Nama Tuhan Satya Wacana

“Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.”
~ Wahyu 14:1 versi Terjemahan Baru

Mars bisa disebut sebagai “lagu kebangsaan” sebuah kelompok. Satya Wacana, sebagai “sebuah kelompok akademis”, punya Mars Satya Wacana, yang sering dinyanyikan saat momen-momen “penting” macam wisuda, penerimaan mahasiswa baru, upacara dies natalis, dan sebagainya.

Mars Satya Wacana memuat beberapa pesan seperti “hiduplah garba ilmiah kita”, “mengabdi Tuhan, Gereja, dan Bangsa”, “proklamasikan Kerajaan Surga”, “bela keadilan”, “bela kebenaran”, “pantang mundur, maju perkasa”, “bina negara Hamba Allahnya”, dan “amalkan hikmat Pancasila”.

Kata Kamus Besar Bahasa Indonesia, “garba” artinya “perut (rahim)”, dan “ilmiah” adalah “bersifat ilmu”. Garba ilmiah (almamater) yang hidup adalah yang senantiasa “melahirkan” ilmu-ilmu baru.

Kata “ilmu” sendiri artinya “pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu”. Dalam konteks universitas, pengetahuan yang dimaksud baru bisa “lahir” dari garba ilmiah kita jika ada aktivitas riset.

Mahasiswa Satya Wacana juga punya kewajiban untuk ikut “memproklamasikan Kerajaan Surga” bersama almamaternya. “Salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi kan pengabdian masyarakat. Kalau kita mengimani itu dengan iman Kristen, maka itu bisa jadi pernyataan Kerajaan Allah di masyarakat,” kata Sutarno ketika saya telepon. Konkretnya? “Ya mahasiswa bisa saja kan ikut mendukung pemerataan ilmu pengetahuan di masyarakat.”

Lagu Mars Satya Wacana ditulis oleh Sutarno, mantan rektor kedua Satya Wacana. “Yang pasti setelah tahun 1964, setelah saya mengajar di Satya Wacana,” kata Sutarno. Sutarno sendiri menjabat rektor mulai tahun 1973 sampai 1983. Saat dia bergabung dengan Satya Wacana, jabatan rektor masih dipegang Oeripan Notohamidjojo.

Tapi Sutarno tak menulis mars ini sendirian. Dalam “byline”, tertera pula nama Notohamidjojo dan Usadi Wiryatnaya (keduanya kini telah almarhum). Notohamidjojo ikut menciptakan lirik, sedangkan Usadi kebagian aransemen. “Jadi, saya bikin suara satunya, Pak Usadi bikin komposisinya untuk empat suara,” kata Sutarno. Dalam komposisi Usadi, suara satu adalah sopran, suara dua alto, suara tiga tenor, dan suara empat bass.

“Kalau lirik, saya semua yang nulis, Pak Noto cuma menambah satu kalimat, yang seingat saya ‘Hamba Allahnya’. Jadi, setelah selesai saya tulis, saya berikan Pak Noto dan beliau memberi koreksi dengan menambah kalimat tersebut,” kata Sutarno.

Kalau begitu, bagaimana kata lirik yang “asli”?

Nana nanana nana nanana …. Sambil bersenandung pelan, Sutarno mencoba mengingat-ingat.

Bina Negara, Bangsa, dan Gereja …. Inilah lirik mars sebelum dikoreksi Notohamidjojo.

“Lalu kenapa diganti jadi ‘Hamba Allahnya’?” tanya saya.

“Karena di bagian atas kan gereja sama bangsa sudah disebutkan, jadinya cuma ngulang-ulang aja,” jawab Sutarno.

Tentang penggunaan kata “Allah” pada lirik tersebut, saya lantas teringat perdebatan tentang “Allah-Yahweh” yang menghangat akhir-akhir ini.

Pada 17 Juli 2008, Pendeta Yeremiah Leonard menggugat Lembaga Alkitab Indonesia ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kuasa hukum Yeremiah, Januard Tampubolon, mendasarkan gugatannya pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1365. Penggunaan kata “ALLAH” dan “TUHAN” dalam Alkitab versi Terjemahan Baru — untuk mengganti nama Yahweh, tuhan orang Israel — dianggap perbuatan melawan hukum, “merugikan” umat Kristen di Indonesia, karena membuat mereka tak lagi mengenali nama Yahweh, tuhan mereka.

Yeremiah Leonard adalah satu dari sekian orang yang termasuk dalam “gerakan pemulihan nama Yahweh”. Gerakan ini mungkin telah berlangsung sejak 1980-an. Ia tak terorganisasi, tapi gaungnya cukup keras, terutama setelah gugatan terhadap LAI tersebut.

Saya tahu mengenai gerakan ini dari Petrus Wijayanto. Dia bilang, gerakan ini tidak sama dengan Saksi Yehova, yang dulu sempat dilarang oleh rejim Orde Baru. Saksi Yehova tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, melainkan hanya seorang utusan. Tapi orang-orang yang sepaham dengan Petrus Wijayanto dan Yeremiah Leonard, mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Wit, demikian Wijayanto biasa dipanggil, adalah dosen Fakultas Ekonomi. Dia juga pengelola situs web GK Ministries. Di situsnya, Wit menaruh banyak tulisan soal kekristenan. Ada yang soal Yesus mati hari Rabu (bukan Jumat). Ada yang soal kesalahan-kesalahan redaksional Alkitab versi Terjemahan Baru. Ada pula yang soal orang Kristen tak bisa kena santet.

Tapi, yang paling gres, ya soal Allah-Yahweh.

Saya tanya pada Wit, kenapa penyebutan nama Tuhan penting untuk dibahas. Wit memberi satu ayat sebagai jawaban, Mazmur 91:14. Pada ayat ini tertulis, “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”

“Aku” pada ayat ini merujuk pada tuhan orang Israel, Yahweh.

Wit menolak menggunakan kata “Allah” untuk memanggil Yahweh. Baginya, “Allah” bukanlah kata sebutan biasa. “Allah” adalah nama pribadi tertentu, yang bukan Yahweh. “Tuhannya orang Islam,” kata Wit.

Belakangan, saya bicara dengan seorang teman yang beragama Islam, Yodie Hardiyan namanya. Saya tanya dia, “Siapa tuhanmu?”

“Allah, Allah SWT,” jawabnya.

Setelah berpikir sebentar, saya melanjutkan, “Lalu, siapa nama Allah-mu?”

Yodie malah balik tanya, “Sekarang gini Sat, bapakmu namanya siapa?”

“Budiono,” jawab saya.

“Terus, kalo misalnya aku tanya, ‘Siapa nama Budiono-mu?’, kamu jawab apa?” tanya Yodie lagi.

Saya tak bisa menjawab. “Nah, kalo gitu sama. Kamu nggak bisa tanya siapa nama Allah-ku. Allah ya Allah,” tegas Yodie.

“Itu tidak benar,” kata Sutarno di ruang tamu rumahnya, 26 November 2008, ketika saya tanya soal pemahaman orang-orang seperti Wit. “Waktu saya di Dewan Gereja-gereja se-Dunia, orang Arab Kristen panggil Tuhan ya Allah,” katanya. Sutarno bilang, hal ini berlaku pada orang-orang Arab Kristen di negara-negara Arab — seperti Palestina dan Libanon. Sejak dulu sekali, mereka sudah memanggil Yahweh dengan sebutan “Allah”.

Bagi Sutarno, “Allah” adalah kata sebutan yang diserap dari bahasa Arab, sinonim “Ilah” (Arab), “Elohim” (Ibrani), “God” (Inggris), “Elah” (Aram), “Theos” (Yunani), dan bukan nama diri yang merujuk kepada pribadi tertentu. Orang Islam pakai kata ini, orang Kristen juga bisa.

Sutarno lantas beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan saya sendiri di ruang tamu. Dia masuk ke sebuah ruangan. Tak sampai setengah menit kemudian, dia keluar sambil membawa sehelai kertas kosong. Setelah duduk kembali, Sutarno mulai menulis. Dia hendak menjelaskan sejarah “Yahweh” dan “Allah” pada saya. Dia bilang, ini untuk menambah pengetahuan saya.

“Jadinya malah ‘katekisasi’ sama saya ya kamu, Satria?” kata doktor teologi lulusan Belanda itu, setengah bercanda.

Sutarno menerangkan, kitab-kitab pada Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani.

“Tahu berapa lama nulisnya?” tanya Sutarno. Dia menyela tulisannya dan melihat saya.

Saya bilang tidak. “Proses penyelesaiannya itu sekitar 1.400 tahun,” kata Sutarno, sambil kembali menulis.

Mulai ditulis sejak jaman Musa, Perjanjian Lama baru “disahkan” pada abad I Masehi. Kitab-kitab itu ditulis oleh banyak penulis, dengan menggunakan banyak sekali naskah sumber, yang terbagi dalam empat golongan: Yahwist (Y), Elohist (E), Deuteronomist (D), dan Priester (P). Dalam kitab-kitab itu pula tuhan orang Israel dikenal dengan tiga istilah: Elohim, Adonai, dan YHWH.

Menurut Sutarno, padanan Elohim adalah Allah, God, dan Theos. Sedangkan Adonai padanannya adalah Tuhan, Lord, dan Kurios. Elohim pun punya beberapa “variasi”, seperti El-Shaddai, El-Elyon, dan El-Olam.

Sumber Yahwist selalu menyebut tuhan orang Israel dengan YHWH. Tapi, karena ini nama Tuhan dan dianggap sakral, orang-orang Israel tak boleh menyebutkannya. “Setiap kali ketemu ‘YHWH’, mereka selalu bacanya ‘Adonai’,” terang Sutarno. Yang boleh menyebut Yahweh hanyalah Imam Besar.

“Imam Besar, karena kedudukannya, dianggap suci. Jadi mendapat keistimewaan,” kata Sutarno.

Sutarno juga menyebut padanan dalam budaya Jawa untuk menjelaskan kebiasaan ini. Dalam budaya Jawa, kita tak boleh memanggil orang yang dianggap terhormat hanya dengan nama saja — harus dengan sebutan atau predikat tertentu, seperti Bapak, Paduka, dan sebagainya.

Adonai” adalah kata Ibrani untuk menyebut tuan (majikan) atau tuhan. Dalam kitab Keluaran diceritakan, adonai orang Israel menyatakan nama dirinya kepada Musa di atas Gunung Sinai dengan frasa “ehyeh asyer ehyeh”. Alkitab versi Terjemahan Baru LAI menulis frasa ini sebagai “Aku adalah Aku”. Tapi Sutarno menyebut terjemahan frasa tersebut dengan “Aku ada yang Aku ada”. Seorang “miliser” Besorah Online memberikan frasa “Aku akan ada yang Aku akan ada”.

Ehyeh asyer ehyeh lantas ditulis dengan tetragrammaton YHWH (huruf Ibrani hanya mengenal konsonan). Agar dapat diucapkan, YHWH divokalisasi dengan vokal kata “hayah” (bentuk selesai dari “ehyeh”) yang artinya “ada”. Ehyeh sendiri berarti “akan ada”. Karena aturan bahasa, vokal “a” yang kedua berubah jadi “e”, hingga YHWH diucapkan dengan kata “Yahweh”.

Yahweh lalu dilogatkan dalam beberapa bahasa hingga jadi Yahwah (Arab), Jehovah (Inggris), Yehuwah (Jawa), Jahowa (Batak). Karena kata ini adalah nama, ia tak diterjemahkan.

Tapi ada pula teori lain.

YHWH juga biasa divokalisasi dengan vokal kata “adonai”, hingga menjadi “Yahowah”.

“Bahwa YHWH menjadi Yahweh itu sebenarnya juga tidak jelas benar asalnya,” kata Sutarno. Menurutnya, karena huruf Ibrani hanya terdiri dari konsonan, dan kata “YHWH” sudah berusia ratusan tahun — sedangkan selama itu tak banyak orang yang mengucapkannya — maka pengucapannya yang semula pun sudah tak diketahui lagi dengan jelas.

“Karena itu, penyebutan nama Yahweh itu sendiri belum tentu benar,” kata Sutarno. “Makanya, daripada salah menyebut, lebih baik tidak menyebut.”

“Lha kalau Tuhan waktu itu bilangnya ke Musa ‘ehyeh asyer ehyeh’, lalu ditulis orang Ibrani pakai aksara ‘YHWH’, kenapa YHWH itu nggak dibaca ‘ehyeh asyer ehyeh’ aja Pak? Kenapa mesti pakai Yahweh?” tanya saya.

Sutarno tak punya jawaban. Dia justru ikut setuju kalau YHWH diucapkan “ehyeh asyer ehyeh”.

Sutarno beranjak lagi dari kursinya. Dia masuk ke ruangan yang tadi. “Sekarang yang soal Allah ya,” katanya saat kembali sambil membawa sehelai kertas kosong.

Sutarno memulai penjelasannya dari Nuh.

“Nuh punya tiga anak: Sem, Ham, dan Yafet. Nah, Sem ini menurunkan bangsa Aram, yang kemudian jadi nenek moyang Abraham,” kata Sutarno.

Abraham punya dua anak, Ishak dan Ismail. Ishak adalah nenek moyang bangsa Ibrani, sedangkan Ismail nenek moyang bangsa Arab. “Karena itu, orang Arab dan orang Ibrani disebut bangsa Semitik, bangsa keturunan Sem,” kata Sutarno.

Dalam perkembangannya, dua bangsa ini mengembangkan bahasa dan budaya (termasuk agama) mereka masing-masing. Namun, karena masih serumpun, ada kesamaan-kesamaan pada bahasa mereka.

Kata Sutarno, bangsa Aram menyebut tuhannya dengan kata “elah” yang kemudian jadi “elaha”, bangsa Ibrani dengan kata “el” yang kemudian jadi “elohim”, dan bangsa Arab dengan kata “ilah” yang kemudian jadi “allah”. Jika yang dimaksud adalah Tuhan, kata “allah” ditulis dengan huruf awal kapital: “Allah”.

Allah sendiri, menurut Sutarno, berasal dari gabungan “al” dan “Ilah”. Al sepadan dengan “the” dan Ilah sepadan dengan “God”. Maka, al-Ilah (yang kemudian, kata Sutarno, disingkat jadi Allah) itu berarti “the God”.

“Kata ‘Allah’ tidak bisa dikatakan hanya ‘milik’ Islam,” kata Sutarno. Dia lebih sepakat kalau kata itu adalah milik orang Arab.

Hampir tiga jam saya berdiskusi dengan Sutarno, dari jam delapan pagi hingga sebelas siang. Setelah “kuliah 3 SKS” itu usai, saya pamit.

Dari rumah Sutarno di Perumsat Kemiri, saya langsung menuju salah satu laboratorium komputer di lantai satu Perpustakaan Pusat. Di sana Petrus Wijayanto telah menunggu.

Ketika bertemu, saya menyampaikan pendapat-pendapat Sutarno kepadanya. Wit lantas memberi saya beberapa referensi tambahan. Ada video, ayat Alkitab, sebuah buku kecil yang dia tulis sendiri, dan sebuah paper karangan Pendeta Teguh Hindarto dari Nafiri Yahshua Ministry, Kebumen.

Dalam buku kecilnya, Wit tetap ngeyel bahwa Allah adalah nama diri, bukan kata sebutan yang dapat diterjemahkan. “Orang Muslim di seluruh dunia akan menyatakan hal yang sama, ‘There is no God but Allah.’ Bagi orang Muslim kata ‘Allah’ tidak dapat digantikan dengan kata apapun. Tidak ada kata apapun yang setara dengan Allah. Orang Muslim di Amerika, misalnya, akan mengatakan ‘My Lord is Allah’,” tulis Wit.

Wit juga melampirkan artikel Yakub Sulistyo yang dimuat di harian Wawasan pada 8 Januari 2008. “Allah itu nama tuhannya umat Islam, buktinya umat Islam di Amerika jika sembahyang akan mengucapkan ‘Allahu akbar’ bukan ‘God akbar’,” tulis Yakub dalam artikelnya.

Yakub Sulistyo adalah Gembala Sidang Gereja Pimpinan Rohulkudus Surya Kebenaran di Ambarawa. Situs web gereja ini dapat dilihat di alamat www.suryakebenaran.org.

Yakub menjelaskan bahwa kata “Allah” tak berasal dari “al-Ilah”.

“Ilah bisa dimasukkan alif lam karena ilah adalah gelar atau sebutan, sedangkan Allah itu tidak bisa karena nama pribadi. Contoh : Ustaadzun guru laki-laki, bisa dimasukkan alif lam, sehingga menjadi al-ustaadzu, tetapi Fatimah tidak bisa ditulis menjadi al-Fatima karena Fatimah itu nama pribadi atau nama orang,” tulis Yakub.

Dari video yang diberikan Wit, saya mendapati bahwa salah satu majalah Islam di Indonesia, yakni Sabili, pernah memuat artikel berjudul “Allah dan Elohim?” pada 30 Januari 2004. Salah satu subjudul artikel itu bertanya, “Siapakah Allah?”

“Secara etimologi,” tulis penulis artikel itu, “kata ‘Allah’ (Arab = terdiri dari alif, lam, lam dan ha’ dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua). Kata ‘Allah’ adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain), karena kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama’ (plural). Demikian pula, kata ini tidak dapat dijadikan mudhaf.”

Penulis artikel itu mengambil kesimpulan, “Karena itulah maka kata ‘Allah’ tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Maka terjemah ‘Allah’ menjadi God (bahasa Inggris) atau Tuhan (bahasa Indonesia) adalah tindakan yang batil. Karena God bisa diubah menjadi bentuk jama’ (Gods) dan Tuhan bisa diubah menjadi bentuk jamak (Tuhan-tuhan). Sedangkan ‘Allah’ tidak bisa diubah menjadi bentuk jamak.”

Video pemberian Wit juga mengutip macam-macam buku untuk mengatakan bahwa “Allah” adalah nama, bukan kata sebutan.

Pada Buku Pintar Tentang Islam yang ditulis Syamsul Rijal Hamid tertulis, “ALLAH adalah Tuhan pencipta alam semesta ini. Banyak bangsa di zaman kuno telah mengenal Tuhan pencipta alam semesta, tapi dengan nama berbeda-beda. Bangsa Yunani mengenal dengan nama Zeus, bangsa Yahudi dengan nama Yahweh, bangsa Persia dengan nama Mazda, dan bangsa Arab sejak sebelum datangnya Islam pada abad ke-7 mengenalnya dengan nama Allah.”

Pada Ensiklopedi Islam yang ditulis Cyril Glasse tertulis, “Kata ‘Allah’ merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan.”

Pada Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW yang ditulis Kiai Haji Moenawar Chalil tertulis, “ALLAH : Nama DEWA yang disebut-sebut suku QURAISY, bangsa ARAB, bersama-sama dewi AL LATA dan dewi AL UZZA.”

Pada Konflik Islam-Kristen yang ditulis H. Sudarto tertulis, “Orang Kafir Quraisy menyembah dewa yang bernama ALLAH. Bagi Islam Tuhan sesungguhnya bernama ALLAH. Lalu orang barat menganggap umat Islam itu musrik (pagan) karena menyembah ALLAH. Orang Islam menjelaskan bahwa yang mereka sembah bukan ALLAH masyarakat Purba.”

Pada Keberagamaan yang Saling Menyapa yang ditulis Mohammad Sabri tertulis, “’Allah adalah nama dewa yang paling banyak disebut. Tetapi fungsi-Nya didelegasikan atau diambil alih oleh dewa-dewa lain yang lebih kecil.”

Pada Agama-agama Manusia yang ditulis Huston Smith tertulis, “Jin-jin padang pasir itu sama sekali tidak punya arti dalam pencarian ini, namun satu dewa sungguh mempunyai makna mendalam dalam pencarian ini. Dewa ini bernama Allah dan disembah penduduk Mekkah bukan sebagai satu-satunya Tuhan, tetapi bagaimanapun sebagai dewa yang luar biasa. Sebagai pencipta, penganugerah tertinggi, dan penentu nasib semua manusia, dewa ini dapat menimbulkan perasaan keagamaan yang benar-benar serta pengabdian yang tulus.”

Kutipan-kutipan yang saya tulis di atas hanyalah sebagian. Video pemberian Wit memuat banyak sekali kutipan.

Paper karangan Pendeta Teguh Hindarto menjelaskan sejarah penggantian nama Yahweh dengan kata “TUHAN” dan “ALLAH” pada Alkitab bahasa Indonesia.

Agama Islam masuk ke Nusantara pada dua tahap. Tahap pertama berlangsung sekitar abad VII-VIII dengan perantaraan para pedagang Arab. Sedangkan tahap kedua berlangsung sekitar abad XIII dengan perantaraan para pedagang Gujarat yang dipengaruhi mistik Persia.

Portugis baru membawa agama Katolik masuk ke Nusantara tahun 1512, sedangkan Belanda tahun 1596. Keduanya membawa misi “gold, gospel, and glory” yang akhirnya mendasari kegiatan mereka di Nusantara.

Setelah masuk, Belanda mendirikan kongsi dagang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie pada 20 Maret 1602, yang akhirnya bangkrut pada 17 Maret 1798 karena kesulitan finansial. Setelah VOC bangkrut, pemerintahan Hindia Belanda dipegang kembali oleh Kerajaan Belanda.

Pada 1629, Albert Corneliz Ruyl (seorang pegawai VOC berpangkat Onderkoftman), menerjemahkan Injil Matius dari bahasa Yunani ke bahasa Melayu. Dalam penerjemahan ini, kata “Theos” diubah menjadi “Allah”, kata “Iesous” menjadi “Yesus”, “Christos” menjadi “Christus”, dan “Abraam” menjadi “Ibrahim”.

Tahun 1733 dan 1879 terjadi penerjemahan lagi. Kali ini “Iesous” diubah menjadi “Isa” dan “Christos” menjadi “Al Masih”. Sedangkan “Theos” tetap diterjemahkan menjadi “Allah”.

Karena sejak awal nama Allah telah dipakai sebagai translasi Theos dan Elohim, maka Lembaga Alkitab Indonesia yang baru berdiri tahun 1954 memutuskan untuk tetap memakai Allah, dengan pertimbangan bahwa pemakaiannya telah lama diterima umum dan Allah tidak dipahami sebagai nama diri.

Tapi sejak awal pula, kata “JEHOVAH” telah dipakai untuk translasi nama Yahweh. Tahun 1839, P. Janz menerjemahkan nama Yahweh ke dalam logat Jawa dengan transliterasi “JEHUWAH”. Di Tanah Batak, Zendeling Rinsje memakai “Djahoba”. Di Nias, dipakailah “Jehofa”. Sedangkan Melchior Lejdecker menggunakan “HUWA” untuk Yahweh dan H. G. Klinkert memakai “HOEWA”, “JEHOEWA”, “TOEHAN HOEWA”, dan “Tuhan HOEWA”.

Ketika konferensi para penerjemah Alkitab berlangsung di Jakarta tahun 1952, ditetapkan bahwa nama “HUWA” ditiadakan dan diganti menjadi “TUHAN”. Alasannya mengacu pada disertasi doktoral H. Rosin, dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, di Universite de Geneve — bahwa tetragrammaton YHWH tak dapat diucapkan (unpronounceable).

“Renungkan,” tulis Teguh Hindarto dalam paper-nya, “LAI tetap mempertahankan penggunaan nama Allah dengan alasan nama itu telah dipakai sejak Ruyl, Lejdecker, Klinkert serta Bode. Anehnya, mengapa nama Yahweh yang telah dituliskan sejak masuknya Portugis ke Indonesia, tidak dapat dipertahankan?”

“Jika empat huruf YHWH tidak dapat diucapkan, mengapa para penerjemah diatas, bahkan penerjemah dalam bahasa daerah sudah menggunakan nama Jehovah, Jehowa, Hoewa atau Huwa? Logiskah jika Musa, Ishak dan Yakub serta leluhur Israel tidak dapat mengucapkan nama Yahweh, padahal mereka berkomunikasi dengan Sang Pencipta secara audible? Jika naskah Kitab Suci berbahasa Ibrani dapat diterjemahkan dalam berbagai bahasa, mengapa nama Yahweh tidak dapat dituliskan? Bagaimana mungkin ada bahasa yang tidak dapat diterjemahkan dan ditransliterasikan? Dengan alasan apa Sang Pencipta memberitakan namaNya yang abstrak??” tulis Hindarto lagi.

Tahun 1940, terbit Kitab Perdjanjian Baharoe yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Melayu oleh British and Foreign Bible Society, National Bible Society of Scotland, dan Nederlandsch Bijbelgenootschap. Kitab ini merupakan revisi Wasiyat yang Beharoe, yang terbit pada 1896.

“Pada kata pengantar kitab terbitan tahun 1940, terlampir pandangan komite penyalin yang menuliskan pandagannya pada tahun 1939 di Sukabumi. Dalam kata pengantar tersebut, ada empat hal yang menarik untuk dicermati,” tulis Teguh Hindarto.

Pertama, keterlibatan asisten Melayu beragama Islam dalam komite penyalin. “Maka bagi maksud itoe, sedia ditetapkanja pada akhir tahoen 1930 soetaoe Comite Penjalin di Soekaboemi, yang sedang mengerdjakan salinan baharoe itoe dibawah pimpinan…dan berganti-ganti doea oerang assistant Melajoe djati dari tanah Melajoe….”

Kedua, kesukaran dalam penerjemahan dan kebutuhan untuk “koreksi tanpa batas”. “Maka ta’dapaat tiada pembatja telah paham akan kesoekaran Comite Penjalin itoe mengadakan persatoean bahasa bagi pengertian yang am. Oleh sebab itoe djoega dipinta kepada pembatja yang insaf akan mengingatkan segala toentoetan terdjemahan yang sukar itu.”

Ketiga, penggunaan “Allah” sebagai nama Tuhan. “Karena ma’na Toehan menoeroet perasaan orang Arab dan orang Melajoe djati ialah Allah. Demikian djuga menurut djalan bahasa Arab dan logat Melajoe djati, adalah perkataan Allah itoe boekanja sedjenis nama yang dinamakan, seperti pada perasaan disebelah barat tentang perkataan God. Oleh jand demikian maka perkataan Allah yang bersamboeng dengan koe, moe, nja, dengan toedjoean poenja, itoe bersalahan dengan perasaan orang Melajoe yang diloear golongan Keristen.”

Keempat, ketergantungan proses penerjemahan pada bahasa Arab Melayu. “Kadang-kadang penjalin terpaksa menggoenakan bahasa Melajoe, sebab tiada ada kata Melajoe djati yang boleh mensifatkan pengertian ataw toedjoean nas asli dengn sebetul-betulnya.”

Teguh Hindarto menutup paper-nya dengan kesimpulan bahwa fakta historis dan etimologis membuktikan nama Allah bersumber dari dunia Arab pra-Islam. “Upaya menghubungkan akar kata Allah, dengan istilah El, Eloah dan Elohim dalam tradisi semitik, masih menimbulkan pro dan kontra yang belum final,” tulisnya.

Lantas sampai kapan pro-kontra itu mencapai final?

“Beberapa teman saya yang ‘netral’ menyatakan, ‘Lho, apa to keberatan tidak lagi menggunakan Allah, kalau memang kata itu kontroversial?’ Saya jawab, ‘Ya karena mereka hamba Allah!’ Teman saya cuma senyum-senyum,” kata Wit.

“Sebetulnya, silakan saja kalau orang-orang itu mau pakai Yahweh,” kata Sutarno. “Yang penting, jangan memaksa orang lain untuk mengikuti mereka.” Sutarno keberatan dengan gugatan hukum Yeremiah Leonard terhadap LAI, karena keputusan hukum sifatnya memaksa.

Bagaimana dengan Universitas “Kristen” Satya Wacana sendiri? Masih ingin jadi “hamba Allah” atau “hamba Yahweh”?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini. Cek kotak masuk atau spam surel anda untuk mengonfirmasi langganan.

Bergabung dengan 8 pelanggan lain