Jaring Aspirasi Pemilihan Rektor UKSW

Oleh Yoga Prasetya | 19 January 2009 | Kampus

Tidak terasa masa jabatan rektor UKSW periode 2005/2009 akan segera berakhir. Pada 2009 kali ini, UKSW akan melangsungkan pemilihan rektor berikutnya. Meskipun demikian, dari hasil survey masih banyak civitas UKSW yang tidak mengetahui akan adanya pemilihan rektor tersebut.

Rektor UKSW merupakan pimpinan tertinggi, yang akan berpengaruh besar terhadap UKSW. Oleh sebab itu dalam pemilihan rektor berikutnya diperlukan pertimbangan yang matang. Dan diharapkan rektor yang nanti terpilih dapat sesuai dengan aspirasi civitas mahasiswa, agar dapat menjawab setiap permasalahan, serta membawa UKSW menjadi lebih baik.

Berdasarkan hal tersebut, bidang IV Senat Mahsiswa Universitas (SMU) UKSW melalui departemen informasi dan komunikasi dalam propaganda, membentuk sebuah Tim Pencari Profil Rektor (TPPR) UKSW periode 2009/2013.

TPPR tersebut terdiri dari 15 utusan dari lembaga kemahasiswaan fakultas/PP , 3 utusan dari SMU serta 4 utusan dari Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU).

Tugas TPPR adalah menjaring aspirasi civitas UKSW mengenai profil rektor mendatang. Hasil penjaringan aspirasi tersebut rencananya akan diserahkan kepada pansus sebagai bahan masukan dalam penjaringan profil bakal calon rektor periode mendatang serta ketua SMU dan ketua BPMU selaku senator tingkat universitas agar dapat disampaikan dalam rapat Senator Universitas.

Dalam proses pencarian profil rektor tersebut, semua civitas mempunyai hak untuk bersuara melalui beberapa kegiatan yang akan dilakukan TPPR di antaranya:
Penjaringan aspirasi lewat kuisioner pada 19-22 Januari 2009, Focus Group Discussion (FGD) pada 27-30 Januari 2009, dan sarasehan I dan II pada 6 Maret 2009 dan 8 Mei 2009.

Sarasehan I dan II akan menghadirkan para bakal calon rektor. Pada sarasehan tersebut, bakal calon akan menyampaikan visi/misi, pada sesi tanya jawab, bakal calon akan diberikan sebuah masalah yang ada di UKSW yang belum selesai, dan setiap bakal calon diminta untuk memecahkannya. Sarasehan akan mengundang semua civitas UKSW.

Menurut keterangan koordinator TPPR, Reima Afluria Widhiyanti, tujuan diadakannya TPPR adalah untuk mencoba menciptakan budaya politis yang transparan di UKSW.

Reima juga menambahkan, TPPR sendiri sebenarnya tidak memiliki wewenang apapun dalam pemilihan rektor mendatang, dan disini TPPR hanya bersifat sebagai wadah penyalur aspirasi civitas dan TPPR sendiri bersifat netral.

”Disini TPPR berjalan sendiri tanpa terikat dengan pansus” tandasnya.

Alir pemilihan rektor
Disisi lain, Kornelius Upa’ Rodo selaku anggota pansus dan ketua SMU menuturkan bahwa 19 surat telah dikirim kepada orang yang memenuhi persyaratan minimal. Untuk pengembalian surat kesediaan menjadi bakal calon rektor diberikan batasan waktu sampai 15 Januari 2009.

Selanjutnya pada 16 Januari 2009 sampai 15 Februari 2009, para bakal calon diminta untuk mengumpulkan persyaratan administratif. Para bakal calon yang lolos administratif akan di jaring oleh pansus menjadi maksimal tiga orang.,

Ketiga bakal calon yang sudah melalui penjaringan akan diserahkan kepada yayasan, sebagai hasil kerja pansus, dan saat itu juga masa kerja pansus berakhir. Selanjutnya mereka akan berkonsultasi dengan pihak yayasan dan menetapkan bakal calon tersebut menjadi calon rektor untuk diusulkan kepada para senator dan mempresentasikan visi-misi masing-masing.
Pada saat itu para senator akan memberikan pertimbangan-pertimbangan yang hasilnya akan diserahkan kepada yayasan. Selanjutnya pembina yayasan akan memilih dan menetapkan rektor UKSW berikutnya.

Tanggapan pansus sendiri terhadap TPPR ” pansus mempersilahkan kepada siapapun (civitas UKSW) yang ingin membentuk tim apapun itu jenisnya dalam rangka pemilihan rektor UKSW mendatang, karena semua itu hak mereka untuk mengetahui calon pemimpinnya” ungkap Lius

”Terserah TPPR mau melakukan apa saja asalkan menurut mereka itu baik, pansus sendiri tidak akan menghalangi mereka. Karena mereka dapat menjadi sumber informasi dalam memberikan masukan kepada pansus jika pansus membutuhkan.Dan” tandasnya


30 Komentar

  1. Theofransus Litaay

    Keprihatinan mas Neil di atas sebenarnya sudah cukup panjang lebar saya diskusikan dengan Koordinator TPPR. Pada waktu saya bertanya melalui Yoga (wartawan Scientiarum) mengenai metodologi survey TPPR itu, kemudian Yoga meneruskan pesan tersebut kepada Koordinator TPPR.

    Saya termasuk salah satu dari civitas akademika yang bercuriga bahwa langkah LK membentuk TPPR ini merupakan bagian dari skenario persaingan calon rektor. Jadi membuat angket supaya nampak netral padahal isi angketnya memang itu sudah dirancang supaya jadi sesuai keinginan pembuatnya. Ini jujur saja saya sampaikan dan sudah saya sampaikan juga kepada Koordinator TPPR dalam komunikasi kami.

    Dalam komunikasi tersebut Koordinator TPPR mengatakan bahwa LK netral. Terus terang saja saya menjadi ragu apakah Koordinator TPPR yang naif atau menganggap saya yang naif saat berkata seperti itu. Seharusnya dia mengemukakan saja apa yang ada dalam benak TPPR.

    Semula saya tidak terlalu peduli soal kerja TPPR ini, karena saya anggap sebagai peran LK, terlepas dari netral atau tidak netral. Kalaupun memang bagian dari politik di kampus ini, saya pikir “Go to hell, orang benar akan menuai hasil, orang tidak benar akan menerima ganjaran.”

    Yang membuat saya cukup tersengat dan jadi ingin tahu lebih dalam adalah ketika Koordinator TPPR (mungkin secara guyon) menyampaikan kepada Yoga bahwa salah satu metode analisis hasil survey merupakan “rahasia” tim. Lalu saya ingatkan bahwa kredibilitas survey-survey yang seperti ini terletak pada transparansi metode dan perencanaannya. Kemudian beliau mengklarifikasi bahwa waktu dia hanya “malas mengetik” saja lalu disebut “rahasia” itu.

    Ini semua membuat saya sebenarnya bertanya-tanya mengenai kesungguhan proses survey ini. Apalagi proses FGD dll itu tidak terlalu jelas. Sangat disayangkan kalau kemudian kredibilitas survey-nya TPPR ini dipandang sebagai survey-surveyan saja.

    Memang seperti yang dipersoalkan mas Neil, beberapa pertanyaan di dalamnya sangat “aneh” dan justru menimbulkan pengertian bahwa sebenarnya fungsionaris LK tidak mengerti tentang pentingnya membangun diskursus tentang konsep pendidikan. Yang dibayangkan adalah cukup membuat survey, maka “sudah mendapatkan bukti.”
    Mutu sistem pendidikan hendak dijawab melalui survey dan dukungan massa. Sangat menyedihkan.

    Pendekatan yang dipikirkan TPPR ini sebenarnya merupakan salah satu contoh dari pendekatan yang membuat pendidikan Indonesia hingga kini terpuruk di – bahkan – asia tenggara (nggak usah ngomong asia dulu).

    Yang saya bayangkan, seharusnya TPPR membuat angket tentang peningkatan mutu pendidikan di UKSW dan itulah yang kemudian diserahkan kepada siapapun rektor terpilih.

    Sebagai satu contoh, mengapa LK tidak berbicara tentang peningkatan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat dibutuhkan agar para lulusan UKSW mampu menang dalam persaingan kerja.

    Atau tentang peningkatan kemampuan bahasa Inggris bagi dosen agar publikasi dosen bisa dimuat di jurnal internasional, sehingga dosen yang mengajar mahasiswa adalah dosen bermutu dan bukan dosen yang sekedar asal “mangap” di depan kelas.

    Kebetulan saya baru kembali dari penelitian di provinsi Papua. Dalam salah satu wawancara, seorang penduduk kampung di wilayah pelosok Papua bertanya kepada saya “Anak, bapa ini heran, mengapa banyak orang sekolah di universitas sampai dapat gelar master tapi tidak mampu mengerti tulisan dalam bahasa Inggris? Sedangkan bapa dulu sekolah dasar jaman Belanda bisa bahasa Belanda.”

    Mendengar pertanyaan itu, di dalam hati saya bergumam “Itu tidak saja terjadi di Papua, di kampus saya juga terjadi, padahal lebih dekat dengan pusat kemajuan dan merasa diri lebih maju daripada orang di Papua.”

    Ada hal-hal yang lebih penting yang harus dipikir oleh para pemimpin mahasiswa, daripada sekedar pertanyaan “Apakah Rektor harus berjiwa muda?”
    Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana anda akan menilai hasilnya? Apakah ini pertanyaan-pertanyaan yang asal-asalan yang penting angketnya ada?

    Apakah pertanyaan kunci sebenarnya LK Universitas ingin bertanya apakah mahasiswa memilih semester atau trimester?

    Lalu kalau mayoritas memilih semester maka John Titaley harus ditolak? Apakah ini skenario dibalik angket tersebut? Kalau benar, maka anda terjebak politik murahan.

    Coba Ketua SMU dan Ketua BPMU berikan jawaban, karena anda berdua sekarang menjadi anggota Senat UKSW dan menjadi bagian dari Pansus Pemilihan Rektor, apakah ini bagian dari politik pemilihan rektor? Melalui angket TPPR anda melibatkan dosen dan pegawai dalam urusan LK.
    Dengan manuver seperti itu saja netralitas anda di Pansus bisa diragukan.

    Apakah memang demikian maksud angket ini? Untuk mematikan seorang pemimpin di UKSW?

    Saya berharap anda tidak menenggelamkan seorang pemimpin dengan bikin angket asal-asalan, karena itu hanya akan menenggelamkan martabat anda sendiri. Mungkin ada yang merasa menang, tapi apakah kemenangan itu layak dibanggakan?

    Yang mengherankan saya, mengapa LK c.q. TPPR memaksakan diri untuk melibatkan Dosen dan Pegawai dalam mengisi angketnya? padahal jelas-jelas bukan merupakan konstituen LK. Aneh.

    Mengapa TPPR tidak membuat pertanyaan tentang mutu buku-buku yang diadakan oleh fakultas? Agar buku yang dibaca mahasiswa memang buku yang bermutu?

    Mengapa Para penyusun angket itu tidak merasa terganggu pada waktu nama UKSW hilang dalam urutan-urutan website terbaik perguruan tinggi di Indonesia? Padahal dengan semakin majunya teknologi informasi website menjadi jendela bagi dunia untuk merangkul UKSW sehingga UKSW bisa mendapat banyak peluang bagi pengembangan mutu pendidikan.

    Mengapa LK tidak mempermasalahkan ketika iklan UKSW mengklaim diri sebagai universitas terbaik di Jawa Tengah. My gosh, hanya di Jawa Tengah? Mengapa kita tidak menjadikan diri kita yang terbaik di Indonesia? Perpustakaan kita pernah menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. UKSW pernah menjadi Pusat Pengembangan Pendidikan Tinggi Nasional.

    Ini semua pertanyaan-pertanyaan yang memiliki landasan iman yang jelas: You have to do your best because Jesus Christ is the best!
    Itu yang diajarkan para senior kami di GMKI pada waktu dulu.

    Kalau Ketua BPMU senang membawa-bawa nama Tuhan Yesus, prove it man! Do the best. Lakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik.

    Tanamkan mental pemenang, jangan melakukan sedikit lalu berkata kami sudah melakukan yang terbaik.

    Berikan kesaksian kepada dunia bahwa lembaga pendidikan Kristen memiliki mutu yang tinggi dan bukan hanya sibuk mematikan dirinya sendiri.

    Kepemimpinan Kristen harus nampak dalam perjuangan yang militan untuk menjadikan diri anda dan lembaga anda sebagai yang terbaik. Kalau Yesus saja berani melakukan revolusi dan merubah dunia ini dengan kabar baik, apalagi anda yang hidup dalam kondisi yang jauh lebih menyenangkan daripada yang dialami Yesus dahulu.

    Jangan jadi orang yang menyembunyikan kepala pada waktu menghadapi penguasa dunia. Lari terbirit-birit pada waktu digertak penguasa.

    Jangan mendukung pemimpin yang gentar menghadapi penguasa dunia. Jangan mendukung pemimpin yang hendak merubah visi dan misi UKSW.

    Dalam Memorandum Akhir Jabatan Ketua BPMU 1992-1993, saya menulis bahwa “Penghargaan terhadap mahasiswa sebagai orang dewasa tidak turun dari langit tapi harus diperjuangkan melalui karya-karya benar dan nyata.”

    Tunjukan bahwa kalian memang memiliki kualitas itu.

  2. Kenakalan Remaja di Era Informatika

    @TPPR: saya sepakat ma Pemerhati yang pake2 fotonya Bung Neil… hehehehe… memang banyak masalah metodologis yang perlu diperhatikan… bukannya saya sok pinter, tapi cuma saya nggak bisa mengungkapkannya seperti mas Pemerhati yang mirip Bung Neil… hehehehe…
    memang saya rasa, TPPR cukup gegabah… dalam artian, terlalu buru2 dan mengandalkan kemampuan sendiri… di kampus kita, mungkin terlalu banyak dosen yang ahli di bidang survei… berdayakanlah mereka… sehingga angket yang anda hasilkan tidak menjadi sampah yang mas Pemerhati sampaikan…
    @nico_gee_TPPR: sadarkah anda? anda pun sedang mengkritisi orang yang mengkritisi anda, dan saya juga mengkritisi anda yang mengkritisi orang yang mengkritisi anda… jadi terbukalah dengan kritik…

  3. re - TPPR

    @Pemerhati:
    Halo om neil… Saya reima – koordiantor TPPR. Mengenai metodologis, kami sadar sepenuhnya bahwa sebuah kelalain ketika kami tidak melibatkan dosen-dosen UKSW yang pakar dalam bidang survai dan penelitian untuk membantu kami. Tapi sungguh sangat sakit, ketika om neil menganalogikan kuisioner kami layaknya sampah yang tidak berguna. Input = sampah, output = sampah. Pemikiran yang sempit. Om neil mungkin lupa dengan proses. Dan kami, TPPR belum selesai. Kuisioner itu bukan hasil final. Memang ada kekurangan di sana-sini dalam kuisioner. Tapi kami tidak fokus dengan kekurang tersebut. Kami juga tidak menutupi kekurangan tersebut namun kami berusaha untuk memperbaikinya dengan FGD misalnya. Kuisioner kami tidak sia-sia om, ada poin-poin positif yang kami bisa ambil dari kuisioner itu untuk bahan perumusan profil rektor. Dan juga ada banyak pembelajaran yang tidak ternilai bagi kami fungsionaris LK yang duduk di TPPR. Kuisioner tersebut hanya salah satu dari kegiatan TPPR om, masih ada diskusi perumusan profil rektor dan sarasehan. Mungkin om neil bisa memberi sumbang saran atau ide kepada TPPR mengenai kegiatan-kegiatan apa yang seharusnya kami lakukan untuk mendukung kami dalam merumuskan profil rektor yang dibutuhkan UKSW??? Supaya kami tidak terjerat dengan angka, angka, angka… Silahkan om neil main ke LK (kalau om neil sudah pulang dari Australia tentunya) dan mari berdiskusi dengan TPPR & LK. Terima kasih sebelumnya… Terus pantau TPPR. Jangan lupa oleh-olehnya yah.. ^_______^

    @Theofransus Litaay:
    Keprihatinan mas Neil di atas sebenarnya sudah cukup panjang lebar saya diskusikan dengan Koordinator TPPR… Om teo, menurut saya kita belum mendiskusikan masalah TPPR secara mendalam. Mungkin sebaiknya om teo meluangkan waktu main ke LK, saya akan mengumpulkan teman-teman TPPR dan mari kita berdiskusi.

    …padahal isi angketnya memang itu sudah dirancang supaya jadi sesuai keinginan pembuatnya… Om teo, saya tegaskan sekali lagi, isi kuisioner itu berdasarkan sharing fakultas yang diadakan di setiap fakultas yang bertujuan untuk menyaring masalah-masalah yang ada di fakultas. Ketika masalah-masalah tersebut ternyata terjadi di semua fakultas maka itu menjadi masalah umum kampus. Dan itulah yang kami angkat menjadi poin-poin kuisioner. Hasil sharingnya masih ada kalau om teo mau lihat. Silahkan check kebenarannya di setiap fakultas. Kami tidak asal buat.

    Terus terang saja saya menjadi ragu apakah Koordinator TPPR yang naif atau menganggap saya yang naif saat berkata seperti itu… Om teo, naif-kah saya ketika saya benar-benar berkata jujur? Kami tidak memihak kepada siapa pun. TPPR netral.

    “Go to hell, orang benar akan menuai hasil, orang tidak benar akan menerima ganjaran.” Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut. Pada akhirnya nanti akan terlihat apakah TPPR ini benar atau tidak. Kita buktikan saja.

    Tentang rahasia tim = malas mengetik… Saya ingat benar waktu itu saya bersama teman-teman TPPR baru saja selesai mengolah setengah dari kuisioner yang kembali selama kurang lebih 6 jam di kantor SMU. Waktu itu saya yang bertugas mengetik hasilnya. Jujur saja, saya memang sudah malas mengetik dan menanggapi pertanyaan om teo karena memang kondisi saya waktu itu sudah capek. Tapi ini merupakan satu pelajaran penting bagi saya. Bahwa “1 kalimat guyonan” saja akan dibenar-benar berpengaruh dan bisa berakibat fatal.

    Mutu sistem pendidikan hendak dijawab melalui survey dan dukungan massa. Sangat menyedihkan… Om teo, kerja TPPR belum selesai. Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum selesai.

    Lalu kalau mayoritas memilih semester maka John Titaley harus ditolak? Apakah ini skenario dibalik angket tersebut? Kalau benar, maka anda terjebak politik murahan…. Saya tersenyum ketika membaca kalimat om teo di atas. Kita semua seharusnya belum tahu apakah om John akan menggalakkan trimester kembali jika beliau terpilih karena belum ada sosialisasi tentang visi misi balon rektor. Kami mengangkat masalah trimester & semester murni karena memang hampir semua fakultas mempertanyakannya.

    Apakah memang demikian maksud angket ini? Untuk mematikan seorang pemimpin di UKSW?… Lagi-lagi saya tersenyum membaca kalimat om teo. Respon dari kuisioner TPPR ternyata bisa menimbulkan pemikiran yang luar bisa jauh dari kenyataan tujuan kuisioner itu dibuat. Satu pelajaran berarti lagi bagi saya, hal yang sebenarnya simple bisa menjadi complicated ketika tidak terdapat komunikasi yang baik. Ini juga warning bagi TPPR, kami harus benar-benar berhati-hati dan sungguh-sunggung mematangkan semua kegiatan TPPR.

    Saya berharap anda tidak menenggelamkan seorang pemimpin dengan bikin angket asal-asalan, karena itu hanya akan menenggelamkan martabat anda sendiri. Mungkin ada yang merasa menang, tapi apakah kemenangan itu layak dibanggakan?… Om teo, seorang leader sejati yang hidup benar di hadapan Tuhan tidak akan pernah tenggelam hanya dengan kuisioner yang om teo nilai asal-asalan tersebut.

    Yang mengherankan saya, mengapa LK c.q. TPPR memaksakan diri untuk melibatkan Dosen dan Pegawai dalam mengisi angketnya? padahal jelas-jelas bukan merupakan konstituen LK. Aneh. Bagi TPPR itu bukan suatu keanehan karena di dalam suatu universitas setiap item yang ada di dalam-nya saling terkait. Misalnya saja: Seorang mahasiswa sering bolos kuliah. Kenapa? Karena dosennya suka marah-marah di kelas. Kenapa? Karena setiap hari dosen tersebut ternyata dimarahi istrinya. Kenapa? Karena penghasilan dosen kurang sehingga istri tidak bisa membeli sepatu Prada terbaru (hehehehe…). Lah, berati di sini ada sebuah malasah inti, yaitu minimnya kesejahteraan dosen. Itu misalnya loh om… ^====^

    Mengenai bobot kuisioner, kami menyadari memang kurang. Mungkin mengenai buku-buku, level berbahasa inggris, nama UKSW yang hilang dll itu bisa kami tambahkan untuk materi diskusi tambahan maupun sarasehan nanti.

    Terima kasih yah om teo… kami terus menantikan saran dan kritik beserta solusinya dari om teo.

    Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita. ^_____________^

  4. @ Ka Theo: Terima kasih atas segala masukannya, semua yang kakak sampaikan akan saya jadikan koreksi dan cambuk bagi saya sebagai pemimpin. dalam memimpin saya memiliki cara sendiri, sesuai apa yang pernah ditanam dalam gerakan mahasiswa yang saya ikuti dari dulu sampai sekarang. tapi saya tetap bersyukur kakak2 senior LK tetap memberi saran yang membangun. nanti apa yang disampaikan kakak di forum ini akan saya usung dalam periodesasi saya selama menjabat. terima kasih Tuhan Yesus mengasihi kita semua.

  5. nico_gee

    Trimakasih buat pak pemerhati dan kak Teo atas pencerahan, kritik dan sarannya.

    Dalam hati senyum ketika ada penilaian bahwa TPPR ada keberpihakan kepada salah satu/salah dua dan menekan salah satu/salah dua calon rektor kita. saya pikir Ini penilaian/persepsi yang keliru, itu hanya kekuatiran tm-tm terhadap TPPR.
    Ok.. kalau dalam kuisioner tersebut dinilai ada calon yang dirugikan dan ada yang diuntungkan makanya TPPR mengadakan FGD untuk menggali lebih jauh lagi pandangan, pendapat teman-teman civitas UKSW.
    Kami juga menghrapakan melalui diskusi ini TPPR juga bisa mendapatkan masukan dari tm-tm civitas UKSW baik dalam bentuk kritik,saran ataupun buah pikiran

    Kak Teo, saat FGD kemarin (6/02/09) sebenarnya TPPR mau ngundang k’TEO. but, k’Teo lagi keluar kota.
    trimakasih pencerahannya……

    Rhema ; “memang saya rasa, TPPR cukup gegabah… dalam artian, terlalu buru2 dan mengandalkan kemampuan sendiri…”
    Kamu dimana, ketika hal itu kamu nilai dan lihat???????
    Kamu sadar gak, kalau yang dilakukan TPPR tersebut merupakan tugasmu???

    BPMU dimana????????

    SAYA BUKAN ANTI KRITIK but, saya lebih suka kritik yang membangun bukan menjatuhkan

  6. nico_gee

    HOHON MAAF…………

    Maaf buat teman-teman civitas UKSW, ada perubahan pelaksanaan SARASEHAN BERSAMA 6 ORANG BAKAL CALON REKTOR KITA.

    Pada Awalnya direncanakan PADA TANGGAL 25 FEBRUARI 2009 PUKUL 09-13. Namun, ada perubahan dengan berbagai pertimbangan.

    Perkembangan selanjutnya kami akan kabari

    MOHON DUKUNGAN, KRITK DAN SARANNYA BUAT TPPR………..

  7. sailormoon

    @Kenakalan Remaja di Era Informatika
    saya kecewa dengan pernyataan Anda. Berarti benar ketika dulu saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa semua yang ada dalam “sistem” adalah unpredictable.

  8. Neil

    Halo Rekans..

    @Rheima, sorry kalau menyakitkan ya. Namun, semoga kritik saya dapat dimengerti karena kalian melakukan sebuah pekerjaan yang memakan energi, sehingga mestinya tidak membiarkan diri melakukan hal yang barangkali tidak/kurang perlu. Soal sampah, itu istilah lazim dalam sistem pengolahan data/informasi. Jika tadi saya katakan ada yang tidak/kurang perlu, maka ia merupakan bagian dari sampah, maksudnya manfaatnya bagi pengambilan keputusan tidak ada atau rendah. Tapi, ini penilaian saya, jika kalian merasa semua bermanfaat, saya mau bilang apa?

    Cuma sekedar mengingatkan, termasuk soal netralitas tidaknya LK lalu dalam konteks kampus dan politik pengelolaannya, dulu LK pernah juga melakukan sebuah survei. Survei tsb lalu digunakan oleh pihak tertentu untuk menjadi salah satu input pengambilan keputusan, saat itu ketika UKSW memutuskan kembali ke semester. Survei tersebut hampir menyangkut ’segala hal’ di UKSW, misalkan soal sarana prasarana yang tidak bisa dikorelasikan begitu saja dengan jelek tidaknya semester. Namun, survei itu telah dipakai untuk menyimpulkan bahwa ada banyak masalah di UKSW pada masa trimester. Yang begini ini yang tidak gentle, memolitisasi sesuatu yang barangkali oleh pembuatnya disebut maunya netral. Padahal, di rezim gado-gado sekarang, keluhan soal fasilitas pun tetap saja gencar. Artinya, itu kan bukan soal semester atau trimester, tetapi soal strategi investasi UKSW, sebagai bagian dari perwujudan visi dan misinya.

    Mumpung Sarasehannya ditunda, saya bertanya kesiapakan LK dan khususnya TPPR menggunakan hasil survei untuk elaborasi lebih jauh pandangan dan rencana para balon rektor dalam sarasehan itu. Juga inputs yang lain, apakah ada tim yang secara khusus telah menyiapkan berbagai issues yang harus disoal jawab dengan para balon? Jangan-jangan semua tahap lalu bersifat terisolasi dari yang lain. Kalau demikian ya sayang dan itu artinya tidak memenuhi rancangan TPPR sendiri.

    Lalu, hasil survei sendiri bagaimana? Warga kampus dan khususnya mahasiswa rasanya perlu tahu. Terlepas dari polemik kita di sini, jangan sampai hasil survei cuma kembali menjadi milik kelompok terbatas lagi, sebagaimana perancangan survei. Cuma, komunikasi hasil survei saya sarankan untuk hati-hati dalam konteks politik kampus yang kadang cuma suka mencari legitimasi popularitas, daripada kekuatan konseptual. Jadikan UKSW sebuah komunitas intelektual yang berwibawa, itu juga tanggung jawab mahasiswa yang mau menyebut dirinya creative minority.

  9. kuro^^

    TUHAN selalu memberi yang terbaik buat kita anak-anakNYA yang melayani dengan sungguh-sungguh…
    keep in smile all :D :D :D :D :D :D :D

  10. prihatin

    Saat ini proses seleksi calon rektor oleh Pansus sudah melanggar peraturan Pembina Yayasan Satya Wacana. Kira-kira LK peduli nggak? Apa sibuk ngerecoki yang nggak penting?

Comments are closed

© 2009 Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW