Hak untuk Malas

Browse By

Judul: Hak untuk Malas
Penulis: Paul Lafargue
Penerjemah: Komunitas Merah-Hitam (sosialislibertarian@gmail.com)
Penerbit: Jalasutra
Tebal: xxxii + 76 halaman
Cetakan I, November 2008.

Hak untuk Malas

Paul Lafargue (1842-1911) adalah seorang jurnalis sosialis, kritikus sastra, penulis, dan juga aktivis politik. Beberapa kali dipenjara karena aktivitasnya seperti pemogokan dan pemilu. Selama berkutat dengan ide-ide Marxis, ia juga menambahkan ide-ide orisinalnya sendiri. Hak untuk Malas (The Right to Be Lazy) adalah salah satunya.

Situasi dimana kerja menjadi kebutuhan utama dan dimana kerja menjadi roda penggerak kapitalisme dunia, menjadi rujukan Paul Lafargue dalam menuangkan ide-ide hak untuk malas. Dogma kerja kaum borjuis membawa malapetaka bagi kaum pekerja. Produksi berlebih, sedangkan pekerja sendiri tidak bisa menikmati hasil kerjanya, juga perkembangan teknologi yang tidak dimanfaatkan untuk mempermudah dan menyederhanakan kerja, sedikit mengingatkan kita pada cuplikan-cuplikan film The New Rulers of The World (dimana upah buruh di industri-industri besar bahkan tak cukup untuk sekedar membeli hasil produksi mereka sendiri).

Buku ini termasuk dalam genre buku sejarah dan politik. Sebagaimana diingatkan di bagian kata pengantarnya, teks-teks pada buku ini sudah cukup kuno. Kebanyakan contoh kasus diambil dari masa ketika Paul Lafargue hidup dan dari sejarah tentang kerja di masa lampau, terlebih lagi hanya merujuk lokasi di seputar Eropa. Buku ini juga menampilkan perdebatan pro dan kontra di antara para filusuf, agamawan dan politisi di masa itu. Dengan demikian, lebih bijak kiranya bila kita analisis dan bandingkan dengan konteks situasi-situasi di masa kini.

Buku ini cukup direkomendasikan untuk dibaca dan didiskusikan kembali oleh kita, orang-orang yang (sadar atau tidak) hari-harinya didominasi dan diperbudak oleh kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mengutip tawaran Lafargue, kerja hendaknya menjadi ”sekedar bumbu bagi senangnya kebersantaian, suatu olahraga yang bermanfaat bagi organisme manusia, suatu hasrat yang berguna bagi organisme sosial.”

Bagus Ferry Permana, reporter koran komunitas selancar Magic Wave

One thought on “Hak untuk Malas”

  1. febri says:

    @ Bagus : meq, bagaimana kalau kamu buat stiker lagi “Lazy is Power” 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *