Ragu Hasil Penjaringan Balon Rektor

Browse By

Mahasiswa memegang spanduk bertulis “tolak kecurangan pemilihan rektor” berkaitan dengan keputusan pansus (panitia khusus) menjaring bakal calon rektor menjadi calon rektor didepan kantor Yayasan Perguruan Tinggi Satya Wacana (YPTKSW), Senin (4/5). Pansus dianggap tidak transparan dalam proses penjaringan.

Berita Terkait:
Sanggahan Mantan Pansus “TERKEJUTKAH ANDA”
Civitas UKSW Ragukan Pansus

57 thoughts on “Ragu Hasil Penjaringan Balon Rektor”

  1. Halme says:

    Lebih baik (dan yang terbaik buat UKSW), apabila Calon Kris Timotius dan Dani Kameo mengundurkan diri saja dari proses pencalonan rektor. Biar memberi kesempatan bagi John Titaley menjadi rektor selanjutnya.

  2. janet says:

    Kebanyakan mahasiswa yang ikut aksi tuh berasal dari 2 fakultas FTI dan Teologi, kira-kira 20an orang.

  3. rudy says:

    Pelantikan Rektor UKIM Diwarnai Demo

    Ambon – Pendeta Agustinus Batlajery DTh tetap dilantik sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menggantikan JE Louhenapessy, kendati puluhan civitas akademika universitas tersebut menggelar unjuk rasa di Kantor Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) maupun Gereja Maranatha, Jumat (24/4) sore.

    Demonstrasi telah berlangsung beberapa jam sebelum acara pelantikan dimulai bahkan hingga prosesi pelantikan yang berlangsung di Gereja Maranatha masih ada civitas akademika yang berunjuk rasa. Namun, berkat kesigapan puluhan aparat kepolisian yang berjaga-jaga di sekitar lokasi pelantikan, aksi mahasiswa tersebut bisa diredam.

    Puluhan civitas akademika tersebut menolak pelantikan Batlajery karena dianggap cacat hukum. Demonstrasi tersebut dipimpin Stevi Nanuru dan berlangsung di kantor BPH Sinode GPM serta di depan Gereja Maranatha.

    Para pendemo mendatangi BPH Sinode GPM untuk menanyakan kejelasan tidak disahkannya JE Louhenapessy sebagai Rektor UKIM, padahal dalam pemilihan oleh Senat UKIM ternyata Louhenapessy memperoleh suara terbanyak.

    Sementara itu, Ketua BPH Sinode GPM Pendeta John Ruhulessin mengharapkan kepada para civitas akademika agar jangan hanya mendengar masalah ini secara sepihak, sebab harus tahu pergumulan gereja itu seperti apa dan kalaupun ada yang mengatakan telah dibohongi maka dimintakan untuk hadir saat ini.

    ”Siapa yang tidak mau angkat Louhenapessy jadi rektor, bahkan dia bilang kalau angkat Titaley sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi (YAPERTI) GPM maka dia akan mundur dan saya juga pernah bilang buat dia bahwa jangan mendikte gereja. Saya harap mahasiswa jangan dijadikan alat kalau bilang ini tidak prosedural,” tandasnya.

    Meski Ruhulessin telah memberi penjelasan para pendemo menolak mengakhiri aksi mereka ataupun menemui YAPERTI dan Sinode untuk mendengar kejelasan lebih jauh.

    Pelantikan Agustinus AM Batlajery sebagai Rektor UKIM didasarkan pada Surat Keputusan Nomor 29/YAPERTI.PB-K/SK/IV/2009 tertanggal 7 April yang ditandatangani oleh Ketua YAPERTI GPM John A Titaley.

    ”Pengangkatan Batlajery telah didasarkan atas pertimbangan yang matang,” ujar Ketua YAPERTI GPM John Titaley kepada wartawan di Ambon, Jumat (24/4).

    Titaley menjelaskan sebelum diambil keputusan, YAPERTI bahkan telah meminta Louhenapessy untuk bertemu dengan pembina supaya bisa mendapat penjelasan, namun hal itu tidak dipenuhinya.
    Selain itu, menurut dia, Louhenapessy tidak menyetujui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

    (AD/ART) dari YAPERTI.
    (izzac tulalesi)
    ——————————
    sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/25/nus03.html

  4. rudy lagi says:

    Sabtu, 25 Apr 2009, | 78

    Demo Warnai Pelantikan Rektor UKIM

    Ambon, AE.- Meski arus penolakan begitu kuat terhadap rencana pelantikan Agustinus M.L Batlajery sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku atau UKIM
    , bahkan sampai pada aksi demonstrasi gabungan mahasiswa dan dosen, kemarin, proses tersebut tetap dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan Tinggi atau Yaperti.

    Aksi penolakan terhadap pelantikan sudah digelar sejak pukul 13.00 WIT, namun proses pelantikan tetap berlangsung sejak pukul 17.00 Wit di Gedung Gereja Maranatha. Aksi ini dinamakan aksi diam, karena semua pendemo menggunakan penutup mulut “Kami telah berusaha menemui pihak yayasan namun sejauh itu pula, mereka tidak mau menemui kami,” tegas koodinator demo, Steve Nanuru dalam orasinya.

    Dalam kapasitasnya sebagai Seretaris Senat Mahasiswa UKIM, dia meminta penjelasan tentang dibatalkannya pelantikan rektor terpilih lewat rapat senat UKIM 8 Juli 2008 lalu. Mereka juga mempertanyakan pelantikan terhadap Batlajery yang hanya memperoleh dukungan 5 suara berbanding 8 suara dengan Louhenapessy.

    Massa pendemo diterima Ketua BPH Sinode GPM Pdt Dr Jhon Ruhulessin. Dalam pertemuan itu, Nanuru mengungkapkan, hasil dari perselisihan Yaperti dengan rektor terpilih versi rapat senat, membuat sistim perkuliahan lumpuh. ”Kami tidak peduli dengan adanya perselisihan kepentingan, namun dampak dari perselisihan membuat aktifitas kuliah lumpuh. Akibatnya, aktivitas KKN dan urusan kampus lain tidak berjalan,” tegasnya.

    Menanggapi pernyataan massa pendemo, Ruhulessin meminta mahasiswa mengerti apa yang telah diputuskan Yaperti. Kata dia, pelantikan rektor adalah bukan kepentingan segelintir orang namun untuk kepentingan bersama. ”Kalian harus dengan suara gereja. Saya tidak akan lecehkan gereja untuk kepentingan yang sempit,” kata dia. Menurut Ruhulessin, mahasiswa tidak paham substansi permasalahan antara Rektor UKIM J E Louhenapessy dengan pihak Yaperti.

    Sementara itu, yayasan lewat Pembina Yaperti, Jhon Titaley menjelaskan pihaknya telah melakukan pertimbangan matang untuk melantik dan memberhentikan Louhenapessy. “Mengapa harus pertahankan orang yang tidak setuju dengan AD/ART Yaperti. Kami tidak bisa bekerjasama dengan orang yang hari ini bicara A, besok bicara B,” jabar Titaley.

    Sementara aksi berjalan beberapa Dosen UKIM yang dipanggil, memilih keluar dari ruangan Yaperti di GPM. Salah satu staf dosen yang juga ketua bidang akademik UKIM Ana Lessil dengan isak tangis mengungkapkan, kalau dirinya bersama beberapa rekan dosen dipaksa oleh Yaperti untuk memilih antara Batlajery dan Louhenapessy. ”Yayasan tidak tahu aturan. Mengapa harus memaksa saya memilih antara Batlajery dan Louhenapessy, padahal mekanismenya pemilihan kan sudah jelas kalau Louhenapessy yang harus dilantik, bukan Batlajery,” teriaknya sembari menitikan air mata.

    Bukan Lessil semata, kekesalan itu pun diungkapkan Dra Fin Palijama, M.Si. Dia mengancam memboikot pelantikan Batlajery apabila keinginan mereka tidak dipenuhi yayasan dan sinode. Dia bahkan mengancam akan keluar dari Yaperti. bila tidak ada tindak lanjut. ”kami akan tetap duduk disini bila pelantikan tidak diundurkan. Atau dibatalkan. Kami akan keluar dari Yaperti,” tegas Palijama yang disambut sorak para rekan dosen lain.

    Kendati tidak disetujui oleh senat, dosen, karyawan dan mahasiswa UKIM, Yaperti tetap bersikeras melaksanakan pelantikan. Bersamaan dengan bubarnya demonstran, dan tenggat waktu yang diberikan oleh pihak kepolisian, tepat pukul 17:00 Wit, pelantikan di gedung gereja Maranatha dilangsungkan dan dipimpin Ketua Pembina Yaperti, Jhon Titaley. (M2)

    sumber: http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=26164

  5. Mahasiswa Pasif says:

    kaLau saya berdiam diri saja…kareNa saya yakiN bahwa PANSUS teLah LakukaN yaNG terbaik daN semampu mereka. JumLah PANSUS haNya tujuh oraNG, saya yakiN jumLah kuota tersebut tidakLah saNGGup meraNGGkuL sekitar 12.000 mahasiswa serta Lebih dari 300-aN doseN serta karyawaN yaNG saya seNdiri beLum beGitu pasti deNGaN jumLah tersebut.
    PANSUS terdiri dari Civitas Akademika yaNG teNtuNya memiliki kesibukaN rutiNitas. Mereka meNjadi PANSUS di teNGah rutiNitas mereka. MemerLukaN haL khusus yaitu daLam haL membaGi waktu.
    Saya heraN PANSUS haNya berjumlah saNGat minim sedaNGkaN UKSW memiliki SDM (red. Sumber Daya Manusia) yaNG baNyak. BuktiNya saja saat Pesparawi tiNGkat NasioNal yaNG dapat dikeLoLa oLeh UKSW deNGaN jumLah teNaGa yaNG besar.
    INtiNya yaNG saya beLum jeLas berdasarkaN apa kuota PANSUS tersebut? Apa yaNG meNjadikaN kriteria PANSUS haNya berkuota sebaNyak TUJUH.? Apakah PEMBINA atau YPTKSW memiliki perhituNGaN yaNG mataNG akaN PANSUS tersebut? Saya merasa kasihaN terhadap PANSUS yaNG dijadikaN kambiNG HITAM bahkaN dijadikaN TameNG PembiNa atau YPTKSW uNtuk meNGhadapi CIVITAS AKADEMIKA.
    Daya pemikiraN seseoraNG biLa terus diasah akaN semakiN PINTAR…PembiNa ataupuN YPTKSW membeNtuk ORANG PINTAR yaNG saat iNi PINTAR BERBICARA, BERANI BERTINDAK deNGaN rasa keiNGiN tahuaN yaNG besar. Tetapi mereka meNuNjukaN kepintaraN disaat ada permasaLahaN daN ketidak puasaN. Apabila haL iNi tidak terjadi maka saya pribadipuN tak meNGetahui itu.
    SEMOGA HAL INI TAK MENJADI MUSIMAN “JIKA MUSIM PILREK (PILIH REKTOR) BARU MENJADI ORANG PINTAR.” JIKA BISA JADILAH ORANG PINTAR YANG DAPAT MEMBAGI KEPINTARAN.
    JADILAH GARAM DAN TERANG DUNIA…!!!

    HAL NYATA bahwa NEGARA “IBU PERTIWI” INDONESIA MEMBUTUHKAN ORANG PINTAR SETIAP HARINYA…!!!

    PINTARKAH KITA? ANDA YAKIN?

  6. edo says:

    @rudy:

    Konflik Pemilihan Rektor UKSW ’94 = Konflik Pemilihan Rektor UKIM Ambon 2009, sang rektor terpilih harus di “disingkirkan” oleh keputusan secuil orang bernama Pembina Yayasan. Tahun ’94, Liek Wilardjo, rektor terpilih dengan suara mayoritas dengan cara “kasar” harus digantikan oleh JOI Ihalaw (yang hanya menduduki rangkin ke2 dalam perolehan suara).

    Para pembina yayasan waktu itu lebih memilih JOI karena JOI (mantan CEO sebuah perusahaan farmasi) memiliki pengetahuan manajemen yang lebih baik ketimbang Liek (seorang ilmuwan teknik). Pilihan sulit Pembina Yayasan waktu itu didasari oleh kondisi keuangan UKSW yang “hancur” akibat proyek-proyek “mercusuar” mantan rektor sebelumnya, yaitu Dr. Wili Toisuta. Wili meninggalkan UKSW dengan hutang-hutang tak terbayarkan.

    Hal itu membuat Pembina lebih memilih JOI ketimbang Liek, demi mengembalikan posisi keuangan UKSW. Dan JOI berhasil. Dengan pengetatan anggaran JOI mampu mengembalikan kas keuangan UKSW menjadi surplus.

    Pemilihan Rektor selanjutnya memilih John Titaley (JT). Kembali JT mengeluarkan proyek-protek mercusuar “ala” Wili Toisuta (Wili adalah “guru” JT). Kembali keuangan UKSW mengalami “porak-poranda” akibat proyek tersebut. JT meninggalkan UKSW dengan saldo di kas keuangan dengan predikat sangat miris.

    Itu mengapa tahun 2004, tidak ada seoranpun mau menduduki posisi sebagai orang nomor 1 di UKSW, karena kondisi UKSW di dalam hancur. Akhirnya, pembina dan pengurus yayasan harus turun tangan dengan melobi orang-orang yang mau menjadi rektor UKSW. Setelah agak “dipaksa”, Kris Timotius bersedia menjadi salah satu balon, ada juga sony dan daniel Kameo. Terpilihlah Kris.

    Kris menunjuk Daniel Kameo sebagai Wakil Rektor I, Harijono sebagai WR 2, Umbu Rauta sebagai WR 3, dan Agna sebagai WR 4. Dengan tangan dingin Harijono, kondisi keuangan UKSw menjadi surplus kembali. Gaji karyawan hingga hari ini dapat dibayar 2 kali sebulan.

    Lalu, akankah JT kembali “menguasai” UKSW?
    Jawabnya: Kroni-kroninya sedang memperjuangkan hal itu, melalui aksi di hari Senin, 4/05.

  7. zak says:

    @ EDO: Ehhhh, YOU TAU APA TENTANG SEJARAH UKSW ???? ITU SALAH, SALAH BESAR. KAMU BODOH, SANGAT BODOOOHHH. TOISUTA ITU ORANG HEBAT, JANGAN SAMAKAN DENGAN KRIS TIMOTIUS, TIDAK SEPADAN. YANG BERHAK JADI REKTOR UKSW ITU BUKAN ORANG ** Telah diedit **, TAPI ** Telah diedit **……PAHAM !!!!!!!

  8. Undangan says:

    Salam kasih Kristus, rekan-rekan dosen dan pegawai yang prihatin dengan perkembangan pemilihan rektor UKSW, diundang menghadiri doa bersama di kapel UKSW, hari ini kamis 7 mei 2009 jam 14.00 wib.

  9. Prih says:

    @ Rudy & Edo:
    Setiap orang yang memahami sejarah UKSW pasti tahu bahwa anda berbohong. Nama anda saja sudah boong-boongan kan?
    Jangan berbohonglah, apalagi anda bawa nama-nama pak Willi Toisuta, pak John Ihalauw, pak Kris Timotius, dan pak John Titaley dalam kebohongan anda.
    Mereka itu kan asset kita bersama.
    Warga kampus itu mengerti sejarah. Kalau ingin memprovokasi warga kampus, …. ke laut aja…
    Kalau anda warga kampus, hati-hati saja agar tidak terjebak pencemaran nama baik.
    Kenapa sih orang nggak boleh keberatan sama hasil kerja pansus? itu kan demokrasi…..
    Yang anti demokrasi itu cuma Edo-gadungan, Rudy-gadungan, dkk.
    Edo yang asli, Rudy yang asli, Rendy yang asli, Yulius yang asli, dan UKSW yang asli nggak anti demokrasi…

  10. valentino says:

    terkejut?! kaget? was-was?
    saya jawab iya, kampus yang saya idam2kan dengan kedamaian dan suasana akademiknya, teracuni oleh politik dari beberapa orang. heem hal ini cukup membuat hati saya sebagai seorang yang cinta UKSW, merasa kasihan, tetapi cukup berapresiasi atas usaha mereka untuk menyuarakan demokrasi yang saya anggap demokrasi mereka abu2, karena tercampur rasa kekecewaan

  11. Neil says:

    @Edo,

    “Pilihan sulit Pembina Yayasan waktu itu didasari oleh kondisi keuangan UKSW yang “hancur” akibat proyek-proyek “mercusuar” mantan rektor sebelumnya, yaitu Dr. Wili Toisuta. Wili meninggalkan UKSW dengan hutang-hutang tak terbayarkan.”

    Anda sudah klaim bahwa hutang warisan Willi Toisuta tidak terbayarkan. Ini menarik. Punya buktinya? Setahunya saya, namanya hutang ya bayarnya kan nyicil. Dan, kepemimpinan dalam sebuah lembaga ya ibarat lari estafet. Jadi, cari pikir bahwa dia enak-enak makan, saya cuci piring rasanya cara pikir sempit dan parsial. UKSW di zaman itu memang sedang melakukan pengembangan, sebuah langkah sebagai konsekuensi pertumbuhan organisasi yang signifikan pada waktu-waktu sebelumnya dan di atas visi yang terukur tentang masa depan UKSW. Untuk pengembangan strategik seperti itu, universitas seperti UKSW jelas tidak bisa membiayainya dari sumber internal. Hutang adalah wajar. Namun, itupun dilakukan oleh para pebisnis. Negara-negara raksasa dan kaya pun banyak yang berhutang tuh. Lalu apa salah dengan berhutang? Pertanyaan saya lainnya, Anda tahu bagaimana rancangan pengelolaan hutang oleh Willi Toisuta di saat itu? Kayaknya tidak ya… makanya jangan cuma asal bunyi saja.

    “Kembali keuangan UKSW mengalami “porak-poranda” akibat proyek tersebut. JT meninggalkan UKSW dengan saldo di kas keuangan dengan predikat sangat miris.”

    Kembali, punya data tentang hal ini? Jangan-jangan sampai Anda menggosip? Menggosip nggak baik lho, bahaya. Main air, basah’ main api, basah; main gosip, bisa ke pengadilan karena mencemarkan nama orang. Lagipula, gak zaman main gosip-gosipan atau memang itu kultur kita bangsa ini khususnya Anda? Karena itu, saya tunggu deh data Anda tentang posisi keuangan UKSW saat ditinggal John Titaley. Catatan, saya tahu ada masalah penggelapan uang oleh oknum tertentu di periode pak JT, tapi hati-hati mengambil kesimpulan seputar hal ini. Nah, karena saya sendiri tidak tahu persis posisi keuangan UKSW di kala pak John turun dari posisi rektor, maka ya saya tunggu pembuktian Anda atas klaim di atas.

    Oya, Anda juga tahu kasus di UKIM Ambon ya, makanya Anda tarik kesimpulan menyamakan dengan kasus UKSW 1993. Cerita dong… pengen tahu saya.

    Akhir kata, saya khawatir Anda ini tukang gosip. Gak tahu banyak, lagaknya tahu semua hal. Tapi, kalau saya menuding tanpa menunggu Anda datang menyodorkan bukti-bukti saya bisa jadi keliru. Jadi, saya tunggu penjelasan Anda!

    Salam

  12. sam says:

    Analisis edo sangat mantab dan ngawur. Saya jadi bertanya-tanya apakah pemutar balikan fakta seperti ini diijinkan disini?
    Saya tidak akan mendebat, karena saya rasa “hampir” semua staff uksw mengerti apa yang terjadi.

  13. warga uksw says:

    Apakah Pansus tidak mengantisipasi UKSW menjadi berita di koran-koran lagi?
    apa yang dilakukan pansus, tiba-tiba mengumumkan di Buletin Senin, nampak kalau kurang bijaksana.
    menurut berita di koran, hasil pansus akan ditinjau kembali. Siapa yang akan meninjau? apakah akan dibentuk pansus baru?
    Progdi-progdi pusing cari mahasiswa, pansus malah jadi sumber berita.. apa ini promosi gratis buat UKSW?

    Atau memang UKSW akan dibuat menjadi Universitas Kanca-kanca Saking Wetan ? (Wili Toisuta, JOI Ihalauw, John Titaley + para ‘kolega-kolega’nya…)?????????????????????????????????????????

  14. Yoyok 2003 says:

    wah.. usul deh untuk moderator scientiarum.. lebih baik ini WordPress di modifikasi sedemikan rupa agar user kalau mau comment harus registrasi dulu. Syukur2 ada fotonya..jadi ga bisa asal ngomong :), black campaign, atau malah “mendalang” dengan karakter yang berbeda.

    Saya juga melihat ada komentar berbau RASIAL yang SANGAT TIDAK PANTAS untuk diucapkan oleh seorang academia di forum ini. Mohon untuk mas Moderator, komentar2 seperti ini lebih baik tidak diloloskan.

    Duh, prihatin saya..

  15. ese says:

    memperhatikan perkembangan hangatnya proses pemilihan rektor UKSW.. dan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada semua pihak yang terlibat ijinkan saya mengatankan ini :

    1. Belajarlah dari sejarah..
    2. Takut akan TUHAN adalah permulaan dari pengetahuan.. masihkah ?

    Sungguh sayang.. segitu banyak orang pintar tidak mampu mengurus dirinya sendiri..
    saya sebagai alumni hanya bisa ikut prihatin.. semoga konflik UKSW jilid ke-2 tidak terjadi..

    Hiduplah garba ilmiah kita..

  16. Yudo Widiyanto says:

    Cuma mau komentarin fotonya

    Itu desain spanduknya bagus looo.. .tulisan dan warnanya merah menyala tegas dengan ukuran yang relatif besar gak ada embel embel. Tentunya potensi para pembacanya gampang menerima pesan tulisan.

    Gak mau komentarin isi pesannya, tapi usul nih……lebih bagus lagi kalau spanduk tersebut disampaikan di jalan untuk menyampaikan pesan tragedi MEI 1998 aja deh…pas kan….

    Salam

  17. X-pansus says:

    Kepada semua Civitas jangan terhasut oleh isu yang tidak benar. pada akhirnya ada pihak yang berwenanglah yang akan menyatakan bahwa pansus salah atau benar.

    Buat teman-teman yang tidak puas dengan hasilnya, Mbok tempuhlah cara-cara yang baik dan benar jangan membuat situasi kampus menjadi tidak baik dengan bergosip kesana-sini.

    Tulisan dikoran semua tidak benar. kalau tidak percaya pergi tanya ke yayasan, apa benar seperti yang tertulis di koran?

    Cepat atau Lambat, kebenaran akan ada… Dan kami siap mempertanggungjawabkan… jika memang diminta untuk itu.

    Kami sudah berusaha keras melakukan yang terbaik. Selebihnya biar Tuhan yang menambahkan.

    Terima kasih

    @ Penulis klarifikasi
    Pansus tidak menjaring balon rektor menjadi calon rektor. Menurut SK Pembina no 034/B/ YSW/XI/ 2004, Yang berhak menetapkan calon rektor adalah pembina yayasan melalui pengurus YPTKSW berdasarkan scoring, hasil pertimbangan yang disepakati di rapat senat( bukan pertimbangan pribadi senator), penilaian makalah dan hasil wawancacra ya2san.

    Satya Wacana, Satya wacana hiduplah Garbah ilmiah kita.. Jgn jadi provokator untuk hal yang tidak benar…

    Salam

  18. Lius SMU says:

    Saya sangat sepakat dengan ide untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan demokrasi ” ” Tetapi dalam memperjuangkan hal tersebut juga mari kita lakukan secara adil, demokratis dan benar.

    Trims
    Mari kita bela kebenaran dan keadilan sesuai dengan Mars UKSW.
    UKSW tetap Jaya.

  19. Neil says:

    @Warga UKSW,

    Pernyataan terakhir adalah isu murahan yang selama ini lazimnya diangkat oleh kelompok tertentu di UKSW yang gagal menunjukkan sikap dan tindakan elegant dalam berkiprah di UKSW. Primordialisme adalah kesadaran sempit yang gagal memahami bahwa manusia jauh lebih bernilai ketika batas-batas primordialnya dilampau.

    Notohamidjojo, rektor pertama UKSW, bersama dengan para founding fathers mengikrarkan UKSW menjadi sebuah lembaga berciri ke-Indonesia-an dan ke-Kristen-an. Dengan fenomena Indonesia yang terentang luas dari ujung barat ke timur dan ujung utara ke selatan, negeri ini mengakui bahwa tidak ada perbedaan yang harus ditonjolkan dari kepelbagaian latar belakangnya. Ini komitmen para founding fathers Indonesia, walau dalam sejarahnya toh Indonesia masih gagal memahami pluralitas dan keesaannya. Dengan melekatkan label ke-Kristen-an, maka founding fathers UKSW menyatakan semangat kasih yang melampaui segala latar belakang, sebagaimana yang Kristus lakukan pada manusia di dalam sejarah kemanusiaan.

    Di atas pengakuan itu, UKSW yang sejati tidak pernah pusing dengan Anda mau orang Batak, Jawa, Bali, Timor, Manado, Toraja, Ambon, Papua atau manapun untuk mengambil bagian dalam komunitas ini, termasuk menjadi pemimpin di lembaga yang sungguh besar dan fundamental semangat atau keyakinannya tentang nilai-nilai kemanusiaan ini. Karena itu, angkatlah bahasamu itu dan jangan ucapkan kembali, kapanpun di ‘negeri’ UKSW yang mengakui kesamaan dan kesederjadan manusia. Itulah pengakuan eksistensial lembaga ini.

  20. susetyadi tp says:

    “kalau cinta sudah dibuang
    jangan harap keadilan akan datang
    kesedihan hanya tontonan
    bagi mereka yang diperbudak jabatan…”
    (iwan fals, bongkar)

    selalu ada politik dimana ada kekuasaan
    bahkan sebuah organisasi kristen pun ‘perlu’ (ada) politik..
    setiap orang tentu punya motivasi sendiri untuk berpolitik dan menggunakan cara berpolitiknya sendiri.
    semua orang tau itu..
    bagi balon cabalon dan para pendukungnya sebaiknya tahu bahwa politik yang dipakainya tidak memberi dampak negatif pada civitas…dan bukan sekedar dampak positif bagi sebagian civitas saja…

    bagi “pelaku” politik pada pilrek ini sebaiknya mengaca pada ‘kaca benggala’ masing2
    APAKAH SUDAH BENAR MOTIVASI UNTUK MENJADI REKTOR??APAKAH YANG BENAR ITU SUDAH BENAR BENAR MENJADI BENAR,BUKAN SEBUAH BENAR YANG RELATIF BENAR BAGI SEBAGIAN SAJA???? TAK SEORANG PUN TAHU SELAIN DARIPADA SANG CABALON/CALON SENDIRI!!!

    “apakah selamanya politik itu kejam
    apakah selamanya dia datang tuk menghadang
    ataukah memang itu yag sudah digariskan
    menjilat , menghasut,menindas,membunuh,memperkosa hak hak sewajarnya…
    maling teriak maling
    sembunyi balik dinding
    pengecut lari terkencing kencing
    tikam dari belakang
    lawan lengah dterjang
    lalu sibuk mencari kambing hitam….”(iwan fals,sumbang)

    sejarah itu masih ada dan akan ada
    bukan untuk dilupakan
    bukan pula hanya untuk diingat saja

    mending jadi keledai yang tidak jatuh pada lubang yang sama
    daripada menjadi manusia yang tidak pernah tidak jatuh pada lubang yang sama…

    dari masa ke masa
    kekuasaan selalu mendatangkan perebutan…
    dan acapkali perebutan itu mendatangkan mudarat bagi orang2 disekelilingnya..
    karena pada dasarnya orang haus akan kekuasaan.
    diakui atau tidak itulah kenyataan…

    PISS N SAH DAN SELALU BERIKAN yang terbaik buat UKSW, salatiga hati beriman, bangsa dan negara, dan Tuhan YME……

  21. ebeSS says:

    dari takut akan tuhan itu, saya mencoba memahami ‘perasaan’ tuhan
    di manakah kesalahan saya kalau saya katakan bahwa berkat tuhan untuk uksw selalu berkelimpahan?
    membantah ini berarti memfitnah tuhan! bahwa berkat itu tidak sampai kepada yang berhak,
    ini persoalan kita sebagai sesama manusia, satu saat kita, satu saat sesama kita jatuh dalam dosa
    untuk itu kita diajarkan saling menguatkan, bahwa ada yang bebal seperti yudas, serahkan dulu pada tuhan
    kita perlu prihatin bahwa kuasa iblis sudah sampai pada cobaan berat yang dialami kawan2 pegawai
    yopi dan panjul harus menyediakan biaya kesehatan yang demikian besar, sementara kita tanggung bersama
    sambil mengusut di manakah kesalahan uksw mensyukuri berkat tuhan?
    ada indikasi menarik perubahan saluran berkat itu, justru pada peran yayasan yang mulai mengelola dana!
    sejak kapan itu? mungkin tahun 2000an! sejak uksw berdiri, yayasan tidak pernah mengelola dana kesehatan
    sebenarnya sangatlah mudah menghitung berkat tuhan, tapi sering kita silau dengan peran akuntan
    selama menghitung berkat tuhan itu dilakukan oleh manusia, penyimpangan mungkin saja terjadi
    benar kita tidak boleh melupakan sejarah, karena disanalah kita dapat menghitung berkat tuhan
    syukurilah bahwa dulu pegawai satya wacana mampu memiliki rumah di karang pete
    sekarang untuk rumah di gunung sari saja setengah mati! kemana berkat tuhan yang berkelimpahan itu?
    sepertinya ada yang harus ditambahkan untuk ditulis pada ad/art yayasan, supaya penyimpangan2 anggaran begini tidak terjadi lagi. bisa juga uksw dan yayasan untuk kembali ke khitahnya!
    artinya supaya yayasan mengembalikan pengelolaan kesehatan, perumahan/rumah dinas, personalia kepada pembantu rektor II, pruka, seperti dulu ketika hak2 pegawai demikian terjamin.
    kapan itu sebaiknya? mari kita bicara, yang jelas kubangan dosa ini sangat menusuk perasaan tuhan
    bagaimana pegawai dapat mensyukuri berkat tuhan yang tidak diterimanya? kita perlu menyampaikan pada pegawai ‘kebenaran’ ‘sukacita’ ini. takut bila pegawai marah karena tahu berkat tuhan ber tahun2 tidak sampai padanya? ya kembali kita baca : takut akan tuhan adalah awal segala pengetahuan 🙂

  22. Neil says:

    Dear Pansus,

    Saya mencoba melakukan simulasi penilaian terhadap ke-6 bakal calon rektor menurut kriteria yang digunakan Pansus, ternyata hasil saya beda dengan hasil Pansus. Saya menyadari ada kerangka perseptual pribadi yang memengaruhi hasil penilaian saya dan saya percaya itu ada pada para anggota Pansus. Namun itulah manusia dan secara teoritis memang diteorikan ada kecenderungan bias perseptual seseorang dalam melakukan penilaian dinilai (sangat) terbuka. Tidak ada manusia yang bersih nilai/kecenderungan nilai. Bias itu mewujud dalam mekanisme seleksi informasi dan pemaknaan atas informasi. Jadi, ketika saya menilai dan keluar hasinya demikian ya itu karena menggunakan informasi2 yang terekam di memori saya, informasi2 itu yang membangun sistem persepsi saya. Dan, ternyata informasi yang saya rekam pun adalah informasi yang saya suka, bukan yang tidak saya suka. Ibarat kalau dipuji kita senang, kalau dikritik kita marah. Ya begitulah.

    Atas dasar itu, Pansus jangan terburu-buru klaim bahwa kebenaran hanya ada di Pansus. Apa yang dituntut oleh kelompok pemrotes pun, saya cermati, ya soal transparansi, mencari kebenaran itu. Karena itu, tuntuan itu adalah sesuatu yang wajar, karena sebagaimana saya, mereka pun saya yakini punya kalkulasi sendiri karena kriteria itu ada di tangan mereka. Jadi, pantas sajalah Pansus dituntut membeberkan apa, bagaimana, dan mengapa Pansus menilai seperti itu dan menghasilkan rekomendasi yang demikian. Dengan begitu, jangan lah Pansus buru-buru klaim tuntutan mereka sebagai isu tidak benar. Itulah konsekuensi hidup di alam dengan derajad kebebasan dan keterbukaan informasi yang semakin tinggi. Pansus pun akibatnya bukan the untouchable. Kewenangan di tangan Pansus justru adalah tugas yang memang harus dipertanggungjawabkan dan ruang pertanggungjawabannya bukan lagi ruang tradisional, hierarkis, tetapi moral di depan publik. Bagi saya, mereka yang memrotes pada dasarnya memang menuntut pertanggungjawaban moral dan itu tidak cukup hanya dengan pernyataan, tetapi bukti. Saya sendiri pun ya juga ingin meminta pertangungjawaban Pansus.

    Karena itu, mari kita bermain bukti-bukti empiris dan bagaimana permainan interpretasi atasnya. Saya tunggu!

  23. Febri says:

    @all : Santai dong…. masak sich pake menghina orang dengan kata bodoh…. Santai…..

    @buat yg desain spanduk, lain kali spanduknya diberi nama atau singkatan dari grup yg ber-demonstrasi…

    @buat rekan2 mahasiswa : Tetap Krittis ya… Namun awas Provokasi dari Pihak manapun…

    @All : Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk JT, KHT, Febri, Edo, Rudy, Neil, dll….

    Salam damai…

    Active non Violence

  24. XP says:

    Sampe sekarang aku masih bingung, knapa Jhon Titaley tidak ikut bursa calon rektor periode 2005/2009 yang lalu? Sebelum ia turun keuangan universitas semakin memburuk dan sudah memprediksi isu trimester akan dilarang oleh Dirjen Dikti. Lalu mengapa sekarang mau naik lagi????? jawabannya sudah pasti karena keuangan universitas sudah semakin sehat lalu gejolak sistem perkuliahan sudah teratasi meskipun ada beberapa fakultas yang masih tidak patuh. Intinya kekurangan kepemimpinan rektor 2001-2005 sudah diperbaiki dan situasi di universitas mulai kondusif. Seharusnya niat seseorang untuk naik menjadi pemimpin karena adanya permasalahan dan kekurangan yang harus diatasi. Itu harus menjadi motivasinya. Lalu mengapa hendak menjadi rektor dalam situasi yang aman?????? Wah, kalo begitu tidak ada tanggung jawab dong, katanya seorang Pendeta.

    Selanjutnya hasil rapat pembina, pengawas dan pengurus yayasan memutuskan agar 4 calon hasil skoring Pansus lolos atau diajukan sebagai kandidat rektor kepada Pembina yaitu Kris, Kameo, Cristantius dan termasuk Titaley. Masalahnya adalah jika pada waktu itu kroni-kroni Jhon Titaley melakukan demonstrasi di kampus yang menyebutkan Pansus melakukan kecurangan dan menolak skoring dan mekanisme yang dilakukan, lalu mengapa sekarang mereka menerima keputusan Pembina, Pengurus dan Pengawas yayasan yang meloloskan ke-4 kandidat itu dengan menggunakan skoring dan mekanisme yang ditetapkan oleh Pansus. Keputusan itu khan tidak menolak atau mengubah hasil kerja Pansus, justru hasil pansus dijadikan dasar kebijakan untuk meloloskan ke-4 balon. Pertanyaannya, mengapa tidak konsisten terhadap agenda atau kontent demonstrasi kalian. Apa karena nama Jhon Titaley sudah masuk sebagai kandidat balon rektor? Kalau memang hendak menyalahkan skoring Pansus dan mekanismenya, seharusnya kebijakan pembina terhadap 4 calon yang lolos itu harus ditolak. Namun, sampai sekarang tidak ada saya dengar demo untuk menolak kebijakan Pembina yang berdasarkan skoring Pansus oleh pihak yang berdemonstrasi seblumnya. Jadi, saya menyimpulkan bahwa isu itu hanya untuk kepentingan kekuasaan saja. Yang penting lolos.

    Kepada kroni-kroni Jhon Titaley, silahkan tanggapi komentar ini.

  25. oscar says:

    Yang terpenting saat ini adalah bagaimana mempertahankan eksistensi uksw dari kekuatan2 luar yang tanpa kita sadari ingin uksw ini hancur lebur (paling tidak kehilangan gregetnya). Dalam dunia demokrasi perbedaan itu merupakan hal yang wajar. Namun yang perlu kita sadari adalah jika perbedaan itu tidak kunjung usai bahkan sudah tidak sehat lagi, percayalah KEHANCURAN KITA HAMPIR SEMPURNA. Jadi sebagai kalangan akademis mari kita duduk bersama dalam satu ruang dialog yang akan menjebatani perbedan2 yang ada. Kerena saya percaya kita masih mencintai UKSW.

  26. lius SMU says:

    @Dear Om Neil
    Saya adalah salah satu yang pernah jadi anggota Pansus.

    Saya kira pansus tidak mengklaim diri paling benar. Justru pansus menyatakan ada pihak yang bewenanglah yang akan menyatakan bahwa pansus benar atau salah.. Makanya lebih memilih diam, Tetapi tetap berkomentar meluruskan fakta jika ada yang dibengkokkan..

    Mengenai pertanggunjawaban pansus, Jujur saya kurang mengerti maksudnya KAK.
    “Kewenangan di tangan Pansus justru adalah tugas yang memang harus dipertanggungjawabkan dan ruang pertanggungjawabannya bukan lagi ruang tradisional, hierarkis, tetapi moral di depan publik” Bagi saya, mereka yang memrotes pada dasarnya memang menuntut pertanggungjawaban moral dan itu tidak cukup hanya dengan pernyataan, tetapi bukti. Saya sendiri pun ya juga ingin meminta pertangungjawaban Pansus”

    Tetapi Intinya, menurut SK Pembina No 034/…../2004 dan SK pengangkatan Pansus bahwa pansus bertanggung jawab kepada pengurus YPTKSW…dan Pansus bekerja berdasarkan SK di atas.

    Mengenai Penilaian yang dilakukan oleh K’Neil yang bebeda dengan hasil pansus. Menurut saya wajar2 saja..karena seperti yang K’neil sampaikan”Saya menyadari ada kerangka perseptual pribadi yang memengaruhi hasil penilaian saya”. Artinya siapapun yang jd anggota pansus pasti begitu…

    Hanya saja Perlu diingat bahwa Penilaian dipansus itu dilakukan secara bersama-sama”didiskusikan”. bukan penilain secara pribadi. Pansus merupakan perwakilan yang diberikan kepercayaaan oleh setiap unit.

    Menurt saya kak.
    Kalau kemudian sekarang baru bermunculan orang memberikan penilaian secara pribadi…lalu menganggap penilaian merka yang paling benar wajar2 saja, Saya kira ini lebih cocok sebgai rekomendasi untuk PILREK berikutnya “biar semua civitas yang menilai dan bisa coblos langsung”

    Sayang sekali, ini sudah terlambat karena aturan yang sekarg memang tidak mengakomodir Hal itu…

    @ ALL Civitas termasuk pembina, pengawas dan pengurus YPTKSW.
    Peraturan yang sudah ada ayooo kita tegakkan secara bersama2…Tidak usah mengotak atik aturan yang ada dengan berdali “kebijakan” tanpa tujuan yang jelas…..

    Siapapun Rektornya??? ” Proses belajar Mengajar tetap lancar dan Maksimal” itu sudah….

    Terima Kasih..
    UKSW tetap Jaya…

  27. Neil says:

    @Lius,

    Terima kasih atas responnya. Saya menghargai walau penuh catatan.

    Pernyataan bahwa “agar Pansus tidak merasa benar sendiri” muncul karena ada pernyataan X-Pansus seputar “kebenaran akan terungkap” (tampaknya dari sudut Pansus) dan “ketidakbenaran isu” yang berkembang (tampaknya dari sudut para pemrotes). Dengan begitu cukup mudah ditebak cara pikir bahwa Pansus merasa benar, dan yang lain salah. Apakah keliru kesimpulan saya? Bahwa soal siapa yang pada akhirnya benar dan siapa yang salah, itu soal kemudian dan semoga itu bisa menjadi bagian dari proses penyingkapan kebenaran itu sendiri yang akan saya usulkan diupayakan terjadi.

    Soal pertanggungjawaban Pansus, cukup klir saya kira pernyataan saya. Yang Lius pakai kan model pertanggungjawaban legal yang saya sebut tradisional, hierarkis (organisasi = relasi atasan – bawahan secara formal). Dalam relasi begitu, yang memberi mandat kan “atasan”, maka kepada “atasan”lah seorang/para “bawahan” harus memertanggungjawabkan kerjanya. “Jadi, yang bukan atasan saya, ya jangan nuntut dong, emangnya siapa anda?” Bentuk pertanggungjawaban macam itu yang saya katakan sudah tidak cukup.

    Pemilihan rektor ini secara psikologis telah melibatkan lebih dari sekedar YPTKSW sebagai pemberi mandat kepada Pansus. Seluruh warga kampus (paling tidak elemen-elemennya, bahkan termasuk para alumni) telah turut mengikuti proses ini dari awal (LK bahkan menjadi bagian yang memfasilitasi atensi ini, ingat TPPR kalian). Jadi, proses ini sudah menyodot bukan cuma perhatian, tetapi harapan warga kampus. Dan harus diingat, hasil kerja akhir dari proses ini yakni terpilihnya seorang Rektor, nantinya bukan saja menjadi urusan dan kepentingan YPTKSW, tetapi akan membawa implikasi bagi seluruh unsur UKSW. Jadi sangat bisa dimengerti kenapa perhatian dan harapan mereka terhadap proses ini besar. Karena itu, wajar pula dimengerti bahwa mereka mudah terusik bilamana ada sesuatu yang di dalam pertimbangan mereka dinilai kurang baik. Dengan begitu, langsung atau tidak langsung Pansus Pilrek harus menempatkan pertanggungjawaban (khususnya secara moral, bukan struktural) kepada publik kampus, bukan saja kepada “atasan”nya.

    Ambil contoh soal Pemilu, yang resmi mengangkat KPU siapa, kan bukan rakyat. Tapi, ketika ada persoalan-persoalan dalam manajemen proses pemilihan (misalnya soal DPT), semua unsur masyarakat yang peduli dengan Pemilu ribut dan menuntut KPU, bahkan Presiden, untuk bertanggung jawab. Dan, Presiden pun melakukan rapat koordinasi beruntun untuk memahami persoalan dan merespon tudingan para pemrotes. KPU kan juga demikian, mencoba menjelaskan kepada publik. KPU kan tidak bisa berdalih “Apa urusan pertanggungjawaban saya kepada kalian semua, wong bukan kalian yang ngangkat saya!” kan gak bisa gitu. Rakyat pun bisa lakukan gugatan hukum terhadap KPU dan Pemerintah. Jadi, prinsipnya, pertanggungjawaban atas proses dan hasil kerja dalam konteks seperti yang dihadapi Pansus tidak bisa lagi dilihat cuma pertanggungjawaban formal struktural belaka.

    Sepemahaman saya, isu metodologis (apa dan bagaimana cara menilai/memilih) dalam sebuah sistem pemilihan yang ada di sistem dan iklim politik yang menuntut transparansi memang dituntut untuk bisa dijelaskan secara gamblang. Dan, menurut saya, itu kena-mengena juga dengan konteks seperti Pilrek yang sebagian prosesnya diadministrasikan oleh Pansus. Jadi, laporan pertanggungjawaban formal/resmi bolehlah disampaikan kepada “atasan”, tapi secara moral dan intelektual proses yang telah dijalankan Pansus harus juga bisa dibedah dan dipertanggungjawabkan misalnya melalui sebuah forum kajian. Karena itu, kalau Pansus bisa membuktikan bahwa pendekatan penilaiannya memang robust/kuat atau mantap ya itu baru namanya akuntabel sehingga gugatan-gugatan akan gugur dengan sendirinya. Kalau cuma sebatas keyakinan sepihak Pansus bahwa itu sudah benar tanpa diuji secara terbuka, ya itu namanya cuma bertepuk sebelah tangan dong.

    Bung, saya kira, sebagian warga kampus sudah membuat Penilaian jauh sebelum Pansus mulai bekerja di tahap skoring. Ingat ketika para pegawai bukan dosen buat sebuah petisi? Mereka sudah menilai dulu, sebelum menyusun, menandatangani, dan menyerahkan petisinya, terlepas dari seberapa kredibel cara mereka menilai. Ambil contoh saya. Saya secara pribadi sudah menilai para senior saya itu cukup lama, secara akumulatif, sebelum bung Lius terpilih jadi anggota Pansus dan proses Pilrek bergulir. Karena itu, mudah untuk re-collect evaluasi saya itu setelah 6 nama balon keluar. Jadi, klaim bung saya kira salah alamat atau tidak pas. Jadi, ketika para pemrotes tahu hasil kerja Pansus dan bereaksi secara cepat, itu menunjukkan bahwa mereka punya persepsi dan karena ekspektasi penilaian mereka berbeda dari Pansus. Jadi, semoga bung lebih jeli membaca dinamika perilaku, tidak melihat sesuatu cuma ketika dia tumpah ke permukaan.

    Nah, karena rasanya Pansus cukup tegar dengan keyakinannya, ya mengapa tidak kita buka saja “Forum Bedah Kerja Pansus Pilrek UKSW 2009”? Pansus silahkan beberkan apa dan bagaimana proses skoring dan hal-hal terkait dilakukannya. Lalu dari situ, gugatan bisa dilakukan dan ditanggapi. Bagi saya, ini proses dan isi pembelajaran yang sangat positif bagi dibangun dan dijalankannya proses pemilihan yang lebih kredibel di masa mendatang.

    Catatan lain untuk bung pribadi, YPTKSW tampaknya telah gunakan kewenangannya untuk sedikit anulir rekomendasi Pansus. Terlepas dari setuju/tidak setuju, itu otoritas legalnya. Bung Lius sebagai mantan Pansus karena itu tidak bisa “berhati ganda”, di satu sisi “Sesuai SK, kami bertanggungjawab kepada YPTKSW (sebagai indikasi pengakuan akan dan sikap tunduk pada kewenangan formal YPTKSW), tetapi di sisi lain bung justru mencela ‘kebijakan’ mereka. Menurut saya, ini sah saja sih, tetapi menunjukkan standar ganda dalam sikap bung Lius.

    Saya pribadi tidak puas dengan langkah taktis YPTKSW sebelum pembedahan atas kerja Pansus dilakukan secara tuntas. Menurut saya, ada sejumlah keganjilan dalam hasil penilaian Pansus yang menggiring saya berkesimpulan (sah kan saya menilai demikian?), “Pansus tidak/belum melakukan tugas dengan baik.” Kalau saya berkesimpulan begitu, maka klaim bung tentang Pansus sebagai representasi unsur-unsur kampus pun saya kira bisa dibantah. Bahwa ada unsur dosen, mahasiswa, pegawai, Yayasan, belum berarti ke-7 anggota Pansus sudah menjadi representasi keragaman UKSW. Bayangkan 7 mewakili 12 ribuan orang, secara statistik itu sangat, sangat jauh dari memenuhi syarat keterwakilan. Tapi, kita kan tidak bersoal jawab secara statistik kan. Kalau saja Pansus hanya melakukan tugas administratif sih silahkan (7 orang itu boleh lah), tetapi kalau sampai melakukan tugas substantif (menyeleksi 6 balon menjadi 2-3 calon), wah-wah, kewenangan dan keterwakilan macam apa yang ada Pansus? Kapabilitas apa pula yang ada pada ke-7 anggota Pansus untuk menjadi “agen super istimewa” mewakili 12 ribuan warga kampus menyeleksi calon rektor? Kalau bung baca pengertian konsep Pansus, kan cuma disebut Pansus menyiapkan bakal calon rektor, bukan menyiapkan calon rektor. Jadi, ada serious problem di sana. Jadi, apakah adakah yang mau mewadahi bedah kerja Pansus dan apakah Pansus siap?

    Terakhir, saya sulit membayangkan bung membuat pernyataan putus asa (?) di bagian akhir, “siapapun rektor…. lancar dan maksimal”. Seolah-olah setiap orang (siapapun) akan memberi hasil yang sama (apalagi maksimal), padahal belajar tentang kepemimpinan kita tahu bahwa tidak semua pemimpin mampu membuat sesuatu yang beda/lebih baik. Tidak semua orang adalah pemimpin efektif, karena itu kita butuh dan cari pemimpin yang tepat. Semoga bukan karena putus asa lalu statement-nya menjadi begitu relatif-nya. Kalau begitu, pilih dong saya jadi Presiden RI kan siapapun bisa. Lain hal bung katakan siapapun rektornya, yang penting PBM lancar, berkualitas; riset banyak dan berkualitas; program2 ke masyarakat ada secara proporsional dan mampu membuat UKSW memiliki image yang baik di masyarakat; kerja sama luar negeri meningkat; dosen-dosen UKSW berprestasi di tingkat internasional; dll dll.. dengan begitu ada kriteria yang bung pakai dan akhirnya memilih rektor yang paling bisa deliver hasil-hasil itu dan itu artinya tidak semua orang bisa buat seperti itu. Kalau semua orang bisa, ya lempar dadu saja kita, alias pilih secara random.

    salam

  28. Anak Bangsa says:

    @Lius: banyak musang berbulu domba, kamu bagaikan anak ayam di tengah2 para musang di pansus. sangkanya kawan ternyata njorokin biar jatuh…

  29. Atmo says:

    @Lius: jangan terlalu polos laaa…

  30. lius_SMU says:

    @ K’ Neil
    Ga tahu mulai dari mana Tetapi terima kasih Kak pikiran saya semakin terbuka..
    Sebenarnya Pernyataan saya ttg “Siapapun rektornya” …. ..bukan dalam kerangka putus Asa KaK, tetap lebih kepda netralitas saya yang tidak memihak kepda salah Satu balon yang ada…apalgi sebgi perwkilan mahasiswa…Dan pastinya bagi mahsiswa bukan melihat orangnya siapa?? Kn yang penting bisa belajar, syukr2 uang kuliah tidak terllu mahal..” Ada alternatif lain” untuk sumber pembiayan di kampus sehingga tidak semua dari mahsiswa.

    Semua balon rektor skrg punya kelebihan dan kekurangn…Mestinya siapapun yang terpilih jd rektor ya sebgai CiVitas kita dukung DIA…..

    Tentang Standar ganda…
    Maksud saya adalah Bagaimana aturan itu HARUS ditegakkan oleh semua….

    Contoh: SK Pembina no.034/…./2004 Tentang proses pemilihan rektor mengatur tentang batas-batas kewenangan civitas, termasuk pembina dan pengurus” artinya peraturan berlaku untuk semua”. Kalau menurut hemat saya sebagai orang EKSAK ya harus tunduk pada aturan yang ada…entah pembina atau pengurus..

    Perwakilan unit hanya 7 orang yang tidak represntatif, saya sendiri sangat setuju dengan itu Kak…Tapi ya itu Dia Kak, kembali lg ke aturan yang membatasi…

    Mungkin saya tidak mewakili semua Xpansus tetapi satu hal bahwa kalau memang ada prosedur yang memungkinkan harus dibeda kerja pansus mau tidak mau ya pansus harus mau sebagai bentuk pertanggungjawabannya…

    Tetapi sebagai perwakilan mahasiswa, saya sendir sudah beberapa kali mendiskusikan itu dgn mengundang teman2 LK dan membeberkan proses dan mekanisme yang dilakukan oleh pansus.. Saya kira dewan pegawai juga sudah pernah….

    @ anak Bangsa
    Terimakasih atas infonya..
    Saya bersykur karena sepanjang saya di pansus saya berusaha seobjektifmungkin sesuai dengan pemahaman dan yang saya tahu..Kalaupun ada seperti yang anda katakan biarlah Tuhan yang mengampuni hehe…

    Salam….

    @ Tuhan Yesus
    Jadikan kami sehati sepikir dalam melayaniMu melalui UKSW…

  31. andi-dobleh says:

    wedew. Lius malah pakai dalih pertanggung jawaban atasan bawahan.. 😀
    Gini aja Lius.. Anda masuk sebagai anggota Pansus (beserta Rhema) selaku Pimpinan LK Univ.
    seperti kamu sebut di atas:
    Pansus merupakan perwakilan yang diberikan kepercayaaan oleh setiap unit.
    Kalian berdua mewakili unsur mahasiswa.. ya udah, aku sebagai salah satu mahasiswa minta laporan pertanggung jawaban wakil-wakil mahasiswa yang ada di Pansus.. boleh kan?
    Dalam bentuk tertulis yah, sekalian dimuat di SA, jadi gampang kalau aku mau membaca.. 😀 isinya soal apa yang kalian lakukan di dalam Pansus, apa saja yang menjadi pertimbangan.. yah yang lengkap deh..

    Soal komentar #17, iya waktu beredar Sanggahan Mantan Pansus “TERKEJUTKAH ANDA?” , ada juga yang bilang kalo “Nah, kalo kek gini mahasiswa kan yang ditunjukkan mengarahkan Pansus agar hanya meloloskan 2 calon….

    @admin SA
    di bagian komen ini kasih tau IP nya donk (kek di Mimbar Bebas).. jadi kita bisa tau sapa-sapa aja yang klonengan…..hehehe

  32. Opha says:

    @Rudy (IP 219.83.105.87 & 222.124.25.34) : Thanks infonya. Tapi cara anda menurut saya tidak elegan.

  33. jay - alumni says:

    @ all
    Berdebatlah dengan santun dan berbobot, agar wadah ini bisa menjadi tempat belajar bagi kita semua!

    @ Edo:
    Menurut pendapat saya, jika anda sampai mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang cukup “gawat” sudah sepantasnya disertai dengan bukti sehingga boleh menjadi bahan diskusi yang bernilai. Artinya kita harus mampu mempertanggungjawabkan perbuatan/perkataan kita bukan? so saya tunggu tanggapan anda atas tantangan bpk Neil…
    Jika tidak, itu berarti anda sekedar melempar GOSIP dan gawatnya lagi jika ditinggal LARI… anda tidak ingin disebut “pengecut” bukan? Ingat Scientiarium bukan infotainment…

    @UKSW
    Saya yakin UKSW akan tetap jaya dan selalu akan menemukan jalannya, walau kadang berliku….

  34. Dicky (Xrvel) says:

    Thanks saran tentang IP, sekarang IP user ditampilkan di tiap comment. 😀

    Apa kata dunia? 😀

  35. n says:

    aduuuuuuuhhhhhhhhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!
    biar Tuhan aj yg milih, klo emg balon rektor itu tujuannya pelayanan, pasti akan di urapi
    OK

  36. Yudo Widiyanto says:

    …..Isu Pemilu presiden RI, peringatan HAM, Reformasi, Ekpor beras sepi peminatnya yak..

  37. Yoyok 2003 says:

    Sekedar mengingatkan IP sama belum berarti satu komputer loh..bisa aja beda komputer tapi menggunakan proxy yang sama. (i.e di warnet, kampus, etc). Tapi bagus juga, at least kita tahu kurang lebih darimana si dalang berasal dan siapa saja orang2 yang ada di sekitarnya ;).

  38. Erman FTI says:

    Buat Dicky (Staff Scientiarum),

    Anda sangat provokatif dengan menyatakan kalau IPnya sama maka orangnya sama.

    Saya rasa anda sama sekali tidak memahami cara kerja NAT (Network Address Translation), Proxy Server, IP Address Spoofing bahkan mungkin anda tidak tahu sama sekali tentang IP addressing. Misalnya 40 komputer dengan IP private dibelakang proxy server ya keluar ke jaringan publik dengan 1 (bisa lebih tergantung setting NATnya, one to one, many to one…) IP public karena sudah mengalami NAT. No offense…hanya mengingatkan saja.

  39. Erman FTI says:

    Test

  40. Erman FTI says:

    @Dicky

    Sekarang koment lagi ya…coba liat IP nya
    Ini dari laptop yang sama tapi aku direct ke server lain, IP nya beda kan?

  41. Erman FTI says:

    Jadi bisa juga sebaliknya…banyak orang bisa pakai IP yang sama dengan komputer yg berbeda, 1 orang bisa bisa pakai beberapa IP dari komputer yang sama (tergantung NATnya tadi).

  42. xrvel says:

    Pada umumnya, sekali lagi pada umumnya, untuk 1 koneksi dari komp yang sama, biasanya IP sama, kecuali shared / public comp, contoh di suatu ruang, ada 1 PC. Siapa pun boleh pakai PC itu.

    Tentang proxy, memang, saat ini wordpress hanya merekam IP user secara langsung, bukan yang bersembunyi di balik proxy.
    Moga2 bisa dimodifikasi secepatnya 😀

    Lagipula saya berkata “ada kemungkinan”, bukan “pasti” 😀

    Tambahan: pesan2 tsb sudah dihapus.

  43. Yoyok 2003 says:

    @ Mr. Erman: mantaaab bos analisisnya 😉

    Saya tertarik dengan IP ini : 222.124.25.34

    Name: ns1.uksw.edu
    Address: 222.124.25.34

    Jadi yang komentar di awal-awal (khususnya yang ngelawak, yang rasis, yang ga professional..pakai di sensor segala) adalah berasal dari civitas akademika USKW. Ooops.. apa kata dunia? ( ya ga Dick? 😀 )

    Saya yakin dengan ditampilkan IP address di SC, para “pelawak” akan sedikit kerepotan untuk posting karena harus pergi ke warnet, pasang internet sendiri di rumah, atau bahkan berburu proxy sebagai topeng (biar tambah lucu). Haha.

  44. xrvel says:

    Oke, telah terjadi modifikasi di Scientiarum, sekarang untuk yang pake proxy, ip di balik proxy seharusnya udah bisa kerekam 😀

    Btw, back to topic 🙂

  45. jay says:

    Weleh2… kok diskusi IT…

    Topik utamax mendingin nih, mana orang2nya?.. or pada takut IP ditampilkan hehe..
    Back to laptop dong (-:

  46. lius SMU says:

    Undangan

    Besok tanggal 27 jam 4 ada diskusi tentang proses pemilihan rektor di LKU, akan ada Pengurus yayasan yang datang dan X-pansus.

    Terbuka untuk semua civitas…So yang mau bertukar pikiran dan mau beridkusi silahkan datang..

    Terima Kasih.

    Perlu juga berdiskusi tentang cara PILREK berikutnya. Ga kayak aturan yang digunakan sekarng..

    @ K’dobleh
    walaupun menurut saya tidak wajib untuk menulis, tetapi Saya memang rencana menulis itu, meskipun belum selesai…Dan ini bukan hanya untuk K’dobleh tapi untuk semua mahasiswa atau semua civitas juga.

    Salam, Lius

  47. andi-dobleh says:

    GubRAGGGGG…..
    @Lius
    ngasih undangan kok H-1. pake media komen SA lagi.. tobat2… apa gak nyadar tho, komen SA tuh di moderasi dolo… lagian juga belum tentu semua orang baca…

    ck ck ck ck

    Aku juga ga mewajibkan kamu menulis kok Lius. Yang mewajibkan kamu (n juga Rhema sih) untuk memperrtanggungjawabkan polah kalian selama di pansus adalah predikat Ketum SMU – BPMU.. ya itu sih kalo kalian masih merasa jadi pelayan mahasiswa, kalo gak ya gpp, lha wong dah mo akhir periode ini.. kan tinggal buat LPJ trus bubar.. selesai perkara.

  48. Erman says:

    Dear Scientiarum,

    Saya melihat setelah ditampilkannya IP address, para pengunjung enggan memberikan komentar lagi. Mungkin karena takut atau…? Saya tidak tahu.

    Sebenarnya justru komentar2 itulah ( walaupun kadang ngawur, asal2an tanpa bukti, kasar, dsb) yang membuat media ini menarik…terutama bagi yang jauh dari UKSW. Membaca komentar2 di sini sangat menghibur hahahahaha…aneh2, lucu2, dsb. Selama beberapa hari ini komentarnya semakin berkurang dan menurut saya (ulangi lagi ya, menurut saya pribadi) membuat scientiarum tidak begitu menarik hahahaha… Bagaimana kalau IP address tidak usah ditampilkan (biarnya admin yang merekam dan yang tau IPnya) ? Buat kami yang membaca juga informasi IP itu tidak berguna (setidaknya untuk saya…ini alam demokrasi terserah orang mau omong apa, semua bebas berpendapat).

    Informasi IP saya rasa hanya berguna untuk admin. Kalaupun admin tau IPnya, apa mau dicari orangnya, mau digebuki, mau dituntut ke pengadilan, ke polisi? Terserah adminnya kan). Sekali lagi ini hanya pendapat saya pribadi dengan mengatakan, jika orang yang berkomentar semakin sedikit, maka semakin tidak menarik…..lama2 bosan juga kan tiap harus buka scientiarum berharap ada koment2 yang lucu, ilmiah, ngawur, tapi ternyata sama saja setiap harinya……mending buka kompas.com atau detik.com yang minggu lalu ada perang koment antara pendukung MU dan Barca…dan banyak org berkomentar dengan bebas

    Bisa jadi pendapat saya salah. Mungkin perlu dilakukan count jumlah pengunjung (dan count jumlah comment baru ) setiap harinya dalam 1 bulan setelah IP tertampil dan kemudian dibandingkan dengan statistik sebelum IP address ditampilkan. Dari situ bisa terlihat apakah pendapat saya keliru atau tidak. Saya rasa redaksi Scientiarum bisa melakukannya.

    Salam

    Erman (FTJE ’97, FTI ’03)

  49. Pecinta UKSW says:

    @ Neil Rupidara
    Salam.

    Saya selalu mengikuti berita yang faktual tentang proses penjaringan bakal calon rektor yang dilakukan oleh Pansus, yang menurut Anda bersifat kontroversial, karena saya sendiri berada di salatiga, bukan di tempat lain seperti Anda. Sebelumnya, sebagai pecinta UKSW, saya enggan berkomentar banyak, tetapi kali ini saya bersikap reaktif terhadap tanggapan Anda yang bagi saya tidak masuk akal dan kesannya tidak netral. Dengan segala kerendahan hati, saya mengatakan bahwa Anda sebenarnya melakukan blunder. Sikap Anda itu tidak selayaknya sebagai kandidat doktor dan mantan aktivis mahasiswa, karena tokoh intelektual tercermin dari independensinya. Saya tidak melihat sikap itu pada diri Anda. Jadi sudah pasti ada motif2 lain.

    Saya mendukung apa yang dikatakan oleh Saudara Lius dari LKU. Bahwa peraturan yang sudah ada dan yang berlaku harus dipatuhi, misalnya ketentuan Pansus yang terdiri dari 7 orang yang mewakili unit di UKSW. Pada tahun 2001 yang lalu aturan tsb sudah diberlakukan hingga pula saat ini, tetapi mengapa tahun 2001 yang lalu tidak ada protes seperti Anda mengemuka. Sudah pasti, sekarang isu itu dimunculkan karena sebelumnya kandidat Anda tidak lolos dalam balon rektor bukan?

    Jika setiap Bakal Calon yang ada mempunyai penilaian dan skor yang dilakukan sepihak oleh pendukungnya, (seperti yang Anda dan kroni2 JT lakukan), pasti mempunyai dampak yang buruk pula dan lebih rumit lagi. Jadi, menurut saya dalam prinsip keterwakilan itu, maka mutlak Pansus menjadi bagian yang independen karena terdiri dari unit tadi. Nyatanya dalam praktek itu, YPTKSW tidak menyalahkan Pansus, baik dari hasil skoring maupun mekanismenya. Justru keputusan YPTKSW meloloskan 4 balon rektor tersebut berdasarkan hasil kerja Pansus. Oleh sebab itu, untuk apa lagi Anda mengusulkan adanya forum bedah Pansus ketika civitas akademika (kecuali pendukung/pengikut balon rektor) dan YPTKSW merasa tidak ada kejanggalan dan merasakan kebenaran itu. Jadi, subjektifitas diri harus ditanggalkan dalam proses ini untuk menggapai independensi.

    Sebaliknya, saya mempertanyakan kebijakan YPTKSW yang meloloskan 2 balon rektor yang memiliki skor yang sama tersebut. Mengapa YPTKSW harus takluk terhadap dorongan2 yang menyesatkan dari salah satu pendukung kandididat tertentu? Alasan solusinya hanya untuk menciptakan kedamaian dan keamanan di UKSW, jadi pendukung J. Titaley termasuk golongan yang anarkis ya….

    Terima kasih.

  50. Neil says:

    @Pecinta UKSW..

    Terima kasih atas tanggapan Anda. Berikut tanggapan balik saya.

    Pertama, dari mana Anda menilai saya tidak independen? Independensi tidak sama dengan ada/tidaknya keberpihakan, silahkan cari dan baca literatur untuk kita debatkan perbedaan kedua terms tersebut. Ambil contoh, soal sikap para intelektual tentang (neo-) liberalisme, isu yang lagi hangat dalam proses pemilihan presiden. Kalau ada yang mengatakan dia yakin liberalisme baik, apakah lalu dia menjadi tidak independen, misalnya karena pemerintah Indonesia menunjukkan sejumlah kecenderungan pada penciptaan mekanisme pasar yang lebih baik? Mungkin saja benar kesimpulan itu, tetapi jangan gegabah buat kesimpulan tanpa dasar-dasar yang cukup. Tanya dan amati dulu dong, untuk menemukan alasan apa seseorang menetapkan sikapnya. Kepada saya juga, tanya dulu dong, apa dan mengapa keberpihakan saya begini dan begitu, baru judge keberpihakan saya itu sebuah ekspresi independensi atau bukan. Bagi saya, setiap subjek/individu memiliki pertimbangan2 tertentu ke mana dia berpihak, walau derajad aktivasi keagenan setiap individu berbeda-beda. Pertimbangan bisa datang dari mana saja, itu menyangkut sumber informasi dan sumber argumen, sehingga saya pada derajad tertentu pun menyadari bahwa sebagai individu kita tidak seperti berada di ruang hampa udara/pengaruh. Namun, itu belum tentu menunjukkan bahwa si individu tidak independen dalam keputusannya, jika pengertian independen Anda maknai sebagai apakah saya menentukan pilihan atau orang lain yang menentukannya untuk saya. Ada memang kondisi di mana seseorang tidak independen dalam menentukan sikap/keputusannya, keputusannya dibuat bukan oleh dirinya sendiri, tetapi sedikit atau banyak telah ikut ditentukan oleh pihak lain. Mudah-mudahan itu tidak berlaku pada saya. Saya merasa saya cukup independen memutuskan sikap keberpihakan saya, di atas segala orientasi atau preferensi nilai yang saya miliki. Karena itu, sebaiknya Anda tidak dengan naif menuding saya. Juga, sebaiknya be more clear dengan esensi konsep yang Anda pakai, baru silahkan jatuhkan judgement Anda dan kita bisa berdebat tentang itu. Dan, perdebatan adalah karakteristik intelektual, bukan anti intelektual. Karena itu, jangan juga bawa status kandidat doktor saya, juga mantan aktivis, untuk menilai dengan gegabah. Akhirnya, penilaian Anda = jauh panggang dari api.

    Soal netralitas (nilai), jika Anda baca literatur terkait sikap seorang intelektual ataupun tentang apakah ilmu bersih nilai/norma, saya berani yakin Anda akan ketemu dengan kesimpulan bahwa hampir tidak ada yang bersih nilai. Saya pun demikian. Saya punya preferensi nilai atau paradigma. Atas dasar itulah saya menjudge apa yang saya terima sebagai informasi, termasuk terkait proses pemilihan rektor. Saya tidak pernah menglaim bahwa saya netral, karena itu klaim Anda sekali lagi jauh panggang dari api.

    Perlu Anda ketahui, sejak tahun lalu sebelum proses pemilihan rektor ini bergulir pun saya sudah menyatakan sikap saya. Mungkin Anda tidak pernah membaca/mendengar, karena itu di antaranya saya sampaikan dalam forum milis Alumni UKSW (Ikasatya). Kalau Anda seorang alumni UKSW, coba tanyakan teman Anda yang ada di milis Ikasatya, apakah saya membuat atau tidak. Sejak awal saya sudah warning kemungkinan-kemungkinan bias dalam proses, dan itu saya belajar dari pengalaman-pengalaman pemilihan rektor sebelumnya, terutama pemilihan rektor 2004. Jadi, sejarah memberi saya perspektif untuk menilai apa yang sedang terjadi hari ini. Dalam diskusi di milis itu, bahkan sudah ada usulan untuk mengganti mekanisme pemilihan yang kini dipakai. Ingat, diskusi dan usulan itu sudah terjadi di 2008, jauh sebelum proses pemilihan ini bergulir. Jadi, Anda adalah orang buta yang terpaksa harus menebak-nebak, sayangnya tebakan Anda meleset total. Seseorang yang telah mengungkapkan pikirannya sebelum proses berlangsung Anda tuding cuma kepincut kecelakaan keputusan Pansus yang baru terjadi kemarin. Bahwa karena keberpihakan nilai saya, saya juga termasuk menantang Pansus untuk berdebat soal apa yang mereka lakukan, karena tidak memuaskan curiosity saya, itu soal lain.

    Jangan tanyakan saya soal pemilihan rektor 2001, karena yang pasti saya sama sekali tidak melibatkan diri. Saya tidak memberi perhatian atas aturan apa yang berlaku di kala itu, tidak mengetahui prosesnya seperti apa, dan sama seperti sekarang saya tidak berada di Salatiga pada saat semua proses berlangsung. Dan yang paling utama, seperti di kalimat pertama alinia ini, secara intelektual maupun psikologis, saya tidak melibatkan diri. Nah, mengomentari proses pemilihan rektor 2001 dengan kondisi seperti itu ya namanya bo’ong atau ngawur. Itu justru sikap anti-intelektual: tidak tahu apa-apa tapi mau sok tahu. Jadi sikap Anda memersoalkan kenapa saya kok tidak dari dulu protes ya adalah sikap mengajak saya bertindak anti-intelektual, sebuah kontradiksi dari pandangan Anda sendiri agar sebagai intelektual saya bertanggung jawab atas sikap saya. Jadi, kembali dan lagi-lagi, jauh panggang dari api.

    Tadi saya katakan bahwa saya belajar dari kasus 2004, kenapa saya tidak protes sejak 2004? Well, manusia belajar dari sejarah (betul kan?) dan seperti saya pun belajar dari baik buruknya proses pemilihan rektor 2004. Karena itu, sebagai warga UKSW yang sekalipun tidak sedang aktif di UKSW saat ini, saya telah mengingatkan agar jangan sampai penyimpangan apapun yang pernah terjadi dulu, kini terjadi lagi. Salah satu usulan saya adalah pantau proses pemilihan rektor 2009, sedetail-detailnya. Warning dan usulan ini sudah dilayangkan sebelum proses bergulir. Sekali lagi, silahkan cek via milis Ikasatya atau cek saja pada sejumlah teman yang kini menjadi pengurus PP Ikasatya. Namun, sekalipun sudah diingatkan, toh masih terjadi lagi. Bukankah itu menunjukkan kepada kita (paling tidak saya) bahwa justru kita ini tidak belajar dari pengalaman sendiri (sikap seorang intelektual adalah mau belajar). Anda pun kini mengajak saya untuk “toh yang dulu juga begitu”, artinya anda meminta saya untuk tidak belajar dari apa yang salah dan yang benar, sebuah sikap bukan intelektual, saya kira. Lha kok bisa? Katanya tupai tidak jatuh dua kali pada lubang yang sama. Lha kalau manusia sampai jatuh dua atau berkali-kali pada tempat yang sama, lha apa itu tidak berarti kita lebih rendah dari tupai? Itu menunjukkan sikap anti-intelektual (tidak belajar) sehingga Anda melindungi sikap anti-intelektual yang sedang berpraktik sehingga Anda pun akhirnya bersikap anti-intelektual.

    Namun, saya mencoba memahmi bahwa mungkin karena ketidaktahuan, maka Anda mengambil kesimpulan dan membuat pernyataan salah kaprah Anda pada saya. Namun, melihat pernyataan Anda yang hati-hati dan pernyataan Anda bahwa Anda ada di Salatiga, tidak seperti saya, saya menduga Anda juga seorang intelektual di UKSW, sayang sekali Anda tidak berani tampilkan jati diri Anda sesungguhnya. Jika saya benar (Anda adalah rekan saya sesama dosen), sikap Anda justru menunjukkan bahwa Anda kembali membuktikan Anda telah bertindak bukan sebagai intelektual: gampang buat kesimpulan, tanpa tahu apa sikap dan tindakan saya selama ini (telah mendiskusikan hal terkait proses pemilihan sejak tahun lalu, misalnya). Maaf, bagi saya, membuat sebuah kesimpulan, apalagi tudingan, tanpa fakta adalah jauh dari sikap seorang intelektual.

    Ke soal konten, soal peraturan yang harus dipatuhi, mari kita tilik aturan yang Anda minta supaya kita patuh itu. Pertanyaan saya, apakah Anda sudah baca dengan teliti? Pertanyaan lanjut saya, lalu yang mana yang mau Anda dan saya ikuti, misalnya jika antara pasal 1 tentang definisi apa itu pansus dan pasal 3 tentang proses pemilihan (pada tahap bekerjanya pansus dan ada delegasi kewenangan kepadanya), justru mengandung kontradiksi satu sama lain? Anda tahu maksud saya? Cek saja dulu bunyi poin-poin terkait pernyataan saya. Mari kita telaah peraturan yang Anda katakan harus kita ikuti itu. Well, saya menyesal baru sempat menelaah isi peraturan ini pada pemilihan rektor kali ini, karena baru terima dalam perjalanan proses pemilihan kali ini. Sekalipun terlambat, itu tidak berarti saya atau siapapun tidak boleh kritik kekurangan peraturan itu kan.. Sekalipun menghormati sistem pemilihan yang telah diatur oleh peraturan itu, tetapi tanpa kritis terhadapnya ada implikasi serius sebuah proses pemilihan yang digawangi oleh peraturan yang memuat kontradiksi. Di situlah mengapa sikap saya sejak awal, pantau proses ini dengan cermat. Siap tiup peluit bilamana ada penyimpangan. Sekali lagi tanyakan warga milis Ikasatya untuk mengecek pandangan saya itu.

    Soal penilaian oleh Pansus versus penilaian oleh publik, jika kita ikuti isi pasal 3, maka kewenangan (formal) ada pada Pansus, itu harus diakui (kesalahan menerima kebiasaan sebelumnya tanpa kritisi pertentangan isi antar pasal dan pemahaman umum tentang ruang lingkup umum kerja kepanitiaan pemilihan seperti Pansus). Namun, itu tidak berarti orang lain tidak bisa kritik Pansus, jika apa yang dikerjakannya dinilai kurang baik. Coba berikan bukti pada saya adanya larangan terhadap tindakan mengritik Pansus, mengajak dilakukannya bedah kerja Pansus. Saya duga tidak ada kan. Sebagai komunitas intelektual yang menghargai keterbukaan dan kejujuran, bukankah mengharapkan Pansus untuk fair dan terbuka dengan apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu hal yang wajar dan baik? Justru sikap Anda untuk melarang saya dan pihak pemrotes lain adalah tindakan seorang tiran/otoritarian yang berlindung di balik perangkat2 legal formal belaka (sekalipun tidak ada larangan yang jelas terhadap usula seperti yang saya sampaikan) dan sikap seperti itu jauh dari sikap seorang intelektual.

    Soal asas keterwakilan warga kampus dalam Panasus, siapa yang berani berkesimpulan Pansus sudah merupakan representasi warga kampus? Anda bisa memberikan argumen pada saya untuk mengabsahkan keterwakilan mereka? Ambil contoh, mari kita ungkap misalnya proses penunjukan anggota Pansus, apakah sudah memenuhi prinsip-prinsip perwakilan yang baik? Soal jumlah orang, apakah 7 bisa mewakili belasan ribu orang kampus? Jika saja menyadari bahwa di kampus UKSW ada kepelbagaian perspektif/cara pandang, apakah mereka 7 orang itu sudah mewakili? Soal 2 wakil dosen, dipilih dari tubuh Senat. Well, Senat adalah sebuah lembaga “perwakilan” jadi kita berhadapan dengan fenomena perwakilan kuadrat. Apakah ini baik untuk disebut mewakili komunitas dosen? Apa yang terjadi kan kita taken for granted, tanpa kritis menilai. Orang-orang menerima begitu saja karena berbagai alasan, di antaranya memahami bahwa tugas kepanitiaan adalah tugas fasilitatif, administratif, bukan substansial, decisional. Di situlah definisi Pansus pada pasal 1 benar adanya. Namun, rupanya pasal 3 dan praktik selama ini memberikan Pansus kewenangan keputusan yang substansial, apalagi pada tahun ini Pansus diperhadapkan pada kondisi di mana mereka harus menyeleksi 6 balon menjadi 2-3 calon. Ini krusial, karena itu adalah wajar kerja Pansus perlu diteropong. Kalau dulu tidak ada yang mengawasi, jangan salahkan sejarah, dia sudah terjadi. Supaya memenuhi tantangan Anda tentang sikap seorang intelektual, yang menurut saya harus selalu nakal memertanyakan apa yang lazimnya diterima apa adanya (taken for granted) dalam rangka mencari dan mengungkap kebenaran, maaf saja dengan sikap saya yang menurut saya justru harus dilakukan oleh seorang intelektual seperti saya dan Anda.

    Soal YPTKSW mengesahkan sebagian rekomendasi Pansus dengan meralat usulan 2 calon menjadi 4 calon, well coba tanyakan pada teman-teman saya seperti bung Theo Litaay apa pandangan saya tentang hal itu. Saya mengatakan bahwa keputusan YPTKSW tidak menjawab apa esensi protes yang diajukan. Para pemrotes meragukan penilaian yang dilakukan, ada yang mengatakan ada kecurangan, dan karenanya mereka meminta agar dilakukan penilaian ulang. Keputusan mengesahkan sesuatu yang ‘ditolak’ sama sekali jauh dari tuntutannya. Namun, saya menilai pihak pemrotes di kampus masih mau berbesar hati terhadap langkah taktis yang tidak menjawab esensi persoalannya. Namun, itu bukan sikap saya. Sikap saya adalah “Pertanggungjawaban publik atas tugas Pansus”, supaya klaim saya bahwa ada yang salah dalam penilaian pansus bisa terbukti atau tidak. Itu baru sejatinya intelektual, menguji pandangan-pandangan di atas fakta-fakta.

    Akhirnya bagi saya, Anda justru telah menunjukkan kegagalan Anda menjadi intelektual di UKSW, maaf. Anda tidak menjawab keberatan intelektual yang telah diajukan pemrotes seperti saya. Anda menolak sebuah mekanisme intelektual, ungkap fakta-fakta bekerjanya Pansus dan peradukan segala argumen mengapa Pansus menilai begini dan mengapa orang lain menilai berbeda. Ada justru menunjukkan argumentasi keberpihakan tanpa alasan yang jelas dan kuat mengapa Anda tolak keputusan YPTKSW menerima 2 calon tambahan, padahal pada kalimat sebelumnya Anda mengisyarakatkan menerimanya karena Anda menantang sikap saya menuntut forum bedah kerja Pansus. Sikap yang tidak dilandasi argumen yang jelas seperti ini adalah justru bentuk anarkhisme intelektual. Jadi, Anda pulangkan lagi tudingan itu pada diri Anda sendiri. Sayang sekali.

    Jadi, saya telah mengajukan pandangan saya yang justru terbalik dari kesimpulan Anda tentang intelektualitas, netralitas/keberpihakan, anarkhisme. Supaya ini menjadi percakapan intelektual, saya menanti tanggapan balik Anda.

    Oya, supaya Anda jelas, sejak awal mengetahui para bakal calon, saya memang mendukung John Titaley untuk kembali menjadi rektor. Saya tentu punya alasan. Dulu ketika John Titaley belum menyatakan maju, saya telah memerhitungkan dan berharap beliau maju. Antisipasi jika beliau tidak maju, saya pun punya harapan siapa yang sebaiknya naik menjadi rektor, terlepas dari orang itu mau atau tidak. Saya jelas tidak mendukung 2 calon dari unsur pimpinan sekarang, maaf kepada mereka. Saya mengevaluasi kinerja mereka, terhadap idealisasi saya tentang UKSW masa depan dan UKSW menurut idealismenya, di tengah tantangan pendidikan tinggi global dan nasional kini dan ke depan. 3 bakal calon lain tidak atau belum memenuhi harapan saya, untuk memenuhi profil UKSW yang saya cita-citakan. Saya tidak mau pertaruhkan masa depan UKSW pada orang yang tidak saya yakini dengan baik. Sah kan saya punya preferensi? Cukup jelas apa pertimbangan saya? Kalau belum, suatu waktu kita bisa diskusikan lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *