Gampang-gampang Susah

Browse By

Di era informasi dan komunikasi kini, banyak perguruan tinggi menawarkan pendidikan jurnalisme. Ada wartawan yang pernah mengenyam pendidikan formal ini. Namun ada pula yang tak merasakannya sama sekali.

Jurnalisme dapat ditekuni oleh siapapun, tak melulu mereka yang mengenyam pendidikan formal. Toh juga tak ada ukuran baku untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang wartawan yang belajarnya secara otodidak, jika dibandingkan dengan yang tak otodidak.

Sebagai pegiat lembaga pers mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana, saya termasuk orang yang belajar jurnalisme secara otodidak. Keterampilan ini saya peroleh dari kegemaran “mencuri” ilmu dari teman maupun dosen.

Awal Oktober 2005, saya memberanikan diri untuk menerbitkan kembali Scientiarum yang sempat “mati suri”. Scientiarum adalah sebuah media mahasiswa di UKSW. Ini bisa disebut sebagai implementasi hasil “mencuri” ilmu jurnalisme tadi. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menerima saran dan kritik dari Izak Lattu dan Usadi Wiryatnaya (almarhum), untuk karya-karya saya di Scientiarum. Mereka bisa dibilang sebagai orang-orang yang berjasa terhadap kemajuan saya dalam menekuni jurnalisme.

Dulu, saya juga sering menerima ajakan Yunantyo Adi Setyawan, seorang mahasiswa Fakultas Teknik UKSW, untuk melakukan peliputan. Waktu itu tahun 2003, Adi masih menjabat Pemimpin Redaksi Salatiga Pos, sebuah harian umum yang pernah terbit di Salatiga.

Adi mengajak saya mewawancara pelatih klub Lokomotif Perusahaan Umum Kereta Api, Alwi Mugiyanto. Saya sedikit terlibat dalam bincang-bincang malam itu. Dari sana ada sesuatu yang saya petik, tanpa sepengetahuan mereka.

Ketika Adi baru saja bergabung dengan Suara Merdeka (harian terbesar di Jawa Tengah) pada pertengahan 2005, dia juga mengajak saya meliput kondisi Rawa Pening. Kami pergi mewawancara salah seorang penjaga di sana, namanya Kasihan. Saya kembali mendapat pengalaman jurnalisme yang berharga, meski waktu itu saya hanya sebagai pendengar.

Setelah empat tahunan belajar jurnalisme di Scientiarum, saya diminta menangani kelas jurnalisme yang dibuka di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. “Melalui kelas-kelas inilah saya dapat memperluas jejaring untuk kemudian meningkatkan kapasitas diri saya di bidang jurnalisme,” pikir saya sejak saat itu.

Kata Andreas Harsono, orang memang lebih banyak belajar jurnalisme secara otodidak. “Kebanyakan mereka belajar dari pers mahasiswa,” katanya, saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Andreas adalah alumnus Fakultas Teknik UKSW. Ketika masih mahasiswa, dia pernah mengasuh Imbas, sebuah majalah mahasiswa di fakultasnya. Andreas juga pernah mendapat Nieman Fellowship on Journalism dari Harvard University.

Dia menambahkan, keberhasilan seorang wartawan tergantung pada wartawan itu sendiri, “Bila dia sudah belajar jurnalisme misalkan empat sampai tujuh tahun, maka hasilnya akan lebih bagus. Tergantung jam terbangnya,” katanya.

Andreas mengutip Thomas Hanitzsch dari Ilmenau University of Technology, Jerman. Intinya, Hanitzsch mengatakan bahwa kurikulum pendidikan jurnalisme kini tak memadai, bahkan sama sekali tak cukup untuk membuat lulusan sekolah bekerja sebagai wartawan. “Lengkapnya bisa lihat di blog saya,” pinta Andreas. Blognya dapat diakses melalui alamat web www.andreasharsono.blogspot.com.

Para praktisi pendidikan jurnalisme yang dimaksud Hanitzsch tak melatih kecakapan menulis mahasiswa (vital untuk industri media), maupun teknik-teknik baru dalam jurnalisme, seperti internet, news design, video, audio, film, dan sebagainya. “Dua puluh persen dosennya nggak bisa menulis,” ungkap Andreas.

Andreas bilang bahwa ada empat hal yang perlu dipelajari ketika belajar jurnalisme. Pertama, reporting, yang dibagi jadi dua bagian, yakni wawancara dan riset. Kedua, penulisan, dimana di sana dibahas mengenai penulisan straight news, narasi, monolog, dan sebagainya. Ketiga, soal etika jurnalisme. Keempat, soal dinamika ruang redaksi. Bagi pemula yang menekuni jurnalisme, Andreas menyarankan untuk belajar bagaimana membuat deskripsi yang baik, dialog, dan belajar mengenai kalimat tanya yang terbuka.

Sama dengan Adi dan Andreas, Pasti Liberti Mappapa dulu juga belajar jurnalisme di majalah Imbas. Kini Pasti bekerja sebagai reporter di harian Seputar Indonesia. “Belajar di lapangan semakin mengasah kemampuan,” katanya.

“Kenapa Anda menekuni profesi sebagai jurnalis, padahal Anda sendiri notabene orang teknik?” tanya saya.

“Dunia yang dinamis, mempelajari hal-hal baru, orang baru, dunia baru,” jawab Pasti.

“Mahasiswa elektro belajar jurnalistik bukanlah hal aneh di FTJE. Imbas sebagai pers mahasiswa konon sudah ada sejak akhir dekade 1970-an,” ungkap Yunantyo Adi Setyawan, via surat elektronik. FTJE adalah singkatan dari Fakultas Teknik Jurusan Elektro.

“Waktu itu Imbas lama sekali ‘mati suri’, sehingga pada 2003, saya bersama sejumlah rekan mahasiswa FTJE angkatan 1999, yakni Pasti Liberti, Pradono Anto, Joehanes, dan Patria, mulai menekuni Imbas,” terang Adi. Adi hanya setahun berkecimpung bersama di Imbas, yakni pada 2003 hingga 2004. Setelah itu, pada awal 2005, dia mulai bekerja di Suara Merdeka.

Adi bilang, dia belajar jurnalisme di Imbas secara asal saja, karena memang kurang mengerti. Dia dan kawan-kawannya mengambil jalan pintas, yakni meminta orang-orang menulis tentang sesuatu, lantas mereka terbitkan. “Atau melakukan wawancara,” kata Adi, “kami transkrip wawancara itu, kemudian diterbitkan.” Modal mereka waktu itu hanya semangat. Pengetahuan tentang jurnalisme sendiri amat terbatas. “Belajar jurnalistik beneran ya setelah di Suara Merdeka,” katanya.
“Sejauh mana keberhasilan orang yang secara otodidak belajar jurnalistik dengan orang yang belajar resmi di ruang kuliah?” tanya saya.

“Ini tentu sangat relatif. Mungkin perlu penelitian khusus untuk menjawab pertanyaan Anda ini,” jawab Adi.

Adi menambahkan, “Anda lihat sendiri mereka para mahasiswa FTJE yang kemudian menekuni jurnalistik secara coba-coba, di kemudian hari mereka bekerja di industri-industri pers macam Kompas, seperti si Winda itu misalnya. Atau Pasti Liberti yang kini di Seputar Indonesia, atau saya di Suara Merdeka. Bahkan, ada yang kemudian melejit sampai jadi fellow di Universitas Harvard macam Andreas Harsono. Ya begitulah,” kata Yunantyo.

“Ada juga Yosep Adi Praseto alias Stanley yang kemudian jadi peneliti INFID (International NGO Forum on Indonesian Development). Stanley menulis buku soal Kedung Ombo,” imbuh Adi lagi.

Adi juga mengatakan bahwa banyak temannya seprofesi tidak lulus dari jurusan resmi jurnalisme, melainkan lulusan fakultas teknik, hukum, dan sebagainya. “Kawan saya, Johan Budi, yang sekarang jadi Kepala Humas Komisi Pemberantasan Korupsi, itu juga dulunya mahasiswa Fakultas Teknik Gas di Universitas Indonesia. Kemudian jadi wartawan Forum Keadilan, kemudian jadi wartawan Tempo.”

“Intinya,” kata Adi, “yang penting tekun sajalah.”
Kalau hendak belajar sendiri atau otodidak, Adi punya resep. Pelajari teori dasar-dasar jurnalisme, lalu baca tulisan wartawan di koran yang menurut Anda menarik. Setelah itu, praktikkan (dengan menulis) teori tersebut dengan model tulisan seperti di koran. Tidak perlu panjang-panjang, cukup antara 2.000 sampai 3.000 huruf per tulisan. Intinya, rajin-rajinlah baca koran dan perhatikan penulisannya dan isi tulisannya, dan cobalah untuk mulai menulis.

“Setelah Anda menulis, tanyakan ke wartawan di kota Anda, untuk menilai tulisan Anda itu. Begitu seterusnya, saya yakin tidak lama Anda sudah akan bisa menulis straight dalam bentuk kaidah jurnalistik. Kalau sudah bisa straight, anda tinggal mengembangkan cara menulis feature dan sebagainya, akan terasa gampang. Setelah Anda mahir, ajari teman Anda sesama mahasiswa, begitu seterusnya,” kata Adi.

“Mengenai ketajaman mencari informasi, itu tergantung dari praktik di lapangan. Dulu ketika di Suara Merdeka, saya juga dilepas bebas tanpa petunjuk apa-apa. Mau cari berita apa saja terserah, pokoknya dibiarkan bingung sendiri, sampai secara alami kemudian Anda tidak bingung lagi, sampai akhirnya saya ‘nyasar’ di kejaksaan dan pengadilan sampai sekarang. Dengan cara inilah ketajaman mencari informasi itu dilatih,” kata Adi lagi.

Siapapun Anda, tentu bisa mencoba belajar jurnalisme. Mulailah menulis tentang hal-hal sederhana. Jika sudah tahu dasar-dasarnya, niscaya Anda akan mudah untuk menulis hal-hal yang lebih rumit.

“Profesi jurnalis agak unik, orang harus mencintai,” kata Vergilio Guteres, Presiden Asosiasi Jurnalis Timor Lorosae, ketika saya hubungi via telepon genggam. Dia mengatakan bahwa tujuan utama menggeluti profesi sebagai seorang wartawan semata-mata bukan untuk cari nafkah, tapi pengabdian. “Tidak boleh bercita-cita menjadi kaya, ulet, sabar, dan tidak mudah menyerah,” katanya, sebelum komunikasi kami terputus karena pulsa habis.

Bambang Triyono, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

11 thoughts on “Gampang-gampang Susah”

  1. Joyo Dino says:

    “Semua profesi itu gampang-gampang susah”

  2. lilian says:

    ku pikir orang jurnalisme… kudu punya pandangan yang luas, kritis, ……

  3. Yudo Widiyanto says:

    Hmm. setuju..disadari atau tidak setiap orang sebenarnya punya bakat atau naluri sebagai wartawan loo. Ini terlepas ia memliki keahlian tulis menulis atau tidak. Coba cermati, sekarang teknologi semakin maju dari jaman handpone sampai internet. Anak muda, kerap memanfaatkan kedua jenis teknologi ini untuk menyampaikan pesan kepada publik. Misalnya : menyebarluaskan foto-foto dan video menarik sehari hari ke teman, menyebarkan cerita pribadi sehari-hari di blog, sampai merekam peristiwa unik untuk mereka jual ke media elektronik agar mendapat bayaran.

    Ini yang para ahli menyebut kebiasaan ini sebagai citizen jurnalism, yah arti kasarnya adalah jurnalis masyarakat lah. Namun jelas yang melakukan kegiatan citizen jurnalism ini tidak terikat dengan kaedah jurnalistik profesional. Mereka menggunakan gaya bahasa pergaulan atau “slengean”, alur cerita yang tidak beraturan, bahkan sampai melompati batas norma yang kita anut.

    Nah, logikanya dengan bekal pendidikan, harusnya banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan yang potensial untuk menjadi penulis profesional. Coba cek situs facebook, friendster dan blogs, …hmmm mas Bambang pastinya tidak perlu susah-susah mencari kader scientiarum karena mahasiswa UKSW ternyata banyak juga yang melakukan kebiasan citizen jurnalism , tentunya mereka sebagai wartawan terselubung yang potensial kan.. (hehehehe).

    Wasalam

  4. bambang says:

    Dear Lilian, (1) saya ucapin terima kasih atas atensinya, (2) saya sepakat dengan pemikiran anda, sebagai tambahan untuk mahasiswa / sebagai pemula untuk belajar jurnalisme yang terpenting menumbuhkan kepercayaan diri terlebih dulu, gak usah takut ‘salah’ toh “umumnya apa yang kita pikirkan belum tentu dimiliki orang lain’, artinya; apa yang menurut kita jelek, justru orang lain menganggap suatu tulisan baik. Selanjutnya, banyak-banyaklah membaca, berdiskusi dsb. Hal ini akan membantu sekali dalam menambah perbendaharaan kata, dan juga sangat membantu sekali bagi seseorang untuk memiliki pandangan / pengetahuan yang lebih luas lagi.

    Dear Yudo widiyanto, sebelumnya saya ucapin terima kasih udah mampir ke Scientiarum. Kebanyakan mahasiswa Satya Wacana memang bagian dari citizen journalism seperti yang anda utarakan itu. Dan itu tinggal diarahkan secara baik dan benar, diberi wadah umpamanya, support dari dosen perlu ditingkatkan (agar tidak semata-mata hanya transfer knowledge) dsb. Tinggal nantinya dimantapkan dengan kaidah-kaidah jurnalisme dan etika jurnalisme.

    Kabar menarik juga datang dari salah seorang kawan kita Yodi Hardiyan, yang tulisannya dimuat di Suara Merdeka beberapa waktu lalu, judulnya “Rekonstruksi Paradigma Kehidupan Mahasiswa”, dapat di akses di (http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=57300). Di situ ia menuangkan hasil pemikiran dan pengamatannya mengenai kemampuan seorang mahasiswa menuangkan ide atau gagasan ke dalam medium bahasa tulis. Agar dapat dimuat di media massa.

    Yudo motivasi adik-adik angkatanmu di FH, agar mereka menggemari dunia tulis menulis seperti kamu, beberapa karyamu kan udah dimuat di Kompas. Itu namanya bekerja untuk keabadian….

    @Dear Joyo dino, betul ‘semua profesi gampang-gampang susah’.
    Salam,

  5. Didik Nugroho says:

    Mas tulisan anda ini benang merahnya hampir/nyaris sama dengan di satria.anandita.net cuma tulisan disana dalam bhs Inggris… sudah baca belum … coba bandingkan…

  6. Bambang Triyono says:

    Dear Didik Nugroho, belum lihat …. Makasih infonya.

    @Bisa bantu kasih gambaran singkatnya?

    Salam, bambang

  7. Yudo Widiyanto says:

    Mas Bambang, masih mau diskusi nih…

    Ada pertanyaan mas…Selama ini untuk straight news Scientiarum meberikan kategori atau aturan khusus atau tidak? Misalnya konten yang hanya terkait dengan berita-berita seputar kampus dan hanya boleh diisi oleh reporter Scientiarum?

    Untuk melengkapi konten dari media kampus tercinta ini, mau usul nih, untuk mengembangkan budaya menulis secara lebih luas, selain berisi feature dan opini Scientiarum bakal lebih asik kalau berisi berita-berita straight news, baik berita yang sifatnya intra maupun yang ekstra kampus. Mungkin isunya bisa seputar berita-berita menarik seputar kegiatan kampus diluar kampus kita hingga ke isu nasional seperti dunia pendidikan, bisnis, hingga ke Politik.

    Untuk lebih memperlebar jangkauannya tidak hanya di dalam kampus kita saja namun ke wilayah lainnnya. Misalnya di kantor-kantor pemerintahan atau perjalanan ke kampus-kampus lain untuk mengetahui implementasi kebijakan pemerintah di dunia pendidikan yang baru terjadi.

    Kalau ada berita-berita itu hadir, tentunya semakin memperkaya konten disampaing banyaknya pemikiran dan opini yang masuk ke Sciantiarum. yang pasti selain pengalaman reporter Scientiarum untuk masuk ke dunia jurnalistik sesungguhnya, bagi para pembaca Scientiarum bakal dapat inforamasi terhangat yang pasti.

    Bagaimana mas, ?

    Salam…

  8. bambang says:

    Salam, Yudo

    Ada pertanyaan mas…Selama ini untuk straight news Scientiarum meberikan kategori atau aturan khusus atau tidak? Misalnya konten yang hanya terkait dengan berita-berita seputar kampus dan hanya boleh diisi oleh reporter Scientiarum?

    @Dari awal saya mengelola Scientiarum sejak 2005, tidak ada aturan khusus mengenai pemberitaan.Malah dulu saya berfikiran Scientiarum ke depan bisa menjadi salah satu media lokal di Salatiga. Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu perlahan-lahan mencoba menyeimbangkan 50% berita seputar kampus dan 50%-nya lagi luar kampus. Dan metode ini sempat jalan, namun perlahan-lahan karena devisoner redaktur lebih diprioritaskan kampus.

    sebetulnya kalau mau jujur bagaimanapun juga dalam kampus meinginkan kabar dari luar kampus, begitu pula yang ada di luar kampus, menghendaki informasi dari dalam kampus. Ya … saya memaklumi kenapa setiap reporter kini enggan untuk melakukan reportase ke luar kampus? Sinyalemen menurut saya pribadi ada beberapa faktor : malas, tidak memiliki keberanian, prioritas kuliah (ingin cepet-cepet lulus), melulu apologi yang saya dengar tugas … tugas … dan tugas….

    Usul kamu menarik dan semoga redaksi sekarang tanggap, yang jelas saya sependapat dengan usul kamu. Pengalaman selama di Scientiarum tidak mudah menjaga kedinamisan lembaga ini, butuh inovasi-inovasi, persamaan visi, ada rasa memiliki, apresiasi dsb. Tanpa ini kiranya suatu mission impossible dalam rangka mempertahankan Persma di UKSW.

    Itu dulu, kalau ada pemikiran-pemikiran lain soal topik ini kita akan berdiskusi lebih intens lagi.

    Salam, Bambang

  9. Yudo widiyanto says:

    Dear Mas Bambang, dan rekan-rekan Redaksi Scientiarum

    Mas Bambang cerita dahulu nih, ketika menjadi fungsionaris di Lembaga Kemahasiswaan dan mengenal Scientiarum secara struktural. Namun sekarang setelah saya lulus, baru menyesal karena telah melewatkan aktivitas jurnalistik secara langsung di koran ini padahal sedang merangkak bangkit. Akibatnya sekarang out off date terhadap latar belakang pergumulannya, dan baru “ngeh” nih koran sebenarnya potensial memiliki peran sentral di kampus.

    Peran sentral dimaksud selain seluruh civitas memliki kebutuhan memperoleh informasi tetapi juga peran “sosial control” Scientiarum lebih bergigi terhadap kebjiakan kampus dan aktivitas kemahasiswaan. Tujuannya utamanya agar civitas bisa memperoleh informasi yang utuh dan pembaca bisa mengolahnya dengan cerdas.

    Kalau terkait dengan straight news khusus intra kampus, pembaca Scientiarum masih belum memperoleh informasi “terhangat”, melulu hanya berita yang itu-itu saja. Padahal sumber berita intra dan ekstra kampus itu luar biasa banyaknya.

    Hmmm… kita bisa ambil beberapa contoh luasnya jangkauan sektor berita di kampus, misalnya rapat-rapat rutin lembaga kemahasiswaan ditingkat LKF sampai LKU. Rapat-rapat rutin ini hampir selalu ada di seluruh fakultas dengan frekeunsi yang terbilang cukup sering dalam satu minggu. Dari situ kita bisa memantau apa saja LK lakukan (Isu yang menarik misalnya: ada aturan apa di LK yang baru, ada konflik antar LK kah, ada kebijakan apa yang menguntungkan dan merugikan mahasiswa,kah? prilaku pengurusnya , dst). Ini tidak rumit, reporter dengan domisili fakultas tertentu, sambil kuliah dia mampir ke kantor TUnya untuk tahu ada rapat tidak, atau dosennya seusai ngajar ditanya sebagai nara sumber.. (heheheeh, tapi ini sa-sah saja loo.)

    Rapat-rapat Dosen ditingkat Fakultas dan Universitas. Mungkin bisa saja reporter tidak boleh masuk ke ruang rapat, namun setelah selesai rapat misalnya reporter bisa melakukan wawancara dengan nara sumber mengenai hasil rapat dan kebijakannya ditingkat fakultas.( yang menarik misalnya: ada konflikah?, ada pertentangan kebijakankah, dampak ke mahasiswa seperti apa? hingga pertanyaan kreatif reporter lainnya). Ini juga tidak rumit, kita hanya poskan reporter sesuai dengan domisili fakultasnya

    Kalau di ekstra kampus, memang mau tidak mau reporter harus keluar “kandang”. Tapi,itu tidak sulit dan tidak membutuhkan banyak waktu. Kita bisa ambil contoh, reporter mahasiwa yang kebetulan ingin belanja ke Kota, kita bisa titip berita mengenai situasi di Kota saat dia belanya (misalnya kemacetannya, penegak hukumnya ngapain? pedangannya? pengamennya? gelandangnya? dst ).

    Nah ini yang paling penting, isi berita tidak perlu panjang-panjang. Kita bisa batasi minimal 3 paragraf saja, syukur kalau lengkap, karena asumsinya informasi yang reporter peroleh tersebut sedang ditunggu para pembacanya. Buat reporter baru yang belum mahir menulis, mereka bisa menceritakan kepada kakak-kakak redaktur secara lisan apa yang ia dengar dan lihat di lapangan. Tahap awal yang penting reporter mengerti apa yang mereka lihat dan dengar , terus kita asah kemampuan tata bahasnya, kalau udah oke pasti mudah selanjutnya untuk menulis.

    Hmmm,,,, sangat setuju semoga Scientiarum bisa lebih dinamis dan maju ! Kita buktikan mahasiswa punya kreativitas.Tentunya berharap diskusi kita bisa terus berlanjut, hingga sampai pada langkah kongkrtinya agar cita-cita Scientiarum bisa tercapai

    Salam, Yudo Widiyanto
    (oh ya tulisan yang atas di cut aja, itu belum diedit hehehe)

  10. bambang says:

    Dear Yudo, rasional dan realistis.

    Tulisan di atas itu sebenarnya dimaksudkan supaya mahasiswa UKSW lebih termotivasi untuk belajar Jurnalisme.

    Dari sumbernya saja udah jelas, mayoritas alumni UKSW — pernah berkecimpung di PERSMA — kini mereka rata-rata sukses. Bahkan nama-nama mereka itu dikenal oleh banyak kalangan ….

    Yudo, terus terang asyik juga berdiskusi dengan kamu macam gini.

    Kamu kalau mau kirim tulisan kirim saja via email atau apalah…jaman sekarang.

  11. Agung Anindrajati says:

    Siiip, Bang??? Hidup Scientiarum dan UKSW. TERUSKAN BAng…??? (Masih INgat saya tho….???) Salam bUat semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *