Senter Ulang Trimester

Oleh | 19 February 2009 | Kampus

Ketika merapikan arsip surat elektronik beberapa hari lalu, saya membaca ulang semua transkrip korespondensi yang pernah saya lakukan dengan beberapa narasumber semasa saya masih bergabung dengan Scientiarum. Salah satunya adalah soal trimester versus dwimester, yang percakapannya saya lakukan bersama Neil Semuel Rupidara, dosen Fakultas Ekonomi yang kini sedang studi doktoral di Macquarie University, Australia. Percakapan ini sendiri berlangsung sekitar awal Desember 2008. Setelah membacanya ulang, saya merasa harus menyiarkan transkrip ini, karena ia telah menjawab semua keraguan saya terhadap trimester, dan secara efektif telah menunjukkan kelemahan sistem kalender akademik yang dipakai Universitas Kristen Satya Wacana saat ini — separuh trimester (tiga semester dalam satu tahun), separuh lagi dwimester (dua semester dalam satu tahun), tapi berkedok semester ganjil, genap, dan “pengayaan”. Saya harap warga UKSW yang membaca transkrip ini bisa turut melempar pemikiran kritis terhadapnya, agar kita bisa mendapat kajian bermutu soal sistem kalender akademik kita. Selamat membaca!

SATRIA: Pak Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. Dengan dwimester, beban kredit mahasiswa memang jadi lebih “berat” (18 SKS per semester). Karena itulah, rasionalisasi John Titaley untuk trimester selalu mengatakan bahwa “beban berat” tersebut (36 SKS per tahun untuk mahasiswa “normal”) tak lagi dibagi jadi dua, melainkan tiga, jadi 12 SKS per semester.

Jika dilihat dari segi kuantitas saja, memang benar bahwa beban kredit mahasiswa pada trimester jadi lebih “ringan”. Tapi bukankah waktu belajar trimester lebih pendek daripada dwimester? Dwimester, dengan beban yang “berat”, menyediakan kesempatan belajar yang lebih panjang daripada trimester. Sedangkan trimester, dengan beban yang “ringan”, menyediakan kesempatan belajar yang lebih pendek. Pilihan terhadap trimester atau dwimester, bagi saya, tak ubahnya seperti trade-off yang punya opportunity cost-nya masing-masing.

Mungkin, preferensi dan kebiasaan pribadi tentang cara belajar ikut mempengaruhi pengambilan pilihan ini. Orang yang suka mencicil belajarnya dengan enteng tapi cepat, mungkin akan lebih suka dengan trimester. Tapi, orang yang suka dengan gaya belajar borongan dalam waktu lama, mungkin akan lebih suka dengan dwimester.

Masalah sebenarnya justru terletak pada beban 144 SKS dalam waktu empat tahun untuk seorang sarjana. Sehingga, menurut saya, pilihan yang seharusnya kita ambil adalah: 1) mengurangi jumlah SKS untuk empat tahun; atau 2) menambah panjang waktu studi yang sesuai dengan jumlah SKS yang 144 itu.

Mestinya Satya Wacana tak perlu taati keputusan Menteri Pendidikan Nasional, soal syarat minimal 144 SKS untuk sarjana, jika hal itu memang terbukti salah. Itu kan cuma formalitas. Kenapa tak “membangkang” saja, asal tujuannya benar? Satya Wacana pernah melakukannya dalam penerapan SKS tahun 1975 bukan? Contoh lain yang paling dekat dan mutakhir adalah Qaryah Thayyibah. Jika institusi “kecil” macam QT saja bisa membangkang dengan ide-ide revolusionernya, dan akhirnya dapat pengakuan, kenapa Satya Wacana yang “besar” ini justru ciut nyali ketika berhadapan dengan Pemerintah c.q. Depdiknas c.q. Dikti c.q. Kopertis?

NEIL: Sat, coba analisisnya soal trimester versus dwimester ditempatkan dari sudut microprocess, bagaimana belajar itu harusnya terjadi di perguruan tinggi. Dalam hal ini, referensi saya harus selalu saya bawa ke pembelajaran perguruan tinggi di Barat khususnya. Mengapa begitu?

Pertama ingat, model SKS pun kita adopsi dari Barat. Menurut seorang teman Fakultas Teknik Elektro angkatan 1973, di tahun 1973 ada tiga dosen Elektro mulai mengenalkan pola evaluasi nisbi. Mereka adalah dosen-dosen UKSW yang berlatar pendidikan Barat. Tahun 1974, UKSW mengujicobakan SKS di FTE dan 1975 diadopsi untuk seluruh UKSW. Saya duga itu terjadi setelah dan karena Willi Toisuta bergabung kembali di UKSW sebagai Pembantu Rektor Urusan Perencanaan, Pengembangan, dan Hubungan Masyarakat. Beliau juga yang membawa gagasan SKS agar diadopsi oleh Dikti.

Kedua, memang di Barat-lah yang tampaknya pertama terjadi pergeseran model belajar dari yang sentral di dosen atau model liberal atau behavioural (karena asumsi dosenlah ahlinya dan mahasiswa ibarat kertas putih kosong yang harus diisi) ke arah mahasiswa. Beralihnya filsafat pedagogis ke arah bahwa mahasiswa juga pelaku penting dan ikut mengonstruksi pengetahuan, menempatkan proses belajar harus dihitung pada jumlah dan kualitas aktivitas belajar pada mahasiswa. Itulah esensi SKS. Dari setiap 1 SKS (setara 3 jam), porsi dosen (tatap muka) cuma sepertiga. Dua pertiganya adalah porsi mahasiswa. Bahkan, banyak model tatap muka di Barat pun yang sudah beralih dari sekadar porsi dosen ke porsi bersama atau sebagian di antaranya porsi mahasiswa, untuk mengekspresikan apa yang dipelajarinya di dua pertiga waktu belajar itu.

Soal saya adalah konsistensi menjalankan SKS atau sistem kredit itu. Jelas selama ini SKS tidak berjalan sesuai disiplin sistemnya. Sebagai dosen, saya pun ikut berkontribusi pada tidak jalannya SKS karena toh sejak 1995 saya menjalankan pengajaran sama seperti yang saya keluhkan sekarang. Saya ngajar dan sedikit memberi porsi bagi aktivitas belajar mahasiswa, walaupun saya sudah menerapkan model presentasi mahasiswa cukup lama. Namun, saya belum menuntut mahasiswa untuk menjalankan dengan benar porsi dua pertiga miliknya itu, karena tidak memadainya porsi tugas terstruktur yang saya berikan atau bimbingan bacaan untuk belajar mandiri bagi mereka.

Nah, pengalaman belajar saya di University of Groningen mulai pelan-pelan buka mata saya. Semester satu kami waktu itu cuma ambil empat matakuliah. Tetapi jujur, kami hampir tidak sanggup manage waktu belajar (temasuk porsi sepertiga pertemuan tatap muka di kampus) kami dengan baik. Dosen selalu kasih tugas terstruktur. Walau waktu itu dua minggu satu kali, tapi untuk mengerjakannya, ya waktu selama dua minggu itu terpakai full. Belum lagi harus baca untuk minggu tatap muka yang dipimpin oleh dosen dan menyiapkan untuk diskusi kelas pada minggu tatap muka yang berisi presentasi-presentasi mahasiswa. Akhirnya pada semester dua, tidak ada di antara kami yang berani ambil empat matakuliah lagi. Saya cuma ambil tiga. Beberapa teman kami yang gabung semester dua di Groningen (semester satu mereka dari Perancis atau Skotlandia) ada yang mau coba dan kami senyum-senyum saja. Di Perancis, modelnya gaya MBA lebih banyak diskusi di kelas dan kurang tugas-tugas paper seperti di Belanda. Di Skotlandia juga kira-kira begitu.

Dan benar, tidak berapa lama kemudian mereka mulai drop satu matakuliah karena beban yang tinggi itu — di Groningen kami masih bisa drop matakuliah sampai hampir tengah semester. Nah, karena itu semester dua, dosen menganggap kami sudah siap dengan model spartan mereka dan sejak minggu pertama tugas sudah mulai “meluncur”.

Hitungan saya akhirnya ke jumlah matakuliah. Saya tidak ke SKS, walau dalam berbagai argumen saya di UKSW saya ke SKS juga. Setelah saya telusuri dari satu universitas ke universitas lain (via internet), kebanyakan kalau tidak empat matakuliah, ya tiga atau lima kadang-kadang. Satuan kredit mereka beragam. Kami di Belanda, misalnya, pakai satuan kredit yang disebut 6 ECTS yang berlaku se-Eropa (negara-negara Eropa Barat, tapi kini Uni Eropa mulai luas). Kuliah tatap muka kami ya sama, dua jam. Jadi, angka 6 bukan setara 6 SKS versi Indonesia yang membawa konsekuensi 6 x 50 menit tatap muka.

Bandingkan dengan di Fakultas Ekonomi ketika kami mulai perkenalkan matakuliah dengan 4 SKS, dimana tatap muka lalu menjadi 4 x 50 menit (200 menit) dan karena kami menilai konsentrasi belajar itu mencapai peak pada menit ke-40 atau 45, lalu turun, maka kami menilai kalau masih di bawah dua jam (atau 2 x 50 menit), masih oke. Jadi yang 4 SKS harus dipecah jadi dua kali pertemuan.

Kalau 6 ECTS sama dengan 6 SKS, maka kira-kira ada tiga kali pertemuan. Ini membawa komplikasi proses, menurut saya. Itu tidak terjadi sewaktu di Belanda. Tatap muka tetap sekali dalam seminggu. Cuma, belajar terstruktur dan mandiri yang luar biasa tinggi bisa saya setarakan menit belajarnya dengan 6 SKS kita. Jadi, karena tidak sama ukuran SKS itulah saya lebih suka melihat jumlah matakuliah, tetapi sekali lagi, untuk menghitung konsekuensi jam saya pun berhitung di atas SKS juga.

Nah, dari hitung SKS maupun jumlah matakuliah, dengan mengambil asumsi satu matakuliah sama dengan 3 SKS, maka tiap semester dalam trimester ada empat matakuliah. Merujuk ke pengalaman Groningen dan referensi kurikulum di banyak universitas banyak negara, saya kira itu masih oke. Namun, kalau dwimester (dengan asumsi yang sama, 3 SKS), maka ada enam matakuliah dalam satu semester. Jadi kelebihan dua matakuliah dari referensi standar saya, empat matakuliah.

Hitungan jam juga sudah saya buat. Di trimester, sekitar 36 jam per minggu harus dikonsumsi untuk belajar (sepertiganya tatap muka di kelas, dua pertiganya mahasiswa belajar di luar kelas). Tapi kalau polanya dwimester, waktu belajar itu jadi 54 jam. Nah, John Titaley menggunakan referensi International Labor Organization soal jam kerja standar yang berkisar 36 sampai 40 jam itu. Walau ada mahasiswa yang keberatan dengan bilang, emangnya kami buruh, tapi Titaley benar jika kita bicara soal konsumsi jam yang wajar untuk konsentrasi melaksanakan satu kewajiban — dalam hal ini kewajiban mahasiswa adalah belajar. Dan, melakukan kewajiban tersebut di atas jam wajar, memang sesungguhnya tidak manusiawi.

Nah, kembali ke soal saya di atas, soal disiplin SKS. Jadi, mau dua atau tiga semester setahun, SKS tetap meminta dosen disiplin menjalankan sepertiga waktunya untuk kegiatan tatap muka atau minimal sekitar 2-3 jam seminggu (ingat model ECTS), dan membimbing mahasiswa untuk belajar di luar kelas dengan menyiapkan tugas terstruktur untuk mengisi sepertiga lagi waktu belajar mahasiswa yang perlu dipenuhi dengan penyerahan tugas resmi, serta sepertiga lagi untuk membimbing mahasiswa mau tidak mau membaca bukan saja untuk mengerjakan tugas yang sudah sepertiga tadi, tapi ya supaya siap ketika tatap muka di kelas, karena tatap muka bukan lagi dipakai dosen untuk ceramah sendiri, tetapi itu adalah masa diskusi, tanya-jawab, atau kadang diformat jadi debat mahasiswa.

Jika itu jalan penuh, saya menilai tidak mungkin mahasiswa sanggup berjalan lebih dari empat matakuliah atau 12 SKS (masing-masing matakuliah 3 SKS). Saya sudah punya pengalaman pribadi. Saya juga sudah melihat dengan mata kepala saya sewaktu di St. Olaf dan di Macquarie. Kurikulum berbagai universitas yang tadi saya katakan cuma ada sekitar empat matakuliah dalam setiap semester. Itu, secara implisit, membenarkan saya.

Jadi, ini bukan soal preferensi panjang versus pendek waktu dalam satu semester. Ini soal mampu tidak kita handle proses dan beban belajar setiap minggu. Itulah dimensi microprocess-nya. Dwimester, yang berbeban standar enam matakuliah (yang IPK-nya 3 ke atas bisa lebih), akan punya beban lebih panjang dari trimester. Jadi, tekanan di setiap minggu yang sudah berat itu harus ditanggung lebih panjang (minimal 16 minggu, syarat Dikti). Ini kalau kita benar lho jalankan dwimester, tapi nanti saya akan tunjukkan bahwa kita juga bohong-bohongan dengannya. Apa sanggup tuh anak-anak? Sudah spartan tiap minggu, beban itu pun bertahan lama, 16 minggu. Atau, karena tidak sanggup, lalu kita biarkan saja jalan dengan model kuliah sekarang? Kuliah ya pada dasarnya sama dengan ceramah dosen, mahasiswa baru in action kalau ada tes (sedikit kuis dan dua kali tes). Tugas membaca ya bisa jadi diminta, tapi kalau tidak baca, ya tidak ada konsekuensi apa-apa. Paling-paling seperti Bu Konta yang misuh-misuh dan makan hati, barangkali itu pikiran mahasiswa. Jadi, saya sulit mengerti kemampuan kita handle belajar yang benar di perguruan tinggi dengan load dwimester.

Nah, jelas asumsi di atas saya buat dengan kenyataan ada 144 SKS yang harus dipenuhi untuk jenjang S1. Kenapa kita tidak lawan ketentuan Pemerintah saja? Sat, kalau ini jelas saya tidak berani. Saya percaya siapapun di Satya Wacana tidak akan berani untuk tiba-tiba Satya Wacana buat jadi 120 SKS saja, walaupun kita bisa membuat dengan cara tertentu untuk meringankannya (nanti cek model kurikulum Program Studi Ilmu Ekonomi dan asumsi kurikulum FE bahwa jalur riset harus mengambil porsi setidaknya 20 SKS).

Kalau beralih ke trimester, kita punya ruang secara legal karena memang ketentuan Pemerintah berbunyi minimal dua semester. Namun, soal 144 SKS, tidak ada ruang untuk itu, bahkan ketentuannya berbunyi minimum 144. Jadi 144 adalah standar paling bawah. Namun, saya kira orang UKSW harus tampil untuk ngomong bahwa 144 adalah beban yang kebablasan dan argue untuk diturunkan. Namun, sebelum turun, saya kira adalah risiko yang terlalu besar yang diambil secara kelembagaan jika melawan. Dulu pun ketika mengenalkan SKS, saya kira UKSW tidak main di sektor itu.

Kita masih punya wilayah manuver, seperti yang kami lakukan di FE. Saya pribadi propose untuk naikkan jumlah SKS per matakuliah, misalnya jadikan semuanya tiga atau malah empat. Namun, kita atur ulang sistem perkuliahan tatap mukanya. Opsi lain adalah memberi bobot yang lebih tinggi pada riset. Yang tidak ambil jalur riset bisa ambil magang atau bentuk pengganti dengan bobot yang bisa disesuaikan.

Di Program Studi Ilmu Ekonomi, setelah saya tetapkan bobot pembeda riset dan non-riset paling tidak 20 SKS, Marthen nDoen lalu propose skripsi sama dengan 10 SKS, lalu sisanya matakuliah-matakuliah metode penelitian yang dipecah beberapa tahap, tapi menyatu dengan proyek riset, bukan model kuliah metode penelitian seperti sekarang. Jadi, akhirnya matakuliah model sekarang cuma ambil 124 SKS, sisanya 20 untuk riset dan itu dibayangkan jalan terus dalam jangka waktu setahun, mulai menyusun topik, masalah, dan persoalan penelitian serta literature review, merancang model penelitian, mengumpulkan data, menganalisis data (semuanya ini sekitar 10-12 SKS dan kalau tidak salah dibagi jadi tiga tahap), dan pembuatan laporan (skripsi yang 8 atau 10 SKS itu). Dengan rekayasa kurikulum seperti itu, kuliah sebetulnya cuma 124 SKS. Nah, kenapa porsi riset cuma 20, tidak lebih besar untuk mengurangi porsi kuliah? Inipun adalah bentuk kompromi karena sulit untuk tiba-tiba berubah, karena referensi orang masih ke arah model kurikulum lama, enggan untuk kurangi matakuliah yang tadinya ada, dan enggan ubah jumlah SKS karena di mana-mana ya 2 atau 3 SKS, lha kok kita mau beda?

Jadi, opsi untuk melawan 144 SKS bisa kita lakukan dengan main di aras kurikulum, bukan frontal mengatakan bahwa S1 di UKSW cuma 120 SKS. Ini jelas kita cari perkara.

Kenapa Qaryah Thayyibah berani? Pertama, saya harus salut mereka dulu. Kedua, kita punya beban institusional lebih tinggi dari mereka, karena kita sudah ada dan berinteraksi di ruang legal formal secara luas. Karena itu, risiko atau pertaruhan kita lebih besar dari mereka.

QT mungkin bisa saja tidak dipusingkan karena bisa dianggap sebagai sebuah paket belajar (walau saya kira label ini kurang tepat) bagi anak-anak sebuah komunitas dengan risiko yang dipertaruhkan relatif lebih kecil dari UKSW. Saya lebih suka memandang mereka “aneh” pada dimensi pedagogis, dan bukan pada struktur kurikulum wajib. Mereka memanfaatkan betul kurikulum lokal untuk kebebasan anak. Namun, karena kedekatan psikologis antara anak dalam komunitas dengan QT sebagai organisasi pendidikan, keanehan mereka tidak membawa pertaruhan besar.

Akan lain jika itu terjadi pada Satya Wacana. Saya kira kita harus berhitung dengan sangat hati-hati. Namun, sekali lagi, kita harus muncul dalam isu nasional soal beban 144 SKS yang terlalu tinggi dan fight habis-habisan untuk diturunkannya angka itu ke yang lebih rasional. Tapi, bagi saya, UKSW harus bermain secara bertahap untuk itu. Too much at stake jika kita kita langsung tabrak.

Nah, soal dwimester yang bohong-bohongan, begini Sat. Saya ini ngajar sejak 1995. Di kala itu kan jelas kita semua dwimester di UKSW, walau FE di tahun 90-an mulai menawarkan semester pendek.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa benar kita punya tatap muka minimal 16 kali?

Supaya saya tidak klaim buta, kamu bisa minta dokumen presensi jaman itu, kalau masih disimpan. Di FE, misalnya, kami plot dua minggu TTS dan dua minggu TAS, tidak boleh ada kuliah selama empat minggu itu. Jika saja dwimester punya total minggu 19, maka sudah tinggal 15 minggu. Namun, saya kira yang lazim digunakan adalah sekitar 17 minggu, sehingga kalau kurang empat minggu, sudah tersisa 13 minggu. Nah lho!

Ini belum lagi berkurang jika dosen berhalangan. Jadi, kadang ya cuma 12 minggu. Silakan kamu cek. Saya katakan, saya sudah mengajar di jaman itu dan itu juga bagian pengalaman saya. Lalu apa kita mau bohong-bohongan dengan seolah meyakinkan bahwa dwimester minggu efektifnya lebih panjang dari trimester? Sorry, saya tidak percaya.

Sejak berpraktik trimester, FE memangkas minggu tes wajib untuk semua, yang tadinya total empat itu, cuma jadi satu minggu, yakni TAS. Selebihnya, dosen organisir sendiri. Jadi, dari 14 minggu yang disediakan untuk trimester, kami cuma cut satu minggu, tinggal 13 minggu. Selebihnya, kami justru didorong untuk membuat sistem evaluasi yang built-in dalam 13 minggu itu dan ini mendorong kreativitas dan variasi. Memang, dosen yang “kolot” ya tetap saja model dwimester dibawa. Dia plot lagi satu minggu untuk TTS, biasanya ambil Sabtu. Dia ambil sedikit untuk kuis, biasanya beberapa menit dari jam ngajar. Namun, mulai ada dosen yang bisa mengembangkan model evaluasi proses, yakni tugas yang kontinu, partisipasi yang dinilai, presentasi mahasiswa, dan sebagainya. Saya duga bentuk-bentuk evaluasi kita jadi jauh lebih bervariasi.

Jadi, apa benar dwimester lebih panjang? Bisa ya, bisa tidak. Tapi, argumen saya di atas menunjukkan bahwa jika disiplin SKS berjalan sebagaimana seharusnya, maka beban tinggi yang panjang akan berakibat pada beban yang berlebihan. Mahasiswa bisa underpressure dan mengarah pada kondisi psikologis yang disebut burnout, yakni kelelahan psikis dan fisik yang akut. Ini berbahaya, dan karena itu, SKS yang berdisiplin dalam kondisi 144 SKS dan dua semester per tahun tidaklah realistis.

Di samping itu, ada argumen bahwa constant pressure bagi mahasiswa itu baik. Jadi, bukan beban berlebihan, tapi habis itu leha-leha (libur antarsemester yang panjang), namun beban yang wajar tetapi kontinu. Jika kita ambil manusia pekerja normal, maka tiap minggu sama dengan kerja, kecuali hari-hari libur yang memang sudah ditentukan. Jadi, manusia normal beristirahat di sela-sela kerjanya yang kontinu.

Apakah mereka yang bertani, misalnya, lain? Kalau petaninya, ya ada masa non-tani, tapi mereka tetap mengupayakan kerja dalam bentuk yang lain. Jadi, kalau bertani adalah asumsi sosiokultural untuk menerima pola kerja panjang habis itu libur panjang, saya kira juga kurang pas. Celakanya, analisis Fukuyama (kalau tidak salah) menuding mereka yang hidup di dua musim kalah dari yang empat musim karena soal disiplin dan dinamika hidup. Jadi, hidup dalam konsistensi tekanan yang wajar membuat kita selalu dinamis, itu tafsir saya. Namun, saya bawa kita kepada kehidupan modern normal yang bekerja di sektor-sektor modern, bahkan pertanian modern. Ya, setiap minggu sama dengan kerja. Kita istirahat akhir pekan atau di sela-sela kegiatan. Kalau butuh break agak panjang, ya tidak terlampau panjang, bisa ambil cuti 12 hari di sektor kerja modern, walau harus diatur sedemikian rupa.

Jadi, membiasakan mahasiswa berhadapan dengan constant pressure saya kira kok sesuatu yang wajar dan bakal seperti itu dihadapi ketika mereka menghadapi dunia kerja. Mungkin mahasiswa berpikir, ah jangan dulu, kan ini belum masa kami bekerja, jadi memang biarkanlah kami berlibur. Hmm … boleh saja, tapi mahasiswa pun tetap bisa mengatur strategi pengambilan matakuliah yang lebih ringan di model trimester untuk mengakomodasi kepentingan bersantai itu.

Di Barat, kenapa dwimester, libur alih semester yang panjang (biasanya summer) dimanfaatkan untuk proyek akademik dosen. Banyak dosen sudah merancang untuk ikut konferensi dan sebagainya. Jadi, libur itu adalah masa riset dan publikasi, walau ada juga yang memang menikmati sebagai libur. Misalnya, waktu di Belanda pembimbing saya pakai awal satu bulan untuk libur, katanya. Tapi saya duga biasanya mereka manfaatkan untuk sesuatu yang produktif juga. Jadi itu adalah bagian dari kultur akademik, kultur riset. Di Indonesia, adakah yang begitu? Alasan untuk memiliki libur panjang tidak didukung oleh kinerja riset dan Indonesia adalah negara dengan produktivitas riset yang rendah. Lalu, bagaimana dwimester harus didukung dari sudut dosen kalau ada motivasi hanya untuk sekadar libur? Di FE pun tadi saya katakan itu dipakai untuk semester pendek. Jadi, kembali lagi, teaching. Maka sulit untuk mengerti bahwa itu bisa berguna dari matra Tri Darma Perguruan Tinggi yang lain. Teaching pun ya akhirnya, karena sudah capek ngajar di dua semester dengan beban ngajar yang banyak dan kebetulan semester pendeknya benar-benar pendek, ya secara psikologis jelas tidak cukup produktif, walau ada dosen yang tetap berdedikasi baik.

Jelas bahwa trimester di UKSW tetap menjamin peluang riset, yakni dengan satu semester off. Cuma, para dosen dan pimpinan-pimpinan fakultas saja yang belum terbiasa untuk mengaturnya, sehingga pemanfaatan satu semester off tidak berjalan sebagaimana peluang yang ada. Jadi, ini isu kultur riset yang belum ada.

Nah, cuma catatan saya, menjalankan trimester tidak dengan sendirinya membuat ideal hitung-hitung dan argumen saya di atas bisa jalan. Kita semua lahir dan besar di rejim dwimester. Perilaku kita adalah bawaan sistem itu. Jadi, apa yang terjadi adalah sedikit chaos pada mulanya. Perilaku untuk menempatkan sistem belajar di perguruan tinggi yang merupakan interaksi kemandirian mahasiswa dan fasilitasi oleh dosen tidak mudah datang. Harus ada effort lain secara programatik untuk membangun kultur yang manifestatif dalam kebiasaan bertindak.

Saya jujur saja cukup capek di FE cuap-cuap mendorong paradigma pedagogis baru diadopsi, termasuk untuk melawan pandangan bahwa kalau dosen tidak berceramah, maka itu dosen malas. Saya fight pada tataran personal. Misalnya, hampir semua kuliah saya tidak ada tes, isinya tugas-tugas. Saya tidak selalu mengajar, bahkan saya belajar menempatkan diri untuk biarkan mahasiswa full in control (walau cukup banyak kasus tergelincir karena mahasiswa tidak siap) atau bahkan saya ikut duduk menyimak dan belajar dari mereka.

Kombinasi belajar di dalam dan di luar kelas saya tekankan. Mahasiswa mengeluh, tapi tidak sedikit yang mengapresiasi karena akhirnya dia tahu bagaimana dia belajar. Ada mahasiswa yang mengatakan pada saya, untung tidak semua matakuliah begitu (anak ini tergolong pandai, “cuma” ambil enam matakuliah saat dia ambil matakuliah saya). Dia bilang hanya sekitar tiga matakuliah yang rajin beri tugas, itupun tidak setiap minggu. Bayangkan, baru tiga yang agak aktif saja sudah begitu. Saya duga itu karena peralihan pola mahasiswa diam dengar dosen dan baru on kalau ada tes. Gimana kalau keenamnya jadi agak aktif atau aktif penuh? Ini kasus di trimester lho, jadi ambil enam matakuliah di trimester itu karena banyak matakuliah yang 2 SKS. Anak itu ber-IPK bagus dan berdasarkan tabel pengambilan matakuliah, “berhak” mengambil SKS yang besar.

Jadi, prinsipnya saya setuju kesimpulanmu soal 144 SKS yang kebanyakan, tapi saya lihat, perlawanan frontal bukan cara yang bijak bagi UKSW. Karena itu, bermain di trimester adalah pilihan yang tepat, di samping sebagai upaya untuk: 1) pulihkan makna sistem kredit semester (SKS), 2) pulihkan pola belajar di perguruan tinggi yang benar (student-centered learning), 3) tumbuhkan kreativitas dosen dalam pengelolaan pengajaran (reformasi pedagogis, artikel kedua saya untuk Scientiarum), 4) kurangi secara sistematis beban dosen dan dorong kinerjanya di sektor riset (menuju universitas riset), 5) integrasikan pendekatan riset dalam pengajaran (research-based teaching and learning), 6) melakukan perubahan signifikan pada kurikulum (membangun kekhasan kurikulum atau program studi), dan akhirnya maju berargumen melawan Pemerintah soal 144 SKS.

Ada beberapa capaian lain yang bisa muncul, yakni penguatan profil riset di S1 pada jalur mahasiswa skripsi (ini setara program honours di luar negeri, Amerika, Australia misalnya). Mereka yang mengambil jalur ini dan dinilai bagus (tentu dalam interaksi yang intens dengan pembimbingnya), bisa jumping ke program doktoral. Dengan begitu, UKSW berpeluang menghasilkan doktor-doktor yang masih muda. Asal kualitas program doktor juga dijaga dengan sangat baik, maka hasilnya akan bagus dalam perspektif, masa produktif doktor-doktor muda ini panjang. Mereka bisa beri kontribusi lebih banyak, baik secara keilmuan atau di bidang profesional lain.

Dengan pola riset yang menguat, maka produktivitas riset kita akan meningkat. Di samping menguatkan profil universitas riset dan bisa pengaruhi rangking universitas. Hal terpenting — terkait juga dengan daya tarik program doktoral di atas — adalah banyak riset akademik muncul untuk menjawab masalah-masalah nyata. Artinya, kampus memang jadi dapur pemikiran bagi kemajuan masyarakat.

SATRIA: Salah satu tuduhan serius terhadap trimester adalah ia dianggap sebagai cara mengarbit mahasiswa, meningkatkan “produktivitas” universitas dalam mencetak sarjana (karena banyak mahasiswa bisa “lulus cepat”), yang pada akhirnya membawa konsekuensi keuangan berupa percepatan arus pemasukan kas UKSW. Faktanya, ketika trimester masih jalan, ada mahasiswa di FE yang ambil SKS di atas 18 dalam satu semester. Di Fakultas Hukum, ada mahasiswa ambil 22 atau 24 SKS dalam satu semester. Padahal, batas untuk mahasiswa “jenius” (IPK 4,00) pada trimester, seperti selalu ditekankan John Titaley, adalah 18 SKS per semester. Jadi, ada pelanggaran dari ide awal trimester.

John Titaley sendiri selalu bilang, kesalahan itu bukan dari pihaknya, melainkan dari fakultas-fakultas yang menjalankan sistem. Tapi, ketika Titaley masih menjabat rektor, apakah dia tak bisa melakukan kontrol terhadap fakultas, menegur dan memberi punishment jika ada pelanggaran? Apakah fakultas-fakultas sedemikian otonomnya, hingga ini adalah indikasi bahwa Satya Wacana bukan lagi universitas, melainkan “multiversitas”?

NEIL: Memang tampaknya kontrol pimpinan UKSW masa John Titaley juga tidak cukup baik. Sebagai sebuah sistem baru yang mudah didistorsi oleh sikap dan perilaku yang diwariskan oleh sistem lama, mestinya ia dijaga dengan baik. Memang kalau tidak salah, sebagai rektor, John Titaley sudah ingatkan. Namun, seharusnya tidak dibiarkan tafsir sendiri-sendiri dilakukan karena akibatnya bisa jadi cuma “ganti baju padahal tidak mandi”, alias “cuma kosmetiknya saja” yang trimester.

Dalam argumen-argumen saya selama ini, trimester bukan untuk membuat mahasiswa secepat-cepatnya lulus. Saya kira John Titaley juga demikian. Beliau memang menekankan soal “jam kerja” (baca: jam belajar) yang sesuai standar ILO. Saya pribadi lebih ke soal proses belajar yang seharusnya, walau nanti ujung-ujung kita ketemu juga di soal konsekuensi waktu atau jam.

Nah, kalau soal proses belajar yang seharusnya (soal kualitas proses, soal beban yang wajar, soal hasil yang diharapkan lebih bisa dipertanggungjawabkan), maka dimensi karbit-karbitan tidak ada dalam kamus trimester UKSW.

Memang kita tidak bisa tolak bahwa trimester akan mempercepat kelulusan dari yang selama ini terjadi. Cuma, jika kita mau lihat data riil, maka rata-rata kelulusan di UKSW (apalagi di Indonesia) masih di atas empat tahun. Coba cek analisis di Buku Laporan Evaluasi Diri UKSW 2007 (saya yang buat pada bagian itu). Padahal, kalau lihat gaftar alir semua fakultas, maka seluruh program studi menyusun kurikulumnya untuk empat tahun. Artinya, kita tidak efektif. Kita rencanakan empat tahun, faktanya meleset dan cukup jauh. Waktu dulu saya masih kuliah tahun 1990-an, katanya sekitar 5,1-5,2 tahun. Belakangan sekitar 4,7 dan kayaknya di trimester turun (saya lupa persisnya, cek buku laporan itu). Jadi, trimester akan menormalisasi kecepatan lulusan. Kalaupun berpotensi lebih cepat, karena berdasarkan gaftar alir pola trimester yang kami susun di FE, jadinya sekitar tiga tahun plus satu atau dua semester, maka itu masih dianggap wajar untuk tataran S1.

Namun, kami menilai bahwa jika di dwimester maunya empat tahun jadinya 4,7 tahun, maka di trimester, gaftar alir yang menyebut tiga tahun (plus satu atau dua semester) realisasinya bisa persis empat tahun. Ini sangat wajar. Sebagai perbandingan, di Amerika untuk bachelor, persis empat tahun dan mereka menyebut angkatan itu dari sudut tahun lulus. Jadi, mahasiswa angkatan 2008 artinya lulus 2008 dan artinya masuk di 2004. Karena itu aneh jika angkatan 2008 lulus 2009. Saya belum pernah cek secara baik, tapi saya mendapat kesan bahwa ya mahasiswa lulus sesuai angkatannya itu. Jadi persis empat tahun. Di Australia, bachelor malah tiga tahun. Namun mahasiswa tertentu yang mau double degree atau ambil jalur honours (jalur ini bisa langsung doktor, tanpa master, karena ditempa riset selama setahun), lazimnya juga empat tahun. Jadi, tampaknya di manapun jenjang bachelor itu antara tiga sampai empat tahun. Maka ketika pendidikan sarjana di Indonesia berada pada rentang tiga sampai empat tahun, itu wajar.

Nah, kenapa saat ini lulus lebih cepat (3-3,5 tahun) dipandang tidak wajar? Bagi saya itu karena beban SKS yang terlalu banyak. Referensi orang selalu ke masa lalu, pendidikan ditempuh lima tahun, bahkan ada yang merujuk tujuh tahun. Gila aja! Padahal terlalu banyak SKS sama dengan terlalu banyak matakuliah. Coba cek baik-baik apa memang perlu segitu? Di sisi lain, overlap antarmatakuliah pun sangat terbuka. Dan, ketika kami tinjau ulang kurikulum FE dan pangkas di sana-sini, yang kami temukan ya overlaps itu.

Yang cukup disayangkan, kita kan cukup berhenti di buku teks — apalagi dosen kita cenderung pakai diktatnya sendiri atau cuma handout. Padahal di mana-mana, orang-orang belajar dengan buku teks plus materi pendalaman. Ambil contoh, manajemen pemasaran ya cuma manajemen pemasaran, tidak pakai pengantar pemasaran dan manajemen pemasaran. Yang macam begitu yang kami pangkas, jadikan 4 SKS — padahal di luar, yang gunakan sistem kredit setara kita, lazimnya 3 SKS. Tapi, itupun sulit membongkar seluruh asumsi dan pandangan yang sudah tertanam di kepala-kepala kita. Jadi, bagi saya pendidikan kita di Indonesia ini cuma keberatan bebannya saja, tapi secara substansial ringan. Nah, karena keberatan beban sama dengan banyak SKS dan sama dengan banyak matakuliah, maka tuntutan waktu studi juga jadi panjang walau tidak perlu.

Usulan saya akhirnya ke SKS dan matakuliah yang lebih ramping, tapi prosesnya yang berbobot. Jika proses belajar berbobot, maka apakah itu karbitan? Saya duga karena referensi orang selama ini adalah cara belajar yang sedang kita praktikkan (SKS gadungan), maka kalau trimester bisa mempercepat dianggap sama dengan karbitan. Nanti akan sama dengan ide mengurangi jumlah SKS dan jumlah matakuliah, kita akan bertarung di isu itu juga, saya bayangkan demikian. Yang lucu, kadang saya bertarung dengan kawan-kawan yang sama-sama pernah mengecap pendidikan di luar negeri. Mereka tahu bahwa belajar dalam satu matakuliah, sekalipun SKS-nya cuma 3, muatan dan proses belajarnya ya tetap tinggi. Mereka ini cuma berpikir, ya itu di Barat sana, di Indonesia kan sudah punya polanya sendiri. Lha kalau begitu, ya jangan salahkan orang lari cari pendidikan ke luar negeri. Jangan juga salahkan orang prefer lulusan luar negeri. Atau, kalau mau hebat dari sistem pendidikan Indonesia, ya harus ekstra berusaha, dan lazimnya mereka itu datang dari aktivis organisasi kemahasiswaan (apapun itu), karena dapat “training” tambahan. Pendidikan intinya tetap saja menghasilkan (maaf) “sampah” atau mediocre.

Saya kira kita harus terima dulu bahwa pendidikan S1 itu wajarnya tiga sampai empat tahun. Lalu sejalan dengan concern kita tentang pendidikan yang bermutu, ya mari kita bicara praksis pedagogi kita yang saat ini semrawut, tidak jelas apa maunya, tapi tidak mau disalahkan sebagai telah menghasilkan sampah dan mediocre. Jadi, bukan sekadar angka atau kuantitas (jumlah SKS, jumlah matakuliah yang besar, atau waktu pendidikan yang selama mungkin), tapi soal angka yang wajar dan, terutama, proses yang benar-benar bermutu.

Kembali ke introduksi dan pelaksanaan trimester yang masih didistorsi pola dwimester, saya sebetulnya berharap manajemen perubahan yang lebih mantap waktu itu. Itu yang barangkali sejumlah teman nilai sebagai tidak ada blueprint-nya, walau mungkin juga kurang pas penilaian ini, atau ya saya sendiri juga bukan tipe orang yang suka program perubahan yang deterministik. Cuma, proses harus dikawal. Misalnya dengan pertemuan-pertemuan koordinasi dimana orang bisa share apa yang dilakukannya. Dengan begitu, apa yang baik yang misalnya dilakukan di Fakultas Teknologi Informasi bisa diketahui dan dipelajari dan, kalau mau, diterapkan oleh Fakultas Ekonomi. Ini kan ciri organisasi yang belajar: ada sharing, koordinasi, dan pada tingkatan tertentu bisa muncul kontrol agar tidak bias dari ide utama. Nah, ini tempo hari tidak terjadi. Setelah konsep disosialisasikan dan secara formal diketok palu bahwa UKSW jalankan trimester, maka masing-masing lalu bertanggungjawab jalankan sendiri. Jadinya ya tafsiran beragam itu. Ini pada akhirnya justru mengacaukan image trimester sendiri, seperti tuduhan yang kamu katakan.

Jadi, dalam konteks manajemen perubahan, ada kontribusi kelonggaran kontrol dalam kegagalan implementasi. Saya menyebut begini karena saya pernah minta seorang mahasiswa meneliti soal kegagalan perubahan di UKSW (bukan kasus trimester, tapi magnetic card pegawai). Yang terjadi ya itu, take for granted bahwa setelah dijelaskan, semua akan jalan seperti harapan. Padahal, dalam studi-studi tentang perubahan organisasi, resistensi pasti ada dan wujud resistensi yang paling bahaya adalah justru sikap “ya” di depan, tapi di belakang “nanti dulu”, atau seolah-olah paham tapi memuat tafsiran sendiri, dan menjalankan menurut tafsiran yang, bisa jadi, justru sebetulnya berlawanan dengan konsepnya. Ujung-ujungnya jadi pertentangan.

Tapi oke, jangan hanya karena soal cara atau manajemen, lalu kita tolak esensi. Ini yang kebanyakan terjadi di UKSW dan banyak organisasi lain. Baiklah kita belajar kembali atau refleksi untuk melihat apa langkah korektif yang harusnya diambil.

Karena itu, dalam kacamata menolak sikap mengentengkan tudingan bahwa trimester sama saja dengan dwimester (padahal trimester yang dimaksud justru didistorsi oleh perilaku dwimester), makanya saya ambil posisi “tanam kaki dalam-dalam” dan “kencangkan volume suara”. Ada yang tidak senang barangkali, tapi bagi saya, “mari pisahkan kambing dari domba”. Apa yang kurang pas dipilah dari apa maksud intinya, lalu kita bergerak maju. Trimester adalah upaya reduksi beban dalam satu semester agar menjadi wajar supaya kita bisa dorong pola pembelajaran di perguruan tinggi yang benar. Di situ tidak boleh ada “tetapi, tetapi”. Semua harus sepakat dulu esensinya. Ini bisa makin signifikan jika penataan kurikulum (soal jumlah SKS, jumlah matakuliah, struktur yang solid) sekaligus dilakukan. Dari situ, kita bisa beralih ke microprocess dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (walau di artikel soal filsafat dan praksis pedagogi saya memandang harus mulai dari upaya bongkar paradigma atau filsafatnya dulu). Nah, ini di sektor pendidikan dan pengajaran, yang nanti kalau dikawinmawinkan dengan riset, ya jadi research-based learning.

Jadi, saya berharap hal esensial dipegang dulu, lalu mari perbaiki manajemen implementasi trimester sebagai sebuah program perubahan.

SATRIA: Dari penjelasan Anda, saya menyimpulkan titik kegagalan John Titaley dalam men-trimester-kan Satya Wacana ada pada penanaman esensi trimester pada sivitas kita. Akibatnya, resistensi dari “beberapa orang” masih tersisa. Dan akhirnya, resistensi itu berdampak pula pada manajemen atau cara implementasi, hingga mempengaruhi hasil.

Pertanyaannya, sebagai orang yang belajar organisasi, apa kiat terbaik Anda agar kegagalan yang sama (kelak) jangan terjadi lagi?

NEIL: Sat, masak saya disuruh jawab domain tugas rektor? Ntar dikira sok jadi rektor. Gak sangguplah awak, hahaha ….

Oke, begini pandangan saya. Pertama, kita lama hidup dalam sistem dwimester, walaupun kita korup sistem itu. Segala sikap dan tindak-tanduk kita sudah berjalan seperti mendarah daging. Itu artinya sistem tersebut sudah jadi institusi yang kadang tanpa kita sadari menyetir kita. Di tempat lain, sistem itu didukung oleh perangkat aturan yang bisa memaksa kita, yakni ketentuan Pemerintah. Dalam perspektif tertentu, sebagian orang UKSW yang resisten terhadap trimester lalu mencari pembenaran dari perangkat hukum itu untuk menolaknya. Ini juga satu mekanisme institusional yang tidak kita sadari memengaruhi keberhasilan atau kegagalan first attempt UKSW dengan trimester. Pandangan merujuk pada hukum itu misalnya sempat dilontarkan dalam rapat FE dimana ada rekan-rekan yang takut akreditasi kita turun hanya karena kita jalankan trimester, dan Dikti dianggap tidak setuju dengan trimester kita (sekalipun waktu Rektor Titaley minta ijin Mendiknas dan Dirjen Dikti, mereka kasih lampu hijau dengan catatan UKSW menjaga mutu, dan juga sewaktu tim UKSW kembali lagi ke Dikti mereka tidak pernah merespon menolak dan mengatakan percaya dengan UKSW).

Jadi, saya mau menunjukkan dua mekanisme institusional yang dalam kasus trimester di UKSW telah “menjegal” lajunya trimester, yakni sikap dan perilaku di bawah sadar yang dibentuk dwimester dan selalu berupaya membanding dengan “dulu waktu dwimester” dan sebagainya, serta kedua, mekanisme koersif dari aspek-aspek legal (walau itu pun lebih pada masalah tafsiran). Jadi, kalau kita mau membuat trimester lebih mulus, ya kita bendung pengaruh dominan kedua sumber itu dengan menciptakan mekanisme institusional baru sebagai sumber kuat untuk terus membangun kesadaran bahwa trimester benar, trimester adalah cara kita, sampai posisinya sama atau hampir sama dengan pandangan akan dwimester. Jadi, ini soal membangun dan menguatkan satu institusi baru untuk mengganti yang lama.

Nah, dalam rangka itu sebetulnya saya kira pertama kita harus berterima kasih pada John Titaley dulu bahwa dia “tiba-tiba” lempar ide soal trimester — mungkin dalam pikiran atau rencananya sudah lama atau dipikirkan matang, tapi kesan kita kan seperti tiba-tiba, begitu dia naik jadi rektor lalu ide ini dilempar. Ini kejelian beliau. Dan, sudah ada langkah awal mengajak para dekan untuk studi banding ke Australia — walau efektivitasnya lalu dipertanyakan karena dari para dekan sendirilah (meski mungkin orangnya berganti) ide kembali ke dwimester datang. John juga membawa itu dalam diskusi di aras Senat dan di Senat ada wakil seluruh unit sehingga diasumsikan komunikasi akan mengalir ke bawah. Juga, kalau tidak salah, beliau menyampaikannya di forum bersama seperti pertemuan awal Tahun Baru. Jadi, prinsipnya, sosialisasi terjadi. Setelah persetujuan di aras Senat terjadi, beliau menginstitusikan secara legal dengan mengeluarkan buku Peraturan Akademik di bawah sistem trimester, setelah masa uji coba di beberapa fakultas sempat berjalan sekitar dua tahun.

Namun rupanya ini belum berhasil membongkar kuatnya institusi dwimester, seperti sinyalemenmu bahwa fakultas-fakultas “berlaku seenaknya” karena Peraturan Akademik memperbolehkan maksimal 20 SKS (walau belakangan diusulkan menjadi 18 atau 16), tapi mereka bolehkan lebih dari 20. Di luar itu, dosen pun ya terus menjalankan langgam dwimester dalam pola trimester. Misalnya, walau cuma satu minggu akhir diplot untuk tes, ada dosen yang paksa tes tengahnya pun harus diplot sendiri — tapi kadang nabrak kuliah lain sehingga mahasiswa yang bertabrakan “kuliah versus tes” tidak jarang mengeluh dan “memaksa” agar yang kuliah ngalah untuk yang tes. Dan mungkin masih banyak sikap dan perilaku dwimester dibawa ke trimester. Jadi, apa yang tampaknya telah cukup banyak dicoba untuk membangun institusi baru itu ternyata tidak cukup.

Bagaimana menangani ini?

Saya dekati secara konseptual saja. Institusi bukan saja aturan (kan sudah ada SK Rektor dan terakhir Yayasan). Institusi baru tidak cukup diasumsikan sudah akan eksis terus kalau orang lain sudah terima untuk dijalankan, maka mereka sudah paham dan terima sebagai kebenaran baru. Perkawinan pun ada masa mesra atau euforia, lalu belakangan baru tahu nggak enaknya (sulit dijalani, karena mengubah kebiasaan lama). Kasus kita dengan Orde Baru pun sempat orang menilai, kok jaman Soeharto dulu lebih enak ya. Sama, di Jerman Timur pun sempat ada yang memandang kenapa dulu jaman komunisme lebih enak. Jadi, insitusi baru butuh mekanisme monitoring dan “paksa” juga agar beralih menjadi habituasi (terbiasa) lalu diterima sebagai sebagai “kebenaran” kolektif.

Saya pernah melakukan penelitian tentang manajemen perubahan organisasi berskala besar dan fundamental (saya istilahkan “fundamental change”) waktu studi S2 di Belanda. Saya kira perubahan dari dwimester ke trimester berada pada level itu. Apa yang saya dapat waktu riset itu? Komunikasinya luar biasa. Lewat media intranet perusahaan, lewat rapat-rapat, lewat penetapan target-target. Pegawai malah didorong untuk melontarkan ide bagaimana visi baru bisa dicapai, jadi mendorong partisipasi. Memang, ketika trimester diterima oleh semua fakultas kan ada partisipasi di tingkat bawah, tapi mekanisme “pemersatu” tidak ada atau kurang.

Ini beda dengan di perusahaan yang saya teliti karena mereka mengawal ide perubahan secara berjenjang, mulai level individu, sampai level kinerja menyeluruh organisasi yang ditangani oleh BoDs (board of directors). Luar biasa. Di situ saya jadi mengerti mengapa John Kotter, misalnya, mengatakan komunikasi penting dalam mengelola perubahan dan memantau dan memastikan bahwa sejak langkah pertama, kedua, dan seterusnya ada di jalur perubahan yang diinginkan sehingga pada akhirnya akan memudahkan institusionalisasi sistem baru sebagai bagian dari kultur organisasi. Jadi, saya belum melihat komunikasi yang ekstensif terjadi. Saya juga belum melihat mekanisme koordinasi untuk memastikan bahwa trimester di semua lini telah berjalan seperti yang diinginkan John Titaley dan timnya.

Di sisi lain, John memang sudah berupaya membendung arus tekanan eksternal (aspek legal dari Dikti atau Depdiknas). Tapi saya kira itu bukan faktor dominan dalam keputusan kembalinya kita ke dwimester. Ingat, surat rektor UKSW dulu (John Titaley) ke Dikti tidak pernah dibalas. Apa artinya Dikti tidak pernah menjawab permohonan ijin agar UKSW menyelenggarakan trimester? Tafsiran saya, kalau Dikti kasih jawaban tidak boleh, dia tahu itu membunuh satu ide inovatif yang sedang digagas oleh sebuah universitas yang dulu pernah jadi pionir SKS, sehingga ada keyakinan bahwa kali inipun UKSW mungkin berhasil dengan sistem baru itu. Tapi, kalau Dikti jawab silakan UKSW jalan secara resmi, maka ini akan ibarat menjadi gula, semut akan mengerubuti. Universitas atau perguruan tinggi kacangan pun akan buru-buru ke trimester karena yang dikejar cuma “CEPAT LULUS” dan ini bisa menghancurkan tatanan pendidikan tinggi Indonesia yang sudah semrawut. Jadi, tidak menolak dan tidak menerima secara resmi adalah indikasi silahkan UKSW jalan, tapi “diam-diam dululah kalian”. Namun, karena orang UKSW sendiri dasarnya belum sreg dengan trimester, maka begitu ganti pimpinan (kepada rejim Rektor Kris Herawan Timotius), idenya ya mengusik trimester walaupun mungkin karena faktor ketakutan yang tidak beralasan: Dikti melarang. Sampai dikirimlah lagi surat ke Dikti, tidak juga dijawab. Lalu suatu waktu kita terima satu surat edaran lain yang tidak ditujukan langsung ke kita (katanya, surat itu justru merespon permintaan universitas lain yang mau menjalankan trimester, bukan UKSW). Jadi, ke sumber tekanan eksternal, sebetulnya John Titaley sangat efektif dan itulah kelebihan beliau, berani ngomong terbuka dan negosiasi dengan petinggi negeri ini. Sayang, hanya karena kelemahan “orang-orang dalam” yang saya analisis di atas, maka alasan legal lalu seolah-olah menjadi faktor dominan.

Fokus utama cuma itu. Namun, karena trimester yang diusulkan disertai dengan tujuan menaikkan kinerja riset, maka front yang dihadapi luas. Juga dalam penilaian saya, tidak cukup trimester, tetapi inovasi pedagogis juga harus menyertai. Karena itu, di samping mekanisme komunikasi dan mekanisme koordinasi dan kontrol, maka UKSW sebetulnya butuh unit-unit pendukung untuk memungkinkan apa yang diinginkan John Titaley ketika dia masih menjabat rektor. Nah, di situ kita tidak ditopang oleh eksis dan berperan baiknya lembaga-lembaga itu. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di kala itu belum mampu menjalankan leading role untuk menarik gerbong riset UKSW yang memang melempem. Sedangkan di sektor inovasi pedagogis, kita cukup mengasumsikan bahwa dosen pasti tahu apa yang harusnya dia kerjakan. Sebetulnya ada upaya di unit penunjang pengajaran dan multimedia untuk mengembangkan flexible learning. Namun, itu saya kira tidak cukup, karena reformasi harus dimulai dari perubahan paradigma, bukan cuma adopsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pengajaran. Karena itu, memang tidak ada kesadaran mengapa perlu dan apa peran TIK dalam inovasi pedagogis. Jika saya bandingkan di banyak sekali universitas yang concern kualitas teaching and learning-nya tinggi, mereka punya lembaga yang khusus mengurusi segala urusan inovasi pedagogis ini. Di Macquarie University, misalnya, ada Learning and Teaching Centre (LTC). Di St. Olaf College ada Center for Innovation in Liberal Arts (CILA). Di Carleton College ada Pearlman LTC. Itu cuma contoh-contoh tentang seriusnya lembaga-lembaga itu menggarap aspek teaching and learning yang bermutu. Jadi, di sisi lain, secara kelembagaan, kita belum mengembangkan organisasi kita untuk menopang dengan baik ideal-ideal kita. Saya berharap kita bisa juga bisa inovatif dalam hal ini ke depan. Jadi, kalaupun misalnya ada ide perampingan jumlah fakultas dan jabatan administratif di dalamnya, kita juga harus “ekspansi” kelembagaan di sektor-sektor strategis. Dalam hal ini, rejim Rektor Timotius cukup baik dengan menambah unit PPMA (Pusat Penjaminan Mutu Akademik). Namun kalau saya, saya tidak mau terjebak dengan cepat-cepat melompat ke sistem penjaminan mutu secara prosedural, tapi justru tumbuhkan aktivitas-aktivitas akademik yang kaya dan bermutu, sambil pelan-pelan menata sistem penjaminan mutunya.

Oke, Sat, karena saya bukan atau belum sekelas rektor, jelas ide saya terbatas. Namun itulah yang bisa saya pikirkan sampai hari ini atau paling tidak yang bisa keluar saat merespon pertanyaanmu. Saya terus dalam proses belajar memahami pengelolaan universitas dan hal-hal di atas. Ini saya lakukan sejak 2005, ketika ikut program United Board Leadership Fellow sampai sekarang, karena ternyata itu menarik. Ini bukan persiapan untuk jadi rektor lho, hahaha …. Tidak. Saya belakangan menyadari bahwa sebagai seorang akademisi, sudah sepantasnya saya paham bagaimana kehidupan beruniversitas itu. Rekan-rekan saya, baik di St. Olaf maupun di Macquarie (yang jadi host saya di program UB itu), sudah jadi mentor bagi saya. Juga, senior-senior kita dari UKSW, baik yang masih atau sudah tidak di UKSW, pun menunjukkan hal itu. Jadi, itu adalah pengetahuan dan kemampuan yang layak seorang akademisi miliki.


Komentar (30)

  1. Guest says:

    Editor SA atau siapa yang menangani harus lebih teliti, masak “Universitas” ditulis “Uniersitas” :-)

  2. bambang ty. says:

    trimester memang polimik berkepanjangan, hingga kini belum ada penyelesaian konkrit.

  3. Yosafat says:

    idealnya memang kita harus belajar yang ‘dalam’, caranya adalah ambil SKS secara proporsional dan kerja keras (yang terakhir nampaknya masih kurang di kalangan mahasiswa).
    Namun, ada penyebab klise kenapa banyak mahasiswa mengambil sks tanpa memikirkan ‘workloads’nya. Ya karena banyak dari mereka (termasuk saya) punya prinsip ‘Lulus Cepat’ gak lebih dari empat tahun tetapi IPK tetep aman (>3,00).
    kenapa ada yang berpikir seperti itu?
    Pendidikan mahal!
    “Semakin Molor… semakin banyak uang yang harus dikeluarkan.”

  4. Neil says:

    @Yosafat, jika Anda menyimak wawancara email Satria dan saya dengan baik, maka pernyataan Anda kurang mengena. Sudah saya katakan dalam wawancara bahwa perhitungan teknis waktu perkuliahan, trimester akan lebih cepat. Lagipula, dengan beban sks atau mata kuliah yang lebih ringin, maka belajar mendalam adalah sisi yang lain yang bisa didapat dari trimester. Jadi, itu bukan lagi ideal, tetapi bisa dicapai. Soal IPK 3,00 itu soal lain.

    Pendidikan mahal? Jelas. Saking mahalnya pendidikan, maka bangsa ini memang tidak pernah maju-maju karena pelit mengurusi sistem atau dunia pendidikannya. Akibatnya perilaku para pelaku pendidikan ya juga semaunya. Contohnya seperti yang kamu ungkapan, mahasiswanya cenderung mau enak semuanya: kalau bisa belajar ringan, sks sebanyak-banyaknya, waktu secepat-cepatnya, apalagi tambah nilai sebagus-bagusnya. Begitu kan? Akhirnya produktivitas dan kualitas hasil kerja kita memang selalu kalah dari yang lain, kecuali pada sektor-sektor tertentu namun dari waktu ke waktu terus mengalami tekanan. Jadi mahalnya pendidikan yang saya maksud adalah bahwa outcome-nya telah menjadi sangat mahal bagi bangsa ini. Jadi kalau cuma mau ambil enaknya saja, dapat gelar dengan mudah, ya mari sama-sama terjun ke jurang.

    Dari diskusi di seputar sistem pendidikan, yang saya mau katakan, mahasiswa adalah pelaku yang hidup menyesuakan diri ke dalam sebuah sistem pendidikan. Jadi kalau kita cuma menyediakan sistem yang bolong sana bolong sini, ya mahasiswanya juga bolong mulu. Ingat, banyak mahasiswa Indonesia bisa survive dan juga berprestasi di sistem-sistem pendidikan yang bermutu di luar negeri. Anda mau ngomong di Amerika ada, Jerman ada, Jepang ada, dan macam-macam tempat. Mengapa mereka itu bisa, ya karena menyesuaikan diri ke dalam sistem di negara-negara itu. Jadi, soalnya adalah sistem yang dibangun dan yang mengatur perilaku belajar mahasiswa. Itu soalnya. Karena itu, dalam isu trimester versus semester, saya menyoal para pengambil kebijakan di kampus. Di dua artikel lain yang saya tulis sendiri, saya di antaranya menyoal para dosen sebagai salah satu pihak yang perlu mengalami atau melakukan transformasi pedagogis.

  5. Teddy says:

    Trimester atau semester itu tidak penting, yang terpenting adalah menghasilkan mahasiswa yang berkualitas, dengan pengajaran yang berkualitas juga. Ini memang dibutuhkan kerjasama antara pendidik dan terdidik.
    @Neil says: “mahasiswa adalah pelaku yang hidup menyesuakan diri ke dalam sebuah sistem pendidikan.”
    Meminjam kata filsuf Stoa, bahwa sistem adalah gabungan dari keseluruhan langit dan bumi yang bekerja bersama-sama, sehingga dapat kita lihat bahwa sistem terdiri dari unsur-unsur yang bekerja sama membentuk suatu keseluruhan dan apabila salah satu unsur tersebut hilang atau tidak berfungsi, maka gabungan keseluruhan tersebut tidak dapat lagi kita sebut suatu sistem.
    Saya kira bukan mahasiswa saja yang harus hidup menyesuaikan diri kedalam sebuah sistem pendidikan, tapi seluruh elemen harus terlibat, seperti contohnya:
    1. Dosen juga yang ngos-ngosan mengajar menyesuaikan diri dalam sistem yang baru.
    2. Para pegawai bara yang bingung dengan carut marut sistem.
    3.Orang tuaku yang marah-marah karena sistem berganti, jadwal pembayaran juga pastinya berganti.
    4.dll

    Seperti kata Buckley “sistem adalah suatu kebulatan atau totalitas yang berfungsi secara utuh, disebabkan adanya saling ketergantungan diantara bagian-bagiannya.” (A whole that functions as a whole by virtue of interdependence of its parts).
    Yang pasti tidak ada sistem yang perfect didunia ini, kesempurnaan sebuah sistem adalah kerjasama semua elemen didalam sistem.

    Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah sistem yang kita jalankan sekarang ini disetujui oleh semua elemen, sehingga semua elemen mau bekerja sama? Apakah sistem ini hanyalah keterpaksaan dari keegoisan segelintir elemen saja?

    Salatiga, 2009
    Miauuuuwww………..

  6. Neil says:

    Mas Teddy,

    Lalu bagaimana cara mencapai yang Anda mau, pengajaran yang berkualitas? Tolong pertimbangkan banyak faktor yang kait mengait dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Tolong perhatikan juga apa konsekuensi dari pilihan2 yang mungkin. Saya menunggu jawaban Anda atas hal ini.

    Banyak orang suka menjawab, “Pokoknya ….. ” dan saya khawatir Anda juga termasuk salah satu di dalamnya. Kok bisa? Di ujung bumi manapun, apa yang Anda inginkan itu yang memang menjadi tujuan pendidikan yang hanya bisa di antaranya dicapai melalui proses yang bermutu (di samping inputs yang juga sama bermutunya). Namun, ketika kita mencoba menjelaskan apa proses yang bermutu dalam konteks, maka kemudian ini akan berkonsekuensi pada model atau desain sistemnya. Jadi, kalau jawaban Anda, pokoknya proses pembelajaran yang bermutu, lalu mengatakan antara trimester dan semester sama saja untuk konteks Indonesia, maka bagi orang seperti Anda, tantangan saya sudah pernah saya lontarkan di beberapa tempat, termasuk di Scientiarum, saya tuntut pimpinan UKSW jalankan disiplin semester dengan benar.

    Apa yang saya maksudkan dengan jalankan sistem semester yang benar? Anda punya buku Peraturan Akademik UKSW kan? Bukalah dan bacalah apa yang dimaksud dengan sistem kredit semester (SKS) yang manifestasi metriknya menjadi apa yang kita kenal satuan kredit semester (sks). Apa arti 1 sks menurut buku peraturan Anda itu? Tolong dibaca dengan baik dan cek apakah itu yang Anda jalani dan dijalankan oleh dosen-dosen Anda di UKSW.

    Dalam wawancara dengan Satria di atas, saya katakan anda para mahasiswa akan mengalami apa yang disebut sebagai burnout atau lancangnya saya katakan Anda bisa terkencing-kencing di tempat anda berdiri hanya karena sudah kebelet dan tidak sempat sempat bergerak mencari tempat kencing, kalau disiplin SKS dengan sksnya itu dijalankan dengan benar. Kalau pimpinan UKSW berani paksa semua dosennya jalankan itu, maka bubar SKS itu tanpa perlu saya argumenkan kita perlu jalankan trimester. Mengapa? Karena SKS dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia memang kebablasan. Tolong baca baik-baik wawancara di atas. Dan, survey-lah melalui internet ada di negara mana saja orang yang menjalankan SKS dengan beban seperti di Indonesia. Jawabannya, TIDAK ADA, kecuali di Indonesia. Dulu saya berargumen dalam debat di tulisan lain, hebat benar pemerintah Indonesia mengasumsikan seluruh mahasiswa Indonesia adalah supermen dan superwomen, bisa tanggung beban sks dalam satu semester antara 18 – 24 sks atau setara 6 sampai 12 mata kuliah (@ 2-3 sks). Silahkan cek baik-baik Mas Teddy, di mana Anda bisa temukan beban seperti itu di seluruh muka bumi ini. Luar biasa negeri Indonesia kita ini. Jadi, bukan cuma soal SKS sebagai sebuah sistem pengorganisasian pembelajaran dalam satu tahun akademik, tetapi komponen sistem pendidikan tinggi yang lain, seperti syarat beban sks untuk satu program pendidikan sarjana, kurikulum, filsafat dan metode belajar, fasilitas pendidikan, dan macam-macam. Mengapa begitu? Sistem yang paling dominan di seluruh negara adalah semester, tetapi komponen lainnya jelas jauh berbeda dengan Indonesia. Ambil contoh, di Australia, beban sksnya adalah paling sekitar 70-80an sks, di tempat lain sekitar 100an sedikit atau kalau saya konversi ke jumlah mata kuliah, maka biasanya mereka cuma sekitar 4 mata kuliah per semester. Sekali lagi, cek datanya supaya Anda lebih baik dalam argumentasi, bukan POKOKNYA…. Belum lagi, soal filsafat dan metode belajar, fasilitas. Negerimu ini masih mendewakan dosen adalah segalanya, kurikulumnya seragam di mana-mana (sebagian besar), dan macam-macam aspek dan masalahnya.

    Terima kasih atas definisi-definisimu, sekarang barangkali tugasmu adalah mengidentifikasi dan menganalisis sistem pembelajaran di dunia pendidikan tinggi, supaya definisimu menjadi lebih berguna dalam konteks pembicaraan kita ini.

    Apa benar dosen ngos-ngosan? Atau, mengapa mereka ngos-ngosan waktu menjalankan trimester? Itu perlu anda cek lebih jauh. Ini salah satu indikasi pelanggaran dalam semester yang sudah sempat ditanyakan mas Satria dalam wawancara di atas, yakni: mahasiswa di fakultas tertentu dibiarkan mengambil sks melampaui standard-nya. Apa artinya, ya kalau mahasiswa boleh mengambil lebih dari batasnya berarti akumulasi sks yang berimplikasi pada pembukaan mata kuliah dan beban mengajar dosen pada akhirnya kan ikut naik. Ada hal lain lagi, misalnya kecenderungan membuka mata kuliah di setiap trimester. Lain lagi, dosen bisa memanfaatkan tetapi ternyat tidak memanfaatkan 1 semester off, sebagai jawaban atas keluhan dia ngos-ngosan. Lain lagi, penataan kurikulum yang tidak menyertai perubahan sistemik yang diambil. Lain lagi, rasio dosen – mahasiswa yang barangkali kurang diperhatikan. Mungkin ada soal lain lagi, yang tidak dapat saya sebutkan. Kesimpulan saya, berdasarkan pengalaman kami di Fakultas Ekonomi, justru pada saat trimester, beban dosen FE turun drastis. Sebelumnya, FE sempat menolak atau menunda pelaksanaan trimester dengan alasan yang anda sebutkan, dosen akan ngos-ngosan dan karena itu kami persyaratkan kepada pimpinan UKSW waktu itu, FE hanya akan masuk trimester kalau tambah dosen. Ternyata, perhitungan kami melenceng, bahkan untuk mencapai 12 sks per semester pun sebagian dosen sulit peroleh dari bidang pengajaran. Apakah mereka ngos-ngosan? Yang benar aja. Saya belum tahu pengalaman Fakultas lain, tetapi mari kita duduk untuk analisis apa sebetulnya persoalan dan akarnya sebelum menuding itu kesalahan atau akibat trimester.

    Pegawai yang bingung. Mas, di manakah dalam suatu konteks perubahan sistemik yang tidak mendatangkan kebingungan, bahkan frustrasi? Coba cari dan telaah literatur2 perubahan organisasi, apalah perubahan berskala besar, sistemik. Yang lalu lebih penting adalah kemampuan mengelola perubahan itu (asumsinya, ide perubahannya baik/tepat). Ini memang masih menjadi soal dalam penerapan trimester yang lalu (lihat pertanyaan Sdr Satria di atas dan respon saya). Yang bikin bingung sekarang itu kan sikap plin – plan kita, sudah berubah secara sistemik dari semester ke trimester, eh balik lagi atau tepatnya menjalankan dual systems. Tolong tanya para pegawai dengan baik. Dulu memang kita punya persoalan dengan menjalankan sistem trimester tetapi melapor dalam format semester, karena Dikti meminta demikian. Namun, TOLONG DICATAT, orang Kopertis pernah mengatakan bisa membantu UKSW bagaimana menyusunnya sedemikian rupa sehingga tidak bermasalah. Bahkan belakangan, Dikti pun mengatakan siap membuka kesempatan UKSW melapor dengan pola 3 semester. Tolong tanya para pemimpinmu apakah saya membual atau tidak. Atau, jangan sampai mereka yang malah membual.

    Problem orang tua mas Teddy, apa sebetulnya? Kalau soal kepastian waktu pembayaran, kalau tetap trimester kan jelas tuh. Tetapi kalau plin plan, gonta ganti ya memang tidak jelas. Mas, masih ada opsi pola pembayaran lain-lain yang bisa dikembangkan untuk memudahkan hal ini. Ambil contoh di luar negeri, ada mahasiswa yang membayar hanya 1 kali untuk seluruh tahun kuliah, atau barangkali 1 kali dalam 1 tahun. Opsi seperti ini bisa dipelajari dan dievaluasi mana yang baik.

    Dalam studi-studi saya tentang perubahan organisasi, kebanyakan perubahan besar terjadi dari ide segelintir orang. Dalam studi-studi kepemimpinan, di situlah kita melihat siapa pemimpin, siapa bukan pemimpin. Dalam wacana filosofit eksistensial UKSW, itulah yang kita sebut creative minority. Perubahan selalu tidak enak, karena mengganggu kenyamanan lama. Namun, kalau baik tentu suatu waktu dia akan diterima dan bisa jadi malah menjadi kenyamanan baru, ketika lingkungan terus berubah dan ia tidak cocok lagi dengan lingkungan yang baru.

    Secara perlahan-lahan adopsi sistem trimester terus terjadi di Indonesia, paling tidak di program pasca sarjana. Mengapa? Karena dia menawarkan kelebihan dibanding program semester. Bagi program sarjana, tinggal tunggu waktu, kecuali Dikti merubah batas minimum sks secara mendasar. Ya kita tunggu apa yang bakal terjadi ke depan. Dan, suatu waktu Satya Wacana akan menilai sendiri apa yang pernah dilakukannya: apakah dia pionir perubahan (creative minority) atau cuma pengikut pasar bahkan pecundang.

    Saya menunggu analisis2 Anda yang lebih kritis. Scientiarum adalah salah satu wadah bagi kita untuk berdebat secara ilmiah dan kritis. Salam.

  7. Pdt Masada Sinukaban says:

    Syalom
    Masalah Dwimester dan Trimester di UKSW ini sangat menarik untuk di cermati, karena, sepengetahuan Saya (kalau tidak salah) dari sekian banyak Universitas di Bumi Indonesia ini, Mungkin (kalau tidak salah) hanya kampus kita yang sistemnya ada 2 (dwimester dan trimester) didalam sebuah Universitas!! Jadi menurut Saya di buat saja sebuah Penelitian, mana yang terbaik dari kedua sistem ini, kalau yang trimester gimana hasilnya dan yang dwimester gimana hasilnya (mana yang lebih baik). Saya khawatir nanti kita dapat hadiah MURI (bercanda), karena Kampus kita memiliki 2 sistem perkuliahan!! Kasihan para Mahasiswa-i menjadi bingung!! OK GBU

  8. Teddy Black Cat says:

    Mas Neil yang baik,

    Saya tidak mau menyalahkan semester atau trimester, sepanjang semua elemen dapat melaksanakannya dengan baik, sepanjang sistem itu efektif dan efisien, sepanjang semuanya dapat menjadi pemenang dalam sistem itu.

    Anda memang benar. Tahun ajaran di universitas-universitas luar negeri, contohnya di Kanada dan AS, adalah dari bulan September sampai Mei tahun berikutnya. Beberapa universitas memakai sistim satu semester atau trimester, dengan beberapa mata kuliah yang dapat diikuti pada musim panas. Semua mahasiswa asing, termasuk mahasiswa Indonesia, diwajibkan untuk mengambil kuliah minimal 12 – 16 kredit per semester sesuai persyaratan izin tinggal di AS yang mensyaratkan setiap mahasiswa asing untuk menjadi full-time student selama kewajiban kuliahnya belum terpenuhi seluruhnya. Syarat full-time
    student hanya berlaku pada kuliah yang berlangsung musim fall dan spring, dan tidak berlaku untuk musim summer. Selama summer, mahasiswa asing boleh tidak mengambil mata kuliah apapun. Apabila kewajiban kuliah hampir selesai, misalkan tinggal 4 kredit, mahasiswa asing boleh menjadi part-time student. Kewajiban untuk menjadi full-time student ini sangat ketat, karena apabila seorang mahasiswa tidak memenuhi persyaratan tersebut akan langsung mendapatkan peringatan dari pihak International Students Affairs.

    Memang Indonesia sudah kebangetan dan keblinger dalam menjejali beban sks ke mahasiswa, ibaratnya mahasiswa jadi tersedak-sedak, “kloloden” istilah Jawanya. Dan mungkin kebangetannya ini layak dimasukkan guinnes book of record. hahahaha…

    @ Neil says: “Terima kasih atas definisi-definisimu, sekarang barangkali tugasmu adalah mengidentifikasi dan menganalisis sistem pembelajaran di dunia pendidikan tinggi, supaya definisimu menjadi lebih berguna dalam konteks pembicaraan kita ini.”

    Ok Pak. maybe ini untuk semua elemen-elemen pendidikan tinggi, bukan hanya saya saja.

    @Neil says: “Tolong tanya para pemimpinmu apakah saya membual atau tidak. Atau, jangan sampai mereka yang malah membual.”

    Wah saya nggak berani tanya, takut di bedil. hehehe…

    @Neil says.”Problem orang tua mas Teddy, apa sebetulnya?”

    Problem ortu saya adalah kondisi keuangan, sehingga saya harus readmisi tahun 2008, padahal jatah waktu kuliah saya yang tujuh tahun belum habis. he he…but thats just my problem, not FE problem. I just want very friendly university thats understanding my condition.

    Anyway Mas Neil terimakasih untuk ngobrol-ngobrol yang nggak kosong ini.

    “Kita memang seharusnya bisa menjadi sopir yang baik dari sistem. Dan terkadang juga diperlukan tenggang rasa, intiusi, kekeluargaan, gotong royong, tepo saliro dalam berkehidupan kampus, bukan melulu aturan sistem yang mencekik leher mahasiswa dan membunuhnya pelan-pelan.”

    Tabik
    Miauwwwww

  9. Neil says:

    Hallo mas Teddy..

    Terima kasih atas responmu. Negara dan pemerintah dan kebanyakan kita memang tidak sadar bahwa kita justru ikut “dimiskinkan” oleh pilihan-pilihan kita sendiri, di antaranya sistem pendidikan yang tidak membebaskan peserta didik. Peserta didik diasumsikan orang yang tidak tahu apa-apa dan mau dijejali sebanyak-banyaknya mata kuliah, sks, padahal akhirnya gak ada yang nyantol dengan baik, pada rata-rata mahasiswa. Akhirnya kita semua cuma bangga dengan memegang ijazah dan menyandang gelar, Sarjana. Setelah itu, kita semua masuk ke pasar tenaga kerja, entah apapun yang kita urusi/kerjakan dengan kondisi yang ‘miskin’ seperti itu. Bagaimana negara ini tidak akhirnya kembali miskin karena mereproduksi kemiskinan secara kontinu? Bagi saya, kita yang sadar harus menang dan bisa datang dengan pilihan yang lebih bertanggung jawab, termasuk berani berhadapan dengan kekuasaan yang hanya sewenang-wenang, memaksakan kehendaknya tapi mata hatinya buta memahami dan tidak mampu keluar dari lingkaran setan persoalan-persoalan, termasuk di dunia pendidikan kita ini. Ini soal kepemimpinan, apakah pemimpin UKSW punya visi dan tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan pressures lingkungan untuk mencapai visinya, termasuk harus memikul resiko-resiko sulit. Kalau pemimpin tidak berani tanggung resiko dan jadi manut buta dengan kekuasaan yang cenderung mematikan, bukan menghidupkan atau membebaskan, ya jangan jadi pemimpin lah. Gitu aja kok repot.

    Karena itu, @pak Pdt Sinukaban, dulu saya sudah respon Anda juga, mau teliti gimana dengan kondisi yang tidak ideal, baik di UKSW maupun di Indonesia? Trimester di UKSW belum berjalan sesuai harapannya karena langgam semester yang terbawa2 masuk ke trimester. Mas Satria dengan sangat jelas sudah mencontohkan deviasi praktik dari keinginan Rektor John Titaley. Mengevaluasi dalam kondisi seperti itu hanya akan menghasilkan distorsi di hasilnya jika Anda mau teliti, apalagi peneliti positivistik yang cuma lihat keadaan seolah-olah objektif. Lebih jauh, dalam konteks perubahan besar seperti kasus trimester, ukurannya ada pada rasionalitas konsepnya, apakah dia menawarkan sesuatu yang lebih baik, apa itu, kok bisa, etc. Kalaupun mau mencari pembanding dari negara lain ya tidak tepat karena di negeri orang itu jumlah sksnya tidak seperti di Indonesia. WR1 dan sebuah tim evaluasi trimester pernah menyatakan, semester-lah yang paling banyak dipraktikkan di dunia ini. Saya cuma mau tertawa saja untuk mereka, ya itulah kalau orang cuma melakukan evaluasi secara membabi buta. Masa mau banding dengan misalnya contoh saya Autralia yang jumlah kreditnya cuma 70an? Bagi mereka, mau berapa mester kek itu gak signifikan. Di Amerika, Eropa juga hampir sama. Jadi mari buka mata-lah dengan baik, supaya statistik apapun itu bisa dibaca dengan arif!!!

    Di luar itu, ya kita masih punya problem dengan pengelolaan perubahan kompleks seperti beralih ke trimester itu. Jujur harus dikatakan, para dosen kan bukan ahli manajemen perubahan. Dunia pendidikan tinggi yang justru penuh dengan banyak kenyamanan, tentu menjadi tempat sulit untuk lahirnya ahli-ahli pengelolaan perubahan, dibanding dengan dunia bisnis yang sangat terbulen. Dalam hal begitu, hendaknya kita terbuka belajar dari bagaimana para pebisnis mengelola perubahan2 fundamental, berskala besar. Para pemerintah negara maju saja tidak sedikti yang belajar dari mereka dan ahli-ahli manajemen kok. Mengapa begitu? Kita harus kelola lembaga pendidikan tinggi secara profesional, karena dari situlah akan lahir pemikir-pemikir dan praktisi-praktisi bangsa yang handal. Ribuan orang yang diurus, kalau tidak benar diurus ya cuma bisa jadi kandang sapi atau tempat sampah. Bayangkan buang uang berapa banyak kita untuk dikelola secara kurang baik seperti itu? Jadi, kembali ke statemetn di atas, kita ini sudah miskin, buang-buang uang atau tidak mengelola uang masyarakat dengan baik, ya karena itu janganlah berharap bangsa ini jadi lebih baik wong yang menjadi penjaga gerbang moral (lembaga pendidikan salah satunya) pun tidak memertanggungjawabkan moralitas pengelolaannya dengan baik kok.

    OK, ini renungan bersama bagi kita semua, termasuk diri saya sendiri. Terima kasih atas respon2nya. Masih ditunggu respon kritis yang lain untuk saling mencerahkan.

  10. Febri says:

    @neil : Tolong tanya para pemimpinmu apakah saya membual atau tidak. Atau, jangan sampai mereka yang malah membual…?

    Pemimpinnya siapa? Rektor? Wakil Rektor..?

  11. Neil says:

    @Febri,

    Pemimpin formal di aras universitas adalah Rektor dan para Wakilnya.. Namun, ada juga pemimpin mahasiswa, yang ketika tim UKSW bertemu Dikti ada juga unsur pemimpin mahasiswa, yakni dari LK (siapa di kala itu?). Mereka ada di sana, sama-sama dengan Prof. John Titaley dan Prof. Kasumbogo Untung. Namun, dari mulut yang berbeda kita mendengar berita berbeda. Di FE misalnya, kami mendengar bahwa ada ancaman Dikti bahwa kalau UKSW tidak kembali ke semester, maka izin operasional progdi-progdinya bisa bermasalah. Ada juga lalu teman yang mengatakan bahwa akreditasi pun bisa jadi turun hanya karena soal ini. Ini berita dari siapa? Saya kira ini datang dari para pejabat struktural karena bawahan biasanya tunduk pada atasan formalnya. Karena itu saya meminta untuk menanyakan pada para pemimpin formal UKSW dan sekaligus pemimpin LK yang ikut serta dalam tim itu, adakah waktu itu Dikti memang melarang UKSW dengan trimesternya? Ada sumber informasi lain, yakni Prof Titaley dan Prof Kasumbogo.

    Memang, Dikti pernah meminta agar UKSW low profile, tetapi tidak pernah menyatakan melarang atau meminta UKSW menghentikannya. Sejak Rektor Titaley telah secara resmi minta izin kepada Dirjen Dikti dan Mendiknas. Secara lisan Dikti bahkan Mendiknas memberi sinyal memerbolehkan dengan catatan agar kualitas belajar mengajar dijaga, secara tertulis tidak pernah dibalas. Dalam sebuah perjumpaan beberapa teman dengan Dirjen Dikti, beliau pernah mengatakan bahwa Dikti menghargai UKSW adalah sebuah universitas besar, artinya mengindikasikan bahwa UKSW bisa leading dalam melakukan perubahan2 signifikan dalam dunia pendidikan tinggi. Namun, mengapa Dikti tidak pernah dijawab secara tertulis? Di tubuh pimpinan UKSW ada pak Umbu yang juga ahli ketatanegaraan yang memahami bahasa non verbal di dunia politi. Bagi saya, bacalah tindakan itu secara politis. Apa artinya? Kalau bertentangan denanga perundang-udangan, mengapa tidak dikeluarkan surat melarang sejak 2002? Masa, gitu aja kagak ngerti. Gitu aja kok repot.

  12. Teddy Black Cat says:

    @Neil: Masa, gitu aja kagak ngerti. Gitu aja kok repot.

    Wah Gus Dur UKSW nich . hehehe….

    Tapi kalo bisa di bikin repot mengapa harus dibikin gampang…ya nggak?

    Miaauuuwww

  13. sam says:

    Thanks K’Neil buat paparan yang panjang dan sangat membuka wawasan mengenai apa yang sedang terjadi di Menara Gading UKSW ini. Sebelumnya waktu liat judulnya dalam hati saya bilang: trimester lagi trimester lagi, jalani saja repotnya dimana sih.
    Dari jumlah komentar yang masuk pun saya duga banyak yang sudah malas untuk membaca/membahas, mungkin karena kecewa atau alasan lain saya juga tidak megerti.Ya bagaimanapun di internet popularitas sebuah berita tercermin dari jumlah comment yang masuk. Jadi Sundul Lagi Ah! Up! Up!.. :)

    Waktu mahasiswa saya sudah juga merasakan kuliah dengan sistem dwimester.Tahun 2001 beralih ke trimester tidak banyak perbedaan yang saya rasakan, karena waktu itu kuliah juga asal-asalan. Tapi sebagai orang yang sudah terbiasa dengan sebuah sistem, waktu pertama kali ada pergantian saya juga menolak, rasa nyaman saya terganggu. Sudah enak-enak bisa libur panjang, tiba-tiba liburnya jadi 2 minggu. Mana sempat pulang kampung? Sampai akhirnya dapat berita singkat: Papah sudah pensiun, kamu dikirim ke Salatiga buat kuliah atau buat pulang kampung, kalau pulang ya pulang saja.
    Mulai dari sana saya coba cari kerja sambil kuliah. Hikmah pertama yang saya dapat dari trimester disini, waktu itu saya bersyukur bisa bayar kuliah 3 kali setahun. Dengan gaji 450.000/bln saya tidak terbeban dengan jumlah sks yang harus dibayar, dari yang biasanya 20+ SKS jadi rata-rata 14 SKS. Matematikanya sudah jelas, karena saya biaya sendiri, saya bisa merasakan orang tua sampai menangis harus bayar borongan uang kuliah, apalagi pegawai negeri gajinya pasti tiap bulan tidak berubah.

    Kemudian dari sisi umur, saya tidak meng-klaim bahwa pada dwimester mahasiswa berkuliah sampai benar-benar matang dulu baru diluluskan, karena angkatan 2003 pun sampai saat ini yang belum lulus juga masih banyak. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi kelulusan, salah satunya ya niat mahasiswanya sendiri, tapi untuk di FTI sendiri sudah 1,5 tahun ajaran ini saya hampir tidak menemukan angkatan 2003 yang masih berkuliah, artinya 135 SKS nya sudah diselesaikan dalam waktu +/-4 tahun, yang tersisa adalah terjebak dalam jurang skripsi (bahkan yang paling malas sekalipun). Kenapa begitu saya agak susah untuk menghayalkannya karena memang bukan bidang saya, tetapi memang itulah yang terjadi. FTI sendiri wisuda periode kemarin meluluskan 4 mahasiswa/i angkatan 2005.

    Karena itu setiap kali saya melakukan perjalanan promosi FTI, yang saya sombongkan bukan FTI-nya, tapi UKSW dengan trimester-nya. Di zaman instant seperti sekarang memang sudah bukan saatnya lagi untuk berlama-lama, 7-9 tahun berkuliah S1 sudah bukan lagi sebuah trend yang digemari. Ini memang cara yang bisa menggiring pemikiran kearah yang salah, sehingga muncul tuduhan bahwa lulusan trimester adalah karbitan seperti yang disebut oleh K’Neil, tapi dari sisi lain pemikiran sederhana saya, saya rasa tidak ada satupun orang tua mahasiswa yang menginginkan anaknya menjadi mahasiswa abadi. Kemudian sekilas mungkin tidak penting, tapi kembali seperti yang diutarakan oleh K’Neil kuliah cepat bukan merupakan hal yang tabu lagi, apalagi tuntutan pasar sekarang yang sebagian besar menginginkan pelamar pekerjaan berusia maksimal 25 Tahun (D1-D3, SMU), 27 Tahun (S1) plus 2 tahun pengalaman bekerja, silahkan dihitung sendiri.

    Tapi yang paling menarik buat saya dari paparan K’Neil adalah mengenai pola pembelajaran yang tidak diterapkan seutuhnya di UKSW kemudian juga mengenai produktifitas. Waktu di PP saya pernah nekat kuliah ambil 29 SKS, dan jadi asisten 12 SKS, hal ini tentu tidak masuk akal (tentunya juga kalau ketauan Pak John waktu itu kaprogdinya bisa kena damprat) karena kapan saya istirahatnya dengan beban kuliah, masih ikut kelas praktikum kalau kebetulan kelasnya 3 bayar 4 , dan jadi asisten juga. Saya juga bukan Hermione yang bisa muncul di dua tempat pada waktu yang bersamaan. Tapi itu bisa terjadi, karena buat saya waktu yang penting adalah tatap muka dikelas dalam 1 minggu yang bisa saya hadiri, untungnya tugas-tugas kuliah bisa dihitung dengan jari. Kebiasaan ini masih terus terbawa sampai sekarang pada prakteknya ketika saya menjadi seorang dosen, saya masih belum bisa menciptakan lingkungan pembelajaran yang sebenarnya.

    Diluar itu, yang saya tangkap, idealnya seorang dosen akan memiliki beban kerja yang wajar bila mahasiswanya juga mempunyai beban kerja yang wajar. Sehingga pernyataan bahwa dengan trimester dosen tidak memiliki waktu yang cukup dalam 14 minggu untuk melakukan persiapan mengajar, penelitian, dll itu adalah omong kosong. Pertanyaannya bukan di 14 minggu,tapi kemana saja waktu 24 jam sehari dimanfaatkan. Kalau mahasiswa punya kewajiban tatap muka satu hari 3 sks, seharusnya sang dosen pun memiliki kewajiban yang sama. Masih banyak sisa waktu yang bisa dimanfaatkan dalam satu hari (hal ini tidak berlaku bagi fakultas yang kekurangan dosen tentunya). Saya sendiri masih punya banyak waktu untuk main game.

    Dari sisi lain menyoal QT saya sempat berproses sebentar dengan mereka, waktu itu saya mendapat slentingan ringan dari pak Bahruddin “untuk apa seperti tempat-tempat lain yang punya gedung besar megah, isinya komputer mahal-mahal, tapi hanya dimanfaatkan 12 jam sehari, 5 hari seminggu, sisanya ndongkrok”. Saya langsung membayangkan UKSW dulu kala diwaktu libur, sangat asri dan tenang, kampus seperti milik sendiri. Ingat hal tersebut, saya jadi prihatin melihat gedung-gedung ini menganggur sedemikian lama, tidak dimanfaatkan. Memang ada semester pendek (semester yang jauuh lebih pendek dari trimester), tapi sudah selayaknya mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas yang dibayarnya 24×7. Bukan soal keberanian untuk merubah peraturan pemerintah dulu sebenarnya kalau menurut saya, tetapi keberanian untuk merubah diri sendiri itu yang sepertinya masih kurang.

    Nah dari omongan yang ngelantur kiri kanan diatas, intinya sedehana. Walaupun FTI menggunakan trimester, tapi saya sendiri masih memiliki pola pikir, habbit, sikap, perilaku (atau apapun istilahnya) dwimester. Bukan curhat atau tanpa alasan saya bilang demikian, tetapi ini merupakan satu bukti “sel” rusak yang gagal menjalankan dwimester. Seperti pada tubuh manusia yang diciptakan sangat sempurna, kerusakan sel bisa menyebabkan banyak penyakit. Apalagi kalau banyak sel yang rusak, bisa dibilang kanker. Tentu kita tidak mau UKSW digerogoti oleh kanker. Nah kalau ada sel-sel yang sudah imun, ya sudah di amputasi saja, kasarnya kan seperti itu.

    Kata-kata penutup dari K’Neil “Saya belakangan menyadari bahwa sebagai seorang akademisi, sudah sepantasnya saya paham bagaimana kehidupan beruniversitas itu.”
    Pertanyaan saya kepada rekan-rekan, apakah UKSW sekarang sedang berada dalam kehidupan beruniversitas?
    Saya sendiri tidak tau binatang seperti apa itu, tapi sepertinya belum.

  14. Neil says:

    bung Sam,

    terima kasih ya atas pemaparan sejumlah fakta dan refleksi menarik ini.

    sedikit koreksi, saya tidak menganut pandangan bahwa trimester adalah pengarbitan lulusan, tidak! seperti saya katakan, di mana-mana untuk S1 ya cuma 3 – 4 tahun. dugaan saya, karena Indonesia mengadopsi model belanda, misalnya dulu gelarnya drs, lalu beban kurikulumnya jadi tinggi. namun, di belanda setahu saya drs itu adalah gelar pada aras master. jadi, pendidikan s1 kita memang kebablasan. dulu waktu ada sebuah tim (internasional) apa gitu datang untuk mengases kurikulum s1 teologia kita, kesimpulan bahwa kurikulum kita setara master juga keluar. jadi, 3-4 adalah masa ya pas untuk pendidikan s1, jangan kacaukan dengan pengalaman lama kita yang kebablasan itu.

    pertanyaannya, yang menurut saya lucu adalah, dengan kurikulum setara master, mengapa terkesan lulusan bachelor atau s1 luar negeri lebih baik dari lulusan s1 indonesia? ini tentu harus digumuli secara serius oleh pembuat kebijakan pendidikan kita. namun, selaku pelaku dunia pendidikan yang dikenal punya reputasi yang baik dalam sistem/manajemen pendidikan tinggi, UKSW mestinya bisa menawarkan sesuatu.

    saya setuju dengan pemanfaatan aset secara lebih baik. salah satu pertimbangan penerapan trimester di perguruan tinggi di amerika adalah soal itu, mengoptimalkan pemanfaatan aset.

    soal dosen, tolong cek juga tulisan-tulisan saya yang lain di scientiarum. kita selaku dosen berpikir sudah cukup sekali belajar ya kan besok tinggal ngulang. pak Willi Toisuta selalu men-challenge kemampuan profesi kedosenan kita. apakah mentalitas dan tindakan yang seperti kita tunjukkan sekarang adalah mentalitas dan tindakan seorang dosen profesional. belum lagi ketika kita menyoal keberpihakan nilai (filsafat pendidikan) dalam praktik pengajaran dan pendidikan kita. ini soal-soal serius yang masih diabaikan, bukan cuma dosen, tetapi para pejabat akademik di UKSW, bahkan di Indonesia. ini tantangan berat.

  15. ody says:

    saya cuma mau nanya saja

    Banyak mahasiswa FBS, HUKUM dan EKONOMI di KOS ku protes dengan sistem pengayaan……..

    1. Libur lama bgt klo ga ngambil kuliah ( denger2 3,5 bulan )…
    2. Pengayaan cuma ngambil 1 mata kuliah, sendiri lagi kuliahnya……
    3. Kok kuliah belum selesai tapi udah siasat untuk pengayaan ( anak2 sich bilangnya SP)….
    4. Mata kuliah yg mo di ulang pada ga buka…..

    Apa yg terjadi pada sistemnya?

    Apa yg harus dilakukan anak2 nih? Belajar ??????
    Bakalan sepi salatiga kalo sebagian pada balik, sayang2 kuliah kalo cuma ngambil 2-4 sks.
    klo nilainya bagus2 ( minimal B ) apanya yg mo di ulang ? libur dunk !!!!
    ngambil baru ?? 2sks???

    nih sich kata anak2 aja yg sering sharing di ruang TV……..

    FE 9 org
    FH 7 org
    FBS 4 org

    SOLUSI DUNK !!!!

    Terima Kasih

  16. Febri says:

    @Ody: Pertama, saya kira ini adalah resiko yg harus diterima pada masa transisi dari trimester ke semester. Sama seperti di Fakultas pertanian dulu yg ketika trimester diberlakukan sampia sekarang belum ada solusi. Di Pertanian yg menjadi masalah adalah mengenai praktikum dilapangan. kita baru tumbuh dikit ehhhh sudah pindah trimester. Resiko akibat kbijakan kampus…
    Kedua, masalah yg dialami oleh fakultas, sebaiknya dibicarakan dengan pihak fakultas masing2. Bukankah ada perwakilan? Klo banyak dan berani, saya kira bisa melakukan student movment, sayangnya student movement sejak trimester mulai melemah… (nb: studentmovement-nya yg benar2 berani dan tulus dari mahasiswa, jangan karena paksaan, misalnya lewat absensi… upps bercanda)

  17. ewn says:

    sebenarnya saya termasuk mahasiswa yang acuh tak acuh terhadap sistem yamg diterapkan di universitas kita. selain itu bagi saya yang terpenting bukan sistem yang dianut, tetapi proses selama jangka waktu yang ditentukan (trimester dengan “cepat”, dan dwimester dengan “alon-alon asal kelakon”nya).
    selama ini polemik ini berpotensi menjadi bibit perpecahan karena ada fakultas yang pro dan kontra dengan sistem yang akan digunakan (dwimester atau trimester).
    selain itu pikiran “lulus cepat” dengan IP yang memuaskan yang dianut oleh kebanyakan mahasiswa juga tidak bisa disalahkan. masalah pendidikan mahal itu saya rasa wajar karena harus ada pertukaran yang setara. uang bisa dicari, tetapi ilmu belum tentu bisa.
    yang jadi pertanyaan sekarang adalah apa tujuan dari universitas? menghasilkan lulusan yang hanya menjadi pegawai atau lulusan yang mampu mendapat pegawai?!
    ya kesemuanya itu saya serahkan lagi kepada yang berhak menjawabnya karena saya tidak bisa memutuskan dan hanya bisa menyampaikan pikiran saya.

  18. Yoyok 2003 says:

    Wah, menarik sekali paparan Pak Neil. Kebetulan saat ini saya sedang studi lanjut di Taiwan (ini baru bulan ke-3..he he he). Dan jujur saja saat ini saya sedang beradaptasi, dan juga shock dengan paper reading yang bertubi2. Sehingga baru pulang dari laboratorium lebih dari jam 10 malam (kadang jam 32 pagi..). Padahal saya hanya mengambil 3 mata kuliah (9 sks)..namun rasanya jauh lebih berat dan stressful dibanding ketika saya ambil 20 sks di FTI UKSW (dan +10 sks “nyambi” jadi asisten dosen). Dan yang menarik lagi adalah saya merasa “bodoh” dan “ndeso” ketika berkuliah di sini..banyak sekali istilah2 / benda yang baru saya dengan bahkan saya pegang. Saya berpikir mungkin karena S1 saya T. Informatika dan S2 saya adalah Electronic Engineering. Saya mencoba survei terhadap beberapa teman lain jurusan (dari ITB, IPB, maupun UK Petra) dan ternyata mereka merasakan hal yang sama. Padahal, mereka S1 dan S2 mereka masih merada pada track yang sama. Begitu ketinggalankah pendidikan S1 di Indonesia?

    Mengenai sistem trimester dan dwimester. Mungkin saya akan bandingkan dengan masa kuliah saya (yang tidak selesai) di Mesin ITB. Sewaktu di ITB rata-rata saya ambil 18 sks. Untuk makul dengan 3 sks jumlah pertemuan untuk 1 minggu adalah 2 kali. Secara teori adalah 2 jam dan 1 jam. Pada prakteknya 1.5 jam dan 1 jam. Jadi untuk makul 3 sks saya dapat 2.5 jam tatap muka dengan dosen (total korupsi waktu=30 menit). Rata-rata 1 matakuliah memerlukan 1 buku referensi (yang tebalnya 500-800 hal. dan berbahasa Inggris). Dan biasanya 1 buku tersebut dapat kami “santap habis” selama 1 semester. Bukan karena saya rajin..tapi memang saya “dipaksa” untuk menjadi rajin. Untuk tugas praktikum kami tidak bisa mencontek karena harus menggunakan mesin ketik manual, jadi ya “terpaksa” mengerjakan sendiri di rumah. Efeknya… sampai skr saya masih ingat teori2 penting untuk beberapa matakuliah (padahal sudah 6-7 tahun yang lalu).

    Ketika saya kuliah di FTI UKSW (2004 – 2007). Makul 3 sks hanya 1x pertemuan per minggunya. Pertemuan di kelas hanya 1.5-2 jam. Karena trimester sangat pendek akhirnya dosen terpaksa mengkompres materi dan melompati beberapa bab. Jadi mau tidak mau.. saya harus banyak membaca sendiri atau mencari referensi secara mandiri. Namun tetap saja.. waktu 4 bulan sangat cepat untuk “mendalami” satu matakuliah. (mungkin karena sks yang saya ambil terlalu banyak..20 SKS. Motivasi saya waktu itu memang cepat lulus dan cepat kerja mengingat usia :P ).

    Mungkin memang trimester idealnya hanya 12-15 sks yang diambil. Tatap muka juga sebaiknya jangan terlalu “dikorupsi”. Selain itu dituntut kemandirian yang besar pada diri mahasiswa (mahasiswa harus haus ilmu). Atau mungkin para pengajar harus “memaksa” mahasiswanya menjadi “haus illmu”.

    Namun, pada kenyataannya.. sebagian besar mahasiswa hanya belajar ketika tatap muka dengan dosen atau ketika mengerjakan tugas (itu kalau tidak nyontek). Jadi, dengan sistem trimester, dapat dibayangkan betapa dangkalnya pengetahuan sebagian besar mahasiswa ketika memegang gelar sarjana bukan?

    Salam hangat,

    Hargyo T. Nugroho

  19. Neil says:

    @Yoyok, trims informasi dan pandanganmu.

    Mulai dari yang terakhir, berarti dosen-dosen FTI korup jam ngajar juga dong he he he… Namun, ini fenomena yang lebih luas, bukan sekedar FTI, bahwa orang cuma gunakan jam ngajarnya lebih sedikit dari yang seharusnya. Itulah mengapa di 2004, FE mengubah matakuliah2 yang 3 sks menjadi 4 sks dan membagi 4 sks itu ke dalam penyajian 2 x pertemuan, @ 2 x 50 menit = 100 menit. Salah satu asumsi yang digunakan adalah peak konsentrasi belajar ada pada menit ke 40-50, jadi kalau kuliah sampai lebih dari 2 jam ya sudah too much.

    Soal pengalamanmu di ITB, apakah semua mata kuliah seperti itu? Kalau benar begitu, saya membayangkan pontang-pantingnya mahasiswa handle 18 sks per semester dengan pola yang demanding seperti itu. Dan, jika dinilai kewajarannya ya menjadi tidak wajar, kuliah segitu banyak secara spartan (bandingkan pengalamanmu di Taiwan). Semoga pulang dari Taiwan bisa menularkan hal-hal baik ke yang lain.

    @Febri, coba bandingkan dengan Univ. Wageningen di Belanda yang juga punya program studi Pertanian. Wageningen malah membagi kalender akademiknya menjadi 5 term dalam setahun. Masa Pertanian mereka bisa handle praktik-praktik dengan waktu yang pendek dalam 1 term (sekitar 8 minggu), kita yang 14 minggu tidak bisa? Apakah karena bekas penjajah jadi lebih superior? Bukan begitu kan, ini soal bagaimana kita mengatasi kendala teknis, untuk sesuatu yang substansial. Namun, kalau hati pada dasarnya nolak ya apapun pasti tidak bisa. Menurut saya, kegiatan praktikum yang panjang masih bisa mengatasi waktu fisik semester yang berakhir. Atau, praktikum mahasiswa adalah bagian dari riset/percobaan fakultas/program studi karena itu tidak terkendala oleh fisik minggu karena dosen/peneliti fakultas toh bisa terus melakukan eksperimen tanpa tunggu mahasiswa datang ambil perkuliahan. Mahasiswa yang join, bisa mengambil bagian mulai dari waktu 0 (nol), hingga waktu t di mana tanaman-tanaman percobaan yang sudah ada/tersedia dan sudah menunjukkan kondisi pertumbuhan yang berbeda-beda. Jadi, dia tidak perlu tunggu dari 0 hingga 5-6 bulan, tetapi bisa lihat hasil-hasil pada tingkat usia tanam yang beda.

  20. Erman '97 says:

    Ikut nimbrung ah…demi kemajuan UKSW tercinta

    Saya juga sedang sekolah s2 Elektro di Taiwan, dulu S1 di Elektro UKSW. Kalau menurut saya sih asyik2 aja kuliahnya. Mungkin yang membuat terasa berat adalah waktu beasiswanya hanya 24 bulan (selebihnya silakan bayar kuliah sendiri….hahahahaha..sekitar 30 juta rupiah per semester….kalo sampai molor mending pulang Indo, ga sanggup deh kalo suruh bayar sendiri hahahahaha), jadi gak bisa santai, harus segera mempunyai ide untuk thesis kalo gak mau molor. Kalo soal materi kuliah ya mungkin sama aja…. di mana-mana ya Elektro belajarnya transistor, sistem digital, Integrated circuit, CMOS, dsb. Sudah pernah mengalami masa2 “berat” di Elektro UKSW, jadi biasalah…

    Soal dosen korupsi waktu sih di Indo wajar2 aja…terutama di UKSW…lha dosen ngajarnya bisa 5-8 kelas per minggu…capeklah kalo suruh ngajar full 3 SKS hahahahahahahaaha…..Di Taiwan sini, profnya cuma ngajar 2 kelas per semester, itupun ga masuk tiap minggu, tinggal kasi PR aja di web, lebih banyak riset di lab sama mahasiswa S2 atau s3nya, makanya bisa banyak publikasi dsb

    Menurut saya sih situasinya di UKSW, kalau mau dibandingkan dengan pengalaman di Taiwan susah juga. Di sini dosen2 elektronya juga kerja riset di perusahaan elektronik, kampusnya juga dapat banyak dana dari perusahaan2 elektronik karena dosen2 tadi berhasil meng-invent hal-hal baru dalam dunia elektronika (dapat patent dsb, patentnya atas nama kampus), uang sekolahnya juga sangat mahal, jadi sepertinya tidak kekurangan uang, efeknya terima mahasiswa gak usah banyak2, jumlah kelasnya sedikit, satu dosen ngajar cuma 2 kelas per semester, dengan lebih sedikit ngajar, waktu bisa lebih banyak dipakai riset di lab, trus dijual ke perusahaan, kampusnya dapat duit…….ini terjadi bukan hanya di elektro, tapi di jurusan biomedical engineering, architecture, chemistry, dll

    Bagaimana kalo di UKSW? ya kalo mau mempertahankan cash flow, harus terima mahasiswa banyak, uangnya kan dipakai buat investasi, buat lab dsb –> Tidak bisa disalahkan juga, karena kalo gak ada duit, ga bisa bangun gedung, lab, beli peralatan, dsb

    Efeknya, kalo mhsw banyak, jadwal ngajarnya juga banyak, jadwal ngajar terlalu banyak, akhirnya dosennya capek…(apakah bisa menghasilkan suatu riset dengan hasil maksimal dalam kondisi seperti ini? gak tau juga…maksud saya riset di sini bukan sekedar tulis jurnal terus kirim ke prosiding…tapi bagaimana menjual hasil riset tadi ke industri seperti yang dilakukan oleh kampus2 di luar negeri). Mungkin harus dicari cara agar tidak usah menerima mahasiswa terlalu banyak (untuk satu progdi) tetapi cash flownya tetap terjaga…UKSW atau fakultas cari sponsor atau apa gitu? mungkinkah diterapkan cara seperti ini di UKSW? gak tau deh…semoga suatu saat bisa. VIVA UKSW

    Salam

    Erman
    FTI-UKSW 2003
    FTJE-UKSW 1997

  21. Erman '97 says:

    Mengenai Dwimester atau Trimester, saya rasa sama saja tergantung kesadaran mahasiswa mengatur berapa sks yang mau diambil per semester atau trimester (sesuaikan dengan kemampuan belajar). Ada juga di UKSW biar trimester bisa ambil sampai 18 atau 20 sks…jadinya sama seperti rata2 sks yang diambil pada sistem dwimester

    Saya sendiri di sini (mengingat umur saya yg sudah cukup “tua”…agak telat mmg S2nya) hanya ambil 6 sks semester ini. Saya sadar kondisi saya saat ini sudah tidak seperti saat saya S1 yang masih muda dan begitu bersemangat dalam belajar + blum ada facebook + blum memikirkan menikah, dsb hahahaha…

    Mungkin yang perlu dipikirkan adalah
    1. Pengurangan jumlah matakuliah yang sangat banyak untuk mencapai 144 sks (terutama kalo kurikulumnya banyak yang matakuliahnya 2 sks)

    2. Pengurangan jumlah SKS untuk tingkat S1 di Indonesia (ini yang susah…harus ganti UU dsb)

    Saya rasa dengan salah satu opsi di atas, apapun pilihannya Dwimester atau Trimester sama saja. Menurut saya, keunggulan Trimester yang paling diminati mahasiswa selama ini adalah janji cepat lulusnya (3.5 tahun), bukan pada pengambilan matakuliah yang lebih sedikit supaya bisa lebih memperdalam ilmunya atau mempunyai waktu lebih banyak untuk ekstrakurikuler (ikut LK, meningkatkan soft skill)…Mau dwimester mau trimester, mahasiswa ya tetap aja belajarnya kalo besoknya test…selain itu ya tempatnya di game online, dll….(no offense…I was a student in the past…and now I become a student again…)

    Saya rasa pak JT (mantan rektor) dulu pernah mempublikasikannya dari sisi beban kerja mahasiswa, dan kalo tidak salah juga dihubungkan dengan UU ketenagakerjaan mengenai jumlah jam kerja…CMIIW. Jadi saya rasa pelaksanaan Trimester itu ada dasar2 yang kuat…tapi apakah pernah dilakukan studi tentang mahasiswa lulusan dwimester dan lulusan trimester?
    mana yang lebih pintar, mana yang lebih menguasai ilmunya, mana yang tidak menguasai ilmunya dengan baik…sehingga bisa disimpulkan Dwimester jelek, Trimester bagus, atau sebaliknya. Saya tidak tahu.

    Mungkin pakar2 bidang pendidikan yang bisa menjawabnya serta memberikan kriteria pengukuran yang benar dan valid. Saya sangat berharap ada pakar pendidikan di UKSW yang mau melakukan hal ini dan mempublikasikan hasilnya.

    Sementara ini ya pandangan saya (dari sudut pandang seorang mahasiswa seperti saya)..mau trimester atau dwimester, kalo orangnya rajin dan pintar ya pasti hasilnya bagus…dia mau kuliah pakai trimester atau dwimester ya IPnya tetap bagus (hanya beda 2 minggu aja…what you can get in just 2 weeks? ….benar ya cuma trimester dan dwimester beda 2 minggu? …CMIIW).

    Trimester dan Dwimester…polemik berkepanjangan di UKSW. Menurut saya semuanya BAGUS…tergantung bagaimana implementasinya di lapangan. Sayangnya belum ada yang melakukan evaluasinya di UKSW. Saya adalah produk DWIMESTER (S1), dan saya akan mencapai gelar M.Sc dengan DWIMESTER, Ph.D saya juga akan saya rasa akan saya dapatkan dengan DWIMESTER….teman saya mendapat S1 dengan TRIMESTER, nanti S2 dengan DWIMESTER, dan mungkin S3 juga dengan DWIMESTER….jadi di manakah bedanya? sama-sama Ph.D bukan? Apakah UKSW hanya akan terus membuang-buang waktu dengan polemik dwimester dan trimester? Semoga tidak. Tetapkanlah satu pilihan dan laksanakan dengan sebaik-baiknya. Viva UKSW

    Salam

    Erman
    FTI-2003
    FTJE-1997

  22. Neil says:

    Ha ha ha

    Mas Erman tidak mau berhitung-hitung lanjut setelah membuat pernyataan penting: terlalu banyak mata kuliah, terlalu banyak sks total. Jika merubahnya sulit karena melibatkan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol langsung (merubah UU, misalnya atau terjebak dalam pola pikir kurikulum nasional atau paling tidak seperti kurikulum universitas negeri), ya implikasinya mari bermain di wilayah yang manageable.

    Sebetulnya wilayah kurikulum adalah wilayah manageable. Namun, cara pikir kita sangat kuat dipengaruhi oleh model kurikulum yang existing. Tidak berani kita mengambil kata putus, “Kita berani dan mau membuat perbedaan dari universitas lain (turunan dari rezim kurikulum nasional dulu)!”

    Keberanian melakukan rekayasa kurikulum yang lebih pas dengan strategi pendidikan kita di UKSW akan membawa hasil lebih baik. Strategi pendidikan yang saya maksud di antaranya adalah 1) memilih trimester (daripada dwimester) untuk reduce beban dalam setiap term. Komitmen ini harus dijalankan dengan berdisiplin (disciplined thought, disciplined action). Jadi, tidak ada toleransi bahwa dalam trimester mahasiswa boleh ambil sks di atas 16. Itu salah satu kesalahan yang kita lakukan di saat menerapkan trimester di 2002 – 2007 lalu. Jangan pernah di ulang.

    Bagian dari strategi pendidikan yang harus dijalankan adalah 2) student-centered learning. Pengalaman Erman dan Yoyok melihat dan menjalani bagaimana seharusnya mahasiswa belajar (dan karenanya menyangkut juga bagaimana dosen mendesain kegiatan belajar mengajar) adalah bahan belajar penting bagi kita. Bagi saya, pilihan-pilihan seperti itu adalah bagian dari upaya merekayasa perilaku akademik. Jadi mas Erman, jangan dong dikendalai oleh “Ah, di UKSW (atau di Indonesia) itu tidak mungkin!” Yang benar aja. Apakah Anda mau itu mungkin terjadi di UKSW? Mari kita buat mungkin!!! Change we believe in, Yes We Can!!!

    Apa asset terbesar sebuah universitas? Pengetahuan dan Teknologi! Apa yang dilakukan perusahaan untuk survive, mengelola assetnya dan menjadikannya keuntungan untuk terus hidup dan terus berkembang. Apakah UKSW sudah mengelola assetnya dengan baik? Mungkin, tetapi baru sebatas yang mas Erman katakan, hanya untuk mengajar mahasiswa sebanyak-banyaknya dan belum menjadikan asset itu bernilai ekonomis lebih. Hercule Poirot, detektif di buku Agatha Christie menilai sel kelabu, sebagai karunia Tuhan, itu luar biasa kemampuannya. Kalau begitu, kalau cuma dipakai untuk disantai-santaikan mengajar apa yang sudah biasa diajarkan alias hanya diulang-ulang karena ganti mahasiswa setiap semester atau tahun, lalu apakah itu bentuk pertanggungjawaban moral seorang dosen (apalagi di sebuah Universitas Kristen) yang benar?

    Mari kita lihat apa bisnis yang ditangani oleh Unit Kewirausanaan UKSW. Apakah asset bernilai rupiah tidak terhingga itu dikelola sebagai asset bisnis UKSW? Hampir-hampir tidak. Bagaimana bisa membuatnya lebih bernilai? Itulah yang mas Erman lihat di Taiwan, dan kita yang lain lihat di negara-negara lain di belahan dunia manapun. Riset adalah aktivitas produksi pengetahuan dan teknologi yang bisa diselerasakan dengan produksi barang atau jasa manapun di perusahaan tersukses manapun. Setiap organisasi adalah suatu sistem yang memasukkan input dan mengeluarkan output dan universitas sebagai dapur pengetahuan dan teknologi ya urusannya producing knowledge and technology dan juga knowledge producers (lulusan universitas = knowledge producers). Tanpa riset ya hidup sebuah universitas dapat dikatakan mati enggan, hidup tidak. Untuk konteks Indonesia mungkin masih bisa dibanggakan dengan mengajar sebanyak-banyaknya mahasiswa, walaupun menghasilkan para mediocre. Riset di bidang mas Erman dan mas Yoyok (juga rekan-rekan di bidang science) adalah riset-riset bernilai rupiah tidak terkira, jika universitas tahu bagaimana menciptakan iklim akademik yang tepat.

    Karena itu, saran saya buat mas Erman (juga mas Yoyok), pelajari lah dengan baik bagaimana universitas di Taiwan sebagai tempat belajar membangun dan mengembangkan kultur akademiknya itu. Bawa pulang ke UKSW dan translasi sesuai konteks kita. We can do that! We can even do better, if we want. Tapi, tidak ada yang satu malam jadi, candi Prambanan pun tidak! Membangun UKSW yang berkarakter dan berhasil, butuh pengorbanan2 yang tidak kecil, mulai hari ini. We all are change agent (karena pak Noto minta setiap lulusan UKSW seperti itu). Maka, jadilah agen perubahan di tempat kalian berbakti, selepas studi yang menyenangkan itu.

    Salam!

  23. Yoyok 2003 says:

    @ Pak Neil:
    Untuk di ITB menurut pengalaman saya sih semua mata kuliah begitu. 3 sks = 2 sks pertemuan + 1 sks pertemuan. Dan sepertinya belum berubah..dan memang 18 sks di sana menurut saya pontang-panting..sampai2 nilai C pun di “bungkus” karena malas mengulang..ha ha ha. Belum lagi waktu studi yang dibatasi tanpa mengenal istilah re-admisi. Tapi dari gosip yang beredar sepertinya semenjak otonomi kampus nilai B lebih mudah di dapat..

    @ Mr. Erman (teman 1 lab, dan temen 1 kamar tercinta..ha ha ha):
    Ya sama-sama Ph.D dan M.Sc memang trimester dan dwimester.. M.Eng-nya MIT dan M.T-nya Univ.X juga sama2 master… Jangankan master, pisang goreng pun yang digoreng 2 menit dengan yang digoreng 5 menit sama-sama pisang goreng :) ; yang jadi pertanyaan: Bagaimanakah kualitasnya? Saya setuju dengan usulan Pak Erman untuk adanya penelitian mengenai dwimester dan trimester. Kita sungguh perlu melihat ini dari proses dan kualitas outputnya. Dan menurut hemat saya, IP kurang tepat untuk dijadikan patokan :).

    Memang semua itu bergantung kepada “obyek”-nya. Saya rasa kita perlu memberikan exception terhadap mahasiswa ya sudah “dewasa” (sadar akan tugas dan kewajiban) karena mereka hanya minoritas. Yang perlu kita pikirkan ada para mahasiswa yang “belum” dewasa karena mereka ini mayoritas secara de facto. Apakah mereka mampu berjalan sesuai dengan harapan para “desainer” trimester?


    Saya pribadi tidak pro-dwimester maupun kontra trimester…tapi lebih berpikir bagaimana dwimester dan trimester bisa dioptimize dengan memperhatikan faktor “ketidakdewasaan” mayoritas mahasiswa di Indonesia..

  24. Yudo Widiyanto says:

    Menara Gading Yang Tak Pernah Lekang

    Kita benar-benar menjadi menara gading yang “kokoh “atas polemik dwi semester dan trisemester. Ini menggambarkan kita adalah pribadi autis yang pandai mengotak-atik teori dan menyelesaikan masalah yang “merungkel” di otaknya sendiri. Coba renungkan masalah tri dan dwi ini mulai muncul sejak sepuluh tahun lalu. Hmmm yah paling tidak kalau pelaksanaannya sudah 8 tahun kalau dipikir-pikir sudah ada 2 generasi lulusan yang pernah merasakan tri semester dan dwi semesteri bersamaan hingga saat ini.

    Lalu mengapa profil lulusan tersebut terlupakan dalam konteks ini. Coba lirik dong..profil lulusan terakhir yang lulus akhir tahun 2008 dan 2009 masing-masing fakultas. Adakah UKSW mempunyai database yang lengkap untuk mengukur keberhasilan sistem pendidikan “yang dipercayanya” melalui profil lulusan tersebut?

    Hmm …kita ambil salah satu kasus nyata saja. Badan Akreditasi akhir tahun lalu memberikan stempel C kepada salah satu fakultas, yang sebelumnya memenggang predikat A selama beberapa periode. Kita lupakan dahulu perdebatan validitas hasil Badan Akreditasi. Tapi yang pasti, fakultas tersebut sedang berjuang untuk meyakinkan kembali Badan Akreditasi nilai C dengan mengajukan proses reakreditasi.
    Nah menarikan , ternyata dalam proses reakreditasi fakultas tersebut team reakrediasi mau tidak mau harus mendata profil lulusan sebagai salah satu komponen untuk mengembalikan statusnya seperti semula.

    Tahukah kita bahwa dari profil lulusan tersebut ketika lulus ternyata bukan terganjal sistem macam apa yang ia anut di kampusnya? Tahukah kita seberapa besar profil lulusan kita dipercaya karena bukan “makan” seberapa banyak dan sedikitnya SKS di kampusnya?

    Coba saja sebagian lulusan saya yakin kita bisa kumpulkan mereka , berapa yang telah menikmati fase “kemakmuran” . Kemakmuran kita sederhanakan saja tolak ukurnya dari seberapa sanggup profil lulusan melangkah untuk tujuan mengembalikan puluhan hingga ratusan juta rupiah nilai investasi ia tanam di UKSW untuk masa depannya?

    Namun ini bukan mengabaikan selama sekali konsep berpikir pedagogis yang selama ini dijadikan santapan diskusi. Namun mohon maaf sekali lagi, sudah tidak jamannya, dwi atau tri , yang pasti keduanya sudah ada profiul lulusannya… jadinya kalau masih berkutat dari kacamata yang melulu itu saja, lengkaplah sudah kita adalah kampus yang autis dan menara gading yang sempurna.

    Hmmm usah saatnya, profil lulusan menjadi landasan berpikir “kudus” atau tidaknya sistem yang selama ini kita anut. Tertarikah membuktikan?

    Salam

  25. Neil says:

    Mas Yudo,

    Jika Anda yakin sama saja, maka sederhana saja permintaan saya. Bersatu-lah sebagai mahasiswa, tuntut pimpinan Universitas dan Fakultas dan dosen-dosen untuk menjalankan Sistem Kredit Semester (SKS) dengan benar. Bagaimanakah SKS yang benar? Baca di buku peraturan akademik.

  26. mon2 says:

    tapi kenapa tidak fakuLtas yang memakai system 3mester ini???

    saran saja, sebaiknya dari pihak unv untuk memkai system ini ke semua fakuLtas…

    GBU

  27. Sastrostroek says:

    Setuju dengan pendapat mas Neil nih…..Bersatulah mahasiswa untuk berani menyuarakan kebenaran…jangan mengkerut karena ketakutan nilainya jatuh….gara-gara protes…kan nilai bisa diprotes juga kalo dosennya ngasih seenaknya. Kan di UKSW untuk masalah nilai terbuka?

    Nah…soal menara gading…di UKSW kayaknya sudah mulai terbentuk menara-menara itu ato kalo alkitabiah ya…munculnya raja-raja kecil gitu loo. Kayaknya menjadi seorang dekan tu menjadi impian yang harus diperebutkan dengan segala cara…kalo perlu mengerahkan semua tenaga kerja yang ada di fakultas tanpa kecuali…termasuk pegawai cleaning service yang harian pun dihalalkan untuk memilih…biar target tercapai…gitulooo :-D)

    Setelah jadi dekan..apa yang terjadi???? Waktu sang dekan menjadi sangat mahal untuk mengadakan rapat fakultas…apalagi seperti yang dibicarakan…mikir penelitian fakultas ataupun mikir pengembangan fakultas. Mana sempat…keburu telat bisnis pamor di luar UKSW….aku ni lo orang pilihan fakultas yang laku keras juga di luaraaan :-(((

    Kebetulan…saya FSM….prihatin dengan kiprah dekan FSM yang super sibuuk di luaran…Rapat FSM? Mana sempat…kan ada wakil dekan…Jadi yang salah wakil dekan? Kasian deh yang jadi wakil dekan…mungkin kurang berpikir jauh saat menyanggupi menjad wadek..Karena di periode pertama jadi dekan saja..rapat fakultas bisa dihitung dengan jari per tahunnya. Kenapa terpilih lagi??? Wallahuallam…’kali sekarang dosen-dosenpun malas bertemu muka dalam rapat :-(( atau justru beruntung juga dengan status quo….tanpa ada gejolak…tenang…tenang yang menghanyutkan…asal….dapat jabatan struktural dan aman terkendali??? Menyedihkan!!

    Juadiii….dwi mester ataupun tri mester bagi FSM tu tidak ada pengaruhnya…karena banyak dosen yang akhirnya berpikir…..luweeeeh…para pejabatnya saja juga bersikap luweeeeehhhh.

    Sastroek

  28. sastrostroek says:

    Hiduup kebenaran…….pada waktunya Allah akan menegakkan…..kata orang “Jawa becik ketitik ala ketara”…..Serapat-rapatnya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium baunya juga……

    Mungkin itu yang saat ini juga terjadi di fakultasku…FSM….bersatu dosen-dosen untuk menegakkan kebenaran dan menggulingkan yang tidak benar. Bravo FSM.

    Semoga buah keangkara murkaan dan aji mumpung karena jabatan…menjadi pelajaran bersama dan tidak akan terulang lagi siapapun yang menjabat nantinya.

    Kepada mantan dekan (Lusiawati Dewi)…terimalah semua yang terjadi dengan lapang dada…kenapa harus berkeras tetap menjadi dekan kalau yang dipimpinnya saja sudah tidak ada yang mau…kecuali 3,5 orang….atas dasar SK pengangkatan? Ingat ibu pada setiap klausul SK pasti ada catatan disitu bahawa SK bisa dicabut karena……. Fakultas sudah menawarkan pada ibu untuk mengundurkan diri tapi ibu berkeras tidak mau karena merasa tidak bersalah….kami betul-betul kasian pada ibu karena ketidak tahuan ibu…berarti dulu terjadi kesalahan besar pemilih saat pemilihan ibu menjadi dekan….ternyata ibu tidak smart, angkuh, penindas, aji mumpung, dsb..dsb….

    Saat dwi semester..ibu juga tidak menunjukkan prestasi tridharma baik sebagai pribadi maupun pemimpin…begitu menuju pelaksanaan operasional trimester ibu berteriak paling lantang dn mengatasnamakan fakultas…begitu dosen-dosen menentang…ibu alihkan alasan ke mahasiswa….kasian kesudahannya…ibupun harus lengser….mau tidak mau…..Lha kalau tidak mau..ibu emangnya mau “menDekani’ siapa????

    Bravo UKSW…..

  29. yz137 says:

    mohon ditinjau ulang untuk jajaran FKIP, kekalutan dwimester dantrimester juga tiba disana dengan ngebut. bahkan permintaan penambahan dosen untuk kelas PGSD seolah di abaikan. padahal yang dikuliahi calon guru juga. PANTAU BERSAMA YUK

  30. Sastrostroek says:

    Anarkhis ternyata banyak ragamnya…..Kalau di luar PT bentuk destruktif bangunan sering tampak di layar kaca disertai wajah-wajah ganas yang siap melahap siapa saja yang menentangnya.

    Mungkinkah anarkhis bisa terjadi dalam PT? Anarkhis yang berselimutkan nuansa pendidikan atau sopan santun ilmiah????

    Adalah fakta anarkhis tatanan program di FSM … di era diktator berwajah cantik, bertubuh kecil dan terlebih di era akhir kepemimpinannya sepertinya mengidap autis…. Mengapa diduga autis? Saat hadir sebagai peserta rapat…menurut cerita si autis ini tidak pernah lupa membawa perlengkapannya…kalau perempuan lainnya yang dibawa beauty case, nah si autis bawanya BB dan IPAD. Begitu meperoleh tempat duduk maka segera barang “dagangannya” langsung ditata. Sepanjang rapat..tangannya yang mungil rajin pencet-pencet tut BB maupun IPAD…otomatis matanya jarang memperhatikan manusia sekitarnya…inilah kenapa disebut autis…. Belum lagi suara BBnya yang seringkali keluar suara teriakan….sehingga peserta rapat lainnya teganggu dan sering muncul pikiran…selain autis ternyata sudah mengarah ke “segi” …setengah gila… Semoga apa yang terbersit di luar oknum autis tidak benar.

    Kembali ke anarkhis yang kebetulan juga dilakukan si autis yang segi (?) adalah porak poranda aturan selama kepemimpinannya. Si autis katanya tidak pernah konsisten dengan TRIDHARMA PT..bahkan dosen-dosen yang mencoba membangun esensi TriDharma dalam kiprah ilmiahnya dihambat atas nama kekuasaan. Man Power Planning tidak jalan….mungkin karena si autis sadar dirinya tidak mampu sehingga dosen-dosen lainnya juga dianggap sama dengan dirinya yang tidak mampu meningkatkan prestasi akademiknya. Payaaaah. Anehnya, orang yang dianggapnya teman difasilitasi untuk perkembangan ilmiahnya meskipun ‘si teman’ dinilai dosen-dosen yang lainnya tidak loyal, egois dan “hobi tidur” karena hidupnya hanya dipenuhi mimpi untuk dirinya sendiri dan tidak pernah memikirkan kemajuan progam studi apalagi fakultas.

    Bersyukur si autis sudah menyatakan lengser keprabon…kalau berkeras pasti warga FSM juga akan melengserkan dengan paksa…hanya dampak kepemimpinannya masih terasa sampai sekarang. Anehnya mesikipun sudah lengser, penyakit autisnya masih melekat karena jiwanya sudah menyatu dengan BB dan IPAD.

    Bravo FSM….mari tegakkan kebenaran, perjuangkan TRIDHARMA PT yang selama ini tersendat atau disendat oleh oknum yang “gila” kekuasaan.

Kami menerima pandangan Anda