Ragu Hasil Penjaringan Balon Rektor

Oleh James A. L. Filemon | 5 May 2009 | Foto

Ragu Hasil Penjaringan Balon Rektor

Mahasiswa memegang spanduk bertulis “tolak kecurangan pemilihan rektor” berkaitan dengan keputusan pansus (panitia khusus) menjaring bakal calon rektor menjadi calon rektor didepan kantor Yayasan Perguruan Tinggi Satya Wacana (YPTKSW), Senin (4/5). Pansus dianggap tidak transparan dalam proses penjaringan.

Berita Terkait:
Sanggahan Mantan Pansus “TERKEJUTKAH ANDA”
Civitas UKSW Ragukan Pansus


57 Komentar

  1. Pecinta UKSW

    @ Neil Rupidara

    Terima Kasih atas respon Anda terhadap komentar saya. Namun, ada beberapa catatan tanggapan berikut ini.

    Menanggapi persoalan independensi. Penjelasan Anda mengenai independensi itu terasa amat mempersempit maknanya dalam hubungan dengan intelektualitas. Ternyata Anda tidak memahami yang saya maksud. Saya mengakui setiap individu/personal dalam kondisi tertentu tidak bisa menjadi independen. Saya menghargai itu. Tetapi tujuan saya adalah bagaimana individu itu dapat menempatkan diri sebagai aktor intelektual dalam kasus2 tertentu. Yang saya tangkap dari penjelasan tersebut adalah Anda menganut keberpihakan terhadap ketokohan. Anda harus ingat (mungkin Anda lupa), sebagai intelektualis esensi keberpihakan itu berpusat pada unsur kebenaran. Jika ketokohan itu menjadi sumber utama dan pemicu dalam persepktif Anda, maka unsur kebenaran itu akan selalu terdegradasi dalam setiap aksi. Misalnya kwik kyian gie yang saat ini mati-matian menentang pemberlakukan neoliberalisme di Indonesia (yang dianggap dianut oleh Boediono), ternyata dia adalah salah satu tim sukses JK-Win. Jika ditelusuri dalam kepemimpinannya kala itu, padahal ia pernah menerapkan neoliberalisme juga. Keberpihakan terhadap ketokohan itu membuat aktor intelektual menjadi kontra intelektual. Bagi penganut intelektual ketokohan, yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar. Dengan begitu maaf saya mengatakan bahwa Anda telah menjadi korban sekaligus pelaku kontra intelektual itu.

    Alur berfikirnya jelas. Saat ini secara terang-terangan Anda mendukung Jhon Titaley menjadi Rektor periode 2009-2013. Saya memersoalkan komentar Anda terhadap pemilihan Rektor periode 2001-2005, ternyata Anda sama sekali tidak “bunyi” pada waktu itu. Padahal, kondisinya sama dengan sekarang, yakni Anda tidak berada di Salatiga. Namun, kenapa dulu tidak bergaung dan sekarang hendak bersuara lantang? Kesimpulan saya, karena dulu Jhon Titaley terpilih menjadi Rektor, jadi harus bungkam saja dan harus dianggap semua telah berjalan dengan benar dan adil. Pada tahun 2005 juga begitu karena Jhon Titaley tidak melanjutkan kepemimpinannya. Tapi pada periode 2009-2013 ini merupakan titik juang Anda untuk memenangkan kandidat Anda agar menduduki kursi U 1 dengan melakukan berbagai cara. Jadi, terlihat ketidak-konsistenan Anda dalam bersikap dan bertindak mengenai pemilihan Rektor. Ini sikap kontra intelektual karena dibayangi semangat ketokohan tadi.
    Mengenai sikap warning Anda dalam milis Ikasatya. Jika diteropong dalam frame/perspektif ketokohan yang Anda anut itu, maka dengan mudah dimengerti bahwa itu merupakan reaksi kegelisahan Anda (bukan warning), karena Pansus telah terpilih pada tahun 2008 lalu yang Anda anggap terdiri dari orang2 yang anti Jhon Titaley. Lalu mekanismenya juga amat berbeda dengan pemilihan Rektor sebelumnya, yang saya anggap justru lebih baik. Anda gelisah karena formasi dan mekanisme yang baik tidak akan membuka jalan keberuntungan terhadap Jhon Titaley.

    Mengenai keterwakilan warga kampus dalam Pansus. Saya merasakan keabsahan keterwakilan itu, jika kita meniliknya dari perwakilan unit. Bukan dari rasio, perbandingan jumlah warga kampus dll. Unit apa yang merupakan bagian integral dari UKSW yang belum masuk dalam Pansus? Demokrasi di UKSW menuntut sistem perwakilan untuk diberlakukan. Tidak baik Anda memprotes sebuah aturan ketika terjadi/berjalannya pelaksanaan peraturan tersebut. Ada forum yang baik untuk melakukan change/protes terhadap sesuatu yang “menggelitik” pikiran Anda.

    Soal Penilaian civitas akademika. Merupakan hal yang wajar jika dalam suatu keputusan tertentu tidak dapat menyenangkan semua pihak. Namun perlu ditelusuri pula, pihak mana yang tidak puas dengan keputusan bakal calon rektor yang dilakukan oleh Pansus. Wong civitas akademika, pengurus dan pembina yayasan merasa tidak ada yang menyalahi hasil kerja pansus kok. Maka, harus dilihat dulu apa latar belakangnya, tujuannya, kepentingan dan lainnya. Hal ini penting untuk melihat keobjektifan, ketransparanan dan kebenaran suara ketidakpuasan itu. Jika kita menemukan indikasi keberpihakan dan ketokohan itu, maka protes itu sebenarnya jauh dari ketransparanan pula. Jadi ketika pemrotes mengagendakan ketidak-transparanan kerja Pansus, sebenarnya dibalik itu terselip ketidak-transparanan pula di pihak mereka. Landasan berfikir yang mengharuskan adanya forum bedah Pansus yang Anda pelopori itu menjadi tidak signifikan ketika hasil kerja Pansus dipakai menjadi dasar keputusan Pembina dan diakui oleh civitas akademika (kecuali oknum2 yang menganut paham ketokohan tertentu). Saya bukan melarang Anda untuk bersikab anti intelektual, melainkan mengajak Anda supaya sadar akan sesatnya paham ketokohan itu. Karena jika Anda sadar, maka Anda menjadi intelektual sejati.

    Untuk sementara, ini dulu yang dapat saya sampaikan. Saya tunggu tanggapan Anda.

    Salam.

  2. Yulius

    @Pecinta UKSW: agar ada perimbangan dalam transparansi identitas, mohon identitas asli Anda ditampilkan..karena Bung Neil selalu memberi pertanggungjawabannya dengan mencantumkan identitas aslinya..tidak fair rasanya memberi tanggapan dengan motif self inferioritas (jika memang ini benar)..

  3. Neil

    @Pecinta UKSW..

    Kembali terima kasih untuk tanggapan Anda.. terima kasih pula untuk kesimpulan-kesimpulan prematur yang masih saja Anda buat (atau selalu demikian?).. Anda mengatakan jelas, di atas ketidakjelasan mekanisme kausal yang Anda bangun. Hanya melihat ujung, lalu simpulkan. Ini bahaya, bung, sangat bahaya!

    Pertama, tolong jelaskan lebih jauh bagaimana saya memersempit makna independensi. Sejak tanggapan lalu, saya justru sudah meminta Anda untuk menjelaskan makna terminologi yang Anda pakai itu, supaya saya pertemukan dengan makna yang saya ajukan dan pandangan-pandangan saya. Sampai tanggapan balik dari Anda ini, Anda belum sama sekali memberikan definisi/makna independensi. Ingat, Anda sudah klaim atau tuding saya tidak independen dan saya minta bukti, sambil mengajukan argumen mengapa saya memandang saya independen dalam keputusan keberpihakan saya. Tapi, Anda tidak lakukan itu, malah lari dari pokok/undangan argumentasi dari saya ke soal lain. Tidak baik hit and run seperti itu. Kalau di dunia tinju ada Sugar Ray Leonard yang jago hit and run dan seorang jawara, apakah
    Anda mau seperti itu? Sayang sekali, nanti kelihatan inkonsistensi Anda dari satu pandangan ke pandangan lain,

    Kini, bahkan, Anda tambah lagi satu terminologi dan tuduhan baru, keberpihakan (terhadap) ketokohan, menglaim karena faktor ketokohan seseorang, lalu seolah-olah saya sudah mengabaikan apa yang Anda mau sebut sebagai kebenaran. Tolong jelaskan lagi dulu apa yang salah dengan adanya sikap keberpihakan pada orang/opsi tertentu, sebagai sesuatu yang salah, anti-kebenaran, buta karena figure atau ketokohan, atau apapun klaim Anda, sesuatu kesimpulan yang belum dilandasi misalnya apa alasan seseorang berpihak. Anda malah sama seperti Kwik kalau begitu, nuding-nuding orang di suatu waktu, tetapi Anda sendiri tidak konsisten karena lari sana, lari sini sebelum tuntas menjawab orang. Lagipula, catatan untuk Anda: saya tidak butuh legitimasi Anda tentang intelektualitas (sejati) saya, karena tidak mengikuti konsep kesadaran versi Anda. Biarlah komunitas keilmuan saya menilai intelektualitas saya, mereka lebih pantas untuk menilai. Anda mungkin berhak pada derajad tertentu, tapi jangan sampai paradigma positivis Anda menjudge orang dengan kebablasan (karena kecenderungan Anda untuk memutlakkan pandangan sendiri, legalistik, proseduralis).

    Lebih jauh, tidak atau belum jelas apa pula yang Anda mau maksudkan dengan kebenaran, karena Anda baru bicara pada level abstrak, tidak ada bukti-bukti spesifik di mana sesuatu Anda sampai menyebut benar, mana pula yang tidak benar. Bung, semua orang bisa bicara bahwa dia benar, ini-lah kebenaran, atau apapun konsep-konsep universal, namun pada tingkat empiris justru bersikap dan bertindak jauh dari prinsip yang digadang-gadangnya. Saya khawatir Anda cenderung telah menyunat kebenaran (apapun itu) hanya menurut versi Anda, dan menyisihkan kebenaran menurut versi orang lain. Padahal, saya sudah katakan pada Anda pada tanggapan lalu, sebaiknya Anda minta bukti atau tanyakan dulu apa pertimbangan-pertimbangan orang (dhi. Saya) sehingga akhirnya sampai pada suatu bentuk sikap keberpihakan atau memilih mana calon yang saya dukung atau tidak dukung. Saya sudah katakan pada tanggapan lalu, ada argumen-argumen yang saya pakai dalam membangun sikap keberpihakan saya. Bagi saya, dalam menilai dan berpihak, ada konsepsi tentang model/profil UKSW yang saya harapkan terbentuk, ada pemahaman tentang tantangan dan perkembangan dunia pendidikan tinggi kini dan ke depan, ada juga evaluasi atas figur-figur yang maju sebagai bakal calon rektor, menyebut sebagian di antara pertimbangan2 itu. Jadi, setahu saya, saya tidak membabi buta, asal si A, atau B, atau C, tetapi membangun dasar sikap mengapa saya akhirnya cenderung si A, daripada si B, C, D dan seterusnya. Jangan sampai Anda justru yang seperti itu lalu menggunakan proyeksi pikir Anda itu pada kasus saya. Banyak lho orang seperti itu, self-fulfilling prophecy. Anda giring saya untuk menyimpulkan bahwa Anda rupanya senang membuat kesimpulan-kesimpulan sepihak, tanpa bukti dan argumentasi yang cukup, sebuah sikap yang sangat jauh dari anjuran Anda soal intelektualitas sejati.

    Jadi, saya kembali harus menegaskan bahwa saya punya sejumlah konsepsi “kebenaran” (kalau bisa disebut kebenaran, yakni apa yang saya percayai sebagai seharusnya) dalam menentukan sikap dan pilihan saya, termasuk ketika memilih John Titaley dari ke-5 bakal calon lain. Pertama, saya membangun model/profil UKSW 4 tahun ke depan ini harusnya bagaimana, dan model saya adalah sebuah universitas riset (plus pengembangan model pedagogik konstruktivis). Orang lain mungkin punya modelnya sendiri. Saya merekam tantangan2 dunia pendidikan tinggi yang bakal dihadapi UKSW, tentu ini dilihat dari perspektif dan pengalaman saya. yang berarti sebuah konsepsi “kebenaran” versi saya. Tantangan2 itu saya proyeksikan sebagai pressure bagi UKSW dan perguruan tinggi manapun di Indonesia, dan skopa yang lebih luas dan karenanya menuntut respon yang appropriate (berimplikasi pada kepemimpinan macam apa yang bisa member respon seperti yang diharapkan). Lainnya, saya juga punya sejumlah rekaman data menyangkut kinerja dan hasil dari pengalaman-pengalaman kepemimpinan atau kiprah para bakal calon, untuk engevaluasi siapa di antara mereka yang tepat memenuhi. Ini juga sejumlah bukti-bukti yang saya gunakan untuk mengonsepsikan “kebenaran”. Jadi, atas dasar kebenaran macam apa Anda menyebut saya tidak mendasarkan pada sebuah kebenaran dalam mencapai kesimpulan mengapa saya harus mengambil sikap keberpihakan tertentu, sambil di sisi lain Anda membenarkan diri Anda membuat kesimpulan tanpa dasar sama sekali, misalnya tentang tidak independennya saya, tentang keberpihakan tokoh, atau lainnya? Betapa hebatnya Anda dan betapa absolutnya kebenaran versi Anda, sehingga kebenaran orang lain menjadi sebuah kesalahan di mata Anda? Betapa anarkhisnya Anda, merasa memiliki sendiri kebenaran dan menuding orang lain seperti saya sebagai jauh dari kebenaran, sehingga mengingatkan saya atau menuding saya lupa tentangnya? Well, apa sih konsepsi kebenaran yang Anda pakai ini? Ingin tahu saya.

    Saya mencoba menyadari bahwa pada tataran tertentu ada relativitas kebenaran (bandingkan Anda yang bermain di aras abstrak, tanpa bentuk, tapi menganggap diri paling benar, menuding tidak ada kebenaran pada orang lain tetapi tidak berhasil menunjukkan ketidakbenaran itu secara empiris). Apa yang benar menurut saya, mungkin belum tentu benar menurut Anda, atau orang lain, sama juga dengan sebaliknya. Ketika diperhadapkan pada sebuah fenomena yang sama, dua atau lebih orang bisa punya pandangan atau pilihan yang beda. Itu merefleksikan kebenaran relative pada masing-masing pihak. Cuma, dalam konteks kebenaran yang bervariasi dalam suatu bentuk kehidupan bersama dalam satu komunitas, well, implikasinya kita bisa cuma berantem saja terus karena apa yang benar menurut saya, Anda salahkan. Dan, manusia kan dituntun oleh nilai kebenarannya dalam melakukan tindakan-tindakan nyata. Jadi perbenturan pada aras tindakan bisa tidak terhindarkan, jika masing-masing bersikukuh akan kebenaran menurutnya, ini bisa bahaya. Karena itulah, mengapa saya misalnya mengusulkan forum (perdebatan) terbuka, untuk bedah kerja Pansus, supaya jangan kita bersembunyi di balik kebenaran2 sepihak, walaupun terus menuding pihak lain tidak benar. Adakah yang salah dengan sikap itu? Bukankah justru baik untuk saling menyingkap “kebenaran” masing-masing dan menemukan posisi kebenaran yang saling mendekati? Silahkan cek, bahwa sekalipun menduga sesuatu yang salah dalam kerja Pansus, saya tetap mengatakan, saya tidak mau klaim itu sebagai mutlak, mendahului tersingkapnya bukti-bukti. Itulah mengapa usulan saya adalah buka atau adakanlah forum bedah kerja Pansus, supaya fair, transparan. Jadi, kalau Anda mau bicara kebenaran, mari kita bawa semua bukti-bukti ke sana, buka-bukaan, lalu ambil kesimpulan. Dengan begitu, saya masih mau memberikan ruang kebenaran versi Pansus, tetapi mari singkap dulu semuanya, bukan main klaim sepihak bahwa diri sendiri sudah benar, dan orang lain salah. Jadi, ingat bung, tentang pemilihan rektor 2009 ini, saya mendorong dibuka seterang-terangnya seluruh proses kerja Pansus baru siapapun, termasuk saya, ambil kesimpulan akhir, apakah Pansus benar memanipulasi data/fakta (atau paling tidak memainkan subjektivitas-nya secara kurang proporsional, seperti tudingan yang dilayangkan) atau tidak. Kesimpulan tentang salah benarnya kerja Pansus mari kita dudukkan dulu pada fakta-fakta yang ditelaah bersama-sama, bukan main klaim seenaknya.

    Dengan menggugat kerja Pansus dan merekomendasikan bedah kerja Pansus, maka tentu ada dasar yang harusnya saya pakai untuk mendukung sikap itu (supaya tidak seperti kata Anda, Cuma silau oleh ketokohan). OK saya mau menuju yang empiris, supaya kita tidak main abstrak-abstrakan, klaim kita benar, tetapi tidak jelas di mana dasar menyebut dirinya benar.

    Begini bung Pecinta UKSW, kita ini sama-sama warga UKSW, betul kan… Kita paling tidak punya lah informasi tentang apa kiprah ke-6 tokoh-tokoh yang jadi bakal calon rektor pada pemilihan kali ini. Di sisi lain, kita punya 21 kriteria dan/atau yang disebut ukuran-ukuran empirik, untuk menilai para bakal calon, dan atas dasarnya (Pansus) menyortinya menjadi 2 hingga 3 calon. Well, sebagai warga kampus yang juga cukup kenal sepak terjang para bakal calon, kita bisa secara kasar menilai mereka, berdasarkan semua informasinya yang kita punya (mungkin ada juga informasi yang tidak kita miliki). Kalau tidak tahu apa-apa lalu cuap, ya itu baru namanya membabi buat berpihak pada tokoh tertentu tanpa alasan.
    Nah, di atas seluruh rekaman informasi yang saya miliki yang diperhadapkan pada 21 item penilaian itu, saya merasa penilaian versi Pansus kok janggal ya. Saya kira penilaian ini wajar, tiap orang punya perceptual set yang mengantarnya menilai begini atau begitu. OK, Pansus punya kewenangan formal melakukan penilaian dan mereka sudah lakukan, itu harus dihargai. Namun, jika hasil penilaian mereka diragukan, apa tidak boleh? Well, di pengadilan saja, sekalipun kita hormati hakim dan lembaga pengadilan, toh kita berhak banding, kasasi, PK atau bahkan berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran sekalipun di luar persidangan. Mengapa ini lalu jadi eksklusif tidak boleh? Mengapa Pansus seolah sebagai sebuah lembaga kebal hukum, untouchable, tidak boleh digugat? Tolong beri saya alasan, mengapa mereka tidak boleh digugat, kalau perlu dari aturan yang Anda sangat hormati itu (wong bagian penutup Aturan itu pun masih mengisyaratkan keterbukaan terhadap kekeliruan dan terbuka terhadap perbaikan). Di sisi lian kita sadar bahwa hukum (dhi. diwakili oleh peraturan) harus merefleksikan keadilan, kebenaran, dan prinsip-prinsip adiluhung lainnya dan pada kenyataannya ini ada orang menyoal keadilan dan kebenaran dari hukum dan tindakan Pansus yang didasarkan atas hukum itu (dhi. para pemrotes). Dibandingkan dengan segala penghormatan pada pengadilan, hakim, dan keputusan hakim, tapi orang bisa menggugat kembali keputusan hakim, lalu apa yang salah dengan meragukan hasil kerja Pansus? Rupanya Anda pendukung paradigma hukum sebagai procedure (kan sudah diatur Pansus berhak melakukan scoring yang membawa hasil 2-3 calon rector diusulkan ke Pembina), daripada menyoal secara substantif (apa bukti atau mengapa hasil penilaian Pansus adalah seperti itu), sehingga Anda adalah seorang positivis yang membutakan mata terhadap persoalan atau potensi persoalan. Anda juga ternyata berkencederungan lalim, otoriter, mentang-mentang berkuasa (dhi. hukum atau peraturan dan produk turunannya, Pansus dan hasil kerja Pansus), tidak boleh digugat, daripada membuka ruang tafsir dan diskusi tentang apa yang baik dan kurang baik. Weleh, bahaya sekali. Sekali lagi, soal benar salah secara final, saya tidak mau klaim buru-buru, tapi mari buka kemungkinan menggugat kebenaran Pansus (=hakim).

    Nah, supaya kita bisa menilai Pansus sudah “benar” khususnya dalam menilai para bakal calon, karena itu, saya minta, apa sih bukti-bukti atau informasi di tangan Pansus ketika memberi nilai 1,2, 3, atau 4 di setiap item penilaian (ada 21 items), kepada setiap bakal calon. Angka 1 – 4, itu kan seolah gampang dijumlah-jumlahkan nilainya sekian. Namun, pertanyaan yang mendasar adalah ketika angka 1 atau 4 diberikan pada calon ini atau itu, angka itu datangnya dari mana, merefleksikan apa, atau bukti empirisnya apa? Apakah ketika memberi nilai seperti itu, cukupkah informasi di tangan para penilai? Apalagi, di antara 21 kriteria/ukuran empiris ada tidak sedikit kriteria “karet”, khususnya nomor-nomor akhir dari ukuran empiris yang sangat kualitatif, seperti ketegasan, keadilan, bukan misalnya criteria keras soal apakah dia bisa datangkan dana, berapa banyak dana, yang cenderung sangat jelas pijakan penilaiannya. Well, jangan sampai man who statistics bermain, jangan sampai ada hallo effect, jangan sampai recency events digunakan, jangan sampai lainnya. Kesimpulannya bias-bias seperti itu sangat terbuka kemungkinan telah berlangsung dan karena itu wajar untuk dipersoalkan, dari mana asalnya hasil penilaian yang seperti itu. Silahkan cari dan baca literature tentang penilaian kerja dalam dunia manajemen sumber daya manusia, semua hal seperti itu lazim terjadi dalam proses menilai. Apalagi Anda tampaknya girang dengan komposisi keanggotaan Pansus (lihat catatan saya yang lain di bawah).

    Saya ambil contoh saja deh, soal hasil penilaian yang sama antara JT dan CDA. Ini menarik. Yang kita tahu kan hasil akhir yang seperti itu, betul kan? Oleh common sense saya, atau siapa pun, ini cukup susah dimengerti. Well, saya bukan mengatakan CDA jelek, tidak (dengan tetap juga member sikap hormat kepada apapun capaian akademik dan kepemimpinan beliau), tetapi sangat riil pengalaman kepemimpinan mereka jelas menunjukkan kesenjangan yang signifikan. JT sudah sejak awal periode 80an jadi PR3, sejak awal 90an membangun PPs SA dan menjadi sebuah lembaga pendidikan teologi yang disegani, sudah menjadi Ketua organisasi bidang keilmuan tingkat nasional (mis. Persetia), sudah melanglang-buana di level internasional, memiliki relasi yang luas sehingga mampu mendatangkan tokoh-tokoh internasional dan nasional ke UKSW misalnya untuk mengajar di PPs SA UKSW, dan ketika menjadi rektor bisa membawa masuk relasi dan bantuan dana misalnya dari UBCHEA yang tidak kecil (hitung pula dukungan terhadap PPsSA selama ini). Lalu, bagaimana bisa hasilnya sama dengan CDA yang pengalaman kepemimpinannya belum seperti itu? Dugaan saya, mungkin pada kriteria-kriteria yang saya sebut “karet” itulah nilai CDA melebihi JT, sehingga mengimbangi kelebihan JT di kriteria lain. Boleh-boleh saja, tetapi sekali lagi, bukti apa yang dipakai untuk pada akhirnya sampai pada kesimpulan si dia pantas nilainya 3 atau 4, dan si dia cuma 1 atau 2, misalnya. Well, cuma Pansus yang tahu, dan akal sehat saya masih belum bisa terima untuk hasil akhir pada contoh yang saya sebutkan (demikian juga hasil lainnya, KHT dan DK melampaui JT).

    Karena itu, ini bukan sekedar soal asal dukung-mendukung tokoh tertentu secara buta (tudingan itu menunjukkan bahwa Anda terlalu sombong dengan kebenaran versi Anda dan merendahkan intelektualitas orang lain sebagai sekedar soal-soal sentiment individual etc.. luar biasa sekali Anda), tetapi lebih pada fakta-fakta empiris pengalaman2 kepemimpinan dan intelektual para tokoh itu yang bisa diukur atau dinilai (yang bisa diperhadapkan pada proses serta hasil penilaian oleh Pansus). Kalau cuma ketokohan, atau sikap “Pokok’e”, saya tidak akan ngotot bedah kerja Pansus, ketika Titaley sudah jadi calon rector yang diterima Pembina (saya tidak tahu alasan para pemrotes yang menerima itu, itu hak mereka). Karena itu, ketika hasil Pansus menyamakan nilai CDA dan JT, lalu KHT dan DK dinilai outperformed mereka dua, khususnya JT yang memiliki pengalaman kepemimpinan yang sama atau lebih dari mereka, wajarlah orang seperti saya memersoalkan, karena ada juga sejumlah bukti-bukti untuk menilai tidak mungkin hasilnya seperti itu. Sekali ini soal apa dan mana bukti-bukti yang digunakan Pansus dalam menilai, yang telah diragukan hasilnya itu. Tapi, kalau Anda mau berkeras sebut ketokohanlah dasar sikap saya (atau pemrotes lain), ya saya pikir adalah lebih baik kita masuk “ruang bedah” kerja Pansus dan sekaligus membedah alasan para pemrotes, untuk lihat apa “isi perut” masing-masing, jangan-jangan yang dipengaruhi ketokohan (misalnya, karena status incumbent) adalah justru Pansus. Ada banyak hal tersembunyi di belakang penilaian Pansus yang belum terungkap, yang tidak boleh kita cuma lihat nilai akhirnya (misalnya, sama-sama dapat angka 50 atau apa lah), itu terlalu menyederhanakan persoalan!!!!
    Soal perwakilan dan keterwakilan, saya meminta Anda untuk menguji keterwakilan mereka anggota Pansus secara menyeluruh, di atas prinsip dan proses-proses perwakilan atau keterwakilan. Namun, Anda cuma datang dengan klaim legalitas, sayang sekali. Kalau cuma itu, ya saya tidak bisa bikin apa-apa. Namun, atas keterwakilan dalam model seperti itu, saya sudah katakan, bolehlah kalau diminta untuk melakukan pekerjaan administrasi pemilihan (sebagaimana definisi konsep Pansus di pasal 1 Peraturan Pemilihan Rektor.O ya, Anda belum menjawab catatan saya soal pertentangan esensi lembaga dan kerja Pansus antara definisi Pansus pada pasal 1 dan pekerjaan Pansus pada pasal 3). Namun, ketika mereka disebut berwenang mewakili warga kampus untuk menyeleksi bakal calon menjadi calon, jelas saya perlu pertanyakan makna keterwakilan mereka, siapa mereka kok bisa punya hak eksklusif seperti itu? OK, aturannya dan pengalaman sebelumnya sudah seperti itu, tetapi jangan batasi hak untuk mengritik aturan ini supaya, pemilihan rector berikutnya tidak lagi menggunakan aturan yang kontradiktif dan boleh dikata cukup ngawur memberi hak eksklusif pada segelintir orang, tanpa dasar yang kuat mereka bisa disebut mewakili warga kampus. Kalau mau, ya sekalian seperti dulu saja, ada pemilihan bertingkat, atau paling tidak bawalah itu ke Senat, sebagai wadah perwakilan unit-unit dan wakil dosen, mahasiswa, dan pegawai serta wadah pemegang otoritas intelektual (para professors), daripada membonsai lagi lembaga perwakilan seperti itu ke Pansus yang sama sekali tidak bisa mewakili warga kampus secara memadai. Sekali lagi, kalau Cuma menjalankan tugas administrasi proses pemilihan, sebagaimana definisi di pasal 1, itu dapat dimengerti.

    Soal pemilihan Rektor 2001, rupanya mata dan pikiran Anda tidak cukup terbuka untuk memahami apa yang saya katakan? Saya katakan, saya tidak melibatkan diri, saya tidak punya informasi, lalu mengapa saya harus komentari atau ributkan? Logikanya kan harusnya sama, karena dulu Titaley maju, maka saya harusnya sudah sejak awal mendukung Titaley (karena alasan keberpihakan ketokohan yang Anda pakai itu). Namun, apakah saya lakukan itu? Tidak kan… Saya sama sekali saya tidak bunyi ba, bi, bu, tidak bertindak apa-apa, dari awal. Bandingkan, bahwa sebelum proses 2009 ini bergulir pun saya sudah berbunyi, sekalipun belum ada nama bakal calon rektor satu pun yang keluar. Melihat perbandingan yang seperti itu saja, sudah sulit ambil kesimpulan seperti yang Anda lakukan, bahwa hanya karena Titaley tidak terpilih (oleh Pansus) baru saya ribut. Jauh kan kesimpulan dengan fakta-fakta.

    Karena itu, well, Anda cuma, sekali lagi, menunjukkan sikap memaksa diri dengan kesimpulan-kesimpulan Anda. Fakta bahwa saya tidak terlibat atau melibatkan diri pada pemilihan 2001 ya sebuah fakta sejarah, saya tidak tolak. Semua hal kita tidak boleh dipaksakan harus terjadi. Kalau memang tidak terlibat/mau melibatkan diri, ya ngapain harus diributkan (terlepas dari apapun hasilnya). Di 2005 pun saya tidak terlibat, sekalipun saya ada di Salatiga pada saat pemilihan? Ya karena tidak ingin terlibat. Saya cuma mendengar kisah-kisah tentang tingkah-tingkah pihak-pihak dalam proses pemilihan itu, diceritakan oleh sejumlah teman. Saya tidak melibatkan diri, tetapi belajar atau menilai, bahwa ada yang tidak beres dengan sebagian tingkah-tingkah itu. Jika dari proses belajar itu kini, empat tahun kemudian, saya memutuskan melibatkan diri, salahkah itu? Apakah karena Titaley? Silahkan saja menuding, tetapi kasihan, terlalu sederhana/sempit logika dan argumentasi untuk menilai demikian. Namun, Anda toh berhak memaikan logika sempit itu, itu hak Anda.

    Pertanyaan saya, mengapa Anda sendiri tidak persoalkan, kalau ada yang salah (dulu)? Mengapa Anda harus banding-banding sikap saya dulu dan kini? Kalau Anda mau berbeda pendapat dengan saya tentang proses dan hasil pemilihan sekarang, itu sah dan cukup di situ, tidak perlu bertanya mengapa saya dulu begitu, sekarang begini. He he he… sorry, saya merasa harus lakukan apa yang saya rasa harus saya lakukan, pada waktunya. Kalau mau disoal-jawab tentang sikap saya menyoal hasil Pemilihan tahap Pansus, ya mari masuk pada hal-hal substansial, dan usul saya bawalah itu ke forum yang terbuka untuk menyoal-jawab kerja Pansus. Di atas sudah saya katakan, saya tidak segan/malu untuk mengatakan Pansus benar, hebat kalau benar terbukti mereka telah melakukan semua dengan sebaik-baiknya. Tapi, maaf, kini saya masih meragukannya dan jika nanti terbukti ada yang salah atau tidak tepat, ya keterbukaan yang sama juga harus ada pada mereka, berani mengaku. Mengapa kok justru Anda yang takut atau tidak mau?

    O ya, apakah seratusan pegawai bukan dosen dan dosen yang protes itu Anda anggap bukan warga kampus, civitas akademika? Coba Anda cek juga dengan baik di Scientiarum ini, gugatan terhadap TPPR dan LK pun sejak awal sudah dilayangkan para mahasiswa, tentu ada pihak yang setuju-setuju saja atau barangkali fenomena Orde Baru lah yang lebih nyata, silent majority, atau besarnya kelompok tidak-peduli. Namun, mengapa mereka yang protes Anda sebut bukan civitas akademika? Kasihan benar mereka di-exclude dari status kewargaan mereka di kampus UKSW tempat mereka berstudi dan bekerja. Lagi-lagi, Anda menunjukkan kelaliman Anda, membenarkan diri sendiri dan menganggap yang lain salah, menglaim ini warga kampus, itu bukan warga kampus. Sayang sekali, bung, dunia bukan Cuma Anda, kebenaran pun bukan Cuma versi Anda. Karena itu, sikap seorang intelektual adalah terbuka untuk menguji kebenaran. Sebelum terjadi pengujian, katanya, memertanyakan atau menggugat sesuatu yang dipandang sebagai sebuah kebenaran, adalah pintu kemajuan, inovasi. Sayang sekali, Anda justru menjadi penjegal sikap-sikap kritis itu.

  4. Teddy "Black Cat" Miauw

    Pemilihan rektor UKSW sudah dekat. Balon (Bakal Calon) rektor sudah ditetapkan. Hal yang perlu kita sadari bahwa rektor bukan hanya soal jabatan, prestise, melainkan lebih kepada fungsi. Seorang rektor adalah seorang yang nantinya akan mengarsiteki UKSW untuk lebih baik lagi ke depan—atau mungkin bahkan hancur ke depan. Semoga pihak yayasan nantinya memilih rektor bukan karena demi pengerukan uang mahasiswa semata, bukan berdasarkan pertimbangan: ”apa yang akan yayasan peroleh kalau kamu menjadi rektor?”, bukan berdasarkan pertimbangan rektor yang mampu how to do things right, tapi rektor yang mampu dalam how to do the rights things.

    Miauuww…

  5. Pencinta UKSW Sejati

    Lucunya, sang Pencinta UKSW nggak berani berkata bahwa dia adalah pendukung KHT sejati. Nggak kebayang deeee…. Nggak berani dia bilang pendukung DK sejati. Nggak kebayang deeee….

    Karena?

    Dia bingung.. mundur kena maju kena…. Cuma bisanya ributin masalah Pansus… Mas Neil, nggak usah dilayani deh orang yang kayak begitu, buang-buang energi ajee…

    @Pencinta UKSW: Jujurlah pada diri sendiri, hadapi kenyataan, jangan menyangkali kenyataan, nanti menipu diri…..

  6. lius

    @Pencinta UKSW Sejati
    Disini adalah tempat bertukar pikiran untuk saling memeperkaya…jd klo menurutKu ga ad yang buang2 energi….Paling juga berubah wujud saja hehe…

    Saya banyak dapat informasi disini…jd menurutKu yang mau mengeluarKan Idenya, argumennya ya disini temptnya….mungkin ada org yg tidak bermanfaat tapi bagi orang lain justru bermanfaat..

    Kita boleh punya pilihan,orang lain jg punya pilihan…..Proses PILREK harus tetap jalan tapi harus sesuai deng aturan yang berlaku….klo ga, gmn ya???..Aku juga msh terus bljr dan belajr…

  7. Lius Muda

    @ Lius: Masih terus belajar? selamat belajar.

Kami Menerima Pandangan Anda

© 2009 Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW