Karnaval Warnai PPMB 2009

Browse By

Hari keempat Program Pengenalan Mahasiswa Baru (PPMB) 2009 tidak seperti tahun lalu. Kamis itu, 20 Agustus 2009, lautan manusia tumpah ruah di lapangan sepak bola Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Para mahasiswa baru mengenakan berbagai macam bentuk kostum, warna dan aksesoris yang sangat unik. Matahari sedang terik-teriknya. Jam menunjukkan pukul 13.00.

Di antara kerumunan itu terlihat ada rombongan yang mengenakan pakaian marching band lengkap. Ada pula yang mengenakan pakaian bekas dari daun-daun kering, rumbai-rumbai warna-warni, dan berbagai aksesoris pendukung kostum mereka. Dan ada juga yang membawa spanduk atau tulisan-tulisan, seperti “Hutan bukan bisnis” dan sebagainya.

Itulah salah satu dari rangkaian panjang PPMB 2009 yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. PPMB tahun ini diwarnai dengan pawai keliling Salatiga. Para peserta mengenakan kostum unik yang merupakan bentuk visualisasi dari sepuluh tema, yaitu robotik, teknologi informasi, hak asasi manusia, kemiskinan, pemanasan global, pembalakan liar, pendidikan, musik, korupsi, dan militer.

Penanggungjawab karnaval tersebut adalah Theodurus Natanael, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Karena kesibukannya, saya hanya berkesempatan mewawancarai Theo via Facebook dan SMS.

Theo mengungkapkan bahwa kesepuluh tema tersebut ditentukan oleh Yakub Adi Krisanto, Koordinator Pengabdian Masyarakat Seksi Acara PPMB 2009. Kegiatan ini digarap lewat kerjasama dengan Salatiga Carnival Centre (SSC), dimana Theo sendiri tergabung di dalamnya. Mulai dari konsep kostum hingga pelaksanaan ditangani oleh SSC.

“Tujuan sendiri dari pawai sebenarnya membangun kreativitas mahasiswa UKSW menjadi lebih baik dan semakin maju. Kalau bagi Salatiga Carnival Center ini akan meningkatkan pariwisata dan perekonomian masyarakat melalui karnaval karena kami berharap kota Salatiga sebagai kota wisata fashion karnaval kedua di Indonesia,” tulis Theo via Facebook.

Tema yang telah ditentukan, dibuat visualisasinya dalam bentuk ikon, yang telah ditampilkan pada hari pertama PPMB, Senin 17 Agustus 2009. Selain mempertunjukkan kostum mereka, dalam karnaval itu mereka juga memperlihatkan aksi teatrikal yang berhubungan dengan sepuluh tema itu. “Intinya, militer melakukan kerusakan di berbagai aspek kehidupan, kemudian global warming, yang digambarkan seperti gagak ataupun malaikat pencabut nyawa, mulai mencabut nyawa tujuh ikon lainnya. Namun, HAM membangkitkan kembali tujuh ikon itu,” kata Prasetyo S.M. Lisaputra, peserta karnaval dengan kostum global warming.

Karnaval tersebut mengambil rute mulai dari kampus UKSW, Jalan Diponegoro, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Letjen Sukowati, hingga Lapangan Pancasila. Rombongan mahasiswa baru berarak bersama kelompok marching band SD Kristen 4, SD Kristen 3, SD Marsudirini 78, kelompok pakaian adat, Solo Batik Carnival 2, dan Drumblek Pancuran.

Seluruh jalan menuju Pancasila otomatis tertutup oleh banyaknya warga yang ingin menyaksikan karnaval ini. Bahkan para pengguna kendaraan bermotor harus rela memarkir kendaraannya agak jauh dari lapangan, dan berjalan kaki sampai ke sana. “Yah… Mau bagaimana lagi? Emang panas, dan harus berdesak-desakan buat sampai ke Pancasila. Tapi saya penasaran untuk nonton karnaval ini sampai selesai,” kata Nisa, salah satu warga setempat.

Karnaval ini memang dibuat dalam rangka penyambutan mahasiswa baru UKSW, sekaligus memeriahkan HUT kemerdekaan Indonesia. “Berhubung Pemerintah Kota Salatiga tidak membuat acara apa-apa, ya sekalian aja sama acara PPMB ini,” ungkap Prasetyo, yang mengenakan ikon pemanasan global.

2 thoughts on “Karnaval Warnai PPMB 2009”

  1. Theodurus says:

    Mohon dapat diganti… Nama Salatiga Carnival Center disingkat dengan nama SCC bukan SSC… terima kasih Tuhan memberkati…

  2. bjsp says:

    @ Theodurus : Terima kasih Pak Theodurus atas koreksinya,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *