Biocare, Paskah Peduli Lingkungan

Browse By

Sekitar seratus limapuluh peserta yang tergabung dalam acara Biocare paskah fakultas biologi Universitas Kristen Satya Wacana yang berasal dari berbagai fakultas, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi AMA, Sekolah Tinggi Agama Islam Negri Salatiga (STAIN), anggota pangkostrad yonif 411 Pandawa, serta kelompok Tanam Untuk Kehidupan (TUK) melakukan kerjabakti membersihkan sampah di sumber mata air Senjaya, Sabtu (16/5).

Acara yang dimulai pada pukul 09.10 WIB yang juga dihadiri oleh Mulyadi pegawai tatakota Salatiga tersebut dimulai dengan sambutan-sambutan. dalam sambutan dekan fakultas biologi  Ferry F. Karwur mengatakan, “Kegiatan bersih-bersih ini bukan kerja bakti akan tetapi merupakan bentuk penyadaran terhadap masyarakat khususnya salatiga dalam memelihara lingkungan karena musuh kita adalah kerusakan lingkungan dan itu musuh yang harus kita hadapi karena kerusakan lingkungan akan berdampak pada kehidupan masyarakat”.

Mulyadi pegawai tata kota Salatiga menuturkan, “Saya sangat menghargai kegiatan biocare ini, karena kegiatan seperti ini merupakan suatu bentuk menghargai lingkungan. Belakangan ini, masyarakat yang peduli terhadap lingkungan sangat kurang, dan salah satu contohnya di Senjaya banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai, semoga saja dengan adanya kegiatan ini bisa menjadikan penyadaran masyarakat terhadap lingkungan”.

“Untuk Salatiga, masyarakat banyak yang tidak perduli terhadap lingkungannya, dan hal itu bisa dilihat dengan banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan selain itu juga masyarakat tidak melakukan pemeliharaan tanaman dengan bagus, karena banyak tanaman yang ditanan oleh pemerintah kota Salatiga  yang tidak dirawat oleh masyarakat, sebenarnya untuk masalah lingkungan itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kota Salatiga, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat Salatiga” tambahnya.

Munjianah (37), warga yang tinggal di dekat sumber mata air Senjaya tersebut menuturkan ” Saya selalu ikut memelihara kebersihan sumber mata air Senjaya ini.. ya karena saya menggunakan sumber air ini untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, masak, dan minum. Karena saya dan keluarga menggunakan sumber mata air ini maka mau tidak mau harus ikut menjaga kebersihan supaya tetap bisa menggunakan sumber air Senjaya untuk kebutuhan saya”.

“Saya juga sangat senang sekali tentunya dengan adanya kegiatan bersih-bersih ini, karena dengan kegiatan ini dapat menolong masyarakat setempat untuk membersihkan sumber air dan juga mungkin bisa menyadarkan warga yang menggunakan sumber air agar tidak membuang sampah dengan sembarang” tambahnya.

Sedangkan ketua panitia Neni Rambu Moha mahasiswa fakultas biologi menuturkan “Kami memilih Senjaya sebagai tempat untuk biocare karena Senjaya merupakan salah satu pusat sumber mata air yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat Salatiga. Dan saya sangat senang dengan berlangsungnya kegiatan ini karena masih banyak yang peduli terhadap lingkungan”.

Semua peserta biocare memang terlihat sangat antusias, dan peduli terhadap lingkungan, hal tersebut terlihat dari semangat mereka yang rela berjam-jam berada di air untuk memungut sampah-sampah meskipun disinari terik matahari. Seperti salah satu peserta Apriani Ana Mila mahasiswi fakultas ekonomi UKSW menuturkan, “Saya merasa senang dengan kegiatan biocare ini karena masih ada yang peduli terhadap lingkungan dan lingkungan sangat penting buat kita oleh karena itu kita harus menjaganya. Harapan saya, kegiatan seperti ini diadakan setiap tahun, dan bukan hanya bersih-bersih mata air tapi penghijauan lingkungan juga”.

Setelah berjam-jam peserta biocare mengumpulkan sampah-sampah, akhirnya puluhan sak kotoran sampah yang berasal dari sungai Senjaya dapat dibersihkan, dan diangkut oleh dinas kebersihan kota Salatiga untuk didaur ulang.

Sejarah Senjaya

Harjono Jasmin kepala dusun kampung Jubug, desa Tegal Waton, kecamatan Tengaran yang ikut hadir dalam acara bersih-bersih tersebut ketika ditanya sejarah sumber mata air Senjaya mencoba menjelaskan sejarah terjadinya sumber mata tersebut.

Nama Senjaya itu diambil dari nama Raden Sanjaya putra raja Kediri kerajaan Medang Kamolan. Waktu itu, Raden Sanjaya perang dan lari sampai daerah sini, setelah sampai daerah sini Raden Sanjaya kemudian bertapa sampai lama sekali karena tidak ada yang mengurusi maka akhirnya dalam pertapaannya Raden Sanjaya mengalami “mukso” (menghilang) dan setelah menghilang kemudian menjadi sumber mata air.

Sebelum ada mata air Senjaya, memang dulunya sudah ada sungai tapi belum besar seperti ini. baru setelah menghilangnya Raden Sanjaya, sungainya menjadi besar karena ada tujuh sumber air yang keluar, kemudian diberi nama, Umbul Sanjaya, Umbul Bandung, Umbul Gojek, Umbul Teguh, Sendang Putri, Tuk Lanang dan Tuk Sewu. Setelah itu, baru daerah ini kedatangan para wali, dan akhirnya sungai ini dirawat para wali.

Setelah para wali pergi, datanglah Joko Tingkir, putra Kebo Kenongo yang berada disini bersama Kebo Kanigoro, dan membuat padepokan-padepokan seperti salah satunya padepokan Karebet. Lalu Joko Tingkir mengembara naik getek (perahu bambu) dari sungai Senjaya, sampai Demak, dan kembali lagi kesini kemudian diangkat menjadi Sultan Pajang atau Sultan Hadi Wijaya.

Untuk peringatan adat, biasanya dilakukan pada bulan Agustus Jumat Legi kegiatan bersih sumber sambil membakar ayam. Selain itu juga, pada peringatan 1 suro, warga disini juga melakukan upacara selametan supaya diberikan keamanan, keselamatan, dan sumber airnya tetap lancar.

10 thoughts on “Biocare, Paskah Peduli Lingkungan”

  1. yoga says:

    saya salut dengan sikap mahasiswa fakultas biologi yang mau mengajak teman- dari universitas lain yang ada di Salatiga untuk peduli terhadap lingkungan. semoga saja tindakan yang dilakukan yang merupakan tindakan penyadaran masyarakat terhadap lingkungan akan berhasil, dan masyarakat benar-benar akan menjaga kebersihan lingkungan kota salatiga sehingga kota salatiga menjadi kota yang bersih dan aman.

    salam,

  2. lius SMU says:

    Bagus2..

    Ketika orang masih ngomomg sana-sini tentang pemanasan global dan kerusakan lingkungn… Mahasiswa Fak. biologi sudah melakukan yang konkrit..

    Tahun 2050, diperkirakan puluhan pulau2 di indonesia akan tenggelam karena air laut akan naik..

    Sayang sekali partai politik sekarang tidak ada bicara soal itu…

  3. lius smu says:

    Pasti kita bisa
    @ Mencegah lebih baik dari pada mengobati..

    Dari pada pergii membersihkan lebih baik.
    1. Ayo mulai hari ini kita buang sampah pada tempatnya.
    2. Minimalisasi penggunaan barang yang tidak bisa di daur ulang.

    Contoh:
    Plastik… Kalau pergi Belanja; barang belanja yg bisa muat 1 kantong plastik, kenapa harus gunakan 2,3,4..kantong plastik..

    Selamt mencoba! pasti kita bisa

  4. Desy says:

    Saya merupakan salah satu peserta Biocare yang di di adakan fakultas Biologi UKSW. Saya sendiri dari Fakultas Kesehatan UKSW. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman dari fak. Biologi yang sudah menagdakan kegiatan ini. Awalnya saya sedikit “ogah” untuk mengikuti kegiatan ini. tapi setelah saya mengikutinya, saya merasa senang karena saya baru saja menemukan sesuatu dalam diri saya, yaitu ketertarikan akan alam khususnya dalam melestarikan keindahan alam. So,, saya sangat berharap sekali bisa bergabung lagi dengan fak. Biologi di lain waktu dengan kegiatan yang serupa.

    TUHAN MEMBERKATI PELAYANAN KITA

  5. FITRI says:

    yop…. semoga taon depan acaranya lebih baik lagi… Kami atas nama panitia BioCare mengucapkan trima kasih atas partisipasi temen2 smua….

  6. seehngojennaca! says:

    dari dulu F.BIO ngajakin kita terus buat bersih senjoyo
    udah tradisi ……………..
    dulu temen2 balanophora …

    lebih bagus lagi kalo kita bisa saling mengajak …..
    yuuuuuk …

    kapan yang lain ……?

  7. Neni Rambu Moha says:

    “Peduli Lingkungan”….
    cukup dengan 2 kata ini, mari kta menjaga alam tempat kt bernaung, tempat kt bercengkrama dg banyak orang, tempat kt belajar…supaya alam kt tdk punah n masih di dpat dinikmati keindahannya oleh anak cucu kt nnti…
    dengan cara yang sangat sederhana, mulailah dari diri kita sendiri….untuk belajar “membuang sampah pada tempatnya”…patrikan kalimat itu dalam hati kita dan lakukan……setelah itu tularkan kepada teman kos, kepada keluarga, pacar, dosen, dan semua org yg anda kenal…toh hal ini sangat mudah dan simple untuk dilakukan…setelah ini bisa, kita lanjutkan dengan cara menegur orang yg membuang sampah sembarangan,,atau tidak bila anda menemukan sampah berserakan, ambil sampah itu dan buanglah pada tempatnya…
    cintai dan rawatlah bumi ini…sama dengan kita merawat diri kita..karena bumi merupakan titipan dr Tuhan yg paling berharga…
    SALUT buat panitia BIOCARE>>>>L..A.N.J.U.T.K.A.N !!!

  8. XtiaN says:

    Good job!!!
    Ni program dicanangin n diadain untuk pertama kalinya pas q jabat SEMA periode 2005 lalu. Bersyukur kegiatan ini terus ada ampe sekarang!
    Setidaknya sudah 3 / 4 generasi dah berjalan dengan baik…
    Mulai dari ane, Umbu, Jenk Kelin ampe Fitri Tropika masih jalan… ^^

  9. santi says:

    nice post

  10. eko wijiyanto says:

    Di pinggir sendang sebelah selatan ada batu-batu reruntuhan sebuah candi yang tak terurus. Konon di sini pernah ditemukan arca ganesha (candi hindu) yang kabarnya dibawa ke kraton Solo. Ada ketidaksinkronan antara bukti sejarah dengan penuturan Harjono Jasmin: sisa-sisa candi di Senjaya adalah candi hindu, sedangkan Kediri (asal Raden Sanjaya) adalah kerajaan budha. Ini perlu penelitian sejarah lebih lanjut. Dalam hal ini ada baiknya kita mulai dari membaca Serat Witaradya atau Babad Pengging. Kediri hancur, rajanya yang terakhir memindahkan kratonnya ke Pengging Boyolali, namun ia juga besanan dengan Resi Sidiwacana dari Padepokan Indrakila di lereng Gunung Ungaran (Kecamatan Ungaran Barat). Secara geografis, Sendang Senjaya Tingkir Salatiga terletak di antara Pengging dan Ungaran. Selanjutnya, ………silakan diteliti lebih lanjut!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *