Peringatan Reformasi

Browse By

Kemarin 5 Mei 2009, delapan mahasiswa yang tergabung dalam organ ekstra Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), melakukan orasi mimbar bebas di depan kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Aksi kali ini untuk memperingati momentum reformasi 5 Mei 1998. “Tujuan orasi mimbar bebas ini adalah membentuk front multi sektoral di kampus untuk pergerakan mahasiswa UKSW”, kata Syalom Pasau.

Syalom Pasau adalah koordinator aksi dan sekaligus ketua komisariat LMND kota Salatiga.

Ketika ditanya apa harapan dari aksi kali ini dia mengatakan, “harapan kami di sini juga dengan adanya aksi-aksi yang rencananya akan kami lakukan setiap dua minggu sekali ini agar para senat dan civitas UKSW dapat bersatu untuk dapat menyuarakan kesejahteraan bersama untuk masyarakat indonesia. Selain itu juga untuk mendukung pemimpin yang anti neoliberalis dan mendukung pemimpin yang sepakat dengan program ekonomi kemandirian bangsa,” terangnya.

“Selain itu agar mahasiswa UKSW bisa sadar bahwa pergerakan politik mahasiswa harus dimulai dari kampus agar masyarakat dapat percaya kepada mahasiswa dan menjadi vanguarde untuk menginterfensi kebijakan pemerintah yang tidak pro dengan rakyat miskin. Permasalahannya, di UKSW ini berbicara moral saja  kurang mendapat respon dari civitas apalagi berbicara politik. Semua itu disebabkan oleh kurangnya forum-forum diskusi atau seminar-seminar politik yang mengarahkan mahasiswa untuk bersikap kritis dalam menanggapi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah” jelasnya.

Aksi ini dimulai pukul 10.00 Wib. Dan berjalan dengan tertib. Selain melakukan orasi mereka juga membagikan selebaran kepada mahasiswa dan masyarakat luar kampus yang saat itu sedang melintas.

Dalam pers realis dituliskan, kampus sangat penting untuk dijadikan panggung propaganda yang mampu meluaskan penyampaian tuntutan dan kebutuhan mencari jalan keluar problem kesejahteraan (mahasiswa dan rakyat).

9 thoughts on “Peringatan Reformasi”

  1. Markus AR says:

    Mahasiswa ya sebaiknya belajar lebih semangat. Hal ini sudah cukup untuk mewujudkan reformasi secara nyata. Jangan asal orasi, tapi prestasi nol besar. Emang kalian dikuliahkan untuk jadi orang politik?? Mana tanggung jawab sebagai mahasiswa??? Dahulukan kepentingan utama.

    “Organisasi sih boleh saja, tetapi tugas utama harus dilaksanakan terlebih dahulu”
    “Semua orang bahkan mahasiswa bisa berorasi, tetapi belum tentu semua orang pernah menjadi mahasiswa yang benar – benar mahasiswa”

  2. jijay says:

    sebenarnya tindakan mereka cukup bagus ketika masih peduli terhadap lingkungan sosial politik. dan justru kampus akan terlihat hidup jika mahasiswanya kritis dan peduli. namun meskipu demikian benar juga apa yang dikatakan sodara Markus bahwa tugas utama seorang mahasiswa adalah kuliah dan belajar. karena orang tua mahasiswa itu membiayai kuliah mahal itu untuk mendapatkan ilmu selain mendapatkan ijasah dengan gelar S1 ataupun sebagainya. akan tetapi jika kegiatan organisasi dan kuliah bisa berjalan bersamaan dan menghasilkan sesuatu yang bagus semua itu justru lebih bagus. pada intinya jika bisa kegiatan organisasi harus berjalan seimbang dengan kuliah.

    salam.

  3. andi-dobleh says:

    @MArkus: Wow. wow.. apa kalo udah demo artinya jadi orang politik??
    Lagipula kalo emang itu pengennya mahasiswa masuk ke politik ya gp lah..
    Emang bener kalo masuk kuliah untuk belajar. cuma belajar kan ga harus selalu di ruang kuliah kan??
    Apaan sih kriteria “mahasiswa yang benar-benar mahasiswa”…???

  4. Rey says:

    salam …………..

    markus@: percuma kalau kita sebagai kaum2 intelektual tidak tau apa2 tentang situasi dan kondisi di luar kampus ataupun didalam kampus dan sangat2 kasian orang tuamu yang selama ini membiayai kamu kuliah tapi ijasahmu hanya untuk kebutuhan2 paasar. duit2 orang tuamu hanya untuk membeli ijasah S1 tanpa kamu tau apa2 kebutuhanmu, kebutuhan masyaraakat di luar sana. mahasiswa harus mempunyai jiwa patriotisme dan nasionalisme yang tinggi tidak seperti kamu sebagai seorang pengecut dan mahasiswa pecundang yang tak tau apa2. kau hanya pintar di bindangmu saja, dan sesuatu saat kamu akan tertipu oleh bidang2 lain. percuma kalau kepintaranmu hanya untuk diri sendiri bukan untuk masyarakat bangsa dan negara. mahasiswa sepertimu yang mempunyai pola pikir seperti itu tidak layak di sebut mahasiswa. aku lebih menghargai seorang pengamen dan seorang penjual bakso yang tidak mau di injak2 haknya dari pada kamu seorang pecundang yang mau saja dibodoh2in oleh birokrasi2 yang tidak pro ke kepentinganmu.

  5. andi-dobleh says:

    @Rey..AzzZZzz.. reaktif tenan bocahe.. mbok ya ga usah pake emosi tho komenar’e… setiap orang boleh punya argumen kan?? mempertanyakan si sah2 aja. cuma jangan sampe menghina2 lah…

  6. jay says:

    @all
    Hargailah pilihan orang karena tidak semua orang sama dalam memandang sebuah persoalan.
    Satu hal yang penting adalah kita mau bertanggungjawab dengan pilihan yang kita ambil, dan jangan sekali-kali merasa pilihan yang kita ambil yang paling benar.

    Secara pribadi saya sih sangat yakin bahwa berorganisasi itu akan sangat membantu pengembangan diri mahasiswa, yang penting itu tadi kita bertanggungjawab dengan pilihan yang kita ambil.
    Konkritnya, ya misalnya jangan jadikan organisasi kambing hitam atau pelarian dari kewajiban kuliah or kalo mau demo ya demolah secara arif dan sebaiknya kajilah suatu masalah dengan komprehensif kalau perlu melibatkan pakar sehingga yang kita suarakan bener-bener berasal dari suatu perenungan tidak sekedar berkoar-koar melepaskan kegeraman….

  7. Yoga Prasetya says:

    Setiap manusia itu memang mempunyai perspektif yang berbeda2 tapi apakah dengan seperti itu seorang yang katanya “kaum intelektual” melontarkan sebuah statmen ? dan bener kata om Andi (Dobleh) gak perlu dengan emosi ataupun otot… gunakanlah OTAK katanya “kaum intelektual” so…. gunakanlah pikiranmu…
    hahhahahhahaha……

  8. lius SMU says:

    @ all
    Idealnya mahasiswa harusnya intelek..bukan berarti klo mahasiswa sudah pasti intelektual,

    Mahasiswa yang intelek adalah mahasiswa yang tahu masalah2 dan tahu dimana harus mencarikan solusinya…
    Artinya Krtik dan teriak2 saja tidak cukup apalagi hanya di kelas baca buku tahun 60an, buat PR dari buku, makan dan tidur…

    Perlu ada pendidikan yang menyeluruh (holistik) spritual, emosional yang terutama sehingga terbentuklah kita menjdi mahasiswa yang sesunggutuhnya( intelek)

    Kalau melihat itu kita masih sangat jauh untuk bisa disebut mahasiswa intelektual..”Tantangan buat kita”

    Salam

  9. Yoga Prasetya says:

    lius@: berarti mahasiswa UKSW gak ada yang intelek ?? tuh buktinya banyak masalah yang ada di UKSW mereka pada gak tau dan gak ada yang bisa mencari solusi alias jalan keluarnya. Jangankan mencari solusi/menyelesaikan masalah teriak aja tidak. hihihihii.. kalau kamu mau menjadikan pendidikan yang ada di UKSW menjadi pendidikan yang HOLISTIK pertanyaannya apakah UKSW mampu?? buktinya sistem yang ada masih amburadul (antara dwi semester dan trimester) selain itu juga sepertinya mahasiswa UKSW susah diajak untuk berubah menjadi mahasiswa yang HOLISTIK. hehehehe…. seperti yang dikatakan oleh bapak Parapak hendakya universitas itu mengoreksi kurikulumnya agar bisa menjadi pendidikan yang holistik yang mampu bersaing di dunia apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *