Jaring Aspirasi Pemilihan Rektor UKSW

Browse By

Tidak terasa masa jabatan rektor UKSW periode 2005/2009 akan segera berakhir. Pada 2009 kali ini, UKSW akan melangsungkan pemilihan rektor berikutnya. Meskipun demikian, dari hasil survey masih banyak civitas UKSW yang tidak mengetahui akan adanya pemilihan rektor tersebut.

Rektor UKSW merupakan pimpinan tertinggi, yang akan berpengaruh besar terhadap UKSW. Oleh sebab itu dalam pemilihan rektor berikutnya diperlukan pertimbangan yang matang. Dan diharapkan rektor yang nanti terpilih dapat sesuai dengan aspirasi civitas mahasiswa, agar dapat menjawab setiap permasalahan, serta membawa UKSW menjadi lebih baik.

Berdasarkan hal tersebut, bidang IV Senat Mahsiswa Universitas (SMU) UKSW melalui departemen informasi dan komunikasi dalam propaganda, membentuk sebuah Tim Pencari Profil Rektor (TPPR) UKSW periode 2009/2013.

TPPR tersebut terdiri dari 15 utusan dari lembaga kemahasiswaan fakultas/PP , 3 utusan dari SMU serta 4 utusan dari Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU).

Tugas TPPR adalah menjaring aspirasi civitas UKSW mengenai profil rektor mendatang. Hasil penjaringan aspirasi tersebut rencananya akan diserahkan kepada pansus sebagai bahan masukan dalam penjaringan profil bakal calon rektor periode mendatang serta ketua SMU dan ketua BPMU selaku senator tingkat universitas agar dapat disampaikan dalam rapat Senator Universitas.

Dalam proses pencarian profil rektor tersebut, semua civitas mempunyai hak untuk bersuara melalui beberapa kegiatan yang akan dilakukan TPPR di antaranya:
Penjaringan aspirasi lewat kuisioner pada 19-22 Januari 2009, Focus Group Discussion (FGD) pada 27-30 Januari 2009, dan sarasehan I dan II pada 6 Maret 2009 dan 8 Mei 2009.

Sarasehan I dan II akan menghadirkan para bakal calon rektor. Pada sarasehan tersebut, bakal calon akan menyampaikan visi/misi, pada sesi tanya jawab, bakal calon akan diberikan sebuah masalah yang ada di UKSW yang belum selesai, dan setiap bakal calon diminta untuk memecahkannya. Sarasehan akan mengundang semua civitas UKSW.

Menurut keterangan koordinator TPPR, Reima Afluria Widhiyanti, tujuan diadakannya TPPR adalah untuk mencoba menciptakan budaya politis yang transparan di UKSW.

Reima juga menambahkan, TPPR sendiri sebenarnya tidak memiliki wewenang apapun dalam pemilihan rektor mendatang, dan disini TPPR hanya bersifat sebagai wadah penyalur aspirasi civitas dan TPPR sendiri bersifat netral.

”Disini TPPR berjalan sendiri tanpa terikat dengan pansus” tandasnya.

Alir pemilihan rektor
Disisi lain, Kornelius Upa’ Rodo selaku anggota pansus dan ketua SMU menuturkan bahwa 19 surat telah dikirim kepada orang yang memenuhi persyaratan minimal. Untuk pengembalian surat kesediaan menjadi bakal calon rektor diberikan batasan waktu sampai 15 Januari 2009.

Selanjutnya pada 16 Januari 2009 sampai 15 Februari 2009, para bakal calon diminta untuk mengumpulkan persyaratan administratif. Para bakal calon yang lolos administratif akan di jaring oleh pansus menjadi maksimal tiga orang.,

Ketiga bakal calon yang sudah melalui penjaringan akan diserahkan kepada yayasan, sebagai hasil kerja pansus, dan saat itu juga masa kerja pansus berakhir. Selanjutnya mereka akan berkonsultasi dengan pihak yayasan dan menetapkan bakal calon tersebut menjadi calon rektor untuk diusulkan kepada para senator dan mempresentasikan visi-misi masing-masing.
Pada saat itu para senator akan memberikan pertimbangan-pertimbangan yang hasilnya akan diserahkan kepada yayasan. Selanjutnya pembina yayasan akan memilih dan menetapkan rektor UKSW berikutnya.

Tanggapan pansus sendiri terhadap TPPR ” pansus mempersilahkan kepada siapapun (civitas UKSW) yang ingin membentuk tim apapun itu jenisnya dalam rangka pemilihan rektor UKSW mendatang, karena semua itu hak mereka untuk mengetahui calon pemimpinnya” ungkap Lius

”Terserah TPPR mau melakukan apa saja asalkan menurut mereka itu baik, pansus sendiri tidak akan menghalangi mereka. Karena mereka dapat menjadi sumber informasi dalam memberikan masukan kepada pansus jika pansus membutuhkan.Dan” tandasnya

30 thoughts on “Jaring Aspirasi Pemilihan Rektor UKSW”

  1. rhema says:

    Sebagai Ketua BPMU, saya harap sodara-sodara seluruh civitas UKSW tetap menjaga hati, jiwa dan pikirannya selama berjalannya proses awal sampai akhir pemilihan rektor supaya kondisi yang terjadi tetap kondusif. kirannya Tuhan Yesus menyertai kita. Amen

  2. Ayu Dj says:

    Wlo ga megang jabatan apapun, alias cm mahasiswi biasa, saya harap rektor baru nanti lbh ‘merakyat’ tp ttp ga keilangan wibawa.

    Sukur sukur mw ngilangin point keaktifan mahasiswa. Setidakny kurangi jd 500 bwt yg s1.
    Kuliah dah susah, tmbh hrs ikut ini itu, ip bs jeblok..

    Intiny:
    Selamat bersaing secara damai

  3. ArFeBi says:

    53 Tahun sudah UKSW mewarnai dunia pendidikan di bumi nusantara ini. Sudah 6 kali UKSW hidup dengan gaya kepemimpinannya masing-masing. Pertama, dengan gaya kepemimpinan seorang sarjana hukum (O.Notohamidjojo), kedua, dengan gaya kepemimpinan seorang sarjana teologi (Sutarno), ketiga, dengan gaya kepemimpinan sarjana keguruan (Willy Toisuta), keempat, dengan gaya kepemimpinan sarjana ekonomi (J.Ihalauw), kelima, kembali lagi kita merasakan gaya kepemimpinan seorang sarjana teologi (J.Titaley), keenam, dengan gaya kepemimpinan sarjana biologi (Kris Timotius).

    Panjang kan? Itulah UKSW kita yang tercinta ini. Namun setelah perjalanan panjang ini, UKSW jangan dulu berpuas diri. Sebab masih banyak yang harus diperbaiki dan dibenahi. Tahun ini akan ada perhelatan besar untuk menentukan gaya kepemimpinan seperti apa yang akan kita rasakan berikutnya.

    Tapi ingat!! Ini bukan sekedar soal rasa, tetapi ini soal kemana kita akan dibawa. Saya pikir kita semua sudah bisa menilai, bagaimana pemimpin-pemimpin kita sebelum ini. Penilaian subyektif ataupun obyektif memang ada di tangan kita masing-masing.

    Wakil Mahasiswa tahu yang mahasiswa mau?
    Selaku seorang mahasiswa, ini bukan hanya masalah bagaimana menyampaikan aspirasi. Tetapi juga masalah siapa yang akan kita pilih. Bukan pesimis dengan perhelatan ini, tetapi apakah wakil mahasiswa bisa memilih orang yang tepat?? Bagaimana mereka bisa menentukan orang yang tepat untuk di pilih?? Apakah hanya berdasarkan suara terbanyak mahasiswa (will of all)? Ataukah berdasarkan kehendak bersama mahasiswa (general will)?
    Sebaiknya wakil mahasiswa lebih jeli dan teliti, (atau mungkin banyak berdoa sehingga roh kudus bisa membantu menentukan pilihan) untuk memilih pemimpin universitas ini.

    Calon Petinggi UKSW
    Saya juga menghimbau bagi siapa saja yang akan mencalonkan diri sebagai rektor universita yang satya terhadap firman ini. Kami tidak hanya butuh kepintaran anda. Kami tidak hanya butuh kemampuan managerial saja. Kami tidak hanya butuh kemampuan anda ber-promosi. Tetapi yang kami butuh seorang pemimpin yang memiliki moral, memiliki hati nurani, dan respect terhadap keadilan. Tugas anda nantinya sangat berat, karena ketika anda melakukan yang benar anda bisa di demo, apalagi anda melakukan yang salah.

    @Rhema
    Ibu yang terhormat, saya yakin semua proses akan berjalan dengan baik. Itupun kalau semua yang berproses didalamnya mau menjalani ini semua dengan kejujuran dan ketulusan. Ketika suasana tidak menjadi kondusif silahkan anda bertanya setiap kandidat yang mencalonkan diri mereka, kenapa bisa terjadi? (saya yakin mereka tahu jawabannya). Jadi saya berharap anda juga mampu menegakkan keadilan, jangan takut sebab DIA selalu berkenan kepada mereka yang berpihak pada keadilan. Semoga anda sukses dalam mengawal perhelatan yang besar ini…Tuhan senantiasa menyertai pemimpin yang jujur…

    Mungkin ini sedikit isi otak saya yang ingin saya bagikan. Mohon maaf kalau ternyata ada salah kata, atau menyinggung anda yang membaca. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kekurangan milik saya sebagai manusia. Hehehehe… Bu Dorce, pinjem yeeee kata-katanya….

    Thanx Mr. Moderator…..
    Akhir kata semoga perhelatan pemilihan rektor dapat berjalan dengan damai. Yang pasti HIDUP UKSW!!!!!!!!! HIDUP MAHASISWA!!!!!!!!!

    God Be Bless Us….

  4. Adi Joni says:

    saya mau menyinggung soal kinerja TPPR dulu. ada beberapa hal yang mengganjal di hati saya. saat ini, memang saya sedang tidak eksis di kampus, karena ada pekerjaan di luar kota. tapi, saya cukup up date soal apa yang disebarkan oleh TPPR, dalam hal ini questioner. yang saya lihat, questioner yang disebarkan, menyakup sekitar kurang lebih 40 pertanyaan. tetapi, ada pertanyaan besar di sini. mengapa hanya sekitar 15 pertanyaan yang menyangkut mengenai profil rektor yang diinginkan??? itu pun semua pertanyaan merupakan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena seakan-akan menggiring para pengisinya untuk memilih jawaban “YA”.

    selebihnya, pertanyaan yang diajukan bersifat menyinggung permasalahan yang terjadi di kampus, de el el. saya kira anda sudah tahu apa pertanyaan2nya. saya aja yang ga di kampus, tahu kok. kemudian, setahu saya, apakah jumlah questioner yang disebarkan sudah representative? mengingat setiap fakultas “hanya” mendapat 100 lembar. 14 fakultas dan 1 PP = 1500 lembar, dibandingkan dengan kurang lebih 10.000 mahasiswa di UKSW???

    melalui forum ini, saya ingin mendapatkan klarifikasi dari TPPR, kalau bisa SMU sebagai konvokator juga. harap dibalas. saya tunggu.

    @Reima: hati2 menjaga netralitas anda dan teman2. jangan sampai anda dijadikan alat atau kendaraan politik dalam PilRek esok. ingat, posisi anda cukup rawan, dan bisa dengan mudah dikendalikan. btw, rumahmu masih di SUMOWONO??? hehehehehe

  5. ebeSS says:

    sekarang tahapannya pada mengasah pemahaman para calon . . .
    batu asah kalau lembek, maka hasilnya tidak akan tajam . . . .
    ayolah, berpendapatlah dengan kritis dan keras, tidak usah sungkan menilai calon rektor . .
    apalagi calon inkamben ataupun yang pernah jadi rektor . .
    kenapa tidak ada suara untuk menilai mereka? apakah budaya beda pendapat masih mengerikan di UKSW?
    lalu kenapa kita menjagokan seseorang? apa kelebihannya bila menjadi rektor, mari kita berdebat sehat!
    kenapa JT bisa menaikkan gaji pegawai 100%, kenapa Satya Wacana bisa ngawur mengelola Wisma Kardinah yang di kiri jalan keluar kampus itu? terbengkelai hingga sekarang, apa ini bukan kerugian? apakah ini bukan “keceh duwit”, main2 dengan berkat tuhan? apakah pernah mendengar anggaran ‘blockgrant’? bagaimana nasib pegawai di bawah anggaran blockgrant tahun 1995 sampai 2004 itu? masih banyak yang perlu kita pahami, padahal mestinya sangat sederhana, mahasiswa diberkati tuhan untuk kuliah di UKSW, pegawai akademik ataupun bukan seharusnya sejahtera dari berkat tuhan uang kuliah itu, dan pelayanan belajar mengajar di UKSW dapat berlangsung optimal!
    sangat sederhana, mudah dan indah berkat tuhan itu, celakanya tangan2 kotor rektor dan jajarannya sering ngawur memotong roti membagi berkat! mari kita pilih calon rektor yang takut akan tuhan, bukan sekedar spanduk di depan kampus 4 tahun lalu : “jadilah saluran berkat”

  6. Adi Joni says:

    woi TPPR!!! mana balasan komentar anda untuk saya??? ga bisa jawab??? yang bener aja donk!!!

  7. nico_gee (TPPR) says:

    mas Adi, maaf baru balas…

    Saya pikir kita jangan cuma mengkritisi kinerja TPPR tapi alangkah lebih baik kalo kita memberikan saran/masukan.

    Masalah jumlah quisioner yang disebarin TPPR, sepertinya mas ADI kurang informasi. TPPR menyebarin Quisoner sebanyak 1.700 rangkap. Setiap fakultas diambil sample sebanyak kurang lebih 15% dan Pegawai/ dosen sebanyak 10%. Gak mungkin seluruh mahasiswa di libatkan dalam pengisian Quisoner.

    Selain penyebaran Quisioner, TPPR juga mengadakan FGD untuk menampung aspirasi civitas UKSW.
    hal ini kami telah sebarin pengumuman di setiap papan pengumuman.

    Pmenyangkut poin-poin Quisoner, kok cuma sebagian yang berhubungan dengan profil rektor…

    kami menegaskan disini bahwa seluruh poin-poin yang ada dalam Quisoner merupakan suatu tuntutan civitas pada sesosok calon rektor. Tuntutan tersebut ada yang menyangkut pada kepribadian dan juga yang mengarah pada kebijakan-kebijakan yang harus di buat oleh seorang rektor untuk menjawab pemasalahan-permasalahan yang ada didalam atau di luar kampus.

    itu semua mengarah pada kemana UKSW akan dibawa ……

    Kalau teman-teman ingin lebih jelas lagi, bisa kita diskusi lebih jauh lagi mengenai TPPR di kantor SMU….

    mohon masukan-masukan buat TPPR…….

  8. parto says:

    pilih rektor yang berjiwa pelayanan. bukan yang pelit duit tetapi bukan yang ngeceh-ceh dhuwit. Pilih yang bijaksana untuk kebaikan bersama, bukan yang bikin UKSW bangkrut. bravo UKSW.

  9. rhema says:

    @Arfebi: mengklarifikasi saya bukan ibu atau cewe saya cowo tulen dan terima kasih atas tanggapannya. saya cuma tidak pernah takut pada manusia, saya cuma menghormati jadi disini beda antara takut dan hormat. dan mohon dukungan doa dan usaha dalam menjaga keadaan yg kondusif dikampus. saya juga menghimbau bila anda juga berpartisipasi dengan teman-teman anda mungkin untuk ikut menjaga netralitas kita sebagai mahasiswa, agar jangan ditunggangi oleh pihak-pihak yang memiliki niat kurang baik. mari dukung aspirasi mahasiswa. God Bless
    @Adi Joni: sabar mas, mereka juga punya pekerjaan lain jd tidak cuma melayani satu orang. jadi tunggu saja. ya saya juga mengakui kurang representatifnya angket tersebut, tapi dari teman-teman TPPR yang saya kroscek itu adalah salah satu media yang digunakan dalam menjaring aspirasi. oleh karena itu diadakan pula FGD dimasing-masing fakultas, kemudian hasil tersebut akan dibawa ke FGD ditingkat Universitas yang dimotori TPPR. jadi menurut saya itu tetap representatif, karena semua itu juga hasil dari wakil2 mahasiswa anda di fakultas. mohon dimengerti. God Bless
    @All civitas: mari berjaga2 terhadap semua kemungkinan yang akan terjadi. Tuhan Yesus Kristus, Gusti Pangeran menyertai pelayanan kita sedoyo.Amen

  10. Rizal Romano says:

    ayo2 bersabar dalam segala hal, kita lagi menhadapi ujian kehidupan sekarang. apa yang kita pilih nanti akan berpengaruh pada masa depan kita sebagai mahasiswa. keep pray n fighting.

  11. koran_dhewe says:

    TPPR bisa berikan jaminan tidak menjadi antek penguasa?? bisa dipercaya?? power tends to corrupt…jangan mau dikorup idealisme kalian…

  12. Adi Joni says:

    @ TPPR : terimakasih buat jawabanx. hal-hal yang saya pertanyakan di atas, kalau mau dimaknai lebih dalam lagi, ada masukan-masukan yang cukup implisit. tapi sebenarnya mudah untuk ditangkap. untuk diskusi, saya mau banget. masalahnya saya ada kerjaan di jogja coy…

  13. Adi Joni says:

    @TPPR: begini teman2, saya sebenarnya mendukung usaha teman2 untuk menjaring profil rektor ini. sangat bagus kalau saya bilang. tetapi cukup mengganjal buat saya, karena bukan seperti itu yang saya kira (bentuk kuesionernya). saran saja, alangkah lebih baik kalo kuesioner itu bersifat kualitatif. pertanyaan dan jawaban berupa uraian, yang kemudian datanya diubah menjadi kuantitatif. yang saya liat di kuesioner anda, jawabannya terlanjur keliatan jelas. maksudnya, tidak disebarin kuesioner aja, kalian dan saya sepertinya udah tau jawabannya. begitu… kritiknya, bobot pertanyaan teman2 di sini saya rasa kurang. untuk masalah ke mana UKSW akan dibawa, itu lebih baik dilakukan penjaringan tahap kedua nanti setelah rektor terpilih, dengan bentuk rekomendasi bagi rektor terpilih. saya rasa itu lebih tepat sasaran. ada pertimbangan lain??? saya mohon dibalas ya? biar kita diskusi di sini dulu. kalau saya pulang, nanti ketemu aja, biar lebih enak.

    @BPMU : menurut pemahaman saya, pekerjaan yang dilakukan oleh TPPR sepertinya berada di bawah area BPMU. tetapi kok yang jadi konvokator malah SMU ya? saya nggak terlalu paham LK, mungkin orang yang bodoh soal LK. tetapi, sepertinya ini pekerjaan legislator. mohon BPMU menjawab ini. terima kasih.

  14. Adi Joni says:

    @ TPPR : SEMANGAT!!! tapi pesen saya, hati2 terhadap hal2 yang bisa saja mengontrol kalian secara politis…

  15. rhema alias rhembolz says:

    @Adi Joni: terima kasih saya mewakili BPMU, sedikit menjelaskan perihal tentang TPPR seharusnya di BPMU. sebenarnya kenapa TPPR dibawah SMU karena itu adalah hasil kesepakatan kami selaku LK ditingkat Univ. dan saya rasa tidak ada salahnya kalau dibawah SMU atau BPMU karena kami sbg BPMU tidak serta merta melepas tanggung jawab kami sebagai wadah aspirasi mahasiswa. jadi kami tetap mengawasi, membantu semua kinerja dan dapat dilihat dari satgas TPPRpun ada fung BPMU yg diperbantukan. karena itu saya rasa semua yang kami kerjakan ini atas nama kebersamaan kami sebagai LK di tingkat Universitas. tapi thx banget kalau sodara memberikan masukan seperti ini, ini menjadi bahan yg bagus bagi perkembangan kami. Tuhan Yesus memberkati
    saya punya pertanyaan tentang statement sodara yg sperti ini'”alangkah lebih baik kalo kuesioner itu bersifat kualitatif. pertanyaan dan jawaban berupa uraian, yang kemudian datanya diubah menjadi kuantitatif”. bagaimana itu caranya? setau saya dan yg saya pelajari data kuatitatif yg dapat dijadikan kualitatif, bukan sperti itu. yah saya mohon dijelaskan, karena saya juga masih banyak belajar tentang Metodologi Penelitian. supaya nanti bisa saya sampaikan di sodara2 TPPR.thx a lot
    @TPPR: buat Ibu ketua Semangat Ya.

  16. re - TPPR says:

    *Pagi/ siang/ sore/ malam teman-teman…(*coret yang tidak perlu. Hehehe…) Saya Reima , koordinator TPPR. Maaf, saya baru bisa “muncul” sekarang karena memang minggu ini jadwal saya full sampai nggak sempet nge-net. Halahhhhhh…. ^_______^
    Okay… Masalah kuisioner, menambahkan apa yang telah disampaikan oleh Nico-TPPR & Bapak Ketua BPMU. Satu-persatu yah…
    ^^Mengapa kami memilih kuisioner sebagai salah satu alat untuk menjaring suara civitas? Karena kami menilai kuisioner adalah metode yang relatif mudah untuk mendapatkan data kuantitatif.
    ^^Mengapa kusionernya dalam bentuk pilihan ganda (dengan hanya 2 pilihan) dan bukan uraian? Karena kami ingin mendapatkan data mengenai banyak hal (bisa dilihat ada 37 poin dalam kuisioner). Namun kami juga melihat sample, mencoba menempatkan diri sebagai sample yang sudah pasti tidak semuanya sedang dalam kondisi “mood” untuk mengisi kuisioner. Mungkin ada yang baru broken heart, baru dapat teguran dari satpam karena masuk BARA pakai sandal atau belum mendapat “kiriman” dari orang tua. Kami hanya ingin siapapun dan dalam kondisi apapun, si sample masih mau dan mampu untuk mengisi kuisioner, sehingga data yang kami peroleh bisa valid. Coba saja bayangkan jika pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner kami berupa uraian, apa yang akan terjadi? Maaf saja, misalnya kuisioner dalam rangka penyusunan GBHPLKU, bagaimana respon mahasiswa? Jika teman-teman pengamat yang baik, pasti teman-teman tahu jawabannya.
    ^^Mengapa pertanyaan-pertanyaan kami sepertinya tidak relevan dengan “profil rektor” yang sedang kami rumuskan? Hmmm…Kami bisa saja membuat 37 pertanyaan dalam kuisioner tersebut menjadi pertanyaan-pertanyaan explicit yang langsung merepresentasikan tentang profil rektor. Tapi kami sadar, jika demikian kerja kami tidak ada bedanya dengan Pansus. Lalu untuk TPPR??? Kami memandang, seorang rektor tidak hanya dinilai dari profil & kepribadiannya saja namun juga kebijakan-kebijakan yang akan diambilnya dalam menyelesaikan masalah-masalah kampus. Percuma saja bila misalnya seorang rektor adalah seorang yang Guru Besar namun dia tidak mampu menyelesaikan masalah kampus dengan bijaksana sesuai dengan suara civitas. Maka kami pun mencoba menghadirkan masalah-masalah kampus tersebut lewat kuisioner.
    ^^Mengapa pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner kami banyak yang bersifat implicit? Sebenarnya semua poin pertanyaan dalam kuisioner tersebut adalah akar-akar dari permasalahan-permasalahan pokok yang belum terselesaikan di kampus kita yang kami dapat dari sharing fakultas oleh TPPR (Kamis, 27 November 2008), antara lain mengenai mutu & sistem akademik, kesejahteraan civitas, managerial UKSW dan lain-lain. Jelas di sini kami punya arah dan tujuan. Kami tidak asal buat.

    Kita, civitas UKSW, mungkin memang tahu permasalah-permasalah apa yang ada dalam kampus kita. Tapi sepertinya UKSW sebagai sebuah universitas kurang peka dalam menanggapi permasalah-permasalahan tersebut, kurang peka akan kebutuhannya sendiri. Atau mungkin “tidak mau” peka? Karena sampai sekarang permasalah-permasalah tersebut masih belum tuntas. Dengan mempertimbangkan hal tersebut jugalah kami membuat kuisioner yang di dalamnya terdapat banyak pertanyaan yang memang sudah terlihat jelas jawabanya agar kami mendapatkan data kuantitatif yang kami perlukan untuk memperlihatkan kepada UKSW, ini lho suara civitas… ini lho yang dinginkan civitas. Jadi kami punya bukti, tidak “omong thok”.

    Menurut informasi yang kami peroleh, jumlah civitas UKSW kurang lebih ada 17.000 jiwa. Setahu kami, jumlah minimum sample adalah 10% dari total subjek yang diteliti. Jadi kami pun menyebarkan 1.700 eksemplar kuisioner. Dan yang kembali adalah 1.016 eksemplar dengan perincian: 882 mahasiswa, 51 dosen, 25 pegawai dan 58 tidak memberi keterangan status mereka di UKSW. Hasil perhitungan keseluruah kuisioner (civitas) sudah ada. Jika ingin mengetahuinya silahkan teman-teman datang ke LKF teman-teman atau pun SMU.

    Kami sadar setiap metode yang digunakan untuk mencari data dalam sebuah penelitian pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga dengan kuisioner yang kami buat. Maka dari itu kami berusaha untuk menyempurnakannya dengan Focus Group Discussion (FGD) yang telah kami adakan di setiap fakultas dengan mengundang mahasiswa (LK maupun non-LK) dan juga di tingkat universitas dengan mengundang para dosen (15 fakultas) & pegawai non dosen (9 unit). Materi FGD sendiri adalah hasil kuisioner dan beberapa permasalahan yang tidak bisa diangkat dalam kuisioner. Melalui FGD ini kami mendapatkan data yang lebih kualitatif. Kami juga mendapatkan fakta bahwa beberapa permasalan yang terjadi di kampus bukan hanya sekedar isu tapi memang benar-benar terjadi. Ada juga banyak masukan tentang profil rektor yang dibutuhkan oleh UKSW .

    Perumusan profil rektor berdasarkan sharing fakultas oleh TPPR, kuisioner dan juga FGD akan kami adakan pada Jumat – Sabtu, 20 – 21 Februari 2009.

    Kami berharap teman-teman terus memantau kami. Jika ada saran maupun kritik (yang membangun) silahkan sampaikan saja, lewat SA, LKU, LKF maupun kami yang duduk TPPR.

    Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita.

  17. nico_gee_TPPR says:

    bwt mas adi n tm2 lainnya; yang diungkapkan ketua BPMU kita tentang TPPR berada dibawah SMU benar. pada saat rapat kerja LKU menghasilkan kesepakatan tentang Pencarian Profil Rektor akan dikoordinir oleh SMU dan bekerja sama dengan BPMU.

    rema; semangatin dong tm2 BPMU yang masuk diTPPR……..kok makin lama makin abiz n seperti kunang-kunang malam (kadang keliatan kadang menghilang)

    bwt seluruh civitas; PADA TANGGAL 25 FEBRUARI 2009 PUKUL 09-13, TPPR AKAN MENGADAKAN SARASEHAN BERSAMA 6 ORANG BAKAL CALON REKTOR KITA.

    jangan lupa datang ya…….. ingatin teman dan ajak sebanyak-banyaknya………

    sarasehan ini bukan cuma bwt mahasiswa but, semua sivitas (mhs, dosen n pegawai) diharapkan hadir dan ambil bagian…..

  18. Kenakalan Remaja di Era Informatika says:

    @nico_gee: ati2 buat anda2 yang menyelenggarakan acara tersebut. potensi mengenai suara2 sumbang dan hal2 yang lebih ekstrim dan militan, bisa saja terjadi.

  19. edy simamora says:

    UKSW masih dalam BAYANG-BAYANG!

  20. Pemerhati says:

    Rekans mahasiswa dan TPPR khususnya:

    Pertama, harus dihargai upaya LK untuk berpartisipasi dalam proses pemilihan rektor, termasuk langkah-langkah TPPR. Namun, memang masih banyak hal bisa dipersoalkan, terutama pertanggungjawaban moral, konseptual dan metodologis atas langkah2 itu. Karena itu, tanggapan2 yang diberikan adalah baik adanya. Ini juga menunjukkan bahwa dari perencanaan tindakan TPPR mestinya TPPR dan BPMU serta SMU sudah lebih terbuka dan bukannya elitis. Kalian adalah representasi dari 12ribu atau lebih mahasiswa UKSW, karena itu bukan hak prerogatif, jabatan itu juga sebuah privilege, tetapi amanat yang menuntut respon balik pemegangnya untuk bertindak mewakili mereka yang diwakilinya. Dari tanggapan-tanggapan yang diberikan, saya terpaksa menilai bahwa BPMU, SMU, dan khususnya TPPR hanya merumuskan sesuatu menurut maunya atau segelintir pihak, sebaik apapun itu dan kurang peka sejak awal bagaimana merepresentasikan keragaman pandangan di kalangan mahasiswa.

    Beberapa catatan metodologis:

    Pernyataan: “Kami hanya ingin siapapun dan dalam kondisi apapun, si sample masih mau dan mampu untuk mengisi kuisione…” bersifat kontradiktif. Bagaimana mungkin orang yang tidak mood kondisinya mau atau mampu mengisi dengan sadar dan benar? Jangan-jangan cuma asal centang. Ini sudah mengindikasikan sampah bisa datang. Dalam sistem pengolahan data/informasi, sampah yang masuk, sampah pula yang keluar. Karena itu, pandangan siapapun dan dalam kondisi apapun, secara metodologis sudah suatu kesalahan besar. Survei harus dilakukan pada mereka yang sadar bahwa dia mau dan mampu berpartisipasi dengan benar dan sungguh-sungguh. Lalu bagaimana TPPR mau menjamin hasil pengumpulan pendapat melalui angket ini sebagai sesuatu yang bisa dipercaya? Kalau yang ada adalah sampah, maka ibarat kata Alkitab, yang tidak kering, tidak berbuah, ya dibuang dan dibakar. Ini menunjukkan sebuah pekerjaan besar yang bisa sia-sia. Ini menunjukkan ketidakhati-hatian dalam berpikir, merancang, dan mengeksekusi survei ini. Ada banyak dosen metodologi (khususnya yang ahli tentang metode survei) yang bisa diminta kontribusi kepakarannya untuk merancang, namun tidak terlihat apakah ini dimanfaatkan atau tidak. Bukan maksud supaya mereka mendikte, tetapi memberi pertimbangan2 kepakaran metodologisnya.

    “seorang rektor tidak hanya dinilai dari profil & kepribadiannya saja namun juga kebijakan-kebijakan yang akan diambilnya dalam menyelesaikan masalah-masalah kampus.”

    Ada kontradiksi juga dalam pernyataan2 seputar statement yang saya kutip di atas. Lha kalau diyakini bahwa sudah ada masalah-masalah tertentu di kampus, survei ini berfungsi apa terkait masalah-masalah itu? Mau polling dan berpolemik, misalnya? Ambil contoh item pertanyaan tentang semester dan trimester (maaf, saya cuma mendengar, apa benar ada?), mau dikemanakan? Weleh, kok Satya Wacana cuma suka polling-polling-an? Ide siapa ini? Mas dan Mbak, sebuah perubahan tidak pernah dimulai dari banyaknya orang, tetapi dari keyakinan dan konsep. Jadi, mengujinya bukan menguji jumlah suara, tetapi mengadu kekuatan konsep dan keyakinan dan itu tidak bisa didapat dari survei. Survei seringkali cuma menyesatkan!!!

    Lagipula, kan BPMU sudah melakukan penjaringan aspirasi dalam rangka menyusun GBHP dan itu artinya kecenderungan masalah-masalah kemahasiswaan dan kampus, bahkan pendidikan tinggi sudah seharusnya ada dalam dokumen atau paling tidak pikiran anggota-anggota BPMU. Jika mau menguji pandangan para bakal calon menyikapi masalah-masalah itu, ya forum dialog atau debat bersama para calon adalah wadahnya, bukan sebuah survei. Ini memberi ruang tanda tanya terhadap pola pikir yang dipakai TPPR. Karena itu wajar, rekan2 mahasiswa lain menyoal itu.

    Mas dan Mbak TPPR, orang bisa dengan mudah bertanya, dasar apa yang kalian pakai merumuskan kuesioner. Kuesioner bukan sesuatu yang lahir sebagai “karena saya mau, maka saya cantumkan”, betul kan. Legitimasi rasional perlu diberikan. Dasar pemilihan setiap item dalam kuesioner perlu ada, mengapa ini dan bukan itu. Jawaban yang diberikan cenderung menunjukkan arogansi kekuasaan TPPR, kami bisa tapi apa gunanya TPPR?

    Pernyataanmu menarik, Rheima: “Jadi kami punya bukti, tidak “omong thok”.” Piye pertimbangan metodologismu? Apakah yang omong thok itu bukan bukti? Weleh, weleh. Anda kebablasan dengan cara pikir positivistikmu itu. Seorang ibu mengeluh bahwa anaknya di SD X diperlakukan kurang sopan oleh gurunya, ini sebuah contoh. Apakah itu bukan bukti? Numbers, numbers, numbers… betapa kita mendewakan angka dan angka dan angka, bukan fakta itu sendiri. Lho kalau mahasiswa sudah omong-omong, dan anda juga sudah menyatakan, misalnya

    “Tapi sepertinya UKSW sebagai sebuah universitas kurang peka dalam menanggapi permasalah-permasalahan tersebut, kurang peka akan kebutuhannya sendiri. ”

    Apakah ini bukan bukti? Bagi saya ini bukti kepemimpinan yang tidak pedulian. Lha mau cari bukti apa lagi?

    “Menurut informasi yang kami peroleh, jumlah civitas UKSW kurang lebih ada 17.000 jiwa… jumlah minimum sample adalah 10% dari total subjek yang diteliti. Jadi kami pun menyebarkan 1.700 eksemplar kuisioner. Dan yang kembali adalah 1.016 eksemplar…”

    Akhirnya kan tidak ada 10% ya, jauh sekali berkurangnya. Itu artinya cara pikirmu keliru, kalau mau mendapat sampel 10% ya jangan cuma sebar sebanyak 1.700. Pertimbangkan dong yang cacat dan tidak kembali.

    Mungkin masih banyak kekurangan lain yang tidak terlihat dengan baik. Namun, mumpung masih mahasiswa ya gak apa-apa dengan kekurangan-kekurangan. Wong yang sudah ahli saja selalu saja ada kekurangannya kan? Namun, yang penting adalah sikap mau terbuka terhadap kritik, sikap untuk memertanggungjawabkan secara baik apa yang dirancang dan dilakukan. Dan, yang utama, ya jangan sampai Anda-anda merefleksikan kepentingan orang lain dan bukannya kepentingan mahasiswa, walaupun saya mungkin merasa perlu berhati-hati bicara kepentingan atau lebih tepatnya kebutuhan, karena kita ada dalam konteks masyarakat yang kemauan/keinginannya kadang bukan sesuatu yang sebetulnya dibutuhkannya.

  21. Theofransus Litaay says:

    Keprihatinan mas Neil di atas sebenarnya sudah cukup panjang lebar saya diskusikan dengan Koordinator TPPR. Pada waktu saya bertanya melalui Yoga (wartawan Scientiarum) mengenai metodologi survey TPPR itu, kemudian Yoga meneruskan pesan tersebut kepada Koordinator TPPR.

    Saya termasuk salah satu dari civitas akademika yang bercuriga bahwa langkah LK membentuk TPPR ini merupakan bagian dari skenario persaingan calon rektor. Jadi membuat angket supaya nampak netral padahal isi angketnya memang itu sudah dirancang supaya jadi sesuai keinginan pembuatnya. Ini jujur saja saya sampaikan dan sudah saya sampaikan juga kepada Koordinator TPPR dalam komunikasi kami.

    Dalam komunikasi tersebut Koordinator TPPR mengatakan bahwa LK netral. Terus terang saja saya menjadi ragu apakah Koordinator TPPR yang naif atau menganggap saya yang naif saat berkata seperti itu. Seharusnya dia mengemukakan saja apa yang ada dalam benak TPPR.

    Semula saya tidak terlalu peduli soal kerja TPPR ini, karena saya anggap sebagai peran LK, terlepas dari netral atau tidak netral. Kalaupun memang bagian dari politik di kampus ini, saya pikir “Go to hell, orang benar akan menuai hasil, orang tidak benar akan menerima ganjaran.”

    Yang membuat saya cukup tersengat dan jadi ingin tahu lebih dalam adalah ketika Koordinator TPPR (mungkin secara guyon) menyampaikan kepada Yoga bahwa salah satu metode analisis hasil survey merupakan “rahasia” tim. Lalu saya ingatkan bahwa kredibilitas survey-survey yang seperti ini terletak pada transparansi metode dan perencanaannya. Kemudian beliau mengklarifikasi bahwa waktu dia hanya “malas mengetik” saja lalu disebut “rahasia” itu.

    Ini semua membuat saya sebenarnya bertanya-tanya mengenai kesungguhan proses survey ini. Apalagi proses FGD dll itu tidak terlalu jelas. Sangat disayangkan kalau kemudian kredibilitas survey-nya TPPR ini dipandang sebagai survey-surveyan saja.

    Memang seperti yang dipersoalkan mas Neil, beberapa pertanyaan di dalamnya sangat “aneh” dan justru menimbulkan pengertian bahwa sebenarnya fungsionaris LK tidak mengerti tentang pentingnya membangun diskursus tentang konsep pendidikan. Yang dibayangkan adalah cukup membuat survey, maka “sudah mendapatkan bukti.”
    Mutu sistem pendidikan hendak dijawab melalui survey dan dukungan massa. Sangat menyedihkan.

    Pendekatan yang dipikirkan TPPR ini sebenarnya merupakan salah satu contoh dari pendekatan yang membuat pendidikan Indonesia hingga kini terpuruk di – bahkan – asia tenggara (nggak usah ngomong asia dulu).

    Yang saya bayangkan, seharusnya TPPR membuat angket tentang peningkatan mutu pendidikan di UKSW dan itulah yang kemudian diserahkan kepada siapapun rektor terpilih.

    Sebagai satu contoh, mengapa LK tidak berbicara tentang peningkatan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat dibutuhkan agar para lulusan UKSW mampu menang dalam persaingan kerja.

    Atau tentang peningkatan kemampuan bahasa Inggris bagi dosen agar publikasi dosen bisa dimuat di jurnal internasional, sehingga dosen yang mengajar mahasiswa adalah dosen bermutu dan bukan dosen yang sekedar asal “mangap” di depan kelas.

    Kebetulan saya baru kembali dari penelitian di provinsi Papua. Dalam salah satu wawancara, seorang penduduk kampung di wilayah pelosok Papua bertanya kepada saya “Anak, bapa ini heran, mengapa banyak orang sekolah di universitas sampai dapat gelar master tapi tidak mampu mengerti tulisan dalam bahasa Inggris? Sedangkan bapa dulu sekolah dasar jaman Belanda bisa bahasa Belanda.”

    Mendengar pertanyaan itu, di dalam hati saya bergumam “Itu tidak saja terjadi di Papua, di kampus saya juga terjadi, padahal lebih dekat dengan pusat kemajuan dan merasa diri lebih maju daripada orang di Papua.”

    Ada hal-hal yang lebih penting yang harus dipikir oleh para pemimpin mahasiswa, daripada sekedar pertanyaan “Apakah Rektor harus berjiwa muda?”
    Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana anda akan menilai hasilnya? Apakah ini pertanyaan-pertanyaan yang asal-asalan yang penting angketnya ada?

    Apakah pertanyaan kunci sebenarnya LK Universitas ingin bertanya apakah mahasiswa memilih semester atau trimester?

    Lalu kalau mayoritas memilih semester maka John Titaley harus ditolak? Apakah ini skenario dibalik angket tersebut? Kalau benar, maka anda terjebak politik murahan.

    Coba Ketua SMU dan Ketua BPMU berikan jawaban, karena anda berdua sekarang menjadi anggota Senat UKSW dan menjadi bagian dari Pansus Pemilihan Rektor, apakah ini bagian dari politik pemilihan rektor? Melalui angket TPPR anda melibatkan dosen dan pegawai dalam urusan LK.
    Dengan manuver seperti itu saja netralitas anda di Pansus bisa diragukan.

    Apakah memang demikian maksud angket ini? Untuk mematikan seorang pemimpin di UKSW?

    Saya berharap anda tidak menenggelamkan seorang pemimpin dengan bikin angket asal-asalan, karena itu hanya akan menenggelamkan martabat anda sendiri. Mungkin ada yang merasa menang, tapi apakah kemenangan itu layak dibanggakan?

    Yang mengherankan saya, mengapa LK c.q. TPPR memaksakan diri untuk melibatkan Dosen dan Pegawai dalam mengisi angketnya? padahal jelas-jelas bukan merupakan konstituen LK. Aneh.

    Mengapa TPPR tidak membuat pertanyaan tentang mutu buku-buku yang diadakan oleh fakultas? Agar buku yang dibaca mahasiswa memang buku yang bermutu?

    Mengapa Para penyusun angket itu tidak merasa terganggu pada waktu nama UKSW hilang dalam urutan-urutan website terbaik perguruan tinggi di Indonesia? Padahal dengan semakin majunya teknologi informasi website menjadi jendela bagi dunia untuk merangkul UKSW sehingga UKSW bisa mendapat banyak peluang bagi pengembangan mutu pendidikan.

    Mengapa LK tidak mempermasalahkan ketika iklan UKSW mengklaim diri sebagai universitas terbaik di Jawa Tengah. My gosh, hanya di Jawa Tengah? Mengapa kita tidak menjadikan diri kita yang terbaik di Indonesia? Perpustakaan kita pernah menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. UKSW pernah menjadi Pusat Pengembangan Pendidikan Tinggi Nasional.

    Ini semua pertanyaan-pertanyaan yang memiliki landasan iman yang jelas: You have to do your best because Jesus Christ is the best!
    Itu yang diajarkan para senior kami di GMKI pada waktu dulu.

    Kalau Ketua BPMU senang membawa-bawa nama Tuhan Yesus, prove it man! Do the best. Lakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik.

    Tanamkan mental pemenang, jangan melakukan sedikit lalu berkata kami sudah melakukan yang terbaik.

    Berikan kesaksian kepada dunia bahwa lembaga pendidikan Kristen memiliki mutu yang tinggi dan bukan hanya sibuk mematikan dirinya sendiri.

    Kepemimpinan Kristen harus nampak dalam perjuangan yang militan untuk menjadikan diri anda dan lembaga anda sebagai yang terbaik. Kalau Yesus saja berani melakukan revolusi dan merubah dunia ini dengan kabar baik, apalagi anda yang hidup dalam kondisi yang jauh lebih menyenangkan daripada yang dialami Yesus dahulu.

    Jangan jadi orang yang menyembunyikan kepala pada waktu menghadapi penguasa dunia. Lari terbirit-birit pada waktu digertak penguasa.

    Jangan mendukung pemimpin yang gentar menghadapi penguasa dunia. Jangan mendukung pemimpin yang hendak merubah visi dan misi UKSW.

    Dalam Memorandum Akhir Jabatan Ketua BPMU 1992-1993, saya menulis bahwa “Penghargaan terhadap mahasiswa sebagai orang dewasa tidak turun dari langit tapi harus diperjuangkan melalui karya-karya benar dan nyata.”

    Tunjukan bahwa kalian memang memiliki kualitas itu.

  22. Kenakalan Remaja di Era Informatika says:

    @TPPR: saya sepakat ma Pemerhati yang pake2 fotonya Bung Neil… hehehehe… memang banyak masalah metodologis yang perlu diperhatikan… bukannya saya sok pinter, tapi cuma saya nggak bisa mengungkapkannya seperti mas Pemerhati yang mirip Bung Neil… hehehehe…
    memang saya rasa, TPPR cukup gegabah… dalam artian, terlalu buru2 dan mengandalkan kemampuan sendiri… di kampus kita, mungkin terlalu banyak dosen yang ahli di bidang survei… berdayakanlah mereka… sehingga angket yang anda hasilkan tidak menjadi sampah yang mas Pemerhati sampaikan…
    @nico_gee_TPPR: sadarkah anda? anda pun sedang mengkritisi orang yang mengkritisi anda, dan saya juga mengkritisi anda yang mengkritisi orang yang mengkritisi anda… jadi terbukalah dengan kritik…

  23. re - TPPR says:

    @Pemerhati:
    Halo om neil… Saya reima – koordiantor TPPR. Mengenai metodologis, kami sadar sepenuhnya bahwa sebuah kelalain ketika kami tidak melibatkan dosen-dosen UKSW yang pakar dalam bidang survai dan penelitian untuk membantu kami. Tapi sungguh sangat sakit, ketika om neil menganalogikan kuisioner kami layaknya sampah yang tidak berguna. Input = sampah, output = sampah. Pemikiran yang sempit. Om neil mungkin lupa dengan proses. Dan kami, TPPR belum selesai. Kuisioner itu bukan hasil final. Memang ada kekurangan di sana-sini dalam kuisioner. Tapi kami tidak fokus dengan kekurang tersebut. Kami juga tidak menutupi kekurangan tersebut namun kami berusaha untuk memperbaikinya dengan FGD misalnya. Kuisioner kami tidak sia-sia om, ada poin-poin positif yang kami bisa ambil dari kuisioner itu untuk bahan perumusan profil rektor. Dan juga ada banyak pembelajaran yang tidak ternilai bagi kami fungsionaris LK yang duduk di TPPR. Kuisioner tersebut hanya salah satu dari kegiatan TPPR om, masih ada diskusi perumusan profil rektor dan sarasehan. Mungkin om neil bisa memberi sumbang saran atau ide kepada TPPR mengenai kegiatan-kegiatan apa yang seharusnya kami lakukan untuk mendukung kami dalam merumuskan profil rektor yang dibutuhkan UKSW??? Supaya kami tidak terjerat dengan angka, angka, angka… Silahkan om neil main ke LK (kalau om neil sudah pulang dari Australia tentunya) dan mari berdiskusi dengan TPPR & LK. Terima kasih sebelumnya… Terus pantau TPPR. Jangan lupa oleh-olehnya yah.. ^_______^

    @Theofransus Litaay:
    Keprihatinan mas Neil di atas sebenarnya sudah cukup panjang lebar saya diskusikan dengan Koordinator TPPR… Om teo, menurut saya kita belum mendiskusikan masalah TPPR secara mendalam. Mungkin sebaiknya om teo meluangkan waktu main ke LK, saya akan mengumpulkan teman-teman TPPR dan mari kita berdiskusi.

    …padahal isi angketnya memang itu sudah dirancang supaya jadi sesuai keinginan pembuatnya… Om teo, saya tegaskan sekali lagi, isi kuisioner itu berdasarkan sharing fakultas yang diadakan di setiap fakultas yang bertujuan untuk menyaring masalah-masalah yang ada di fakultas. Ketika masalah-masalah tersebut ternyata terjadi di semua fakultas maka itu menjadi masalah umum kampus. Dan itulah yang kami angkat menjadi poin-poin kuisioner. Hasil sharingnya masih ada kalau om teo mau lihat. Silahkan check kebenarannya di setiap fakultas. Kami tidak asal buat.

    Terus terang saja saya menjadi ragu apakah Koordinator TPPR yang naif atau menganggap saya yang naif saat berkata seperti itu… Om teo, naif-kah saya ketika saya benar-benar berkata jujur? Kami tidak memihak kepada siapa pun. TPPR netral.

    “Go to hell, orang benar akan menuai hasil, orang tidak benar akan menerima ganjaran.” Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut. Pada akhirnya nanti akan terlihat apakah TPPR ini benar atau tidak. Kita buktikan saja.

    Tentang rahasia tim = malas mengetik… Saya ingat benar waktu itu saya bersama teman-teman TPPR baru saja selesai mengolah setengah dari kuisioner yang kembali selama kurang lebih 6 jam di kantor SMU. Waktu itu saya yang bertugas mengetik hasilnya. Jujur saja, saya memang sudah malas mengetik dan menanggapi pertanyaan om teo karena memang kondisi saya waktu itu sudah capek. Tapi ini merupakan satu pelajaran penting bagi saya. Bahwa “1 kalimat guyonan” saja akan dibenar-benar berpengaruh dan bisa berakibat fatal.

    Mutu sistem pendidikan hendak dijawab melalui survey dan dukungan massa. Sangat menyedihkan… Om teo, kerja TPPR belum selesai. Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum selesai.

    Lalu kalau mayoritas memilih semester maka John Titaley harus ditolak? Apakah ini skenario dibalik angket tersebut? Kalau benar, maka anda terjebak politik murahan…. Saya tersenyum ketika membaca kalimat om teo di atas. Kita semua seharusnya belum tahu apakah om John akan menggalakkan trimester kembali jika beliau terpilih karena belum ada sosialisasi tentang visi misi balon rektor. Kami mengangkat masalah trimester & semester murni karena memang hampir semua fakultas mempertanyakannya.

    Apakah memang demikian maksud angket ini? Untuk mematikan seorang pemimpin di UKSW?… Lagi-lagi saya tersenyum membaca kalimat om teo. Respon dari kuisioner TPPR ternyata bisa menimbulkan pemikiran yang luar bisa jauh dari kenyataan tujuan kuisioner itu dibuat. Satu pelajaran berarti lagi bagi saya, hal yang sebenarnya simple bisa menjadi complicated ketika tidak terdapat komunikasi yang baik. Ini juga warning bagi TPPR, kami harus benar-benar berhati-hati dan sungguh-sunggung mematangkan semua kegiatan TPPR.

    Saya berharap anda tidak menenggelamkan seorang pemimpin dengan bikin angket asal-asalan, karena itu hanya akan menenggelamkan martabat anda sendiri. Mungkin ada yang merasa menang, tapi apakah kemenangan itu layak dibanggakan?… Om teo, seorang leader sejati yang hidup benar di hadapan Tuhan tidak akan pernah tenggelam hanya dengan kuisioner yang om teo nilai asal-asalan tersebut.

    Yang mengherankan saya, mengapa LK c.q. TPPR memaksakan diri untuk melibatkan Dosen dan Pegawai dalam mengisi angketnya? padahal jelas-jelas bukan merupakan konstituen LK. Aneh. Bagi TPPR itu bukan suatu keanehan karena di dalam suatu universitas setiap item yang ada di dalam-nya saling terkait. Misalnya saja: Seorang mahasiswa sering bolos kuliah. Kenapa? Karena dosennya suka marah-marah di kelas. Kenapa? Karena setiap hari dosen tersebut ternyata dimarahi istrinya. Kenapa? Karena penghasilan dosen kurang sehingga istri tidak bisa membeli sepatu Prada terbaru (hehehehe…). Lah, berati di sini ada sebuah malasah inti, yaitu minimnya kesejahteraan dosen. Itu misalnya loh om… ^====^

    Mengenai bobot kuisioner, kami menyadari memang kurang. Mungkin mengenai buku-buku, level berbahasa inggris, nama UKSW yang hilang dll itu bisa kami tambahkan untuk materi diskusi tambahan maupun sarasehan nanti.

    Terima kasih yah om teo… kami terus menantikan saran dan kritik beserta solusinya dari om teo.

    Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita. ^_____________^

  24. rhema alias rhembolz says:

    @ Ka Theo: Terima kasih atas segala masukannya, semua yang kakak sampaikan akan saya jadikan koreksi dan cambuk bagi saya sebagai pemimpin. dalam memimpin saya memiliki cara sendiri, sesuai apa yang pernah ditanam dalam gerakan mahasiswa yang saya ikuti dari dulu sampai sekarang. tapi saya tetap bersyukur kakak2 senior LK tetap memberi saran yang membangun. nanti apa yang disampaikan kakak di forum ini akan saya usung dalam periodesasi saya selama menjabat. terima kasih Tuhan Yesus mengasihi kita semua.

  25. nico_gee says:

    Trimakasih buat pak pemerhati dan kak Teo atas pencerahan, kritik dan sarannya.

    Dalam hati senyum ketika ada penilaian bahwa TPPR ada keberpihakan kepada salah satu/salah dua dan menekan salah satu/salah dua calon rektor kita. saya pikir Ini penilaian/persepsi yang keliru, itu hanya kekuatiran tm-tm terhadap TPPR.
    Ok.. kalau dalam kuisioner tersebut dinilai ada calon yang dirugikan dan ada yang diuntungkan makanya TPPR mengadakan FGD untuk menggali lebih jauh lagi pandangan, pendapat teman-teman civitas UKSW.
    Kami juga menghrapakan melalui diskusi ini TPPR juga bisa mendapatkan masukan dari tm-tm civitas UKSW baik dalam bentuk kritik,saran ataupun buah pikiran

    Kak Teo, saat FGD kemarin (6/02/09) sebenarnya TPPR mau ngundang k’TEO. but, k’Teo lagi keluar kota.
    trimakasih pencerahannya……

    Rhema ; “memang saya rasa, TPPR cukup gegabah… dalam artian, terlalu buru2 dan mengandalkan kemampuan sendiri…”
    Kamu dimana, ketika hal itu kamu nilai dan lihat???????
    Kamu sadar gak, kalau yang dilakukan TPPR tersebut merupakan tugasmu???

    BPMU dimana????????

    SAYA BUKAN ANTI KRITIK but, saya lebih suka kritik yang membangun bukan menjatuhkan

  26. nico_gee says:

    HOHON MAAF…………

    Maaf buat teman-teman civitas UKSW, ada perubahan pelaksanaan SARASEHAN BERSAMA 6 ORANG BAKAL CALON REKTOR KITA.

    Pada Awalnya direncanakan PADA TANGGAL 25 FEBRUARI 2009 PUKUL 09-13. Namun, ada perubahan dengan berbagai pertimbangan.

    Perkembangan selanjutnya kami akan kabari

    MOHON DUKUNGAN, KRITK DAN SARANNYA BUAT TPPR………..

  27. sailormoon says:

    @Kenakalan Remaja di Era Informatika
    saya kecewa dengan pernyataan Anda. Berarti benar ketika dulu saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa semua yang ada dalam “sistem” adalah unpredictable.

  28. Neil says:

    Halo Rekans..

    @Rheima, sorry kalau menyakitkan ya. Namun, semoga kritik saya dapat dimengerti karena kalian melakukan sebuah pekerjaan yang memakan energi, sehingga mestinya tidak membiarkan diri melakukan hal yang barangkali tidak/kurang perlu. Soal sampah, itu istilah lazim dalam sistem pengolahan data/informasi. Jika tadi saya katakan ada yang tidak/kurang perlu, maka ia merupakan bagian dari sampah, maksudnya manfaatnya bagi pengambilan keputusan tidak ada atau rendah. Tapi, ini penilaian saya, jika kalian merasa semua bermanfaat, saya mau bilang apa?

    Cuma sekedar mengingatkan, termasuk soal netralitas tidaknya LK lalu dalam konteks kampus dan politik pengelolaannya, dulu LK pernah juga melakukan sebuah survei. Survei tsb lalu digunakan oleh pihak tertentu untuk menjadi salah satu input pengambilan keputusan, saat itu ketika UKSW memutuskan kembali ke semester. Survei tersebut hampir menyangkut ‘segala hal’ di UKSW, misalkan soal sarana prasarana yang tidak bisa dikorelasikan begitu saja dengan jelek tidaknya semester. Namun, survei itu telah dipakai untuk menyimpulkan bahwa ada banyak masalah di UKSW pada masa trimester. Yang begini ini yang tidak gentle, memolitisasi sesuatu yang barangkali oleh pembuatnya disebut maunya netral. Padahal, di rezim gado-gado sekarang, keluhan soal fasilitas pun tetap saja gencar. Artinya, itu kan bukan soal semester atau trimester, tetapi soal strategi investasi UKSW, sebagai bagian dari perwujudan visi dan misinya.

    Mumpung Sarasehannya ditunda, saya bertanya kesiapakan LK dan khususnya TPPR menggunakan hasil survei untuk elaborasi lebih jauh pandangan dan rencana para balon rektor dalam sarasehan itu. Juga inputs yang lain, apakah ada tim yang secara khusus telah menyiapkan berbagai issues yang harus disoal jawab dengan para balon? Jangan-jangan semua tahap lalu bersifat terisolasi dari yang lain. Kalau demikian ya sayang dan itu artinya tidak memenuhi rancangan TPPR sendiri.

    Lalu, hasil survei sendiri bagaimana? Warga kampus dan khususnya mahasiswa rasanya perlu tahu. Terlepas dari polemik kita di sini, jangan sampai hasil survei cuma kembali menjadi milik kelompok terbatas lagi, sebagaimana perancangan survei. Cuma, komunikasi hasil survei saya sarankan untuk hati-hati dalam konteks politik kampus yang kadang cuma suka mencari legitimasi popularitas, daripada kekuatan konseptual. Jadikan UKSW sebuah komunitas intelektual yang berwibawa, itu juga tanggung jawab mahasiswa yang mau menyebut dirinya creative minority.

  29. kuro^^ says:

    TUHAN selalu memberi yang terbaik buat kita anak-anakNYA yang melayani dengan sungguh-sungguh…
    keep in smile all 😀 😀 😀 😀 😀 😀 😀

  30. prihatin says:

    Saat ini proses seleksi calon rektor oleh Pansus sudah melanggar peraturan Pembina Yayasan Satya Wacana. Kira-kira LK peduli nggak? Apa sibuk ngerecoki yang nggak penting?

Komentar ditutup.