Nongkrong

Browse By

“Life is the sum of all your choices.” (Albert Camus)

Menarik, opini Menunggu Sumpah Generasi “Nongkrong” oleh I Basis Susilo di harian Kompas, 28 Oktober 2008. Sang penulis seolah hendak “meluruskan” pendapat keliru tentang peran dan dinamika generasi muda.

Disebutkan, ada pendapat, sebagai penerus bangsa tak boleh nongkrong atau cangkrukan. Sebagai penerus bangsa harus serius menghayati hidup. I Basis Susilo menyatakan, “tak perlu mengkhawatirkan” anak muda yang nongkrong. Alasannya, secara sosiologis, gejala dan gaya hidup itu selalu ada dalam setiap generasi. Anak muda tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1997 pun begitu.

Tindakan nongkrong tak lahir kemarin sore. Atau pascareformasi 1998 — ketika anak muda dicap pro hedonisme ketimbang aktivisme, ketika handphone jadi atribut wajib, ketika seks bebas adalah lumrah.

Para tokoh pahlawan kita dulu, bukan tak mungkin pernah nongkrong. Ambillah contoh Njoto, dedengkot Partai Komunis Indonesia itu. Njoto muda si anak band. Tak bisa saya bayangkan bila ia tak pernah nongkrong bersama teman-teman ngeband-nya. Bersenda gurau sembari bahas aransemen musik yang akan dimainkan. Tentunya, tak segetol dan serajin anak muda jaman sekarang.

Normatifnya, memang generasi muda bertugas “membangun bangsa sesuai yang dicita-citakan”. Harapan ada di pundak pemuda. Mereka yang bijak juga sepakat, pemuda adalah agen pembaruan sosial. Namun, bila gelar agen tersebut (terlanjur) disandang, apakah tak boleh nongkrong?

Bagi saya, tentu boleh. Tak ada larangan, apalagi perundang-undangan yang membatasi. Pun anak nongkrong tak serta merta “tak berguna”, “bodoh”, atau “dungu”. Bukan tak mungkin, yang getol nongkrong lebih “berguna” daripada yang mengharamkan. Bukankah euforia industri kreatif itu bermula dari nongkrong-nongkrongan?

Situs resmi Kamar Dagang Industri Indonesia menyebutkan industri kreatif menyumbang dalam Produk Domestik Bruto 2002-2006 rata-rata Rp 104,64 triliun dan menyerap 5,4 juta tenaga kerja. Prestasi yang berawal dari nongkrong?

Nongkrong adalah elemen keinginan hidup, setuju? Hidup dalam interaksi sosial. Meski sikap asosial (maaf, jangan keliru dibaca antisosial) pun boleh ditunaikan, seperti tecerita dalam beberapa anekdot sufi Abdurrahman al-Jauzi.

Memang. Nongkrong itu sering terlihat berkulit busuk. “Nongkrong” kerap dipandang buruk rupa. Karena diekori tindak lainnya — yang negatif, sia-sia, dan “melanggar”. Sebutlah, mabuk-mabukan, gerayang-gerayangan, atau sekadar ngobrol tak juntrungan. Menyampahkan waktu ikut kerap dituding sebagai keburukan.

Namun sepositif atau senegatif apapun itu, maknanya tetap akan kembali kepada sikap individu. Kultur, pilihan, kebiasaan, dan pembiasaan bagaimana ritual nongkrong itu dijalankan jugalah pembentuk karakteristik pribadi dalam bertongkrong.

Bila nongkrongnya berbumbu bahasan karya sastra, mungkin ia kan terbiasa menelisik sastra. Bila biasa tongkrongan politik, kemafhuman politik ia dapat. Bila biasa nongkrong berbincang tren otomotif, kritik terhadap modifikasi mesin sanggup ia keluarkan.

Saya jadi ingat kafe Rindang dan kafetaria Universitas Kristen Satya Wacana, dua landmark pertongkrongan kampus Indonesia Mini. Di sana, tempat yang jarang membisu itu, ragam pelajaran dapat dipetik. Tak kalah dari kelas kuliah dosen berbayar puluhan ribu rupiah atau seminar dengan absen. Informasi video porno terbaru produksi mahasiswa, hingga pemahaman baru akan ideologi dan pemikiran ekonomi bisa didapat. Bisa sambil makan-makan lagi.

Namun sekali lagi perlu ditegaskan. Tergantung kapan, kenapa, bagaimana, apa, dengan siapa, dan dimana Anda larut dalam nongkrong.

Nongkrong adalah pilihan. Sama halnya ikut diskusi panel, Lembaga Kemahasiswaan, seminar, workshop, kepanitiaan, semua kembali kepada individu: mana yang baik baginya. Pilihan yang bukan harus dipaksakan. Apalagi untuk paksaan yang dicitrakan seolah-olah adalah “kebutuhan”. Bukan pula syarat kelulusan.

Meski dipaksa memilih apa yang tak seharusnya dan tak doyan. Tapi terpaksa. Demi dan demi. Demi apa coba?

Yodie Hardiyan, mahasiswa Fakultas Ekonomi

13 thoughts on “Nongkrong”

  1. andi-dobleh says:

    demi ucapan tetangga atau simbah, “Wah le, sangar yo koe, wes dadi sarjana saiki…”
    demi mendapat gelar yang terkadang berupa kebohongan atau kebenaran semu.
    demi jabatan PNS biar ntar bisa korupsi duit rakyat (bukan duit negara).
    demi diterima di perusahaan aneh yang meilhat gelar sebagai indikator kematangan berpikir.
    demi selembar kertas ijazah yang kalau tidak dilaminating akan dimakan rayap
    demi wajah gembira di muka orang tua ketika melihat anak mereka diwisuda
    demi…kian

  2. wit says:

    dulu… di UKSW, tempat nongkrong favorit selain kafetaria (saat itu cafe rindang belum ada) adalah di depan gedung F, apalagi saat masih ada TV kampus, disitu dipasang satu TV.

    yang paling sering nongkrong adalah mahasiswa para aktivis LK, bisa nongkrong di kampus dari pagi sampai pagi…

    Informasi video porno terbaru produksi mahasiswa, hingga pemahaman baru akan ideologi dan pemikiran ekonomi bisa didapat.

    sudah ada yang baru? ha ha ha…

    memang masalahnya bukan nongkrongnya, tapi dimana, kapan, dan dengan siapa saja?
    bukankah setiap orang juga sering nongkrong sendirian di kamar sempit?
    dimana tempat nongkrong kita yang lainnya?
    di trotoar, pinggir jalan ditemani asap kendaraan? di kafetaria sambi makan-makan? di rerumputan bersama semut-semut hitam? di kursi-kursi keras kelas kuliah? di kursi-kursi empuk berlapis kulit? atau diatas roda-roda yang berputar? atau di dalam ruangan bermesin jet? atau didepan layar LCD sebuah laptop yang terhubung dengan internet? Semua itu juga nongkrong.

    oh ya… apa beda nongkrong dan nangkring ya?

  3. Winarto says:

    Apakah juga dapat disamakan dengan syair Bang Haji: “begadang jangan begadang, kalau tiada artinya”, coba “begadang” diganti “nongkrong”.

  4. dib058 says:

    nongkrong di kafe rindang emang paling sip…..

  5. obed says:

    gw suka gaya lo!..
    sumpah tulisan kayak ni enak di baca..

    yup nongkrong sambil makan ngobrol…

    Nongkrong identik dengan situasi relax, situasi ini mendorong untuk otak kanan bekerja, situani menciptakan keseimbangan antara otak kanan dan diri.. nah biasa lahirnya ide-ide kreatif dari otak kiri yang sistematis dan otak kanan yang lateral dan estetik.

    nah dari pada ngotot bikin otak pegel..

    yuk nongkrong…
    🙂

  6. Pdt Masada Sinukaban says:

    Salam sejahtera,
    Nongkrong juga boleh asal bisa mengatur waktu untuk belajar dan berdiskusi, kami juga di Medan ada PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) di jalan Iskandar Muda tempat nongkrongnya Anak-anak Mahasiswa-i Medan yang mau peduli persoalan bangsa ini, Mereka Nongkrong sambil berdiskusi tentang masa depan bangsa dan negara yang kian rusak ini, OK silahkan nongkrong Asal tahu membagi waktu dan pada saat nongkrong ada sesuatu yang didiskusikan untuk bangsa dan negara ini, salam demokrasi GBu

  7. LosseR says:

    “makan gag makan asal kumpul” salah satu syairnya SLANK..

  8. matigan says:

    pak pendeta.. yg kam maksud itu gmki ya..he.he….itu sih tempat nongkrong kurang asik pak.. agak kesanan dikit lebih asik lagi..he..

  9. noface says:

    hmmm…nongkrong yang dibahas di sini sudah mengalami ameliorasi kayaknya….baguslahhh..:)

  10. kenthang says:

    dulu waktu masih mahasiswa juga sering nongkrong,kafe atas merupakan tempa t favorit ,begitu juga di kafe rindang, pun yang dibicarakan juga tentang kegiatan ataupun isu-isu terbaru di kampus (waktu itu saya masih kuliah antara tahun 2001-2005). saya ga ngerti tapi sepanjang pengamatan saya selama periode 2006-2007 dinamika yang berjalan sedikit berbeda, nongkrong hanya sekedar mengisi waktu menunnggu kuliah,untuk sekedar ngomongin dugem ato apalah….dan juga waktu itu hanya sebagian dosen yang mau diskusi di kafe dengan mahasiswa,
    dan sayangnya mas wit belum menjadi bagian dari dunia nongkrong waktu itu,he5…..
    hayo mas wit bisa dunk mulai dari sekarang……piye bleh?

  11. steven 2003 says:

    setuju gua aja termasuk mahasiswa yang nongkrong di kafe
    apalagi klo pagi hari enak banget
    bisa mendapat inspirasi untuk perkembangan mahasiswa
    and skalian cari jodoh dong hehehe…

  12. ILA says:

    demi apa coba??
    demi hijaunya hati.
    aku seneng banget nongkrong ditaman. Lihat orang-orang yang berlalu lalang dan melihat hijaunya kampus. Hem…habis nongkrong PASTI aku dapet inspirasi untuk menjalani hari ini!!
    HIDUP NONGKRONG!!!:-)

  13. Dhita says:

    Nongkrong bukanlah suatu aktivitas yang salah. Justru, kita bisa mendapatkan berbagai pengalaman dari situ. Kita bisa mulai belajar bagaimana bersosialisasi dengan teman-teman yang berbeda-beda sifatnya, yang tentunya hal itu akan sangat bermanfaat sekali untuk dunia kerja kelak (karena dalam dunia krja pasti akan berhubungan dengan banyak orang). Selain itu, dapat juga digunakan untuk saling bertukar pengalaman, sehingga kita bisa belajar dari pengalaman orang tersebut. Yang terpenting, kita harus bisa mengatur waktu, sehingga antara hak dan tanggung jawab kita sebagai seorang mahasiswa bisa berjalan dengan imbang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *