Penyuluhan Narkoba dan HIV/AIDS

Browse By

UKSW bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jawa Tengah mengadakan Penyuluhan Pendidikan Dampak Penyalahgunaan Narkoba dan Bahaya HIV/AIDS pada Senin, 19 Oktober 2009. Acara ini dibuka sambutan dari Umbu Rauta, SH., M.Hum selaku Wakil Rektor III UKSW pada pukul 10.00 WIB di gedung Balairung UKSW.

Beppie Tan (kanan) salah satu pembicara dalam penyuluhan dampak narkoba dan HIV/AIDS. {Foto oleh Lidya Annisa W}

Beppie Tan (kanan) salah satu pembicara dalam penyuluhan dampak narkoba dan HIV/AIDS.
{Foto oleh Lidya Annisa W}

Penyuluhan ini dihadiri mahasiswa umum, mentor PPMB 2009, serta tamu undangan. Usai sambutan, mahasiswa umum dan tamu undangan ditempatkan di ruang Probowinoto gedung G lantai 5 dengan pemberian materi melingkupi bahaya Narkoba dan HIV/AIDS secara lebih luas, sedangkan ruang E 123 digunakan untuk mahasiswa mentor PPMB 2009 dengan pemberian materi yang diberikan lebih terfokus pada apa yang terjadi di sekitar kampus.

Pada ruang E 123, penyuluhan diisi oleh Beppie Tan, seorang praktisi LSM narkoba asal Belanda dan Dr. Sovie Haryanti, M.Kes., seorang dokter dinas kesehatan kota Salatiga. Dalam penyuluhan ini, Beppie menjelaskan berbagai jenis narkoba serta efek bahayanya dalam bahasa Inggris dengan penerjemah Athriyana Pattiwael, dosen STIBA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing).

Kedua pembicara tersebut memaparkan bahwa kota Salatiga menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah HIV/AIDS terbanyak setelah kota Semarang dan Surakarta. Namun dalam hal penggunaan jarum suntik, Sovie menyebutkan bahwa Salatiga menduduki peringkat pertama.

Beppie dan Sovie menjelaskan bahwa narkoba adalah barang yang jika sekali dicoba, orang akan langsung ketagihan. Beppie memberikan contoh pada pemakai heroin. Tahap pertama, pemakai mengonsumsinya dengan cara dihirup. Lama-kelamaan, berkembang menggunakan tabung atau dengan jarum suntik. Menurut mereka hal ini lumrah, karena seorang pemakai akan terus mencari kenikmatan berbeda pada saat pertama mereka mengonsumsinya.

Sesi pemberian materi berakhir sekitar pukul 13.00 WIB dan dilanjutkan dengan sesi makan siang, kemudian dimulai kembali dengan sesi tanya jawab sekitar pukul 13.30 WIB.

Setelah sesi tanya jawab, panitia membentuk kelompok diskusi kecil yang terdiri dari 6-8 orang peserta. Mereka diharuskan untuk berdiskusi mengenai solusi narkoba dan HIV/AIDS.

6 thoughts on “Penyuluhan Narkoba dan HIV/AIDS”

  1. Winarto says:

    “Kedua pembicara tersebut memaparkan bahwa kota Salatiga menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah HIV/AIDS terbanyak setelah kota Semarang dan Surakarta”.
    Peringkat se-Jawa Tengah?

  2. mei says:

    Tindaklanjutnya mana dari para peserta maupun mentor??? saya pikir percuma aja kalo gak da langkah konkretnya.. apa hanya datang ikut penyuluhan untuk dapat uang aja, miris kalo seperti itu.

  3. joko says:

    Melalui forum ini ingin numpang bertanya kepada para dokter-dokter dan pejabat2 berwenang,

    kenapa belum ada pemberitaan resmi dari Depkes bahwa manfaat VCO sungguh luar biasa, mampu mengobati penyakit yang tidak ada obatnya menurut kedokteran, contoh :

    – sakit gula atau diabetes melitus
    – sirosis hati atau kanker hati
    – HIV AIDS (sesuai dengan topik kita di atas)

    dll.

    VCO atau virgin coconut oil mudah diperoleh dimana saja dikota2 besar di Indonesia, harnya pun terjangkau. Cukup dengan 2-3x sehari 2-3 sendok makan, anda sudah terbebas dari berbagai penyakit yang tiada obatnya. VCO rasa dan baunya enak dan gurih, dia diproses tanpa pemanasan, tanpa fermentasi dan tanpa bahan kimia.

    Mohon, mbok ya depkes dari pada me riset obat2 an yang mahal dari amerika sana, kenapa tidak mengembangkan potensi nasional negara kita ini, yang bisa menambah devisa kita.

    Teorinya untuk HIV AIDS, virus HIV AIDS mempunyai selubung mantel dari protein, yang membandel tidak bisa dihancurkan oleh obat2an, namun begitu kena VCO atau virgin coconut oil, mantel tersebut hancur, dan virusnya dapat dibunuh pula oleh vco ini. Mohon depkes membuktikan ini.

    Tks. Dan salam hangat.

  4. FSM_06 says:

    iya…kegiatan itu menurut saya kurang koordinasi dengan Lembaga kemahasiswaan(terkait pesertanya), seandainya jauh2 hari ‘benar2’ dibicarakan akan lebih baik. tetapi,memberikan apresiasi buat acara semacam ini, untuk itu kami dari Lebaga Kemahasiswaan akan menindaklanjuti acara2 semacam ini. di bulan desember dan januari akan diadakan sosialisasi ke SMA2 dengan kerjasama OSIS masing2 SMA. hingga saat ini satgas sedang dibentuk. Tuhan Berkati semua…semoga dengan tindakan nyata kita bersama ada perbaikan terkait masalah2 sosial dimasyarakat salatiga…..

  5. eka says:

    saya juga mengikuti sesi tersebut di E123, sangat menarik sekali meski setiap kali saya sering mendengar akan gembar-gembor tentang sosialisasi narkoba, HIV, AIDS dsb. Meski terasa cukup panas di telinga saya, tapi saya dukung berkenaan sosialisasi yang secara continue tetap dilakukan. Lantas jika menurut teori efektif dan efisien bagaimana ya ?
    Apakah menjawab dengan seringnya sosialisasi tapi berdasarkan artikel di atas,”Kedua pembicara tersebut memaparkan bahwa kota Salatiga menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah HIV/AIDS terbanyak setelah kota Semarang dan Surakarta. Namun dalam hal penggunaan jarum suntik, Sovie menyebutkan bahwa Salatiga menduduki peringkat pertama”.
    Ada apa ini ?

  6. RINDUAN, SE says:

    narkoba itu harus diberantas sampai ke akar-akarnya. semua aspek bidang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *