Tapi untuk tiap harinya, mereka jalan sendiri. Karena kebanyakan dari Scientiarum, saya merasa mereka mampu dan bisa untuk menggali ide kreativitas mereka, tanpa harus dimandori tiap hari (semoga nggak salah, istilahnya Kebebasan Pers, ya?) So, kembali kepada para jurnalis disitu, mau jadi Humas atau jadi Pers, nggak ada dari pihak panitia yang khusus meminta hal tersebut, semua kembali kepada Harmoni itu sendiri.

    Masalah pemotongan nilai yang dicantumkan di Harmoni. Sori, saya bukan jurnalis, saya bukan orang pers. Saya rasa ada yang namanya etika jurnalisme, ya. Dalam acara Pesparawi seperti ini, setiap kontingen masih harus tampil dalam 3 hari berturut-turut, kejadian naas yang menimpa UKI dan Unsrat adalah di hari pertama, dimana masih 2 hari lagi mereka harus berlomba. Apakah nalar kalo maslah pemotongan nilai diumbar pada hari pertama? Kalo lihat di liputan2 olahraga (olimpiade misalnya), memang ada dicantum pemotongan nilai dll karena kesalahan si atlit, tapi itu SETELAH mereka menerima keputusan (apakah dapet emas, perak ato permata). Tapi dalam kasus Pesparawi, keputusan akan keluar pada hari terakhir, so apakah etika jurnalis juga termasuk dalam membuat mental kontingen jadi down sebelum mereka bertempur dengan cara mengumbar kesalahan si kontingen secara publik. Dan pulak, kenapa ngeributin nilai mereka, kenapa nggak mengulas topik2 yang lebih “menarik” seperti kesurupan, transportasi, kesiapan sivitas akademika UKSW non panitia dalam menghadapi Pesparawi. Why not that, Ferdy?

    Soal domain name pesparawi.xxx (entah siapa yang nulis di comment, pernah ngebaca). Harap diketahui di Indonesia yang namanya Pesparawi ada banyaaaaaak banget (hehe, nggak ngerti to, makanya nanyak dulu, baru komen), ada PEsparawi Mahasiswa, ada Pesparawi Nasional, ada Pesparawi Daerah, ada Pesparawi GKJ, ada Pesparawi GKI. Yang Mahasiswa dan Nasional yang jadi tuan rumah khan giliran. Kalo mau dibuat pesparawi.xxx, gimana ntar ngatasi kerancuan tersebut???? Terus kalo dijadiin satu, siapa yang bayar biayanya? Wong yang ngadain Pesparawi juga macem-macem (Pesparawi Mahasiswa yang ngadain Dikti, Pesparawi Nasional dari Dir Keagamaan, Pesparawi Daerah dari masing2 Propinsi, pesparawi GKJ/GKI dari gereja masing2). Sempet kepikir soal itu? (Musti nggak, wong nggak tahu)

  12. @Neil
    Kak, mengenai idealisme/ideologi organisasi., aku agak bingung: Apa memang UKSW tidak pernah mengalami suatu masa dimana ideologi benar-benar diinternalisasi oleh organ-organ (mahasiswa,karyawan, dosen,dll)dalam UKSW??
    Yang lebih bingung lagi, mungkin karena kurangnya wahana berwacana seperti disebut kak Neil, aku sendiri tidak tahu dengan pasti mau dibawa kemana kampus ini??

    Aku jadi teringat suatu artikel di blog Andreas Harsono berjudul “Kemelut Universitas Kristen Satya Wacana” yang memuat tentang alasan Arief Budiman masuk ke UKSW.
    “Saya tertarik ke UKSW karena idealisme yang dikembangkan di sini,” tulis Arief….Pada bagian lain, Arief bahkan menyebut ia bahagia. “Alasannya adalah karena saya melihat orang-orang di sekeliling saya juga bekerja dengan idealisme yang sama, mengabdikan diri untuk pengembangan ilmu di Indonesia.”

    Walaupun dalam tulisan itu juga dimuat bahwa Arief pun setelah beberapa lama, juga merasakan bahwa idealisme itu semakin memudar.
    Artinya buat aku, kalau dulu pernah, apa susahnya mengadakannya kembali? Pasti bisa… duh jadi sentimentil nih….

    Hanya saja, seperti penggambaran dalam tulisan itu (“Kemelut Universitas Kristen Satya Wacana”), kondisi saat ini pun mungkin sudah mirip (atau tidak pernah berubah??) dengan saat Arief mulai mengalami kekecewaan terhadap institusi ini.
    – penyalahgunaan fasilitas kampus untuk kepentingan bisnis pribadi (belum diverifikasi, jadi masih gosip seperti kata David Hazinski)
    – adanya mahasiswa dan karyawan yang masuk ke UKSW dengan sistem koneksi (berdasarkan cerita seorang karyawan UKSW – yang mahasiswa masih rumor)
    – kurangnya kontrol kampus terhadap pejabat kampus dan dosen yang menangani berbagai projek di luar (sekali lagi belum ada verifikasi)

    memang beberapa penggambaran diatas bukan berdasar fakta/hasil verifikasi, hanya berdasar omongan ringan di kafe. (mahasiswa juga ga kalah ama ibu-ibu kalo soal gosip.. hehehehe). Silakan siapapun yang ingin mengkonfirmasi kesalahan/kebenaran statement di atas. Di atas itu hanya beberapa kekuatiranku mengenai beberapa permasalahan yang gak langsung menyenggol mahasiswa, tapi dalam jangka panjang akan berdampak negatif terhadap kampusku ini.

    gitu aja.. tambahannya nanti malam aja, masih pusing nih belum buat tugas DanKam… hehehe:D

    NB:
    kak Neil, kelihatannya diskusi di artikel Ketua Umum SMU masih berlanjut disini.. di sana kak Neil tulis (tentang LK):
    terbuka terhadap kritik tampaknya harus ditafsir satu atau lebih langkah maju lagi.. yakni apa setelah mendengar… karena kritik sesungguhnya adalah masukan dalam format ‘bukan saran’…
    kalau dinaikkan ke konteks UKSW-nya, ternyata sama saja yah. Media SA ini salah satu wadah untuk menyampaikan kritik. Tapi kok balasan (via komentar) ataupun tindakan nyata belum dilakukan yah??

  13. @Philip
    Setahu saya panitia (saya di kesekretariatan, nama saya jadi penasehat di Harmoni) nggak pernah membatasi apa yang jurnalis Harmoni tulis, apa yang mereka susun, mereka konsep semuanya adalah hak Harmoni, panitia (dalam hal ini saya salah satunya) seharusnya memberi masukan untuk isinya.

    Dan sama sekali tidak pernah diajak rembug masalah isi. Di awal pembentukan dan pengaturan konsep besar, saya emang ada.

    nggak ada dari pihak panitia yang khusus meminta hal tersebut, semua kembali kepada Harmoni itu sendiri.

    Sori, saya bukan jurnalis, saya bukan orang pers. Saya rasa ada yang namanya etika jurnalisme, ya.

    Trus anda sebagai penasihat bidang apa-nya Harmoni?
    Nah…. konsep besarnya, Harmoni itu HUMAS apa PERS? atau tidak dibahas di awal pembentukan ketika anda ada disitu?

    Soal domain name pesparawi.xxx (entah siapa yang nulis di comment, pernah ngebaca). Harap diketahui di Indonesia yang namanya Pesparawi ada banyaaaaaak banget (hehe, nggak ngerti to, makanya nanyak dulu, baru komen), ada PEsparawi Mahasiswa, ada Pesparawi Nasional, ada Pesparawi Daerah, ada Pesparawi GKJ, ada Pesparawi GKI. Yang Mahasiswa dan Nasional yang jadi tuan rumah khan giliran. Kalo mau dibuat pesparawi.xxx, gimana ntar ngatasi kerancuan tersebut???? Terus kalo dijadiin satu, siapa yang bayar biayanya? Wong yang ngadain Pesparawi juga macem-macem (Pesparawi Mahasiswa yang ngadain Dikti, Pesparawi Nasional dari Dir Keagamaan, Pesparawi Daerah dari masing2 Propinsi, pesparawi GKJ/GKI dari gereja masing2). Sempet kepikir soal itu? (Musti nggak, wong nggak tahu)

    itu yang komentar STR dan saya..

    justru itu…, ketika nama pesparawi adalah nama yang ‘umum’, selama domain itu BELUM ada yang membeli, adalah sebuah KESEMPATAN untuk menggunakan nama domain itu. Dengan “ke-umum-an” nama Pesparawi, justru bisa menyebabkan lebih mudah terakses oleh netter.
    Siapa yang bayar?
    Ya, “kita” bayar saja untuk 2 tahun, setelah itu serahkan “account”nya ke penyelenggara berikutnya, biar dilanjutkan pembayarannya dan pengurusan website-nya, gitu aja kok repot….(bukankah bagus, jika para penyelenggara pesparawi dapat saling bekerjasama?)

    Bayangkan jika semua pesparawi di Indonesia, dapat diakses informasinya dari (misalnya) http://www.pesparawi.net , atau pesparawi.com, bukankah akan memudahkan orang mencari informasi?

    siapa yang akan mbayari domain pesparawimahasiswax.net, tahun depan? dibiarkan “almarhum”? ok.., tunggu saja expired, setelah itu lenyap….

    Dan pulak, kenapa ngeributin nilai mereka, kenapa nggak mengulas topik2 yang lebih “menarik” seperti kesurupan, transportasi, kesiapan sivitas akademika UKSW non panitia dalam menghadapi Pesparawi. Why not that, Ferdy?

    Anda penasihat malah nanya!?
    Lha ya itu yang jadi pertanyaan sebagian besar dari kami di diskusi ini. Mestinya anda ikut membantu menjawab, bukan bertanya hal yang sama…

  14. Bleh,

    Saya kira saya pernah mengungkapkan dan kembali itu soal sosialisasi dan dialog yang terus menerus. Dalam teori tentang pembentukan budaya organisasi dan/atau insitusi, sosialisasi dan translasi gagasan2 memegang peran penting. Prof Haryono Semangun (dulu Ketua Umum YPTKSW) ketika menulis tentang visi-misi UKSW (kalau tidak salah di Jurnal Kritis edisi khusus tentang visi dan misi UKSW, bersampul kuning) mengingatkan agar ia dibicarakan terus-menerus. Teman-teman kita di St Olaf College yang pernah saya kunjungi pun menulis dalam sebuah buku yang diterbitkan khusus dalam memeringati 100 tahun St Olaf (berjudul Great Conversation) pun menegaskan pentingnya visi selalu dibicarakan kembali, termasuk direinterpretasi sesuai konteks zaman. Jadi, jelas perlu secara sengaja diadakannya berbagai wadah sosialisasi, dialog, debat untuk berbicara di sekitaran idealisme kita sebagai lembaga.

    Nah, tentu kita lalu bisa menilai kenapa dulu kental idealismenya dan kini kurang. O ya, coba kalau bisa dapatkan dan baca bung buku 70 Tahun (Willi Toisuta) Sang Visioner di PSKTI. Hubungi bung Ferry Karwur (FBio), untuk sebagian referensi sejarah UKSW khususnya dalam konteks sepak terjang kepemimpinan pak Willi.

    Ketika konflik melanda UKSW di tahun 1993-1995, salah satu rekomendasi LK (SMU dan BPMU) kepada rektor UKSW adalah institusikan kembali pengenalan dan penguatan wawasan idealisme UKSW pada seluruh dosen-pegawai-mahasiswa. Kami menafsir, konflik terjadi di antaranya karena interpretasi yang berbeda tentang idealisme. Ini menunjukkan rapuhnya pemahaman akan idealisme lembaga. Karena itu, orang akan mudah untuk tidak bersepakat hanya karena perspektif yang dipakai tidak sama. Namun, usulan itu tidak di-follow up, tidak tahu apa pertimbangannya. Padahal, pasca konflik, cukup banyak dosen pergi dan banyak dosen baru masuk (suatu waktu ada program relevan, tetapi masih tergolong minor pengaruhnya). Tanpa suatu bentuk pemrograman mental bersama secara sistematis (definisi budaya oleh Geert Hofstede), maka polarisasi makna dalam menjelaskan suatu atau lebih fenomena sangat terbuka, sekalipun oleh orang-orang dalam komunitas yang sama. Jadi, kalau Arif Budiman klaim di periode 1980an, kekentalan idealisme UKSW menurun (saya kira ini semacam tafsir subjektif beliau, karena didasarkan persepsinya tentang apa dan bagaimana harusnya UKSW), maka logisnya kekentalan itu terus turun ketika tidak ada mekanisme sistematis untuk mengembalikannya.

    Please don’t worry soal kritik yang tidak ditanggapi. Diskusikan hal baik pasti punya muara baik. Karena itu, tetap lakukan hal baik ini.

  15. Hanya ingin meluruskan kata-kata ini…JANGAN SOMBONG MAS. HATI-HATI KALAU EGO SUDAH BICARA! KAMU MENEBAR PERMASALAHAN. TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA….Kelihatannya Yodie, Dobleh, dll yang mungkin salah mengartikan kata tersebut.

    Dengan nada tulisan satria, saya (waktu itu) teringat satu tulisan yang dalam bukunya Luwi Ishwara, Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, Kompas, 2007, halaman 20. Kebetulan baru ketemu bukunya dari rak buku saya tadi pagi. Berikut tulisannya:

    Sikap arogansi (menyepelekan intelegensia pembaca) adalah satu dari tigas sikap yang bisa menyebabkan jatuhnya seorang wartawan dan medianya. Dua sikap lainnya adalah sikap elitisme dan sikap merasa paling benar.

    Btw, saya sangat menikmati tulisan Luwi dalam buku yang saya beli awal tahun ini, dan mungkin rekan-rekan di SA perlu untuk memilikinya.

    Demikian klarifikasi saya.

    Salam,
    Saam Fredy

  16. Saat Perparawi di Salatiga aku juga ikut menonton tapi yang membuat sedikit terganggu adalah beberapa peserta dari Undip memakai jilbab. Saya kurang bisa menerima hal ini. Apakah ini tidak menjadi masalah?? Bagi saya agak terganggu dan kurang bisa menikmati suasana konsernya. Mohon penjelasan dari yagn berwajib………………..Apakah kita terlalu berlebihan dalam hal ini ??Tks

  17. @Nitha
    ngakunya guru (dilihat dari url anda ), suatu profesi terhormat yang (kata Konta Intan Damanik) seharusnya bertujuan memanusiakan manusia, kok malah risih dengan pluralisme???
    shame on you mbak…

    @Neil
    aku juga baru aja membaca suatu laporan mengenai pengkajian cita-cita UKSW pada tahun 1986 (ngembat dari SA, peace ya Sat..). Disitu dujelaskan mengenai visi dari 2 rektor pertama (Pak Noto dan Pak Tarno). Dugambarkan pula bagaimana mereka menyampaukan dan membangun suatu relasi dalam keluarga besar UKSW, untuk mewujudkan ideal-ideal mereka, melalui pidato-pidato mereka dalam berbagai kesempatan (kebanyakan pidato saat Dies Natalis kalau gak salah). Sangat menarik dan memberi wawasan baru kepadaku mengenai seperti apa UKSW jaman dulu

    @all
    Tentang Dies Natalis UKSW sendiri , perayaannya yang ke 52 akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini, baru saja aku melihat pamflet tertempel di pintu ruang BPMU, tentang akan diadakannya konser ketika perayaan Dies Natalis tahun ini. Konser itu akan mendatangkan bintang tamu band musik tingkat nasional “Andra and the Backbone” dan “Changcutters”. “Wah, mantab betul, 2 band papan atas main di kampus dalam rangka Dies Natalis UKSW!!”, begitu pikirku. Tapi ketika kubaca lengkap, “HTM Rp 10.000” tercetak disitu. “Bah, kampus busuk! rak mutu!”, begitu pikirku..

    Kenapa aku berpikir seperti? Dalam pemahamanku, Dies Natalis seperti ketika kita merayakan ulang tahun. Memang biaya (finansial) tidak dapat dihindari ketika kita ingin mengadakan sesuatu acara, hanya saja, menurutku:
    Apa memang kita harus mengadakan pentas musik sebegitu besarnya sampai harus menelan buaya besar?? Kenapa tidak adakan acara yang cukup didanai dengan dana universitas dan sponsor saja??
    Seperti sudah aku ungkapkan sebelumnya, UKSW gak usah maksa deh…. gak ada duit tuh ga usah mbuat acara gede2 untuk merayakan ulang tahunnya!

    Setelah membaca pamflet tersebut, aku ketemu salah satu personil Senat Mahasiswa Universitas (SMU) di SA,panggilannya Bejo. Ketika aku tanyakan pendapatnya mengenai konser itu, dia menjelaskan bahwa pengadaan konser itu atas permintaan sponsor dan diteruskan oleh WR III kepada LK. untuk urusan penjualan tiket dan koordinasi saat konser itu dengan pihak EO ditangani oleh LK, atas petunjuk WR III (udah kayak Harmoko nih hehehehehe). Sedangkan beberapa hal teknis lain diurus oleh Umbu Rauta S.H.,M.Hum. (selaku WR III) dan jajarannya.

    Mengenai HTM sendiri (yang menjadi permasalahan bagi aku), dia (mas Bejo) menjelaskan bahwa HTM itu terdiri dari dua komponen:
    1.Sebagian untuk membeli rokok. Maksudnya, para pengunjung yang masuk akan diberi satu bungkus rokok dan sebagian itu adalah harga sebungkus rokok itu.
    Sungguh tragis bagiku (walau aku seorang perokok berat), ketika kampus ini yang menggembar-gemborkan larangan merokok di banyak kawasan dalam kampus (walau sering kulanggar, persetan dengan aturan aneh ini), malah mendorong orang untuk membeli rokok!!!
    2. sisanya dimaksudkan sebagai pemasukan bagi LK, gampangnya ini sebagai “usaha dana ” LK.. LK akan memperoleh Rp 2.500/tiket maksimal 3000 tiket, dan bila LK mampu menjual lebih dari 3000 tiket LK akan memperoleh 5% (Rp 500)dari tiap kelebihan dari 3000 tiket itu
    Pantaskah LK mengadakan usaha dana dalam rangkaian dies natalis? Tidak, menurutku. Pengumpulan sumbangan sukarela sih masih oke, tapi ketika diwajibkan membayar sejumlah uang (berapapun nominalnya) untuk ikut perayaan ulang tahunnya sendiri????!!! Nanti dulu… Apa gak cukup mahasiswa diwajibkan membayar IKAMA ?? kalo gak cukup, ya (sekali lagi) ga usah buat acara gede-gede!!!!
    ungkapan yang sering kupakai, “Rak nduwe duit kok mayak!!!”

  18. pluralisme di uksw harus benar-benar terwujud… saya justru bangga kalo di uksw memiliki kultur yang menghargai pluralisme… baik budaya, agama, suku dan sebagainya…

  19. Busana Muslim yang dikenakan peserta Pesparawi itu bagus sekali karena menunjukkan kebersamaan dan kebangsaan kita sebagai orang Indonesia. Acara-acara semacam ini kan memang akan bermanfaat jika berhasil menjadi jembatan perdamaian bagi bangsa.

  20. @dobleh : Kamu kritis banget. Mengenai Andra & cctrs, apakah kamu berkomentar begini sudah cek langsung ke WR III…?? Karena bejo menurutku sudah ada di ring kesekian dari sumber (WR III)…

    HTM Rp 10.000? tercetak disitu. “Bah, kampus busuk! rak mutu!”, begitu pikirku…

    Menurutku Rp. 10000, hal yg wajar. kok gara2 itu kamu bilang kampus rak mutu??

    Oh yaa dalam hal ini menurutku kamu double standart, Klo pesparawi gratis kamu protes, tapi klo Andra & cctrs gratis kamu Ok Aja…. Bahkan kamu bilang mantab…

    Piye Boss

    Catatan :
    Aq senang ke kritisanmu… Tapi lebih santailah… menurutku bahasamu agak kasar
    Salam
    Febri

  21. @geritz
    hehe.. iya nih.. yodie juga bilang kalo aku sarkas.. hehehe.. gak tau nih … tangan lagi di atas keyboard yang keketik itu… ya mungkin aku seperti itu..
    kamu kan udah nyantai, kak Neil udah bijaksana, Yodie sudah agak sinis, STR berusaha terus mencari kebenaran, ya udah aku aja yang kasar…. kan jadi berwarna tho……(defense yang aneh.. :)) )
    silahkan kritik aku bila ada kesalahan data atau konsep yang kupakai, bila aku memang salah, akan kuakui dan kuperbaiki.
    silahkan kritik juga soal gaya bahasaku, tapi tak akan kuubah kalau aku masih enjoy… dan saat ini aku masih enjoy.. 😀

    Ngene Boss….

    soal “10.000” dan “andra gratis=mantab”…., silakan liat kenapa aku tulis “gak mutu”…. bukan masalah nominal, tapi masalah konteks acara besarnya, dimana itu ditempatkan di bawah judul “Dies Natalis UKSW”.
    10.000 memang wajar dan bahkan murah untuk suatu konser dengan bintang tamu setenar mereka.
    Tapi wajarkah ketika itu ditempatkan di bawah naungan konteks Dies Natalis UKSW? tidak buatku..
    Busuklah kampus ini ketika membuat acara Dies, tapi biayanya dibebankan kepada masyarakat kampus yang ingin ikut merayakan!! Tak cukupkah uang kuliah,dan berbagai iuran lainnya? kalau emang gak cukup ya gak sah diselipin acara kek gitu dalam Dies natalis…

    soal pesparawi yang gratis, pernahkah aku mengkritik hal itu? seingatku ga pernah. kalau kau pernah lihat (yang bisa kupastikan gak pernah!!), tolong tunjukkan, ingatkan aku, mungkin saja aku lagi bego(nah kalo ini aku sering Feb…hehehe)

    Piye jal…???

    @hani
    pro dengan anda.. aku hargai panitia pesparawi.. yang kupersalahkan institusi UKSW yang memutuskan menyelenggarakan ini ketika banyak pernik2 di dalam yang masih dan terus membusuk!

    @Neil
    kak, kembali lagi ke kampus ini, yang memajang-majang visi dan misinya tapi gak tau deh masih pada minat ama visi misi itu apa gak….
    seperti komentar Daniel Kameo di kuliah Regional sore tadi (18/11), “Kita saat ini butuh pemimpin yang visioner, tegas, dan karismatik! Agar bisa meluruskan kembali segala permasalahan!”. Ketika itu Daniel Kameo mengkomentari soal pembangunan Indonesia.
    Kalau kuturunkan ke aras UKSW, menurutku UKSW juga butuh pemimpin seperti itu. Pemimpin seperti Pak Noto, yang sering diceritakan membagikan mimpinya kepada seluruh warga kampus ini.
    Nah, mari kita lihat 2009, bagaimana Pilpres, apakah mampu memenuhi harapan DanKam? bagaimana pemilihan rektor UKSW, mampukah memenuhi harapan ku?

    @Neil n STR
    mengenai dugaan motivasi UKSW menjadi host Pesparawi Mahasiswa X untuk mencari sebuah legitimasi sosial, atau juga promosi. Aku baru aja mencoba googling dengan keyword “pesparawi mahasiswa”, lalu aku coba lihat top 50 link berdasarkan “search”-ku itu. Ternyata yang memuat berita tentang acara itu adalah (selain pespara…siswax..net dan uksw.edu dan scientiarum.com dan beberapa blog probadi):
    Kompas Cetak 16 Oktober dan 28 Oktober
    Depdiknas
    Wawasan Digital
    Timor Express
    Suara merdeka cetak : 1 Nov dan 3 Nov
    Solopos

    Apakah dana Pesparawi yang katanya mencapai miliaran rupiah (entah berapa uang UKSW yang dipakai) layak untuk membayar ke-10 berita tersebut??
    Atau aku yang salah mengartikan legitimasi sosial dengan promosi?

  22. @geritz
    soal bejo-wr3. memang aku belum memverifikasi data dari Bejo kepada wr3. kalo udah ya pasti tak cantumin tho ya…
    Alasanku:aku pake sendal mulu kalo ke kampus, kalo ke kantor wr3 mana bisa? yang ada kan diusir… ya tho.. hehhhee
    gak gak.. sebenarnya emang aku males aja nyari wr3, berpapasan di kampus juga gak pernah, sudah capek aku dengan kuliahku.. (lha kok malah curhat *jitaq dolo*) lha aku dapet keterangan dari Bejo aja ya kebetulan pas ketemu ketika lagi grundelan
    lagipula buatku itu sudah cukup karena aku percaya sama Bejo, dan menurutku kan dari informasi itu, hubunannya kan wr3-LK(SMU) jadi Bejo juga masuk dalam sumber primer.
    ya sori aja kalo aku gak memenuhi etika jurnalisme (yang sudah banyak dibahas di komentar2 disini), lha aku bukan jurnalis (cihuy….)
    kalau memang ada yang salah, ya silahkAN pihak-pihak yang tahu untuk membenarkannya.

    o iya, tar deh kalo aku kebetulan papasan ama wr3 tak coba verifikasi. makasih ya Feb buat peringatanmu..

    AYO BELAJAR

  23. Buat Nitha komentar no 67:

    Saya katolik tulen tapi saya terganggu dengan komentar mbak.
    Memang kenapa kalau ada yang pakai jilbab?
    Apa mbak nggak bisa menerima perbedaan?

    Dicky Kurniawan – FTI 2005

  24. ahmmmmm..
    ikut nimbrung ah….

    luar biasa acara Pesparawi kemarin, pertamai saya ingin ucapkan selamat bagi UKSW sebagai tuan rumah, Juara, peserta dan penonton yang sudah ikut mensukseskan acara tersebut walaupun masih ada kekurangan dalam penyelenggaraan acara tersebut. Kalau saya baca Report ini bahwa ada yang dirugikan dan diuntungkan dalam penyelenggaraan acara tersebut, saya kira waktunya kita untuk memberi sebuah solusi ketika kita melihat ada sesuatu yang salah/dirugikan dalam penyelenggaran acara tersebut bukan waktunya kita hanya sekedar menjadi penonton dan mengkritik tanpa sebuah solusi……saya percaya ketika teman-teman mengkritik itu salah satu wujud dari cinta teman-teman kepada UKSW tp kl bisa wujudkan cinta teman-teman kepada UKSW ini bisa lebih bukan sekedar mengkritik tapi SOlusi kongkrit yang bisa membangun UKSW kita…
    “Bukan apa yang diberikan UKSW kepada kita tapi Apa yang Mau kita berikan kepada UKSW”

    TO;
    @ dobleh n geritz…..saya pikir teman2 udh bias dlm diskusi di forum ini mengenai PEsparawi krn ini bukan diskusi mengenai Disnatalis

  25. @Dobleh:

    Menafsir legitimasi tidak bisa selalu disamakan begitu saja dengan mendapat promosi dan khususnya publisitas. Sama seperti seorang anak tampak alim di rumah agar tidak dimarahi orang tuanya, tetapi di kelompok sebayanya tampak brandalan supaya mendapatkan penerimaan oleh kawan-kawannya, itulah motif tindakan yang mencari legitimasi. Orang tua merasa tenang dan senang anaknya patuh, demikian juga teman-temannya, ia seorang teman yang gaul. Apakah orang tuanya lalu mengatakan pada orang lain bahwa anaknya itu seorang anak yang patuh dan baik? Belum tentu, walau itu diharapkan terjadi. Demikian juga di lingkungan teman-temannya. Lagipula, yang pertama harus diukur adalah apa perasaan dan pandangan para partisipan dan stakeholders inti dari Pesparawi. Misalnya, apakah peserta merasakan dan mengatakan, “UKSW memang oke deh!”. Jika ada, maka itulah bentuk penerimaan dan pengakuan mereka, itulah penerimaan sosial (social acceptance), salah satu legitimasi yang dicari dan diperoleh. Kalau mau ditelusuri lebih jauh, apakah “UKSW memang oke” tadi dituturkan ke manapun mereka pergi? Nah, ini bentuk publisitas yang sering disebut word of mouth oleh para marketer itu. Jadi, tidak selalu melalui media massa, tapi oleh massa itu sendiri.

    Soal legitimasi, di mana logika dari pihak UKSW? Barangkali, ada pandangan bahwa sebuah universitas besar akan menyelenggarakan sesuatu yang besar. Ini sebuah “hukum” atau “norma”. UKSW berpikir bahwa dia besar karena itu sebagai yang besar harus berani menyelenggarakan event besar. Dan, supaya memang tampak besar ya harus dibuat besar-besar.

    Tangkap kah dikau bagaimana legitimasi itu dicari? Itu adalah mekanisme kognitif, menerima apa yang diyakini harus dibuat, dan apa yang dibuat, dengan ekspektasi bahwa apa yang dilakukannya benar dan itu diakui. Sekali lagi, bersyukurlah kalau pengakuan itu dituturkan ke pihak lain. Semoga itu terjadi via media lain, bukan media massa/institusi saja.

  26. saya percaya ketika teman-teman mengkritik itu salah satu wujud dari cinta teman-teman kepada UKSW tp kl bisa wujudkan cinta teman-teman kepada UKSW ini bisa lebih bukan sekedar mengkritik tapi SOlusi kongkrit yang bisa membangun UKSW kita…
    “Bukan apa yang diberikan UKSW kepada kita tapi Apa yang Mau kita berikan kepada UKSW”

    solusinya, jalankan program-progam dengan KETERBUKAAN,

    ada yang masih belum jelas/dijelaskan, Mengapa pada hari terakhir TIDAK pakai BIS lagi, tapi ganti “mobil kecil”?

    Ada PANITIA yang mengatakan, kalau memang sewa bis tidak sampai hari terakhir…. (pembelaan diri)

    tapi ada teman saya punya rental mobil bercerita bahwa JUMAT MALAM.baru dihubungi panitia untuk disewa pada hari Sabtu.
    Artinya penyewaan mobil kecil bukan DIRENCANAKAN sejak awal, kereba baru Jumat malam dicarikan mobil untuk melayani transportasi esok harinya.

    Tanya kenapa?

    Oh ya.., ceritanya, “tender” transportasi DIMENANGKAN oleh orang tertentu (kalau gak salah masuk panitia, yang jelas orang dalam kampus, tapi teman saya yang punya rental mobil di Salatiga, tidak tahu menahu tentang tender transportasi itu, artinya TIDAK DITENDERKAN, tapi dengan “penunjukkan langsung”

    Padahal.. proyek pemerintah yang nilainya lebih dari 50 juta, harus dilaksanakan via tender terbuka. Lha ini transportasi, sekian ratus ribu per hari per bis kali sekian puluh bis kali sekian hari, pasti lebih dari Rp 50 juta, kok penunjukkan langsung? Ya memang ini bukan “proyek” pemerintah, tapi kalau semua dilakukan dengan TERBUKA, khan tidak menimbulkan syak wasangka yang tidak-tidak.

  27. @Lia
    apalagi ngasih komentar dengan identitas gak jelas..

    @STR
    piye laporan keuangan Pesparawi??? wes bisa diakses rung?
    nek mahasiswa gawe kegiatan 3 hari harus ada LPJ…
    lha kok kalo kampus buat acara, sak penakke dewe yo….??
    BaDiaLLAAhhh tenannn……..

  28. Kita patut hargai kerja keras panitia, jika memang masih terdapat kekurangan maupun ketidaksempurnaan, saya kira itu hal yang wajar yang perlu diperbaiki dikemudian hari.. saling melengkapi dan kerjasama yang baik dari seluruh sivitas akademika sangat diperlukan dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti ini. GBU All

  29. @lia:
    memang mbak Lia, kalo cuma komentar anak SD juga bisa. tapi komentarnya bisa dikatakan dengan istilahnya pating pletot( gak bermutu) dan apakah kita mau di katakan seperti anak SD ? (bukan berarti mengangap anak SD gak bermutu) ya kalo mbak lia mau si gak masalah. ya memang si komentar-komentar yang ada juga banyak yang gak bermutu, tapi apakah kita sebagai mahasiswa yang ngaku kaum intelektual berkomentar seperti anak SD.

    @Andi-Doble:
    seng sabar ble leh nunggu LPJnya. memang benar apa yang kamu katakan kalo mahasiswa adakan kegiatan selang beberapa hari pihak atasan langsung meminta LPJnya tapi giliran orang atasan yang buat kegiatan LPJnya gak kelar-kelar, apa karena sangking besarnya kegiatannya ya ? tapi gak usah di ambil pusing lha kan yang di pake buat acara Pesparawi gak pake uang dari UKSW dan UKSW gak keluar uang sepeserpun (kata Umbu Rauta) jadi meskipun toh nantinya terjadi korupsi yang di korupsi bukan uangnya UKSW dan dengar-dengar dana Pesparawi masih tersisa karena semua LO dapet pesangon berapa puluh ribu gitu setelah acara Pesparawi selesai selang bebrapa hari . tapi penting juga si buat di selidiki LPJnya biar UKSW membudayakan kampus ANTI KORUPSI !!

    @all:
    memang perlu kita hargai sudah terlaksananya kegiatan Pesparawi di UKSW dan juga kerja keras para panitia karena kegiatan sebesar itu pasti sangat tidak mudah dan pastinya segala hal kekuragan dan kelebihan pasti terjadi oleh karena itu mari kita belajar menghargai( kayak judulnya aja hehee)

  30. Kita memang harus bersikap kritis dalam segala hal, tetapi jangan punya pemikiran negatif dalam segala hal.. kita harus dan harus menghargai para panitia dan pimpinan uksw dalam kegiatan ini.

  31. saya cuma mo bilang bahwa kesuksesan pesparawi itu hanya dinikmati oleh mereka yang tergabung dalam susunan panitia pusat yang cuma bisa mengkritik. apalagi terdapat ketidakadilan dan ketidaktransparan dalam tubuh panitia sendiri. masa yang jaga merchandise dan cuma beberapa hari bahkan pada hari terakhir (2/11) tidak ada satupun mahasiswa yang menjaga merchandise menampakkan wajahnya malah diberi sertifikat tapi panitia yang sejak bazaar yang sampai selalu dianaktirikan sampai saat ini masih belum mendapatkan apa yang jadi haknya. jadi sebenarnya kesuksesan pesparawi hanya keliatan kulitnya aja padahal di dalamnya SANGAT AMBURADUL!!! saya jadi bertanya dalam hati sebenarnya apa fungsi panitia bazaar? apakah memang sebagai bagian dari kepanitiaan atau hanya target untuk dijadikan kambing hitam? karena pada kenyataannya panitia bazaarlah yang selalu mendapat “nasihat” dari orang-orang yang merasa bahwa ia punya kuasa. ditambah lagi ada satu hal yang tidak saya mengerti, jika Pesparawi X ini adalah hajat universitas kenapa (suatu hal yang menjadi pertanyaan apakah UKSW sebegitu miskinnya) lahan parkir depan GAP disewakan dan panitia yang berwenag diharuskan membayar sewa. suatu hal yang tidak masuk akal khan?!
    buat teman-teman yang mendapat apa yang jadi hak kalian saya ucapkan selamat. dan bagi bapak serta ibu yang tergabung dalam kepanitiaan pusat saya hanya ingin mengatakan semoga kelak ketidakadilan serta ketidaktransparan seperti yang terjadi pada Pesparawi Mahasiswa X ini tidak terjadi dan tidak menimpa mahasiswa lainnya. cukup kami yang menjadi naka tiri dan kambing hitam untuk terakhir kalinya.
    terima kasih

  32. @DM,
    makanya jangan melihat “seseorang” dari penampilannya saja…..tapi ingatlah kuburan/makam, luar tampak indah, didalamnya mayat busuk

    atau kamu pernah lihat perut mulus seorang wanita? tahu dalamnya isinya apa? ha ha ha…

    semoga pesparawi tidak seperti kuburan ya… jangan juga seperti perut mulus ya….
    (entah saya nggak tahu, suara-suara sumbang, nanti akan lenyap juga kok…) — nampaknya sampai sekarang SA belum menurunkan laporan lengkap pesparawi, atau sudah ada laporan lengkap dari panitia? dimana?
    Bagaimana yang bis nggak ada di hari terakhir itu?

  33. Yah… itulah realitasnya. Satria sudah cukup banyak mengulas tentang PESPARAWI dengan sudut pandang dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dengan penilaian Satria.
    Tapi semua penilaian yang diberikan masing-masing orang adalah untuk kepentingannya sendiri. Apakah kepentingan itu baik dan tidak, saya kira semua itu ada ditangan para pembaca yang setia…

    Hidup adalah melayani, dan dengan melayani itulah anda akan hidup….

    Thanx and God Be Bless Us…

  34. untuk semua pihak yang merasa terganggu dengan komentar-komentar di sini, saya secara pribadi minta maaf, jika ada komentar atau pertanyaan saya, yang saya tuliskan di sini tidak berkenan dihati anda sekalian. Tidak akan ada pertanyaan macam-macam, jika semua dijelaskan secara terbuka kepada semua pihak.
    Saya sama sekali tidak bermaksud “tidak menghargai” panitia yang sudah bekerja keras mempersiapkan dan menyelenggarakan pesparawi, tapi menurut saya akan lebih baik jika panitia atau pihak-pihak yang “dipertanyakan” di sini dapat memberikan penjelasan, sehingga kami semua di sini dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi (lihat komentar no. 58).
    Sangat mungkin pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan di sini adalah karena ketidaktahuan, atau “tahu” tapi dari sumber yang “tidak dapat dipercaya”, tapi….. apakah orang yang tidak tahu tidak boleh bertanya?

    Tugas anda yang tahu adalah MEMBERITAHU.
    (jangan salahkan orang-orang yang berkomentar macam-macam di sini terhadap Pesparawi, karena kegiatan Pesparawi memang menjadi “komoditas publik”, yang (mestinya) boleh dikomentari oleh siapapun…..)
    JIka ada komentar yang kurang atau tidak pas, silakan anda yang tahu MEMBERITAHU fakta yang sebenarnya itu seperti apa.

    Beritahukan kepada Redaksi Scientiarum (ya… bisa semacam press release gitu..) biar dimuat oleh Scientiarum, sehingga para pembaca bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi….

    OK, terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas