Mabuhay Ng Pilipinas

Browse By

Mengalami perjalanan yang belum pernah dilakukan sebelumnya serta bertemu dengan orang-orang muda yang memiliki mimpi dan hasrat yang sama di belahan dunia lain boleh jadi tidak akan terlupakan seumur hidup.

Tiba-tiba aku terbangun dari tidur dan mengubah posisi karena leher yang sudah mulai pegal. Aku mencoba untuk melihat keluar melalui kaca bulat yang sedikit kabur. Langit masih gelap namun perlahan membiru karena cahaya kemerahan yang mulai naik. Seperti sebuah garis pembatas yang tidak mengijinkan kehitaman merajai langit lagi. Sudah cukup waktumu, sekarang giliranku! Setitik cahaya yang terangnya melebihi terang yang lain. Bulat, tegas, dan bercahaya tepat berada di tengah. Itu Venus. Baru sekali ini aku melihat pemandangan langit dari atas seperti itu tampak begitu dekat. Beberapa menit seakan aku tersihir, langit memaksa aku untuk menatapnya lekat-lekat, tidak membiarkan sedikitpun lengah dan mengalihkan pandangan pada yang lain. Limabelas jam yang lalu aku meninggalkan Salatiga, dan sejak empat jam yang lalu berada dalam sebuah pesawat maskapai Philippine Airlines. Daratan Filipina sudah mulai kelihatan. Baiklah, mari memulainya. Lima hari ke depan akan aku habiskan di pulau ini. Bahagia atau sedih, antusiasme atau kebosanan, berkesan ataupun tidak, semuanya bergantung padaku. Bergantung pada bagaimana aku mempersepsikan dan memaknai semua yang akan terjadi.

Keterlibatan selama dua periode di Lembaga Kemahasiswaan bermula pada hasrat pribadi untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, berkarya semaksimal mungkin dan memberi arti pada waktu yang begitu singkat di UKSW. Pendelegasian ini pun merupakan bagian dari tugas sebagai fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan.

Haruskah ke Filipina hanya untuk belajar kewirausahaan sosial? Pertanyaan ini muncul ketika mendengar pengutusanku ke Filipina. Menurutku, Indonesia sendiri, bahkan lebih sempit lagi UKSW, punya banyak orang yang punya kemampuan sebagai seorang trainer yang pastinya tidak kalah hebat dalam menyampaikan materi. Apalagi mengenai kewirausahaan sosial, sebuah gagasan lama namun belakangan cukup sering aku baca maupun dengar. Berarti sia-siakah pendelegasian ini? Tentu tidak. Aku belajar banyak hal, bahkan tak hanya terkait isu kewirausahaan sosial. Delegasi yang diutus LK UKSW untuk mengikuti FLAF 2009 di Manila adalah Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas (SMU), Kornelius Upa Rodo, dan aku yang sedang menjabat Ketua Bidang Professional Skill SMU. Yang ada di benakku mengenai pelatihan waktu itu adalah sesi-sesi yang membutuhkan ketajaman dan ketelitian serta kemampuan analisa tingkat tinggi mengenai isu-isu sosial. Namun ternyata tidak juga, sesi-sesi lebih banyak membahas dalam tataran praktis. Pembicaraan lebih “berjejak di tanah”, lebih aplikatif.

Future Leader of Asia Forum (Forum Pemimpin Masa Depan Asia) merupakan pertemuan mahasiswa se-Asia-Pasifik yang digagas oleh Ateneo de Manila University sebagai tuan rumah; inovasi pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan lingkungan serta menciptakan komunitas orang muda Asia yang dapat melakukan perubahan melaui kewirausahaan sosial. FLAF yang kami ikuti ini merupakan angkatan kedua. Tahun pertama dilaksanakan pada tanggal 17-19 Januari 2008. Tahun ini tujuhpuluh peserta yang berasal dari berbagai provinsi di Filipina, Indonesia, dan Taiwan ikut ambil bagian.

FLAF bertujuan untuk menjaga kesatuan dan keberlangsungan jaringan mahasiswa Asia, pusat informasi seperti kesempatan-kesempatan kewirausahaan, bantuan keuangan, seminar-seminar, berita, dan sebagainya. Ia juga memiliki Over-All Coordinator yang dipilih secara langsung yakni Trisha Andaya, mahasiswi Ateneo de Manila University yang bertugas menghubungkan koordinator wilayah sekaligus internasional, menjaga keberlangsungan usaha-usaha yang dilakukan oleh anggota FLAF. Sedangkan koordinator tiap wilayah bertugas untuk menjaga keterikatan dan koordinasi, berfungsi seperti gubernur di tiap wilayah.

Tema FLAF tahun ini adalah Social Entrepreneurship: Employing Innovations in Pursuit of Environmental Sustainability. Konsisten dengan tema tersebut, mulai dari materi hingga pemateri, semua terkait dengan isu lingkungan. Hampir seluruh pemateri adalah mereka yang telah membangun dan sedang mengembangkan perusahaan sosial (social enterprise) dalam berbagai bidang. Sangat mengesankan. Mereka tidak hanya pandai berteori namun sudah pernah jatuh bangun ketika mempraktekkannya. Materi maupun diskusi terelaborasi dengan sangat berisi, tidak hanya sekadar pembicaraan abstrak dan mengawang-ngawang yang akan selesai setelah diskusi berakhir. Idealnya memang seperti inilah seorang guru. Mereka menuturkan pengalaman yang telah dijalani terlebih dahulu. Seorang wirausaha sosial (social entrepreneur) adalah pribadi dengan solusi inovatif terhadap permasalahan sosial yang menekan masyarakat. Orang yang punya hasrat besar serta konsisten untuk mengatasi isu sosial dengan menawarkan ide segar yang dapat membawa perubahan.

Pelatihan ini dilaksanakan selama empat hari dan dilanjutkan dengan tur pada hari kelima. Hari pertama diskusi diawali dengan pembeberan situasi nasional Filipina secara holistik. Lingkungan Filipina terancam akan menipisnya ketersediaan air bersih, cuaca yang semakin panas, sanitasi masyarakat yang buruk, kematian biota-biota air, dan polusi udara. Dari segi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Filipina rendah. Nilai tukar mata uang Peso rendah, tingkat pengangguran semakin tinggi (mencapai 2,8 juta orang), kemiskinan.

Sektor kesehatan tak kalah parah. Tenaga medis yang sangat sedikit dibandingkan pasien (satu perawat untuk 16.968 pasien dan satu dokter untuk 28.443), akses obat-obatan terbatas, membuat 62 persen warga Filipina meninggal tanpa mendapat penanganan medis. Filipina juga merupakan negara terkorup di Asia, ketimpangan hukum di mana-mana, dan sebagainya. Ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia sendiri. Aku seperti sedang menyaksikan situasi nasional bangsa sendiri, miris dan sakit hati entah pada siapa. Lantas dimana posisiku, juga mahasiswa lainnya? Bagaimana kami merespon realitas objektif yang selama ini terbatasi dengan pemikiran sempit? Patah, hancur, dan menangiskah, atau malah sekalian saja tidak usah peduli? Namun selalu masih ada harapan, selama Filipina masih punya langit berfajar.

Diskusi dilanjutkan dengan presentasi dari dua perusahaan sosial besar, yaitu Hapinoy, sebuah bisnis yang mirip dengan koperasi simpan-pinjam berskala kecil, dan Rags to Riches, sebuah merek fashion terkemuka di Manila yang bermula dari hasil kerajinan kain-kain bekas yang dikumpulkan ibu-ibu yang tinggal di pemukiman pemulung. Indikator kesuksesan di sini adalah besarnya dampak dengan melibatkan semakin banyak orang yang kehidupannya lebih baik.

Pada hari kedua, exposure dilakukan di tiga pusat perusahaan sosial yaitu Waste Segregation Facility di Marikina City, Padyak Project di University of Philippine, juga Bagong Buhay di Project 4. Saya kebagian jatah mengunjungi University of Philippine (UP) dengan komunitas Padyak-nya. Padyak dalam bahasa lokal (Tagalog) berarti “pedal”. University of Philippine serta Ateneo de Manila University merupakan dua universitas terkemuka di Filipina. Beruntung sekali dalam sekali kunjungan dapat bertandang ke keduanya sekaligus. Area kampus UP sangat luas. Ini sebabnya dalam UP bisa ditemukan jeepney (angkutan umum khas Filipina) berseliweran. Hampir seperti bajaj di Jakarta, jeepney agak berlebihan dalam memroduksi asap hitam. Komunitas ini berjuang agar sivitas akademika menggunakan sepeda yang dapat disewa dalam lingkungan kampus untuk mengurangi polusi.

Sepeda-sepeda itu telah diberi hiasan berdesain menarik pada jeruji rodanya. Andai bisa membawa satu ke Salatiga, tidak perlu jalan kaki tiap hari. Ada juga modifikasi sepeda sebagai mesin penggerak mesin cuci modifikasi. Sungguh kreatif, aku juga ingin memilikinya sendiri di kos. Mencuci pakaian merupakan aktivitas yang melelahkan namun mau tidak mau harus dilakukan.

Perjalanan dilanjutkan dengan diskusi dan kesempatan berkeliling UP menggunakan Padyak. Universitas ini terkenal punya banyak aktivis yang tidak pernah absen mengritik Pemerintah Filipina. Mereka memegang teguh kebebasan, bahkan UP memiliki kegiatan tahunan dimana seseorang dengan telanjang bulat berlari mengelilingi area kampus dengan hanya memakai penutup kepala. UP juga memiliki patung laki-laki bugil yang menjadi kebanggaan sebagai simbol kebebasan tersebut.

Presentasi Teatro Berde merupakan aktivitas lanjutan setelah exposure. Teatro Berde adalah sebuah kelompok teater kaum marginal seperti anak jalanan dan pemulung. Teater ini percaya bahwa seni dapat meningkatkan kepercayaan diri, yang berakibat pada penghargaan akan nilai dan keberadaan sebagai seorang manusia, serta menjadi sumber penghasilan. Dilanjutkan kewirausahaan sosial ekologis, pembuatan deterjen dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Hari ketiga merupakan hari lokakarya yang berfokus pada manajemen untuk keberlangsungan perusahaan sosial. Steve Koon, pendiri Avant Change (organisasi nonprofit promotor kewirausahaan sosial), serta Arnel Casanova dari Ateneo School of Government, menyampaikan materi mengenai manajemen proyek serta keuangan. Jeannie Javelosa, direktur EON (perusahaan konsultan praktik kehumasan), menyampaikan pentingnya komunikasi dalam pemasaran.

Pada hari keempat, sejak pagi waktu dialokasikan bagi tim tiap universitas untuk melakukan presentasi di depan panelis hanya dengan menggunakan karton manila, spidol, serta krayon. Kami team dari UKSW merencanakan sebuah pusat pembelajaran bagi masyarakat yang diberi nama Green House (Rumah Hijau). Di tempat ini, mimpi kami menjadi tempat orang-orang muda akan diperlengkapi dengan berbagai ketrampilan, dan mahasiswa (UKSW) akan mengatur, mulai manajemen produksi sampai pemasaran produk. Tanggapan ketiga panelis yang merupakan dosen Ateneo the Manila University sangat baik. Mereka menilai project plan kami sederhana namun terperinci dengan baik sehingga sangat mungkin diaplikasikan.

Malam harinya, aku bersiap-siap mengunakan baju adat Rote, daerah asalku. Sejujurnya, ini pertama kalinya aku memakai baju adat Rote, karena sejak kecil aku memang tidak mau dipusingkan dengan hal-hal seperti itu. Tapi sekarang tak ada pilihan lain. Lagu Bolelebo juga sempat aku nyanyikan bersama seluruh delegasi.

Hari kelima … it’s having fun time! Kami mengunjungi Intramuros, distrik tertua di Manila yang dibangun orang-orang Spanyol pada abad ke-16. Wilayah ini disebut Kota Bertembok. Namanya diambil dari bahasa Latin intramuros, yang berarti “di dalam tembok”. Ia dikelilingi tembok tinggi dan tebal, serta dialiri sebuah sungai kecil.

Selalu merinding ketika memasuki bagian demi bagiannya. Bukan karena ada “hawa-hawa menakutkan” dari alam lain, namun karena dapat menyaksikan peninggalan-peninggalan yang didominasi ornamen Katolik Roma yang sarat nilai seni dan berumur ratusan tahun. Ada patung-patung, juga lukisan raksasa, serta peralatan ibadah umat Katolik. Di kompleks ini juga terdapat Katedral Manila yang amat megah. Kami sempat mencicipi beragam makanan khas Filipina pada waktu makan siang di Mall of Asia.

Saat perjalanan pulang, hatiku kembali menerawang. Kami sudah punya tekat untuk menjangkiti mahasiswa dengan semangat. Semangat kewirausahaan sosial, semangat menciptakan lapangan pekerjaan — bukannya “karyawan” — ini mulai menimbulkan pertanyaan. UKSW sendiri menurut saya punya semangat yang sama jika merujuk pada visi mencetak lulusan dengan ciri creative minority. Mahasiswa melalui program yang dirancang Senat Mahasiswa telah cukup sering melakukan pengabdian masyarakat dalam berbagai bentuk seperti BioCare, Save Our Salatiga, Live in dengan masyarakat desa, bakti sosial, pendampingan belajar dan sebagainya, misalnya saja SMU tahun ini memiliki kegiatan “Kita Untuk Mereka” dengan memberikan pelatihan keterampilan kerja bagi masyrakat salatiga seperti pembuatan tempe, bungkus kado, brownies juga menyetir mobil. Langkah awal yang baik ketika ingin merintis sebuah Social entrepreneurship.

Namun hal yang cukup sulit adalah menjaga keberlanjutan (sustainability) itu sendiri. Butuh waktu panjang jika ingin benar-benar mengabdi pada masyarakat. Dengan segala keterbatasan, selama ini kegiatan-kegiatan mahasiswa sekedar bersifat Hit and run sehingga dampak yang dirasakan masyarakat pun belum terlalu dalam. Dibandingkan “mikirin” orang lain yang tidak punya sangkut paut, lebih baik mengurusi tugas-tugas kuliah atau mengejar beban sks diatas 20 tiap 4 bulan ssudah cukup menghabiskan jam-jam tiap hari. Jika ada sisa waktu, ya… waktunya untuk menghibur diri dari kepenatan kuliah saja. Jalan-jalan kemana gitu. jangLantas kapan punya waktu untuk masyarakat Salatiga? Apakah selama ini “minoritas berdayacipta” telah menjadi ciri para lulusan UKSW? Mari berefleksi diri bersama. Apakah UKSW (dengan segala kepunyaannya) telah mendukung terciptanya minoritas berdayacipta?

Merly Aclin Nuasizta Klaas, mahasiswa Fakultas Psikologi

2 thoughts on “Mabuhay Ng Pilipinas”

  1. Theofransus Litaay says:

    Mei, tulisan yang menarik.

    Yang menarik adalah sebagai sebuah negara yang miskin kandungan sumber daya alamnya, Filipina mampu memelihara daya saing ekonominya melalui sumber daya manusia.

    Itulah sebabnya Filipina sangat menghormati para pekerja migran mereka yang bekerja di luar negeri. Kiriman uang dari mereka mampu menghidupkan ekonomi Filipina. Mengapa bisa demikian? karena mereka dihargai dengan gaji tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja dari Indonesia.

    Proteksi mereka terhadap pekerja migran sangat tinggi. Baik oleh pemerintah maupun LSM. Daya beli pekerja Filipina di luar negeri juga cukup kuat, karena mereka mengisi jenis-jenis pekerjaan profesional, misalnya pekerjaan sebagai perawat (Nurse), babysitter, tukang listrik, dll.

    Kalaupun ada pekerja Filipina yang bekerja sebagai domestic helper / maid (pembantu rumah tangga), maka dapat dipastikan mereka juga memiliki sertifikat training yang diawasi oleh pemerintah Filipina. Bandingkan dengan tenaga kerja Indonesia yang pergi keluar negeri melalui jalur pemalsuan KTP dll, akhirnya menjadi korban majikan yang marah-marah karena sudah membayar mahal ternyata dikibulin oleh agen tenaga kerja.

    Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan untuk memperbaiki kondisi ini. Ini juga tugas UKSW untuk mendalami hal ini dan melahirkan usul-usul bagi perbaikan kondisi tenaga kerja kita. Termasuk melakukan pengorganisasian sosial, demo, dan protes atau dengan kata lain melakukan advokasi terhadap persoalan tersebut.

  2. Merly Aclin says:

    ya. itu akan sangat mendukung segi perekonomian negara.
    dan ada pengalaman yang paling bikin sakit hati, waktu baru sampai di Bandara Soekarno Hatta, langsung diterkam para penipu-penipu money changer dan petugas2 bandara, berbeda jauh ketika di bandara Filipin maupun Singapura

    harusnya perasaan I am home yang saya rasakan , namun sebaliknya
    benar-benar ada perasaan tidak aman ketika berada bangsa sendiri.

    bagaimana jika saya berstatement Filipin lebih menghargai nilai harga diri bangsa mereka dibandingkan kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *