Gudang Ilmu Sepi Pengunjung

Browse By

Tampak mewah gedung berlantai tujuh yang letaknya tak jauh dari pekuburan Cungkup itu. Di lantai limanya tertuliskan huruf “FAKULTAS EKONOMI”. Sebelum memasuki pintu utama gedung (Perpustakaan), terlebih dahulu akan dijumpai sebuah patung hitam kusam yang menyerupai wujud asli Oeripan Notohamidjojo ( almarhum ), pendiri sekaligus Rektor I UKSW.

Gedung ini belum sepenuhnya selesai dibangun, lantai paling atas masih terlihat rangkaian besi cor-coran yang terbengkalai. Inilah kondisi gedung Perpustakaan Umum (PU) Notohamidjojo hingga kini, yang (konon) pernah menyandang predikat terbesar dan terbaik se-Asia Tenggara.

PU Notohamodjojo didirikan dengan tujuan sebagai penunjang kehidupan kampus. Sedangkan nama Notohamidjojo dipilih untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Oeripan Notohamidjojo.

Direktur PU Notohamidjojo, Elizabeth Sri Lestari, ketika ditemui di kantornya, lantai satu gedung PU. Saat ditanya, ”apa benar ada isu PU Notohamidjojo pernah menjadi sebuah perpustakaan terbesar dan terbaik se-Asia Tenggara?” Dia mengatakan, ”Itu bukan isu Mas … itu beneran. Memang PU Notohamidjojo dulu merupakan perpustakaan terbesar dan terbaik se-Asia Tenggara,” Katanya.

Ketika mendapat jawaban dari Elizabeth, kemudian saya kembali melontarkan pertanyaan, ”mengapa jika memang pernah menjadi perpustakaan terbesar dan terbaik se-Asia Tenggara, perpustakaan Notohamidjojo sekarang sepi pengunjung? Bukankah buku-buku yang ada sangat lengkap dan bagus?”

”Kemungkinan mahasiswa tidak tahu kalau banyak sumber informasi di perpustakaan, selain itu mahasiswa cenderung hanya mem–¬foto copy dari handout yang diberikan oleh dosen dan tidak merasa tertantang untuk mencari sumber aslinya di perpustakaan. Selain itu juga informasi-informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa lebih gampang dicari lewat internet,” tutur Elizabeth.

”Lalu solusi apakah yang ditawarkan pengelola perpustakaan agar perpustakaan kembali diminati pengunjung?”

”Untuk menjadikan perpustakaan seperti dulu yang banyak didatangi pengunjung, saya belum menemukan ide Mas… atau Mas … punya ide?” jawab Elizabeth, yang saat itu justru kembali bertanya.

Sedangkan mengenai koleksi buku tersedia sangat banyak, sepanjang tahun pihaknya selalu membeli buku baru, sebagaimana yang diusulan oleh masing-masing fakultas. Adapula fakultas membeli buku sendiri kemudian dikumpulkan ke perpustakaan pusat. ”Jadi kalau masalah koleksi buku-buku saya pikir di perpustakaan ini sudah cukup lengkap,” ujarnya.

”Jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman-jaman saya dulu yang masih belum banyak foto copy dan internet, jadi saya selalu mengunjungi perpustakaan untuk membuat catatan, mengerjakan tugas, diskusi. Bahkan, untuk bertemu dengan pacar saja di perpustakaan,” kenang Elisabeth.

”Kenapa dulu tertutup, tapi sekarang bebas memilih buku di rak?”

Elizabeth memberikan alasan, bahwa perpustakaan ingin memberikan keleluasaan kepada mahasiswa agar lebih bisa memilih buku sesuai dengan kebutuhannya. Dari dulu sebenarnya mahasiswa bebas memilih di rak, tetapi pada 1999 banyak buku yang disembunyikan mahasiswa. Bahkan, ada sebagian dosen menganggap perpustakaan ini ”rimba”. ”Di katalog ada tapi di rak tidak ada,” ujarnya, menirukan selentingan beberapa dosen.

Berdasarkan alasan itulah dilakukan sistem tertutup atas usulkan John Andreas Titaley, Rektor ke V UKSW, periode 2000-2004. ”Setelah mendapat usulan dari rektor maka keputusannya untuk sementara memakai sistem tertutup, mahasiswa tidak lagi bisa bebas memilih buku. Pada 2008, kami baru mengubah sistem menjadi bebas memilih kembali,” tambahnya.

”Sepinya pengunjung perpustakaan tidak hanya di Indonesia saja, tapi di luar negeri juga. Dan kelemahannya itu ada pada budaya membaca, karena pada budaya membaca masih lemah. Dan, itulah yang perlu di tingkatkan. Kalau budaya membaca tinggi kunjungan perpustakaan juga akan tinggi,” kata Theofransus Litaay, staff pengajar Fakultas Hukum.

”Perpustakaan Notohamidjojo itu sendiri harus ditingkatkan pelayanannya dan harus menjadi jantung universitas. Saat ini peran perpustakaan yang seharusnya menjadi jantung universitas kurang terasa maknanya, karena gedungnya di gabung dengan kantor fakultas. Orang mendatangi perpustakaan itu untuk mencari tempat tenang, membaca buku, hal itu yang dulu kami rasakan. Dan, dengan adanya kantor fakultas di gedung perpustakaan juga mengganggu, fungsi perpustakaan sebagai jantung universitas harus dipulihkan,” harapnya.

”Untuk menjadi jantung universitas fasilitas juga harus ditingkatkan, karena jika dibandingkan dengan universitas lain perpustakaan Notohamidjojo itu termasuk baik, tapi bukan yang terbaik. Selain itu dosen juga harus merubah pola perkuliahan untuk menjadikan mahasiswa lebih mandiri, tidak menyuapinya terus, dan jangan jadikan mahasiswa kita menjadi diktat. Dan dosenpun harus banyak mengakses perpustakaan,” pintanya.

Selain alasan di atas, ”pustakawan juga harus diberikan peran lebih banyak, selama ini pustakawan tidak mendapat perhatian yang baik,” ujarnya lagi.

”Baru setelah ada rencana pembangunan perpustakaan mereka mendapatkan perhatian, karena selama ini yang berperan dalam perpustakaan belum jelas. Dulu itu, namanya Perpustakaan Universitas. Pada 1993, pembangunan perpustakaan bagian awal renovasi diselesaikan, lalu diresmikan, dan namanya menjadi Perpustakaan Umum Notohamidjojo. Dan setelah itu UKSW mengalami konflik, sehingga pengembangan terhadap perpustakaan mengalami kemandekan,” terang Theo.

Peran pustakawan, bersama-sama dengan fakultas merencanakan dan mengembangkan — mengelola koleksi buku maupun informasi lain. Termasuk juga informasi digital yang digunakan dalam proses perkuliahan. Setahu Theo, fakultas masih kurang proaktif bekerjasama dengan perpustakaan. ”Dan mengapa yang aktif harus fakultas? Karena yang paling mengetahui informasi apa yang harus disediakan oleh perpustakaan adalah fakuktas. Selain itu fakultas juga harus aktif untuk melakukan peremajaan informasi yang diusulkan ke perpustakaan.”

Namun, selama ini pihaknya (pengelola perpustakaan, Red.) — setiap kali menghubungi fakultas untuk pembelian buku, maupun perpustakaan punya program itu kurang mendapat respon dari fakultas. ”Tidak semua fakultas secara positif menanggapi kami,” keluh Elizabeth.

Masalah pustakawan yang kurang diperhatikan itu benar — memang iya …. Banyak orang yang gak mau tahu — pustakawan itu kerjanya apa. Dari pengalaman itulah pihaknya berusaha untuk lebih proaktif lagi agar orang lain mengerti. ”Pustakawan (kita) itu sedikit, karena tidak semua penjaga perpustakaan itu pustakawan,” Pungkasnya.

6 thoughts on “Gudang Ilmu Sepi Pengunjung”

  1. Theofransus Litaay says:

    Wawancara yang dilakukan Yoga sudah dimuat secara sangat baik.
    Satu tambahan saja untuk memperjelas wawancara di atas, pada waktu saya menjelaskan kepada Yoga bahwa di luar negeri perpustakaan bisa menjadi sepi alasannya karena akses internet yang sudah merata dan mahasiswa bisa mengakses perpustakaan dari komputer di rumahnya. Sedangkan kalau di Indonesia karena persoalan minat mengunjungi perpustakaan dan perpustakaan belum diperlakukan sebagai jantung universitas.

  2. Elizabeth says:

    Sekedar meluruskan saja, PU singkatan dari PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS, BUKAN Perpustakaan UMUM. Terima kasih untuk perhatiannya.

  3. Neil says:

    Usul, bu Elizabeth: tidak perlu lagi disebut PU, karena kalau dijabarkan jadinya: Perpustakaan Universitas Notohamidjojo. Kesan yang bisa ditangkap adalah perpustakaan milik Universitas Notohamidojo? Tidak begitu kan maksudnya… Jadi, sebut saja Perpustakaan (Oeripan atau O.) Notohamidjojo atau kalau bahasa Inggrisnya ya jadi (O.) Notohamidjojo Library. Ini bisa dibandingkan dengan libaries di Stanford University, seperti (Cecil H.) “Green Libary” (untuk humanities and social sciences) atau (J. Henry) “Meyer (Memorial) Library” (untuk academic computing dan east asia) atau (J. Hugh) “Jackson Library” (untuk graduate business school), dsb. Sama juga dengan di MIT: Lindgren Library, Hayden Library, Dewey Library, etc.

  4. Evalien Suryati says:

    Nama PU untuk menyebut Perpustakaan Universitas memang sering menimbulkan kekeliruan, dalam hal ini menjadi Perpustakaan Umum, padahal tugas, fungsi, tujuan, visi, dan misi di antara kedua jenis perpustakaan ini sangat berbeda. Penjelasan yang pernah saya terima dari ibu Rosie Kameo (Direktur perpustakaan UKSW saat itu, 1993, beberapa bulan setelah renovasi tahap I gedung perpustakaan terselesaikan), O. Notohamidjojo adalah nama gedung perpustakaan kita. Nama ini digunakan sebagai bentuk apresiasi terhadap Rektor I UKSW ini yang demikian mencintai bahan bacaan, yang juga telah menyumbangkan koleksi maupun karya tulis beliau ke perpustakaan UKSW. Sebelum PU, pada era tahun 1970-an – 1990-an perpustakaan kita dikenal dengan nama Perpustakaan Pusat (PP) meskipun secara hierarki struktural PP tidak mempunyai perpustakaan cabang – meskipun ada Ruang sumber pada Unit Pusat Bimbingan, serta Perpustakaan Penelitian dan Pasca Sarjana (sebelumnya Lembaga Penelitian Ilmu Sosial (LPIS) dan kemudian Lembaga Penelitian Universitas (LPU))…. What is an a name then?

  5. Theofransus Litaay says:

    @ ibu Evalien:
    “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” [tokoh Juliet dalam Romeo and Juliet (II, ii, 1-2)].
    Ada penulis yang berpendapat lain, bahwa dalam masyarakat Timur ternyata nama membawa makna yang mendalam.
    Dalam pandangan saya, pencantuman nama Dr Notohamidjojo melahirkan tuntutan performance tertentu agar tidak mengurangi nama beliau. Jadi bisa menjadi sumber spirit juga.
    Mari kita membangun kampus melalui penguatan perpustakaan yang sangat kita banggakan ini.
    God bless.

  6. Neil says:

    @Bu Evalien,

    Halo bu apa kabar?

    Nama kan identitas ya bu. Di luar itu, kadang kita pilih nama anak yang bagus-bagus.. kadang menunjukkan unsur estetikanya, dalam bahasa maupun ekspresi tertentu yang mau disampaikan si pemberi nama. Nah, kalau besok-besok nama Perpustakaan Universitas O. Notohamidjojo di Inggris-kan misalnya, jadinya kayak apa? Atau mau kembali ke Central Library, yang mungkin juga kok kurang asyik didengar. Saya kira yang lazima ya O. Notohamidjojo Library, tanpa embel-embel pusat, umum, universitas. Memang ada contoh di Harvard misalnya, sebagian libraries tidak pakai nama tokoh, tetapi bidang ilmunya misalnya Antrophology Library, Applied Scinece Library. Walau di sana juga ada Guttman Library, Grossman Library, and so on. Tapi, kita bisa temukan tulisan Harvard University Library Map atau ya Harvard University Libraries. Jadi, kalau disebut Satya Wacana Christian University Library sih pas, tapi kalau jadi O. Notohamidjojo University Library (terjemahan langsung dari PU) kan nyasar tuh maknanya, seperti yang saya katakan yang lalu. Jadi, nama bisa tidak terlalu perlu dipersoalkan, tetapi adakalanya bisa jadi soal.

    Coba lakukang “studi banding” online, sekaligus melihat pola2 layanan di universitas lain sehingga perspustakaan kita pun bisa berstandar “internasional”, seperti pernah saya baca tertulis di visi perpustakaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *