Festival Budaya 2009: Belajar dari Keragaman

Browse By

Senat Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, kembali menghelat Festival Budaya 2009, dengan tema “Jangan Biarkan Budaya Kita Pudar Oleh Waktu”. Acara berlangsung 17 hingga 19 Juni 2009, di Balairung Universitas.

Rektor UKSW, Kris Herawan Timotius, dalam sambutannya mengatakan pentingnya mengenal jati diri melalui media budaya dan belajar dari keberagaman yang ada. “Saya berharap UKSW dapat menjadi pelopor dalam menjaga persatuan.”

Arak-arakan peserta festival budaya 2009 dari beragam etnis. {Foto olej James A. L. Filemon}

Arak-arakan peserta festival budaya 2009 dari beragam etnis. {Foto olej James A. L. Filemon}

Pada hari pertama festival budaya resmi dibuka dengan ditandai pemukulan gong sebanyak lima kali oleh rektor, yang saat itu didampingi Kornelius Upa’ Rodo, Ketua Senat Mahasiswa Universitas.

Usai acara pembukaan, kemudian dilanjutkan potong pita oleh Kris Herawan Timotius, tanda pelepasan peserta arak-arakan dimulai. Lalu perwakilan etnis peserta festival budaya yang mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing berjalan mengelilingi kampus.

Festival budaya tahun 2009 ini diikuti oleh 20 kelompok etnis yang ada di UKSW. Antara lain etnis; Jawa, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Toba, Ambon, Toraja, Bali, Maluku, Lampung, Kalimantan, Papua, Melayu, Halmahera, Poso, Sanger, Ikmasti, Sumba, Minahasa, Nias dan Republik Demokrat Timor Leste.

Dalam acara arak-arakan turut pula dimeriahkan, marching band Sekolah Menengah Pertama Stella Matutina, keranda Toraja, dan ogoh-ogoh Bali berukuran raksasa.

Ogoh-ogoh bali berukuran raksasa yang ikut memeriahkan arak-arakan. {Foto oleh James A. L. Filemon}

Ogoh-ogoh bali berukuran raksasa yang ikut memeriahkan arak-arakan. {Foto oleh James A. L. Filemon}

I Wayan Damayana, mahasiswa pasca sarjana asal Bali, menerangkan ogoh-ogoh merupakan personifikasi kejahatan. Biasanya ogoh-ogoh ini dibakar saat hari raya nyepi, sebagai simbol penyucian dan pelepasan diri dari yang jahat.

Usai melakukan arak-arakan, setiap perwakilan etnis yang mengenakan pakaian adat masing-masing mementaskan tarian asal daerahnya secara bersama (Tarian Nusantara, Red). Yang saat itu disaksikan pula oleh Wakil Walikota Salatiga, Diah Sunarsasi.

Di tempat terpisah, menurut ketua pelaksana festival budaya 2009, Valentino Putra Parlan, Tujuan dari kegiatan festival budaya ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan antar etnis.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara arak-arakan kali ini tidak mengelilingi pusat kota Salatiga. Dari keterangan Wakil Rektor III, bidang kemahasiswaan, Umbu Rauta, itu dikarenakan panitia tidak mendapatkan ijin dari Polisi Resort Salatiga. Dengan alasan mendekati masa-masa kampanye pemilihan presiden. Menurut pengakuannya, sebenarnya pihaknya telah melakukan negoisasi dengan pihak Polres, tapi tetap saja tidak mendapatkan ijin.

Yulius Tanggulungan, salah satu peserta yang membawa miniatur keranda khas Toraja, merasa kecewa sekali karena tidak dapat melakukan arak-arakan mengelilingi pusat kota Salatiga. “Saya sudah merencanakan banyak variasi gaya, namun tidak bisa arak-arakan keluar,” ujarnya,  sedikit kecewa.

4 thoughts on “Festival Budaya 2009: Belajar dari Keragaman”

  1. Eunike says:

    Sebelum menjadi mahasiswa UKSW saya cuek bebek dengan kekayaan budaya Indonesia, dan melalui event ini saya menyadari kekayaan budaya Indonesia malah terkagum – kagum dan bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Itu lah mengapa saya selalu merindukan event ini.

  2. anak indonesia says:

    Salut untuk Festival Budaya UKSW 2009, jgn biarkan budaya kita memudar seiring berjalannya waktu,
    krn modernisasi, dll. salut banged untuk tmn2 mhsw yg dgn bangganya menari dan menyanyi,
    mungkin tdk byk anak muda sprti kalian di luar sana yg msh peduli dan ga gengsi untuk hal2 spt itu.
    semoga keg ini dpt menjadi pioneer ut daerah/kampus/sekolah2 lainnya untuk menggelar keg sprti ini.
    bnyk makna yg dpt diambil dan ternyata tarian/lagu daerah juga ga kalah keren kok…

    sy pribadi jd byk mengenal daerah lain di indonesia lwt budaya dan bergaul dgn tmn2 yg b’beda suku tnp
    hrs pergi ke daerah tersebut. tp harus ingat, jgn jd ekslusif dgn budaya daerah sndiri shg perbedaan dpt memicu konflik.

    UKSW harus tetap mempertahankan even ini…(trims dan Tuhan memberkati)

  3. bambang dwiatmoko says:

    kirab budaya, pawai budaya…atau tetek bengeknya…dari dulu sampai sekarang sama…hanya penonjolan..fisik, kuantitas….alegoris………coba yang lebih kualitatif , eksploratif, …salut untuk scintiarum

  4. Pingback: Catat Event Pariwisata Festival Budaya Indonesia 2017 Ini
  5. Trackback: Catat Event Pariwisata Festival Budaya Indonesia 2017 Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *