Kemenangan Obama dan Bangkitnya Politik Pengharapan

Browse By

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”
~ Amsal Salomo

Nun jauh di seberang, di negeri paman Sam, sejarah baru telah ditorehkan. Untuk pertama kalinya seorang yang berlatar belakang minoritas dan tidak diunggulkan pada awalnya berhasil memangku jabatan publik tertinggi, sang Presiden. Terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai Presiden Amerika Serikat menciptakan sebuah gempa politik yang getarannya terasa sampai ke seluruh penjuru dunia. Sebuah fenomena yang mengundang decak kagum dan ketakjuban sekaligus pada saat yang bersamaan membawa kita merenungkan maknanya. Terpilihnya Barack Obama membuka sebuah lembaran baru bukan saja bagi Amerika Serikat, tetapi ia juga membawa angin segar bagi dinamika politik di berbagai negara, termasuk Indonesia yang politiknya hari-hari ini masih dirundung awan gelap.

Harapan dan perubahan
Harapan (Hope) dan Perubahan (Change), demikian kata kunci penting yang membawa Obama hingga ketampuk pimpinan tertinggi satu-satunya negara adidaya di muka bumi ini. Harapan yang bagi setiap insan tersimpan di relung terdalam dirinya. Yang disadari atau tidak, dalam setiap pergumulan hidup manusia, memiliki peranan yang begitu krusial. Sebagai insan yang spiritual, kita membawa peng-harapan kita didalam doa-doa. Hendaklah engkau menaruh pengharapanmu pada sang Khalik demikian petikan khotbah-khotbah pemuka agama. Dalam realitas hidup sehari-hari kita kadangkala menghadapi suatu keadaan dengan ‘cemas-cemas penuh harap’. Dengan demikian harapan memang tidak dapat dipisahkan dari diri kita.

Pada titik inilah gagasan tentang perubahan menemukan pasangannya, belahan hakekatnya. Demi terwujudnya sebuah perubahan mengandaikan adanya harapan. Ia (perubahan)bukanlah janji-janji kosong belaka, melainkan segenap isinya menjadi dimungkinkan ketika kita sadar bahwa ada harapan untuk mewujudkannya. Harapan bukan sesuatu yang serta merta bisa termanifes bagi individu. Ia bisa saja terpendam dan terkurung bahkan habis tergerus manakala realita hidup demikian perih dan kejam. Kejamnya dunia kehidupan dalam himpitan manusia satu dengan manusia lainnya dapat membuat seseorang menciut pengharapannya, tetapi ia tetap ada disana menanti untuk bangkit kembali. Pada titik nadir semacam ini diperlukan gebrakan untuk kembali menggugah harapan yang terpendam tersebut.

Persis inilah yang dilakukan oleh Barack Obama dalam segenap proses kampanye yang ia lakoni dan menjadi kunci kemenangannya. Dalam amatan saya, Obama membingkai seluruh platform visi dan misinya dengan menggugah salah satu inti eksistensi manusia, pengharapannya. Inilah yang membedakannya secara diametral dengan lawannya John McCain. Obama berhasil menyentuh relung terdalam para pemilihnya, yang dengan dahsyatnya juga menyentuh banyak orang di seluruh penjuru dunia. Ia berhasil menyakinkan para pendukungnya, bahwa harapan itu sungguh ada dan dengan demikian harapan akan masa depan yang lebih baik menjadi dimungkinkan.

Politik pengharapan
Ya! Kita bisa! (Yes! We Can!) demikian seruan para pendukungnya pada perayaan kemenangannya, merupakan bentuk afirmasi bahwa ia terpilih bukan saja karena platform program-program yang diajukannya. Melainkan ia berhasil merebut hati para pemilihnya untuk bersama-sama memujudkan perubahan, untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Lantas, saya jadi teringat sepenggal kalimat; “menggerakan massa yang pasif menjadi aktif”. Dalam konteks ini saya kira Obama berhasil melakukannya, ia bukan saja memecahkan rekor dukungan dana terbesar dalam sepanjang sejarah kampanye presiden, melainkan juga berhasil membawa sebuah kegerakan massif di negerinya (terbukti misalnya dari jumlah relawan yang terlibat dalam keseluruhan proses kampanyenya).

Tanpa berpretensi menyanjung secara berlebihan, kemenangan Barack Obama ini kiranya dapat dipandang sebagai secercah asa bagi dinamika politik di tengah-tengah alam demokrasi. Bahwa sejatinya demokrasi memungkinkan terjadinya politik yang berpengharapan, dan dengan demikian selalu ada kemungkinan untuk terciptanya perubahan yang fundamental. Politik pengharapan memiliki keyakinan dan keteguhan pada sebuah kemungkinan yang lebih baik. Dalam bahasa Alan Badiou, politik dengan demikian bukanlah ‘everything is possible’, melainkan ‘something else is possible’. Artinya, terdapat suatu upaya subyektif untuk terus mempertahankan pluralitas, sambil terus menerus memastikan perubahan (Gerung (ed), 2008).

Masih ada harapan
Mungkin ada sebagian kalangan yang menanggapi dengan sinis dan skeptik jika peristiwa Obama ini dipararelkan dengan keadaan kita di Indonesia saat ini. Hari-hari ini kita masih menyaksikan dinamika politik yang ada sarat dengan politik pencitraan, hiruk pikuk komoditi, huru-hara komunalisme, serta kekerasan dan korupsi dimana-mana. Demokratisasi yang sementara terjadi rupa-rupanya masih sebatas pada instalasi prosedur dan belum masuk segenapnya pada dimensi yang lebih substansial. Sedangkan perubahan yang dinanti-nanti belum juga terwujud. Sebuah keadaan yang dapat membawa kita pada kelelahan sosial (social fatigue). Disinilah menurut hemat saya salah satu makna yang dapat kita petik dari momentum kemenangan Obama. Kita kembali diingatkan bahwa sesungguhnya apapun yang sementara terjadi, masa depan Indonesia yang lebih baik sungguh ada. Dan harapan akan hal tersebut tidak akan pernah hilang. Pertanyaannya buat anda dan saya sekarang adalah, maukah kita semua, bahu-membahu mewujudkan perubahan tersebut? Dan dengan setia dalam pengharapan terus menerus mengusahakannya. Demi Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera bagi seluruh warganya.

Yesaya Sandang, pengajar filsafat

13 thoughts on “Kemenangan Obama dan Bangkitnya Politik Pengharapan”

  1. Triyono says:

    @ Melihat fenomena masyarakat terjadi bukannya harapan yang mereka tumbuhkan dalam lubuk hati terdalam, tetapi pesemisme. Perlu juga berfikir dan memandang ke depan tentang bangsa Indonesia, barangkali melalui politik pengharapan macam skenario Barack Obama ini ampuh untuk membangkitkan gairah menapaki hari-hari selanjutnya. Minimal diri sendiri….

    Ngomong-ngomong soal pelantikan Barack Obama jadi ingat William J. Clintone saat dilantik jadi Presiden Amerika ke 42, “jangan tanyakan apa yang akan diberikan pemerintah, tapi tanyakan pada diri anda apa yang akan anda berikan kepada negara?”

  2. Neil says:

    @Yes, trims tulisannya.

    Jika ditilik dari sudut kepemimpinan, maka sudah seperti itulah seorang pemimpin. Salah satu definisi yang dipakai, kalau tidak salah oleh Merton, pemimpin adalah a moral force. Artinya, dalam kondisi sulit apapun, pemimpin harus memacu semangat untuk sesuatu yang lebih besar bisa dan akan diraih. Politik pengharapan, itu istilah yang kamu pakai, visi yang besar tentang masa depan organisasi, itu barangkali istilah yang lazim dipakai oleh ahli kepemimpinan.

    Tugas atau salah satu aksi kunci pemimpin adalah melakukan perubahan, selalu dalam makna ke arah yang lebih baik. Referensi utama adalah nilai-nilai atau prinsip-prinsip utama. Mari coba kita lihat apa yang selalu dirujuk Obama. Di selalu mengarahkan pembicaraan ke arah mimpi Amerika, yang dibangun oleh para pendiri bangsa itu, hingga pemimpin-pemimpin besar setelahnya. Ia berbicara atas nama prinsip-prinsip atau nilai-nilai universal tentang dan seputara kemanusiaan. Di atas itu, ia mencoba menrasendenkan persoalan-persoalan empirik dan menransformasi bangsa Amerika. Dengan begitu ia menyentuh apa yang digeluti masyarakat awam Amerika dan menghubungkannya ke mimpi besar mereka sebagai bangsa.

    Dari banyak sudut, sampailah kita pada, “itulah baru namanya pemimpin.” Obama jelas adalah fenomena menarik bagi kita yang dikelilingi oleh pemimpin penakut, pemimpin cari enaknya sendiri, pemimpin elitis, pemimpin koruptif, dan sejenisnya. Misalnya, keberaniannya membelah/membongkar politik rasial di Amerika adalah bukti keberaniannya. Ia sudah berbicara melawan fenomena seperti itu sejak bermahasiswa (mungkin sebelumnya juga, tapi tidak ada rujukan). Sebuah pidatonya dalam konvensi nasional partai Demokrat di 2004 telah memukau banyak orang, menyentak dahaga akan pemimpin yang mampu mengatasi masalah rasial. Padahal, dengan mengatakan begitu, maka ia membuka front untuk dilindas oleh kelompok dominan. Namun, sejumlah orang kala itu langsung melihatnya sebagai bintang baru yang bakal bersinar dan itu terbukti.

    @Triyono: DURING HIS INAUGURAL ADDRESS in January of 1961 John Kennedy famously invited Americans to draw together in a circle of sacrifice to make the nation stronger. “My fellow Americans, ask not what your country can do for you: Ask what you can do for your country,” went the famous quote that challenged a generation. Itu pidato Kennedy, jadi kalau Clinton juga mengatakan demikian, maka ia mengutip Kennedy.

  3. Triyono says:

    @ Mas Niel- iya mas saya yang keliru mengutipnya…thakz atas masukannya. Rencananya saya sempat mau minta untuk dimoderisasi ulang sama web master, tapi belum ketemu, berhubung mas Niel udah membetulan maka saya sangat berterimasih sekali. Pareng

  4. Opha says:

    Sosok Barrack Husein Obama menjadi sosok yang fenomenal belakangan ini. Indikator jelas, hampir seluruh media diseluruh dunia fokus ke ceremonial “pengukuhan” USA 1 dan menjadikannya sebagai Headline berita. Bahkan yang menggelikan, Konflik Timteng yang tengah memanas coba “diredam” sementara oleh salah satu pihak untuk menghormatinya. Diakui atau tidak, inilah Amerika dengan segala kedigdayaannya.

    Saya sangat setuju ketika semua orang, tidak hanya warga Amerika, menantikan perubahan yang akan terjadi ditengah monotonnya penataan situasi ekonomi dan politik dunia. Pengharapan untuk perubahan ke arah yang lebih baik muncul karena gagasan-gagasan lampau tidak lah membuahkan hasil kearah tersebut. Akhirnya sosok obama dijadikan momentum.

    Secara pribadi, salut dengan Obama. Tetapi, tetap terselip sedikit kekhawatiran. Mampukah Obama menjadi suksesor perubahan tersebut? Saya mengira Obama dan kabinet sangat membutuhkan energi ekstra untuk memperbaiki keadaan 2 aspek perikehidupan penting ini (ekonomi dan politik). Jelasnya Krisis keuangan yang membelit dan membutuhkan kebijakan yang strategis, dibalik itu berbagai persoalan politik internasionalnya sepeninggalan Bush membutuhkan kerja keras untuk mengembalikan kepercayaan dunia terhadap ke-Adikuasaan” AS. Kekuatiran saya, dibalik pengharapan ada kekecewaan. Jika gagal, tendangan baliknya cukup keras kepada Obama.

  5. IPTAS says:

    “This is the meaning of our liberty and our creed – why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than sixty years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.”(Obama’s inaugural speech). Kalimat ini yang membuat saya takjub saat mendengarkan pidato Obama.

    Hampir satu setengah abad sejak Abraham Lincoln menghapus perbudakan. Kurang lebih empat dekade sudah terlewati semenjak Martin Luther King, Jr. mengatakan, “And I’ve seen the promised land. I may not get there with you. But I want you to know tonight, that we, as a people, will get to the promised land.” dan terbunuh keesokan harinya. Mungkin change has really come to America, setidaknya dengan terpilihnya Obama sebagai presiden. Tapi itu tidak instan, semua perubahan menyangkut perjuangan rasial yang terjadi di amerika tidaklah instan, malah penuh dengan darah. Malah jauh dari apa yang mungkin selalu diimpikan oleh bangsa Indonesia tentang perubahan, “perubahan instan”.

    Tapi ada yang sedikit menggelitik saya, ketika menyaksikan prosesi inagurasi Obama kemarin. Kalau tidak salah SCTV mengadaka wawancara dengan pihak kedubes Amerika di Indonesia. Saat itu pewawancara dari SCTV menanyakan mungkinkah dengan terpilihnya Obama, hubungan Amerika – Indonesia akan lebih baik, khususnya pada permasalahan ekonomi. Ditanyai demikian, terlihat raut wajah wakil pihak kedubes Amerika agak kebingungan. Diplomatis dia menjawab, “sebenarnya siapapun presiden Amerika, kebijakan Amerika tidak akan terlalu berbeda jauh apalagi sampai 180 derajat. Menurut saya Indonesia adalah bangsa yang besar, jadi saya yakin sangat mampu mengatasi masalahnya secara mandiri, bahkan tanpa bantuan dari pihak US.” Mendengar ini saya tertawa dalam hati, sepertinya meski Obama pernah jadi anak menteng, sebagai presiden Amerika, ya tetap kepentingan Amerikalh yang paling penting. Lihat saja dari pidatonya, semua sarat kepentingan Amerika, terutama dalam mengatasi krisis ekonomi di wilayah domestiknya. Mungkin itu kenapa di pidatonya sama sekali tidak menyinggung israel dan palestina, yang ada hanya Afganistan dan Iraq. Sebab tidak ada warganya yang berperang di Israel dan Palestina.

    Tapi yang jelas saya masih belum menemukan jawabannya, mengapa pemilihan Obama begitu fenomenal, bahkan sampai dunia (paling tidak Indonesia) merayakan kemenangannya? Bukankah situasi fenomenal ini justru semakin menegaskan posisi strategis Amerika di dunia, sebuah negara tempat segala mimpi jadi nyata? Mungkin ada yang bisa membantu saya.

  6. Triyono says:

    IPTAS-Lihat saja dari pidatonya, semua sarat kepentingan Amerika, terutama dalam mengatasi krisis ekonomi di wilayah domestiknya. Mungkin itu kenapa di pidatonya sama sekali tidak menyinggung israel dan palestina, yang ada hanya Afganistan dan Iraq. Sebab tidak ada warganya yang berperang di Israel dan Palestina.

    @Menurut saya itu karena ingin menunjukan spirit nasionalisme — ini dapat dikaji bahwa USA lebih mengutamakan pembenahan internal mereka, dan dalam konteks negara tentunya hubungan internasional juga tidak diabaikan begitu saja. Hal ini bila bangsa Indonesia dapat menarik benang merah atas prosesi Obama, bangsa kita cobalah berfikir bila ingin di contoh negara-negara di dunia benahi dulu internal kita (nation building).

    Tapi yang jelas saya masih belum menemukan jawabannya, mengapa pemilihan Obama begitu fenomenal, bahkan sampai dunia (paling tidak Indonesia) merayakan kemenangannya? Bukankah situasi fenomenal ini justru semakin menegaskan posisi strategis Amerika di dunia, sebuah negara tempat segala mimpi jadi nyata? Mungkin ada yang bisa membantu saya.

    @ Menurut saya itu karena politik kuasa media — lihat betapa gencar media-media mem-publis tokoh yang satu ini — dan USA merupakan suatu negara dengan kedewasaan jurnalisme yang matang — dan ini dimanfaatkan betul dengan kepiawaian Barack Obama. Selain itu kepiawaian dia memanfaatkan layanan internet patut diacungi jempul.

    Semoga dapat membantu.

  7. IPTAS says:

    @opha
    Saya setuju dengan pendapat opha, yang berbahaya adalah kalau obama itu gagal. Apalagi statementnya tentang program kerja satu minggu untuk mengatasi krisis ekonomi di amerika serikat, sesuatu yang sangat ambisius jika itu menurut saya.

    Fenomena obama menurut saya mungkin pada satu titik sebenarnya lebih terkait pada latar belakang ras yang ia miliki, dan sebenarnya itu lebih menguntungkan posisinya hingga terpilih menjadi presiden Amerika. Terlebih lagi dua mottonya, “The Change We Need” dan “Yes We Can”, betul-betul menunjang profil sekaligus kuat mengedepankan karakter obama. Sehingga yang patut diacungi jempol adalah tim sukses di belakang Obama. Selain memanfaatkan kebencian rakyat Amerika pada G.W. Bush dan partai republik di belakangnya, mereka betul-betul tahu bagaimana memanfaatkan emosi romantis warga Amerika dan kebetulan orang kulit hitam adalah pihak yang notabene tertinggal di Amerika yang selalu berjuang atas hak-haknya. Jadi lengkaplah semua realitas seperti mendukung obama.

    Menurut saya hal tersebut sangat terbukti ketika Obama mengalahkan Hillary Clinton. Pada saat itu sebenarnya Amerika menghadapi sesuatu yang sulit, ingin memiliki presiden perempuan pertama ataukah presiden berkulit hitam pertama. Namun tampaknya isu gender kurang dapat menyentuh emosi romantis warga Amerika, berbeda dengan permasalahan rasial di Amerika Serikat. Hal ini pun terbukti untuk kedua kalinya ketika John McCain merangkul Sarah Palin. Lagi-lagi isu rasial mengalahkan gender.

    @Triyono
    Terimakasih untuk masukkannya. Yang membuat saya bingung kenapa orang Indonesia bahkan dunia begitu antusias menyambut kemenangan Obama? Padahal menurut saya tidak ada yang fenomenal dari kemenangan Obama. Apa karena warga dunia juga terjerembab oleh emosi romatisme yang dialami oleh warga Amerika, selain tentunya kebencian terhadap tindak-tanduk kabinet G. W. Bush?

    Namun apapun itu, semoga semangat kemenangan Obama mendatangkan pengaruh positif ke Indonesia. Setidaknya semoga saja sebelum matinya generasi saya, terpilih seorang presiden Indonesia dari Papua, Bali atau daerah lainnya yang bukan seorang Muslim. Tanpa harus menunggu daerah-daerah itu memerdekan dirinya satu-persatu. Menurut saya Itu baru lebih fenomenal ketimbang apa yang kini terjadi menyelimuti kemenangan Obama.

  8. Neil says:

    @IPTAS, Triyono, Opha, rekans

    Fakta yang tidak bisa kita tolak adalah respons publik atas perjuangan dan naiknya Obama menjadi presiden AS. Ini merupakan satu indikasi bahwa ini peristiwa fenomenal. Siapaun boleh punya sikap atau pendapat berbeda, tetapi bagi banyak orang peristiwa ini sudah seperti itu, fenomenal.

    Bagi saya, tidak kebetulan banyak hal berjumbuhan dalam fenomena ini. Obama bukan seorang selebriti yang tiba-tiba muncul. Fakta kulit hitamnya pun tidak mudah untuk menembus glass ceiling masyarakat konvensional dan komunitas politik tua di Amerika, apalagi untuk merebut posisi orang nomor 1. Sangat tidak mudah. Ini juga bukan sekedar jawaban terhadap krisis kepemimpinan George W. Bush dan capeknya masyarakat Amerika semata. Kalau cuma sekedar jawaban atas rasa bosan, maka kandidat non-republik lain pun punya peluang sama. Bagi kalangan intelektual, dahaga atas dimensi intelektualisme dalam memengaruhi strategi dan kebijakan publik juga seakan berjumpa dengan tampilnya Obama. Jadi, menurut saya ada banyak hal yang saling jumbuh, mengikat sinergi dan menjadi sesuatu yang fenomenal.

    Soal Obama sendiri, sudah sejak bermahasiswa dia berjuang melawan rasialisme. Bukan saja kemampuan orasinya yang brilian (perhatikan pemilihan kata-kata yang mencerminkan kedewasaan dan ketajaman berpikir), tetapi sepak terjang tindakannya sangat konsisten. Dan, sudah sejak mahasiswa dia mampu berprestasi dan diterima oleh ragam kelompok. Satu keberhasilan sejak mahasiswa yang patut diangkat jempol adalah tampilnya Obama sebagai “boss”-nya Harvard Law Review yang di kala itu dinilai masih orthodox dalam isu ras. Pilihan dan pengalamannya sebagai community organiser di Chicago juga memberikan penguatan konsistensi Obama dalam misi besarnya, perbaikan masyarakat secara mendasar dalam kerangka mimpi Amerika. Jadi, Obama bukan seorang selebriti yang tiba-tiba muncul. Karirnya ditapaki secara konsisten dan juga penuh ‘keringat’. Ini membuat orang menyambutnya dengan antusias, dan sebaliknya lawannya dipaksa melakukan segala cara untuk menghadangnya tetapi gagal. Isu-isu yang dikemukakan para lawan justru menjadi bumerang bagi mereka dan makin menguntungkan posisi Obama, karena banyak orang tahu konsistensi pikiran dan tindakannya.

    Saya sepakat bahwa dalam pertarungan menuju kursi no. 1 di AS itu, tim kerja Obama sungguh luar biasa. Dan, harus diingat, bahwa tim ini telah bekerja cukup lama, untuk membangun strategi menampilkan sosok Obama sebagai pemimpin baru, walau makin banyak orang bergabung pada saat perburuan kursi presiden. Strategi dan kejelian memanfaatkan situasi mereka sangat brilian, termasuk pemanfaatan teknologi informasi dan jejaring sosial di tengah berbagai “kebuntuan”. Politik tidak lagi elitis. Rakyat biasa siapapun seolah mendapatkan tempat berkontribusi, bukan sekedar menjadi ‘cheer-leaders”, atau cuma menjadi kuda tunggangan politik para elit. Karena itu, jika dari kota ke kota, dukungan kehadiran massa dalam kampanye Obama berbeda signifikan dari McCain, ini bukan kebetulan. Jika teman-teman mengikuti comments orang-orang AS di berbagai media yang memuat berita-berita sepanjang proses itu, teman-teman bisa merasakan bahwa pertarungan itu bukan sederhana. Karena itu, kemenangan dan dilantiknya Obama adalah bagian dari kecerdikan politik dan konsistensi perjuangan dan bagi saya ini fenomenal.

    Momentum, ini yang saya kira membaurkan banyak dimensi itu. The Clintons, baik Hillary maupun Bill, pun bukan tidak pernah ‘menyikut’ Obama. Bukan sekedar berkompetisi dalam politik, tetapi mencoba melakukan langkah-langkah gelap menyangkut karakter Obama. Namun, mereka tahu bahwa momentum Obama menjadi presiden tidak bisa dilawan dan terlalu beresiko membiarkan sentimen bar-bar kelompok ortodoks untuk menguasai panggung sosial politik. Oleh karena itu, dukungan politik secara terang-terangan harus mereka tunjukkan, toh itu juga bagian dari tekanan sosial kepada mereka. Mereka tunjukkan itu, khususnya Hillary, sehingga membangun kembali kekuatan Demokrat dan kekuatan non partai yang sempat terbelah (walau rasanya tidak semua).

    Namun, Obama jelas bukan Yesus atau Tuhan. Jadi, sisi gelap atau kekurangan manusia pasti ada. Dan, tekanan krisis mudah untuk menuntut jawaban instant sehingga gampang membuat orang jatuh frustrasi dan menilai gagal. Namun, bagi saya, belajar dari rekam jejak Obama yang panjang dan tidak instant, ya semoga mereka yang berharap itupun penuh dengan kesabaran. Sikap kritis juga tetap harus dibangun untuk menjaga kekuasaan jatuh pada kesewenganan, misalnya.

  9. jerry says:

    Urung rembuk,

    Ditilik dari peristiwa terpilihnya Obama sebagai presiden, tidak dapat disangkal lagi bahwa peristiwa tersebut sangat fenomenal. Mengapa? peristiwa fenomenal biasanya memiliki ciri yang unik, tidak umum atau yang lebih ekstrim lagi “sesuatu yang dianggap mustahil terjadi” oleh karena itu memiliki efek menggemparkan atau menghebohkan.

    Terpilihnya Obama telah menciptakan sejarah baru di US, sebagai presiden kulit hitam pertama. Isu ras mungkin membantu Obama memenangkan pemilu, tetapi menurut saya kebanyakan orang amerika tidak begitu mudah disuap dengan isu ras semata. Saya setuju dengan k’ neil, kapasitas seorang Obama sudah nampak sejak mahasiswa, itu nampak ketika Obama menjadi mhsw kulit hitam pertama yg terpilih menjadi ketua “Harvard Law Review” -organisasi mahasiswa yg sangat prestisius.dst..dst… http://id.wikipedia.org/wiki/Barack_Obama

    Kapasitas Obama ini kemudian menemukan momentum oleh isu-isu yang telah menggelitik masyarakat US untuk menatap sebuah perubahan, krisis ekonomi US kemudian menjadi bumbu penyedap suksesnya tema kampanye Obama. Untuk berandai-andai, jika tidak terjadi krisis ekonomi di US apakah jalan ceritanya tetap sama?

    Kegemparan dan kehebohan dari persitiwa fenomenal ini tidak berhenti pada pelantikan Obama sbg presiden US. Terus berlanjut dgn munculnya harapan-harapan dari seantero dunia, indonesia juga walaupun kebanyakan datang dari pengamat politik – indonesia emang terkenal gudangnya komentator, hehe….

    Lucunya, mereka mulai bersungut-sungut ketika harapan2 itu tidak sesuai dengan kenyataan, terutama menyangkut politik luar negeri. Persoalannya harapa2 itu dibangun dari statemen seorang CAPRES, itupun dengan interpretasi yang melibatkan kepentingan masing-masing sehingga menghasilkan harapan yang “berlebihan” karena lepas dari konteks.
    Tentu saja masih ada orang2 yg tidak takabur….

    Obama sebagai Capres partai Demokrat berbedai dgn Obama sbg Presiden USA!
    Sudah saatnya kita lepas dari pidato kampanye seorang CAPRES dan mulai mencermati, mengkritisi dan membangun harapan dari pidato-pidato Barack Hussein Obama II sebagai seorang presiden USA.

  10. Neil says:

    Untuk berandai-andai, jika tidak terjadi krisis ekonomi di US apakah jalan ceritanya tetap sama?

    Ini sulit dijawab karena sejarah kan bergulir. Namun, jika berandai-andai, maka saya menilai momentum Obama sulit ditahan. Pertama, Obama mengalahkan Hillary tidak karena isu itu. Kedua, jika kita cermati, dari respon publik dalam kampanye, McCain tetap kalah populer. McCain tampak seperti dapat durian runtuh ketika memilih Palin dan ibarat meteor, tiba-tiba pooling-nya naik. Ini sempat membuat kubu Obama kelabakan, karena kalangan abu-abu atau yang wait and see mulai menampakkan sikap lari ke Palin karena status keperempuanannya. Jika kita abaikan fakta krisis ekonomi, apa yang terjadi? Coba kita cek beberapa fakta kepleset-nya Palin dalam wawancara-wawancara penting dan kampanye yang seperti dijaga dengan ketat oleh teks/briefing. Ini mencuat dengan sendirinya. Belum lagi ditambah perilaku glamournya sehingga, menurut saya, belakangan justru McCain yang akhirnya melindungi Palin.

    Namun, saya kira Obama cs tetap “bersyukur” pada datangnya krisis, walau kini “menuai” badai krisis itu. Di situlah saya katakan, ada banyak faktor kait-mengait menjadikan momentum itu besar. Jikapun tanpa krisis, saya memerkirakan Obama tetap menang, walau tidak sebesar margin yang ada akibat krisis.

  11. kaleb says:

    kalau dari sisi politik saya sama sekali enggak ada komentar,karena saya memang awam dalam hal ini,tapi ada satu hal yang lucu di sini,anda seorang yang sangat berapi-api menyampaikan konsep berpikir ala filsuf alias pola pikir meninggalkan kekanak-kanakan (leaving the immaturity) dan berusaha mengajarkan pola pikir kedewasaan,yang menurut anda asal tidak asal ngecap,tapi dari paragraph terakhir dari segi budaya saya masih menagkapa anda masih mempertahankan ethnocentrism dalam artian anda menilai kesejahteraan suatu negara bedasarkan pola pikir anda saya setuju dengan saudara Tryono jangan pernah mempertanyakan apa yang bangsa ini bisa berikan pada kita tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan pada bangsa ini,bangsa ini tidak perlu kritikus yang mengkrtik pola kepepimpinan negara bangsa ini memerlukan orang-orang yang mau meluruskan apa yang bengkok dan mendukung apa yang sudah lurus.karena buat saya kemakmuran keadilan adalah hal yang abstrak–dia tidak pernah ada dengan sendirinya tetapi dia ada karena kita berpikir dia ada,jadi selama ini yang tudak dail bukan sistemnya tapi pola pikir kita dan yang membuat bangsa ini tidak makmur juga [pola pikir kita,coba bayangkan kalau kita berhenti mengkrititik dan mulai bertindak (contoh: menyisihkan gaji kita untuk pekerjaan sosial) secara tidak langsung kita akan mendukung kesejateraan bangsa,tinggalkan ethnocentrism dan jadilah pribadi yang dewasa (a soul with maturity).

  12. graceofheaven says:

    Saya surprise dengan respons dari kak Neil, it just hit on the spot! Kemenangan Obama sangatlah fenomenal dan tak dapat disanggah lagi. Selain dari sisi ras, Obama juga datang dari latar belakang keluarga middle class America, bukan dari kalangan politik (seperti Bush/ Clinton, etc).
    Untuk menjelaskan kenapa kemenangan dari sisi ras ini sangat fenomenal, sepertinya cukup complicated….
    Saya tak bisa bertutur panjang lebar tentang hal tsb. Bisa2 mengarang indah saking panjangnya.
    Obama juga berani unjuk gigi terhadap sistem asuransi kesehatan di Amrik yang sarat dengan permainan kotor dan keputusan yang diambil untuk menutup fasilitas Gitmo serta menarik pasukan AS dari Iraq/ Afganistan secara bertahap sangatlah berani. Dengan begitu, Obama telah menepati beberapa janji pentingnya…..(dibanding dengan Bush yang tidak pernah menepati janji/ policy-nya). Dapat dikatakan Obama mewarisi reruntuhan Amerika dari Bush dan kinerja yang telah dibuktikan Obama dalam tiga bulan pertama, jauh melebihi kinerja Bush dalam 2 (dua) periode kepresidenan.
    Memang Obama bukanlah Sang Messiah atau Juru Selamat, tapi dia adalah sosok seorang presiden yang benar melayani negara & rakyatnya.
    Kenapa saya bisa ngomong begini, karena saya juga merasakan impactnya sejak saya residen di Amerika selama beberapa tahun terakhir, dan memiliki anggota keluarga yang serving outside the country (iraq/ Agfan).

  13. C.A. says:

    Obama punya pengalaman yang luas menjadi community organizer. Dia terbiasa mengurus orang miskin, lansia, dan masalah pendidikan bagi orang miskin dalam makna yang sebenarnya. Moral force yang disebut Neil mendapat tempatnya di sini, karena dia sudah terbiasa bekerja cepat, melawan waktu. Bayangkan salah satu tugasnya pada waktu belum menjadi senator adalah mengurus penyediaan dan pembagian Sup Panas di musim dingin bagi kaum tuna wisma. Ini berbeda dengan George W Bush yang sejak lahir sudah dari keluarga jutawan minyak, terbiasa mendapat keistimewaan, kurang menghargai perjuangan orang miskin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *