Subyektifitas dan Realita Kuliah

Browse By

Di perguruan tinggi, tentu ada dosen benar-benar profesional dalam membimbing mahasiswa dan ada yang kurang, bahkan tidak layak menjadi dosen. Keberadaan dosen profesional tentu tidak menjadi masalah bagi mahasiswanya. Namun, masalah mahasiswa ada ketika dibimbing oleh dosen kurang berkompeten atau yang sebenaranya tidak layak sebagai dosen.

Beberapa fenomena, dosen kurang atau tidak berkompeten itu, menutupi kelemahannya dengan memberikan tugas sebanyak-banyaknya pada mahasiswa. Ceramah menjadi senjata ampuh dalam menguasai kelas. Mengajukan pertanyaan di luar kemampuan mahasiswa dan seolah-olah mahasiswa nampak seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Sehingga nyaris tidak ada interaksi hidup antara mahasiswa dan dosen dalam kelas.

Mahasiswa belum mempunyai standar baku dalam menilai kinerja dosen professional atau tidak. Subjektifitas mahasiswa dalam menilai dosen, mungkin hanya mengacu pada pengalaman-pengalaman diajar sejak SD hingga bangku perkuliahan lalu ditambahai pemahaman-pemahaman dari belajar bersama orang tua dan pergaulan di masyarakat. Namun, hendaknya pengalaman selama 12 tahun di sekolah itu dapat dijadikan salah satu indikator menilai kinerja dosen.

Suatu fenomena nyata dalam perkuliahan adalah banyak mahasiswa tidak suka di ajar oleh dosen X, karena sistem mengajar dosen tidak dapat memunculkan antusiasme mahasiswa. Kongkretnya, dosen datang, bercerita masalah pribadinya, “Saya ini sibuk, saya ini sakit, saya sebenarnya harus pergi,” dan ujung-ujungnya adalah “saya datang ke sini demi kalian.” Selain itu, mengajar dengan mengatakan hal yang tidak pantas (misuh-misuh atau mengata-ngatai mahasiswa dengan kata-kata kotor), dikatakan pada mahasiswa karena mahasiswa tidak bisa langsung menjalankan seperti apa yang dosen minta dan sepertinya ini merupakan trik untuk mencari kesalahan mahasiswa sehingga dosen dapat mengalihkan pembicaraan di luar topik perkuliahan, dan mahasiswa nampak bodoh, bak botol kosong yang harus dituangi air hingga penuh.

Meskipun dengan perkuliahan semacam itu, bagi mahasiswa yang tidak membantah apapun perkataan atau penjelasan dosen X, dijamin nilainya B ke atas, dan bagi yang ngeyel atau menggugat meskipun itu benar, siap-siap mendapatkan nilai C ke bawah dan tak menutup kemungkinan mendapatkan E (tidak lulus).

Fenomena lain dalam sebuah opini di kolom Suara Warga (Suara Merdeka, 24/3/2009). Ada seorang dosen senior pernah protes karena mahasiswa di kelasnya tidak memperhatikan pelajaran, malah justru bercanda dan bergurau dengan teman-temannya. Ia merasa tersinggung, dan melaporkan kelakuan mahasiswa yang dianggapnya tidak sopan itu kepada dekan. Setelah diusut perkaranya, ternyata akar masalah ini bukan hanya berasal dari kesalahan mahasiswa, tetapi pada dirinya sendiri. Mahasiswa bergurau karena merasa bosan mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh sang dosen dari diktat 10 halaman miliknya.

Seperti inikah realita perguruan tinggi mencetak calon sarjana? Apakah nilai A sudah dapat menunjukkan bahwa mahasiswa itu bisa menguasai ilmu yang terkandung dalam mata kuliah dengan baik? Marah menjadi solusi instan sang dosen ketika mahasiswa ramai. Dosen tidak mencari tahu kenapa, apa sebabnya, dan bagaimana seharusnya cara menyelesaikannya. Tapi, ini adalah realita. Mencari, mengkritisi, sekaligus menindaklanjuti adalah tugas kita sebagai akademisi.

Pembelajaran dalam perkuliahan harus ada interaksi hidup antara dosen dengan mahasiswanya. Interaksi ini harus berdasarkan rasa senang dari mahasiswa terhadap mata kuliah, metode penyampaian materi dari dosen dan kesiapan dosen dalam melayani apa yang menjadi kebutuhan mahasiswa, tentunya hal-hal tersebut berhubungan dengan perkuliahan atau ilmu yang akan dipelajari serta pengembangan diri mahasiswa. Jika hal tersebut dapat terjalin baik, tentunya mahasiswa merasa senang dan akan berpartisipasi aktif tanpa dosen meminta kepada mahasiswanya.

Subiharto, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

11 thoughts on “Subyektifitas dan Realita Kuliah”

  1. Yoga Prasetya says:

    Itu memang realiita di universitas, tak menutup kemungkinan juga bahwa itu adalah gambaran di universitas kita, tapi bagaimana yah.. solusinya agar kondisi perkuliahan tidak terjadi seperti yang digambarkan diatas tapi justru ruang kuliah digemari oleh mahasiswa dan bisa memberikan inspirasi dan ilmu? mari kita bareng-bareng coba pikirkan apa solusinya agar mahasiswa tidak hanya sekedar bangga dengan status “mahasiswa” tapi benar-benar mengerti tentang apa yang harus mereka lakukan sebagaimana mestinya mahasiswa. trims

  2. Maya Stephani says:

    Saya juga merasa bahwa sistem mengajar yang dilakukan oleh para dosen sekarang ini hanyalah sebagai rutinitas saja…saya juga heram, mengapa masih banyak juga mahasiswa2 yang senang sekali apabila perkuliahan dikosongkan atau pulang lebih awal. apa mereka tidak sadar bahwa hal itu bisa menghambat kuliahnya sendiri? saya sering menjumpai ada beberapa dosen yang hanya mengajar 1 jam saja, padahal bobot mata kuliahnya 2 sks atau 3 sks. Saya ingin agar para dosen memiliki “kecintaan” terhadap ilmu yang mereka kuasai sehingga mereka dapat bersemangat, antusias, dan ikhlas dalam membagikan ilmunya kepada para mahasiswanya. Pendekatan diri antar dosen dengan mahasiswanya juga penting, karena hal itu dpt membentuk rapport / relasi yang baik. dengan cara itu mahasiswa akan merasa dihargai dan dikenal oleh dosennya. begitu juga dengan mahasiswanya, mereka juga akan menghormati dan tidak meremehkan dosennya. Tahukah kalian bahwa kita adalah warga UKSW, dimana UKSW itu adalah kapalnya dan kita sebagai mahasiswa adalah penumpangnya. apabila kapal itu bocor, kita semua pasti akan tenggelam. Jadi sebelum semuanya terlambat, mari bersama-sama kita perbaiki jati diri dan mutu UKSW! oke…SEMANGAT!

  3. Lastri says:

    Kita semua memang harus prihatin dengan fenomena yang berkembang saat ini di UKSW.

    Seandainya toh ada penilaian yang baku untuk seorang dosen, terus penilaian tersebut harus diserahkan ke siapa? Mungkin untuk penilaian yang berasal dari mahasiswa menjadi masukan bagi SEMA di Fakultasnya, kemudian menjadi masukan bagi Fakultas yang bersangkutan. Hanya…kemudian yang sering menjadi kendalanya, beranikah SEMA meneruskan ke para KorBid Mahasiswa yang “nyantholnya” kemudian ke pimpinan struktural fakultasnya? Mengapa keberanian perlu dipertanyakan? Ketakutan terhadap dampak nilai tidak hanya berasal dari dosen yang dievaluasi tapi juga dari para “kroni” dosen yang bersangkutan (tentu saja bila dalam fakultas tersebut berkembang sistem kroniisme).

    Fakultas yang “sehat” pasti akan menerima masukan yang bersifat konstruktif sehingga terjadi pembenahan dalam pelaksanaan pekuliahan apalagi dalam mewujudkan “management by quality” yang saat ini katanya sedang “digenjot” UKSW. Hanya patut disayangkan, management by quality dalam pelaksanaan di lapangan sering diselewengkan dengan “management by pasutri”. Tolong dicermati kembali jumlah dosen pasutri dalam fakultas dan ataupun progdi dalam UKSW saat ini. Lebih fatalnya lagi bila management by pasutri (yang dihindari dalam sistem perusahaan maupun perbankan) dilengkapi dengan sistem kroniisme. Akibatnya, masukan dari mahasiswa yang dimaksudkan sebaga input konstruktif dapat menjadi bumerang bagi si mahasiswa..dalam kondisi di luar sistem pasutri…kejengkelan bagi orang yang dikritik hanya mengena satu orang, tapi begitu dalam kancah pasutri yang terkena menjadi 2 orang, lebih parah lagi “pasutri + kroniisme….satu kroni menjadi terluka karena rasa solidaritas. Yang menjadi pertanyaan kemudian, kapan UKSW bisa melepaskan diri dari keterikatan model kerja yang dibumbui ikatan pasutri, mungkin penting untuk menengok kembali sistem peraturan kepegawaian yang begitu melekat untuk pegawai non edukatif tapi justru diabaikan penerapannya untuk pegawai edukatif.

    Mahasiswa wajib bersyukur bila dalam fakultasnya terbebas dari “aroma pasutri”. Mengapa? Mahasiswa dengan SEMAnya bisa langsung ikut andil dalam MoNev (Mopnitoring & Evaluasi) sistem perkuliahan dan dinamika fakultasnya. Hanya, sangat penting untuk dipahami bahwa seorang dosen juga manusia. Dus, seorang manusia yang profesinya dosen juga bisa bahkan sering melakukan kesalahan. Sehingga diskusi dan musyawarah untuk sepakat perlu dihidupkan kembali. Tentu saja diharapkan hasil musyawarah memunculkan perbaikan bukan bentuk “punishment” atau penghukuman baik bagi mahasiswa pengusul maupun dosen yang mengajar.

    Kalau ditelaah lebih dalam lagi, esensi dari “management by quality” adalah suatu harapan yang mulia. Itulah mungkin yang menyebabkan seorang dosen perlu ‘dipandaikan lagi” melalui studi lanjut yang sesuai telaah baik Mata Kuliah dalam progdi maupun sasaran dari progdi sendiri. Kemudian, bila kita mau mencermati lebih detil lagi, apakah sasaran tersebut dapat dicapai ataukah sebagaian meleset atau bahkan meleset semuanya karena sistem di dalamnya terlalu posesif…atau kepemilikan-nya begitu kuat. Seringkali, bahkan setiap kali kita lihat bagaimana seorang dosen begitu teguhnya memegang erat Mata Kuliah tertentu, meskipun background studinya “nol pothol” dan hanya dengan modal buku yang bisa dibeli di toko buku. Bila memang yang menjadi acuan kompetensi dosen untuk mengajar itu hanya buku-buku yang dapat dibaca (pasti semua dosen melek huruf & keaksaraan fungsional), berarti makna studi lanjut hanya sekedar memperoleh gelar untuk tujuan final…menjadi seorang profesor dengan tunjangan yang besar. Berarti pula, seharusnya berlaku..bahwa dengan modal buku, setiap dosen bisa mengajar apa saja dus di fakultas apa saja :(( Sangat menyedihkan bila ini berkesinambungan di universitas tercinta kita yang Kristiani dengan pedoman “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat….”

    Dan yang lebih memprihatinkan lagi bila keteguhan memegang Mata Kuliah karena uud…ujung-ujungnya duit…..jumlah SKS, semakin besar kuantitasnya, semakin erat memegangnya….dipertahankan sampai nyawa terpisah dari raga…artinya sampai pensiun di depan mata. Bahkan karena keangkara murka-an, mencari dukungan di level atas (rektorat bahkan mungkin yayasan) untuk memperpanjang masa kerja. Kembali lagi patut disayangkan di UKSW tercinta sepert menganut sistem kasta…sepertinya hanya mimpi memperoleh perlindungan dari kasta yang lebih tinggi bila kesengsaraan menimpa kasta sudra. Sedangkan untuk kasta yang tinggi (karena jabatannya) meskipun serakah dan seperti orang kelaparan terhadap SKS dan jabatan tetap memperoleh akses dan fasilitas..tanpa me-recek kondisi lapangan, bagaimana manusia lainnya tidak suka akan keberadaannya.

    Jadiii kembali ke inti diskusi (saya minta maaf terlalu panjang lebar menguraikannya), di UKSW ini perlu dihidupkan kembali sebuah organisasi independen yang mewadahi suara arus bawah baik mahasiswa maupun dosen. Seandainya toh saat ini dianggap sudah ada dalam bentuk SEMA ataupun Senator, maka perlu ditelaah lagi kinerjanya yang indipenden bukannya SEMA dan Senator yang takut akan pejabat struktural sehingga UKSW perlu meralat tafsiran dari Imamat yang menjadi pedoman UKSW….bukannya Tuhan Allah Sang Pencipta yang ditakuti.

    Syalom,
    Lastri

  4. Ricko says:

    @Mbak Lastri : Aku gak mudeng maksudnya “management by pasutri” Pasutri=Pasangan Suami Istri ya???

    Menjadi sebuah pertanyaan: sudah berapa kali mungkin universitas/ fakultas kita mengadakan evaluasi kerja pegawainya (baik dosen atau non dosen)? Kalaupun udah sering bagaimana follow upnya???
    Nah hal inilah yang harusnya kita kaji…
    Pengalaman kuliah di UKSW saya sudah beberapa kali mengisi kuisioner evaluasi dosen di fakultas tetapi tidak pernah dijelaskan (transparansi) dari penyelenggara mengenai follow up itu tadi…

    Mungkin apa yang dimaksud oleh Mbak Lastri mengenai “management by quality” yang sedang “digenjot oleh UKSW” tidak diketahui oleh semua sivitas kampus (termasuk saya) bahkan apakah sebenarnya kita ini juga dilibatkan dalam sistem tersebut??? Kalau iya harusnya kita tahu dan ambil bagian disana, kalau enggak sebuah pertanyaan besar JADI ITU HANYA MENJADI SEBUAH “LIPS SING” DARI PETINGGI KAMPUS KITA (BADALAH!!!)…

    @Subiharto: Bagus sekali untuk “menemplak” para dosen X itu tadi…
    hanya saja bagaimana dengan sudut pandang para dosen jikalau mungkin mas Bejo hanya melihat dari sisi mahasiswa???
    Bosan atau tidaknya mahasiswa juga bisa karena beberapa alasan:
    – Bosan liat tampang dosennya…
    – Bosan dngan cara dosen mengajar…
    – Bosan dngan mata kuliahnya walaupun dosennya professional (seperti saya bingung ambruadul kuliah MK Pak Prof. Liek Wilardjo…)
    – Atau memang mahasiswa itu sendiri orang yang sudah “Bosan Kuliah”???

    Topik ini akan sangat bagus jika ada proses dialog antara mahasiswa dan dosen sehingga kita bisa menemukan dan mensinkronkan “2 sisi” yang berbeda ini…
    Memang sayang sampai sekarang di Kampus kita belum ada Pakem mengajar yang baik dan benar (untuk para dosen) kalau mahasiswa sih sudah dapat buku (pas angkatan saya masuk) “Cara Belajar yang Baik” (The Liang Gie kalo gak salah)…

    Jadi, diatas mungkin respon dari para mahasiswa,
    nah sekarang bagaimana dari respon para pengajar kita???
    Monggo berdiskusi…

  5. Ricko says:

    Tambahan:
    Yang masalah Pakem Mengajar Dosen itu entah memang belum ada??? atau ada tapi belum pernah kita tahu???… nah itu juga yang saya juga gak mudeng…
    kalo ada mungkin kita perlu tahu sehingga proses Monitoring & Evaluasi maksud mbak Lastri bisa kita laksanakan juga…
    kalo gak ada??? Nah tinggal gimana enaknya…

  6. Bejo Saputro says:

    @ Rico : “Topik ini akan sangat bagus jika ada proses dialog antara mahasiswa dan dosen sehingga kita bisa menemukan dan mensinkronkan “2 sisi” yang berbeda ini…” maunya saya seperti itu, tapi “dosenku” tak ada yang berani bersuara. Alasannya, males di buat ribet sama senior.

    Mengajar PAKEM itu ada, karena dalam jurusan Keguruan itu di ajarkan. namun hanya menjadi sebatas pengajaran karena dosennya sendiri tak menerapkan cara mengajar PAKEM itu sendiri.

    @ All : thx…, Semoga bermanfaat….,

  7. Neil says:

    @Bejo, Ricko, Lastri, mas Subiharto dan rekans

    Lho, saya sudah tulis sampai 2 kali di Scientiarum soal olah-pedagogi kita di UKSW… juga kalau mau bisa ditambah lagi dengan partisipasi2 saya dalam diskusi2 panas-hangat-dingin soal trimester (karena sangat terkait dengan pola/metode belajar/mengajar dan implikasi pada beban aktivitas, baik dosen maupun mahasiswa).. Jadi, undangan mas Ricko dan tanggapan negative mas Bejo sudah saya jawab. Kalau mau mengundang dosen lain ya sumonggo…

    Begini, ngomong-ngomong soal belajar – mengajar di zaman macam sekarang di aras pendidikan tinggi ya jangan cuma melihat cara dosen ber-cuap-cuap di kelas. Akibatnya, belajar di perguruan tinggi bukan tempat srimulat, bukan pula panggung orasi, bukan stage musik, tetapi ruang pertukaran ilmu yang menghargai karakteristik personal dosen maupun mahasiswa. Pernyataan terakhir bukan untuk membenarkan bentuk2 kemalasan atau pengabaian tetapi untuk mengakomodasi mereka yang bukan Bob Tutupoli yang suaranya merdu dan enak didengar, Tukul untuk membuat pendengarnya terpingkal-pingkal, dan sejenis itu. Mungkin karena terlalu terfokus ke soal cara dosen memberi kuliah (ceramah) lalu mas Ricko lalu bilang bingung dengan kuliah pak Liek. Saya duga, berada di kelas yang dipimpin/difasilitasi orang macam pak Liek kelas bukan lagi tempat pak Liek Cuma dinanti berceramah, tetapi tempat mendiskusikan berbagai pemahaman atau interpretasi terhadap teori, model, dsbnya. Implikasinya, mahasiswa dan dosen ya harus benar-benar siap sebelum kelas, dan orang macam pak Liek ya tidak mungkin tidak siap. Jadi, model belajarnya bergeser menjadi diskusi dan model peran dosen pun bergeser ahli yang lebih cenderung memfasilitasi daripada mendominasi. Mereka jauh lebih baik dijadikan “rekan diskusi”. Cuma, apakah itu yang kita ini bayangkan?

    Pandangan umum yang saya tangkap ketika kita menyoal bagaimana meningkatkan kualitas belajar/mengajar adalah lalu muncul usulan agar dibuat pelatihan presentasi atau micro-teaching bagi dosen. Kalau tanya rekan-rekan kita di bidang ilmu pendidikan, apakah untuk meningkatkan efektivitas pengajaran dan khususnya efektivitas pembelajara mahasiswaw memang cuma itu solusinya? Saya yakin jawabannya TIDAK.

    Karena itu, di 2 tulisan saya di Scientiarum, saya focus meminta kita membongkar paradigma kita tentang belajar dan mengajar. Masa hari gini dosen masih harus “menyuap” atau sebaliknya, mahasiswa “minta disuap”? Esensi pengajaran/pendidikan apalagi di level pendidikan tinggi adalah pembelajaran oleh mahasiswa. Jadi,isu utama kita adalah bagaimana dosen mampu memfasilitasi mahasiswa untuk benar-benar belajar. Lalu bagaimana agar mahasiswa benar-benar belajar atau memahami ilmu pengetahuan yang dipelajarinya? Pepatah Cina katakan, I hear I forget, I see I remember, I do I understand. Cukup gampang kita omongkan pepatah seperti itu, tetapi untuk menjalankannya ya nanti dulu. Misalnya, coba survey dan rilis statistiknya, cara belajar/mengajar apa yang dominan di UKSW? Saya duga, lecture/ceramah akan mendominasi, sekalipun ada kombinasi satu-dua dengan metode lain. Baik dosen (memang dibentuk dari kultur/kebiasaan pendidikan yang seperti itu) maupun mahasiswa (sami mawon, plus seringkali masuk ke kelas tanpa persiapan apa-apa, kecuali bawa buku/kertas catatan, atau bahkan lenggang kangkung) sama-sama ya dikondisikan oleh apa yang menradisi, dan tradisi itu adalah dosen berceramah, mahasiswa Cuma mendengar (mencatat, jarang bertanya). Jadi, ya akhirnya fokus usaha perbaikan PBM kita ya cuma bagaimana membuat dosen-dosen menjadi seperti James Gwee, Tukul, Soekarno, dan sejenis mereka padahal kita tahu ya tidak semua orang begitu. Bisa dilatih sih, tetapi apa iya kita akan optimal dengan itu? Padahal, kembali, manusia lebih memahami apa yang dipelajarinya dengan jalan melakukannya (I do I understand), bukan Cuma mendengar atau melihat. Jadi, belajar di perguruan tinggi berarti bahwa bukanlah dosen yang dominan berceramah, tetapi mahasiswa yang belajar. Mahasiswa harus rajin ke perpustakaan, ke laboratorium (termasuk laboratorium sosial, seperti perusahaan atau masyarakat), rajin membaca, gemar berdiskusi, selalu menyelesaikan tugas2 atau membuat laporan, mampu memresentasikan dan kemudian mengelola diskusi/debat di kelas, termasuk diskusi/debat bersama dosennya. Tugas dosen di situ ya fasilitatif, bukan jadi sumber, apalagi satu-satunya. Itu yang saya “perkarakan” melalui 2 tulisan saya.

    Jadi, saya bertanya, fokus pembicaraan kita ini mau ke mana? Maaf kalau rekan-rekan cuma mau mengajak ngomong bagaimana cara dosen berceramah agar kuliah jadi menarik, saya kira saya tidak ikut “gerbong ini”. Itu mengebiri esensi belajar dan implikasinya cara mengajar di perguruan tinggi. Dan, jangan kita lalu pikir untuk mencari satu cara terbaik, gagasan ini justru menyesatkan dan tidak tidak merepresentasi pengajaran berkualitas, apalagi dalam konteks wacana relasi riset – pengajaran/pembelajaran yang sedang berkembang di dunia pendidikan tinggi di banyak negara.

    Soal Pasutri, bagi saya itu bukan soal penting. Jauh lebih penting adalah soal pertanggungjawaban. Jadi, walaupun cuma si su(ami) atau si (is)tri sendiri yang bekerja di UKSW tapi kalau tidak mau dengar, tidak mau berubah ya tetap berabe. Soal teman-teman mahasiswa adalah bagaimana membuat para dosen accountable dan responsible, termasuk mendorong baik Fakultas maupun Universitas lebih care dengan isu kualitas dari teaching and learning practices kita di UKSW. Kalau Pasutri menghambat, ya silahkan tembak juga budaya kroni-isme itu, namun harus diingat bahwa UKSW tidak melihat itu (suami dan istri bekerja di tempat yang sama) sebagai sesuatu yang harus ditolak atau tidak menabukannya.

  8. Lastri says:

    Setuju mas Neil…

    Hanya satu yang perlu diralat untuk pasutri..maksud saya itu bukannya uksw yang harus menabukan menerima pasutri tapi unit penerimanya. Menurut saya secara UKSW memang tidak harus menolak keberadaan pasutri….hanya bila keberadaan pasutri itu dalam satu unit terkecil seperti progdi…ini yang akan menghambat realisasi pertanggung jawaban ilmiah. Berapa banyak pasutri yang realistis mau mengakui kelemahan pasangannya di depan umum? Mau mendengar kelemahan pasangannya? Apalagi kalau yang memberi masukan seorang mahasiswa? Orang jawa bilang suami atau istri itu “garwa”..sigarane nyawa (belahan jiwa). Seorang suami ataupun istri pasti akan membela pasangannya dan tidak ingin pasangannya dilecehkan apalagi dikritik di depan rapat fakultas ataupun jurusan/progdi. Jadi tetap saja tidak sehat keberadaan pasutri dalam satu progdi.

    Yang lainya, saya setoejoe buanget….
    Sekarang era internet…begitu banyaknya materi-materi ilmiah yang dapat kita peroleh kalau kita rajin didepan internet..Ilmu begitu gratisnya..kalau kita browshing dari luar…meskipun kita perlu menyadari bangsa kita masih pelit untuk membagi ilmu. Dus, saat ini adalah era mahasiswa berkompetisi dengan dosen untuk memperoleh khasanah ilmu sebanyak-banyaknya serta sedalam-dalamnya. Diskusi dengan dosen pasti akan sangat menarik…terutama kalau bertemu dega dosen yang wawasannya luas dan bersedia berargumentasi secara ilmiah dan fair dalam penilaian.

    Ok..teman-teman…selamat berjuang.

    Saya juga mau persiapan ngasih test nih.

    Syalom,
    Lastri

  9. Theofransus Litaay says:

    Persoalan lain yang turut berpengaruh adalah pada kualitas diskusi itu sendiri, kalau mau menghidupkan diskusi di kelas. Diskusi akan berjalan dengan baik jika kedua pihak memang tertarik untuk satu topik pembahasan.

    Untuk tertarik, maka perlu mengenal topik tersebut dan untuk ini dibutuhkan satu sikap positif untuk mau mencari tahu tentang apa yang akan dipelajari, baik oleh dosen maupun mahasiswa.

    Dalam konteks ini, menurut saya proses penerimaan mahasiswa baru menjadi sangat berpengaruh. Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa 60% mahasiswa memilih kuliah di universitas (terutama yang swasta seperti UKSW) hanya demi mendapat status mahasiswa dan tidak memperoleh status pengangguran. Dengan kata lain, menurut penelitian tersebut tipe mahasiswa lebih dari separuh adalah non-akademik.

    Tidaklah heran Maya Stephani di atas mengeluh karena mahasiswanya senang jika kuliahnya kosong. Karena dominan non-akademik tadi.

    Si dosen pun kalau masuk di kelas, terkadang akan merasa dirinya salah tingkah karena tidak ada mahasiswa yang tertarik berdiskusi. Akhirnya dia memilih berceramah saja sambil berdoa semoga mahasiswanya pada mudheng.

    Penelitian di salah satu fakultas di UKSW menunjukkan, bahwa hanya 30% mahasiswa yang merasa rugi jika kuliahnya kosong. Hanya 30% mahasiswa yang merasa dirugikan bila dosen tidak membahas Silabus pada awal perkuliahan. Jadi kembali lagi pada situasi rekrutmen mahasiswa baru tadi.

    TAPI tentunya universitas bertugas memanusiakan manusia (nguwongke wong). Termasuk mengusahakan agar tipe non-akademik tadi berubah menjadi tipe akademik. Pada titik inilah dibutuhkan usaha sengaja melalui program-program terstruktur baik berbentuk latihan dan up-grading teaching skill ataupun facilitating skills (karena kuliah jaman sekarang sudah tidak teaching oriented). Program lainnya adalah menyediakan workshop ketrampilan belajar kepada para mahasiswa secara gratis. Ataupun membuat program-program khusus kepada mahasiswa yang ketinggalan kinerja akademiknya.

    Sudah pernah kami usulkan, mungkin belum dilaksanakan.

  10. Neil says:

    Bung Theo dan friends,

    Harus kita sadari bahwa model pembelajaran yang terbentuk pada mahasiswa adalah hasil konstruksi panjang dari pendidikan paling dasar, termasuk pendidikan dalam keluarga. Jadi, ini problem sosio kultural dan harus disadari, karena tidak akan mudah begitu saja diselesaikan di aras universitas “dalam satu malam”. Painful, baik bagi dosen maupun mahasiswa.

    Bagi saya, yang harus dibongkar adalah paradigmanya, bukan sekedar upgrading skills. Dalam model pembelajaran organisasi, jika kita hanya putar2 di aspek teknikal (single-loop learning), perubahan hanya akan bersifat marjinal. Memang, semua harus selalu dimulai dari yang sesuatu yang riil, empiris, dan perubahan pada tingkat skill bisa membawa efek pada paradigma (double loop learning). Namun, tidak jarang orang yang canggih di aspek2 teknis ternyata tidak mampu memanfaatkan secara penuh kecanggihan tekniknya, bahkan kalah dari yang pergi “bertempur dengan bambu runcing.” Saya mengerti bung Theo sudah berada pada titik paradigma yang tercerahkan, tetapi saya khawatir mayoritas kita belum. Bisa jadi saya keliru, tetapi kesan ini muncul dari sejumlah interaksi2 seputar upgrading teaching and learning yang pernah saya ikuti.

    Ketika bicara pada level “soft” (bukan teknik), lalu kita harus memertanyakan ulang apa makna teaching sebetulnya. Bung Theo memisahkan teaching dari facilitating, ini mengindikasikan pemaknaan teaching secara sangat terbatas, misalnya bermakna lecturing, dosen sebagai sentral dari proses teaching and learning. Kita berasumsi kalau saya sudah teach (give lecture), maka mahasiswa harusnya juga sudah learn sesuatu dan karena itu saya tinggal menguji, apa yang dia tahu (dengan menggunakan standards yang saya miliki). Well, konsepsi ini sudah tidak cukup lagi untuk memahami esensi teaching, dalam wacana maupun praktik pedagogi kekinian.

    Saya kira Paulo Freire dan banyak paedagogists lain memandang bahwa teaching harus bermula dari learning, apa dan bagaimana mahasiswa belajar. Saya assume bahwa pertanyaan tentang mengapa harusnya terjawab ketika seseorang memilih untuk terus belajar, misalnya masuk universitas. Kenapa sih dia ke universitas, bukan ikut kursus, atau langsung cari kerja? Tentu, asumsi ini harus di-challenge, karena realitasnya tidak sebegitu otomatis sehingga alasan untuk ke universitas itu ada 1001 macam dan tidak mustahil yang dominan adalah yang “tersesat”. Namun, mengikuti pemikiran bung Theo, ya universitas/dosen harus “nguwongke wong”, melakukan transformasi, ini sudah melekat pada tugas moral universitas, kecuali universitas menolak itu, atau memandang tugasnya cuma tetek-bengek keteknikan lagi. Jadi, kalau seseorang datang sebagai pencari gelar, nilai (A, B, C… IP 4 atau 3,..), maka ia harus ditranform menjadi seorang pembelajar di tingkat pendidikan tinggi (critical, active learner, misalnya). Nah, dengan begitu terjawab masalah “why”-nya. Soal apa, kita juga bisa berasumsi, bahwa ketika mahasiswa memilih suatu fakultas/jurusan/progdi, maka itu ekspresi minat keilmuannya. Jadi, dia sudah putuskan apa yang ingin dipelajarinya. Sekali lagi ini juga harus di-challenge karena banyak kasus tidak menunjukkan korelasi minat keilmuan dan pilihan bidang studi, apalagi di Indonesia kita sudah memilih sejak mendaftar, beda dengan di Amerika yang orang baru memilih major belakangan, misalnya, atau di negara lain, paling tidak anak2 sudah bisa mengemukakan aspirasinya dan sejak kecil sudah dibiasakan mengembangkan diri pada bidan minatnya (science, sports, arts, etc.). Mungkin di sini lalu soal bagaimana mahasiswa menjadi pihak yang terinformasi baik sebelum memutuskan (ini bagaimana komunikasi universitas terjadi di tahap pra-admisi) atau ya ketika mendapatkan penjelasan2 awal (penjelasan kurikulum, penjelasan mata kuliah, dsb.). Namun, ada kalanya kita ini mengalami distracted dari apa yang kita ingin lakukan, jadi reinforcement perlu terus dilakukan dan itu termasuk terkait dengan soal bagaimana (how) pembelajaran terjadi. Oya, dalam hal ini saya kira peran wali studi sangat besar. Tidak boleh lupa pula, iklim akademik secara menyeluruh di dalam komunitas universitas. Jadi, banyak hal kait-mengait, tidak sekedar ketrampilan teknik si dosen dan mahasiswa, walau saya setuju program2 itu harus diadakan.

    Nah, kembali ke soal how to teach dan karenanya harus datang dari refleksi how do students actually learn, maka bagi saya teaching is about facilitating how students learn. Nah, tentu saya tidak mau gunakan referensi kekinian kita. Jadi, kalau tanya keadaan aktual, bagaimana sih kalian (mas subiharto, mas bejo, etc) mahasiswa belajar, wah ini bisa berabe karena jawabannya ya kita belajar kalau dosen mengajar (berceramah) atau ya kalau besok mau tes. Kita justru harus merujuk pada bagaimana sesungguhnya belajar itu menjadi sesuatu yang efektif. Di luar pepatah Cina yang saya kutip yang lalu (kunci: I do I understand) yang mengindikasikan bagaimana dosen harus merancang aktivitas belajar/mengajar yang menempatkan mahasiswa untuk DO (learn), maka ada pemahaman bahwa belajar akan efektif bila dilakukan secara repetitif (bisa juga ditambah, jangan satu bongkah besar sekalian dalam satu malam yakni kalau mau tes, tetapi sedikit demi sedikit secara konsisten, ini melatih otak, sel kelabu, agar tetap bekerja). Jadi, each and every week ya harus didesain agar mahasiswa belajar. Kalau pekerjaan/tugasnya cukup berat ya bisa dua mingguan, selang seling dengan ceramah atau metode mengajar lain oleh dosen, tapi harus konsisten. Jadi, di situ mahasiswa adalah pencari dan pengonstruksi pengetahuan, bukan penerima pengetahuan. Kegiatan mengajar dosen harus membentuk karakter itu pada mahasiswa partisipan kuliahnya. Kalau cuma mau kembali ke kebiasaan lama/dominan ya terlalu mudah, seolah-olah sudah bertanggung jawab, melakukan pengajaran, tetapi secara esensial, dosen hanya “cuap-cuap” dan mahasiswa cuma menghafal lalu lulus tes dan dapat nilai, tetapi sulit disebut sesungguhnya belajar, karena makna dan tujuan belajar harus ditempatkan pada konteks “memahami” sesuatu untuk jangka yang relatif panjang, bukan sekedar besok tes dan bisa. Kata memahami saya beri tanda kutip karena tujuan belajar menurut taksonomi Bloom ada macam-macam (termasuk pecahan2 dari/dalam tiap level).

    Jadi bung, saya tidak mau memisahkan facilitating dari teaching. Facilitating adalah part of teaching. Teaching is about any/all possible way to facilitate student learning. Dan, dalam konteks itu, mau dengan cara natural apa pun kita bisa, keyakinan saya. Wong tinggal “suruh” mahasiswa belajar kok tidak bisa. Tinggal di kelas “suruh” mahasiswa ngomong kok tidak bisa. Kalau tidak mau belajar, tidak mau ngomong ya tidak ada kuliah hari ini. Terlalu mudah. Ini mungkin radikal, tetapi saya kira ada teman yang juga berhasil memaksa demikian. Awalnya painful, kuliah harus stop di jalan karena mahasiswa cuma mau datang dengar dosen, tetapi setelah beberapa saat mulai tumbuh keaktifan mahasiswa. Memang, di sini bisa kita latih skills tertentu untuk lebih berdayakan dosen dalam mendesain proses fasilitasi pembelajaran. Namun, dengan mengasumsikan bahwa setiap orang yang dosen, secara intelektual “hard” maupun “soft”nya di atas rata-rata, ya yang perlu didorong adalah kemauan dan itu artinya “setrum” paradigma teaching is all about student learning di kepalanya yang harus dibangkitkan.
    Hanya memang, dalam soal itu, kita sudah “terkunci” dengan kebiasaan2 baik pada level pikiran maupun tindakan. Dominant logic kita soal mengajar ya lecturing. Dominant practice juga adalah lecturing. Di sini, kita bisa melihat betapa sangat powerful-nya institusi berpikir (template ide/model) dan bertindak (kebiasaan) kita. Nah, itu yang saya serang, dengan tujuan kita harus bongkar cara pikir yang menganggap teaching is all about lecturing atau aktivitas yang menempatkan dosen sebagai yang aktif trasmitting knowledge to student. Pemikiran itu sudah tidak zaman-nya lagi.

    Nah, kalau teaching sudah didesain sebagai segala bentuk aktivitas mahasiswa untuk aktif belajar, bukan hanya sekedar pasif menerima transfer knowledge dari dosen, maka level berikutnya untuk berharap terjadi pertukaran pemahaman bisa relatif mudah kita harapkan. Belajar dalam kacamata itu ya tidak harus dibatasi oleh ruang kelas. Dosen bisa mendesain aktivitas belajar pada waktu tertentu hanya kepada mahasiswa, apakah bongkar buku di perpus atau utak-atik alat di lab, atau tanya sampai bibir dower kepada respondents di lapangan, atau pelototi sampai mata juling sebuah fenomena sosial, dsbnya. Nonton film juga boleh. Di titik ini mahasiswa harusnya sudah berada pada satu titik konstruksi pengetahuan, entah levelnya sampai di mana, akan tergantung masing2. Kembali ke kelas adalah untuk bawa kembali pengetahuan yang sudah diakuisisi ke dalam forum pertukaran informasi dan pemahaman. Di sini, proses kontruksi pengetahuan terjadi pada level kedua. Mungkin ada yang tidak lihat dimensi data yang dilihat oleh temannya. Mungkin sama-sama bisa bertanya, lalu apa artinya apa yang kita sudah dapatkan ini. Dosen bisa mengajak untuk merujuk teori untuk melihat “realitas”, atau sebaliknya melihat teori dari sudut realitas. Keluar dari kelas mungkin dia akan move to another level, who knows. Dalam hal ini lalu banyak hal mungkin, dan karena itu konstruksi/desain proses belajar sangat bergantung pada “kebebasan” dosen dan proses interaksi yang terjadi. Jadi, tidak ada yang “standard” di sini. Yang standard barangkali adalah pemahaman dasar kita bahwa teaching/learning dan pengetahuan ya sebuah proses konstruksi sosial, mau ditambah flavour expertise atau behavioural aspects dari dosen ya sumonggo.

    Again, itu soal frame kita tentang apa itu teaching. Dan, everyday teaching and learning activities yang seperti itu yang memerkaya kita. Jadi, reinforcement terjadi setiap hari, tidak tunggu kapan ada pelatihan. Syaratnya cuma sederhana, keberanian dosen dan mahasiswa untuk bebas dari cara pikir dan praktik usang yang justru mematikan, bukan memberdayakan.

    Soal komitmen, ya harus dari Day1 mahasiswa berkuliah ya itulah yang harus dia jumpai. Kalau sudah latih, latih, latih, tetapi begitu masuk ke kelas dominant practice-nya balik lagi ke lecturing ya gagal semua konstruksi awal. Saya sudah alami itu bung Theo di FE. Kami sudah desain Faculty Day kami untuk membangun konsepsi/model belajar aktif. Mahasiswa mengamati fenomena sosial-ekonomi, cari informasi, mahasiswa diskusi, mahasiswa menulis, mahasiswa presentasi. Supaya meriah, kami pake “kompetisi”, mereka dinilai oleh panel dosen dan yang menang diberi “hadiah”. Well, ketika semua itu berlangsung, sebagai dosen dan sebagai pejabat bidang kemahasiswaan di kala itu, saya senang sekali. Mahasiswa2 baru FE menunjukkan mereka luar biasa, melampaui apa yang di bayangan saya. Bahkan saya katakan ke rapat fakultas FE, cara mereka desain dan presentasikan bahan mereka pun tidak kalah dari dosen, atau mahasiswa senior yang saya jumpai di kelas2 saya. Saya punya harapan besar melihat fenomena itu dan mengatakan kepada rekan2 dosen yang lain, kalau sejak hari 1 kuliah yang mereka jumpai adalah justru gambaran berbeda dari proses itu, maka akan runtuh kesan yang sudah terbentuk, bahwa belajar di FE adalah seperti yang mereka alami di Faculty Day. Dan, saya khawatir, apa yang terjadi adalah kekhawatiran saya itu, semua runtuh karena dosen tetap bersikukuh dengan caranya mengajar yakni memberi ceramah, bikin kuis/tes, dan akhirnya meluluskan atau tidak si mahasiswa. Dari pelajaran itulah, fokus saya adalah BONGKAR PARADIGMA KITA TENTANG TEACHING!!! Sejauh kita masih memandang teaching adalah urusan dosen ceramah dan bukan proses memfasilitasi mahasiswa untuk setinggi-tingginya mereka belajar (harus ada proporsi yang memadai untuk aktivitas mandiri mahasiswa, entah individual atau berkelompok, dalam desain pengajaran dosen, bukan sebagai bagian terpisah dan “urusanmu hai mahasiswa”), maka “finish” sudah cita-cita kita membangun universitas scientiarum yang magistrorum et scholarium.

  11. andi-dobleh says:

    hmm…

    udah 3 bulan lebih gak menginjak ruang kuliah..
    entahlah, minat ku terhadap ekonomi sudah tak segemerlap dahulu..
    apalagi minatku terhadap ruang kuliah yang, seperti udah dibilang oleh rekan2 di atas, kebanyakan cuma ceramah doank!! mendingan ga masuk, nongkrong kafe, and diskusi di sana.. malah dapet banyak ilmu, mulai ilmu komunikasi, sosiologi, hukum, teknologi..lengkap deh…dan yang pasti ga perlu pake dress code( makan tuh dress code taik kucing)

    setuju dengan kak neil, mungkin aku “aktor” salah pilih jurusan.. hehehehe…

    jadi mahasiswa mayan lama, tapi makin lama makin kelihatan gak berguna titel SE..

    halah malah OOT, malah curhat..
    back to topic..

    ruang kuliah..mahasiswa dan dosen..dan kampus

    Idealnya, bagiku mirip dengan kak Neil, ruang kuliah adalah tempat untuk bertukar pengalaman dan pemahaman,mahasiswa vs mahasiswa vs dosen.. tugas utama dosen seharusnya hanya mengarahkan,dan mungkin melengkapi dengan definisi2 teoritis yang belum diketahui mahasiswa..

    Bagaimana mencapai hal ini?
    Yang utama, ada kesamaan paradigma seluruh civitas akademika UKSW mengenai proses kuliah.
    minimal harus ada kesamaan paradigma mengenai 3 hal:
    -apakah universitas itu, dan apa tujuannya (yang pasti bukan buat cari profit !!! 😛 )
    -apa tugas dosen (yang pasti sih bukan cari proyek penelitian terus !!! 😛 )
    -apa tugas mahasiswa (yang pasti bukan cuma absen kuliah !!! :P)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *