Ketua Senat Mahasiswa Minim Peminat

Browse By

Mengikuti aturan yang tercantum dalam Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) tentang pemilihan ketua Senat Mahasiswa (SEMA), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) baru saja melakukan pemilihan ketua SEMA baru, periode 2009/2010 pada Senin (3/7), di depan kantor FISIPOL.

Pada pemilihan kali ini, hanya ada satu kandidat yang mencalonkan diri menjadi ketua senat yaitu Robby Juan A. Ia adalah mahasiswa program studi komunikasi angkatan 2008.

Sebelum pemilihan dilakukan, terlebih dahulu kandidat calon ketua senat memaparkan visi dan misinya dalam kampanye terbuka dihadapan beberapa mahasiswa FISIPOL yang lain. Kemudian dilanjutkan tanya jawab antara calon ketua dan beberapa mahasiswa yang menyaksikan kampanye terbuka tersebut.

Dalam pemaparan visi-misinya, salah satu visi yang dibawakan oleh Robby adalah ingin menjadikan SEMA FISIPOL berdaya guna dan creative minority.

Menurut keterangan Alfina K. Mahar (Risa)—ketua SEMA periode 2008/2009—mengenai hanya satu kandidat yang mencalonkan diri, “Sudah ada lima kader yang dipersiapkan untuk dicalonkan sebagai ketua SEMA yang baru. Namun, pada saat bursa pendaftaran dibuka hanya Robby yang berani mencalonkan diri. Jadi, pengkaderan itu tidak gagal, hanya keempat calon mundur dengan alasan masing-masing”.

“Sikap apatis mahasiswa terhadap Lembaga Kemahasiswaan (LK) sebenarnya disebabkan karena kebanyakan mahasiswa melihat citra yang dibangun LK FISIPOL buruk” tambahnya.

Sunandar Silas Selan salah satu anggota satuan tugas pemilihan ketua SEMA periode 2009/2010 menuturkan, tak masalah hanya satu kandidat yang mencalonkan diri menjadi ketua SEMA. “Karena SEMA FISIPOL hanya butuh orang yang punya tanggung jawab dan komitmen terhadap mahasiswa dan fakultas” tandasnya.

Usai pemaparan visi-misi dan tanya jawab acara dilanjutkan dengan pengukuhan dan serah terima jabatan dari Alfina K. Mahar (Risa) kepada Robby Juan A—ketua SEMA terpilih periode 2009/2010.

Usai acara pemilihan, ketua terpilih Robby Juan A menuturkan, “Untuk menghilangkan sikap apatis mahasiswa terhadap LK, saya akan memulai dari bawah, mencari tahu apa kebutuhan mahasiswa. Baru setelah tahu apa kebutuhan mahasiswa, kita penuhi kebutuhan mahasiswa”.

Tak berbeda dengan Fakultas Hukum

Pemilihan ketua SEMA FISIPOL—periode jabatan 2009/2010—sama seperti yang terjadi di Fakultas Hukum—diikuti satu calon/kandidat.

Leny Debora—ketua SEMA periode 2008/2009—menuturkan, “Hanya satu calon yang maju menjadi ketua SEMA Fakultas Hukum bukan disebabkan karena sikap apatis mahasiswa terhadap LK dan juga bukan karena tidak ada kader”.

“Sebenarnya sikap apatis sedikit banyak sudah tidak jadi kendala di LK Fakultas Hukum, mereka antusias masuk LK, apalagi mahasiswa angkatan 2008, beberapa anggota SEMA sendiri memang sengaja tidak mencalonkan diri tapi mendukung calonnya yang mencalonkan diri.” tambahnya.

“Menurut saya, hanya satu atau dua calon atau banyak, bukan masalah asalkan antara yang satu dengan yang lain saling mendukung” tandasnya.

Satu-satunya kandidat dalam pemilihan ketua SEMA Fakultas Hukum yang dimaksud adalah Roberto. O. C. Seba, sekaligus ketua SEMA Fakultas Hukum terpilih periode 2009/2010. Ia adalah mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2006.

23 thoughts on “Ketua Senat Mahasiswa Minim Peminat”

  1. yoga says:

    Mungkin coba menawarkan usulan, para fungsionaris LK saat ini membuat sebuah forum mengundang mantan2 orang LK dulu yang saat ini masih ada di UKSW untuk sekedar sharing atau meminta usulan2 untuk mengembangkan LK fakultas maupun universitas

  2. Neil says:

    Masalah klasik…

    Poin yang saya mau angkat adalah begini… Salah satu argumen kembalinya UKSW ke semester, dari trimester, adalah argumen kemahasiswaan. Kalau tidak salah dulu dikatakan, kalau trimester, tidak ada waktu untuk LK dan kegiatannya (implikasinya, kalau lembaga aktif berkegiatan, maka roda organisasi akan berjalan baik dari waktu ke waktu sehingga masalah regenerasi kepemimpinan harusnya bukan masalah). LK juga tampak cukup getol berargumen demikian, mendukung pimpinan Universitas dari sudut kepentingannya. Namun, fenomena ini tentu membuat kita bertanya, apa iya dulu trimester mematikan LK? Apa sih sesungguhnya masalah LK dan kemahasiswaan pada umumnya? Kesimpulan (sementara) saya adalah, trimester telah pernah dikambinghitamkan. Sayang sekali LK sendiri pulalah yang ikut mengambinghitamkannya akhirnya membuktikan di lain waktu bahwa sekalipun kambing hitamnya sudah diusir, masalah tetap saja sama.

    Well, kita ini orang kampus, kalau mau analisis sebuah fenomena problematik ya mbok hati-hati, mikir-mikir dulu. Rasionalitasnya diperlukan, gitulah. Memang membuktikan sesuatu hal butuh waktu, tetapi kita ini masih punya akal sehat atau nalar, seterbatas apapun itu. Saya adalah orang yang waktu itu bertanya dan berkeras mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara kehidupan LK (termasuk masalah regenerasi kepemimpinan) dengan trimester. Bahkan, saya berani berargumen, bahwa kalau trimester dikelola dengan baik, mestinya kehidupan LK bisa lebih dinamis, karena justru beban total aktivitas akademik dalam trimester lebih rendah dari semester, apalagi kalau semesternya dijalankan dengan benar atau sungguh2 sesuai aturannya. Dulu ada argumen, kalau libur panjang, maka kegiatan mahasiswa stop. Trimester justru mengurangi waktu2 libur yang “kepanjangan” itu.

    Jadi, paling tidak sudah beberapa bukti saya terima yang menunjukkan bahwa ternyata argumen2 yang dibangun saat mematahkan trimester dan menggantinya dengan semester, cuma angan2 pembuat argumennya (yang lain adalah kalau jalan dengan trimester, maka akreditasi progdi2 akan turun, ealah kembali ke semester, malah FH jeblok dari A ke C, padahal TI yang baru justru mendapat B saat trimester, bahkan kini masih trimester). Kasarnya, argumen2 itu cuma bualan karena kita kini membuktikan lagi bahwa semester tidak berkontribusi pada suatu kondisi yang secara signifikan lebih baik dari trimester.

    Jadi, untuk LK, hati-hati ya ikut ambil bagian dalam perpolitikan kampus. Kalau cuma membeo sikap2 tertentu dengan membawa2 argumen khas LK, kalian sekarang membuktikan bahwa kalian sendiri gagal membuktikannya.

    Soal interests mahasiswa ke LK, di atas saya sudah katakan itu masalah klasik. Itu refleksi dari confident dan legitimate tidaknya LK sebagai institusi untuk menjadi magnet keterlibatan mahasiswa. Untuk apa sih (apa advantages) seseorang menjadi pengurus LK, apalagi jadi ketua SEMA/SMU? Kalau tidak ada clear evidence bahwa “benefits” yang diterima lebih besar dari segala macam “costs” yang dipikul individu yang terlibat ya akan cukup repot. Dan, dari pengalaman saya, fenomenanya jauh lebih besar dari sekedar melihat LK hanya sebagai tempat melakukan kegiatan2. Apa sih perjuangan moral LK sebagai sebuah lembaga? Melihat lembaga yang konsisten dengan idealisme-nya (idealisme UKSW) dan tersedianya banyak opportunities to grow as a whole-person dan juga dinamis (dan progresif)-nya LK sebagai organisasi dan komunitas kemahasiswaan secara umum adalah sejumlah daya tarik mengapa orang mau terlibat di dalamnya. Kalau cuma sekedar tempat berkegiatan, ada banyak alternatif lain. LK UKSW harus merapikan positioning-nya dan bertumbuh dari karakternya sendiri. Itulah mengapa saya kaitkan isu idealisme UKSW. Kami ingin lihat LK tampil dalam wujud yang baru, sesuai karakter kelembagaannya.

    Tahun 1993 ketika saya menjadi ketua SMU, fenomenanya hampir sama, hampir tidak ada orang mau maju menjadi calon ketua SMU. Calon2 yang akhirnya maju harus didorong2 dulu, karena dengan alasan masing2 tidak ada yang maju secara sukarela. Tahun 1992, ketika rekan saya Teddy Weohau menjadi ketua SMU juga hanya dia yang menjadi kandidat. Tahun 1994 ketika kepemimpinan saya dan teman2 (seperti pak Umbu Rauta) digantikan, paling tidak 3 orang rekan lain maju secara sukarela berkompetisi menjadi ketua SMU, padahal UKSW baru saja dihantam konflik besar dan LK sebagai satu kesatuan pun pincang dihantam pembekuan sejumlah LK di tingkat fakultas. Ini bukan berarti kesuksesan pribadi2, tetapi kesuksesan LK membangun interests anggota2nya untuk memikul tanggung jawab meneruskan kepemimpinan mahasiswa melalui LK di tengah kesulitan.

    Menjadi pemimpin bukan hal mudah karena tanggung jawab yang dipikulnya besar, to make a difference, something better than before (bukan soal kapabilitas si pemimpin itu yang dinilai lebih hebat dari orang lain sebelumnya tetapi perspektif dan realitas organisasinya menjadi berubah lebih baik, dari sudut tertentu). Namun, justru karena tanggung jawab itulah orang mau memimpin, bukan karena enaknya jadi pemimpin sehingga punya privileges ini itu, tetapi karena kepuasan bila mana tantangan dan tanggung jawab itu bisa dijawab. Jika pemimpin bisa mewariskan pola pikir demikian, mudah2an problematika regenerasi bisa diatasi, justru karena orang terpanggil memikul tanggung jawab to make a better future bagi organisasinya, bagi komunitasnya. Semoga.

  3. Yoyok 2003 says:

    Menurut saya sih memang SEMA di beberapa fakultasdi UKSW agak kurang mendapat animo yang baik di kalangan mahasiswa. Mengapa? Karena, imho, senat mahasiswa itu implementasinya lebih bersifat kabinet atau “pejabat” yang mewakili mahasiswa — namun mungkin tidak bisa seutuhnya membela kepentingan mahasiswa — tidak lagi menjadi organisasi (milik) mahasiswa fakultas.

    Malahan beberapa fungsionaris SEMA memanfaatkan kedudukannya untuk melatih diri menjadi koruptor kecil-kecilan dengan menyalahgunakan uang anggaran kegiatan. Lalu bagaimana mahasiswa-mahasiswa mau peduli? Salut dan angkat topi untuk orang2 yang masih mau peduli dengan SEMA dan menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai fungsionaris SEMA dengan baik. Tuhan memberkati..

  4. EdHo BiNTeR says:

    LK UKSW maupun LKF, semuanya kini mati suri. Atau bahkan hidup enggan, mati pun tak mau. Pengkaderan pun kandas diatas kepentingan-kepentingan pemimpin kampus. Apalagi lagi sampai ada mahasiswa yang mau mengikuti secara begitu saja keinginan pemimpin kampus. Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya dan ditarik kemanapun sukanya pemimpin kampus.

    Tidak ada sikap elegan dan profesionalitas serta upaya mengkaderkan calon pemimpin mahasiswa yang memiliki daya kritis tinggi. Daya kritis itu sepertinya tenggelam seiring keegoisan pemimpin kampus yang meninggi. Hanya karena perasaan suka dan tidak suka mereka mampu menanggalkan keprofesionalan mereka. Ironis dan sangat ironis

    LK kalian harapan kami mahasiswa. Tapi kalau masih seperti sekarang LK berjalan, mohon maaf, kita akan hancur secara perlahan-lahan. Saya tidak meminta kita untuk menjadi pemberontak, tapi kritisi setiap kebijakan yang dibuat. Sehingga kita menempati posisi kita selayaknya sebagai seorang akademisi.

    Harapan yang besar agar LK jangan hanya tinggal memory yang dikenang oleh kejayaannya. Bagaikan Yesus yang kini hanya mati di dalam Alkitab, tetapi tidak mampu dihidupkan dalam kehidupan orang-orang yang mengaku percaya kepada-Nya.

  5. Andre says:

    Kak Neil, tapi tidak serta merta bahwa tolok ukur suksesnya LK adalah banyak orang yang mencalonkan diri jadi etua kan?heheheheheh……

  6. Neil says:

    @Andre,

    Jelas tidak. Saya tidak membahas isu performance LK secara keseluruhan, karena itu berarti meluas skopanya dan berimplikasi pada keterbukaan atas contributing factors-nya. Jadi, pokok kajian di atas hanya soal mengapa fenomena klasik itu tetap berulang dan argumen balik saya atas tudingan bahwa trimester adalah faktor pengganggu aktivitas/kelangsungan hidup LK, termasuk di dalamnya akhirnya soal daya tarik LK dan regenerasi kepemimpinan.

  7. EdHo BiNTeR says:

    @ Andre: Iya juga sih Ndre… Tapi ingat dalam SPPM ada yang namanya “Pengkaderan”. Ketika pemilihan Ketua SMU ataupun SEMA yang mencalonkan hanya 1 orang, itu berarti ada permasalahan dengan pengkaderan. Ketika ada masalah seperti itu LK dikatakan tidak berhasil…

    Damai UKSW….

  8. Ricko says:

    @Om Neil: Om, saya agak bingung dengan komentar Anda bahwa “trimester telah pernah dikambinghitamkan” oleh LK…

    Bagaimana maksudnya???

    Apakah fenomena “ketua SEMA minim peminat” ini juga bisa karena imbas dari sistem SEMESTER yang oleh beberapa LK juga sepertinya “dikambing hitamkan” dengan alasan “SEMESTER PENGAYAAN” banyak mahasiswa yang pilih pulang kampung sehingga regenerasi LK (yang umumnya pada bulan JULI-AGUSTUS) menjadi terkesan “mati” dan tidak ada peminat (karena alasan banyak mahasiswa pulang)???
    Sepertinya ini menarik sekali untuk dikaji apalagi membaca komentar RISSA (mantan ketum SEMA FISIPOL) yang mengatakan

    Sikap apatis mahasiswa terhadap Lembaga Kemahasiswaan (LK) sebenarnya disebabkan karena kebanyakan mahasiswa melihat citra yang dibangun LK FISIPOL buruk

    jadi terkesan bahwa yang menyebabkan ke-apatis-an mahasiswa adalah LK sendiri, bagaimana itu???

    thnx

  9. Neil says:

    @Ricko..

    Sewaktu UKSW memutuskan berbalik dari trimester ke semester, dari lingkungan LK saya dengar dukungan terhadap keputusan itu dengan alasan bahwa trimester membuat kehidupan LK dan kegiatan kemahasiswaan sulit berkembang atau malah mengalami tekanan. Saya merespon tidak sependapat dengan pemikiran seperti itu dengan sejumlah alasan/kalkulasi (bisa juga melihat kalkulasi yang pernah dibuat Prof. Titaley berkaitan dengan konsumsi waktu belajar dan aktivitas pengembangan diri dalam model trimester). Namun, opini bahwa trimester “mengganggu” LK cukup berkembang di masa itu, dan itulah yang saya katakan “trimester telah dikambinghitamkan”.

    Soal trimester telah dikambinghitamkan bukan semata soal LK di atas, tetapi misalnya ada alasan atau kekhawatiran sebagian kalangan “elit” bahwa “kalau terus jalan dengan trimester, maka izin2 operasional dan peringkat akreditasi program2 studi akan dipersoalkan atau diturunkan.” Di situlah contoh saya tentang progdi2 di FTI, dibandingkan dengan progdi ilmu hukum di FH.

    Jadi, intinya bukan trimester yang menjadi penyebab masalah2 di tubuh LK. Trimester tidak ada kaitan pula dengan capaian akreditas progdi. Karena itulah ia telah dikambinghitamkan untuk menutupi preferensi pribadi sejumlah kalangan yang menggunakan alasan-alasan itu untuk mendasari keputusan mereka. Sangat disayangkan adalah keputusan itu bukan duduk di atas pertimbangan-pertimbangan pedagogik, manajemen/kepentingan menyeluruh dari universitas dan tidak pula duduk di atas perdebatan konseptual yang elegan.

    Jadi, saya pikir ada baiknya LK melakukan refleksi kritis, “ada masalah apa pada diriku?” Lontaran pendapatmu, juga Rissa, barangkali bisa saja menjelaskan sebagian fenomena masalah. Namun, saya kira lebih tepat jika itu dikaji secara lebih menyeluruh, Itu harus kembali ditempatkan pada konteks skenario UKSW tentang pengembangan mahasiswa, juga terkait dengan perubahan-perubahan lingkungan. Pemosisian kembali LK dalam konstelasi yang berubah harusnya membawa implikasi pada perwajahan LK secara empirik, termasuk pada program2 dan sistem2nya. Tidak ada jawaban “manjur” dari saya, cuma jawaban dari pergulatan pikir LK sendiri-lah yang semoga bisa mengarahkan LK pada “track baru”. Masalah pasti datang silih berganti, namun respon yang tepat itu yang diperlukan, bukan main2 kambing hitam.

  10. Neil says:

    Pernyataan “Trimester tidak ada kaitan pula dengan capaian akreditas progdi” hendaknya dibaca dalam konteks tudingan pihak2 yang saya maksud. Jelas pilihan menjalankan trimester adalah upaya untuk mendorong capaian akademik yang lebih baik, baik pada program2 studi, maupun mahasiswa, serta UKSW secara keseluruhan.

  11. Theofransus Litaay says:

    Sharing cerita lama, pada waktu pengkaderan LK berjalan dengan bagus tidak selalu menjamin bahwa pencalonan akan diminati oleh banyak orang namun pengkaderan berjalan baik.

    Pada tahun 1989, pencalonan Ketua BKK (bentuk lama SMU) diikuti oleh banyak kandidat.

    Pada tahun 1990, hanya diikuti oleh calon tunggal (mas Dharma Palekahelu).

    Tetapi pada waktu itu memang pengkaderan semakin ketat, sehingga orang yang muncul sebagai Ketua SMU adalah kader terbaik dalam hal visi kepemimpinan dan idealisme UKSW, kemampuan akademik, dan pengalaman berorganisasi intra dan ekstra kampus, serta berprestasi dalam LLKM.

    Selain itu setiap fungsionaris LK harus lulus LDKM. Itu syarat minimal untuk menjadi Anggota Departemen di SMU atau Anggota Seksi di SEMA.

    Kemudian, untuk menjadi Ketua Bidang harus minimal lulus LMKM atau LLKM.

    Sedangkan untuk menjadi Ketua SMU, BPMU, SEMA dan BPMF, harus sudah lulus LLKM (sertifikat kelulusan menjadi syarat pendaftaran). Bahkan Ketua SMU dan BPMU harus dari 10 besar peserta terbaik LLKM.

    Dari peserta LDKM, hanya yang menempati 10 terbaik yang boleh mengikuti LMKM. Top 20 LMKM boleh mengikuti LLKM.

    Jadi persoalan terbesar menurut saya ada pada SISTEM pengkaderannya.

    Saya masih ingat, bahwa untuk setiap proposal LDKM yang diajukan kepada SMU itu terjadi dialog bahkan debat seru dengan Departemen Pengkaderan dan Ketua Bidang II.

    Sampai pernah juga terjadi derai-derai air mata dari SEMA yang proposalnya tidak disetujui SMU gara-gara dalam proposal tidak tercantum materi “Kepemimpinan Kristen” misalnya atau materi “Idealisme UKSW.”

    Sistem Pengkaderan harus diperlakukan sebagai urusan LK sebagai salah satu Sub-Sistem dari UKSW, bukan sekedar tempat latihan berorganisasi. Oleh karena itu, personalia Departemen Pengkaderan dan personalia Ketua Bidang II harus orang yang smart dan bright secara organisasi.

    Kita harus serius memperlakukan LK, jangan sekedar dilihat sebagai klub mahasiswa mengisi waktu luang, tapi harus sebagai Wadah tempat mempersiapkan Pemimpin UKSW masa depan.

    Jadi kualitas kader harus sangat diperhatikan.

  12. D. R. Nugroho says:

    mengingat apakah LK sekarang mati atau tidak semua itu tergantung bagaimana LK menunjukan eksistensinya sebagai satu2nya wadah aspirasi mahasiswa. entah saat pemilihan pemimpin LK mulai kurang diminati, itu cuma salah satu argumentasi dari banyaknya argumen yang mengiringi masalah ini. malah yang saya takutkan memang diproses pengkaderannya dan adanya unsur ketakutan atau kecemasan untuk menjadi pemimpin yang memimpin lembaga kemahasiswaan. usul saya hampir senada dengan @Yoga adl pimpinan LK bisa berkumpul bersama maksimal dengan pimpinan tiga periode yang sebelumnya, karena disini inigin mencari relevansi masalah apa yang sebenarnya terjadi.
    saya kurang bersepakat kalau LK mati buktinya kami yang didalam masih ada, mungin kata-kata seperti mati suri adalah salah satu kiasan yang nyatanya memang terjadi disalah satu sudut pandang. tapi dipahami adalah LK takkan mati, selama mahasiswa masih ada dan bersepakat dalam suatu persekutuan, “LEMBAGA KEMAHASISWAAN” takkan mati.
    masalah yang saya lihat sebenarnya adalah kurang mampunya manajemen waktu dari fungsionaris LK, padahal dengan masuk di LK akan melattih mereka tentang time managemen.
    tapi saran saya kita jangan mudah mengambil kesimpulan tetapi mari kita lebih memikirkan dan melakukan solusi apa yg terbaik untuk lebih mengenalkan dan tetap mempertahankan kejayaan LK pada mahasiswa

  13. yoga says:

    D.R. Nugroho@: Sepertinya senior-senior yang pernah duduk di LK tingkat fakultas maupun tingkat universitas banyak yang masih tinggal di UKSW. dan sepertinya mereka juga mau ketika diminta untuk sumbangsih pemikiran terhadap LK, akan tetapi pertanyaannya apakah orang-orang yang duduk di LK saat ini mau membuka diri untuk sekedar sharing atau bertukar pengalaman kepada senior-senior yang pernah menghuni LK? sepertinya tidak ada salahnya jika orang-orang yang menjadi penghuni LK saat ini membuka diri untuk sekedar sharing dengan senior-senior yang pernah menghuni LK guna menjadikan LK lebih baik. Terimakasih kepada penghuni-penghuni LK yang dulu maupun yang sekarang karena telah mau menjadi pelayan bagi mahasiswa UKSW, terimakasih atas kerja keras kalian.

    Salam,

  14. dian ade permana says:

    LK emang gak akan mati..
    tapi juga akan tetap seperti itu dan ini..
    karena tidak ada perbaikan yang benar-benar baik..upaya perbaikan yang dilakukan oleh kader LK tidak bisa tuntas….karena ketua hanya satu periode…padahal perbaikan membutuhkan waktu dan proses yang tidak sebentar..

    tetap harus semangat…

  15. Theofransus Litaay says:

    Soal interaksi junior-senior ini, saya punya pengalaman untuk dibagikan. Pertama kali saya mengenal orang-orang seperti mas Sampurno, pak Ferry Karwur, mas Darmanto, mas Ferry Revino, dll itu justru melalui kegiatan LK. Mereka biasanya terlibat sebagai Steering Committee dalam berbagai kegiatan LK, meskipun mereka sudah bekerja sebagai dosen. Kontribusi mereka dalam banyak hal mampu mengangkat mutu kegiatan LK. Para senior itu memang dilibatkan dalam posisi Steering Committee untuk banyak kegiatan, khususnya yang penting dan membawa nama universitas. Terakhir kali kami dilibatkan adalah pada waktu Pekan Ilmiah Mahasiswa tahun 2004 atau 2005 (lupa). Hasil kegiatannya bisa dibaca sudah terbit dalam bentuk buku berisi hasil-hasil penelitian tentang Rawa Pening (bisa ditrack via google.).

  16. Ricq says:

    kurangnya minat mahasiswa di LK menjadi persoalan serius yang harus dicermati. LK merupakan wadah pengkaderan yang efektif (persoalan efesien, merupakan persoalan individu), dan jika suatu saat LK “mati” karena ketidakadaanya kader yang mau jadi pemimpin, maka tanggung jawab civitas untuk mengevaluasi kembali “Ada apa dengan bentuk kurikulum pengkaderan kepemimpinan di UKSW?”
    evaluasi dipakai sebagai bentuk belajar dari masa lalu, dan memotivasi untuk masa kedepan.
    Dengan kondisi yang tampak ini, sudah saatnya LK mengevaluasi dan mengajak kembali semua kader dan mantan fungsionaris LK untuk melakukan semacam “ret reat”, untuk menempatkan kembali LK diposisinya & pada perannya. hal ini dilakukan bukan untuk mencari kesalahan atau kegagalan, namun menciptakan peluang UKSW untuk mencetak kader pemimpin dimasa depan….bravo LK UKSW…bravo UKSW
    hal yang perlu dicermati bagi LK kedepan ada belajar dari pengalaman, karena pengalaman adalah guru paling berharga, jika kita bijak dalam melihatnya…

  17. Ferry Roen says:

    pemilihan langsung aja. pasti banyak kader banyak peminat. emang udah saatnya brubah.

  18. Theodorus Sibarani says:

    Untuk calon Ketum SEMA periode 2009-2010 dari fakultas Teologi, mulai tahun 2007 s/d sekarang peminatnya cukup banyak. Menurut saya, mahasiswa fakultas Teologi sudah menyadari keterlibatan mahasiswa dalam akses yang lebih luas di tingkat fakultas. Hal ini mendorong beberapa elite LK yang memiliki “kepentingan” bermain di belakang pemilihan pengurus LK (baik BPMF maupun SEMA). Saya pernah menjadi calon Ketum SEMA periode 2007-2008, tapi mengalami kegagalan. Setelah saya pelajari letak kegagalan, ternyata ada setting-an yang sengaja memenangkan calon tunggal KETUM SEMA. Lagi-lagi di sini elite LKF Teologi bermain. Walau begitu saya tidak protes, karena calon lain yang naik teman dekat saya. Walau begitu, saya mencoba mempelajari politik LKF Teologi periode 2008-2009. Saya mendapatkan informasi, ternyata BPMF Teologi periode 2008-2009 telah memiliki calon tunggal untuk Ketum SEMA periode 2008-2009. Untuk tahun ini, ketika saya mengikuti perkembangan, ternyata lebih hangat lagi. Sampai dengan bulan September, Ketum SEMA fakultas teologi belum terbentuk.

    Faktornya adalah BPMF periode 2009-2010 yang terbentuk telat membentuk SATGAS Pemilihan KETUM SEMA, dampaknya : BURSA KETUM SEMA FAKULTAS TEOLOGI UKSW cuma dibuka selama 28 JAM..WUAW..HEBAT KHAN LKF TEOLOGI???

    Sampai Pemilihan berlangsung, ternyata ada salah satu calon yang belum menggumpulkan syarat, dan tetap diizinkan maju. WUAW..HEBAT KHAN LKF TEOLOGI???penuh pengampunan dosa???

    Setelah kampaye berlangsung, pemilihan lewat sidang tertutup dilaksanakan. Sidang tertutup berlangsung dari sekitar pukul 20.10 WIB s/d 23.45 WIB..WUAW HEBAT KHAN LKF TEOLOGI???

    Tafsiran saya (karena saya anak teologi), mengapa bisa berlangsung lama?? faktornya adalah suara elite LK pecah 2. Alhasil, elite LKF Teologi memiliki 2 calon tunggal. Kedua ciri khas calon KETUM SEMA LKF Teologi itu, yang satu penuh ideologi (tapi tidak punya dasar yang kuat) dan yang satu, tidak memiliki wawasan politik LK yang kuat. Tentunya Elite BPMF susah mencari KETUM yang gampang diatur. Walau begitu muncul juga satu nama. Pertanyaannya, nyamankah KETUM BPMF LKF Teologi 2009-2010 bersanding dengan KETUM SEMA Teologi 2009-2010? Atau seperti lagu Project Pop, terpaksa diperjalanan makan kawan????

    Hanya satu jawaban saya, LKF Teologi DIPERCAYA???? ALasannya mewakili suara mahasiswa fakultas teologi. Masakan mahasiswa fakultas teologi memili ketua DPRD-nya yang mencaci maki almamater fakultas teologi UKSW??? MANA MUNGKIN, selain kerjaan LKF Teologi?!

    Itulah informasi dari saya, selaku pengamat perkembangan LKF Teologi. Shallom!!!!!

  19. Titus says:

    itu semua berkaitan dengan kaderisasi…introspeksi lah…

  20. G_R says:

    Theodorus Sibarani @ : saya ingin menanggapi tentang permasalahan pemilihan ketua Sema pada periode 2007-2008, di situ anda mengatakan anda sudah mengetahui bahwa terjadi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi, tetapi anda tidak melakukan protes hanya karena teman baik. saya rasa jika anda ingin menegakkan keadilan jangan setengah-setengah donk jgn karena hanya sebatas teman baik anda tidak melakukan protes…..APA KATA DUNIA…….kemudian masalah pemilihan Sema pada periode 2008/2009 telah berlangsung dengan sah dimana ketika rapat tertutup yang dilakukan oleh anggota BPMF Teologi dilakukan dengan musyawarah kok…….klo mau bukti silakan minta notulen pada satgas pemilihan pada Tahun 2008………sedangkan untuk ketua BPMF pada periode ini apakah anda memiliki bukti yang kuat bahwa ketua BPMF periode sekarang pernah menghina almamater sendiri??? terus terang saya kurang setuju dengan pernyataan anda, yang ternyata menjelek-jelekan Almamater sendiri…….mari kita bangun bersama-sama LK aras Fakultas, Fakultas Teologi kearah yang lebih baik………..bang jgn marah ya……hehehehehehe……..piiiiiiisssssssss

  21. m-e-l says:

    Menurut Saya pengkaderan tidak gagal selama masih ada orang-orang yang besedia menjadi fungsionaris LK. hanya setiap orang punya goal masing-masing. Minimnya mahasiswa yang menyalonkan diri menjadi ketua SEMA, bukan hanya karena mereka tidak ‘interest’ dengan LK, tetapi ada juga yang tidak mempunyai keinginan menajadi ketua SEMA karena mungkin merasa lebih baik berada di posisi lain dalam LK. Karena Saya yakin masih ada orang-orang yang tertarik dengan yang namanya lembaga kemahasiswaan. The right person in the right position. Beberapa mahasiswa yang mengalami pengkaderan fungsionaris LK mungkin berpikir dengan matang apakah mereka cocok menjadi ketua atau tidak. Pilihan ada di tangan masing-masing orang. Saya lebih memilih berada di posisi bukan ketua tapi posisi itu lebih cocok dengan saya dan cocok untuk orang lain, daripada memaksakan diri menjadi ketua tetapi sebenarnya tidak punya goal untuk itu. Ini pengalaman Saya. Terima Kasih.

    TUHAN MEMBERKATI ^v^

  22. Theodorus Sibarani says:

    @ G_R : Sayangnya politik itu tidak bisa dibuktikan. Lebih mudah menangkap maling celana dalam di jemuran daripada membuktikan kesalahan tuan-tuan yang duduk di bangku jabatan. Nah, klo Anda ingin meluruskan, mengapa pakai nama samaran?? Tunjukkan identitas Anda, kita berdialog. Kalau Anda hanya berkoar-koar membawa apologi di balik nama samaran, APA KATA DUNIA?? Pembahasan Anda itu persis seperti peribahasa : “Sudah cendana, gaharu pula; Sudah tahu ‘pura-pura’ bertanya pula.” Jika saya dapat menyederhanakannya, seperti bukan orang Kristen saja : “sudah tahu imannya mengakui Yesus itu Tuhan, pura-pura meragukan Yesus itu Tuhan”. Sudahlah dan Bertobatlah. Kembali ke jalan yang benar dan suarakan suara kenabianmu. Jangan jadikan saya sebagai musuh Anda. Santai saja, saya sudah menjadi alumni Fak.Teologi UKSW dan LKF Teologi. Dan yang pasti, saya sudah mengikrarkan janji Winisuda, AKAN MENJAGA NAMA BAIK ALMAMATER. Terserah kalian mau berpolitik bagaimana di LKF dan LKU, tapi INGAT!! PENGADILAN AKHIRAT lebih adil dari pada pengadilan manusia.

  23. Theodorus Sibarani says:

    @ Titus : beda pengkaderan dengan mencari masa. Mereka (mahasiswa teologi) yang ingin berkecimpung di dunia LKF, hanya memiliki masa dua tahun saja, karena terbentuk praktek pendidikan lapangan VI(biasanya PPL diadadakan di luar Salatiga). Jadi mustahil mengkader seseorang dalam waktu dua tahun. Mengapa? tahun pertama mereka adalah junior yang sedang beradaptasi dengan lingkungan politik yang penuh kepentingan. Tahun kedua, mereka akan menjabat sebagai fungsionaris inti dalam LKF. Saya sangat setuju yang perlu adalah pengkaderan, TAPI jikalau situasi seperti yang saya sampaikan seperti itu? Menurut saya, langkah politik yang tepat untuk mengambil alih kevakuman kader adalah kampanye “terselubung” kepentingan. Tidak ada waktu dan tempat untuk pengkaderan, siapa yang kepentingannya lebih banyak, itu akan menang. Itulah situasi jika pengkaderan buntu. Untuk itu harus ada reformasi sistem di LKF Teologi, tapi itu sangat mustahil karena akan merubah kurikulum. Anda khan FISIPOL, pasti Anda lebih tahu dari pada saya mengenai hal ini. Walaupun begitu, saya bukan orang yang pesimis. Silahkan bagi mereka yang ingin berkecimpung di dunia LK, baik dalam tataran fakultas maupun universitas, asal mereka jangan mengatasnamakan kepentingan mahasiswa untuk menentang kebijakan fakultas maupun universitas. Boleh bermain kepentingan, asal dia mewakili kepentingan mahasiswa banyak. Selama ini elite LKF hanya menyuarakan kepentingan elite-elite LKF saja dengan mengatasnamakan mahasiswa. Rumit bukan??? Nah, lebih rumit lagi jikalau perwakilan mahasiswa itu bukanlah orang yang mencintai almamaternya. Lantas kalau sudah begini siapa yang bertanggungjawab??? LKF-nya???BUKAN. Sistemnya???TIDAK PERLU. Jadi siapa??? ORANG-ORANG DI DALAMNYALAH YANG HARUS DIUBAH MORALNYA. Silahkan tidak bersetuju dengan saya, tetapi inilah saya. Walaupun suara saya sangat sedikit yang mendengarnya, namun inilah cara saya mengkader seseorang secara tidak langsung. Yang pasti bukan mengkader orang menjadi MUNAFIK, tetapi mengkader orang-orang supaya peka terhadap ketidakadilan dan ketidakjujuran, sehingga bisa disuarakan melalui suara kenabiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *