Tribal Fusion Ads

Kais Rejeki dari Jual Koran

Sosok ini telah dilihat 502 kali sejak 7 November 2008

Jumino merupakan salah satu penjual koran di lingkungan kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Pria yang akrab dipanggil “Jum” ini memulai profesinya dengan berjualan koran di sekitar Jalan Jenderal Sudirman — sekarang lebih dikenal dengan “Pujasera”.

Ketika saya wawancarai, pria 30 tahun ini bercerita, “Tahun 1999, aku memilih pindah dari Pujasera dan jualan di UKSW, karena disini memberikan hasil (jualan) yang lebih baik. Tidak heran juga sih, karena UKSW punya banyak pelajar yang butuh informasi tiap hari. Selain itu, jualan di sini juga enak, tidak harus bayar. Cuma harus ijin ke pihak Kamtipus (Keamanan dan Ketertiban Kampus — Red).”

Disinggung soal prosedur tentang ijin, Jumino menjawab sambil tersenyum. “Ribet ga ribet tergantung ada tidaknya relasi dengan pihak Kamtipus di kampus.”

Jum bilang, dengan jualan koran, dia bisa cuci mata serta menambah pergaulan. Tidak hanya dengan mahasiswa, tapi juga dengan para dosen. “Aku jadi lebih pintar, karena aku bisa baca koran yang aku jual tiap hari, serta bisa diskusi banyak hal dengan mahasiswa maupun dosen,” tuturnya.

Pria yang hanya lulusan SMP ini menuturkan, “Mahasiswa membaca tergantung dengan hobi mereka. Kalau mereka suka olahraga, mereka baca olahraga. Kalau cewek, lebih banyak baca gosip selebriti atau mode.”

Ketika ditanya apakah Jum malu melakoni pekerjaan ini dan bergaul dengan para mahasiswa, ia tersenyum. “Aku nggak minder karena aku harus belajar dengan orang lain juga,” ucapnya.

“Aku hanya sedih ketika musim hujan tiba, karena aku tidak bisa berjualan sehari penuh. Itu berarti pendapatanku juga berkurang,” keluh pria yang juga piawai memainkan alat musik gamelan ini.

Penghasilan yang didapat Jum memang tak banyak: sekitar Rp 20-25 ribu per hari, tergantung jumlah majalah maupun koran yang dia jual setiap hari. “Rata-rata dalam sehari aku bisa jual lima belas eksemplar majalah atau koran. Tetapi aku juga pernah hanya bisa menjual enam eksemplar dalam sehari. Ababil Agency yang ada di sekitar (Jalan) Seruni yang akan menentukan pendapatanku hari itu, yaitu sebesar sepuluh persen dari bandrol,” terang Jum.

Uang Rp 20-25 ribu per hari memang bukan jumlah yang besar. Tuntutan keadaan yang memaksa Jum tetap bertahan untuk berjualan koran di lingkungan kampus. Suatu saat bila sudah ada modal, Jum berharap bahwa dia bisa mendirikan kios sendiri atau akan banting stir ke profesi lain. Jum memilih untuk mendirikan peternakan. “Itupun kalau modalnya ada,” pungkasnya.

Prita Yudha Puspita adalah reporter magang Scientiarum. Dia mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Tag: , , ,

19 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

  1. Komentar no. 19

    Pak JU paling seep pokok’e…hahaha
    hidup NOB …… haha,,kapan nh Temanggung mneh pak?

  2. Komentar no. 18

    Dari awal kuliah di kampus ini hingga sudah bekerja, setiap mampir ke kampus saya sempatkan diri untuk mampir ke tempat ju jualan. Tidak hanya masalah sedang terjadi bisa dibahas, namun masalah / kesulitan hidup yang sedang saya alami bisa juga sharing dengan mas ju untuk mencari jalan penyelesaian

  3. Komentar no. 17

    bagus sekali, ada seorang mas jumino yg tdk hnya mencoba berthan hidup (cari makan doang) tp dia punya visi ke depan, cita-cita dan impiannya (saya doakan mas bisa mencapai itu semua). ini contoh bagi mahasiswa, harus punya visi dan cita-cita terlebih tidak hanya untuk diri sendiri, but for semua orang di sekitar kita. ini tidak, malah mahasiswa bnyak yg nda punya impian, visi dalam studinya. ayo, contoh seorang penjual koran ini…………………………

    GBUs

  4. Komentar no. 16

    Mas Ju, begitu aku selalu menyapa laki-laki yang menurutku sangat luas pengetahuannya. Di samping itu, Mas Ju ini juga bisa menganalisis secara mendalam berbagai fenomena nasional bahkan internasional. Mas Ju agak berbeda dari penjual koran yang lain karena bisa diajak berdisukusi tentang banyak hal… itu kesanku tentang Mas Ju………….thanks Mas untuk baca gratis kalo pas lagi kere:)

  5. Komentar no. 15

    Saya juga dulu sering beli. Tapi sekarang da jarang.
    trus, Kan di kampus ada sekitar tiga titik tempat jualan koran. kenapa g diliput semua? nanggung cuma 1 org. trus foto nya donk..biar lebih enak baca berita ama liat2 poto.

  6. Komentar no. 14

    mengangkat topik2 seperti ini salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan sekitar…tapi hidup yang katanya satya wacana tidak sebatas itu,.sudah ada 1satu,dua atau beberapa orang di lingkngan kita yang membutuhkan perhatian…buktikan kalo kita mahasiswa katanya kaum intelek…berpikir intelek, bertingkah laku intelek,.lepas dari segala macam keterikatan doktrin…hehehehehehehe……cob yux…sama2 belajar dari bang JUM,.dan memberikan apa yang bisa kita berikan untuk orang-orang disekeliling kita….adios

    El. MetrO

  7. Komentar no. 13

    Salam Sejahtera,
    mantap itu, Menjual Koran sangat baik dan bagus! Ayo maju terus bang Jumino! Pekerjaan yang anda lakukan sangat Mulia dan baik sekali, Saya Doakan agar Usaha Anda Semakin sukses GBU

  8. Komentar no. 12

    kata jumino “Ribet ga ribet tergantung ada tidaknya relasi dengan pihak Kamtipus di kampus.” wah saya kok jadi sanksi dengan perkataan itu…

    dari lima belas ribu mahasiswa (kurang lebih) mas jumino menjual koran bisa mendapatkan penghasilan sekitar 20-25 ribu wah itu cukup bersyukur lho mas berarti yang membeli koran mas jumino lebih banyak di banding yang mengunjungi perpustakaan padahal baca buku di perpustakaan gratis!! dan baca korannya mas jumino bayar (kalo beli tapi banyak mahasiswa yang gak mau beli tapi cuma baca aja hehheeee..)

  9. Komentar no. 11

    @triyono/bambang

    Low profile? Huehehehehehe
    Tapi kalau dijadikan tulisan, bisa lebih panjang daripada postingan ini. Soalnya dari aku SMP (94an), dia udah jualan di depan gedung C, pulang sekolah pasti ketemu.

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK