Kais Rejeki dari Jual Koran

Browse By

Jumino merupakan salah satu penjual koran di lingkungan kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Pria yang akrab dipanggil “Jum” ini memulai profesinya dengan berjualan koran di sekitar Jalan Jenderal Sudirman — sekarang lebih dikenal dengan “Pujasera”.

Ketika saya wawancarai, pria 30 tahun ini bercerita, “Tahun 1999, aku memilih pindah dari Pujasera dan jualan di UKSW, karena disini memberikan hasil (jualan) yang lebih baik. Tidak heran juga sih, karena UKSW punya banyak pelajar yang butuh informasi tiap hari. Selain itu, jualan di sini juga enak, tidak harus bayar. Cuma harus ijin ke pihak Kamtipus (Keamanan dan Ketertiban Kampus — Red).”

Disinggung soal prosedur tentang ijin, Jumino menjawab sambil tersenyum. “Ribet ga ribet tergantung ada tidaknya relasi dengan pihak Kamtipus di kampus.”

Jum bilang, dengan jualan koran, dia bisa cuci mata serta menambah pergaulan. Tidak hanya dengan mahasiswa, tapi juga dengan para dosen. “Aku jadi lebih pintar, karena aku bisa baca koran yang aku jual tiap hari, serta bisa diskusi banyak hal dengan mahasiswa maupun dosen,” tuturnya.

Pria yang hanya lulusan SMP ini menuturkan, “Mahasiswa membaca tergantung dengan hobi mereka. Kalau mereka suka olahraga, mereka baca olahraga. Kalau cewek, lebih banyak baca gosip selebriti atau mode.”

Ketika ditanya apakah Jum malu melakoni pekerjaan ini dan bergaul dengan para mahasiswa, ia tersenyum. “Aku nggak minder karena aku harus belajar dengan orang lain juga,” ucapnya.

“Aku hanya sedih ketika musim hujan tiba, karena aku tidak bisa berjualan sehari penuh. Itu berarti pendapatanku juga berkurang,” keluh pria yang juga piawai memainkan alat musik gamelan ini.

Penghasilan yang didapat Jum memang tak banyak: sekitar Rp 20-25 ribu per hari, tergantung jumlah majalah maupun koran yang dia jual setiap hari. “Rata-rata dalam sehari aku bisa jual lima belas eksemplar majalah atau koran. Tetapi aku juga pernah hanya bisa menjual enam eksemplar dalam sehari. Ababil Agency yang ada di sekitar (Jalan) Seruni yang akan menentukan pendapatanku hari itu, yaitu sebesar sepuluh persen dari bandrol,” terang Jum.

Uang Rp 20-25 ribu per hari memang bukan jumlah yang besar. Tuntutan keadaan yang memaksa Jum tetap bertahan untuk berjualan koran di lingkungan kampus. Suatu saat bila sudah ada modal, Jum berharap bahwa dia bisa mendirikan kios sendiri atau akan banting stir ke profesi lain. Jum memilih untuk mendirikan peternakan. “Itupun kalau modalnya ada,” pungkasnya.

Prita Yudha Puspita, reporter magang Scientiarum

26 thoughts on “Kais Rejeki dari Jual Koran”

  1. Winarto says:

    Mas Jum telah turut berpartisipasi dalam peningkatan pengetahuan mahasiswa UKSW, kalaupun tidak beli, pasti ada mahasiswa/dosen/pegawai yang baca koran/majalah di tempat, tanpa harus bayar. Mas Ranto itu pernah diliput pa belum ya?

  2. ricky says:

    @Winarto…setuju mas soal baca tanpa bayar…itu juga terjadi pada Ranto di sekitar gedung C..mungkin reporter yang mau liput mas Ranto ngeri kali ya lihat brewoknya 🙂 padahal hatinya sangat baik

    GBU

  3. andi-dobleh says:

    Ranto mungkin terlalu kompleks,Win.. hehehe 😀

    Yup betul, mas Jum dn Ranto tempat nongkrong yang enak, bisa baca koran gratis sambil ngobrol dan ngerokok. gak kek di perpus… hehehe

  4. ricky says:

    @andi-dobleh…wah ide bagus mengenai tempat membaca…mungkin pihak perpus perlu untuk mawas diri sebagai fungsinya untuk mendorong minat baca civitas akademika….jangan cuma gedung yang wah…tetapi perlu dipertimbangkan untuk kenyamanan pembaca seperti yang dikemukakan mas andi-dobleh…pihak perpus adakan survey dong supaya buku-buku bisa diakses civitas dengan enjoy…mungkin nitipin buku2 di mas jum dan mas ranto he2…semoga ada org perpus yang baca 🙂

    Ayo Membaca….

  5. wit says:

    Ranto tidak diliput?
    kelihatannya juga sudah 10 tahun lebih jualan di UKSW, sejak sy masih kuiah sy sudah tahu Ranto, saat itu dia masih seperti anak-anak, tidak brewok seperti sekarang…

  6. Triyono says:

    @to All: Ranto itu low profil, beberapa kali mau diwawancarai scientiarum dia selalu menolak.

    Semoga aj ke depan di mau…..

    salam, triyono (PU SA)

  7. andi-dobleh says:

    @wit
    kalo saya gak salah inget, dia bilang sudah jualan sejak ’93 ketika masih umur belasan tahun (13/14 yah…)

    saking tenarnya Ranto, mahasiswa UKSW angkatan 90-an n 2000-an kalo gak kenal Ranto bisa2 diragukan statusnya.. hehehe 😀

  8. Joy says:

    Prita, kerjaan sampingan lek Ju kok ga kamu tulis? Sorry aku Manggilnya Lek Ju, cozzzzzz Ud Biasa.
    beliu juga jago maen bola lho, malah pernah ngelatih team di kampung temene di wonosobo, trus jadi wasit Volly jg pernah, pada turnamen bola volly PGSD kemarin, beliau juga aktifis di kampoengnya, wah pokok’man banyaklah, misalnya di tulis bisa nyampe puluhan bahkan sampe ratusan halaman baru selesai.
    pokoknya lek Ju itu bisa dijadikan teladan untuk kita semua karena kegigihannya dalam menghadapi kerasnya dunia.

  9. bryan says:

    aku pendatang baru di scientiarum….
    salam kenal semua….

    kalo menurutku mas jum & mas ranto itu patut dijadikan teladan……
    karena tidak ada rasa minder terhadap orang lain dan mau belajar membaca (terkhusus mas jum)….
    tapi coba kita liat kenyataan pada mahasiswa sekarang yang notabenenya adalah orang mampu (karena bisa kuliah) dan sebenarnya dikasih kesempatan ma TUHAN biar bisa membangun negara ini (negaranya udh kayak gini, coba orangnya bangkit kek…)
    tapi itulah hidup…..
    kebanyakan orang maunya cuma senang doank….
    tapi entar paling melarat……
    setidaknya jadilah panutan buat generasi UKSW selanjutnya…..
    jangan kalah donk sama mas jum & mas ranto…..
    HIDUP MAHASISWA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    peace…..
    GBU

  10. andi-dobleh says:

    @triyono
    wah bocahmu siji tulisane wes keren mbenk.. mantab degh…

    @prita
    ojo gelem dikadali mentormu.. cikakakakkakakaa

    @joy
    lha kan sing jek ditulis soal dodol koran nang kampus, mosok yo meh ditulis soal liya2ne kabeh… iso2 entek 100 hal… hueheheheheh…….

  11. dib058 says:

    @triyono/bambang

    Low profile? Huehehehehehe
    Tapi kalau dijadikan tulisan, bisa lebih panjang daripada postingan ini. Soalnya dari aku SMP (94an), dia udah jualan di depan gedung C, pulang sekolah pasti ketemu.

  12. zoe says:

    kata jumino “Ribet ga ribet tergantung ada tidaknya relasi dengan pihak Kamtipus di kampus.” wah saya kok jadi sanksi dengan perkataan itu…

    dari lima belas ribu mahasiswa (kurang lebih) mas jumino menjual koran bisa mendapatkan penghasilan sekitar 20-25 ribu wah itu cukup bersyukur lho mas berarti yang membeli koran mas jumino lebih banyak di banding yang mengunjungi perpustakaan padahal baca buku di perpustakaan gratis!! dan baca korannya mas jumino bayar (kalo beli tapi banyak mahasiswa yang gak mau beli tapi cuma baca aja hehheeee..)

  13. Pdt Masada Sinukaban says:

    Salam Sejahtera,
    mantap itu, Menjual Koran sangat baik dan bagus! Ayo maju terus bang Jumino! Pekerjaan yang anda lakukan sangat Mulia dan baik sekali, Saya Doakan agar Usaha Anda Semakin sukses GBU

  14. ericho darmawan says:

    mengangkat topik2 seperti ini salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan sekitar…tapi hidup yang katanya satya wacana tidak sebatas itu,.sudah ada 1satu,dua atau beberapa orang di lingkngan kita yang membutuhkan perhatian…buktikan kalo kita mahasiswa katanya kaum intelek…berpikir intelek, bertingkah laku intelek,.lepas dari segala macam keterikatan doktrin…hehehehehehehe……cob yux…sama2 belajar dari bang JUM,.dan memberikan apa yang bisa kita berikan untuk orang-orang disekeliling kita….adios

    El. MetrO

  15. Guest says:

    Saya juga dulu sering beli. Tapi sekarang da jarang.
    trus, Kan di kampus ada sekitar tiga titik tempat jualan koran. kenapa g diliput semua? nanggung cuma 1 org. trus foto nya donk..biar lebih enak baca berita ama liat2 poto.

  16. Izak Lattu says:

    Mas Ju, begitu aku selalu menyapa laki-laki yang menurutku sangat luas pengetahuannya. Di samping itu, Mas Ju ini juga bisa menganalisis secara mendalam berbagai fenomena nasional bahkan internasional. Mas Ju agak berbeda dari penjual koran yang lain karena bisa diajak berdisukusi tentang banyak hal… itu kesanku tentang Mas Ju………….thanks Mas untuk baca gratis kalo pas lagi kere:)

  17. andi says:

    bagus sekali, ada seorang mas jumino yg tdk hnya mencoba berthan hidup (cari makan doang) tp dia punya visi ke depan, cita-cita dan impiannya (saya doakan mas bisa mencapai itu semua). ini contoh bagi mahasiswa, harus punya visi dan cita-cita terlebih tidak hanya untuk diri sendiri, but for semua orang di sekitar kita. ini tidak, malah mahasiswa bnyak yg nda punya impian, visi dalam studinya. ayo, contoh seorang penjual koran ini…………………………

    GBUs

  18. gowol says:

    Dari awal kuliah di kampus ini hingga sudah bekerja, setiap mampir ke kampus saya sempatkan diri untuk mampir ke tempat ju jualan. Tidak hanya masalah sedang terjadi bisa dibahas, namun masalah / kesulitan hidup yang sedang saya alami bisa juga sharing dengan mas ju untuk mencari jalan penyelesaian

  19. andreas samudera says:

    Pak JU paling seep pokok’e…hahaha
    hidup NOB …… haha,,kapan nh Temanggung mneh pak?

  20. ucilelek says:

    lek ju ayo bal2an ng omahku wae rasah dodolan meneh hahaha

  21. Dicky Kurniawan says:

    Patut dicontoh semangatnya.

  22. M.Supriadi says:

    saya sangat setuju banget ama liputan ini, coz pak ju orangnya enak diajak berteman dan tidak memandang status apapun. pak ju tu orangnya aktif dalam sgala bidang. pak ju jga punya wawasan luas dan punya kelebihan yang luar biasa lhoo…. pokoknya smangat trus ya N moga sukses dech…!!!!!!

  23. Diduk says:

    wah kemajuan Ju, kowe saiki diwawancarai hehehehe… Ju penjual koran yang baik, klo tidak salah dia gantiian Yusuf yang sekarang jadi Karateka nasional (ini juga berita loh…dari penjual koran trus jadi karateka sukses)..Yusuf gantikan kakaknya yang jadi petugas parkir di uksw, mas ratno apa ya…lupa namanya aku, tapi mereka semua telah berjasa kepada civitas uksw…ranto itu di uksw sejak aku masih smp di smp lab dulu, mungkin dia mulai sekitar tahun 92/93…ket smp nganti kuliah nganti aku kerjo isih nang ngarep gedung c nongkrong…satu lagi lek’e lekker itu jg bagian dari sejarah uksw…disitu udah puluhan tahun hehehe

  24. ocha says:

    salut buat beliau….
    g cuma baik, ramah, n pinter, mas jum jg ahli kalo buat jadi wasit bola….
    kwkwwkwkwkw

  25. dwi yuliyanto says:

    pengen komentar soal mas ju..sempet saya banyak berbincang dengan beliau mengenai ilmu membaca anak kampus uksw,,tanggapan beliau ya seperi ucapnya diatas’ mahasiswa hanya suka yang dia minati saja selebihnya enggak'(tahu) dan ketika saya bilang mungkin ini era onlien new / majalah digital(magz) mas..iya tapi penting juga media cetak itu,,sewaktu2 bisa dibuka tanpa harus menyedot listrik tuturnya hehe bener jg ya..pokoknya saya sangat salut dan bangga dengan mas ju..sempet ngobrolin soal burung ternak juga,coz saya jg pecinta burung,eh ternyata dia juga udah mencoba ternak burung dan hasilnya oke katanya..trs aku tanya gmn skrng mas..lagi stag ni cuma punya induk saja..masih proses pencarian dana,hehe tuturnya sambil tertawa dan berpikir..semoga kedepan bisa sukses.amin

  26. liwoeh says:

    semangat mas Juuuuuuu!!!! 😀
    dia baik dan ramah bgt 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *