Sarasehan Balon Rektor

Browse By

Tim Pencari Profil Rektor (TPPR) mengadakan sarasehan dengan tema ” Who is next leader”. Acara sarasehan tersebut merupakan tindak lanjut dari rangkaian kegiatan TPPR.

Dalam sarasehan tersebut, tidak semua dari enam balon rektor dapat hadir, hanya tiga yang hadir. Diantaranya, Prof. Kris Herawan Timotius, Prof. Kristantius Dwiatmadja dan Prof. Ir. Sony Heru Priyanto. Sedangkan tiga balon rektor yang lain Prof Daniel Daud Kameo, Pdt. Prof. Drs. John A. Titaley,Th.D; dan Ir. Daniel Herman Fredy Manongga, M.Sc., Ph.D tidak dapat hadir dikarenakan ada acara di luar kampus.

Acara yang dimulai pada pukul 09.35 hanya di hadiri beberapa mahasiswa. Sehingga dalam ruangan balairung tampak terlihat banyak kursi yang kosong.

Menurut koordinator TPPR Reima Afluria Widhiyanti, sedikitnya mahasiswa yang hadir di acara sarasehan tersebut dikarenakan kurangnya publikasi kepada mahasisawa dan kurangnya respon civitas, khususnya lembaga kemahasiswaan fakultas.

Dalam acara sarasehan tersebut, ketiga balon rektor mendapat pertanyaan tentang alasan mengapa ingin menjadi rektor UKSW? Prof. Kris Herawan Timotius menjawab ” kalau motivasi saya, tidak lebih dari melayani dan menumbuh kembangkan program studi dan mahasiswa dan tentunya menjadikan UKSW penuh dengan berkat dari Tuhan”.

”Saya tertarik dengan visi-misi UKSW tentang kepemimpinan, lembaga ini merupakan lembaga pendidikan yang tidak hanya mementingkan kognitif tapi juga spiritual. Rektor bukan Tuhan rektor juga manusia oleh sebab itu pasti perlu dukungan dari civitas ”tuturnya dalam acara sarasehan.

Sedangkan Prof. Kristantius menjawab ”Di UKSW tidak kekurangan calon-calon rektor, dan dari visi-misi UKSW yang ingin menghasilkan pemimpin tapi di dalam UKSW sendiri krisis pemimpin oleh sebab itu saya mendaftarkan diri untuk menjadi bakal calon rektor dan kalau Tuhan mempercayai saya akan jadi rektor tapi kalau Tuhan tidak mempercayai saya tidak akan jadi rektor maka saya akan patuh sama Tuhan”.

”Visi misi saya ingin menjadikan UKSW lebih baik dan kita bisa bangga terhadap UKSW oleh sebab itu mari kita jadikan UKSW menjadi kampus yang lebih baik di masa mendatang” tambahnya.

Sedangkan Prof. Sony Heru Priyanto menuturkan ”Pergumulan berat sebenarnya bagi saya secara pribadi saya tidak layak untuk menjadi rektor karena masih banyak teman-teman yang lebih layak dari pada saya. Akan tetapi karena pengalaman pada 2004 lalu, saat pemilihan rektor tidak ada yang mendaftar, makanya saya mendaftar menjadi bakal calon rektor bahkan dengan semangat ’45 saya mendaftar menjadi balon rektor UKSW”.

Sedangkan pada sesi kedua, ketiga balon rektor mendapat pertanyaan tentang masalah apa yang dewasa ini berkembang di UKSW sehingga penting untuk dikerjakan ? Prof. Sony menjawab ” dalam ukuran-ukuran word class university, UKSW ini tidak pernah masuk. jadi UKSW sepertinya belum bisa di banggakan. Oleh sebab itu saya sangat berupaya agar UKSW bisa masuk dalam word class university agar UKSW bisa di banggakan. Maka efisiensi dan produkifitas merupakan dua cara untuk dapat membanggakan UKSW”.

Prof. Timotius ingin menjadikan universitas, dimana mahasiswa dan dosen terkenal kreatif dan produktif menghasilkan karya-karya tulisan. Berikutnya dia ingin mengembangkan tentang riset managemen dan cita-citanya yang belum terealisasi yaitu pengembangan unit kewirausahaan mahasiswa dengan tujuan agar mahasiswa selain kuliah juga memiliki pengalaman berwirausaha”.

Sedangkan Prof. Kristantius sendiri dalam penjawab pertanyaan tersebut, beliau lebih mempermasalahkan tentang peluang kerja lulusan UKSW dalam bersaing dengan mahasiswa lain diluar UKSW.

”Masalah proses pembelajaran dan kurikulum yang dijalankan apakah sudah menopang tuntutan lulusan UKSW? supaya mahasiswa dalam berkuliah tidak hanya kuliah, pulang dan tidur tapi berusaha menjadi mahasiswa yang memiliki ilmu tinggi dan iman yang tinggi” tambahnya.

Dan ketika di tanya tentang sistem perkuliahan oleh seorang mahasiswa fakultas Teologi, Kris Timotius menjawab ”Sistem perkuliahan dulu trimester sedangkan sekarang kita menganut sisem semester dan dorongan yang menyebabkan perubahan karena mengikuti aturan pemerintah dan sistem perkuliahan kita mengikuti sistem kredit semester”.

”Bahkan kegiatan organisasi mahasiswa lembaga kemahasiswaan sudah cukup bagus dan telah banyak menghasilkan prestasi luar biasa” tambahnya.

Ktistantius menuturtkan ”Sebenarnya apapun sistemnya tapi kalau kita mau melakukan roma 13 dan setiap sistem pasti ada sisi positif dan negatifnya yang penting yang mana yang lebih memberikan segi kemanfaatan yang lebih baik”.

Acara yang tak banyak dihadiri mahasiswa ini berlangsung cukup lama, dan berakhir pada pukul 13.15 WIB.

6 thoughts on “Sarasehan Balon Rektor”

  1. Winarto says:

    Tulisan diedit lagi tu! Nama orang kok salah. Terburu-buru ya 🙂

  2. Yoyok 2003 says:

    Sedangkan Prof. Sony Heru Priyanto menuturkan ”Pergumulan berat sebenarnya bagi saya secara pribadi saya tidak layak untuk menjadi rektor karena masih banyak teman-teman yang lebih layak dari pada saya. Akan tetapi karena pengalaman pada 2004 lalu, saat pemilihan rektor tidak ada yang mendaftar, makanya saya mendaftar menjadi bakal calon rektor bahkan dengan semangat ’45 saya mendaftar menjadi balon rektor UKSW”.

    Pertanyaannya:
    jika Anda tidak layak kenapa Anda mencalonkan diri sebagai rektor? Mau dibawa karamkah kapal UKSW ini? Saya kok cenderung melihat Anda memanfaatkan peluang ya Pak? 😉

    Semoga Bapak mengeluarkan statement itu hanya untuk merendah…:). Yah..semoga .

  3. seehngojennaca! says:

    UKSW going to word class university!
    word class dalam hal apa ya ?
    ya kalau word class dalam hal memerah uang mahasiswa
    dan menyulap institusi pendidikan layaknya bahtera bisnis penghasil uang sudah khan ….

    Walau tak bisa dipungkiri, universitas butuh finansial untuk penyelenggaraan pendidikan.
    Kita lihat di sekitar kita hidup begitu menuntut dan memperbudak kita akan uang, maka carilah nilai, cepatlah lulus, dapat kerja dan jadilah kaya. Sikap hidup mahasiswa seperti ini sudah menjadi pattern di
    banyak institusi pendidikan dan dominan sekali.

    kita butuh balon rektor yang UKSW banget, agar UKSW tidak hanya sekedar “ada” namun “menjadi”

    Jadi UKSW mau bergerak kemana dan mau jadi seperti apa?

  4. dian ade permana says:

    semoga UKSW mendapatkan rektor yang juga seorang pemimpin

  5. WH says:

    saya hanya memberikan suatu masukan bagi kawan2 bahwa tulisan ataupun data yang kawan2 terima janganlah terima secara mentah. Maksudnya kawan2 juga proaktif mencari tahu, terlebih lagi jikalau kawan2 tidak menghadiri pertemuan terbuka dengan Carek (calon rektor) bertempat di BU. Sehingga kawan2 tidak salah menafsirkan atas data yang ada. Saya rasa kawan2 mampu melakukannya, sehingga kita bisa bertukar informasi lebih lanjut.

    Satu hal yang saya tahu bahwa Rektor yang nantinya akan terpilih merupakan keputusan dari Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) sementara Civitas Akademika tidak memiliki hak dan wewenang dalam pemilihan tersebut (hanya dapat menerima).

    Saya melihat adanya ketidak terbukanya YPTKSW kpd mahasiswa, karena saya merasa mereka (YPTKSW) melakukan pemilihan tanpa mendengar suara Civitas Akademika UKSW. REKTOR yang akan terpilih harus dapat MEMANAJEMEN Universitas. Manajemen tersebut sebagai penentu, pengatur, pencipta bahkan yang menjalankan mekanisme di Universitas.

    Saya merasakan bahwa Mahasiswa, Dosen dan Karyawan dll yang merupakan Civitas akademika dan saat ini (saat pemilihan Carek) dijadikan sebagai objek “Penerima” kebijakan yang telah ditentukan. Setidaknya adanya TRANSPARANSI yang diberikan oleh YPTKSW meskipun Civitas Akademika dijadikan sebagai objek YPTKSW, walaupun kami tidak dilibatkan dalam menentukan siapakah rektor mendatang.

    Meskipun hanya objek, saya sebagai mahasiswa merasa rektor yang nantinya terpilih akan TERLIBAT LANGSUNG dengan OBJEK “Civitas UKSW.” Meskipun rektor yang terpilih tidak sesuai harapan Civitas Akademika “OBJEK” UKSW.

    Saya melihat SISTEM PEMILIHAN REKTOR UKSW = SISTEM PEMILU ORBA yang telah DIHANCURKAN karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman…dan hati nurani rakyat (bukan partai Hanura)..!!! Saya melihat secara kasaran bahwa meskipun saat ini sudah memasuki era informasi tetapi masih terasa seperti era zaman batu. Meskipun demokrasi terpimpin telah diluluh hancurkan diganti oleh Demokrasi rakyat yang terjadi adalah Demokrasi terpimpin masih digunakan dan akan dilaksanakan dengan keotoriteran dalam pemilihan rektor UKSW.

    Mari buka otak untuk berfikir positif
    Mari buka mulut untuk berkata realita
    Mari buka kedua mata untuk melihat fakta
    Mari buka mata hati untuk tentukan kebenaran
    Mari buka mata kaki untuk melangkah ambil tindakan

  6. brom says:

    Dalam acara sarasehan tersebut, ketiga balon rektor mendapat pertanyaan tentang alasan mengapa ingin menjadi rektor UKSW? Prof. Kris Herawan Timotius menjawab ” kalau motivasi saya, tidak lebih dari melayani dan menumbuh kembangkan program studi dan mahasiswa dan tentunya menjadikan UKSW penuh dengan berkat dari Tuhan”.

    (apa ini benar pa???????????
    karena saya masih ingat ketika saya minta tolong untuk dicarikan bantuan dana studi bapa bilang
    “kalau ga ada uang jangan kuliah………….” kalimat ini masih terngiang di telinga saya pa, coba pikirkan lebih baik lagi ya supaya jagan asal bicara!!!!!!!!!!!!!!!!)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *