Halte Mubadzir

Browse By

Pemandangan yang setiap hari terlihat di depan pintu gerbang UKSW, terkadang membuat kita berpikir bahwa peraturan yang dibuat belum sepenuhnya diterapkan. Di depan pintu gerbang jelas terpampang tanda larangan berhenti atau tanda larangan parkir. Kenyataannya, setiap hari, baik mobil pribadi maupun Angkutan Kota (Angkot), menjadikan pintu gerbang sebagai tempat parkir maupun tempat turun naik penumpang.

Ironisnya lagi, di situ terdapat beberapa orang satpam yang bertugas mengatur keluar masuk kendaraan. Mereka seolah-olah tak bisa menerapkan rambu lalu lintas yang terpampang di depan mereka.

Apakah ini kelalaian para petugas keamanan atau para pemakai jalan?

Setiawan, salah satu pemilik mobil pribadi, yang ditemui Scientiarum ketika sedang memarkir mobilnya di depan pintu gerbang mengatakan bahwa, memang satpam sudah memperingatkan agar jangan memarkir kendaraan di situ.

“ tapi saya cuma ke ATM, jadi nggak lama, jadi boleh parkir di sini” ujar Setiawan.

Lain halnya dengan Joko Kristio, sopir angkot jalur 2, ketika ditanya mengapa parkir di situ, dia mengatakan bahwa kalau dia parkir agak jauh, maka angkot yang lain akan mengangkut penumpang dari dalam kampus.

“Kita harus parkir di sini Mas, kalau nggak, angkot yang di belakang yang ngambil penumpangnya” kata Joko.

Pria yang telah menjadi sopir angkot sejak tahun 1991 ini mengatakan, mahasiswa juga tidak mau turun terlalu jauh dari pintu gerbang.

Sangat disayangkan, karena hanya sekitar 20 meter dari pintu gerbang kampus terdapat halte yang dikhususkan sebagai tempat turun naik penumpang. Sebenarnya, keluarga UKSW patut bersyukur karena telah ada halte yang terletak persis di depan kampus. Sehingga mereka tidak perlu menunggu angkutan lebih jauh. Tapi kenyataannya, mereka lebih suka menggunakan pintu masuk UKSW sebagai “halte”.

Halte yang telah dibangun, kini menjadi tempat parkir sepeda motor. Seharusnya sepeda motor dilarang parkir di situ. Parahnya lagi, ternyata yang memarkir kendaraan disitu adalah ”MAHASISWA” , yang notabene adalah kaum terpelajar. Ternyata masih belum sepenuhnya mengerti tentang peraturan.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi yang enggan menyebutkan namanya, mengatakan bahwa dia parkir di situ karena selama ini tidak ada larangan.

“ Lebih enak parkir di sini mas, nggak ribet, dan lebih cepat” katanya sambil tersenyum.

Salah seorang satpam, ketika di temui Scientiarum di sela kegiatannya mengatur kelancaran lalulintas, mengatakan bahwa tanda larangan parkir yang terdapat di depan gerbang sudah dipasang sekitar empat bulan. Mereka pun selama ini masih melakukan sosialisasi kepada pengguna jalan tentang tanda tersebut.

“ Selama ini kami masih kesulitan menghadapi para sopir angkot, walaupun kita sudah berulang kali mengingatkan mereka, tapi mereka tetap saja masih parkir di situ.” katanya.

Beliau juga menuturkan, kadang-kadang ada pejabat struktural UKSW yang memarkir kendaraan di situ. Dan seharusnya, ada kerjasama dari pihak universitas sendiri, baik dari pejabat struktural, dosen, pegawai, maupun mahasiswa. Mengenai halte tersebut dia mengatakan bahwa harus ada koordinasi dari pihak pengelola halte tersebut, dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub).

“ Kita sebagai petugas tidak bisa mengawasi di situ terus, karena kita ditugaskan untuk mengatur keluar masuknya kendaraan dari dalam kampus.”katanya.

Mereka sebagai satpam yang bertugas, tidak punya kewenangan untuk mengatur kendaraan di halte, karena itu merupakan kewenangan dari pihak Dishub.
Sumardy, kepala Keamanan dan Ketertiban Kampus (KAMTIPUS), saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan bahwa pihak keamanan hanya bertugas mengatur kelancaran keluar masuk kendaraan dari dan ke luar kampus.

“ Kami dari pihak keamanan tidak punya kewenangan menyuruh para sopir angkot untuk memarkir kendaraan mereka di halte, kami hanya mengatur agar mereka tidak parkir di depan pintu.” Kata kepala KAMTIPUS yang telah bekerja di UKSW sejak 1986 ini.

Mengenai halte yang sekarang dipakai sebagai tempat parkir sepeda motor, dia mengatakan bahwa yang parkir disitu kebanyakan mahasiswa. Hal ini dikarenakan tempat parkir yang disediakan UKSW terbuka untuk umum dan gratis. Sehingga banyak yang memakai parkiran tersebut.

Sebenarnya UKSW mempunyai dua area parkir, tetapi salah satunya kurang diminati mahasiswa, dengan alasan terlalu jauh.

“Dari Dishub sendiri dalam waktu dekat akan mengirim orang untuk mengatur pengelolaan halte tersebut.” Kata Sumardy.

Sekarang, pihak keamanan sedang melakukan sosialisasi mengenai tanda larangan yang baru dipasang, sekaligus sosialisasi penggunaan halte di depan kampus.
Mereka sangat mengharapkan agar ada kesadaran dari pihak pemakai jalan, baik sopir angkot, pengendara sepeda motor, lebih khususnya lagi dari pihak keluarga UKSW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *