Makrab FKIP 2008: Satu Musuh Kebanyakan, Seribu Teman Kurang
Berita ini telah dilihat 486 kali sejak 10 November 2008SALATIGA — Gerimis yang turun sejak Jumat pagi, 7 September 2008, membuat lapangan sepak bola kampus UKSW becek. Namun kondisi tersebut tak menyurutkan minat 650 peserta Malam Keakraban Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 2008.
Makrab yang dihelat hingga 8 November 2008 ini mengusung tema “Satu Musuh Kebanyakan, Seribu Teman Kurang”. “Makrab ini sengaja diadakan untuk menjalin keakraban sesama mahasiswa, agar nantinya progdi (program studi — Red) satu dengan progdi lain saling melengkapi, karena kita satu fakultas,” ucap Harcahyono Adi selaku panitia. Satria W., panitia lainnya, menambahkan, “Selain itu biar peserta makrab merasa ingin mempunyai banyak teman seperti tema makrab tahun ini.”
Beda dengan fakultas lain yang menggelar makrab di luar kampus, FKIP justru menggelar makrab di dalam kampus tanpa ada acara menginap. Ketika disinggung tentang hal ini, Adi menjawab sambil tersenyum. “Kami sengaja memilih tempat di kampus karena evaluasi dari tahun kemarin. Tahun kemarin makrab diadakan di Gedong Songo (Bandungan — Red), tapi temen-temen banyak yang komplain karena kedinginan dan sakit. Resiko juga besar, makanya kami memilih tempat di kampus aja.”
Menyinggung banyaknya peserta yang mengikuti kegiatan makrab, Adi mengaku telah menyiapkan panitia khusus untuk meng-”handle” kegiatan. Hal ini diupayakan agar kegiatan ini berlangsung efektif. Menurut Adi, makrab ini tak wajib, tapi bisa digunakan untuk mengejar poin yang ditetapkan Universitas, serta untuk menambah teman.
Selama kegiatan berlangsung, saya telah mewawancarai empat peserta makrab. Berikut inilah tanggapan mereka.
Aloysius Aditya P.
Bimbingan Konseling 2008
“Makrab sekarang kurang adanya persiapan, dari kepanitiaan belum kompak. Game kurang mengasyikkan karena yang digunakan game-game lama dan ga ada inovasi game-game baru. Makan dan snack-nya lumayan tapi agak bikin ga nafsu makan. Makrab tahun ini biasa aja. Harapan buat makrab besok, dimatangkan lagi acaranya. Buat yang lebih seru.”Nova Fitriana Novita Sari
Pendidikan Sejarah 2008
“Kurang menyenangkan, LO (liaison officer — Red) kurang aktif dan kritis. Pihak panitia kurang inovatif sehingga acara membosankan. Kondisi lapangan dan pos-pos game kurang nyaman. Harapan buat besok, acara lebih dipersiapkan, kepanitiaannya serta acara-acaranya lebih menarik. Permainannya juga lebih menarik.”Selmi Rambu Ana Nggaji
Pendidikan Ekonomi 2008
“Makrab mengasyikkan karena panitianya lucu. Permainannya asyik. Snack-nya juga bikin kenyang. Tapi terganggu juga karena lapangannya becek, sehingga sepatunya kotor semua. Mudah-mudahan makrab besok lebih asyik lagi dari hari ini.”Prantalo
Pendidikan Guru Sekolah Dasar 2008
“Kesan untuk makrab hari ini, yang pertama, kondisi lapangan ga memungkinkan, becek, makanan tidak sesuai dengan selera. Kalo disuruh jadi ketua kelompok, saya tidak bersedia karena belum pernah jadi ketua. Persiapan panitia lumayan bagus tapi belum sempurna. Tapi saya udah agak senang ikut acara ini karena sudah banyak mengenal teman, walau belum semuanya. Harapan saya supaya bisa berjalan dengan baik, persiapan lebih bagus. Kekompakan lebih bagus. Oleh karena itu, harus dipersiapkan dari sekarang.”
Prita Yudha Puspita adalah reporter magang Scientiarum. Dia mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Komentar no. 18
6 December 2008 22:18
Perambah
TO:JOY
wooooo….
ketika mas JO bilang pakai logika yang mudah saja,..logika seperti apa thu yang mudah(sory ndak jelas)?
mas JOY, aq pikir ketika mas sudah tau dasar permasalahan berarti mas bisa ngasih solusi….karena yang aku dalam analisis sosial. ketika kita udah mengetaui akar permasalahan atau dasar permasalahan kita bisa menarik benang merah yang dinamakan pohon tujuan (tujuan untuk menyelesaikan segala persoalan)…so buatku anda belum tau dasar permasalahan yang sebenarnya..
ketika mas sudah tau sejarah, tidak sekedar sejarah itu dipelajari aja…aku yakin mas seorang mahasiswa bukan seorang siswa yang seharusnya pola pikirnya berbeda dengan seorang siswa. sejarah bukan sekedar untuk dipelajari saja tp sebagai bahan refleksi agar lebih baik dari sejarah itu sehingga munculah historis maker…saya pikir kl mas peduli, mas akan menjadi historis maker dengan solusi dan terobosan-terobosan yang mas buat yaitu dengan solusi yang kongkret
Komentar no. 17
6 December 2008 13:19
Perambah
To ; Ryan
kita pake logika yg mudah aja, misal ; “kegiatan di tempat ‘X’ itu katanya sangat menyenangkan dan banyak makna yang bisa di petik” nah ini baru katanya, jika aku balum pernah lihat atau mengikuti kegiatan di tempat X, mana mungkin aku bisa memberi solusi. apa cukup aku bilang “katanya”….! klo benar sih gak pa2, lha klo salah, aku bisa kena sendiri dunk….!!!
Mas Ryan, ini bukan mencacat atau gak mencacat…! menurut anda, apa yang saya tulis di sini Fakta/tidak?
Kita berkomentar itu harus tahu dasar permasalahannya/sejarahnya, jangan asal. key? dan saya berkomentar disini karena saya lihat sendiri boz.
seperti kata temenku, “itulah pentingnya belajar sejarah”
Komentar no. 16
28 November 2008 21:24
Perambah
uhhhhhhhh………
ikut nimbrung ahhh, kelihatanya asik nih………
ketika membaca artikel ini ada 2 pendapat yaitu senang dan tidak menyenangkan ini dibuktikan dari 2 pendapat peserta makrab teman2 FKIP…so saya pikir penulis berita ini cukup cerdas karena tidak berat sebelah…….ketika ada dua pendapat yang berbeda yang seimbang makanya yang menetukan kegiatan ini menyenangkan/tidak menyenangkan adalah pembaca tulisan ini….yang jadi masalah orang yang tidak ikut kegiatan ini memberi comment dan hanya mendapat kan informasi hanya dari berita ini saja apalagi tidak ikut kegiatan makrab tersebut ini yang mengakibatkan diskusi kusir alias diskusi tanpa solusi..
To: ALL
kasih solusi bukan sekedar mencacat saja….
To:JOY
saya tertarik dengan kata2 anda “untuk menuju hal yang baik itu memang tidak lah mudah. tapi semua itu mungkin saja terjadi. karena di dunia ini, tak ada yang tak mungkin” ketika saya membaca tulisan anda ini apalagi saya hubungkan dengan surga yang belum anda pernah lihat dan mengakibatkan anda tidak bisa memberi solusi kegiatan yang seperti disurga….diatas anda bilang tidak ada yang tidak mungkin, saya pikir waluapun kamu belum pernah lihat surga pasti bisa memberi solusi kegiatan seperti disurga…ini kalau anada konsisten n bertanggung jawab dengan comment anda…peace
Komentar no. 15
28 November 2008 8:20
Perambah
To : Eno & klo g salah T. Harseno (koordinator SIKRAB/MAKRAB FKIP tsb) maaf kalau salah!
untuk menuju hal yang baik itu memang tidak lah mudah. tapi semua itu mungkin saja terjadi. karena di dunia ini, tak ada yang tak mungkin. Yo ra?
Btw, kamu ud pernah liat surga ya! kok mau bikin kegiatan yang kaya kehidupan di surga?
And maaf, aku g bisa ngasih masukan mengenai cita-citamu bikin kegiatan kaya kehidupan di surga itu, coz aku sendiri belum pernah tahu kehidupan di surga itu seperti apa.
thx Boz
Komentar no. 14
27 November 2008 20:11
Perambah
Makrab kemarin ya….He3 telat ngacih tanggapan, soir ya bro..Ah yang penting aku dapat teman baru dari kegiatan itu, kan tujuanya jelas mencari banyak teman. Bukan cari kegiatan yang keren, bukan cari makanan yang enak..He3 Tapi jujur kegiatan kemerin kurang keren, and maemnya…he3X no coment dweh. Tapi aku sendiri bangga Lho, cz temen2 fak lain banyak yang iri ma makrab ini…
Yaa Laen kali aku punya cita-cita buat kegiatan yang bisa cari banyak teman, acaranya keren, and sekali lagi maemnya mantap-mantap…Ya kaya kehidupan surga lah…Tapi mungkin gak ya?? Klo iya tolong dunk kacih masukan….Lho malah gak nyambung He3X
Komentar no. 13
23 November 2008 11:32
Perambah
Hi temen-temen ku yang ganteng2, n cantik2. Aku donald, mahasiswa PE, Ex. Ketua BPM-FKIP. Sebenarnya aku sendiri ketika mendaftar di FKIP tahun 2005 yang lalu, aku sama sekali tidak pernah merasakan menjadi peserta dalam kegiatan yang namanya MAkrab itu. Soalnya, waktu itu aku daftar kuliahnya agak telat, kira-kira perkuliahan dah jalan 2 minggu. Jadi, baik makrab maupun PPMB sekalipun aku gak ikut. Waktu itu denger2 dari temen memang ada kegiatan, namun titlenya bukan Makrab, dan aku gak tau apa-apa. Yang jelas, waktu itu mahasiswa baru FKIP dibawa ke ketep untuk berkegiatan disana. Saat itu juga gak ada suatu kewajiban bagi mahasiswa untuk mengikutinya.
Kegiatan keakraban menjadi sesuatu yang wajib terjadi baru mulai angkatan 2006, dimana saat itu ketua SEMA, sdr Hans (PE) berencana untuk bekerja sama dengan fakultas dalam kaitannya dengan kewajiban mahasiswa untuk mengikuti makrab. Saat itu, hans mengungkapkan bahwa dia akan berkoordinasi dengan pimpinan fakultas (kala itu dipimpin oleh Drs. Kusjadi, MBA) untuk membahas hal ini. Mengenai kelanjutan pembahasan itu, jujur saya tidak tahu, namun makrab tetap dilaksanakan dengan diikuti mahasiswa FKIP yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa baru semuanya (untuk lebih jelasnya hub Agung’ BK-05 yang saat itu menjadi ketua panitia).
PAda tahun ajaran berikutnya (2007), terjadi perubahan formasi kepemimpinan baik di fakultas maupun di LK. Saat itu dekan dijabat oleh Lobby Loekmono, Ph.D, dan LK dipimpin oleh duet Ferry Widodo, dan Wiwid Kemukus. Selain perubahan pimpinan, muncul sistem baru yang diberlakukan di tahun ajaran ini, yaitu munculnya kredit poin bagi mahasiswa baru. Saat itu, aku merasakan makrab yang sangat besar, sangat menguras tenaga dan biaya, dengan peserta 500 orang, dan panitia 40an orang. Promosi dilakukan pada waktu sesi LK di PPMB yang diadakan sebelumnya. Saat itu muncul pula berbagai pertanyaan dari sejumlah mahasiswa yang tidak kebagian tempat. “Bagaimana nasib kami?” Padahal saat itu mahasiswa baru berjumlah kurang lebih 650, sedangkan kuota hanya 500. Pimpinan LK saat itu menjawab dengan jawaban untuk ikut ditahun mendatang. Tema saat itu adalah Build FKIP Student Friendship for Successful in Study. Visi LK mengadakan kegiatan itu, selain membina keakraban, juga menyediakan wadah bagi mahasiswa baru untuk mencari poin. (lihat buku pedoman)
Coba perhatikan. Mahasiswa S1 butuh 1000 poin. 300 diantaranya sudah masuk poin wajib. Oleh karena itu mahasiswa perlu mencari 700 poin untuk bisa lulus dalam waktu 4 tahun. Itu artinya 175 poin setiap tahun harus dapat. Jika ada 1300 orang mahasiswa FKIP angkatan 2007 dan 2008, artinya perlu disediakan 227.500 poin (dengan asumsi mahasiswa hanya mengandalkan kegiatan dari LK saja). 227.500 poin itu baru dibagi kedalam kegiatan-kegiatan yang seharusnya bisa bermanfaat.
Buat aku, yang sudah ya sudah. Baik buruknya yang sudah terjadi jadikan sebagai pelajaran buat kita bisa lebih baik lagi. Yang pasti lain kali, buat kegiatan yang punya tujuan yang jelas (aku gak bilang makrab gak ada tujuan yang jelas lho ya). Yang pasti, sebagi pejabat LK FKIP ya pastilah bisa bikin strategic planning, Operational planning, Management By orieted, dsb. So, disini kita kan melayani mahasiswa, jadi berikan pelayanan yang terbaik. Tuhan Memberkati.
Komentar no. 12
22 November 2008 7:29
Perambah
To : Susi Purwandari (cweety, imoet, dsb)
Terima kasih, maaf kalau aku tahu siapa kamu sebenarnya, sebenarnya aku hanya menebak, dan kamu yang mengaku sendiri. aku mengira ini adalah kamu karena sebelumnya aku sudah cerita dan tanya-tanya keteman-teman dan orang itu gak banyak. dan yang saya tahu dari beberapa teman yang punya antusias tinggi dalam menanggapi hal ini hanya kamu. selain itu yang rajin ngenet & gak gaptek cuma kamu.
“Wah….pokoknya susi memang Hebat” kata teman-teman ketika medengar nama kamu disebut.
Aku ngerasa saat kamu masuk dan coment dalam dunia maya ini, rasanya perbincangan ini semakin menarik dan seru. kutunggu tanggapanmu selanjutnya Sus?
oke? Thank’s for your coment.
Komentar no. 11
22 November 2008 1:26
Perambah
Oke! mungkin kamu dah tahu kalau aku belum ikut makrab di tahun ini, tapi aku sudah pernah ikut tahun 2006 yang lalu. berdasar itulah aku menyatakan bahwa makrab itu tidak terlalu bermanfaat. meski waktu itu aku tidak dipungut biaya dalam mengikuti makrab tersebut.
MAKRAB TERSEBUT EMANG GAK DA MANFAATNYA
…………..ATAU……………….
KITA-NYA AJA YANG GAK MAU MEMANFAATKANNYA !!!!
Dari pernyataan diatas, manfaat yang aku tahu, jelas pengalaman, tambah teman, “senang” walaupun ada yang “senep” point dll. tapi tanpa makrabpun kita bisa mendapatkan itu semua. uang 85 ribu kalau cuma itu manfaatnya apa efektif? mencari pengalaman dalam organisasi/kegiatan tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu. di uksw, banyak sekali kegiatan yang gratis dan memiliki manfaat yang lebih dari pada makrab. selain itu poin juga pasti dapat.
kalau aku pribadi, mending tambah 15 ribu sudah bisa buat bayar kos 1 bulan atau buat yang lain yang aku rasa hal itu lebih beremanfaat.
Buat kalian semua, apa kalian tidak bisa membuat kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mahasiswa FKIP? kalau kalian “cari aman” dalam mengadakan kegiatan, silahkan. kemajuan mahasiswa bagian dari tanggung jawab kalian.
Btw, kalau dasar dari makrabnya saja tidak jelas, apa mungkin tujuannya akan jelas?
Thank’s
Senang, saya bisa berdiskusi di dunia maya ini dengan saudara!