Seorang Pemalu Setelah Pemilu

Browse By

Di bawah nyala sinar lampu redup yang membisu kelu tak berseru sepatah kata, kamu menengokku, menghampiriku, dan menyapaku layaknya seorang pesakitan. Kamu mengenakan jas dusta dan dasi kemunafikan indah dan begitu mengagumkan. Kamu tak ubahnya seperti kawanan tikus pengerat berdasi. Sungguh … aku jijik melihatmu.

Di balik jeruji kisi-kisi besi wajahmu nan berseri tersenyum manis sinis membuat hatiku begitu sesak muak tak terperi.

”Bagaimana kabarmu?” Tanyamu.

”Kamu bisa lihat sendiri!” jawabku ketus.

Kamu mencoba halau galauku dengan sedikit sendau gurau. Tapi kutepis senda gurau palsumu itu. Saat ini aku benar-benar membencimu. Kebencian yang bagai selaksa kecoa busuk menggerogoti tubuhku. Suaramu begitu menggangguku dan membuat perutku mual terasa seperti daging yang direbus. Tolong jangan gelitik dan kili-kili lagi telingaku dengan dongeng omong kosongmu tentang idealisme dan politik. Telingaku begitu geli. Malam ini aku hendak meringkuk tidur nyenyak di atas tikar kemalanganku.

”Memang beginilah politik dan aku telah menjadi bagiannya,” kilahmu.

Ah … kau masih sama saja seperti dulu — dasar pembual. Semuanya tak bermakna karena isimu hanyalah kepura-puraan. Aku berusaha untuk mengacuhkan dan mengusirmu secara halus, namun kamu malah tertawa genit, dan lebih mendekat lagi padahal aku muak, didarahmu mengalir pembicaraan tak bermakna. Aku merasa seperti seorang anak kecil yang dibacakan dongeng antah berantah.

”Hugghh … idealisme … idelisme kaum comberan,” gerutuku.

”Ya … inilah idealisme. Idealisme bagiku,” ucapmu tertawa.

”Hahaha … hahaha,” aku tertawa.

Tawaku membahana menggema dalam ruang kosong sempit ini — lebih keras darimu. Lantas kau terdiam, tersenyum sinis. Kamu tahu ada gurat kecewa tawaku yang menyembulkan pipi membariskan gigi. Kamu tahu garis bibir bengkak retak karena pukulan aparat ini kutarik paksa.

”Kau sudah buta oleh dunia rupanya …” ucapku sinis.

”Kamu salah … malah aku telah melihat. Mataku telah terbuka. Ah … bahkan aku telah menyesal tidak sedari dulu aku melihat dunia ini. Dulu aku buta. Makanya aku juga ingin sekali membuka matamu yang buta itu. Aku ingin kamu menaiki tangga yang sama denganku,” tangkismu.

”Naik tangga yang sama?! Bukankah kamu telah menendang tangga rakyat yang hendak merangkak naik bersamamu. Hentikan serakah serapahmu!” pekikku.

Meski hidup di dalam gelap kemiskinan, aku tak mau gelap mata sepertimu. Aku menyesal telah percaya padamu. Aku sadar percuma berharap pada sisa cahaya di pias mata nurani hatimu. Percuma untuk mengkaji ulang segala falsafah idealisme yang pernah kita cita-citakan dan bahas sewaktu mahasiswa.

”Ternyata selama ini aku salah sangka,” kataku.

”Tentang apa?” Tanyamu penasaran.

Aku diam tak menjawab. Bukan berarti aku mengacuhkanmu. Aku hanya ingin kamu penasaran sejenak. Sampai akhirnya aku menjawab.

”Tentang kita …” jawabku singkat,

Lalu terdiam tak melanjutkan lagi. Kamu terdiam. Matamu yang jalang menerawang kedalaman hatiku. Mencoba meraba-rabanya. Ternyata kamu masih penasaran. Dapat kubaca kejengahan yang sedang melanda hatimu menungguiku berkicau lagi meneruskan perkataanku.

Tapi aku tetap diam. Hingga keheningan diam hanyut melamunkan ku menyelam akan kenangan silam. Entah kenapa aku sangat merindukan saat-saat dulu lagi. Saat-saat sewaktu kita masih dalam ruang lingkup heroik idealisme yang sama.

Dulu di sudut kampus tempatku berkuliah ada sebuah rumah kecil berwarna hijau. Dari rumah kecil berwarna hijau itu para mahasiswa dapat mendengarkan seluruh isi kampus, dan bahkan perpolitikan negara ini. Akan banyak terdengar suara debat dalam rumah kecil yang berwarna hijau itu. Konon rumah kecil berwarna hijau itu telah banyak mencetak pejabat politik yang dulunya adalah mahasiswa-mahasiswa aktivis kampus.

Aku teringat di tahun pertama aku memasuki kuliah, kamu begitu mengesankan. Kamu adalah senior angkatanku. Seringkali kamu mengkritik kebijakan-kebijakan kampus lewat media kampus. Pernah juga kamu memimpin para aktivis kampus yang bermarkas di rumah hijau memboikot sistem kebijakan kampus yang menjadikan mahasiswa sebagai obyek ladang uang kampus.

Saat itu aku hanyalah seorang mahasiswa baru yang haus akan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan pada awal semester. Di rumah hijau kecil, tempat para aktivis kampus itu aku selalu lewat. Hingga akhirnya aku singgah karena rasa ketertarikanku akan dunia aktivis mahasiswa menarikku untuk masuk ke dalam rumah hijau itu mengenal isinya. Dan, mungkin ini juga karena rasa ketertarikanku akan sepak terjangmu di kampus yang seringkali kudengar di antara bisik-bisik mahasiswa, sehingga aku ingin lebih dekat mengenal sosokmu. Di rumah hijau itu awal perkenalan kita.

”Aku Dani,” kataku menyalamimu.

”Aku Badri. Kamu fakultas apa?” Tanyamu.

”Aku Fakutas Ekonomi,” jawabku.

Tak membutuhkan waktu lama untuk mengenal dirimu. Kamu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Politik. Saat itu kita hanya berselisih tiga angkatan.

”Gabung aja di pergerakan kemahasiswaan,” katamu menawariku.

”Pergerakan kemahasiswaan?” Tanyaku masih awam.

”Ya, di sini kita akan meluruskan segala kebijakan-kebijakan dari sistem yang telah melenceng dari relnya. Baik itu sistem kebijakan kampus kita maupun sistem kebijakan perpolitikan negeri ini,” ujarmu.

Awal perkenalan itu semakin membuka pikiranku tentang pergerakan kemahasiswaan. Wajahmu begitu tenang tapi tajam, dan kepandaianmu mengutarakan pikiranmu sangat berkesan dalam gejolak darah mudaku. Suaramu begitu jelas dan tenang membuka pikiranku dan hatiku, membawa gagasan-gagasan yang baru dan membuka dunia baru meliputiku.

Kamu ajari aku sebuah kata ”idealisme”, membenamkannya hingga tertanam dalam otakku. Katamu ”kita harus idealis”. Seringkali kita berdiskusi dan membahas mengenai perjalanan sejarah bangsa ini, tidak ketinggalan juga filsafat-filsafat dari Hegel, Marx dan lainnya. Engkau adalah guruku dalam falsafah idealisme. Kamu telah membakar dan mengobarkan semangat idealisme dalam diriku.

”Aku ingin berjuang seperti, Tan Malaka,” katamu.

”Mengapa, Tan Malaka?” tanyaku.

”Ia seorang nasionalis sejati,” jawabmu.

Kamu juga mengusung filosofi Sam Ratulangi, ”Sitou Timou Tumou Tou” (manusia hidup untuk memanusiakan manusia) dalam setiap perjuangan pergerakan kemahasiswaan. Aku begitu terpana dengan segala paparanmu mengenai idealisme reformasi sistem.

”Tanpa memanusiakan manusia, seorang politikus akan menjadi tiran yang tak berkemanusiaan,” katamu menembus kedalaman hatiku.

Kamu pun mencontohkan Idi Amin, ”Big Daddy” dari Uganda, Ion Antonescu ”Anjing Merah” dari Rumania, Adolf Hitler ”Sang Diktator Fasis” dari Jerman, Joseph Stalin dari Uni Soviet, Mao Tse Tung dari China — mereka semua adalah penguasa-penguasa gila dan tiran-tiran kejam yang menganggap nyawa tidak berarti apa-apa. Bagi mereka, rakyat sekedar tumbal untuk menegakkan ambisi kekuasaannya.

Kamu aktif juga dalam barisan Mahasiswa Indonesia yang giat usaha untuk kemajuan bangsa. Bagiku, kamu adalah sebuah bintang di antara banyak mahasiswa yang berkilauan. Kamu selalu mengajak aku serta aktivis kampus lainnya untuk mendemo pejabat-pejabat negeri yang korup dan penyengsara rakyat. Mengkritik pedas abis mereka. Tak ayal aparatur negara musuhmu, dan penjara langgananmu. Aku, para aktivis kampus sepakat menjuluki kamu ”sang idealis sejati”.

Aku masih ingat tatkala itu. Kamu memimpin para aktivis mahasiswa kampus kita untuk bergabung dengan mahasiswa kampus lainnya menduduki Gedung MPR/DPR. Memaksa rezim yang berkuasa dengan tangan raksasa saat itu untuk mengundurkan diri. Bersama dengan rakyat kita teriakan yel-yel reformasi.

Sampai suatu saat setelah kamu lulus kuliah menggondol embel-embel gelar sarjana di belakang namamu, kamu menyerahkan tampuk kepemimpinan aktivis kampus ke dalam tanganku.

”Tolong kaderisasi para mahasiswa baru. Teruskan idealisme yang telah kita bangun,” ujarmu, menepuk pundakku.

Pemilu semakin dekat, hingga kudengar sebuah partai meminangmu sebagai calon legeslatif DPR. Aku pun sangat gembira mendengarnya. Bersama para aktivis pergerakan mahasiswa, kami sepakat untuk mengusung dan memuluskan jalanmu agar menang dalam kancah persaingan politik Pesta Demokrasi, yang kini DPR-nya dipilih langsung oleh rakyat.

”Masa depan bangsa sepenuhnya tergantung pada wakil rakyat yang berdiri dalam lingkup kedaulatan rakyat. Seorang wakil rakyat seharusnya mewakili aspirasi rakyat, bukannya anti pada aspirasi rakyat. Setelah menjadi DPR, saya akan mengemban amanat rakyat, pro pada aspirasi rakyat. Saya tidak akan korupsi.”pidatomu, dalam setiap kampanye sepenuhnya sangat meyakinkan rakyat.

Aku pun juga meyakinkan rekan-rekan mahasiswa untuk memilihmu. Aku menceritakan kepada rekan-rekan mahasiswa baru, bahwa kamu layak untuk duduk menjadi anggota DPR. Akhirnya, jadilah engkau anggota legislatif. Kita merayakannya bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa yang menjadi tim sukses keberhasilanmu, dengan makan sate ayam di pinggir jalan.

”Aku berjanji akan berusaha membenahi sistem yang korup ini,” katamu.

”Tolong kamu jangan kecewakan kami dan permalukan kami yang telah mendukungmu dalam Pemilu,” ucapku.

”Tenang saja. Bara idealisme masih tetap ada dalam diriku,” ucapmu.

Tak terasa setahun telah berlalu …. Pagi itu kubaca sebuah koran di teras kosku. Bagaikan disambar petir di pagi hari. Namamu tertera di koran dalam dugaan kasus skandal korupsi percepatan ijin tender proyek pelabuhan. Dalam koran itu tertulis kamu tertangkap tangan bersama direktur yang menangani proyek tersebut di sebuah restaurant.

Dan, yang lebih ironisnya lagi, untuk menutupi kejahatanmu, kamu bungkam mulut pengadilan dengan uang harammu. Kamu bekukan kasusmu agar membisu dalam putaran waktu.

Aku dan rekan-rekan mahasiswa pengusungmu sungguh malu. Selintingan-selintingan tidak mengenakkan di dalam kampus seringkali terdengar di telinga kami.

”Eh … itu kan tim suksesnya Badri sewaktu Pemilu lalu, dasar antek-antek koruptor, hughhh … gayanya saja sok idealis.” bisik kasak-kusuk mahasiswa di kampusku.

Aku sungguh jengkel dengan kasak-kusuk semacam itu. Akhirnya, bersama para aktivis mahasiswa kupimpin demo. Aku cerca kamu habis-habisan. Atas perintahmu, aparat penjarakan aku atas tuduhan provokasi mengganggu keamanan publik. Ternyata kamu sungguh licik.

***

”Tentang kita?” Tanyamu, seraya mendekatiku.

”Ya, kita,” ujarku. ”Idealisme kita.” tegasku.

”Aku korupsi untuk membahagiakan keluargaku, aku ingin anakku kelak sekolah di luar negeri. Apakah itu salah?” Kilahmu.

”Salah! Lantas bagaimana dengan jutaan keluarga sengsara yang lainnya? Bagaimana dengan anak-anak yang putus sekolah di negeri ini? Aku sungguh malu pada semua orang ….”

”Malu pada semua orang?” Tanyamu.

”Ya, malu karena telah mengusung orang sepertimu duduk dalam kursi DPR.”

Kamu tak menanggapi, hanya tersenyum, lantas membakar sigaret. Mulutmu nganga meniupkan asapnya yang rimbun ke udara. Lantas kamu menawariku sigaret, tapi aku menolaknya.

”Besok kamu akan kubebaskan, tolong hentikan aksi-aksi demo kalian!”

”Perjuanganku tak akan pernah berhenti,” kataku.

”Dasar keras kepala!” gerutumu.

Tiga hari sudah aku meringkuk membungkuk di dalam kamar berdiameter tiga kali tiga ini. Sejak kau meringkusku seperti seekor tikus dalam kardus, aku hanya bisa berkhayal dalam kamar sempit berkakus terbungkus oleh tipu daya muslihat idealisme kaum comberan sepertimu.

Dibalik jeruji besi, kamu tertawa sinis, melangkah pergi meninggalkanku layaknya seorang pecundang yang kalah. ”Jadi orang jangan terlalu idealis!” itu katamu menusuk gendang telingaku merasuk masuk ngilu rasa sakit hatiku.

Ternyata selama ini aku telah salah menginterprestasikan bahasa idealismemu. Kini aku telah menjadi seorang pemalu setelah pemilu karena mengusungmu wahai orang yang tak tahu malu.

Teddy Delano, mahasiswa Fakultas Ekonomi

4 thoughts on “Seorang Pemalu Setelah Pemilu”

  1. yue says:

    memakai jas dusta dan dasi kemunafikan…. satu lagi karya teddy yang membuatku berdecak, serasa menyetrumku untuk selalu ingin menulis…

  2. yue says:

    cerita ini mengingatkanku pada sebuah film lama yang berjudul “kampus biru”, kalau tidak salah. dunia politik yang begitu kejam, menurut saya. begitu buta mambedakan mana kawan mana lawan.. seperti perjalanan cakramanggilingan.. setiap jaman selalu ada cerita yang sama. hanya berganti topeng wajah yang sedikit berbeda.

  3. she'lie says:

    pilihan kata yang sangat LUAR BIASA bagiku……………d’BEST

  4. novida says:

    menurutku kata-kata yang digunakan sangat tepat utk menggambarkan situasi dan kondisi..
    jd melahirkan tulisan yang keren..
    🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *