Tribal Fusion Ads

Nongkrong

Opini ini telah dilihat 465 kali sejak 5 November 2008

“Life is the sum of all your choices.” (Albert Camus)

Menarik, opini Menunggu Sumpah Generasi “Nongkrong” oleh I Basis Susilo di harian Kompas, 28 Oktober 2008. Sang penulis seolah hendak “meluruskan” pendapat keliru tentang peran dan dinamika generasi muda.

Disebutkan, ada pendapat, sebagai penerus bangsa tak boleh nongkrong atau cangkrukan. Sebagai penerus bangsa harus serius menghayati hidup. I Basis Susilo menyatakan, “tak perlu mengkhawatirkan” anak muda yang nongkrong. Alasannya, secara sosiologis, gejala dan gaya hidup itu selalu ada dalam setiap generasi. Anak muda tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1997 pun begitu.

Tindakan nongkrong tak lahir kemarin sore. Atau pascareformasi 1998 — ketika anak muda dicap pro hedonisme ketimbang aktivisme, ketika handphone jadi atribut wajib, ketika seks bebas adalah lumrah.

Para tokoh pahlawan kita dulu, bukan tak mungkin pernah nongkrong. Ambillah contoh Njoto, dedengkot Partai Komunis Indonesia itu. Njoto muda si anak band. Tak bisa saya bayangkan bila ia tak pernah nongkrong bersama teman-teman ngeband-nya. Bersenda gurau sembari bahas aransemen musik yang akan dimainkan. Tentunya, tak segetol dan serajin anak muda jaman sekarang.

Normatifnya, memang generasi muda bertugas “membangun bangsa sesuai yang dicita-citakan”. Harapan ada di pundak pemuda. Mereka yang bijak juga sepakat, pemuda adalah agen pembaruan sosial. Namun, bila gelar agen tersebut (terlanjur) disandang, apakah tak boleh nongkrong?

Bagi saya, tentu boleh. Tak ada larangan, apalagi perundang-undangan yang membatasi. Pun anak nongkrong tak serta merta “tak berguna”, “bodoh”, atau “dungu”. Bukan tak mungkin, yang getol nongkrong lebih “berguna” daripada yang mengharamkan. Bukankah euforia industri kreatif itu bermula dari nongkrong-nongkrongan?

Situs resmi Kamar Dagang Industri Indonesia menyebutkan industri kreatif menyumbang dalam Produk Domestik Bruto 2002-2006 rata-rata Rp 104,64 triliun dan menyerap 5,4 juta tenaga kerja. Prestasi yang berawal dari nongkrong?

Nongkrong adalah elemen keinginan hidup, setuju? Hidup dalam interaksi sosial. Meski sikap asosial (maaf, jangan keliru dibaca antisosial) pun boleh ditunaikan, seperti tecerita dalam beberapa anekdot sufi Abdurrahman al-Jauzi.

Memang. Nongkrong itu sering terlihat berkulit busuk. “Nongkrong” kerap dipandang buruk rupa. Karena diekori tindak lainnya — yang negatif, sia-sia, dan “melanggar”. Sebutlah, mabuk-mabukan, gerayang-gerayangan, atau sekadar ngobrol tak juntrungan. Menyampahkan waktu ikut kerap dituding sebagai keburukan.

Namun sepositif atau senegatif apapun itu, maknanya tetap akan kembali kepada sikap individu. Kultur, pilihan, kebiasaan, dan pembiasaan bagaimana ritual nongkrong itu dijalankan jugalah pembentuk karakteristik pribadi dalam bertongkrong.

Bila nongkrongnya berbumbu bahasan karya sastra, mungkin ia kan terbiasa menelisik sastra. Bila biasa tongkrongan politik, kemafhuman politik ia dapat. Bila biasa nongkrong berbincang tren otomotif, kritik terhadap modifikasi mesin sanggup ia keluarkan.

Saya jadi ingat kafe Rindang dan kafetaria Universitas Kristen Satya Wacana, dua landmark pertongkrongan kampus Indonesia Mini. Di sana, tempat yang jarang membisu itu, ragam pelajaran dapat dipetik. Tak kalah dari kelas kuliah dosen berbayar puluhan ribu rupiah atau seminar dengan absen. Informasi video porno terbaru produksi mahasiswa, hingga pemahaman baru akan ideologi dan pemikiran ekonomi bisa didapat. Bisa sambil makan-makan lagi.

Namun sekali lagi perlu ditegaskan. Tergantung kapan, kenapa, bagaimana, apa, dengan siapa, dan dimana Anda larut dalam nongkrong.

Nongkrong adalah pilihan. Sama halnya ikut diskusi panel, Lembaga Kemahasiswaan, seminar, workshop, kepanitiaan, semua kembali kepada individu: mana yang baik baginya. Pilihan yang bukan harus dipaksakan. Apalagi untuk paksaan yang dicitrakan seolah-olah adalah “kebutuhan”. Bukan pula syarat kelulusan.

Meski dipaksa memilih apa yang tak seharusnya dan tak doyan. Tapi terpaksa. Demi dan demi. Demi apa coba?

YODIE HARDIYAN
Mahasiswa Fakultas Ekonomi

Tag: ,

11 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

  1. Komentar no. 11

    setuju gua aja termasuk mahasiswa yang nongkrong di kafe
    apalagi klo pagi hari enak banget
    bisa mendapat inspirasi untuk perkembangan mahasiswa
    and skalian cari jodoh dong hehehe…

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK